God Knows

Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Julianti Chiasidy (@sanny_nielo)

Sore itu, senja turun perlahan membungkus bumi. Dari jendela tempat aku duduk, aku menikmati semburat oranye yang menyilaukan dan nyanyian dengkuran halus di sisi kananku. Aku menoleh perlahan, di sanalah kudapati sosoknya sedang tertidur. Dengkuran halusnya, bukti betapa lelah harinya. Dan aku hanya bisa menarik nafas panjang. Kembali aku menikmati semburat oranye yang merambat masuk lewat celah-celah jendela, berpadu dengan dengkurannya.

Aku mengingat percakapan kami.

“Jangan terlalu menyiksa diri, kamu nggak perlu ambil semua tanggung jawab itu..”

Dia tersenyum. “Ini satu-satunya cara, supaya aku bisa mengalihkan pikiranku..”

“Mengalihkan dari apa? Dari Giana?”

“Dari Giana dan dari Papa, San..”

“Ada cara lain, El, nggak harus kaya gini..”

Dia, si Ello tersenyum. “Ini yang terbaik. Oke, nanti sore ya, di ruang rapat..” Ello berlalu dengan map tebalnya.

Aku menarik nafas panjang lagi, dan menatap wajah Ello yang masih tidur. Lelaki gigih, dengan berjuta mimpi dan keyakinan. Pribadinya yang supel, membuat dia memiliki banyak teman. Dan sisi charming-nya membuat banyak gadis jatuh cinta. Dari sekian gadis yang menyukainya, hatinya tertambat pada Giani Lupita. Gadis yang justru tidak menyukainya.  Sesuai dengan kegigihannya, Ello mengejar Giani hingga keujung dunia. Ya, Ello berangkat ke Perth dua bulan lalu, hanya untuk mengejar Giani. Sayangnya, Ello kembali sia-sia, dengan wajah suntuk dan penampilan lusuh. Hatinya telah tertolak.

Aku sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa Giani menolak laki-laki yang sampai menyusul dia ke Perth, hanya untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dan perasaannya. Sampai hari ini, Ello sama sekali nggak mau cerita. Perihal dia tidak berhasil membawa Giani pulang. Tapi, aku sering mendapati Ello menatap foto Giani di Blackberry-nya, dan sesekali tersenyum nanar.

Suara Ello yang akhirnya terbangun dari tidur memecahkan lamunanku.

“San, jam berapa?”

“Setengah enam, El..”

Ello mengangkat badannya, dan merenggangkan punggungnya. “Ayo balik..”

“Kumpulin nyawa dulu..”

Ello tersenyum sambil mengucek matanya. “Pegel, San.. Capek juga ya..”

Aku mendengus. “Percuma, kamu nggak pernah dengerin kata-kataku..”

Ello menoleh ke arahku, memajukan wajahnya, sangat dekat. “Aku dengerin kok, kadang-kadang..” Kemudian dia tersenyum menggoda.

“Kamu selalu gitu, nggak takut kalo aku jatuh cinta sama kamu..”

“Kalo kamu jatuh cinta, ya nggak papa, masalahnya kan, aku mau nangkap cinta kamu yang jatuh apa nggak..”

“Eksplisit ya, bilang aja kamu nolak aku..”

“Siapa bilang..” Ello bangkit berdiri, menyilangkan tas slempangnya. “Ayo pulang..”

Aku tersenyum, ikut berdiri dan memanggul ranselku.

Ello berjalan di depanku, dan aku mengikutinya. Menyusuri lorong ruang rapat beragam Himpunan Mahasiswa yang sepi, masih dengan semburat oranye yang perlahan menghilang.

“El, percaya sama aku. Suatu hari, luka hati kamu karena Giani pasti sembuh.. dan kamu, kamu sama sekali nggak akan kaya Papa kamu.. Jangan sedih terus, El..”

Ello menoleh ke belakang, dan tersenyum. “Kamu juga bisa nemuin yang lebih baik dari aku..”

Aku tertunduk, nggak nyangka Ello bakal ngomong kaya gitu. Meski nggak ada maksud apa-apa, tapi kata-kata Ello itu cukup menyakitkan.

Ello mengulurkan tangan kanannya ke belakang, dan menggandeng tangan kiriku. “Jangan berdiri di tempat yang aku nggak bisa lihat..”

Dan selanjutnya kami memilih untuk diam.

***

NIELO. Sanny + Ello.

Aku menutup organizer bersampul beludru merah, dengan jahitan NIELO di atasnya. Desta, sahabatku, bilang, diary beludru itu adalah diary of Nielo. Ya, sebuah diary berisi cinta bertepuk sebelah tangan antara aku dan Ello.

Kami bertemu semester 4 dan aku jatuh cinta beberapa bulan berikutnya. Ello adalah sosok sahabat yang baik. Dia selalu berusaha ada, sekalipun dengan beragam kesibukan yang memang sudah dia tekuni sejak sebelum dia patah hati. He’s my guardian angel.

Seperti beragam kebetulan yang ada di bumi ini, aku juga nggak pernah tahu, bagaimana bisa aku dekat sama Ello. Sampai seperti saat ini. Layaknya sebuah persahabatan, banyak hal yang kami ceritakan. Kami saling berbagi bersama. Dan hari demi hari, kami semakin dekat. Begitupun dengan perasaanku yang semakin menguat.

