• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Tag Archives: cerpen

Racun

23 Monday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 3 Comments

Tags

@dendiriandi, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, romeo and juliet

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Aku memandang tubuh yang terbaring di hadapanku. Kemarahan dan kesedihan yang kurasakan telah melebur menjadi satu. Bahkan tak sedikitpun air mata yang menetes dari mataku.

Kucoba semua cara untuk memastikan kebenarannya. Kepegang pergelangan tangannya, kutempelkan telingaku di dadanya,  kudekatkan jariku di dekat hidungnya. Kucoba mengguncangkan tubuh itu berkali-kali. berharap apa yang aku pikirkan saat ini adalah salah. Berharap ada keajaiban yang hadir pada dirinya saat ini juga. Namun usahaku sia-sia. Tubuh itu masih diam tak bergerak. Tak ada hembusan nafas atau bunyi detak jantung.

Lalu tiba-tiba semua kenangan bersamanya melintas di otakku. Seperti film hitam putih tanpa suara yang diputar perlahan-lahan. Bagaimana kami berkenalan di pesta itu pertama kali, malam-malam yang kami habiskan bersama secara sembunyi-bunyi, hingga perang yang terjadi antara keluarga kami ketika mengetahui hubungan kami.

“KENAPA?? KENAPA? KENAPA JULIET” teriakku pada tubuh itu. “Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama selamanya apapun yang terjadi?” Namun tubuh itu tetap diam.

Aku memandangi botol kecil di depanku. Botol kecil yang berisi cairan yang mungkin bisa menyelesaikan masalahku saat ini juga. Botol kecil yang membuat tubuh di hadapanku seperti ini.

“Baiklah, jika kita tidak bisa bersama di alam ini, mungkin kita bisa bersama di alam yang lain”.

Lalu kutenggak botol kecil yang berisi cairan itu. Terasa sangat pahit dan pekat di tenggorokanku. Seperti ada tali yang mencekik leher. Pandanganku mulai kabur. Lalu semuanya gelap. Gelap tanpa sisa.

***

Wanita itu terbatuk-batuk dan mulai sadarkan diri setelah sebutir pil mengalir di kerongkongannya. Pria yang memasukkan pil itu tersenyum lalu memeluk dan mencium bibirnya. Wanita itu pun tersenyum.

“Akhirnya kita bisa bersama tanpa ada gangguan dan tak ada lagi kebimbangan memilih di dalam hatimu” ucap pria itu.

“Ya, akhirnya kita bisa bersama tanpa aku perlu menyakiti hati pria yang sangat mencintaiku.” ucap wanita itu kepada pria di hadapannya denga penuh rasa cinta.

“Maafkan aku, Romeo.” Ucap wanita itu.

Lalu kedua orang itu pergi meninggalkan sesosok tubuh pria yang mati konyol karena cinta.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

How I Met Your Mother

22 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dendiriandi, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, fiksi, how I met your mother

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Keringat bercucuran dari seluruh tubuhku. Udara siang hari yang cukup panas membuatku malas melangkahkan kaki ke arah antrian pemeriksaan paspor itu. Sebenarnya aku lebih menyukai perjalanan malam hari. Selain udara malam yang sejuk, di malam hari aku bisa tertidur tanpa harus berkali-kali melirik jam tangan, menghitung sudah berapa lama perjalanan dan berapa lama lagi akan sampai. Tapi apa boleh buat, perjalanan antar negara ini tidak ada jadwal malam hari. Semuanya perjalanan dilakukan pada siang hari.

Selesai urusan keimigrasian, bus yang kutumpangi kenbali berjalan lagi. Setelah tiga hari berada di Vietnam, akhirnya aku menyebrang perbatasan juga. Menuju Kamboja.

Sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat di Vietnam. Kota Ho Chi Minh terbilang cukup sepi. Seluruh museum dan tempat wisata sudah habis kukunjungi. Sebenarnya masih ada kota yang belum kukunjungi, yaitu Hanoi. Namun sayang, kota itu terlalu jauh, berada di ujung utara Vietnam. Jika ditempuh dengan perjalanan darat, butuh waktu 4 hari pulang pergi. Jatah cutiku bisa habis tak terasa. Jika ditempuh dengan pesawat, cukup menguras kantong dan membuatku bangkrut.

