Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

PING!

“Mel, I need you. Asap. Gue sama Mirza just broke up.”

Melisa menerima sebuah pesan BBM dari sahabatnya, Icha, yang mengabarkan ia baru saja putus dari Mirza, pria yang dipacarinya hampir satu tahun ini.

Sebuah pesan singkat namun sangat mengejutkan bagi Melisa, mengingat baru saja malam minggu kemarin mereka bertiga jalan bareng dan ketawa-ketiwi bersama. Lalu tanpa pikir panjang Melisa segera menelpon sahabatnya itu.

Begitu telepon diangkat, yang terdengar adalah suara isak tangis Icha.

“Cha, lo dimana? Gue samperin ya.”

“Di rumah, Mel. Ke sini ya cepat, gue butuh lo.” Suara Icha terdengar bergetar. Melisa mengiyakan dan segera menemui sahabatnya yang sedang patah hati itu.

Saat satu jam kemudian Melisa sampai di rumah Icha, ia menghambur ke kamarnya dan segera memeluk Icha. Icha sedang duduk di atas kasur dengan kain seprai yang berantakan. Tissue bekas ia menyeka air mata bertebaran di lantai.

“Ada apa, Cha?” tanya Melisa sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.

Icha mencoba berbicara sekuat tenaga dan mengambil nafas berkali-kali. Dengan nada amarah ia menjawab, “Mirza selingkuh.”

“Tau dari mana? Sama siapa?”

Melisa masih enggak percaya akan pernyataan sahabatnya itu. Melisa tau betul, Mirza itu cinta mati sama Icha. Berkali-kali Icha memutuskan hubungan dengan Mirza saat bertengkar, pria itu pasti mati-matian mempertahankannya. Tapi sepanjang yang Melisa tau, masalah dalam hubungan mereka enggak pernah sampai melibatkan pihak ketiga.

“Lo inget kan, gue pernah cerita tentang cewek yang suka nebeng mobil Mirza kalau pulang kerja?”

“Kalau enggak salah, Intan kan namanya? Masa sih sama dia? Enggak mungkin, Cha. Mirza pernah gue tanya dan mereka bener-bener cuma temen pulang bareng aja.”

“Itu kan cerita Mirza. Gue percaya selama ini dia jujur sama gue, Mel. Dan ternyata dia bohong! Mereka selingkuh di belakang gue. Bangsat enggak tuh. Gue sakit, Mel.” cerocos Icha.

Icha menyeka lagi air matanya dengan tissue, menyisihkan ingus di hidungnya, lalu melempar tissue penuh virus itu ke lantai kamarnya. Dia melanjutkan ceritanya, “tadi siang waktu lunch sama Mirza, gue mergokin si cewek jalang itu nge-BBM Mirza.”

“Mesra banget, Mel. Bilang kangen! Gimana gue enggak shocked coba?” Icha sesenggrukan lagi.

“Duh sabar ya, Cha. Tapi gue mau juga denger dari versi Mirza boleh? Kalian sama-sama sahabat gue. Gue harus bersikap objektif.”

***

Keesokan harinya Melisa dan Icha makan malam bersama di restoran favorit mereka. Icha masih membutuhkan kehadiran sahabat terbaiknya, untuk membantunya melewati masa sulit. Icha sendiri sedari tadi enggak menyentuh makanannya. Kebanyakan orang sedang patah hati memang kehilangan nafsu makan.

Satu hal yang Icha enggak tau, Mirza sudah meminta bantuan Melisa untuk membawa Icha ke restoran ini. Mirza harus menjelaskan kepada Icha, bahwa semua ini adalah salah paham semata. Mirza ingin mendapatkan kesempatan untuk kembali kepada Icha, dengan meminta maaf kepada wanita yang sangat dicintainya itu.

Tak sampai hati melihat ketulusan Mirza, Melisa pun setuju untuk membantu memudahkan rencananya. Melisa membawa Icha ke restoran, lalu Mirza akan muncul.

Dan tepat sesuai rencana, tiga puluh menit setelah Melisa dan Icha sedang menyantap makan malam mereka, Mirza tiba-tiba menghampiri meja mereka.

Keceriaan yang biasa menghiasi wajah tampan Mirza sama sekali tak terlihat malam ini. Ada kegelisahan dan ketakutan besar tersirat dari penampilannya. Dia menenteng sebuah tas keranjang kertas di tangan kirinya. Setangkai mawar merah terselip di antara jemari tangan kanannya.

