Racun

Tags

, , , , ,

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Aku memandang tubuh yang terbaring di hadapanku. Kemarahan dan kesedihan yang kurasakan telah melebur menjadi satu. Bahkan tak sedikitpun air mata yang menetes dari mataku.

Kucoba semua cara untuk memastikan kebenarannya. Kepegang pergelangan tangannya, kutempelkan telingaku di dadanya,  kudekatkan jariku di dekat hidungnya. Kucoba mengguncangkan tubuh itu berkali-kali. berharap apa yang aku pikirkan saat ini adalah salah. Berharap ada keajaiban yang hadir pada dirinya saat ini juga. Namun usahaku sia-sia. Tubuh itu masih diam tak bergerak. Tak ada hembusan nafas atau bunyi detak jantung.

Lalu tiba-tiba semua kenangan bersamanya melintas di otakku. Seperti film hitam putih tanpa suara yang diputar perlahan-lahan. Bagaimana kami berkenalan di pesta itu pertama kali, malam-malam yang kami habiskan bersama secara sembunyi-bunyi, hingga perang yang terjadi antara keluarga kami ketika mengetahui hubungan kami.

“KENAPA?? KENAPA? KENAPA JULIET” teriakku pada tubuh itu. “Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama selamanya apapun yang terjadi?” Namun tubuh itu tetap diam.

Aku memandangi botol kecil di depanku. Botol kecil yang berisi cairan yang mungkin bisa menyelesaikan masalahku saat ini juga. Botol kecil yang membuat tubuh di hadapanku seperti ini.

“Baiklah, jika kita tidak bisa bersama di alam ini, mungkin kita bisa bersama di alam yang lain”.

Lalu kutenggak botol kecil yang berisi cairan itu. Terasa sangat pahit dan pekat di tenggorokanku. Seperti ada tali yang mencekik leher. Pandanganku mulai kabur. Lalu semuanya gelap. Gelap tanpa sisa.

***

Wanita itu terbatuk-batuk dan mulai sadarkan diri setelah sebutir pil mengalir di kerongkongannya. Pria yang memasukkan pil itu tersenyum lalu memeluk dan mencium bibirnya. Wanita itu pun tersenyum.

“Akhirnya kita bisa bersama tanpa ada gangguan dan tak ada lagi kebimbangan memilih di dalam hatimu” ucap pria itu.

“Ya, akhirnya kita bisa bersama tanpa aku perlu menyakiti hati pria yang sangat mencintaiku.” ucap wanita itu kepada pria di hadapannya denga penuh rasa cinta.

“Maafkan aku, Romeo.” Ucap wanita itu.

Lalu kedua orang itu pergi meninggalkan sesosok tubuh pria yang mati konyol karena cinta.

How I Met Your Mother

Tags

, , , , , ,

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Keringat bercucuran dari seluruh tubuhku. Udara siang hari yang cukup panas membuatku malas melangkahkan kaki ke arah antrian pemeriksaan paspor itu. Sebenarnya aku lebih menyukai perjalanan malam hari. Selain udara malam yang sejuk, di malam hari aku bisa tertidur tanpa harus berkali-kali melirik jam tangan, menghitung sudah berapa lama perjalanan dan berapa lama lagi akan sampai. Tapi apa boleh buat, perjalanan antar negara ini tidak ada jadwal malam hari. Semuanya perjalanan dilakukan pada siang hari.

Selesai urusan keimigrasian, bus yang kutumpangi kenbali berjalan lagi. Setelah tiga hari berada di Vietnam, akhirnya aku menyebrang perbatasan juga. Menuju Kamboja.

Sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat di Vietnam. Kota Ho Chi Minh terbilang cukup sepi. Seluruh museum dan tempat wisata sudah habis kukunjungi. Sebenarnya masih ada kota yang belum kukunjungi, yaitu Hanoi. Namun sayang, kota itu terlalu jauh, berada di ujung utara Vietnam. Jika ditempuh dengan perjalanan darat, butuh waktu 4 hari pulang pergi. Jatah cutiku bisa habis tak terasa. Jika ditempuh dengan pesawat, cukup menguras kantong dan membuatku bangkrut.

