Tags

, , , , , , ,

Prepared by Client:
Adyta Dhea Purbaya (@dheaadyta)

Siang ini, sama seperti siang-siang kemarin. Kantin kampus. Ramai. Dan kita duduk berdua disalah satu kantin.

Kamu dengan segelas Green Tea yang mengepul, dan aku dengan segelas Lemon Tea dingin.

“Eh, kalo makan nasi, minumnya jangan teh” Kamu menarik gelas tehku menjauh dari jangkauanku.

“Ahhh balikiiin… Aku mau tehkuu..” Aku berusaha menggapai gelas teh itu.

Kamu tertawa-tawa dan mengangkat gelas teh itu makin tinggi.

“Teh itu menyerap karbohidrat yang dibawa nasi. Gimana anemia nya nggak tambah parah, coba? Lagian… pantes aja nggak gendut-gendut!”

Kamu mulai dengan segala ceramah tentang anemia dan tubuh kurang idealku.

“Ahhh… aku mah nggak butuh gendut. Aku cuma butuh kamu.” Aku menjawab sambil berusaha meraih gelas tehku.

Kamu tertawa.

“Gombalnya udah makin lancar yah, sekarang?” Katamu sambil mengacak rambutku.

Aku cemberut. Menjauhkan piring nasi dihadapanku. Aku nggak mau makan kalo gelas tehku nggak dikembalikan.

“Lah itu kenapa nasinya dijauhin?” tanyamu pelan.

Aku nggak menjawab. Masih memasang tampang manyun.

“Sini aku suapin, yaaah….” dia menyendok nasi dan mengarahkannya ke mulutku.

Aku membuang muka. Masih merajuk.

“Eh nggak boleh ngambek, tuh mukanya ditekuk kan jadi jelek gituuuu….” Kamu mengacak rambutku, lagi.

Aku masih membuang muka.

“Jangan marah dong. Kamu tuh manis banget kalo lagi nggak marah. Ini kalah deh manisnya teh ini” katamu mengacungkan gelas Lemon Tea dinginku.

Mau nggak mau aku tersenyum juga dan memukul pelan lenganmu. Ah.. Kamu memang selalu tau caranya mengembalikan semua mood baik aku.

“Aku mau tehkuuu…” aku merengek.

Kamu menyerahkan gelas Lemon Tea dingin itu kehadapanku. “Kamu ini kalo dibilangin mesti deh ngeyel…” katamu sambil menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangatmu.

Aku menyedot banyak-banyak Lemon Tea-ku. Ahh dinginnya langsung mengaliri kerongkonganku.

“Green tea-nya manis nggak?” tanyaku memasang tampang serius.

Kamu mengecap sekali lagi sesendok Green Tea hangatmu, lalu mengangguk. “Lumayan. Pas lah pokoknya sama lidahku. Kenapa emang?” tanyamu, masih menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangat itu kedalam mulutmu.

Aku selalu suka caramu menghabiskan segelas tehmu. Pelan. Disesap sesendok demi sesendok. Nampak menikmati sekali. Aku tau kamu cinta banget sama teh. Lidahmu bahkan nggak kuat kena kopi. Iya kan? ;)

“Kalo gitu minumnya jangan sambil liat aku, yah?” jawabku, masih memasang tampang serius.

Kamu menatapku penuh tanda tanya, aku melengos dengan santainya dan menyedot lebih banyak Lemon Tea-ku.

“Tau kenapa?” tanyaku, bahkan sebelum kamu sempat memberikan respon.

Kamu menggeleng. Menatapku penasaran. Aku tersenyum kecil.

“Ntar teh nya jadi tawar kalo sambil liat aku….” Aku berkata pelan, menyedot lagi Lemon Tea dinginku. Merasakan sensasi dingin menjalari kerongkonganku. “Kan katanya manisnya aku ngalahin teh” Aku menutup penjelasan dengan tawa lebar.

Kamu ikut tertawa dan menoyor pelan kepalaku.

Kita tertawa bersama.

“Iya… Iya… Kamu lebih manis daripada teh. Aku rela nggak minum teh lagi, asalkan bisa terus sama kamu…” jawabmu, mengelus sayang rambutku.

Kalimat singkatmu itu. Jleb banget dihatiku aku. Tetiba saja sudut mataku sudah terasa panas. Ah kamu…. Kenapa harus membahas itu, sih?

“Tapi kamu kan cinta banget sama teh?” tanyaku, entah kenapa, aku ingin memperjelas pemahamanku.  Sekedar melegakan hati, nggak salah kan?

Kamu tersenyum. Ah senyum itu. Bahkan aku merasakan tehku pun mendadak ikut menjadi tawar.

“Karena manisnya teh  ini ada di kamu. Sekalipun aku cinta banget sama teh, tapi kan aku nggak butuh sesuatu yang tawar, lebih baik kamu yang manis. Hehehe…”

Setitik kehangatan menelusup kedadaku.

“Kenapa kamu nggak meninggalkan dia dan memintaku? Bukankah hubungan kalian sudah tawar? Sementara kita bisa memulai sesuatu yang manis, berdua saja…” tanyaku pelan, sangat pelan. Nyaris tak terdengar.

Aku kaget mendengar ucapanku sendiri. Oh My… Kita kan sudah janji untuk nggak pernah bahas ini, yah?  Aku mengutuki diriku sendiri. Mengutuk mulut bawel yang nggak pernah bisa ditahan ini. Aku merasakan genggamanmu erat dijemariku. Hangat. pasti lebih hangat dari Green Tea dalam gelasmu.

Kamu tersenyum. Menatap mataku dalam-dalam. Aku ingin membuang pandang, nggak pernah sanggup menatap mata beningmu lama-lama. Mata yang selalu membuat aku jatuh cinta dan berkali-kali membatalkan niat menyeret langkah menjauh darimu. Mata yang selalu memaksaku bertahan dengan kesadaran penuh, tanpa todongan senjata tajam, atau bahkan pengaruh alkohol.

Ah kamu… Kalau teh itu ada padaku, kenapa kamu masih membiarkan dia yang mengisi hatimu?

Lepaskan lah… Aku janji bisa memberikan hubungan yang manis bagimu.

Kalau kamu saja bisa meninggalkan teh yang sangat kamu cintai itu untuk aku. Kenapa kamu begitu berat meninggalkan dia dan beralih memintaku??

Ada banyak jawaban dari berbagai pertanyaan yang aku butuhkan darimu.

Sekarang… aku masih bisa berdamai dan membohongi hati. Kalau nanti aku sudah tidak sanggup, bagaimana??

Please. Bisakah meninggalkan dia dan memintaku sekarang??