Icha yang menyadari kehadiran Mirza lalu melotot ke arah Melisa. Pandangannya seolah berbicara “What the hell is he doing here?” Ia sudah hampir berdiri untuk pergi, tapi Melisa menarik lengannya dengan sigap. “Cha, tunggu. Jangan pergi. Kasih Mirza kesempatan bicara.”

Mirza yang panik akan Icha yang tampak ambil kuda-kuda untuk melarikan diri, segera duduk di sebelah Icha.

“Tolong, Cha, kamu dengerin aku dulu. Kamu itu salah paham.” Melisa masih memegang tangan Icha yang sedang mengepal karena menahan marah.

“Aku memang salah enggak pernah cerita sama kamu. Intan ngejar-ngejar aku, yang. Tapi aku sudah menolaknya.”

Dengan panjang lebar Mirza menjelaskan, “Sejak kutolak, itupun dengan baik-baik, dia juga udah enggak nebeng aku pulang lagi. Aku yang bilang enggak bisa lagi, selama dia belum bisa normal sama aku. Dia terpaksa menerima tapi ya itu…kadang masih suka kirim BBM enggak jelas.”

Icha masih terdiam.

“Sebagai tanda bersalah dan rasa menyesal, ini aku bawain sesuatu.” Lalu Mirza mengeluarkan sebuah barang dari tas keranjang kertas yang ditentengnya ketika masuk restoran tadi.

Sebuah bingkai. Isinya mozaik gambar Icha yang terbentuk dari kumpulan foto mereka berdua. Cantik sekali. Melisa enggak menyangka di balik penampilan maskulin Mirza, ternyata ia sangat sentimentil.

Icha tetap terdiam dan tak melirik Mirza sedikitpun. Melisa yang menyaksikannya sudah berkaca-kaca dan berulang kali mengeluarkan ungkapan haru.

“Aku bawain bunga juga buat kamu, yang. I’m sorry and I really mean it.”

Bunga yang disodorkan oleh Mirza ternyata diterima oleh Icha. Tapi baru saja senyuman tersungging di wajah Mirza, raut mukanya berubah kecewa, ketika Icha menyelupkan mawar itu ke dalam gelas minumannya. Beberapa pasang mata dari meja pengunjung restoran ini ikut menonton pertengkaran ini. Tentu saja disertai gunjingan, people do love watching drama.

“Udah ya Mirza. Aku enggak butuh kamu luluhin kayak gini. Pokoknya putus ya putus.” tegas Icha.

“Cha, kamu jangan ambil keputusan dalam keadaan marah begini. Kamu ingat dong perjuangan aku bertahun-tahun lakuin apa aja sampe kamu akhirnya jadi milikku. Setahun aku nungguin kamu, terus setahun lagi kita pacaran. Dua tahun yang kita lalui itu mestinya jadi pertimbangan kamu.”

“Ngerti enggak sih, Za. Kamu tuh enggak usah bahas-bahas lagi segala perjuangan kamu yang besar lah, apa lah…”

“Semua itu jadi enggak berarti apa-apa karena ulah kamu. Kamu enggak jujur, dan aku enggak bisa terima. Pokoknya aku enggak percaya lagi.” Suara Icha semakin meninggi penuh emosi. Ia menarik lengannya yang masih di pegang Melisa, lalu bangkit berdiri.

“Dua tahun itu means nothing, karena satu hari waktu aku menangkap basah bbm si jalang itu.” ucap Icha lalu pergi meninggalkan Mirza dan Melisa.

“Jangan dikejar dulu, Za. Give her a little more time, okay.” saran Melisa.

Mirza menunduk. Ia menangis pelan.

Dalam hati Melisa terenyuh melihat pria di depannya yang benar-benar hancur. Astaga, cinta mati emang si Mirza ini.

***

Sebulan berlalu setelah perpisahan kedua sahabat Melisa itu, Mirza masih berusaha mendapatkan cintanya lagi. Luar biasa perjuangan pria ini, pikir Melisa. Ia tak gencar mengirimkan pesan yang berisi ucapan maaf dan meminta Icha kembali.

Tak satupun dibalas Icha.