***

Sudah lebih dari setahun sejak perjalanan solo backpacking terakhirku menyebrangi semenanjung Malaka, dari ujung Singapura hingga kota Bangkok di Thailand. Seperti perjalananku sebelumnya, tujuan traveling kali ini pun sama. Kakiku melangkah karena hati yang patah. Aku mencoba mengambil jarak, untuk melonggarkan hati yang sesak. Tapi kali ini bukan karena seseorang, tapi sepuluh orang.

Iya. Sepuluh. Orang. Wanita.

Sudah lebih dari satu setengah tahun semenjak terakhir kali aku mempunyai kekasih. Dan semenjak saat itu, sudah sepuluh orang wanita juga yang pernah dekat denganku. Tapi sepertinya Semesta selalu menjawab kalimat doa jodohku yang kedua: “Jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah”.  Iya, semuanya tidak ada yang berjalan sampai jauh. Semuanya pergi menjauh. Friendzone, Hubungan Tanpa Status, Teman Tapi Mesra, Friends in Benefit dan entah bermacam-macam istilah apa lagi yang teman-temanku pernah sematkan untuk setiap hubungan yang aku jalin. Tapi intinya sama, semuanya hanya mentok sebagai gebetan saja.

Bukan kekasih. Bukan pacar.

***

Hari sudah semakin sore saat aku berjalan menyusuri jalanan kota Phnom Penh, ibukota dari Kamboja. Tujuanku mencari penginapan dahulu untuk sekedar beristirahat. Namun sepertinya keberuntungan belum berpihak kepadaku. Hampir seluruh penginapan penuh terisi. Jikapun ada yang kosong, keadaannya agak kurang layak. Ini konsekuensi karena aku tidak mem-booking terlebih dahulu padahal saat ini adalah long weekend.

“Masih ada kamar kosong?” tanyaku kepada salah satu resepsionis dormitory room – sejenis hotel budget, untuk yang kesekian kalinya.

“Tadinya ada. Tapi baru saja satu kamar terakhir diambil oleh seseorang,” Jawab resepsionis itu. “Kamar itu sebenarnya berisi double-bed. Jika tamu tadi mengijinkan, mungkin kamu bisa sharing kamar dengannya.”

Sharing kamar dengan orang asing. Sepertinya itu ide buruk. Tapi jika tidak, bisa-bisa aku tidur di jalanan untuk malam ini.

“Oh, itu dia tamu yang baru saja mengambil kamar terakhir” si resepsionis menunjuk seorang cewek yang baru saja turun dari tangga lantai atas menuju ke arah kami.

Aku memicingkan mata. Sepertinya aku kenal dengan cewek itu. Demi sejuta kepiting rebus di lautan, kenapa harus cewek itu yang ku temui di Kamboja sini. Si cewek tomboy jutek, sombong, senga, dan belagu yang selalu buatku kesal waktu di Gunung Rinjani kemarin.

***

Tiga bulan lalu aku mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Ikut rombongan “tukang jalan” yang tak sengaja aku dapat dari internet. Fisikku yang tidak lagi muda seperti jaman kuliah dan juga jarang berolah raga, membuatku berkali-kali meminta untuk beristirahat barang sejenak. Rasanya kaki tidak sanggup untuk menanjak sampai ke puncak. Udara gunung yang tipis tambah membuat nafasku tak karuan.

Lalu tiba-tiba lewatlah dia. Seorang cewek tomboy, dengan rambut pendek berpotongan ala Demi Moore yang nge-trend di film Ghost jaman dahulu. Tak ada tampang kelelahan sedikitpun di wajahnya.

“Jadi cowok kok lemah banget. Malu sama cewek!” katanya pas melewatiku.

Berikutnya, selama tiga hari dua malam berada di Rinjani, entah sudah berapa kali omongannya selalu merendahkan dan meremehkanku. Ada saja kata-katanya yang bikin kami ribut dan beradu mulut. Seumur hidup aku tidak pernah ribut dengan cewek. Baru kali ini ada cewek yang selalu bikin naik darah.