***

Sudah lebih dari setahun sejak perjalanan solo backpacking terakhirku menyebrangi semenanjung Malaka, dari ujung Singapura hingga kota Bangkok di Thailand. Seperti perjalananku sebelumnya, tujuan traveling kali ini pun sama. Kakiku melangkah karena hati yang patah. Aku mencoba mengambil jarak, untuk melonggarkan hati yang sesak. Tapi kali ini bukan karena seseorang, tapi sepuluh orang.

Iya. Sepuluh. Orang. Wanita.

Sudah lebih dari satu setengah tahun semenjak terakhir kali aku mempunyai kekasih. Dan semenjak saat itu, sudah sepuluh orang wanita juga yang pernah dekat denganku. Tapi sepertinya Semesta selalu menjawab kalimat doa jodohku yang kedua: “Jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah”.  Iya, semuanya tidak ada yang berjalan sampai jauh. Semuanya pergi menjauh. Friendzone, Hubungan Tanpa Status, Teman Tapi Mesra, Friends in Benefit dan entah bermacam-macam istilah apa lagi yang teman-temanku pernah sematkan untuk setiap hubungan yang aku jalin. Tapi intinya sama, semuanya hanya mentok sebagai gebetan saja.

Bukan kekasih. Bukan pacar.

***

Hari sudah semakin sore saat aku berjalan menyusuri jalanan kota Phnom Penh, ibukota dari Kamboja. Tujuanku mencari penginapan dahulu untuk sekedar beristirahat. Namun sepertinya keberuntungan belum berpihak kepadaku. Hampir seluruh penginapan penuh terisi. Jikapun ada yang kosong, keadaannya agak kurang layak. Ini konsekuensi karena aku tidak mem-booking terlebih dahulu padahal saat ini adalah long weekend.

“Masih ada kamar kosong?” tanyaku kepada salah satu resepsionis dormitory room – sejenis hotel budget, untuk yang kesekian kalinya.

“Tadinya ada. Tapi baru saja satu kamar terakhir diambil oleh seseorang,” Jawab resepsionis itu. “Kamar itu sebenarnya berisi double-bed. Jika tamu tadi mengijinkan, mungkin kamu bisa sharing kamar dengannya.”

Sharing kamar dengan orang asing. Sepertinya itu ide buruk. Tapi jika tidak, bisa-bisa aku tidur di jalanan untuk malam ini.

“Oh, itu dia tamu yang baru saja mengambil kamar terakhir” si resepsionis menunjuk seorang cewek yang baru saja turun dari tangga lantai atas menuju ke arah kami.

Aku memicingkan mata. Sepertinya aku kenal dengan cewek itu. Demi sejuta kepiting rebus di lautan, kenapa harus cewek itu yang ku temui di Kamboja sini. Si cewek tomboy jutek, sombong, senga, dan belagu yang selalu buatku kesal waktu di Gunung Rinjani kemarin.

***

Tiga bulan lalu aku mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Ikut rombongan “tukang jalan” yang tak sengaja aku dapat dari internet. Fisikku yang tidak lagi muda seperti jaman kuliah dan juga jarang berolah raga, membuatku berkali-kali meminta untuk beristirahat barang sejenak. Rasanya kaki tidak sanggup untuk menanjak sampai ke puncak. Udara gunung yang tipis tambah membuat nafasku tak karuan.

Lalu tiba-tiba lewatlah dia. Seorang cewek tomboy, dengan rambut pendek berpotongan ala Demi Moore yang nge-trend di film Ghost jaman dahulu. Tak ada tampang kelelahan sedikitpun di wajahnya.

“Jadi cowok kok lemah banget. Malu sama cewek!” katanya pas melewatiku.

Berikutnya, selama tiga hari dua malam berada di Rinjani, entah sudah berapa kali omongannya selalu merendahkan dan meremehkanku. Ada saja kata-katanya yang bikin kami ribut dan beradu mulut. Seumur hidup aku tidak pernah ribut dengan cewek. Baru kali ini ada cewek yang selalu bikin naik darah.

