• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Monthly Archives: April 2012

Jangan Pilih Sembarangan (Tentukan Sendiri Ending-nya)

23 Monday Apr 2012

Posted by myaharyono in Fiction & Imagination

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerpen, hidup, Mia Haryono, pilihan

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Shalin. Perempuan berusia 18 tahun yang sesaat lagi segera merayakan kebebasan dari seragam putih abu-abu. Dia sedang kebingungan menentukan 3 jurusan yang jika diproratakan, memiliki tingkat kesukaan dengan presentasi yang sama besar yaitu 33.33%. Jurusan tersebut adalah Sastra Inggris, Kedokteran, dan Administrasi Fiskal. Bahasa, IPA, dan IPS. Ketiga jurusan dengan  jenis intelegensia yang sangat berbeda.

Tapi alasan Shalin menyukai ketiga jurusan itu sih sebenarnya simple. Pertama, dia ngga mau pisah kampus sama pacarnya, Rocki, yang tiada dua gantengnya bagi Shalin. Rocki sangat menyukai bahasa Inggris dan ingin serius mendalami bahasa Pangeran William itu. Rasa takut kehilangan cowok yang disayanginya itu membuat Shalin semangat juga belajar bahasa Inggris, demi bisa jebol ujian masuk salah perguruan tinggi yang sama dengan yang diminati Rocki.

Layaknya banyak anak kecil yang jika ditanya ‘Kalau sudah gede mau jadi apa?”, Shalin pun dengan mantab menjawab “Dokter dong.” Cita-cita mulianya ini sudah tercium oleh orang tuanya sejak Shalin bocah yang senang mengkoleksi handyplast, salah satu band-aid yang kini dikenal dengan sebutan hansaplast. Sebenarnya mudah saja bagi Shalin mewujudkan mimpinya. Dia memiliki nilai pelajaran IPA yang sangat baik, terutama Biologi. Tetapi keyakinan kuliah di Kedokteran tergoyahkan oleh keinginan mendalami sastra Ingris demi kekasih dan satu hal lainnya.

Shalin juga mengagumi sang Ibu yang sukses sebagai konsultan pajak. Kalau dia serius menekuni perpajakan, Ibunya sudah memberikan garansi untuk bekerja di kantor Ibunya setelah lulus nanti. Sungguh ketiganya pilihan yang sulit bukan?

Life is a choice. Pilihan saat ini menetukan masa depan nanti. Kira-kira jurusan apa yang akan dipilih Shalin? Masa depan seperti apa yang akan dijalani Shalin berdasarkan ketiga jurusan tersebut? Ending cerita hidup Shalin berada di pilihan anda. Pilihlah salah satunya.

Shalin memilih jurusan Sastra Inggris.

Betapa bahagia hidupnya selalu berdekatan dengan kekasihnya, Rocki. Memiliki pacar ganteng memang harus ekstra hati-hati menjaganya. Terlebih banyak senior perempuan yang terang-terangan menggodanya. Lama-lama, Shalin stes sendiri. Dia ngga bisa terus-terusan mengintil Rocki. Karena ternyata Rocki pun juga mulai gerah. Pertengkaran demi pertengkaran tak terhindarkan. Empat tahun di kampus sastra mereka lalui dengan hubungan on-off. Menjelang kelulusan, mereka sepakat untuk pisah baik-baik. Shalin sendiri bekerja menjadi penerjemah di salah satu penerbit besar di Jakarta. Sementara Rocki meneruskan studi S2nya dengan beasiswa ke Inggris yang berhasil ia dapatkan. Setelah dua tahun bekerja di penerbit itu, ia bertemu dengan seorang penulis novel komedi muda, Reza, yang tidak tampan tapi sangat yakin kalau dirinya tampan. Pria yang menyenangkan. Mereka menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya sebelum akhirnya menikah.

Shalin memilih jurusan Kedokteran.