Satu hal yang menarik dari kami, aku dan Ello adalah dua pribadi yang saling menjaga satu sama lain. Tapi kami sama-sama tidak dapat mengungkapkannya. Kami nyaman untuk selalu bersama, meski kami sadar, ada satu pembatas besar yang tidak akan pernah bisa kami lewati.

“Kalo aku bisa menemukan orang lain yang lebih baik daripada kamu, aku akan lakukan. Kenyataannya hingga saat ini, kamu adalah yang terbaik yang bisa aku miliki namun tidak aku miliki. Bagaimana caranya aku bisa mencari yang lain?”

“Kamu tahu sendiri, ketika kita bersama, akan ada banyak sekali luka. Kita sudah dewasa, San.. Kita nggak bisa berhenti seenaknya.”

“Apa kita memang nggak bisa melawan?”

“Apa kamu mau melawan?”

Aku terdiam, menggenggam telapak tanganku kuat-kuat. “Kita memang tidak pernah bisa melawannya.”

Ello menggenggam tanganku. “Mungkin kita memang hanya bisa sebatas ini, San. Tapi, aku benar-benar nyaman. Dan aku nggak mau kehilangan kamu. Kalau ada hal yang bisa kita lawan, pasti akan kita lawan.”

Aku mengangguk sambil menahan air mataku, ini selalu jadi topik yang menyakitkan.

“Jangan menangis karena kita tidak bisa saling memiliki, tetapi bersyukurlah, karena Tuhan mu dan Tuhan ku, masih mengijinkan kita bertemu dan berbagi rasa. Masih mengijinkan aku untuk tetap menggenggam tanganmu seperti saat ini.”

Aku mengangguk lagi. “Dengarkan aku, Ello.. Jika kita bertemu lima tahun lagi, dan segalanya belum berubah, ayo kita bersama. Aku janji, saat itu, aku akan jauh lebih kuat. Aku akan melawan segalanya  dan aku pasti bisa mendampingimu.”

Ello menatapku bingung, namun akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk dan tersenyum.

“Aku boleh memelukmu?”

Ello merentangkan kedua tangannya dan aku langsung memeluknya. Aku tumpahkan beragam duka dan luka yang selama ini ku simpan, akan ku kenang hari ini sebagai satu hari terbaik dalam hidupku.

“Apa kamu menyayangiku?”

“Iya aku menyayangimu..” Ello mengusap punggungku yang bergetar dengan tangis pilu.

***

Ello memang tidak pernah mengingkari janjinya, aku pun tidak, kita tetap berkirim kabar, sampai sebuah email membawaku kemari. Aku duduk tenang di kursi deretan depan, dengan dress tertutup dan high heels 12 cm, dan riasan sederhana, sesekali aku melempar senyum, menyembunyikan luka menganga yang sekali lagi tertoreh dalam.

Wedding Bell berdering, dan Ello menggandeng Giani memasuki pintu gereja dan melangkah dengan pasti menuju altar.

Inilah alasan akhirnya Ello mendapatkan Giana.

“Apa alasanmu menolakku, G?”

“Karena kamu selalu bersama gadis itu, gadis yang tidak aku sukai..”

“Sanny maksud kamu?”

Giani mengangguk. “Ada pilihan yang harus kamu buat, aku atau dia..”

Dear Giani, kamu tidak perlu meminta Ello membuat pilihannya. Takdir kami telah memilih dengan baik, terlebih Tuhan kami.

 –The End–

Hari Yang Ku Tunggu

Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

“Ya, Yaya kan?” sebuah suara datang dari arah kanan gue. Gue lalu menoleh untuk mencari siapa pria pemilik suara itu. Bersamaan dengan itu, seorang pria muncul dari balik rak buku di sebelah gue berdiri.

“Didit? Astaga! Apa kabar?”

Gue kemudian menyapa pria itu dengan antusias. Bagaimana tidak, kami sudah sekitar tujuh tahun putus komunikasi.

“Baik. Baik. Udah lama juga ya enggak ketemu. Sejak lulus SMA kan ya?” tanyanya, yang gue jawab dengan beberapa kali anggukan. “Bisa-bisanya malah ketemu lagi di toko buku.” lanjutnya sambil tertawa.

Gue mendadak nervous dengan pertemuan tiba-tiba ini. Dan aroma canggung menyerbak di antara kami berdua, yang dulu semasa SMA tidak pernah akur. Ya, 3 tahun sekelas dan semua tau bahwa kami saling tidak menyukai satu sama lain.

“Eh gue buru-buru, Ya. Kapan-kapan kita sambung ngobrolnya. Boleh tukeran kontak? Nomor atau PIN?”

Kami pun bertukar kontak lalu dia meninggalkan gue dengan sebuah lambaian dan senyuman yang ternyata, masih menimbulkan efek tonjokan di perut gue.

Ah Didit, sudah 10 tahun dan selama itu rasa ini mengapa belum juga lenyap?

Sudah dapat diprediksi, pertemuan tadi siang dengan Didit membuat gue kembali terlena dengan kenangan silam saat masih berseragamkan putih abu. Di hari pertama menjadi pelajar SMU, bahkan saat masih memakai seragam SMP selama masa ospek, gue sudah naksir Didit.