***

Aku menatap cewek itu. Rambutnya sudah agak panjang sedikit dibadingkan dengan waktu di Rinjani dulu. Terpotong rapi tepat di atas bahunya, tidak lagi pendek seperti Demi Moore. Tapi gaya pakaiannya tidak ada yang berubah, kaos oblong dan celana kargo selutut. Jauh-jauh aku ke sini karena ingin menenangkan diri atas hatiku yang kalut. Sepertinya akan bertambah kalut karena bertemu lagi dengan cewek tomboy belagu ini.

“Eh, elo. Lagi ngapain lo di sini?” tanyanya dengan wajah lurus dan jutek.

“Justru gue yang baru aja mau nanya begitu ke elo. Kok bisa ada di sini?” Tanyaku tak kalah jutek.

Ternyata dia sama gilanya denganku. Si cewek itu juga sedang backpacking sendirian di IndoChina ini. Entah konspirasi semesta apa yang sedang terjadi, ternyata dari semenjak berangkat, tiba di Vietnam hingga sampai di Kamboja ini, kami selalu bareng-bareng. Tapi baru dipertemukan di hotel budget ini.

Lalu si resepsionis menjelaskan bahwa aku butuh kamar dan siapa tahu dia mau sharing kamar denganku.

“Karena kebetulan gue udah kenal sama lo dan emang tempat tidur ada dua, dengan terpaksa gue mau sharing kamar sama lo. Tapi kalo lo macem2, gue gibas muka lo gak pake ampun lagi,” ucap si cewek itu setelah akhirnya menyetujui kami akan bersharing kamar.

“Oh iya, awas kalo lo sampe cinlok sama  gue!”

Cinlok? Kalaupun tersisa satu wanita di dunia dan itu adalah dia, aku gak mungkin sampai jatuh cinta sama dia. Dari dulu tipe wanita yang bisa buatku jatuh cinta itu feminim, cantik dan berambut panjang. Bukan cewek tomboy dan belagu kayak dia.

“Terus satu lagi. tidur gue ngorok dan gue sering kentut. Jadi maklumin aja ya!” katanya lagi.

Dasar cewek tomboy, umpatku dalam hati.

Karena sama-sama traveling sendirian, akhirnya mau gak mau aku menjelajah Kamboja bersama cewek tomboy itu. Dari Phnom Penh dilanjutkan ke Siam Reap. Selama 3 hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Seperti halnya juga di Rinjani, selama tiga hari itupun tidak ada hentinya kami beradu mulut. Dari mulai meributkan akan kemana, naik apa, mau makan apa sekarang sampai hal-hal gak penting seperti mengomentari kacamataku yang KW. Tiga hari yang seperti berada di neraka.

Setelah menjelajahi Kamboja, kami kembali ke Vietnam, karena pesawat menuju Indonesia hanya ada di kota Ho Chi Minh. Dari sana, kami kembali ke Indonesia. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta kami berpisah.

***

“Lalu, apakah papah akhirnya bertemu lagi dengan wanita tomboy itu?” seorang anak laki-laki berumur 15 tahun bertanya kepadaku.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak aku traveling ke Indochina. Malam itu gerimis turun perlahan di luar sana. Meskipun hujan, suasana ruang tivi saat itu sangatlah hangat. Sehangat segelas kopi hitam dan segelas susu coklat yang tergeletak di atas meja. Di sebelahku tampak seorang anak laki-laki yang sedang duduk di sofa, bersemangat mendengarkan cerita pengalamanku waktu muda dulu. Di depan tivi, seorang gadis kecil berumur 7 tahun sedang asik menonton film kartun. Mulutnya celemotan dipenuhi sisa-sisa es krim yang baru saja habis dimakannya. Aku cuma bisa tersenyum melihat semuanya.