Tahun-tahun pertama berjuang di fakultas kedokteran sangat berat. Tugas, praktikum, dan masih banyak lagi kegiatan di kampus sangat menyita waktu Shalin. Apa daya hubungannya dengan Rocki kandas juga di tengah jalan. Boro-boro memikirkan pacaran, diri sendiri saja ngga keurus. Tapi satu hal, Shalin sangat menikmati hidupnya. Inilah passion-nya. Dia tidak merasakan stres dan tetap bahagia walau jomblo sampai lulus KOAS. Menjalani praktek pertama sebagai dokter muda di Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu. Bayangkan, gadis metropolitan ini harus melewati hidup di kota kecil selama dua tahun lamanya. Ketika akhirnya kembali ke Jakarta dan bertugas di salah suatu rumah sakit swasta terkemuka, Shalin terlibat cinta lokasi dengan salah seorang dokter yang berusia 6 tahun di atasnya, Redi namanya. Kesibukan membuatnya lupa mencari jodoh. Mungkin bukan sibuk, dia hanya menunggu kedatangan Shalin dalam hidupnya. Wanita yang kelak memberikan keturunan untuknya.

Shalin memilih jurusan Administrasi Fiskal.

Ternyata pajak susah! Setengah mati Shalin harus menghapalkan berbagai ketentuan perpajakan. Untung saja ia memiliki tentor setia, yaitu Ibunya. Contoh-contoh kasus tugas kuliahnya dapat diselesaikan dengan bantuan Ibunya. Hubungannya dengan Rocki juga lancar, apalagi kampus mereka berdekatan. Berhasil menyelesaikan studinya, Shalin pun langsung bekerja di kantor Ibunya. Menjadi wanita kantoran di usia muda sungguh menyenangkan bagi Shalin. Namun hubungannya dengan Rocki harus kandas setelah Rocki melanjutkan studinya ke Inggris. Dia mendapatkan beasiswa karena prestasi di kampusnya yang membanggakan. Mereka berpisah demi kebaikan masing-masing. Rocki tidak ingin Shalin menunggunya. Long Distance Relationship adalah hubungan yang mereka ingin hindari. Kenyataannya, meski berpisah mereka tetap rajin berkomunikasi. Shalin yang menjalin kedekatan dengan beberapa pria malah menjadikan Rocki seagai tempat curhat. Dua tahun di Inggris tidak membuat Rocki lupa kampung halamannya. Ia pulang ke Indonesia untuk masa depannya yang ingin ia habiskan di negara kelahirannya itu. Bersama wanita yang selalu dicintainya, Shalin.

Jodoh anda ditentukan sejak memilih jurusan kuliah – @pervertauditor

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Manusia Zaman Batu

23 Monday Apr 2012

Posted by gelaph in Fiction & Imagination

≈ 3 Comments

Tags

@gelaph, cerita pendek, fiksi imajinasi, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Hari ini saatnya gue belajar mata pelajaran Sejarah Manusia Abad 21. Dan tadi gue bangun kesiangan, jadi agak telat sign in di virtual college modul. Dosen dan semua mahasiswa sudah lengkap ketika gue bergabung di kelas ini.

Ding!

Sebuah broadcast message muncul di dinding kamar yang gue jadiin layar komputer. Melihat ID dan wajah pengirimnya aja udah bikin gue mules.

Bapak Dosen Killer yang Suka Ngiler:
Grahita. Kemana saja kamu? Terlambat lagi, terlambat lagi.

Zzzzz si bapak ini yah. Kenapa harus di broadcast message sih? Kenapa nggak personal message aja? Bikin malu aja deh. Gengsi kan sama Raka, gebetan gue yang gantengnya bikin garuk-garuk meja.

Hmmm… tapi masih untung sih dia nggak melakukan broadcast video call. Bisa keliatan muka malu gue diomelin sama dia di depan para mahasiswa lain. Ehem, di depan Raka maksudnya.