Didit yang tampan langsung menjadi idola, baik oleh anak-anak baru maupun para kakak kelas perempuan. Dia tidak begitu pintar sebenarnya, hanya saja berkarisma. Tak heran dia langsung ditunjuk sebagai pemimpin. Pemimpin di kelas, di angkatan, dan di tahun berikutnya terpilih menjadi ketua OSIS.

Didit sangat populer di sekolah gue dulu. Sedangkan gue? Seorang pengagum rahasia yang hanya berani curi-curi pandang kepadanya. Didit juga baik dan ramah. Awalnya dia sering mengajak gue ngobrol. Tapi sayangnya, gue adalah pengecut yang takut perasaan ini diketahui olehnya.

Dan ketakutan akan Didit dapat mengetahui perasaan ini, gue alihkan dengan berpura-pura tidak menyukainya. Dengan terang-terangan gue menentangnya. Gue selalu sinis jika berurusan dengannya. Ketidakcocokan kami ini, sudah menjadi rahasia umum di sekolah. Bahkan setelah saling lulus dan terpisah, gue maupun Didit sama-sama menghindari acara reuni karena enggan bertatap muka.

Ironis. Didit maupun orang lain tidak pernah tau, dibalik kebencian yang gue tunjukkan pada Didit sebenarnya ada perasaan sayang yang tak tersampaikan.

Adalah Lina, teman sebangku gue, satu-satunya yang mengetahui perasaan gue pada Adit. Dan sampai saat ini gue masih aktif berkomunikasi dengannya. Gue langsung menghubungi Lina dan menceritakan pertemuan dengan Didit.

“Liiiiin, guess what? Gue tadi siang ketemu Didit lagi. Ya ampun masih ganteng Lin. Deg-deg-an gue…”

“Eh lo tuh ye ujug-ujug telepon basa-basi dulu kek!” sungut Lina.

“Halah sama lo ini aja pake basa-basi.”

“Terus, kalian labrak-labrakan? Tampar-tamparan? Hahaha.” tanya Lina yang membuat gue ingin mencekiknya.

“Eh buset, ya enggak lah. Tapi aneh juga sih, dua musuh bebuyutan di jaman SMA ketemu lagi dan saling senyum hihi.”

“Aeeeh, CLBK nih kayaknya. Hati-hati naksir lagi, Ceu.”

“Ah Lina, jangan ingetin itu lagi. Udah lama woi, rasa-rasa anak SMA masa iya bisa bangkit lagi. Udah kekubur kali.”

Lagi-lagi gue harus bohong. Apanya yang terkubur? Nyatanya, rasa ini perlahan muncul lagi. Atau memang sebenarnya tidak pernah berakhir?

***

Sebuah pesan BBM gue terima. Dari Didit! Setelah pertemuan tiga hari yang lalu itu, dia atau gue sama-sama belum memulai kontak. Sampai akhirnya malam ini Didit menghubungi gue.

Gue enggak menyangka sama sekali, jantung ini langsung berdegup kencang. Mirip seperti yang gue rasakan dulu, ketika bertubrukan pandangan mata dengannya.

Dan layaknya remaja SMA yang sedang jatuh cinta, setelah lewat 10 tahun lamanya, gue kembali merasakan keriangan saat harus berbalas BBM dengan Didit.

Rasa naksir anak kelas 1 SMU itu, sudah berkembang dengan perasaan cinta yang mendalam. Sehingga ampasnya masih tersisa sampai 10 tahun lamanya.

Kini, Didit  lagi-lagi mencuri hati gue. Setidaknya malam ini.

Hingga esoknya, esoknya lagi, dan hari setelah esoknya lagi.

***
“Seriusan, Ya? Kalian jadi sering ketemuan sekarang?” Tanya Lina tak percaya saat gue menceritakan perkembangan hubungan gue dan Didit.

“Iya, Lin. Gue juga enggak nyangka.”

“Ya udah atuh di-follow up. Mumpung sama-sama single. Sapa tau-sapa tau…”

“Amiiiin.”

“Heh cepat amat Amininnya! Dasar ngarep lo. Ha ha.” Lina menoyor kepala gue. Kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Inget nggak, Lin. Dulu gue pernah berjanji sama diri gue sendiri. Kalau suatu saat akan menyatakan perasaan ke Didit. Tapi di saat gue udah enggak ada feeling lagi sama dia.” Lina menyimak kata-kata gue.

“Gue ada niatan mau bilang gini: Eh Dit, dulu gue pernah suka sama lo tau. Tapi karena takut enggak terbalas, gue pilih pura-pura jutek.” lanjut gue.

“Apalagi kan Lin, dulu pas jaman naksir dia kan sambil dengerin lagu Selena yang Dreaming Of You. Memotivasi gue untuk ngaku ke Didit.”

 So I’ll wait till the day for the courage to say how much i love you.

“Terus? Kapan mau confession? Ya udah geura atuh, ceu. Siapa tau jadi. Gue dukung.”

***

“Halo, Ya. Long time no see.” sapa Andi sambil mengambil posisi duduk di depan gue. Andi ini teman SMA gue juga. Sepanjang yang gue tau, Andi adalah sahabat terdekat Didit. Dua hari yang lalu Andi tiba-tiba menghubungi gue dan meminta bertemu. Katanya ada yang ingin disampaikan. Dia meminta gue enggak memberitahukan Didit perihal rencana pertemuan kami.

