Tags

, , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Siapa yang enggak mau mendapatkan pacar saat liburan? Gue mau! Banget. Tapi gue enggak mengharap lebih sih sebenarnya. At least, ketemu teman baru saja sudah cukup. Dan gue menemukannya waktu gue traveling ke Bali akhir tahun lalu.

Sebut saja dia si Rendang, panggilan akrab gue untuknya yang sangat menyukai makanan berlemak tinggi khas Padang itu.

Kebetulan kami menginap di hotel yang sama, dan bertemu tak sengaja saat sarapan pagi. Restoran cukup ramai oleh pengunjung karena saat itu Bali sedang high season. Dan dari sekian meja yang ditempati tamu hotel, pilihan dia jatuh ke meja gue yang memang hanya sendiri di tempat yang cukup ditempati oleh 2 orang. Mungkin juga karena gue adalah salah satu dari sedikit penduduk lokal di antara padatnya wisatawan asing yang memenuhi restoran.

“Maaf, sendirian? Boleh join?” Seakan dia sudah yakin bahwa gue tak bersama siapapun, permohonan ijin untuk bergabung sudah ia ajukan sebelum gue mengaku memang hanya sendirian.

Sebagai jawaban gue hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar dia duduk di hadapan gue.

Selanjutnya yang terjadi sungguh di luar kebiasaanku yang jarang sekali mau berbasa-basi dengan orang yang baru dikenal. Ya, kami mengobrol sampai batas jam makan pagi hampir selesai di restoran itu. Kami berdua seolah lupa waktu, entahlah, rasanya seperti bertemu sahabat lama. Dengan cepat kami bisa langsung ‘klik’.

Dan anehnya gue pun merasa nyaman untuk jujur padanya maksud gue berlibur sendirian di Bali kala itu.

“Patah hati. Gue ingin menenangkan diri di sini.”

Matanya terbelalak mendengar pengakuan gue lalu terbahak. “Kayak di film-film aja. Patah hati lalu traveling.”

Mau tak mau, gue pun ikut tertawa bersamanya.

Semenjak percakapan di pagi hari itu, kami tak berjumpa lagi di Bali karena sungguh disayangkan, ia harus kembali ke Jakarta malam itu juga. Gue menghembuskan nafas kecewa saat dia pamit undur diri. Well, time to say goodbye to stranger, gue membatin. Tetapi lagi-lagi yang terjadi sama sekali tak gue sangka, dia meminta kontak gue!

Singkat cerita, perjumpaanan di Bali membawa kami ke hubungan dengan jenjang lebih tinggi dari sekedar teman yang bertemu di tempat berlibur.

Di Jakarta, kami mulai intens bertemu. Kedai kopi adalah tempat favorit bertemu mengingat kegilaan gue dan dia yang sama akan minuman berkafein tinggi itu. Segelas kopi saja dapat menghasilkan berjam-jam obrolan yang kebanyakan berisi curhatan gue tentang mantan kekasih. Gue belum sepenuhnya move on dan masih menyayangi orang yang baru saja mematahkan hati gue. Diam-diam, gue berharap si Rendang ini dapat menjadi pelabuhan baru untuk gue. Setidaknya, dapat mengalihkan pikiran gue dari sang masa lalu.

“Ish kok malah ketawa sih Rendang!” umpat gue yang kesal karena dia malah terkekeh mendengar curhatan gue yang masih stalking si mantan.

“Gue males ngasih masukan, percuma lo enggak akan denger juga. Ada 2 orang yang enggak bisa dikasih saran. Pertama lagi jatuh cinta. Kedua sedang patah hati tapi masih ngarep. Hahaha.” Tawanya lepas seolah kisah gue itu lucu baginya.

Gue hanya bisa merengut, “Jadi gue enggak boleh nih cerita-cerita lagi tentang dia?

“Cerita tentang dia gunanya apa? Masih suka berarti kan? Haha.” godanya lagi.

“Eh, kita traveling bareng yuk. Akhir Maret gimana? Ada long week end kan.” ajaknya.

“Akhir Maret? Deket-deket tanggal 31 gitu? Hmmm…”

“Kenapa? Udah ada rencana?”

“Bukan. Tanggal 31, hmmm…mantan gue ultah.”

“TERUS KENAPA? Come on, lo sampai kapan mau begini terus. Ngomongin mantan terus. Galau terus. Yaudah gini aja. Fix ya lo ikut gue liburan ke Bromo. Ada promo penerbangan murah ke Surabaya. Nanti gue atur semuanya. Lo tinggal ikut pokoknya.”