Kuliah Sejarah hari ini membahas peralatan elektronik yang digunakan oleh manusia abad 21. Gue hanya bisa prihatin melihat peralatan yang mereka gunakan. Masak mereka harus membawa laptop, handphone, dan MP3 untuk fungsi yang berbeda? Sementara sekarang, hanya butuh satu alat kompak yang disebut handtool. Berukuran seperti handphone manusia abad 21, namun bisa dipakai sebagai laptop juga. Tinggal pilih menu laptop, maka akan bisa menyulap permukaan datar vertikal sebagai layar, dan permukaan datar horizontal sebagai keyboard. Dan lagi, walaupun alat ini sedang berfungsi sebagai laptop, bukan berarti ia nggak bisa dipakai sebagai telepon dan MP3.

Parahnya lagi, baterai peralatan elektronik manusia abad 21 hanya tahan satu hari! Demi semua dewa dewi, satu hari! Bahkan tak jarang, baterainya hanya tahan setengah hari. Mereka harus bolak-balik mengisi ulang baterai ke stop kontak listrik terdekat. Kasihan banget. Gue yang harus ngisi ulang baterai setahun sekali aja udah misuh-misuh kalau saatnya tiba.

Yang lebih kasihan adalah, jaringan internet hanya bisa diakses di tempat-tempat tertentu atau dengan menggunakan alat khusus. Namanya wi-fi dan modem. Sementara sekarang udah ada global internet. Setiap titik di muka bumi mendapatkan akses internet, tanpa terkecuali.

Hhhhh… Wajar sih. Toh itu peradaban tiga abad yang lalu. What do I expect?

Gue menarik napas lega ketika mata kuliah ini berakhir. Sekarang saatnya bertemu dengan teman-teman. Secara kita udah janjian untuk ngopi-ngopi lucu di café langganan. Tepatnya di lantai 151 salah satu gedung pencakar langit di Thamrin.

Dengan malas, gue merayap ke arah garasi tempat Bibo disimpan. Ia mobil kesayangan gue. Warnanya kuning cerah, favorit gue banget.

Gue memasukkan tujuan Thamrin dari Grogol. Dan berdasarkan petunjuk GPS si Bibo, jalan terdekat yang bisa gue dapatkan hanyalah dengan cara terbang melewati Roxy dan mulai turun di Harmoni, karena jalan darat dari Harmoni ke Thamrin terpantau ramai lancar. Untung aja rute kali ini nggak perlu lewat Kali Grogol. Terakhir Si Bibo disuruh berenang di kali dekil itu, ia ngambek abis-abisan. Gue terpaksa membelikan oli paling mahal untuk cemilan sorenya.

Auto-driver Si Bibo gue set on. Waktu perkiraan sampai di tempat tujuan adalah 22 menit 8 detik. Saatnya meluruskan kaki sambil melanjutkan membaca novel yang gue beli semalam. Gue mengeluarkan handtool, mengarahkan lampu sorot ke arah dashboard, lalu mengatur luas permukaan novel agar bisa nyaman dibaca.

Ketika mendarat di Harmoni, gue melihat ada sebuah kios bertuliskan “Jual Es Potong”. Penampilan kiosnya sangat klasik, persis seperti arsitektur tahun 2000-an awal yang sering gue liat di mata kuliah Sejarah.

Gue memutuskan untuk membeli sepotong. Harganya 2 Point. Murah. Sama seperti harga sepiring nasi instant.

Tas gue aduk-aduk, namun gak menemukan Pay Card di sana. Pay Card ini semacam kartu pembayaran yang berlaku di dunia internasional. Hanya ada satu mata uang di dunia, Point. Dan satu kartu pembayaran, Pay Card, untuk semua jenis transaksi di seluruh dunia, tanpa terkecuali.

Mbak penjaga kios es potong hanya melihat prihatin ke arah gue yang membatalkan pembelian karena nggak menemukan Pay Card di dalam tas. Setelah gue deteksi dari handtool melalui nomor kartunya, ia ternyata tersimpan manis di tas yang lain.

Huh sebal.