“Kalau mau tahu kelanjutannya, biar mamah-mu yang bercerita sehabis kita makan malam ya! Sekarang kita makan dulu. Itu mamah-mu sudah menyiapkan makanan. Ayo, ajak adikmu sekalian!” Kataku kemudian sambil menatap ke seorang wanita cantik berambut panjang yang sedang membereskan piring di depan meja makan. Wanita yang sama dengan wanita tomboy belagu yang pernah traveling bersamaku dulu.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Tea in You

21 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dheaadyta, Adyta Dhea Purbaya, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, fiksi, fiksi client, penulis tamu

Prepared by Client:
Adyta Dhea Purbaya (@dheaadyta)

Siang ini, sama seperti siang-siang kemarin. Kantin kampus. Ramai. Dan kita duduk berdua disalah satu kantin.

Kamu dengan segelas Green Tea yang mengepul, dan aku dengan segelas Lemon Tea dingin.

“Eh, kalo makan nasi, minumnya jangan teh” Kamu menarik gelas tehku menjauh dari jangkauanku.

“Ahhh balikiiin… Aku mau tehkuu..” Aku berusaha menggapai gelas teh itu.

Kamu tertawa-tawa dan mengangkat gelas teh itu makin tinggi.

“Teh itu menyerap karbohidrat yang dibawa nasi. Gimana anemia nya nggak tambah parah, coba? Lagian… pantes aja nggak gendut-gendut!”

Kamu mulai dengan segala ceramah tentang anemia dan tubuh kurang idealku.

“Ahhh… aku mah nggak butuh gendut. Aku cuma butuh kamu.” Aku menjawab sambil berusaha meraih gelas tehku.

Kamu tertawa.

“Gombalnya udah makin lancar yah, sekarang?” Katamu sambil mengacak rambutku.

Aku cemberut. Menjauhkan piring nasi dihadapanku. Aku nggak mau makan kalo gelas tehku nggak dikembalikan.

“Lah itu kenapa nasinya dijauhin?” tanyamu pelan.

Aku nggak menjawab. Masih memasang tampang manyun.

“Sini aku suapin, yaaah….” dia menyendok nasi dan mengarahkannya ke mulutku.

Aku membuang muka. Masih merajuk.

“Eh nggak boleh ngambek, tuh mukanya ditekuk kan jadi jelek gituuuu….” Kamu mengacak rambutku, lagi.

Aku masih membuang muka.

“Jangan marah dong. Kamu tuh manis banget kalo lagi nggak marah. Ini kalah deh manisnya teh ini” katamu mengacungkan gelas Lemon Tea dinginku.

Mau nggak mau aku tersenyum juga dan memukul pelan lenganmu. Ah.. Kamu memang selalu tau caranya mengembalikan semua mood baik aku.

“Aku mau tehkuuu…” aku merengek.

Kamu menyerahkan gelas Lemon Tea dingin itu kehadapanku. “Kamu ini kalo dibilangin mesti deh ngeyel…” katamu sambil menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangatmu.

Aku menyedot banyak-banyak Lemon Tea-ku. Ahh dinginnya langsung mengaliri kerongkonganku.

“Green tea-nya manis nggak?” tanyaku memasang tampang serius.

Kamu mengecap sekali lagi sesendok Green Tea hangatmu, lalu mengangguk. “Lumayan. Pas lah pokoknya sama lidahku. Kenapa emang?” tanyamu, masih menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangat itu kedalam mulutmu.

Aku selalu suka caramu menghabiskan segelas tehmu. Pelan. Disesap sesendok demi sesendok. Nampak menikmati sekali. Aku tau kamu cinta banget sama teh. Lidahmu bahkan nggak kuat kena kopi. Iya kan? ;)

“Kalo gitu minumnya jangan sambil liat aku, yah?” jawabku, masih memasang tampang serius.

Kamu menatapku penuh tanda tanya, aku melengos dengan santainya dan menyedot lebih banyak Lemon Tea-ku.

“Tau kenapa?” tanyaku, bahkan sebelum kamu sempat memberikan respon.

Kamu menggeleng. Menatapku penasaran. Aku tersenyum kecil.

“Ntar teh nya jadi tawar kalo sambil liat aku….” Aku berkata pelan, menyedot lagi Lemon Tea dinginku. Merasakan sensasi dingin menjalari kerongkonganku. “Kan katanya manisnya aku ngalahin teh” Aku menutup penjelasan dengan tawa lebar.

