Tags

, , ,

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Dengan tergesa-gesa, gue berjalan masuk ke dalam ruang tunggu travel. Raka, sang pacar dua bulan belakangan, tampak kedodoran mengikuti langkah gue. Dia mengantar ke pool travel yang akan membawa gue ke Jakarta, seperti biasa.  Ini memang kegiatan rutin nyaris setiap akhir pekan. Gue naik travel dari Jakarta, dan dia akan menjemput di Bandung. Begitu gue balik ke Jakarta, ia akan mengantar sampai ke pool.

Gue  memang sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Hal ini dikarenakan gue bekerja di ibu kota, namun punya orang tua yang tinggal di kota kembang. Sementara ia, lahir, tumbuh, dan menetap di kota-seribu-wanita-cantik ini sampai sekarang.

“Mas, atas nama Grahita, ke Grogol,” kata gue begitu setiba di depan meja check in.

Petugas front office berseragam merah mengangkat muka, “sebentar, saya cek dulu. Untuk keberangkatan jam berapa, Ibu?”

“Jam lima, Mas.” Gue menjawab sambil menahan diri untuk gak protes dipanggil dengan sebutan ‘Ibu’. Sudahlah, mungkin itu prosedur standar. Lebih sopan dan rapih dibanding memanggil kakak atau teh atau mbak, mungkin?

“Maaf, Bu,” dia menghela napas, “untuk keberangkatan jam lima ke Grogol, sudah penuh.”

“Lah? Sudah penuh gimana? Kan saya udah booking?” gue melirik jam dinding, “dan saya kan gak telat.”

“Iya, tapi seharusnya Ibu datang 15 menit sebelum keberangkatan. Sekarang kan udah jam 16.50.” si petugas berusaha menjelaskan.

“Kan baru lima menit, Mas. Masak saya udah nggak bisa naik,” gue melemparkan poni ke belakang, “hoo, saya ngerti…. Tiket saya udah dijual ke orang lain ya? Begitu?”

Ia tidak menjawab, mendadak sibuk dengan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

“Yaudah, keberangkatan berikutnya aja. Jam berapa adanya?” terdengar pertanyaan dari Raka yang dijawab dengan takut-takut oleh si petugas, “maaf sekali, untuk hari ini kita udah fully-booked Pak. Sampai  yang terakhir jam 10 malam juga udah penuh.”

“APA?! Terus saya naik apa dong ke Jakarta? Kamu main jual aja sih. Nggak confirm dulu ke saya.”  Gue mulai naik darah.

Didi, begitu nama yang tertulis di ID card yang tertempel di dadanya, hanya bisa terdiam.

“Coba aku telpon travel lain ya, kali aja masih ada yang kosong,” kata Raka sambil mengeluarkan telepon genggam dari kantong celananya.

Gue merengut, “yaudah, aku juga telpon travel lain deh. Walaupun nggak yakin juga sih. Ini long weekend,  gitu kan…”

“Udah, kamu tenang aja ya…” Raka mengacak rambut gue pelan.

Ia berhenti mengacak rambut gue ketika tersambung dengan travel lain di daerah dekat sini.  “Eh, halo? Mbak? Mau pesan travel buat sore ini ke Jakarta, masih ada nggak ya?”

Pertanyaan yang sama diulangi untuk beberapa travel, dan menemui jawaban yang sama pula: semua kursi penuh. Gue yang mulai gemas dan kesal langsung meminta dipertemukan dengan manager on duty dari travel ini. Dan di sinilah gue sekarang, di depan meja sang manager.

“Jadi gini ya Pak. Saya tau kalian mau mengejar pendapatan maksimal. Daripada kursi yang udah saya book itu kosong, makanya kalian langsung jual aja. Tapi kenapa nggak confirm dulu sih? Tanya dulu dong, saya jadi pake kursi itu atau nggak? Jangan main jual aja!” semprot gue emosi.

Sang manager on duty ini masih muda. Perkiraan gue, umurnya sekitar akhir dua puluh atau awal tiga puluhan. Penampilannya bersih dengan kemeja berwarna biru langit dan rambut di-gel ala anak muda zaman sekarang.

“Begini, Mbak. Kita mengerti permasalahannya. Tapi kita tidak menyalahi prosedur. Penumpang harus hadir 15 menit sebelum keberangkatan. Kalau tidak, kita bisa anggap ia membatalkan pesanan,” jelas Pak Vino, si manager on duty.

“Ya tapi etikanya di mana?” Gue mendengus sebal, “Masak penumpang nggak dikasih tau? Ini pembatalan sepihak namanya!”

Raka menyentuh punggung gue, “yaudah deh Pak. Sekarang gimana caranya biar dia dapet kursi. Semua travel penuh hari ini. Bapak nggak bisa ngusahain satu kursi aja buat pacar saya?”

