Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Cynthia Febrina (@cyncynthiaaa)

‘Lo masih mau nyari sesuatu ?’ Tanya Saras membuyarkan lamunanku yang sejak tadi terbayang akan sesuatu. Ya, memori itu lagi, sepuluh tahun silam. Entahlah, memori itu selalu datang disini, beresonansi di tempat yang serupa.

‘Eh, enggak Ras, kayaknya belanjaan gue udah cukup banyak.’ Aku berusaha menjawab sekalem mungkin. Betul sekali, aku adalah Tita, si jago berekspresi. Pikiranku tengah berkecamuk oleh banyak hal tapi kurasa memperlihatkan itu pada Saras bukanlah hal yang tepat.

‘Lo lagi kenapa sih, Ta ? Akhir-akhir ini lo agak pendiem deh kalo gue perhatiin.’ Sepintar apapun aku menyembunyikan perasaan, Saras lebih pintar dalam menerka keadaan. Yeah, wanita memang peka.

‘Enggak kok Ras, semuanya baik-baik aja. Take it easy.’ Aku mencoba membuat raut muka sumringah dan sepertinya Saras cukup percaya.

‘Okee, kalo gitu kita langsung balik aja ya? Gue juga udah pegel-pegel nih. Lumayan juga belanja belinji kita hari ini, ngabisin duit ternyata asyik ya.’ Saras meletakkan sepasang sepatu converse yang hampir dua jam lebih membuat kami bolak-balik ke toko ini. Membuatku tenggelam pada memori itu lagi.

‘Yaah, asal lo giat aja nyari duitnya lagi. Anyway, itu sepatu nggak jadi lo ambil?’ Hampir semua toko sepatu di mall ini kami jelajahi, kalau sampai Saras nggak jadi beli… Sungguh, kamu tega, Ras.

‘Lumayan mirip sih sama sepatu conversenya Kirsten Stewart yang dia pakai di launching film Breaking Down, hmm tapi nggak jadi deh..’ Saras si wanita tega menjawab dengan muka polos.

‘Beneran nggak jadi??’ Aku melongo.

‘He-eh, enggak, harganya kemahalan..’ Saras terkekeh.

‘Lo mesti dapet suami multitalented yang bisa disuruh bawain barang belanjaan, nyupir, sama bayarin belanjaan lo sekalian. Yuk, buruan cabut!’ Aku menarik lengan Saras yang tertawa puas diiringi dengan cibiran si mbak penjaga toko yang merasa sudah diberi harapan palsu. Bagaimana tidak? Sudah hampir lima kali kami kembali ke toko itu, ditambah Saras yang sudah berkali-kali mencoba memakai sepatu converse barusan dan dengan tidak tahu malunya sudah minta dicarikan ukuran yang pas dengan kakinya.

‘Ta, lo nggak marah kan? Hehe, sini deh gue yang nyetir kalo lo marah. Kan enak nanti tinggal duduk sama tidur selagi gue nyetir.’ Saras merayu gue yang masih manyun.

‘Enggak, gue nggak percaya sama lo.’ Jawab gue sedikit ketus. Seumur persahabatan kami yang hampir delapan tahun, tidak pernah sampai hati aku bisa marah padanya. Tidak juga kali ini.

‘Yaudah kalo begitu, lo yang nyetir, terus gue tinggal bobok, hehe.’

Tawa pun pecah diantara kami. Aku menyalakan mesin mobil dan memutar-mutar disc player, mencari lagu yang asyik untuk dijadikan teman dikala menyetir. Mengantar Saras si tega ini sampai rumah dengan selamat.

‘Ta,’ panggil Saras perlahan. Aku membalas dengan menengok ke arahnya sebentar. Pantang bagiku mengobrol ketika sedang berkendara. Selain karena memang berbahaya, kemampuan menyetirku masih di bawah rata-rata.

‘Lo kenapa sih kalo belanja nggak pernah beli sepatu?’

‘Karena.. karena nyokap gue yang selalu beliin. Rutin, jadi gue nggak perlu repot beli sendiri.’ Tenggorokanku tercekat.