Kalau gue tinggal di abad 21 sih, gue bisa mengorek tas dan mungkin menemukan uang logam di sana. Jadi kan gue nggak perlu repot pulang hanya sekadar untuk mengambil Pay Card.

Dan kalau dilihat dari penampilannya, gue yakin si Mbak penjaga kios ini suka berdandan. Ia pasti bersedia membarter lima es potong dengan lipbalm strawberry milik gue.

Gue jadi bertanya-tanya, apakah gue lebih cocok hidup di zaman batu? Di mana manusia bertransaksi dengan tukar-menukar barang dan jasa?

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Racun

23 Monday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 3 Comments

Tags

@dendiriandi, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, romeo and juliet

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Aku memandang tubuh yang terbaring di hadapanku. Kemarahan dan kesedihan yang kurasakan telah melebur menjadi satu. Bahkan tak sedikitpun air mata yang menetes dari mataku.

Kucoba semua cara untuk memastikan kebenarannya. Kepegang pergelangan tangannya, kutempelkan telingaku di dadanya,  kudekatkan jariku di dekat hidungnya. Kucoba mengguncangkan tubuh itu berkali-kali. berharap apa yang aku pikirkan saat ini adalah salah. Berharap ada keajaiban yang hadir pada dirinya saat ini juga. Namun usahaku sia-sia. Tubuh itu masih diam tak bergerak. Tak ada hembusan nafas atau bunyi detak jantung.

Lalu tiba-tiba semua kenangan bersamanya melintas di otakku. Seperti film hitam putih tanpa suara yang diputar perlahan-lahan. Bagaimana kami berkenalan di pesta itu pertama kali, malam-malam yang kami habiskan bersama secara sembunyi-bunyi, hingga perang yang terjadi antara keluarga kami ketika mengetahui hubungan kami.

“KENAPA?? KENAPA? KENAPA JULIET” teriakku pada tubuh itu. “Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama selamanya apapun yang terjadi?” Namun tubuh itu tetap diam.

Aku memandangi botol kecil di depanku. Botol kecil yang berisi cairan yang mungkin bisa menyelesaikan masalahku saat ini juga. Botol kecil yang membuat tubuh di hadapanku seperti ini.

“Baiklah, jika kita tidak bisa bersama di alam ini, mungkin kita bisa bersama di alam yang lain”.

Lalu kutenggak botol kecil yang berisi cairan itu. Terasa sangat pahit dan pekat di tenggorokanku. Seperti ada tali yang mencekik leher. Pandanganku mulai kabur. Lalu semuanya gelap. Gelap tanpa sisa.

***

Wanita itu terbatuk-batuk dan mulai sadarkan diri setelah sebutir pil mengalir di kerongkongannya. Pria yang memasukkan pil itu tersenyum lalu memeluk dan mencium bibirnya. Wanita itu pun tersenyum.

“Akhirnya kita bisa bersama tanpa ada gangguan dan tak ada lagi kebimbangan memilih di dalam hatimu” ucap pria itu.

“Ya, akhirnya kita bisa bersama tanpa aku perlu menyakiti hati pria yang sangat mencintaiku.” ucap wanita itu kepada pria di hadapannya denga penuh rasa cinta.

“Maafkan aku, Romeo.” Ucap wanita itu.

Lalu kedua orang itu pergi meninggalkan sesosok tubuh pria yang mati konyol karena cinta.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

How I Met Your Mother

22 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dendiriandi, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, fiksi, how I met your mother

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Keringat bercucuran dari seluruh tubuhku. Udara siang hari yang cukup panas membuatku malas melangkahkan kaki ke arah antrian pemeriksaan paspor itu. Sebenarnya aku lebih menyukai perjalanan malam hari. Selain udara malam yang sejuk, di malam hari aku bisa tertidur tanpa harus berkali-kali melirik jam tangan, menghitung sudah berapa lama perjalanan dan berapa lama lagi akan sampai. Tapi apa boleh buat, perjalanan antar negara ini tidak ada jadwal malam hari. Semuanya perjalanan dilakukan pada siang hari.