Mungkinkah ini semacam konspirasi mereka? tanya gue dalam hati. Mengapa setelah kedekatan gue dan Didit akhir-akhir ini kemudian muncul Andi, sahabatnya. Gue masih bingung dan menebak-nebak sendiri apa yang akan disampaikan Andi.

“Apa kabar, Ndi? Kok tumben tau-tau ngehubungin gue? Ada hubungannya dengan Didit kah? tembak gue.

To the point banget, Bu. He he.” Andi menghela nafas sesaat. Tapi, iya benar. Apa yang akan gue sampaikan, ada hubungannya dengan Didit.” lalu Andi mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Kalau tidak salah lihat, sepertinya sebuah undangan…pernikahan. DEG. Belum memegang dan membukanya saja gue merasa lemas. Perasaan gue mendadak enggak enak.

Andi menyerahkan kertas beramplopkan emas itu sambil mengisyaratkan agar gue membacanya. Ada nama gue tertulis di bagian depan. Oh shit! Untuk gue. Perasaan ini semakin enggak karuan.

Gue kemudian membaliknya sambil menahan napas. Nama panggilan pengantin yang tertera di situ sangat akrab sekali buat gue. Orang yang gue sayang bertahun-tahun lalu dan kini hadir lagi mewarnai hidup gue.

Didit dan seorang wanita lain, akan menikah DUA HARI LAGI.

Dunia gue yang semula berwarna karenanya, berubah gelap.

Ternyata Didit cukup pengecut dengan tidak berani menyerahkan langsung undangan ini pada gue. Dia meminta Andi yang menjadi penghubung di antara kami.

“Saat kalian bertemu lagi, Didit sedang mempersiapkan pernikahannya. Dia mengakui juga terbawa suasana nostalgia setelah pertemuan itu. Mengingat…sebenarnya dulu dia naksir lo, Ya.” penjelasan Andi ini membuat gue tersedak. Seolah dapat menangkap kebingungan gue, Andi melanjutkan ceritanya.

“Awalnya, dia bete. Kenapa sih Yaya kok sinis banget. Disaat cewek-cewek lain memujanya. Dulu si Didit itu curhat melulu tentang lo, Ya. Gue sih terkekeh aja. Gue cuma ngingetin kalau mungkin itu pertanda naksir. Gue suruh dia deketin lo. Dia mau coba, tapi lo terlalu angkuh di depannya.”

Oke. Ini masih sore kan. Cerah lagi. Terus kenapa tiba-tiba ada ada petir begini barusan?

Gue masih mencoba mencerna perkataan Andi dengan tenang. Jadi sebenarnya waktu SMU itu, gue dan Didit yang saling menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain, sebenarnya..

Ah, tidak. Gue merasa menyesal. Teramat sangat. Gue bodoh sekali, ya Tuhan. Mengapa dulu bisa-bisanya gue memperlakukan orang yang gue sayang dengan tidak baik. Menyia-nyiakan perasaan dan membiarkannya terkurung selama bertahun-tahun. Tanpa pernah sedikitpun terpikirkan, bahwa gue bisa saja memiliki hati seorang Didit. Didit gue!

***

“Gue harus menelpon Didit dan mengaku tentang perasaan gue, Lin. Now or never. Masih ada waktu untuk mendapatkannya kan?” Selesai pertemuan dengan Andi tadi dan sampai di rumah, gue langsung menelpon Lina. Gue meminta persetujuannya akan ide gila yang akan gue lakukan. Malam ini juga.

Kalau gue pernah bertindak bodoh sepuluh tahun yang lalu, maka kali ini adalah kesempatan gue untuk memperbaikinya. Untuk merenggut kembali hak memiliki hati Didit yang seharusnya terjadi sejak beberapa tahun silam.

Lina mendukung rencana gue sepenuhnya. Tapi tidak malam ini. Menurut Lina, jangan tergesa-gesa. Pikirkan baik-baik dulu, kalau sudah yakin maka lakukan esok hari. Gue menuruti kata sahabat gue itu. Alhasil, malam ini gue tidak bisa tidur memikirkannya. Sangupkah gue mengatakan kepada Didit, tentang cinta gue yang begitu dalam dan berhasrat untuk memilikinya? Lalu setelah mendengarkan pengakuan gue, apa yang akan terjadi?

Late at night when all the world is sleeping. 
I stay up and think of you.
And I wish on a star, 
That somewhere you are thinking of me too.

***

30 Mei 2010


“Hai, Ya. Terima kasih sudah datang.” ucap Didit sambil menyalami gue di atas pelaminannya. Tangannya dingin sekali, dia lama memegang tangan gue sampai gue sendiri yang harus melepaskannya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita, yang sudah resmi menjadi istri Didit. Pujaan hati gue.

Gue mengurungkan niat untuk menyatakan perasaan gue. Karena tak sampai hati, jika aksi nekat gue kemudian hanya akan menambah beban pikiran dan perasaan Didit.

