Tags

, , ,

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Arrggghhh…! Ini kerjaan kenapa nggak abis – abis!

Ingin rasanya gue menyerudukkan kepala ke layar laptop setiap ada notifikasi yang masuk di Microsoft Outlook. Seriously, nggak bisa distop gitu ya email – email ini? Misalnya tiap hari cuma terima 60 email, gitu?

Gue melirik ke sekeliling kubikel meja kerja. Ternyata nggak semua orang tampangnya se-stress gue. Ada yang kayaknya lagi curi –curi main Twitter, Path,  browsing, sampai game online di Facebook. Padahal title kita semua sama di sini. Sama – sama junior manager!

Oh ok. Berarti gue aja yang over loaded. Atau guenya aja yang kerjanya kurang smart. Mamam noh work smart, play hard! Rutuk gue dalam hati.

Trrrtt Trrrtt

Getaran Blackberry membuat gue mengambilnya dengan cepat. Ada SMS! Dan bukan dari provider kayak biasanya. Duh jomblo amat sih gue.

08157316XXXX:
Senyum dikit dong

Eh?

Nomor yang nggak gue kenal.

Gue melirik ke kanan kiri. Penasaran siapa yang mengirim gue SMS. Ini pasti keisengan salah satu teman kantor gue. Kalau nggak, mana si pengirim tau gue lagi manyun?

Me:
Siapa sih ini?

08157316XXXX:
Nggak usah nanya siapa gue. Tapi tanyakan apa yang telah gue berikan pada negara

Me:
-_____-“

Nggak sengaja gue membalas dengan icon muka datar. Seperti saat sedang chatting. Padahal ini formatnya SMS.

Gue bangun dari kubikel untuk berdiri mengamati. Siapa yang saat ini sedang memegang handphone nya dan kurang kerjaan untuk ngerjain gue, tapi gue nggak menemukan satu orang pun.

08157316XXXX:
Nggak usah nyari gue sampai segitunya kali. Nikmatin aja chatting sama gue kalau lagi bete. Anggep aja hiburan selingan dari di perintah sana sini sama bos kan

Gue ragu mengetikkan balasan. Di satu sisi, gue emang lagi butuh teman hanya untuk sekadar haha hihi. Tapi di sisi lain, ngobrol sama orang yang lo nggak tau itu siapa? Completely stranger? Apa nggak ngeri? Terlebih orang itu tau kita, tapi kitanya nggak tau dia

Me:
Ogah!  Lo kasih tau dulu lo siapa. Baru gue mau ngobrol sama lo.

08157316XXXX:
Kalau gue kayak gitu, apa bedanya gue sama teman – teman yang ada di daftar list hp lo? Gue mau membuat diri gue spesial buat lo. Makanya gue sok misterius gini.

Me:
Spesial? Emangnya martabak telor dua? -___-“

Gue kembali mengetikkan balasan. Tapi entah kenapa, rasanya seperti omongan kami nyambung dengan mudahnya. Walau gue nggak tau itu siapa tapi dia tau gue. Ya memang jadi nggak satu sama. Tapi gue mengikuti saja permainannya. Toh hanya sekedar berbalas SMS kan?

08157316XXXX:
Besok mendingan lo pake baju yang berwarna cerah aja. Jangan kayak gini.

Me:
Hah? Emang baju gue yang sekarang kenapa?

Was – was gue memandang langit – langit. Merasa mungkinkah orang ini memasang CCTV kalau memang ternyata dia nggak berada di kantor gue tapi bisa selalu mengamati gerak gerik gue setiap saat?

08157316XXXX:
Baju lo yang sekarang nyeplak dalemannya. Kurang oke ah cewek kayak gitu. Lucuan yang selalu bikin penasaran.

Sial.

Pada akhirnya teman SMS-an misterius gue itu menjadi sesuatu yang adiktif. Setiap pukul 4 sore gue sudah seperti menanti SMS-nya yang masuk. Kadang hanya berbicara mengenai panas cuaca yang menyengat, kadang curhat tentang kerjaan, kadang juga ngomongin hubungan percintaan di luar sana. Pernah dia telat sedikit meng-SMS gue, hanya 15 menit saja, namun gue sudah uring – uringan.

Ketergantungan kah? Entahlah. Gue hanya menganggap ini sebagai kebiasaan yang nagih.

Sungguh menyenangkan menemukan orang yang ternyata cocok dengan kita. Terlebih dalam masalah komunikasi. Hal – hal yang sulit ditemukan ketika bekerja di lingkungan urban seperti ini.

SMS-SMS kami terus bergulir dan gue menyimpan namanya sebagai MF di handphone gue. Kependekan dari Mysterious Friend.


MF:

Apa lo pernah membayangkan gue seperti apa?

Me:
Dih tumben nanyanya begini.

MF:
I’m serious.

Me:
Gue bayangkan lo orang yang menyenangkan, lucu dan santai. Kenapakah?

MF:
Gue nggak pernah terbayang jadi lo, selalu curhat, ngobrol sama orang yang bahkan lo nggak bisa bayangin fisiknya seperti apa.

Me:
I take it as  your uniqueness. Tepat seperti yang lo bilang dulu. Kalau lo pengen jadi temen ngobrol yang spesial untuk gue. Dan kejadian kan ? :)

MF:
Lo nggak penasaran sama rupa fisik gue?