‘Waah, baik banget ya nyokap lo. Hm, Ta?’ Saras menatap gue yang tengah asyik menyetir. Berharap ia akan mendapatkan jawaban lain.  Agak risih diberi tatapan seperti itu, aku pun menoleh.

‘Ya, Ras? Jangan liatin gue kayak gitu!’

‘Kalau ada sesuatu terjadi sama lo, lo bilang sama gue ya. Lo percaya gue kan?’

‘Ya Ras, gue baik-baik aja kok.’ Aku menarik napas panjang, menoleh padanya dan tersenyum setenang mungkin.

I trust you, Ras. But, people usually have some unspoken words. Seperti ketakutanku membeli sepatu.

***

Sesampainya di rumah, aku berlalu menuju kamar Ibu. Ibu sedang istirahat. Rasanya tenang sekali melihat beliau tertidur pulas seperti itu. Aku menghampiri Ibu, mengecup keningnya, lama. Mimpi yang indah Bu, bisikku. Ibu sedikit menggeliat kemudian tertidur kembali. Mungkin Ibu tahu kedatanganku namun tak cukup kuat menahan kantuk untuk membuka mata dan terbangun.

Aku lekas berdiri di samping tempat tidur Ibu, hendak meninggalkan kamar. Tiba-tiba aku merasa kakiku  menendang sesuatu. Ternyata ada kantung plastik cukup besar di bawah tempat tidur Ibu. Tanpa pikir panjang, aku mengambil kantong plastik besar yang berisikan dua buah kerdus itu.

Ibu baru saja melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong. Bisnis peninggalan ayah. Karena bisnis ini berskala besar dan butuh seorang pemimpin yang menggantikan posisi ayah, akhirnya Ibu lah yang sekarang memegang kendali. Berjuang demi kelangsungan hidup keluargaku. Sebenarnya Ibu tidak perlu repot-repot bekerja, toh bisnis seperti ini tentunya mempunyai dewan direksi yang siap menggantikan posisi ayah. Namun ibu bilang, apa yang dirintis ayah sejak dulu tak bisa begitu saja dipegang oleh orang lain. Aku setuju.

Penasaran akan isinya, aku membuka kantong plastik dan mengeluarkan isinya. Ah, benda ini lagi. Kedua kerdus tersebut berisikan dua pasang sepatu. Benda ini adalah oleh-oleh wajib yang selalu Ibu berikan untukku setiap kali melakukan perjalanan bisnis. Aku penggila sepatu. Sejak berumur lima tahun aku sudah mempunyai lemari koleksi sepatuku sendiri. Dulu, ayah yang selalu membawa sepasang sepatu setiap kali pulang setelah melakukan perjalanan bisnis. Koleksi sepatuku ratusan. Yeah, call me daddy’s little princess.

Aku mencintai sepatu dengan alasan. Dulu, ayah pernah menceritakan aku sebuah dongeng. Ayah yang kala itu hampir setiap bulan pulang-pergi ke Australia bercerita bahwa orang Australia mempunyai kepercayaan aneh untuk menolak roh-roh jahat. Penduduk Australia di masa lalu suka menyembunyikan sepatu di berbagai sudut rumah yang tersembunyi, seperti loteng dan tempat lainnya1. Aku sangat mempercayai dongeng yang diceritakan ayah. Aku percaya setiap kali aku punya sepatu maka rasa sakitku akan menghilang. Sejak saat itu, ayah senang sekali membelikan aku sepatu.

Tradisi itu terhenti sepuluh tahun yang lalu. Ayah terserang penyakit stroke dan lumpuh seketika. Beruntung ayah masih bisa berbicara. Namun bagian tubuh ayah sebelah kanan sudah tidak dapat berfungsi. Tak lama setelah peristiwa itu,  ayah menjauh. Menjauhiku. Aku pernah curi dengar pembicaraan ayah bersama ibu di suatu malam.

‘Sikapmu berubah sama Tita. Kamu tahu anak kita sangat sedih melihat kamu seperti ini.’ Terdengar suara ibu terisak. Suasana hening sejenak.

