Tags

, , ,

Prepared by client:
Kiki Raihan (@kikisuriki)

Seperti juga kamu, aku tak tahu bagaimana caranya mengucap selamat berpisah pada mereka yang kucinta. Jadi, tolong jangan tanyakan bagaimana caranya mengatasi perasaan perih terkelupas saat kau harus melambaikan tangan pada mereka yang kau sayang.

Entah di depan pintu embarkasi bandara, peron kereta api, dermaga pelabuhan, terminal bis, atau bahkan di tepian ranjang seseorang yang napasnya tinggal satu persatu.

Dari kecil dulu aku sudah tahu. Aku bukanlah orang yang terampil membahasakan gumpalan pedih perih. Pun senang riang yang diam-diam berjejalan memenuhi ruang sanubari dan pikiran. Aku lebih suka tertawa dalam diam, memaki dalam hati tanpa dendam, dan menangis pelan-pelan bagai gerimis redam. Tolong maklumi diriku. Sebab ayah bundaku tak pernah mengalirkan tradisi membuka diri seperti yang kalian pelajari dari keluarga masing-masing.

Ah, ayah.

Ia seorang yang tak banyak cakap. Seringkali aku menebak-nebak apa yang ada di pikirannya. Aku ingat, sewaktu kecil aku sering memandangi ayah yang mendengkur di kursi depan televisi dengan mulut menganga. Aku berjinjit mencoba mengintip apa yang ada di balik mulut ayah. Siapa tahu aku bisa menemukan kata-kata yang sebenarnya ingin kudengar darinya. Tersangkut di balik lidah dan geligi.

Hufff…

Siapa tahu aku bisa menemukan deretan abjad, “Ayah sayang sekali padamu, Nak!” terpahat di lidahnya yang sedikit gelap. Ingin sekali aku mendengarnya langsung dari mulut ayah. Meski aku tahu dari sikapnya sehari-hari ia amat sangat menyayangiku, juga kakak dan adikku.

Ayah memiliki bahasa yang sedikit berbeda untuk mengunjuk kasih sayangnya. Dari ayah aku belajar bahwa cinta tak hanya bisa ditunjukkan melalui kata manis, sapa halus, atau peluk cium serta sentuh penuh kasih. Tapi cinta juga bisa berarti tamparan, sabetan ikat pinggang di pinggangmu yang tipis, atau pukulan yang meneteskan darah di telinga atau hidungmu.

Aku tidak bicara dalam bahasa cinta macam itu, tapi aku memahaminya dengan sangat baik. Ayah dulu tak banyak bicara dalam bahasa cinta yang kasar semacam itu ketika ibu masih hidup. Ketika mereka berdua bahu membahu membangun keluarga. Membesarkan kami, ketiga anaknya yang cukup memusingkan kepala.

Seperti juga kamu dan aku, ayah tak tahu bagaimana caranya mengucap selamat berpisah pada orang-orang yang ia dan kami cintai. Ketika Ibu mulai layu diranggas penyakit kanker yang akhirnya merenggut riwayatnya, ayah amat sangat limbung. Aku yakin sekali ia ketakutan kehilangan ibu meski ia tak pernah mengatakannya.

Segala harta pusaka yang kami punya satu persatu berganti nama menjadi Taxoter. Atau menjadi berpuluh-puluh labu medikasi, ratusan pil dan kapsul berbagai ukuran, serta tagihan rumah sakit belasan atau puluhan juta rupiah.

Ayah tetap tak banyak bicara namun selalu sigap memenuhi semua kebutuhan ibu. Lelaki tertua di rumah itu selalu siap merawat ibu hingga hari kehilangan itu mengetuk di depan pintu.

Di depan makam ibu, ayah tertunduk diam. Merangkul aku dan kakak adikku di kanan kiri tubuhnya yang lebar. Seperti seekor induk burung yang merentangkan sayapnya guna melindungi anak-anaknya dari segala bahaya yang mungkin menghadang. Panas yang terik, dingin yang menusuk, apapun.

Aku yang memeluk pinggang kanan ayah dan merasakan napasnya bergerak pelan dan dalam. Terdengar ada banyak tukang bangunan yang bekerja dalam diri ayah. Membangun tembok bendungan yang tinggi untuk menanggul segala perasaan kehilangan dan air mata yang siap menjebol pelupuk matanya.