Dan rupanya, hari yang gue tunggu untuk mengungkapkan sayang tidak pernah kunjung datang. Tapi sepertinya, hari ini sudah gue tunggu sejak pertama kali gue sadar memiliki perasaan kepada Didit. Sepuluh tahun silam, bahwa gue ditakdirkan untuk berdiri di atas pelaminan ini. Untuk mengucapkan selamat kepada Didit dan mempelainya.

Sometimes, love is meant to be unspoken.

–THE END–

Cinta Keyko

Tags

, , ,

Prepared by Client:
Cynthia Febrina (@cyncynthiaaa

Bogor, 7 Juni 2006

Semuanya terasa begitu cepat. Pertemuan singkat yang membuat segalanya berubah. Sendratari Ramayana, theater tari yang indah di kawasan Candi Prambanan, tepatnya di Ramayana Open Air Theater adalah tempat pertama kami bertemu. Pertemuan pertama yang lebih cocok disebut sebagai musibah.

Yogyakarta, 7 Mei 2006

“Permisi… maaf mengganggu mas….maaf ya mbak, permisii…” Aku yang kebetulan mendapat kursi agak belakang, mencoba mendekati panggung. Adegan Dewi Shinta yang tengah menari dalam suasana sedih menggodaku untuk memotret dari jarak dekat. Ya, aku menyukai fotografi. Menurutku foto dan tulisan adalah ibarat surat dan prangko, lengket, saling melengkapi. Selain itu keduanya membuat suatu momen akan terus hidup walau sudah termakan waktu.

BRUKK!!! Aku terjatuh, bersamaan dengan kameraku yang lensanya jadi retak.

“Hey!!!! Kaki kamu ngehalangin jalan saya, saya kan udah bilang permisi, tuh lihat kamera saya jadi jatuh kan, duh…” Sontak aku pun jadi pusat perhatian dalam hitungan detik. Berani taruhan, orang-orang di kursi penonton pasti ingin segera melemparku dari gedung theater.

“Sssst, ini theater, bukan pasar. Jaga bicaramu nona. Nih, lensanya aku gantiin, lebih bagus ini kan?” Pria yang berdiri di hadapanku dengan santainya menyerahkan kamera yang bergantung manis di lehernya. Refleks, aku menarik kerah kemejanya, hendak meninjunya walau aku tahu jika pertengkaran terjadi aku akan kalah.

“Yuk kita selesaikan di luar.” Dia menarik lenganku erat.

 Bogor, 7 Juni 2006

Memoriku tentang Yogya tidak sebatas hanya tulisan dan foto. Kali ini berbeda. Yogya memperkenalkan aku pada sosok baru. Dia, yang mengajarkan aku tentang pentingnya kesederhanaan. Dia, seseorang yang dapat bercerita dengan bebas. Dia, seseorang yang terobsesi untuk menjadi gitaris. Dia, imajinasi paling liar yang pernah kubayangkan.

Depok, 7 Desember 2006

“Key, dimana?”

Satu pesan singkat itu kuterima sesaat setelah turun dari kereta. Hari ini seharusnya hari libur tapi sayangnya aku tetap pergi ke kampus. Niat kakakku untuk menjalin bisnis dengan salah satu pengusaha mini market membuatku rela melepas hari libur ini. Seharusnya, aku sedang berada di dapur, bersama Ibu dan Bi Sumi, mengganggu mereka yang pastinya sedang asyik membuat sarapan pagi.

Dia yang (sebenarnya) menjadi alasan utamaku untuk bangun pagi-pagi sekali. Alhasil aku pun sukses mengejar kereta yang berangkat dari Bogor pukul 08.16 agar sampai disini tepat pukul 09.00. sesuai janjiku padanya.

“Baru sampe nih gue. Gue tunggu lo di halte bus aja ya?”

Pesan terkirim. Sambil merapikan rambut, aku duduk di samping seorang perempuan yang tengah asyik dengan smartphone-nya.

Tiba-tiba suara motor yang sudah aku hapal betul milik siapa sudah berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Dia melambaikan tangan.

“Hei, lama ya?” Deg! Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Kampungan.

“Hei, engga kok. Lagian, gue tadi kasih kabarnya juga telat. Hm, kita ke mini market lo yang dimana, Nik?” Ya, namanya Niki. Dari balik kacamata minus 5-nya semua orang akan tahu kalau dia sulit untuk dimengerti. Raut muka tukang mikir, begitu kalau Ariana, sahabatku, bilang. Tatapan matanya tajam dan terkesan serius. Tinggi badannya yang agak berlebihan membuatku hanya setingkat bahu jika berdiri di sampingnya.

“Di daerah Sawangan, cukup jauh dari sini, gapapa kan?” Niki tersenyum. Pertanyaan retoris seperti ini yang kadang aku benci.

“Iya, gapapa kok Nik.” Aku membalas senyumnya.

“Oke kalo gitu, ayo naik.”

***

“Nah, kita sampai!” Niki memarkirkan motornya di halaman sebuah mini market. Cukup besar. Ada beberapa pegawai disana yang sepertinya tengah mempersiapkan toko untuk dibuka. Niki menghampiri seorang pemuda yang kira-kira berumur 30 tahunan.

“Om, ada temen aku yang mau lihat-lihat toko. Kakaknya mau kerja sama dengan ayah.” Pria itu tersenyum ke arahku.

“Boleh kok boleh, silahkan, ayo masuk jangan sungkan.” Aku membalas senyum pria ramah yang satu ini.