***

Aku menatap cewek itu. Rambutnya sudah agak panjang sedikit dibadingkan dengan waktu di Rinjani dulu. Terpotong rapi tepat di atas bahunya, tidak lagi pendek seperti Demi Moore. Tapi gaya pakaiannya tidak ada yang berubah, kaos oblong dan celana kargo selutut. Jauh-jauh aku ke sini karena ingin menenangkan diri atas hatiku yang kalut. Sepertinya akan bertambah kalut karena bertemu lagi dengan cewek tomboy belagu ini.

“Eh, elo. Lagi ngapain lo di sini?” tanyanya dengan wajah lurus dan jutek.

“Justru gue yang baru aja mau nanya begitu ke elo. Kok bisa ada di sini?” Tanyaku tak kalah jutek.

Ternyata dia sama gilanya denganku. Si cewek itu juga sedang backpacking sendirian di IndoChina ini. Entah konspirasi semesta apa yang sedang terjadi, ternyata dari semenjak berangkat, tiba di Vietnam hingga sampai di Kamboja ini, kami selalu bareng-bareng. Tapi baru dipertemukan di hotel budget ini.

Lalu si resepsionis menjelaskan bahwa aku butuh kamar dan siapa tahu dia mau sharing kamar denganku.

“Karena kebetulan gue udah kenal sama lo dan emang tempat tidur ada dua, dengan terpaksa gue mau sharing kamar sama lo. Tapi kalo lo macem2, gue gibas muka lo gak pake ampun lagi,” ucap si cewek itu setelah akhirnya menyetujui kami akan bersharing kamar.

“Oh iya, awas kalo lo sampe cinlok sama  gue!”

Cinlok? Kalaupun tersisa satu wanita di dunia dan itu adalah dia, aku gak mungkin sampai jatuh cinta sama dia. Dari dulu tipe wanita yang bisa buatku jatuh cinta itu feminim, cantik dan berambut panjang. Bukan cewek tomboy dan belagu kayak dia.

“Terus satu lagi. tidur gue ngorok dan gue sering kentut. Jadi maklumin aja ya!” katanya lagi.

Dasar cewek tomboy, umpatku dalam hati.

Karena sama-sama traveling sendirian, akhirnya mau gak mau aku menjelajah Kamboja bersama cewek tomboy itu. Dari Phnom Penh dilanjutkan ke Siam Reap. Selama 3 hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Seperti halnya juga di Rinjani, selama tiga hari itupun tidak ada hentinya kami beradu mulut. Dari mulai meributkan akan kemana, naik apa, mau makan apa sekarang sampai hal-hal gak penting seperti mengomentari kacamataku yang KW. Tiga hari yang seperti berada di neraka.

Setelah menjelajahi Kamboja, kami kembali ke Vietnam, karena pesawat menuju Indonesia hanya ada di kota Ho Chi Minh. Dari sana, kami kembali ke Indonesia. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta kami berpisah.

***

“Lalu, apakah papah akhirnya bertemu lagi dengan wanita tomboy itu?” seorang anak laki-laki berumur 15 tahun bertanya kepadaku.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak aku traveling ke Indochina. Malam itu gerimis turun perlahan di luar sana. Meskipun hujan, suasana ruang tivi saat itu sangatlah hangat. Sehangat segelas kopi hitam dan segelas susu coklat yang tergeletak di atas meja. Di sebelahku tampak seorang anak laki-laki yang sedang duduk di sofa, bersemangat mendengarkan cerita pengalamanku waktu muda dulu. Di depan tivi, seorang gadis kecil berumur 7 tahun sedang asik menonton film kartun. Mulutnya celemotan dipenuhi sisa-sisa es krim yang baru saja habis dimakannya. Aku cuma bisa tersenyum melihat semuanya.

“Kalau mau tahu kelanjutannya, biar mamah-mu yang bercerita sehabis kita makan malam ya! Sekarang kita makan dulu. Itu mamah-mu sudah menyiapkan makanan. Ayo, ajak adikmu sekalian!” Kataku kemudian sambil menatap ke seorang wanita cantik berambut panjang yang sedang membereskan piring di depan meja makan. Wanita yang sama dengan wanita tomboy belagu yang pernah traveling bersamaku dulu.