Selesai urusan keimigrasian, bus yang kutumpangi kenbali berjalan lagi. Setelah tiga hari berada di Vietnam, akhirnya aku menyebrang perbatasan juga. Menuju Kamboja.

Sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat di Vietnam. Kota Ho Chi Minh terbilang cukup sepi. Seluruh museum dan tempat wisata sudah habis kukunjungi. Sebenarnya masih ada kota yang belum kukunjungi, yaitu Hanoi. Namun sayang, kota itu terlalu jauh, berada di ujung utara Vietnam. Jika ditempuh dengan perjalanan darat, butuh waktu 4 hari pulang pergi. Jatah cutiku bisa habis tak terasa. Jika ditempuh dengan pesawat, cukup menguras kantong dan membuatku bangkrut.

***

Sudah lebih dari setahun sejak perjalanan solo backpacking terakhirku menyebrangi semenanjung Malaka, dari ujung Singapura hingga kota Bangkok di Thailand. Seperti perjalananku sebelumnya, tujuan traveling kali ini pun sama. Kakiku melangkah karena hati yang patah. Aku mencoba mengambil jarak, untuk melonggarkan hati yang sesak. Tapi kali ini bukan karena seseorang, tapi sepuluh orang.

Iya. Sepuluh. Orang. Wanita.

Sudah lebih dari satu setengah tahun semenjak terakhir kali aku mempunyai kekasih. Dan semenjak saat itu, sudah sepuluh orang wanita juga yang pernah dekat denganku. Tapi sepertinya Semesta selalu menjawab kalimat doa jodohku yang kedua: “Jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah”.  Iya, semuanya tidak ada yang berjalan sampai jauh. Semuanya pergi menjauh. Friendzone, Hubungan Tanpa Status, Teman Tapi Mesra, Friends in Benefit dan entah bermacam-macam istilah apa lagi yang teman-temanku pernah sematkan untuk setiap hubungan yang aku jalin. Tapi intinya sama, semuanya hanya mentok sebagai gebetan saja.

Bukan kekasih. Bukan pacar.

***

Hari sudah semakin sore saat aku berjalan menyusuri jalanan kota Phnom Penh, ibukota dari Kamboja. Tujuanku mencari penginapan dahulu untuk sekedar beristirahat. Namun sepertinya keberuntungan belum berpihak kepadaku. Hampir seluruh penginapan penuh terisi. Jikapun ada yang kosong, keadaannya agak kurang layak. Ini konsekuensi karena aku tidak mem-booking terlebih dahulu padahal saat ini adalah long weekend.

“Masih ada kamar kosong?” tanyaku kepada salah satu resepsionis dormitory room – sejenis hotel budget, untuk yang kesekian kalinya.

“Tadinya ada. Tapi baru saja satu kamar terakhir diambil oleh seseorang,” Jawab resepsionis itu. “Kamar itu sebenarnya berisi double-bed. Jika tamu tadi mengijinkan, mungkin kamu bisa sharing kamar dengannya.”

Sharing kamar dengan orang asing. Sepertinya itu ide buruk. Tapi jika tidak, bisa-bisa aku tidur di jalanan untuk malam ini.

“Oh, itu dia tamu yang baru saja mengambil kamar terakhir” si resepsionis menunjuk seorang cewek yang baru saja turun dari tangga lantai atas menuju ke arah kami.

Aku memicingkan mata. Sepertinya aku kenal dengan cewek itu. Demi sejuta kepiting rebus di lautan, kenapa harus cewek itu yang ku temui di Kamboja sini. Si cewek tomboy jutek, sombong, senga, dan belagu yang selalu buatku kesal waktu di Gunung Rinjani kemarin.

***

Tiga bulan lalu aku mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Ikut rombongan “tukang jalan” yang tak sengaja aku dapat dari internet. Fisikku yang tidak lagi muda seperti jaman kuliah dan juga jarang berolah raga, membuatku berkali-kali meminta untuk beristirahat barang sejenak. Rasanya kaki tidak sanggup untuk menanjak sampai ke puncak. Udara gunung yang tipis tambah membuat nafasku tak karuan.