“Dia itu manager disini Key, namanya Om Tio, dia yang punya tempat ini. Tapi, isi mini marketnya semua dari ayah gue. Jadi, sistemnya bagi hasil, 30 persen untuk yang punya tempat, 70 persen untuk yang punya barangnya.” Niki menjelaskan dengan telaten.

“Kalo yang kerja disini Nik, yang nyari siapa?”

“Kalo yang kerja disini sepenuhnya jadi tanggung jawab ayah gue semua. Ibu gue yang nyari.” Niki mulai bercerita perjuangan ayahnya dulu yang merintis usaha dari nol. Ayahnya sama sekali bukan keturunan pengusaha seperti pengusaha-pengusaha besar lainnya. Ayah Niki bekerja sebagai pedagang asongan sebelum akhirnya jadi pengusaha sukses seperti sekarang. Beda banget sama papa, pikirku.

“Nik, tau ga? Orang kaya ayah lo yang saat ini seharusnya lebih dihargai loh, seseorang yang memulai segalanya dari bawah.”

“Kata siapa? Kalo jaman sekarang itu yang lebih dihargai ya orang-orang yang punya uang sama kekuasaan.” Pembicaraan aku dan Niki semakin meruncing. Aku tetap bersikeras bahwa seharusnya seseorang dihargai bukan karena uang dan kekuasaan tapi karena perjuangan. Tapi, Niki bilang orang seperti aku itu tidak realistis, tidak melihat kenyataan.

“Coba deh gue tanya, apa seorang penulis pernah lebih dihargai dari seorang politikus? Apa seorang jurnalis pernah lebih dihargai dari seorang anggota DPR? Dan apa seorang yang hidup dengan mengais sampah pernah lebih dihargai dari seorang Presiden? Fakta kalo uang dan kekuasaan itu bukan keperluan, tapi kewajiban, Key.”

Aku terdiam. Semua yang Niki katakan memang benar. Tapi rasanya menyanyat. Niki adalah satu dari sekian banyak orang pesimistis kalau negaranya sendiri punya sisi positif. Atau mungkin ini memang tempat dimana uang lebih berharga dari perjuangan?

“Key, sorry. Hm, tadi gue menggebu-gebu banget, ya? Haha selalu emosi setiap ngomongin hal-hal berbau Indonesia.”

“Hmm, gapapa Nik, take it easy, memang harus ada pengusaha kayak bokap lo di negara ini supaya ada orang-orang yang pada akhirnya tahu kalau perjuangan itu penting.”

“Yap. You get my point Key. Perjuangan meraih sukses memang ga selamanya berjalan mulus. Dalam segala hal, termasuk cinta.”

“Hahaha tumben banget lo ngomong gitu Nik, gue pikir lo tipe orang yang idealis abis, termasuk soal urusan cinta. Nih ya, selama ini gue pikir lo cuma mikirin negara, negara, negara. Oh ya, satu lagi, uang. Gue pernah bayangin lo akan bersama seorang perempuan yang tipe-tipe aktivis kampus, kuliah sambil ngejalanin usaha, oh mungkin perempuan itu udah punya usaha dari orok kali yaa. Terus..”

DEG! Niki tiba-tiba memeluk gue, erat.

“Maaf tiba-tiba. Gue sayang lo Key, gue yakin lo dari dulu tahu. Tapi kita ga bisa sama-sama. Kita beda, entah karena apa. Mungkin karena Tuhan kita sama tapi cara menyembahnya yang berbeda.” bisik Niki lirih.

“Gue.. gue nggak tahu Nik. Denger ya Nik, lo kolot banget, gue benci. Cara menyembah yang berbeda pada Tuhan yang sama memang masih disebut perbedaan ? Itu kan sama saja seperti kamu minum obat, aku langsung ditelan sementara kamu harus dihaluskan terlebih dahulu.”

“Key, nggak sesederhana itu kamu bisa merumuskan segalanya.”

Niki melepaskan pelukannya perlahan bersamaan dengan Om Tio yang datang mendekat.

“Ehem.. Keyko, kalau sudah fix mau kerja sama bisa langsung hubungi ayahnya Niki saja ya, hmm tapi kalau boleh tahu, kamu nggak keberatan? Toko ini kan sistemnya bagi hasil, seperti sistem ekonomi syariah sesuai anjuran dalam agama Om dan Niki.. Eh, Om ga bermaksud…”

“Iya Om, aku ga keberatan sama sekali kok, tenang aja ya perbedaan bukan berarti penghalang untuk dapat menjadi profesional, aku cukup ngerti tentang ekonomi syariah kok om. Nanti pasti kukabari kalau sudah fix.” Gue melayangkan senyum manis pada Om Tio yang seraya kembali ke meja kerjanya. Niki hanya memandang gue dengan nanar.

“Key?”

“Ya Nik?”

“Sorry ya, harusnya ini cuma jadi kunjungan lo ke toko gue, tapi jadi begini..”

“Hmm, gapapa Nik, cinta kadang ga selamanya berjalan mulus. Yuk, anter gue pulang.” Gue berlalu meninggalkan Niki, ada setitik air mata yang jatuh disana.