Air mataku membasahi kemeja coklat muda ayah. Ia cuma balas menggosok pelan punggungku. Mungkin terlalu berat untuknya mengeluarkan kata penghiburan sebab ia sendiri pasti sedang bersedih hati.

“Sudah… Tidak apa-apa. Ayo!” Hanya itu yang terucap dari bibir tipisnya.

Ia tidak meminta kami mendoakan ibu sebab ia yakin kami pasti akan melakukannya. Ibu kami yang sebaik dan secantik bunga itu adalah yang paling pantas menerima segala doa terbaik dari semua orang, apalagi dari kami anak-anaknya.

Ayah menerima segala ucapan duka cita dengan wajah yang teramat tegar sementara kami mengintip sambil menahan tangis dari balik tembok ruang tengah yang mungil.

Kami anak-anaknya sering saling membicarakan segala kenangan manis dan kebaikan ibu. Mengingat semua hal yang tiba-tiba saja hilang dari hidup kami, lantas saling bertangisan setelahnya. Namun ayah tetap terlihat datar.

Kadang aku bertanya-tanya kesal dalam hati. Apakah ia tak merasa kehilangan ibu seperti kami? Ah, Ayolah! Ibu berhak menerima rasa kehilangan dan air mata kami, orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Beberapa kali aku merasa kesal dengan ayah karenanya, hingga datang malam itu.

Aku terjaga karena haus melanda menjelang subuh mati tertikam pagi. Terdengar suara sedu sedan yang tertahan. Terkejut aku mencari sumber suara itu dan mendapatinya berujung di kamar ayah. Pelan, kutempelkan telingaku pada pintu kayu kamar ayah. Kudengar lirih tangis yang begitu mengiris.

Ayah memanggil-manggil nama ibu pelan, “Na… Na… ” bagai senandung sedih. Aku masih kanak belia, memang. Namun aku sudah cukup banyak menelan kesedihan, hingga aku tahu pasti dari suaranya, ayah sedang amat berduka. Aku tercekat menahan tangisku sendiri dan termangu merapat pada pintu kamar ayah.

Aku dan ayah menangis bersama. Meski ia tak pernah mengetahuinya karena ada sebuah pintu sengon memisahkan kami berdua. Ingin rasanya kubuka pintu dan kupeluk ayah, tapi itu tak mungkin. Aku cukup mengenal ayah meski usiaku baru sembilan tahun. Ia pasti tak ingin terlihat begitu berduka seperti saat itu.

Ah, kami memang tak pernah tahu bagaimana caranya mengucap selamat berpisah pada orang-orang yang kami cintai.

=================================

II

Aku sungguh tak pernah tahu bagaimana caranya mengucap selamat jalan pada orang yang kucinta. Sebab sesungguhnya aku tak pernah ingin berpisah dengan siapapun yang memegang kunci hatiku.

Meski aku tahu dia tetap akan terus hidup dalam hatiku, tapi aku tak pernah ingin merindukan jasadnya seperti sekarang ini. Merindukan bercakap dengannya, merindukan sapanya, suaranya, tatapnya, sentuhnya, dan bahkan aroma khas tubuhnya. Tuhan, aku sungguh merindukannya. Merindukan masa ketika ia masih hidup, di sisiku.

Dari kecil dulu aku sudah tahu, aku bukan orang yang terampil membahasakan gumpalan pedih perih. Pun senang riang yang diam-diam berjejalan memenuhi ruang sanubari dan pikiran. Aku lebih suka tertawa dalam diam, memaki dalam hati tanpa dendam, dan menangis pelan-pelan bagai gerimis redam.

Tolong maklumi diriku. Ayah bundaku tak pernah mengalirkan tradisi membuka diri seperti yang kalian pelajari dari keluarga masing-masing. Kalaulah aku gagap menyuarakan isi hati, bukan berarti aku tak mencintai keluargaku, istri dan anak-anak tercinta.

Aku mencintainya, Rahmania istriku, dengan segenap hati meski pernikahan kami adalah pinta ninik mamak di kampung. Aku mencintainya meski belum pernah sekalipun kuucap kata cinta dan sayang padanya.

Ia kupanggil Na untuk mempersingkat namanya. Bagaikan sekuntum bunga yang meruntuhkan banyak sayap kumbang dan lebah yang lewat. Harumnya bagai mawar, anggunnya bagai anggrek, dan ketangguhan juga nilai hidup yang dianutnya abadi laksana edelweiss. Entah apa yang dia lihat dalam diriku. Tapi aku diam-diam merasa bangga juga ia akhirnya memilihku daripada yang lain.

