Tags

, , ,

Prepared by Client:
Connie Wong (@Dear_Connie)

Pernahkah kamu melihat padang rumput yang berwarna biru muda dan langit yang berwarna hijau daun? Kalau belum, bisa jadi kita belum pernah bertemu. Itu tempat tinggalku. Dimana matahari bertekstur merah jambu dan bulan bercorak ungu keperakan.

Namaku Susan. Kulitku seperti sawo matang, dan rambutku tergerai panjang. Aku memiliki sepasang mata yang paling damai yang pernah kau lihat. Mataku adalah tempat berteduh orang-orang kesepian dan butuh sekedar pelukan. Mereka tidak tahu, bahwa sebenarnya aku pun kesepian. Aku bahkan butuh lebih dari sekedar pelukan.

Aku hidup bersama Tuanku yang budiman. Dia memang menyayangiku dan memberikan apa pun yang aku butuhkan, tapi seperti mahluk lainnya, aku butuh dari sekedar rasa cukup. Aku butuh seorang sahabat, bukan banyak teman. Aku butuh rasa aman, bukan sekedar rasa nyaman. Aku butuh memberi, bukan hanya sekedar diberi.

***

Pada suatu hari Minggu yang cerah, sinar matahari yang jatuh ke bumi membuat kulitku bersinar. Hari ini aku diajak Tuanku berjalan-jalan. Kau tahu kemana dia membawaku? Ke seorang Pandai Sepatu! Seperti gadis-gadis seumurku, aku suka berdandan. Kau boleh percaya atau tidak, tapi aku belum pernah memiliki sepasang sepatu pun seumur hidup. Jadi dapat kau bayangkan betapa gembiranya aku ketika diajak ke tempat ini!

Sang Pandai Sepatu jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatku. Tuanku terlihat sangat bangga ketika orang itu mengelus rambutku.

“Mengapa baru sekarang kau bawa anak cantik ini ke sini?”, kata si Pandai Sepatu. “Aku baru sempat. Lagi pula dia masih terlalu muda ketika ku bawa dia pertama kali ke rumahku. Dan sekarang, aku merasa sudah waktunya dia memakai sepatu,” Tuanku menjawab dengan senyum lebar. Matanya berbinar.

Lalu si Pandai Sepatu merapikan kuku-kukuku. Aku merasa seperti seorang puteri. Tak heran kalau para perempuan senang dimanjakan di salon kecantikan. Begitu yang sering ku dengar dari gadis-gadis dan ibu-ibu yang sering lewat di depan rumahku. Mereka juga sering menyerahkan kuku-kukunya di tangan para ahli kecantikan di salon. Aku sendiri belum pernah ke sana. Entah mengapa. Tuanku tidak pernah mengajakku, dan aku juga tidak pernah bertanya.

Tapi… hatiku mulai cemas ketika si Pandai Sepatu membawa martil! Apa yang akan dia lakukan terhadapku?

“Gadis cantikmu ini kukunya terlalu keras. Maafkan jika aku harus merapikan kukunya dengan martil,” ujar si Pandai Sepatu.

“Tuhanku! Tuanku! Tolong aku! Aku tidak ingin dia memotong kuku-kukuku dengan alat itu! “

Aku hanya dapat menjerit dalam hati. Mulutku bungkam, karena aku terlalu takut untuk berteriak. Yang dapat aku lakukan hanyalah memejamkan kedua belah mataku. Semoga dengan begitu aku tidak perlu merasa terlalu kesakitan.

Aku masih merasakan tangan-tangan sang Pandai Sepatu di antara jemari kakiku. Dan anehnya, aku tak merasa sakit sedikit pun! Ajaib! Seingatku, dia tidak menyuntikku dengan obat bius tadi, tapi mengapa aku merasa baik-baik saja?

“Ini sepatu pesananmu untuk si cantik ini, Tuan. Coba tolong dilihat dulu, apakah bentuk dan warnanya sudah sesuai dengan keinginan Tuan?” kata si Pandai Sepatu. Sungguh. Aku sangat penasaran dan ingin melihat bentuk sepatu itu, tapi rasa ketakutanku masih belum hilang. Jadi aku memutuskan untuk terus menutup mata.