Kamu ikut tertawa dan menoyor pelan kepalaku.

Kita tertawa bersama.

“Iya… Iya… Kamu lebih manis daripada teh. Aku rela nggak minum teh lagi, asalkan bisa terus sama kamu…” jawabmu, mengelus sayang rambutku.

Kalimat singkatmu itu. Jleb banget dihatiku aku. Tetiba saja sudut mataku sudah terasa panas. Ah kamu…. Kenapa harus membahas itu, sih?

“Tapi kamu kan cinta banget sama teh?” tanyaku, entah kenapa, aku ingin memperjelas pemahamanku.  Sekedar melegakan hati, nggak salah kan?

Kamu tersenyum. Ah senyum itu. Bahkan aku merasakan tehku pun mendadak ikut menjadi tawar.

“Karena manisnya teh  ini ada di kamu. Sekalipun aku cinta banget sama teh, tapi kan aku nggak butuh sesuatu yang tawar, lebih baik kamu yang manis. Hehehe…”

Setitik kehangatan menelusup kedadaku.

“Kenapa kamu nggak meninggalkan dia dan memintaku? Bukankah hubungan kalian sudah tawar? Sementara kita bisa memulai sesuatu yang manis, berdua saja…” tanyaku pelan, sangat pelan. Nyaris tak terdengar.

Aku kaget mendengar ucapanku sendiri. Oh My… Kita kan sudah janji untuk nggak pernah bahas ini, yah?  Aku mengutuki diriku sendiri. Mengutuk mulut bawel yang nggak pernah bisa ditahan ini. Aku merasakan genggamanmu erat dijemariku. Hangat. pasti lebih hangat dari Green Tea dalam gelasmu.

Kamu tersenyum. Menatap mataku dalam-dalam. Aku ingin membuang pandang, nggak pernah sanggup menatap mata beningmu lama-lama. Mata yang selalu membuat aku jatuh cinta dan berkali-kali membatalkan niat menyeret langkah menjauh darimu. Mata yang selalu memaksaku bertahan dengan kesadaran penuh, tanpa todongan senjata tajam, atau bahkan pengaruh alkohol.

Ah kamu… Kalau teh itu ada padaku, kenapa kamu masih membiarkan dia yang mengisi hatimu?

Lepaskan lah… Aku janji bisa memberikan hubungan yang manis bagimu.

Kalau kamu saja bisa meninggalkan teh yang sangat kamu cintai itu untuk aku. Kenapa kamu begitu berat meninggalkan dia dan beralih memintaku??

Ada banyak jawaban dari berbagai pertanyaan yang aku butuhkan darimu.

Sekarang… aku masih bisa berdamai dan membohongi hati. Kalau nanti aku sudah tidak sanggup, bagaimana??

Please. Bisakah meninggalkan dia dan memintaku sekarang??

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Aku Mau Kamu

19 Thursday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dheaadyta, Adyta Dhea Purbaya, cerita cinta, cerita pendek, cerpen

Prepared by Client:
Adyta Dhea Purbaya (@dheaadyta)

Aku duduk manis disalah satu bangku kantin, menyesap sesendok demi sesendok Green Tea hangat yang tersaji di depanku. Mataku menatap nanar kearahmu. Kamu dan gadis manis berambut panjang disebelahmu. Kalian yang tertawa lepas dan nampak bahagia sekali.

Iya.

Kamu dan kekasihmu.

Aku mencoba mengingat, berapa lama semua berjalan sepetri ini. Sebulan? dua bulan? Ahh… lebih dari itu… ini sudah menahun… dan aku masih tetap setia seperti ini. Sudah merasa cukup hanya dengan melihat kamu dari jauh saja.

Iya.

Kamu dan kekasihmu.

Apa kamu tahu rasanya? Didera rindu yang teramat sangat tapi tidak bisa memelukmu erat untuk sekedar menuntaskannya? Jangankan berharap untuk kamu balas, sekedar untuk kamu tahu bahwa aku rindu pun mustahil.