Rahmania lembut sekaligus tegar. Laksana angin yang berhembus menyejukkan hidup, ia membuatku bernapas. Membuatku merasa tenang dan segar.

Kami memiliki seorang anak perempuan dan dua laki-laki yang masing-masing dilahirkan Na dengan susah payah. Terutama anakku yang kedua. Dokter terpaksa menggunakan vacuum untuk menariknya keluar dari keengganannya meninggalkan kenyamanan bergelung di rahim ibunya.

Ketika akhirnya ia tiba dalam pelukan Na, aku ingat sambil tersenyum istriku berkata, “Rupanya kau sayang sekali padaku ya, Nak. Sampai-sampai tak ingin kau keluar dari tubuhku.”

Aku menamainya Rahman. Kata dasar dari nama ibunya yang berarti kasih. Harapku agar ia tumbuh menjadi orang yang memiliki kasih kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Sama seperti harapanku kepada anak-anak kami yang lainnya.

—–

Aku merasa begitu tak berdaya dan limbung. Gara-garanya selepas Isya tadi Rahman meledak marah pada sekelompok anak yang menjerit-jerit ketakutan ketike lewat di depan rumah. Kemarin kami memang memandikan jenazah Na di gang sebelah rumah. Dan rupanya beberapa anak menganggap itu adalah cikal horor yang menakutkan.

Sungguh perih rasanya bagiku dan anak-anak. Na sama sekali bukan hantu. Ia tak akan menakutimu. Ia adalah perempuan terbaik yang pernah datang dalam hidup kami.

Rahima, sulungku, mendekap adiknya dan menenangkannya. Rahman masih saja meletup-letup dalam air matanya, sebelum akhirnya mereda dan tersedu di pelukan kakaknya. Rahim, anak bungsuku yang masih berusia 5 tahun cuma menatap kosong kakak lelakinya lalu menatapku, “Ayah. Abang kenapa sih?” Dan aku tercekat menahan ledakan tangis yang sedari kemarin menggumpal di kerongkongan.

Ah, bagaimana pula aku kelak akan membesarkan mereka tanpamu, Na? Aku tak bisa menjadi ayah dan ibu di waktu yang bersamaan untuk mereka. Aku takut Na. Aku tak sanggup kau tinggalkan sendirian begini.

Akhirnya tangisku pecah juga dini hari ini.

Susah payah kubangun tanggul untuk membendung segala kesedihan dan kegalauanku sepeninggalnya. Kutahan kuat-kuat air mataku saat Na dimakamkan. Kupeluk erat anak-anakku di kanan kiri pinggangku untuk mendapatkan kekuatan guna menghadapi semuanya. Terasa air mata Rahman membasahi pinggang kananku. Ia yang dulu enggan meninggalkan kehangatan rahim ibunya, seperti aku kini yang enggan ditinggalkan kehangatan Rahmania.

Dalam sujud tahajjudku, aku tersedu.

Tak henti kubertanya pada Tuhan mengapa Ia mengambil Na begitu cepat? Apakah ini hukuman karena aku tak pernah mengucap kata cinta atau sayang padanya? Apakah aku bukan suami yang baik dan pandai mengurus istri, hingga akhirnya ia diambil pergi melalui keganasan kanker?

Mengapa Tuhan?

Tidak bolehkah aku dan Na duduk berdua di teras rumah kami, menyaksikan anak-anak kami bermain di halaman? Menyaksikan mereka tumbuh besar menapaki hidup dengan bimbingan kami?

Mengapa?!

Bagai binatang yang terluka, aku memanggil-manggil nama Na dalam ungu dini hari. Aku tergugu, menangis dalam sepi sendiri penuh rindu hingga akhirnya lelah dan pasrah.

“Pergilah, Na. Kulepas kepergianmu dengan doa dan rindu. Tidurlah nyenyak beralas sejuk tanah yang dulu melahirkanmu. Mimpilah yang indah, tentang hidup fana yang kini kau tinggalkan, tentang hidup abadi yang kini kau jalani. Sesekali singgahlah sejenak dalam mimpi menjelang pagi kami. Obati kangen rindu yang selalu memorak morandakan hati semenjak detik engkau pergi. Detik dimana tiada lagi sahabat berbagi. Tiada lagi sahabat bernyanyi. Tiada lagi sahabat bermimpi.”

 -THE END-

Advertisements