Tags

, , , , ,

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Aku memandang tubuh yang terbaring di hadapanku. Kemarahan dan kesedihan yang kurasakan telah melebur menjadi satu. Bahkan tak sedikitpun air mata yang menetes dari mataku.

Kucoba semua cara untuk memastikan kebenarannya. Kepegang pergelangan tangannya, kutempelkan telingaku di dadanya,  kudekatkan jariku di dekat hidungnya. Kucoba mengguncangkan tubuh itu berkali-kali. berharap apa yang aku pikirkan saat ini adalah salah. Berharap ada keajaiban yang hadir pada dirinya saat ini juga. Namun usahaku sia-sia. Tubuh itu masih diam tak bergerak. Tak ada hembusan nafas atau bunyi detak jantung.

Lalu tiba-tiba semua kenangan bersamanya melintas di otakku. Seperti film hitam putih tanpa suara yang diputar perlahan-lahan. Bagaimana kami berkenalan di pesta itu pertama kali, malam-malam yang kami habiskan bersama secara sembunyi-bunyi, hingga perang yang terjadi antara keluarga kami ketika mengetahui hubungan kami.

“KENAPA?? KENAPA? KENAPA JULIET” teriakku pada tubuh itu. “Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama selamanya apapun yang terjadi?” Namun tubuh itu tetap diam.

Aku memandangi botol kecil di depanku. Botol kecil yang berisi cairan yang mungkin bisa menyelesaikan masalahku saat ini juga. Botol kecil yang membuat tubuh di hadapanku seperti ini.

“Baiklah, jika kita tidak bisa bersama di alam ini, mungkin kita bisa bersama di alam yang lain”.

Lalu kutenggak botol kecil yang berisi cairan itu. Terasa sangat pahit dan pekat di tenggorokanku. Seperti ada tali yang mencekik leher. Pandanganku mulai kabur. Lalu semuanya gelap. Gelap tanpa sisa.

***

Wanita itu terbatuk-batuk dan mulai sadarkan diri setelah sebutir pil mengalir di kerongkongannya. Pria yang memasukkan pil itu tersenyum lalu memeluk dan mencium bibirnya. Wanita itu pun tersenyum.

“Akhirnya kita bisa bersama tanpa ada gangguan dan tak ada lagi kebimbangan memilih di dalam hatimu” ucap pria itu.

“Ya, akhirnya kita bisa bersama tanpa aku perlu menyakiti hati pria yang sangat mencintaiku.” ucap wanita itu kepada pria di hadapannya denga penuh rasa cinta.

“Maafkan aku, Romeo.” Ucap wanita itu.

Lalu kedua orang itu pergi meninggalkan sesosok tubuh pria yang mati konyol karena cinta.