Apa kamu tahu rasanya? Seberapa sering aku menyebut namamu dalam sujud-sujudku menghadap Sang Pencipta? Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya… Aku bahkan takut Tuhan bosan mendengarnya.

Apa kamu tahu?

Baiklah… Mungkin kamu tahu… Lantas,, apa kamu mau mengerti??

Mataku sekali lagi melirik kearah sana… Kearah kamu dan kekasihmu… Kalian yang masih tertawa dan saling menatap mesra. Sesekali kulihat gadis manis itu mencubit pelan lenganmu.

Ah… aku cemburu!!!

Tapi…

Aku bisa apa??

Sejenak kemudian, kalian berlalu. Dari situ. Dari sudut dimana tadi kalian tertawa mesra dan membakar hatiku. Berlalu. Aku masih mengikuti gerak kaki kalian lewat sudut mataku. Terus. Hingga kalian tak lagi nampak.

Masih ada sisa-sisa kemesraan yang terlihat bahkan saat kalian sudah akan menjauh.

Aku bahkan masih bisa melihat kamu mengantar dia masuk kedalam mobilnya, menutup pintu, dan menunggu mobil itu berlalu. Menghilang dari pandanganmu.

Aku masih bisa merekam jelas semuanya lewat sudut mataku yang tak lepas memandangi kalian.

Lalu mobil yang membawa gadismu itu menjauh. Menghilang. Dan kamu berbalik. Berjalan santai. Kearahku.

Iya.

Kamu melangkah pasti kearahku.

“Hai…” katamu lembut dengan senyum menawan itu.

Aku memaksakan senyum.

“Udah makan?” tanyamu, basa-basi sekali, tentulah.

“Rara udah pulang?” tanyaku pelan.

Kamu menjawab dengan anggukan, menghempaskan pantat di sebelahku. Kita duduk bersisian dan sangat dekat. Aku bahkan bisa mencium wangi parfume-mu. Dan rasanya? Semakin sesak! Sesak akan rindu, sesak akan cinta, sesak akan rasa ingin menggenggam erat tanganmu.

“Kamu tambah mesra ya sama dia…” aku berkata pelan. gumpalan cemburu mendesak.

Kamu tertawa kecil. Mengacak rambutku. Sesuatu berdetak kencang dibalik dadaku.

“Kamu cemburu?” tanyamu.

Retoriiiiiis!

“Tenang aja… Kamu tetep sahabatku, kok!! Aku janji… Nggak akan ada yang berubah dari kita.. Aku pasti bakal tetep selalu ada tiap kamu butuh… Kita kan udah sahabatan dari kecil…” katamu riang. tetep dengan senyum manis itu.

Aku mulas. Lemas. Pingin pingsan.

Sahabat?

Nggak akan ada yang berubah?

Oh, well… Aku pinginnya kita berubah… berubah lebih dari sahabat… berubah ke suatu hubungan yang, ehm, lebih serius.

Kamu tau nggak aku tuh sayaaaang banget sama kamu. Bukan sekedar sahabat. Kamu tau nggak semua apa yang aku rasain ini?

Dan kamu bilang kita sahabat? dan akan selalu begitu?

—————————————————-THE END——————————————————

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Dipacari Seleb Twitter

14 Saturday Apr 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ 5 Comments

Tags

@myaharyono, cerpen, cinta, Mia Haryono, Twitter

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Selama itu gue terdiam. Tercengang ngga mampu berkata-kata. Apa gue ngga salah dengar? Cowok keren yang duduk tepat di hadapan gue ini baru saja meminta gue jadi pacarnya!

Matanya yang hitam pekat menusuk mata gue dengan tatapannya. Bibirnya tersenyum sambil memainkan jari telunjuknya pada bibir gelas.  Semua perilakunya itu mengisyaratkan, “It’s okay. Take your time to think about it.”

Yang gue butuhkan saat ini tepatnya tidak hanya waktu, tapi juga udara segar. Karena tiba-tiba saja gue merasa sesak. Gue sedot lemon ice tea yang gue pesan menemani menu makan malam tadi untuk mengalihkan ketegangan. Tapi saking gugupnya, yang ada malah gue terus meminumnya sampai habis. Bodohnya gue ngga sadar kalau terus menyedot es batu di dalam gelas. Memberikan suara yang tidak enak didengar.