Lalu tiba-tiba lewatlah dia. Seorang cewek tomboy, dengan rambut pendek berpotongan ala Demi Moore yang nge-trend di film Ghost jaman dahulu. Tak ada tampang kelelahan sedikitpun di wajahnya.

“Jadi cowok kok lemah banget. Malu sama cewek!” katanya pas melewatiku.

Berikutnya, selama tiga hari dua malam berada di Rinjani, entah sudah berapa kali omongannya selalu merendahkan dan meremehkanku. Ada saja kata-katanya yang bikin kami ribut dan beradu mulut. Seumur hidup aku tidak pernah ribut dengan cewek. Baru kali ini ada cewek yang selalu bikin naik darah.

***

Aku menatap cewek itu. Rambutnya sudah agak panjang sedikit dibadingkan dengan waktu di Rinjani dulu. Terpotong rapi tepat di atas bahunya, tidak lagi pendek seperti Demi Moore. Tapi gaya pakaiannya tidak ada yang berubah, kaos oblong dan celana kargo selutut. Jauh-jauh aku ke sini karena ingin menenangkan diri atas hatiku yang kalut. Sepertinya akan bertambah kalut karena bertemu lagi dengan cewek tomboy belagu ini.

“Eh, elo. Lagi ngapain lo di sini?” tanyanya dengan wajah lurus dan jutek.

“Justru gue yang baru aja mau nanya begitu ke elo. Kok bisa ada di sini?” Tanyaku tak kalah jutek.

Ternyata dia sama gilanya denganku. Si cewek itu juga sedang backpacking sendirian di IndoChina ini. Entah konspirasi semesta apa yang sedang terjadi, ternyata dari semenjak berangkat, tiba di Vietnam hingga sampai di Kamboja ini, kami selalu bareng-bareng. Tapi baru dipertemukan di hotel budget ini.

Lalu si resepsionis menjelaskan bahwa aku butuh kamar dan siapa tahu dia mau sharing kamar denganku.

“Karena kebetulan gue udah kenal sama lo dan emang tempat tidur ada dua, dengan terpaksa gue mau sharing kamar sama lo. Tapi kalo lo macem2, gue gibas muka lo gak pake ampun lagi,” ucap si cewek itu setelah akhirnya menyetujui kami akan bersharing kamar.

“Oh iya, awas kalo lo sampe cinlok sama  gue!”

Cinlok? Kalaupun tersisa satu wanita di dunia dan itu adalah dia, aku gak mungkin sampai jatuh cinta sama dia. Dari dulu tipe wanita yang bisa buatku jatuh cinta itu feminim, cantik dan berambut panjang. Bukan cewek tomboy dan belagu kayak dia.

“Terus satu lagi. tidur gue ngorok dan gue sering kentut. Jadi maklumin aja ya!” katanya lagi.

Dasar cewek tomboy, umpatku dalam hati.

Karena sama-sama traveling sendirian, akhirnya mau gak mau aku menjelajah Kamboja bersama cewek tomboy itu. Dari Phnom Penh dilanjutkan ke Siam Reap. Selama 3 hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Seperti halnya juga di Rinjani, selama tiga hari itupun tidak ada hentinya kami beradu mulut. Dari mulai meributkan akan kemana, naik apa, mau makan apa sekarang sampai hal-hal gak penting seperti mengomentari kacamataku yang KW. Tiga hari yang seperti berada di neraka.

Setelah menjelajahi Kamboja, kami kembali ke Vietnam, karena pesawat menuju Indonesia hanya ada di kota Ho Chi Minh. Dari sana, kami kembali ke Indonesia. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta kami berpisah.