Bogor, 7 Juni 2012

From : niki@sujowo.org

To : keyko@kim.id

Keyko, Aku sudah lihat fotomu sama si kecil, lucu sekali Key. Beruntung sekali papanya punya dua bidadari. Anw, aku pulang ke Indonesia bulan depan, nampaknya usaha mini market di Indonesia butuh aku tengok. Selain itu, program desa mandiri yang aku rancang untuk penduduk miskin di Indonesia sudah mulai jalan. Meet up ? Eh, ajak Keyza juga ya. Paman mau kasih hadiah :D

Niki Sujowo

From : keyko@kim.id

To : niki@sujowo.org

Sip Nik, tempat biasa, pukul 2 siang. Keyza ingin sekali bertemu paman. Bawa hadiah yang banyak ya :D

Kim Keyko

–The End–

Evergreen [Us]

Tags

, , ,

Prepared by Client:
Nuning H. Ranie (@NH_Ranie)

Dalam bayanganku, kita akan duduk berhadap-hadapan. Di tempat yang sama, pada jam yang biasanya. Kau akan bercerita tentang perjalananmu, dan aku akan bercerita tentang film yang baru saja kutonton.

Sendiri. Ya, akhir-akhir ini aku mencoba mengembalikan beberapa kebiasaan yang sering kulakukan sendiri. Menikmati cinema 21 sendiri, makan malam di mall sendiri, bahkan pergi ke beberapa tempat sendiri.

Aku membiasakan diri ini kembali ke kehidupan lamanya yang selalu sendiri.

Dan jelas seharusnya kau tak perlu menanyakan alasannya, karna aku yakin kau sudah mengerti. Selama ini kau tahu bukan?

Mata yang selalu mengikuti kemanapun sosokmu berada. Telinga yang tak letih mendengar setiap kalimat yang kau ucapkan. Serta raga yang tak pernah bisa berhenti memaksakan diri tuh menemanimu dalam malam-malam sepi.

Mungkin aku memang tak pernah mengungkapkannya secara jelas, tapi kau tahu alasan di balik semua sikapku dengan jelas.

Maka ketika mulanya kau bertanya dengan nada itu, kenapa aku memilih menonton film sendiri daripada menunggumu datang tuk menemani, aku hanya bisa terdiam.

Pun ketika akhirnya pertanyaan yang kuyakin akan datang malam ini ternyata terlontar dengan cara yang paling tidak kuinginkan, aku pun semakin terdiam.

Hey, why must you say it so eloquently cruel?

Suhu tubuhku menurun demi bekukan tangis yang seharusnya pecah, dan amarah yang terasa ingin membuncah. Aku menggigil. Harga diriku meluruh dan terbeku dengan bentuk yang tak ingin kusentuh. Aku menggigil. Bersama rasa jijik yang mengikis habis hatiku.

I know this will come. But I’m not expecting this will come in such a way.

Akhh…

Seandainya kau tahu, skenario yang kurangkai sesungguhnya jauh lebih sederhana.

Kau ingat dua cerita yang kututurkan padamu malam sebelumnya? Itu bukanlah kisah yang kuungkap tanpa makna. Ada misi di dalamnya yang aku rasa kau pun telah menangkapnya. Buktinya, kau merelakan diri menepis rasa letih dari perjalanan panjangmu hanya untuk mengklarifikasi semuanya bukan?

Aku telah memperhitungkan itu. Hanya saja dalam skenarioku, mulanya kau akan bertanya apakah dua cerita yang kubuat itu adalah kisah nyata tentang diriku?

Dan aku akan menjawab ya.

Lalu, kau akan bertanya apakah inti dua cerita itu ada kaitannya denganmu?

Lagi, aku akan menjawab ya. Dan sebelum kau sempat bertanya lebih jauh, setelah menarik nafas sejenak, aku akan lanjut bertutur,

“I’m not going to deny my feeling anymore. I’m already at my limit. But I know you still into her. So, let’s put an end to this story. I’m not expecting something. I just want to be honest with my feeling. And I just want to be as much as support just like how you were always there for me all this time. That’s it.”

“I’m not telling this so you can consider my feeling. I know you. So let’s just put it aside. Honestly, right now I just want to cherish our friendship.”

Yang akan kuakhiri dengan senyuman lembut, yang kemudian mungkin dibalas olehmu. Atau paling tidak kita akan terdiam ditemani musik background cafe dan hembusan angin malam yang dingin namun mendamaikan.

Dan aku akan memunculkan topik baru, sambil berusaha mengalihkan tema setiap kali pembicaraan ke arah sana. Simple.

Mungkin kau kemudian akan menghindar dariku. Tapi aku akan terbiasa. Aku pasti terbiasa.

But look what happened.

“You’re gay right? And you’re fall in love with me.” Ucapmu bagai petir yang menyambar di siang bolong.

“Don’t worries, I already know it. Anyway, I don’t mind to accompany you actually. You’re fun and make me comfortable. Honestly. Though, I’ll still be together with my wife after all. But, you know, I don’t mind to accompany you. Really.. So, what do you say?”

Lanjutmu lagi dengan kilauan mata yang memercikan api, dan buat otakku mati.

I feel like I heard another person voice, when my mouth finally says, “I would love to.”

Damn!

Welcoming hell myself.

Stuuuupid self.