Srot. Srot. Srot.

“Mau tambah minumannya saja?” tawarannya menyadarkan tindakan bodoh gue itu.

“Ngga usah. Udah cukup kok.” jawab gue malu-malu pada si teman baru gue ini.

Ya, gue belum lama mengenalnya. Keberadaan dia di hidup gue juga sungguh tiba-tiba dan tak terduga. Sebelumnya dia hanya mondar-mandir di timeline gue.

Namanya Rayan. Pemilik akun Twitter @rayarayan yang mempunyai ribuan follower. Dia bukan public figure yang sering muncul di berbagai media. Dia hanyalah satu dari beberapa orang beken di Twitter. Gue ngga pernah tau dia itu siapa sampai suatu waktu teman gue me-retweet beberapa tweet keren si Rayan. Isinya smart jokes, unik, lucu, dan ‘bangke’. Alasan gue akhirnya ikut-ikut me-follow orang biasa dengan tweet ngga biasa.

Semakin sering kicauannya menghiasi timeline semakin gue mengaguminya. He becomes my Twitter Crush. Dan Rayan ini ramah, dia juga sering me-reply mention para followers-nya, termasuk gue. Di-reply saja sudah bikin gue happy banget. Apalagi di-foll-back? Teriak kegirangan adalah yang pertama kali gue lakukan sewaktu di-follow Rayan.

Sampai beberapa minggu setelahnya kami semakin aktif saja di Twitter. Dia membuat gue setengah semaput sewaktu mengirimkan Direct Message yang bertuliskan, “Boleh minta pin BB?”

Mimpi apa gue sampai bisa BBM-an sama Twitter Crush!

Sejak saat itu kami rutin BBM-an. Gue baru mengenalnya tapi seperti sudah lama menjadi teman baik. Percakapan yang awalnya hanya seputar ide-ide untuk tweet bangke dia berikutnya, lama-lama naik setingkat menjadi curhatan sehari-hari. Gue pun heran bisa nyaman bercerita dengan orang baru. Dan rasa penasaran terhadap statusnya terjawab ketika akhirnya gue iseng BBM dia di malam minggu.

Sansan : Rayan...

Langsung dibalas.

Rayan  : Alooo
Sansan : Lagi ngapain? Kok ngga muncul di Twitter?
Rayan  : Memantau TL saja. Biar disangka ngga jomblo haha.


Aha! Gue merasa hidung gue kembang-kempis.

Sansan : Bohong banget! Pencitraan doang kali.
Rayan  : Serius kok. I’m single and on my way to find unhappy woman. I’m gonna make her smile again. :)
Sansan : Hahaha basi lo.
Rayan  : Lo sendiri kok malam minggu nyari gue? Ngga pacaran?
Sansan : I’m single and happy. So I dont need you to make me smile. 
Rayan  : Are you sure? Be careful with your words, girl.. ;)

He’s right. I should’ve noticed his warning. I can’t believe now i’m addicted to the way he makes me smile. Ngga cuma melalui BBM tapi juga saat mengobrol langsung. Dia sangat menyenangkan. Setelah cukup akrab kami memutuskan untuk tweet up. Istilah dua orang yang bertemu setelah berkenalan lewat Twitter.

Pertemuan yang berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Termasuk saat ini. Di tempat makan favorit kami, malam minggu kesekian yang kami lewati bersama karena memiliki status yang sama-sama sendiri. Dan gue masih ngga percaya kalau cowok yang gue suka ini juga merasakan hal yang sama.

I know my feeling towards him is just a little crush. But I really don’t mind to fall for a completely stranger in front of me. Staring at me and patiently waiting for my answer.

Sepuluh menit.

Akhirnya gue tersenyum.

“Congratulation Mr. Rayan. You finally make this happy woman to smile, because she’s happier since you’ve crossed her borderline.”

Dia tersenyum semakin lebar. Cute sekali.

Gila! Gue baru saja ‘ditembak’ oleh seorang Seleb Twitter! Hore!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d