“Ah! Ini sepatu yang paling cantik yang pernah ku lihat! Ini sangat cocok dan ukurannya pun sangat pas dengan kaki Susanku yang cantik!”

Tak lama setelah itu, aku dengar dentingan logam. Dan sepatu yang dibuat oleh si Pandai Sepatu pun mulai dipasangkan pada kaki-kakiku. Bunyi paku dan martil silih berganti memekakkan telinga. Sungguh bising. Tapi tak semili pun berani ku buka mataku. Aku memilih untuk melihat apa yang terjadi nanti saja sampai…

“Susan! Coba buka matamu, dan lihat kakimu! Kamu adalah kuda betina paling cantik yang pernah aku lihat! Dan sekarang kecantikanmu dilengkapi dengan dua pasang kaki yang kuat!” Tuanku membuatku terkejut dengan suaranya yang menggelegar. Perlahan ku buka mataku. Dan, Tuhan! Dua pasang ladam yang paling indah telah menempel di kaki-kakiku!

***

Dalam perjalanan pulang dari si Pandai Sepatu, aku tak henti-hentinya tersenyum lebar. Sinar mataku bahkan melebihi terangnya cahaya matahari siang itu! Aku berjalan dengan genitnya, dan memamerkan kedua pasang sepatuku kepada semua perempuan yang ku temui di jalan – baik manusia, maupun para kuda. Dan kau boleh percaya atau tidak, mereka semua memandangku dengan iri!

Kata Tuanku, mulai hari ini aku akan lebih sering diajaknya berjalan-jalan. Aku senang sekali! Pasti aku akan mempunyai lebih banyak teman nanti. Sekarang aku baru tahu, mengapa dulu aku tak diijinkannya keluar dari rumah – karena dia takut kakiku terluka. Hari ini aku belajar, bahwa ketika aku merasa aku dikekang, itu sebetulnya karena aku dilindungi oleh Tuanku. Bodohnya aku! Mengapa aku tak berpikir seperti ini sebelumnya? Ah, cara berpikirku mungkin memang terlalu sempit…

Aku juga tidak iri dengan bangsa manusia yang mempunyai sepatu dalam jumlah banyak. Aku puas dengan apa yang aku miliki. Untuk apa mempunyai banyak sepatu jika aku sudah mempunyai dua pasang sepatu untuk kedua pasang kakiku dan sepatu-sepatuku adalah sepatu yang kuat, yang sanggup melindungi kaki-kakiku dan membawaku berlari kemana pun aku mau?

Bahkan kabarnya, di sebuah negera antah berantah, ada seorang Ratu yang mempunyai ribuan pasang sepatu. Untuk apa? Toh kakinya hanya sepasang? Toh akhirnya ketika beliau mangkat pun, hanya sepasang sepatu yang dapat dibawanya ke liang lahat!

Untuk apa serakah, jika keserakahan tidak dapat mendatangkan bahagia, bahkan lebih banyak lagi keserahakan?

Dengan hanya memakai sepatu yang ini-ini saja, bahkan tanpa pernah bisa melepasnya, aku merasa punya keterikatan khusus dengan sepatuku. Aku belajar setia. Aku belajar bersyukur atas apa yang aku miliki. Aku belajar bahwa bahagia itu adalah merasa puas akan apa yang ada, dan bukan selalu merasa harus memiliki apa yang belum dan tidak aku miliki.

Dengan sepatuku ini, aku akan lebih mampu untuk memberi. Aku dapat bekerja lebih kuat, berjalan lebih jauh. Mungkin beginilah seharusnya hidup itu. Saling menguatkan dan terus dijalani bersama tanpa harus sering mengeluh.

Malam nanti, ketika bulan yang berwarna ungu keperakan itu muncul – aku akan menari di bawah pantulan cahayanya. Kau boleh ikut menari bersamaku, bahkan kau boleh membawa gendang dan rebana. Kita rayakan kehidupan. Kita rayakan hari ini – hari pertemuanku dengan kedua pasang sepatu besiku.

Dan kita akan terus bersulang, minum jus rumput sampai mabuk, hingga kita lupa bahwa ada paku yang menempel di telapak kaki kita. Karena tanpa derita, tidak ada yang patut untuk dirayakan.

Aku tunggu.

— THE END —

Advertisements