Tags

, , , ,

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Layar laptop berkedip-kedip, pertanda ada pesan masuk. Karena sedang tanggung dengan spreadsheet, gue mengacuhkan pesan itu untuk sementara waktu.

Kecepatan detak jantung gue nyaris setara dengan seorang pelari cepat jarak pendek ketika mengetahui siapa pengirim pesan tersebut.

Raka:
Busy?

Si lelaki pencepat-detak-jantung ini cukup mengirim satu kata. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat gue kebingungan harus menjawab apa. Okay, kita lihat saja apa maunya.

Grahita:
Nope. You?
Raka:
I’m bored.

Well, percakapan satu dua kata. Akan gue jaga sesuai keinginannya.

Grahita:
Hmm…. So?
Raka:
I’m sleepy also.. 
So why don’t we go downstair and get some coffee there? 

Shoot! To-the-point man! My kind of guy.

Grahita:
Sounds great. Let’s!

Kedai kopi di lantai dasar gedung ini pun menjadi tempat tujuan utama. Tidak banyak yang berkunjung, mengingat ini masih terhitung office hour. Akan berbeda halnya jika kami berkunjung selepas jam kerja. Pasti penuh sesak oleh pegawai kantoran di sekitar sini.

Dua cangkir kopi menemani istirahat kami sore itu. Triple Shot Espresso untuknya yang merasa super-ngantuk, dan Dark Mocha untuk gue yang tidak suka kopi pahit. Kami mengobrol ringan saja, seputar sisi lain lingkungan pekerjaan dan hobi di kala senggang.

Dari ceritanya, gue mengetahui kalau dia sudah empat tahun di kantornya sekarang. Dan kebetulan, assignmenttahun ini membuatnya ditempatkan di kantor gue.

Ya, Raka adalah auditor perusahaan tempat gue bekerja. Ia berbadan tegap, berwajah oriental, dan berkaca mata minus tipis. Walaupun tampilannya terlihat serius, ternyata ia sangat kocak. Humoris. Again, my kind of guy. Perempuan mana yang tidak suka dengan lelaki humoris?

AndBy the way, tahu auditor itu apa?

Hmmmm…

Okay, gue jelaskan sedikit.

Auditor, berbeda dengan editor, adalah orang yang berprofesi untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan. Apakah laporan keuangan suatu perusahaan telah ditampilkan dengan wajar, tidak ada yang overstated ataupun understated.

Tahu BPK? Badan Pemeriksa Keuangan? Nah, itu contoh auditor pemerintah. Kalau Raka, berasal dari kantor swasta. Istilah umumnya sih kantor akuntan publik.

You said that you’re bored? And sleepy?” Gue menyedot Dark Mocha, “how come?”

Raka tersenyum tipis, “I’m overloaded, not enough sleep. So much to do with very little time. I think I can bang my head against the notebook. Just like… Bang! Bang! Bang!” Raka berakting seolah-olah membenturkan kepalanya ke meja, dan kami pun tertawa berdua.

Di dunia pergaulan gue, sangat jarang ada orang yang bisa menertawakan kepedihannya sendiri. Dan gue menyukai orang-orang yang dapat melihat sisi positif dari kesulitannya. Satu poin plus untuknya. Oh, my kind of guy, again.

Beberapa saat kemudian, terdengar alunan musik jazz dari telepon genggam miliknya. Bukannya mengangkat, ia malah berkata, “my boss. Going back to the cage, shall we?”

Sambil membenahi rambut, gue mengangguk.

Kami berdua berjalan menyusuri koridor gedung pencakar langit ini. Menuju lift yang akan mengantarkan kami kembali ke lantai 24, sang kantor tercinta.

Sebelum akhirnya pintu lift terbuka, telepon genggam milik Raka berdering lagi. Syukurlah ia tidak mengenal teknologi anti spy untuk layar teleponnya, karena gue bisa melihat dengan jelas nama yang terpampang di sana.

Anastasia.

Who’s calling?” tanya gue santai.

Hmmm.. My boss again,” Raka terlihat kikuk, “it must be very urgent.”

Calm down,” gue meremas bahunya, ”everything is under control.”

Ia tersenyum lebar. Dan saat itu gue mengetahui bahwa ia sangat manis dengan lesung di kedua pipinya.

Anastasia.

Siapapun perempuan itu, anggap saja ia bernasib sial.

Because Raka, is really my kind of guy.

Pintu lift terbuka lebar. Hanya ada dua orang di dalamnya.

Raka menggamit tangan gue, menuntun masuk ke dalam lift. Gue menekan tombol 24 sambil mengulum bibir. Masih ada rasa Espresso pahit di sana. Ya, Triple Shot Espresso, minuman milik Raka.

My kind of guy is must be a good kisser, and love to play. Raka got both of them.

Senyum gue lempar ke arahnya, yang dibalas dengan bisikan di telinga, “you drive me crazy when smiling.”

Pintu lift terbuka lebar, menunjukkan lobi lantai 24. Gue tidak membalas kalimat terakhirnya, malah mengedikkan kepala dan mengibaskan rambut ke belakang, sambil berjalan keluar lift. Suatu gerakan yang gue yakin membuat parfum dari leher berhembus samar ke indra penciumannya. Membuatnya makin penasaran dan lupa daratan.

Dan suara tak-tok-tak-tok high heels gue ketika beradu dengan lantai seolah berkata…

You wanna play? Let’s play, darling.

-THE END-

Advertisements