Gue hanya bisa bengong mendengar ucapannya yang bagi gue lebih terdengar seperti perintah untuk mengikuti kemauannya.

“Kok maksa sih?”

“Gue enggak akan biarin lo sedih-sedih pas di tanggal dia ultah itu. Kita happy-happy di sana ya. Bagus lho pemandangannya. Trust me.” lanjutnya. Idenya tak buruk, dan akhirnya gue hanya dapat mengangguk pasrah menurutinya.

Gue sadar, ternyata banyak yang peduli akan gue. Sahabat baru gue ini salah satunya, yang tak ingin melihat gue sedih tak berujung. Dan gue enggak boleh mengecewakan mereka dengan menunjukkan kesedihan lagi. Menurut Rendang, gue jadi suka sedih karena membaca status BBM dan tweet si mantan yang sudah memiliki kekasih baru. Setelah membacanya lalu mulai membandingkan dengan ketika kami masih bersama dulu, tentu saja menyakitkan. Mengetahui cerita cintanya dan kemudian mengingat lagi kenangan dulu menjadi sumber kegalauan gue.

***

Setelah kesepakatan dicapai, rencana mendadak kami itu segera dijalankan dengan baik oleh Rendang. Dia mengatur segalanya, mulai dari tiket pesawat, hotel tempat menginap di Surabaya, dan jasa tour yang akan membawa kami ke Malang nantinya.

Akhirnya saat yang dinantikan itu datang juga.

Satu jam menjelang tengah malam, sebuah Daihatsu Grand Max sudah menunggu kami di lobi hotel. Kendaraan tersebut akan membawa kami sampai Malang untuk kemudian bertukar dengan mobil jeep menuju Bromo. Kami memang harus berangkat tengah malam karena tujuan kami, dan juga kebanyakan pengunjung lain adalah menikmati sun rise  di Bromo.

Di tengah perjalanan, tepat pukul 12 malam, muncul reminder ulang tahun sang masa lalu di layar HP gue. Crap! Seketika mood gue langsung rusak. Supaya enggak sedih, gue malah berulah iseng dengan mengirimkan ucapan selamat ulang tahun ke Rendang.

Bunyi notifikasi di handphone gue menandakan ada balasan dari pria yang memiliki belahan dagu, yang membuat dia terlihat manis sekali–anyway, memecahkan kesunyian di dalam mobil. Gue membaca pesannya. “Masih mau jadi yang pertama ngucapin ke mantan?”

“Enggak kok, malesin.” Gue mengirimkan balasan singkat kepadanya.

“Nanti saja kalau sudah di Bromo. Kirim aja begini: From Bromo, I wish you a happy birthday.” usul si rendang. Gue langsung cepat membalasnya lagi. “Norak ah.”

Rasa kantuk menolong gue untuk enggak berlama-lama memikirkan kalau hari itu adalah hari yang pernah spesial bagi gue. Gue langsung tertidur sampai bapak supir membangunkan kami berdua. Gue melihat waktu melalui jam yang melingkar di tangan kiri gue, pukul 2 pagi di Kota Malang. Saatnya kami harus bertukar kendaraan. Sebuah mobil jeep sudah menanti kami di sebuah pom bensin di kota Malang.

Dua setengah jam perjalanan harus kami tempuh untuk sampai ke kawasan Bromo. Jeep kami menghantam pekatnya malam, hanya ditemani cahaya bulan dan bintang yang bertebaran dengan indahnya. Hebat sekali bapak supir ini karena ia hapal rute perjalanan yang melintasi gunung dan hutan. Bayangkan saja, salah-salah kan bisa kesasar!

Di tengah lamunan yang ngawur, tiba-tiba gue dihentakkan oleh udara yang masuk ke dalam mobil, dinginnya menusuk sampai ke tulang rasanya. Padahal di balik jaket gue ada daging yang juga tebal, namun dinginnya dapat menyusup dengan sempurna. Ternyata angin yang menampar pipi gue itu akibat si Rendang yang membuka kaca jendela mobil. Dia meminta gue untuk melihat indahnya bintang di langit yang sedang ia nikmati. Ah, pemandangan gugusan bintang ini jarang-jarang bisa dilihat di kota besar. Ada perasaan damai ketika memandangnya, namun karena gue enggak kuat dengan dingin yang menyerang, gue pinta Rendang segera menutup jendela.