“Mirza masih kontak lo, Cha?” tanya Melisa sambil membolak-balik menu makanan. Hampir tiap hari mereka menghabikan waktu bersama-sama, terutama ketika saat jam makan malam.

Icha mengganguk.

“Kamu nggak kangen sama Mirza?”

“Ya kangen lah, Mel. Kehilangan ini masih berasa banget. Tapi mau gimana lagi, gue harus bisa melupakan dia.”

Pesanan mereka pun datang, Melisa tanpa banyak basa-basi langsung bersuara riang, “Mari makaaan.”

Di saat Melisa sudah menyendokkan nasi goreng pesanannya beberapa suap ke dalam mulutnya, Icha masih bersibuk sendiri dengan botol minuman mineralnya. Ia mencoba dengan susah payah membuka tutup botolnya. Icha, sadar dengan kelemahannya yang satu ini, tidak pernah bisa membuka botol air mineral sendiri.

Dan selama dua tahun ini, Mirza lah yang selalu membukakannya untuk Icha. Icha meringis, “Mel, tolongin dong.”

Melisa menghentikan makannya ketika menyadari sahabatnya itu kesusahan. Melisa tiba-tiba ikut menyadari kelemahan sahabatnya ini. “Cha, lo itu bener-bener enggak bisa buka tutup botol aqua?”

Icha menggeleng.

“Jadi, selama gue bareng dengan lo dan Mirza itu, yang Mirza selalu bukain botol aqua buat lo. Itu bukan inisiatif dia, karena dia laki banget dan gentle?”

Icha menggeleng.

“Damn it!” Melisa terdiam sepersekian detik sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Cha, lo yang enggak bisa buka tutup botol itu hal simpel banget. Hal kecil banget, kebanyakan perempuan emang gitu. Tapi lo sadar nggak, Mirza itu bahkan inget hal sesimpel itu dari lo. Dan tanpa lo minta tolong bukain, dia udah inisiatif bukain buat lo, Cha.”

Begitu emosinya Melisa, sampai air mata menetes juga di pipinya.

“Ih Melisa, kenapa lo jadi nangis gini…”

“You know what, it’s the simple thing but touchy.”

Melisa menyeka air mata dengan punggung tangannya, “Berapa banyak cowok yang memperhatikan hal kecil seperti itu ke cewek? Cowok akan bukain botol kalau ceweknya minta tolong. Tapi Mirza, he paid attention for you in every detail.”

Icha tercengang, air mata sudah memenuhi matanya. Mengedip sekali saja, air mata itu sudah pasti berguguran.

“Did you get my message?” tanya Melisa.

“Seumur hidup lo, saat lo buka tuh botol aqua dengan susah payah, lo akan selalu ingat tuh laki. Dia cinta mati sama lo. Dan gue yakin, dia enggak selingkuh, Cha.”

Icha mulai menangis.

“Because, sometimes it’s the simple things someone did to you that can not make you simply forget about him.”

Melisa melanjutkan, “The way he says your name, the way he looks at you, even the way dia bukain tutup botol aqua itu. Silly sih. Simple but counts.”

“Iya, Mel. Gue bego banget. Kenapa gue enggak pernah mikir sampe ke situ. Gue kebawa emosi dan sampe segitunya ke Mirza.”

“Pikirin baik-baik lagi, Cha. Ya emang sih kita bisa ukur kadar cinta seseorang dari perjuangannya. Tapi coba diingat-ingat lagi deh hal-hal kecil yang pernah dia lakuin. Kelihatan kecil tapi sebenarnya, it means a lot.”

“Mirza paham banget sama kekurangan gue dan dia enggak membiarkan gue meminta duluan bahkan. Dia otomatis bukain botolnya buat gue. Dia enggak mau gue kesakitan karena tutup yang susah dibuka itu ngegesek kulit gue.”

Icha kemudian berusaha lagi membuka botol dengan sekuat tenaga. Ia menggunakan kukunya untuk menusuk bagian yang merapatkan tutup dengan segel pada botol itu. Lalu tiba-tiba sebuah tangan merebut botol itu dari tangan Icha. Kekuatan seorang pria dari tangan si perebut itu berhasil membuka tutup botolnya. Lalu kembali menyerahkan botol yang siap di minum itu kepada Icha.

Icha pun menjawab, “Makasih, Za.”

Melisa pun tersenyum sambil mengedipkan mata pada Mirza.

— THE END —

Advertisements