***

Sebuah Cerita di Suatu Sore

Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Setelah tak pernah lagi berbicara hampir 6 bulan lamanya, entah bagaimana dan apa yang membawa aku dan dia kembali duduk bersama, berdampingan.

Seperti saat ini, sore hari di sudut kantin kantor. Sebuah kedai makan yang biasanya dipenuhi para karyawan, karena letaknya yang dekat gedung perkantoran. Di kantin itu juga tempat aku dan dia biasa bercengkerama sambil menikmati menu sarapan pagi.

Dulu.

Saat masih tak ada jarak di antara kami.

Kini.

Dua jengkal jemari yang memisahkan posisi dudukku darinya menandakan hubungan kami yang sudah tidak lagi dekat.

Saat awalnya memasuki kantin ini bersamanya, aku hampir tidak percaya dengan yang terjadi. Ini gila. Dan sambil berdoa dalam hati, aku berharap tidak ada satupun yang mengenali kami.

Beberapa meja sudah terisi dengan pasangan pria dan wanita. Ada yang sedang tertawa lepas berdua, ada yang sedang berfoto berdua, dan ada juga yang terlihat sedang bertengkar. Namun setelah melewati meja-meja tersebut, aku tersadar bahwa pasangan seperti yang kulihat tadi tidak ada. Hanyalah meja-meja tanpa pengunjung. Kosong.

Rupanya penglihatanku tadi adalah fatamorgana. Bayangan pasangan-pasangan itu sebenarnya pengalaman aku bersamanya, di berbagai meja di kantin ini.

Kami pernah bahagia bersama. Kami pernah konyol bersama. Kami pernah tersiksa bersama.

Karena kepalang terus berjalan melewati meja-meja kosong itu, akhirnya aku memilih tempat di sudut ruangan. Untungnya, kantin sore ini tidak banyak pengunjung. Dan kali ini dengan penglihatan yang nyata, kulihat meja di samping kanan ditempati dua pria yang sedang menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Meja di depan kami hanya tersisa gelas-gelas bekas diminum yang belum sempat dibersihkan.

Seharusnya sebagai dua anak manusia yang bertemu kembali setelah sekian lama, kami akan berpelukan lalu mengobrol penuh antusias. Tidak, kami hanya diam. Ada kecanggungan besar membatasi kami.

Ucapan pertama yang keluar dari mulutnya, saat kami sudah sama-sama nyaman dengan posisi duduk adalah panggilan kepada pelayan. Tanpa menanyakan dulu padaku, dia memesan dua gelas es teh manis. Kebiasaan kami dulu di kantin ini.

Setelah pelayan membawakan minuman dan berlalu, barulah kami benar-benar bisa memulai obrolan. Dan inilah kami berdua. Satu hal yang tidak pernah berubah. Sama-sama susah menghentikan percakapan. Terus dan terus terlena dalam perbincangan ringan.

Dan aku masih tidak dapat memercayai apa yang terjadi sore ini, mengingat pertengkaran hebat kami lima bulan silam. Pertengkaran yang berakhir dengan saling menangis, karena keputusan untuk harus saling menjauh.

Demi menghargai wanita yang sedang dekat dengannya, aku memutuskan keluar dari hidupnya. Aku tak sudi dianggap wanita kesepian yang masih mengejar mantan terkasihnya.

Jauh di lubuk hati kami, perpisahan sebagai sahabat jauh lebih menyakitkan. Tapi kami sama-sama tau, meski tidak bisa kembali dekat seperti dulu kami akan selalu menjadi sahabat di hati. Ditambah kenyataan kami yang berada dalam gedung yang sama untuk mencari nafkah, pertemuan mendadak memang tidak bisa dihindari. Selama lima bulan terakhir ini hubungan kami hanya sebatas tegur sapa. Tidak lebih. Tidak seperti saat ini.

Dia terus menambah batang rokoknya, tampak sangat menikmatinya. Kulirik jam di tangan kiriku, sudah hampir 50 menit kami lewati. Tidak terasa kami sudah terseret pada pembicaraan yang tak terarah. Namun, tak satupun dari kami yang menyinggung kehidupan cinta masing-masing.

Lagipula aku tak ingin mengetahuinya. Aku tak ingin menghancurkan suasana kebersamaan saat ini. Maka kubiarkan saja asumsi dia masih bersama wanita itu, agar perasaan aku dapat tetap murni bersahabat dengannya.

Sampai akhir perbincangan kami, aku masih belum dapat tenang karena was-was. Aku takut dia akan menanyakan kabar percintaanku. Sungguh aku malu mengaku padanya, bahwa sampai saat ini belum juga menemukan pengganti dirinya.

Setelah satu jam menghabiskan waktu di sudut kantin pun, kami akhirnya memutuskan menyudahi reuni ini. Waktu menunjukkan pukul 4 lebih 15 menit, sudah lewat seperempat jam dari jam pulang kantor kami.

Lalu kami berdua berjalan beriringan keluar dari kantin. Setiap langkahku dipenuhi dengan berbagai pikiran. Aku tau banyak yang sudah memperingatkanku, untuk tidak mengulang lagi kebodohan. Tapi satu hal yang tak bisa kupungkiri, semesta rupanya belum menghendaki aku sepenuhnya keluar dari hidupnya.

Setidaknya, sampai sore ini.

-The End-