Tepat pukul setengah lima pagi, kami sampai juga di Pananjakan View untuk menyambut sunrise bersama-sama para pengunjung lainnya. Semua orang sudah bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan salah satu lukisan terbaik Tuhan itu. Gue percayakan SLR merah kesayangan pada si Rendang untuk memotret pemandangan, yang membuat kami berkali-kali berdecak kagum. Sedangkan gue, malah mencuri-curi untuk mengabadikan si Rendang, yang sedang asik memotret sang matahari terbit di atas Bromo. Tubuhnya yang disinari cahaya pagi itu memberikan efek siluet di kamera HP gue. Dan saat itu, dia adalah gambar terbaik yang pernah gue tangkap.

Tiba-tiba saja sosok yang gue kagumi itu menoleh dan menghampiri. Tindakannya sama mendadaknya dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul menyerang, ketika dia tersenyum ke arah gue.

“Nih hasil jepretan gue.” Dia menunjukkan layar DSLR kepada gue. Bagus sekali foto-fotonya. Gunung-gunung di Bromo tersebut tampak seperti mengambang di antara lautan kabut. Konon, Bromo adalah salah satu gunung dengan pemandangan terbaik di dunia.

Gue menekan tombol pada kamera untuk melihat terus hasil-hasil foto lainnya. Dan nafas gue tercekat, mungkin pipi gue juga merona saat itu karena malu melihat hasil tangkapannya. Beberapa foto terselip di antara pemandangan adalah gue sendiri, yang berhasil diambil Rendang diam-diam. Gue akhirnya hanya dapat mendelikkan mata padanya, lalu mencubit pinggangnya. “Dasar ya moto-moto diem-diem.” Yang dicubit hanya tertawa kecil, membuat gue semakin gemas padanya.

Perjalanan dilanjutkan ke puncak gunung untuk melihat kawah Bromo. Bapak supir jeep yang juga sekaligus pemandu kami, menyarankan untuk menunggang kuda saja sebelum akhirnya menaiki tangga menuju puncak bukit. Harga sewa kuda untuk bolak-balik mengantar kami naik turun gunung adalah Rp100 ribu. Ya, hitung-hitung sambil menolong bapak yang merupakan penduduk asli Tengger tersebut. Dia lah yang mengawal kami dengan berjalan memegangi tali ikatan kuda.

Dan luar biasa letihnya gue, ketika harus menapaki anak tangga menuju puncak gunung. Awalnya gue coba untuk menghitung berapa jumlah pijakan tersebut. Namun, lama-kelamaan gue kehilangan konsentrasi.

Satu anak tangga. I do miss him.

Dua anak tangga. I do not miss him.

Tiga anak tangga. Why do i have to think that I miss him or not?

Empat anak tangga. Well who cares if I miss him or not.

Lima anak tangga. I’m tired of missing him.

Begitu seterusnya hingga beberapa anak tangga terakhir. Gue kehabisan nafas dan menghentikan langkah. Tinggal beberapa pijakan lagi sebenarnya, lalu gue akan sampai ke puncak. Gue menengadahkan kepala, hembusan angin dingin menerpa wajah gue. Sinaran cahaya menyambut mata gue yang menyipit, lalu ada sesosok siluet tubuh menanti gue di ujung tangga. Tersenyum. Ah, senyum yang mendamaikan hati seketika. Senyum yang sudah lama hilang dan sedang kunanti kembali.

Semakin dekat gue dapat melihat sosok itu dengan jelas. Bersamaan dengan itu, telinga gue pun mendengarkan suaranya yang menyemangati gue. “Ayo, sebentar lagi sampai. “

Ternyata sosok itu adalah si Rendang.

Gue terpacu setelah ia semangati. Dengan keyakinan pasti, gue melanjutkan untuk menaiki anak tangga terakhir.

I’m done thinking of him.

Gue menggapai uluran tangan si Rendang agar tidak terjatuh.

Well done! Sampai juga di tangga terakhir.” ucapnya. Lalu dia memastikan gue agar duduk di atas sebuah batu di dekat ujung tangga untuk beristirahat. Gue sudah tergopoh-gopoh saking capeknya. Usia memang tak pernah bohong.

Sesaat gue perhatikan keadaan di sekitar gue. Puncak gunung ini tampak seram karena tak ada pembatas sama sekali. Di bawah gunung yang curam ini juga terdapat kawah raksasa. Jadi butuh ekstra hati-hati, agar tidak terpeleset dan terjatuh.

