Tags

, , ,

Prepared by Client:
Nuning H. Ranie (@NH_Ranie)

Dalam bayanganku, kita akan duduk berhadap-hadapan. Di tempat yang sama, pada jam yang biasanya. Kau akan bercerita tentang perjalananmu, dan aku akan bercerita tentang film yang baru saja kutonton.

Sendiri. Ya, akhir-akhir ini aku mencoba mengembalikan beberapa kebiasaan yang sering kulakukan sendiri. Menikmati cinema 21 sendiri, makan malam di mall sendiri, bahkan pergi ke beberapa tempat sendiri.

Aku membiasakan diri ini kembali ke kehidupan lamanya yang selalu sendiri.

Dan jelas seharusnya kau tak perlu menanyakan alasannya, karna aku yakin kau sudah mengerti. Selama ini kau tahu bukan?

Mata yang selalu mengikuti kemanapun sosokmu berada. Telinga yang tak letih mendengar setiap kalimat yang kau ucapkan. Serta raga yang tak pernah bisa berhenti memaksakan diri tuh menemanimu dalam malam-malam sepi.

Mungkin aku memang tak pernah mengungkapkannya secara jelas, tapi kau tahu alasan di balik semua sikapku dengan jelas.

Maka ketika mulanya kau bertanya dengan nada itu, kenapa aku memilih menonton film sendiri daripada menunggumu datang tuk menemani, aku hanya bisa terdiam.

Pun ketika akhirnya pertanyaan yang kuyakin akan datang malam ini ternyata terlontar dengan cara yang paling tidak kuinginkan, aku pun semakin terdiam.

Hey, why must you say it so eloquently cruel?

Suhu tubuhku menurun demi bekukan tangis yang seharusnya pecah, dan amarah yang terasa ingin membuncah. Aku menggigil. Harga diriku meluruh dan terbeku dengan bentuk yang tak ingin kusentuh. Aku menggigil. Bersama rasa jijik yang mengikis habis hatiku.

I know this will come. But I’m not expecting this will come in such a way.

Akhh…

Seandainya kau tahu, skenario yang kurangkai sesungguhnya jauh lebih sederhana.

Kau ingat dua cerita yang kututurkan padamu malam sebelumnya? Itu bukanlah kisah yang kuungkap tanpa makna. Ada misi di dalamnya yang aku rasa kau pun telah menangkapnya. Buktinya, kau merelakan diri menepis rasa letih dari perjalanan panjangmu hanya untuk mengklarifikasi semuanya bukan?

Aku telah memperhitungkan itu. Hanya saja dalam skenarioku, mulanya kau akan bertanya apakah dua cerita yang kubuat itu adalah kisah nyata tentang diriku?

Dan aku akan menjawab ya.

Lalu, kau akan bertanya apakah inti dua cerita itu ada kaitannya denganmu?

Lagi, aku akan menjawab ya. Dan sebelum kau sempat bertanya lebih jauh, setelah menarik nafas sejenak, aku akan lanjut bertutur,

“I’m not going to deny my feeling anymore. I’m already at my limit. But I know you still into her. So, let’s put an end to this story. I’m not expecting something. I just want to be honest with my feeling. And I just want to be as much as support just like how you were always there for me all this time. That’s it.”

“I’m not telling this so you can consider my feeling. I know you. So let’s just put it aside. Honestly, right now I just want to cherish our friendship.”

Yang akan kuakhiri dengan senyuman lembut, yang kemudian mungkin dibalas olehmu. Atau paling tidak kita akan terdiam ditemani musik background cafe dan hembusan angin malam yang dingin namun mendamaikan.

Dan aku akan memunculkan topik baru, sambil berusaha mengalihkan tema setiap kali pembicaraan ke arah sana. Simple.

Mungkin kau kemudian akan menghindar dariku. Tapi aku akan terbiasa. Aku pasti terbiasa.

But look what happened.

“You’re gay right? And you’re fall in love with me.” Ucapmu bagai petir yang menyambar di siang bolong.

“Don’t worries, I already know it. Anyway, I don’t mind to accompany you actually. You’re fun and make me comfortable. Honestly. Though, I’ll still be together with my wife after all. But, you know, I don’t mind to accompany you. Really.. So, what do you say?”

Lanjutmu lagi dengan kilauan mata yang memercikan api, dan buat otakku mati.

I feel like I heard another person voice, when my mouth finally says, “I would love to.”

Damn!

Welcoming hell myself.

Stuuuupid self.

***