Pak Vino tersenyum, “sayang sekali Mas, kita udah fully booked. Mungkin Mbaknya mau saya daftarkan di waiting list untuk keberangkatan berikutnya? Jam enam sore, gimana?”

“Kenapa Bapak nggak nelponin semua penumpang yang berangkat jam enam sore? Siapa tau ada yang cancel. Kalo nggak ada, ya calon penumpang keberangkatan berikutnya yang Bapak telponin!” Gue masih nyolot bak orang kebakaran jenggot.

“ Wah, maaf sekali Mbak,” kata Pak Vino sambil merapikan kerah kemejanya, “itu di luar prosedur dan budaya perusahaan.”

“Prosedur?! Budaya?! Yang bener aja, Pak!” Gue mulai melotot marah.

“Mbak tunggu aja,” sambungnya tenang,  “keberangkatan terakhir kita ada di jam sepuluh malam kok. Biasanya pasti ada yang cancel barang satu dua orang.”

Ketenangannya membuat gue semakin naik darah. Enak aja ni orang nyuruh gue nunggu. Gue terancam nggak bisa balik ke Jakarta nih. Mana besok pagi gue ada meeting penting pula, nggak mungkin datang telat apalagi bolos.

“Ya sampe kapan saya harus nunggu? Jam sepuluh?! Belum tentu ada kan?! GILA APA?!”

BRAKK!

Emosi yang tinggi tanpa disadari mengantarkan gue untuk menggebrak meja. Air putih di gelas Pak Vino bergetar. Sehelai kertas di mejanya tampak berubah posisi setelah sempat melayang selama sepersekian detik. Suasana menjadi hening. Sangat hening. Di antara kami bertiga, tak ada yang angkat suara.

Untungnya gue nggak perlu berlama-lama menunggu. Pak Vino akhirnya setuju untuk menelpon calon penumpang di keberangkatan jam enam sore. Dan syukurlah, ada satu orang yang membatalkan pesanannya sehingga gue bisa mendaratkan pantat di kursi mobil yang empuk ini.

Tiga jam perjalanan gue isi dengan tidur lantaran lelah berkeliling kota kembang seharian bersama Raka. Ketika terbangun, gedung bioskop Slipi Jaya merupakan pemandangan pertama yang gue lihat.

Wah, udah mau sampai nih. Saatnya untuk beres-beres barang bawaan kali ya.

Jaket. Check. Dompet. Check. Oleh-oleh. Check. Telepon genggam. Check.

Lampu LED telepon genggam berkedip-kedip. Gue segera memeriksa apakah ada pesan atau panggilan tak terjawab.

Ternyata ada tiga panggilan tak terjawab. Satu dari nomor asing dan dua dari Raka. Gue segera mengirimkan pesan agar ia tak khawatir. Sekedar mengabari kalo gue udah hampir sampai, dan berjanji akan menelponnya begitu tiba di kosan.

Kening gue berkerut ketika menyadari ada SMS masuk. SMS dari nomor asing yang tadi panggilannya nggak terjawab. Ada keanehan yang gue rasakan, bukan hanya karena siapa pengirimnya, tapi juga karena isinya.

Hai Grahita. Ini Vino, yang kamu marahin 3 jam yang lalu. :P 
Cuma mau nanya, kamu udah nyampe?

Perhatian banget ni orang, sampai mengecek apakah gue udah sampai apa belum. Hmm.. mungkin ini udah jadi prosedur kali ya?

Pesannya gue balas singkat saja.

Oh, udah. Thanks.

Telepon genggam gue berdenting pelan kurang lebih tiga menit kemudian.

Baguslah kalo begitu. Maaf soal yang tadi. 
Mudah-mudahan nggak bikin kamu kapok naik travel kita ya. :)

Tuh, bener kan. Ngapain gue GR. Wong dia memang menjalankan tugasnya. Menjaga konsumen loyal agar tak pindah ke lain hati.

Tampaknya lebih dari cukup kalo gue membalas pesannya dengan lima karakter. Huruf S, kemudian U, lalu R, dan E. Tak lupa tanda titik sebagai penutup.

Selesai membalas pesan, gue mengaduk isi tempat pensil dan menemukan kunci kamar di sana. Ah, akhirnya sampai juga.

Sementara itu, 130 kilometer dari sana, Vino tersenyum lebar.

Hmmm, lumayanlah untuk langkah awal. Biar gue bisa sering-sering melihat dia di sini. Udah lama gue merhatiin dia. Tadi bahkan gue sempat memfoto dia tanpa sepengetahuannya. Gue emang bakat jadi paparazzi.

Senyum Vino semakin mengembang ketika melihat sebuah foto blur di galeri telepon genggam­nya.

Seorang lelaki berpolo shirt putih.

Raka.

-THE END-