***

“Lalu, apakah papah akhirnya bertemu lagi dengan wanita tomboy itu?” seorang anak laki-laki berumur 15 tahun bertanya kepadaku.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak aku traveling ke Indochina. Malam itu gerimis turun perlahan di luar sana. Meskipun hujan, suasana ruang tivi saat itu sangatlah hangat. Sehangat segelas kopi hitam dan segelas susu coklat yang tergeletak di atas meja. Di sebelahku tampak seorang anak laki-laki yang sedang duduk di sofa, bersemangat mendengarkan cerita pengalamanku waktu muda dulu. Di depan tivi, seorang gadis kecil berumur 7 tahun sedang asik menonton film kartun. Mulutnya celemotan dipenuhi sisa-sisa es krim yang baru saja habis dimakannya. Aku cuma bisa tersenyum melihat semuanya.

“Kalau mau tahu kelanjutannya, biar mamah-mu yang bercerita sehabis kita makan malam ya! Sekarang kita makan dulu. Itu mamah-mu sudah menyiapkan makanan. Ayo, ajak adikmu sekalian!” Kataku kemudian sambil menatap ke seorang wanita cantik berambut panjang yang sedang membereskan piring di depan meja makan. Wanita yang sama dengan wanita tomboy belagu yang pernah traveling bersamaku dulu.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Tea in You

21 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dheaadyta, Adyta Dhea Purbaya, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, fiksi, fiksi client, penulis tamu

Prepared by Client:
Adyta Dhea Purbaya (@dheaadyta)

Siang ini, sama seperti siang-siang kemarin. Kantin kampus. Ramai. Dan kita duduk berdua disalah satu kantin.

Kamu dengan segelas Green Tea yang mengepul, dan aku dengan segelas Lemon Tea dingin.

“Eh, kalo makan nasi, minumnya jangan teh” Kamu menarik gelas tehku menjauh dari jangkauanku.

“Ahhh balikiiin… Aku mau tehkuu..” Aku berusaha menggapai gelas teh itu.

Kamu tertawa-tawa dan mengangkat gelas teh itu makin tinggi.

“Teh itu menyerap karbohidrat yang dibawa nasi. Gimana anemia nya nggak tambah parah, coba? Lagian… pantes aja nggak gendut-gendut!”

Kamu mulai dengan segala ceramah tentang anemia dan tubuh kurang idealku.

“Ahhh… aku mah nggak butuh gendut. Aku cuma butuh kamu.” Aku menjawab sambil berusaha meraih gelas tehku.

Kamu tertawa.

“Gombalnya udah makin lancar yah, sekarang?” Katamu sambil mengacak rambutku.

Aku cemberut. Menjauhkan piring nasi dihadapanku. Aku nggak mau makan kalo gelas tehku nggak dikembalikan.

“Lah itu kenapa nasinya dijauhin?” tanyamu pelan.

Aku nggak menjawab. Masih memasang tampang manyun.

“Sini aku suapin, yaaah….” dia menyendok nasi dan mengarahkannya ke mulutku.

Aku membuang muka. Masih merajuk.

“Eh nggak boleh ngambek, tuh mukanya ditekuk kan jadi jelek gituuuu….” Kamu mengacak rambutku, lagi.

Aku masih membuang muka.

“Jangan marah dong. Kamu tuh manis banget kalo lagi nggak marah. Ini kalah deh manisnya teh ini” katamu mengacungkan gelas Lemon Tea dinginku.

Mau nggak mau aku tersenyum juga dan memukul pelan lenganmu. Ah.. Kamu memang selalu tau caranya mengembalikan semua mood baik aku.

“Aku mau tehkuuu…” aku merengek.

Kamu menyerahkan gelas Lemon Tea dingin itu kehadapanku. “Kamu ini kalo dibilangin mesti deh ngeyel…” katamu sambil menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangatmu.

Aku menyedot banyak-banyak Lemon Tea-ku. Ahh dinginnya langsung mengaliri kerongkonganku.

“Green tea-nya manis nggak?” tanyaku memasang tampang serius.