Me:
Penasaran sih. Tapi, keberadaan lo non fisik di hp gue setiap harinya juga sudah menyenangkan. Mungkin suatu hari lo mau buka diri lo siapa, tapi gue nggak mau maksa – maksa sekarang.

Lima menit. Sepuluh menit gue menunggu balasan dari si teman misterius. Nggak biasanya dia membalas sms gue pake mikir.

MF:
Besok. Pukul 07.07 jangan telat dan jangan kecepatan. Ke kantin bawah. Gue pake baju warna hijau rumput.

Me:
Eh ini seriusan?

Tiba – tiba detak jantung gue nggak lagi sama. Di satu sisi gue sangat excited dengan pertemuan ini. Di sisi lain gue takut, bagaimana jika ternyata dia bos gue? Atau ternyata dia teman kantor gue yang sudah beristri? Walaupun sebenarnya yang kami lakukan juga nggak macam – macam, hanya SMS an saja. Mungkin gue sudah kepalang nyaman setahun tanpa bertemu muka.

MF:
Iya, serius.

Balasan SMS nya yang padat dan singkat membuat gue mengerutkan kening. Nggak biasanya dia kayak gini. Seketika gue khawatir.

Me:
Emangnya kenapa? Lo nggak mau SMS an sama gue lagi?

MF:
Itu semua tergantung lo setelah lo lihat besok gue siapa. Bolanya ada di tangan lo.

Jantung gue mendadak seperti keluar. Jangan bilang gue SMS-an sama makhluk dari dunia lain, persis kayak sinetron di TV. Shit. Gue pasti kebanyakan nonton FTV. Mendadak gue bingung harus membalas apa.

MF:
Tenang aja, gue manusia kok. Hanya saja besok hari terakhir gue di sini.

Teman SMS misterius gue itu kembali mengirimkan pesan. Tepat jawaban untuk yang sedang gue pikirkan. Mungkin dia melihat kerutan kening di wajah gue ini. Gue edarkan lagi pemandangan ke sekeliling teman – teman kantor. Lagi – lagi nihil. Gue nggak melihat siapapun yang sedang memegang handphone.

Me:
Oh, lo resign?

Nggak ada satupun balasannya setelah itu. Gue hampir dibuat uring – uringan nggak bisa tidur maupun nggak bisa makan memikirkannya.

Gue takut ternyata hari ini adalah hari terakhir kami SMS-an, ngobrol apapun dengan enaknya. Gue takut sekali. Terpikir untuk membatalkan pertemuan besok pagi. Tapi, di lain sisi gue takut dihantui penasaran terus karena kan katanya besok dia terakhir berada di sekitar gue?

***

Langkah kaki gue injakkan pelan – pelan. Berharap suara high heels gue nggak terlalu menggema, sehingga gue bisa melihat teman SMS misterius gue itu terlebih dahulu. Ya, walaupun dia bilang gue nggak boleh datang terlalu cepat. Harus pukul 07.07. Tapi gue sudah sangat penasaran. Gue berencana untuk mengumpet di balik pojokan sebuah kantin untuk mengawasi semua orang yang biasa sarapan pagi disitu.

07.47. Dan gue belum juga menemukan laki – laki  yang berbaju warna hijau rumput. Ah apakah selama ini gue salah memperkirakan dia laki – laki? Padahal perempuan? Duh. Untuk  jenis kelamin aja gue nggak pernah nanya.

07.57. Gue menyerah dan langsung mengantri untuk masuk lift. Tiga menit lagi gue harus absen menggunakan finger print, atau jatah makan gue hari itu akan dipotong oleh perusahaan tempat gue bekerja.

Dalam hati gue bertekad, di SMS-an nanti sore, gue harus menanyakan kenapa dia nggak jadi datang.

16.00 Tepat ada sebuah SMS masuk seperti dugaan gue.

Dengan nggak sabar, gue membukanya.

MF:
Lo melanggar janji . Lo datang terlalu pagi. Sebelum pukul 07.07. Bahkan sebelum pukul 06.30. Jadi gue urungkan niat untuk ketemu dengan lo.

Rasa bersalah langsung merasuki hati gue. Duh. Gue menghilangkan kesempatan gue satu – satunya untuk bertemu dengannya.

MF:
Jadi silahkan terus-terusan menebak siapa gue seumur hidup lo

SMS lanjutannya gue terima.  Gue membacanya dengan nada dia sedang marah. Gue takut membalasnya. Sungguh, gue dijangkiti perasaan bersalah dan tiba – tiba ingin menangis karena merasa kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah gue temui.

“Eh, lo nggak mau ke pantry sebentar?” Tanya teman kubikel sebelah sambil memasukkan potongan kue penuh ke dalam mulutnya

“Emang kenapa?” gue bertanya tanpa melepaskan kedua tangan dari Blackberry. Bingung harus membalas apa untuk si teman misterius yang lagi marah.

Lelaki gendut itu mengunyah, menelan, bersendawa, lalu menjawab pertanyaan gue.

“OB kita kan hari ini terakhir. Tuh lagi bagi – bagi kue farewell-nya.”

Bibir gue membulat. Oh. Terjawab sudah siapa teman misterius gue selama ini.

-THE END-

Advertisements