‘Nama anakku Tita, Titanium. Kamu tahu apa artinya? Titanium is a chemical element. It is strong, lustrous, corrosion-resistent with a silver color. Aku mau anakku seperti Titanium, kuat dan tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan dalam hidup.’ Ayah menarik napas panjang, kemudian terisak. Ayah menangis.

Tak kuasa mendengar tangisan ayah dan ibu aku pun berlari menuju kamar. Aku menangis. Teringat dongeng ayah, aku mengumpulkan semua sepatuku dalam kantung plastik kemudian melemparnya ke dalam gudang. Ayah berbohong. Sepatu tak membuatku jauh lebih baik. Aku hanya menginginkan ayah, bukan yang lain. Bukan sepatu.

Aku tersenyum simpul mengingat kembali kenangan itu. Semuanya gara-gara Saras. Kalau bukan karena dia yang mengajakku berkeliling menjelajahi toko sepatu, aku tidak akan kembali memutar memori ini. Aku memasukkan kembali kedua pasang sepatu dari Ibu ke dalam kerdus. Sampai sekarang, aku masih mencintai sepatu, diam-diam. Ibu yang mengerti perasaanku tetap membelikan aku sepatu seperti yang ayah lakukan. Walau setelah itu aku akan berpura-pura tidak suka atau hanya menyimpannya di dalam lemari. Sebesar apapun usahaku untuk mencoba tidak peduli, sepatu-sepatu itu membuatku merasa dekat sekali dengan ayah.

Ayah menyerah oleh penyakitnya beberapa bulan yang lalu. Sepuluh tahun ayah melawan stroke namun akhirnya kalah juga. Kejadian itu menjadi pukulan terberat untukku, untuk keluargaku. Tapi aku Titanium, aku bukan ayah. Aku tidak boleh menyerah.

Selesai membereskan sepatu dan merapikan sedikit meja rias ibu, aku mengambil tasku dan hendak menuju kamar. Kamarku tepat di sebelah kamar Ibu. Namun tiba-tiba kepalaku pusing, rasanya berat. Aku menahan rasa sakit sambil berjalan. Ia datang lagi.

***

‘Tita, bangun Tita, lihat apa yang Ayah bawa.’ Ayah membelai rambutku di samping tempat tidur. Ayah terlihat sangat bahagia.

‘A.. Ayah? Ayah, ini sungguh Ayah?’ Aku mengucek-ucek mata, tak percaya apa yang kulihat.

‘Ya sayang, ini ayah. Kamu bangun Nak, jangan terbaring seperti ini. Lihat, ayah bawakan kamu sepatu yang kamu suka. Lihat warnanya, warna kesukaanmu kan?’ Ayah memperlihatkan flat shoes berpita biru, cantik sekali.

‘Ya Ayah, itu bagus, tapi aku tak suka.’ Jawabku berbohong.

‘Kenapa Nak? Kenapa kamu tidak suka?’

‘Karena ayah pergi meninggalkan aku. Ayah menjauhiku. Ayah bilang sepatu akan mengusir roh-roh jahat. Ayah bilang sepatu selalu diciptakan berpasangan dan tidak akan berpisah. Tapi ayah pergi meninggalkan Ibu. Aku hanya punya satu sepatu, bagaimana mungkin aku bisa berdiri seimbang….’ Aku terisak, menangis tersedu.

‘Maafkan ayah, Nak. Ayah bukan Titanium seperti Tita. Berdiri dengan satu sepatu memang membuatmu tidak seimbang. Jadi, lupakan sepatu lamamu. Carilah keseimbangan lain, cari kebahagiaan hidupmu sendiri, sama halnya dengan sepatu. Jika sudah tak nyaman, maka buang, Nak. Kamu akan berdiri seimbang dengan sepatu barumu. Lupakan masa lalu yang menyiksamu seperti ini, relakan Ayah, Titanium.’ Bayangan ayah tiba-tiba menghilang. Aku berusaha mengejar ayah sambil berteriak. Tapi kakiku terasa sakit sekali, tanganku tak bisa digerakkan. Aku tak bisa mengejar ayah.

Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan menggenggam tanganku. Aku membalas genggaman itu lebih erat. Mataku terbuka. Ada seseorang di samping tempat tidurku sedang menangis. Untuk beberapa saat aku menyadari bahwa aku sedang terbaring di rumah sakit, lagi.

‘Taaa, lo bangun taa, ya Allah akhirnya lo bangun juga Taa!!’ Saras memelukku erat. Efek obat infus yang mengalir dalam tubuhku memang cukup dahsyat. Aku masih kebingungan.

‘Ibu? Ibu?’ Aku mencoba menanyakan dimana Ibu. Beliau pasti sudah kalang kabut melihat aku terbaring seperti ini.

‘Nyokap lo gue suruh pulang, Ta. Nyokap lo butuh istirahat, dari kemarin beliau nungguin lo disini. Belum lagi katanya nanti sore ada rapat direksi. Jadi tadi gue nawarin nyokap lo buat gantian jagain lo disini. Ta, maafin gue ya,’ Saras terisak. Baru kali ini aku melihat Saras menangis sesedih ini. Jauh lebih sedih ketika dia diputusin pacarnya dua bulan lalu.

‘Kenapa mesti minta maaf Ras?’Aku mencoba meraih tangannya, mencoba menenangkan Saras.

‘Udah haampir delapan tahun kita temenan, gue.. gue baru tahu sekarang kalo lo mengidap leukopenia2, Ta, maafin gue..’ Saras masih terisak. Rasanya aku ingin bangun dari tempat tidur dan memeluknya erat.

‘Iya Ras, lo jangan nangis gitu dong, gue kan jadi sedih..’ Aku menahan tangis.

‘Iya…Iya..sorry ya Ta.. Oya, ini ada bingkisan dari karyawan nyokap lo. Katanya, bokap lo nitipin ini sama dia beberapa bulan yang lalu sebelum beliau pergi. ‘ Saras menyerahkan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan sangat cantik. Ada hiasan bunga mawar biru disana.

‘Terus kenapa baru dikasih ke gue sekarang, Ras?’

‘Hmm dia bilang baru selesai tugas dari Hongkong Ta, jadi baru sempet dikasih lo sekarang deh. Oya, dia juga titip salam buat lo..’

‘Oh.. boleh bantu gue buka ini nggak?’ Aku penasaran apa yang dititipkan ayah pada karyawannya. Kenapa ayah nggak ngasih ke aku langsung?

Saras membuka bingkisan cantik itu dan mengeluarkan isinya. Aku tercengang. Benda ini..

Titanium, sepasang sepatu tidak pernah berpisah. Ini sepatu barumu, Ayah sayang padamu, Nak. Jangan menyerah pada penyakitmu ya, jangan seperti ayah.

Sepucuk surat yang ayah tulis sebelum beliau pergi. Surat yang berada dalam bingkisan cantik bersama dengan sepasang sepatu. Sepatu yang mirip sekali dengan sepatu yang pertama kali dibelikan ayah dan aku hilangkan pasangannya.

‘Ayah, sepatu ini hilang sebelah, aku mau sepatu yang ini..’ Aku merengek begitu tahu sepatu kesayanganku hilang dan tinggal sebelah.

‘Jangan menangis, Nak. Nanti ayah belikan yang baru ya..’ Ayah merangkulku.

‘Tidak, Ayah, aku mau yang seperti ini, aku mau pakai sebelah saja!’ Aku bersikeras ingin memakai sepatu berpita biru itu.

‘Hey, dengar sayang, kalau kamu hanya pakai sebelah, jalanmu tidak akan seimbang. Setiap sepatu selalu berpasangan.’

Aku menutup mata, tidak menangis. Aku Titanium, Ayah.

 ____________________________________________________________

  1. Kebiasaan ini ditemukan oleh Doktor Ian Evans, sejarawan Australia yang melakukan penelitian selama enam tahun.
  2. Leukopenia adalah penyakit kekurangan sel darah putih dan berkurangnya kekebalan tubuh.

-THE END-

Advertisements