Kamu mengecap sekali lagi sesendok Green Tea hangatmu, lalu mengangguk. “Lumayan. Pas lah pokoknya sama lidahku. Kenapa emang?” tanyamu, masih menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangat itu kedalam mulutmu.

Aku selalu suka caramu menghabiskan segelas tehmu. Pelan. Disesap sesendok demi sesendok. Nampak menikmati sekali. Aku tau kamu cinta banget sama teh. Lidahmu bahkan nggak kuat kena kopi. Iya kan? ;)

“Kalo gitu minumnya jangan sambil liat aku, yah?” jawabku, masih memasang tampang serius.

Kamu menatapku penuh tanda tanya, aku melengos dengan santainya dan menyedot lebih banyak Lemon Tea-ku.

“Tau kenapa?” tanyaku, bahkan sebelum kamu sempat memberikan respon.

Kamu menggeleng. Menatapku penasaran. Aku tersenyum kecil.

“Ntar teh nya jadi tawar kalo sambil liat aku….” Aku berkata pelan, menyedot lagi Lemon Tea dinginku. Merasakan sensasi dingin menjalari kerongkonganku. “Kan katanya manisnya aku ngalahin teh” Aku menutup penjelasan dengan tawa lebar.

Kamu ikut tertawa dan menoyor pelan kepalaku.

Kita tertawa bersama.

“Iya… Iya… Kamu lebih manis daripada teh. Aku rela nggak minum teh lagi, asalkan bisa terus sama kamu…” jawabmu, mengelus sayang rambutku.

Kalimat singkatmu itu. Jleb banget dihatiku aku. Tetiba saja sudut mataku sudah terasa panas. Ah kamu…. Kenapa harus membahas itu, sih?

“Tapi kamu kan cinta banget sama teh?” tanyaku, entah kenapa, aku ingin memperjelas pemahamanku.  Sekedar melegakan hati, nggak salah kan?

Kamu tersenyum. Ah senyum itu. Bahkan aku merasakan tehku pun mendadak ikut menjadi tawar.

“Karena manisnya teh  ini ada di kamu. Sekalipun aku cinta banget sama teh, tapi kan aku nggak butuh sesuatu yang tawar, lebih baik kamu yang manis. Hehehe…”

Setitik kehangatan menelusup kedadaku.

“Kenapa kamu nggak meninggalkan dia dan memintaku? Bukankah hubungan kalian sudah tawar? Sementara kita bisa memulai sesuatu yang manis, berdua saja…” tanyaku pelan, sangat pelan. Nyaris tak terdengar.

Aku kaget mendengar ucapanku sendiri. Oh My… Kita kan sudah janji untuk nggak pernah bahas ini, yah?  Aku mengutuki diriku sendiri. Mengutuk mulut bawel yang nggak pernah bisa ditahan ini. Aku merasakan genggamanmu erat dijemariku. Hangat. pasti lebih hangat dari Green Tea dalam gelasmu.

Kamu tersenyum. Menatap mataku dalam-dalam. Aku ingin membuang pandang, nggak pernah sanggup menatap mata beningmu lama-lama. Mata yang selalu membuat aku jatuh cinta dan berkali-kali membatalkan niat menyeret langkah menjauh darimu. Mata yang selalu memaksaku bertahan dengan kesadaran penuh, tanpa todongan senjata tajam, atau bahkan pengaruh alkohol.

Ah kamu… Kalau teh itu ada padaku, kenapa kamu masih membiarkan dia yang mengisi hatimu?

Lepaskan lah… Aku janji bisa memberikan hubungan yang manis bagimu.

Kalau kamu saja bisa meninggalkan teh yang sangat kamu cintai itu untuk aku. Kenapa kamu begitu berat meninggalkan dia dan beralih memintaku??

Ada banyak jawaban dari berbagai pertanyaan yang aku butuhkan darimu.

Sekarang… aku masih bisa berdamai dan membohongi hati. Kalau nanti aku sudah tidak sanggup, bagaimana??

Please. Bisakah meninggalkan dia dan memintaku sekarang??

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d