Gue melihat si Rendang berjalan ke ujung jurang untuk memotret kawah. Setelah nafas gue kembali normal gue bermaksud untuk menyusul ke tempat Rendang berdiri. Sadar akan gue yang sedang berjalan sempoyongan ke arahnya, dia spontan berteriak agar gue berhati-hati. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran, mungkin dikiranya gue ada niat untuk lompat ke dalam jurang. Sial.

Sok berani, gue malah duduk di dekat jurang dan meminta Rendang untuk memotret gue dengan beberapa gaya. “Gue mau bergaya semacam lompat karena stres ya.”

Dengan kesusahan gue mencoba berdiri tapi hampir saja terpeleset. Tindakan ceroboh gue itu menyebabkan beberapa kerikil jatuh ke dalam jurang. Si Rendang yang terkejut segera menghampiri gue. Tanpa basa-basi gue pun terkena omelannya. Bahkan ia hampir berteriak untuk mencegah gue bergerak terlalu ke pinggir.

“HATI-HATI!!! Awas jatuh!!!”

Entahlah, tapi seperti ada yang salah dengan peringatannya kali ini. Permintaannya agar tidak terjatuh di Bromo, terdengar seperti…

Jangan.  Jatuh. Cinta. Kepadanya.

But how can I not fall for him?

Sederet peristiwa yang terjadi sebulan terakhir berputar-putar di kepala gue. Teringat lagi masa-masa chatting kami malam hari menjelang tidur. Tanggapannya yang cuma terkekeh mendengar curhatan gue. Keisengannya mengirimkan gambar-gambar yang membuat gue mengucap…”ish..” lalu tersenyum. Komentar sinisnya yang mengatakan gue enggak bisa mengemas koper dengan baik. Pujiannya yang mengatakan bahwa dia salut akan ketegaran gue, disaat orang lain mungkin mengasihani gue. Dukungannya agar tetap menulis di saat sedih. Pembenarannya jika menghibur diri dengan berbelanja sesekali itu tidak dilarang. Spontanitasnya mengajak liburan agar gue tidak berlarut dalam kesedihan. Sikapnya yang gentle dan memperlakukan gue dengan baik. Mengangkat bawaan gue yang berat enggak peduli tangannya kapalan dan hanya membiarkan gue membawa boarding pass. Menawarkan jaketnya untuk menghangatkan gue yang kedinginan di bandara. Satu jam menggalau berduaan di dalam pesawat di atas udara. Dan… teringat juga akan kisahnya dengan wanita itu.

Ya, ada seseorang telah mengisi hatinya.

Alasan yang cukup kuat untuk gue tidak merusak pertemanan kami dengan jatuh cinta padanya. Semua kebaikannya sudah semestinya tidak disalahartikan dengan yang lain.

Kali ini, gue harus lebih berhati-hati. Salah langkah bisa menyebabkan gue terjatuh di Bromo. Resikonya bisa mati masuk jurang. Begitupun dengan hati gue. Syukurlah sejak awal gue sudah diberi peringatan agar tidak jatuh dan terperosok lebih dalam.

Sekarang yang gue lakukan adalah menikmati kebaikannya dan kedekatan kami sambil tetap menjaga agar tidak jatuh hati padanya. Hati harus seperti kendaraan, dipasang rem yang dipakai untuk mengontrol kapan harus berhenti dan kapan harus terus berjalan.

Mungkin tiga puluh menit di puncak kawasan Bromo ini adalah masa yang akan gue ingat selamanya. Setengah jam dalam masa hidup gue, di mana gue hampir terjatuh di Bromo. Secara harfiah maupun istilah.

Sebelum kami kembali menuruni tangga dan melanjutkan petualangan di pasir berbisik, patung singa, dan padang savanah. Gue memanggil Rendang yang hendak turun mendahului gue. “Eh tunggu, lo jalan di belakang gue aja. Jaga gue ya. Don’t let me fall.” Gue memberi penekanan pada kalimat terakhir. Sebuah perintah untuknya.

Dia tersenyum dan mempersilahkan gue melewatinya. Gue terus melangkah turun dengan hati dan kaki yang ringan. Tetapi harus terhenti ketika gue mendengar suaranya yang memanggil. Ketika berbalik badan dan mengarah padanya yang masih berdiri di atas ujung tangga, belum sempat gue berucap lalu…

JEPRET!

— The End —