Tea in You

Tags

, , , , , , ,

Prepared by Client:
Adyta Dhea Purbaya (@dheaadyta)

Siang ini, sama seperti siang-siang kemarin. Kantin kampus. Ramai. Dan kita duduk berdua disalah satu kantin.

Kamu dengan segelas Green Tea yang mengepul, dan aku dengan segelas Lemon Tea dingin.

“Eh, kalo makan nasi, minumnya jangan teh” Kamu menarik gelas tehku menjauh dari jangkauanku.

“Ahhh balikiiin… Aku mau tehkuu..” Aku berusaha menggapai gelas teh itu.

Kamu tertawa-tawa dan mengangkat gelas teh itu makin tinggi.

“Teh itu menyerap karbohidrat yang dibawa nasi. Gimana anemia nya nggak tambah parah, coba? Lagian… pantes aja nggak gendut-gendut!”

Kamu mulai dengan segala ceramah tentang anemia dan tubuh kurang idealku.

“Ahhh… aku mah nggak butuh gendut. Aku cuma butuh kamu.” Aku menjawab sambil berusaha meraih gelas tehku.

Kamu tertawa.

“Gombalnya udah makin lancar yah, sekarang?” Katamu sambil mengacak rambutku.

Aku cemberut. Menjauhkan piring nasi dihadapanku. Aku nggak mau makan kalo gelas tehku nggak dikembalikan.

“Lah itu kenapa nasinya dijauhin?” tanyamu pelan.

Aku nggak menjawab. Masih memasang tampang manyun.

“Sini aku suapin, yaaah….” dia menyendok nasi dan mengarahkannya ke mulutku.

Aku membuang muka. Masih merajuk.

“Eh nggak boleh ngambek, tuh mukanya ditekuk kan jadi jelek gituuuu….” Kamu mengacak rambutku, lagi.

Aku masih membuang muka.

“Jangan marah dong. Kamu tuh manis banget kalo lagi nggak marah. Ini kalah deh manisnya teh ini” katamu mengacungkan gelas Lemon Tea dinginku.

Mau nggak mau aku tersenyum juga dan memukul pelan lenganmu. Ah.. Kamu memang selalu tau caranya mengembalikan semua mood baik aku.

“Aku mau tehkuuu…” aku merengek.

Kamu menyerahkan gelas Lemon Tea dingin itu kehadapanku. “Kamu ini kalo dibilangin mesti deh ngeyel…” katamu sambil menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangatmu.

Aku menyedot banyak-banyak Lemon Tea-ku. Ahh dinginnya langsung mengaliri kerongkonganku.

“Green tea-nya manis nggak?” tanyaku memasang tampang serius.

Kamu mengecap sekali lagi sesendok Green Tea hangatmu, lalu mengangguk. “Lumayan. Pas lah pokoknya sama lidahku. Kenapa emang?” tanyamu, masih menyuap sesendok demi sesendok Green Tea hangat itu kedalam mulutmu.

Aku selalu suka caramu menghabiskan segelas tehmu. Pelan. Disesap sesendok demi sesendok. Nampak menikmati sekali. Aku tau kamu cinta banget sama teh. Lidahmu bahkan nggak kuat kena kopi. Iya kan? ;)

“Kalo gitu minumnya jangan sambil liat aku, yah?” jawabku, masih memasang tampang serius.

Kamu menatapku penuh tanda tanya, aku melengos dengan santainya dan menyedot lebih banyak Lemon Tea-ku.

“Tau kenapa?” tanyaku, bahkan sebelum kamu sempat memberikan respon.

Kamu menggeleng. Menatapku penasaran. Aku tersenyum kecil.

“Ntar teh nya jadi tawar kalo sambil liat aku….” Aku berkata pelan, menyedot lagi Lemon Tea dinginku. Merasakan sensasi dingin menjalari kerongkonganku. “Kan katanya manisnya aku ngalahin teh” Aku menutup penjelasan dengan tawa lebar.

Kamu ikut tertawa dan menoyor pelan kepalaku.

Kita tertawa bersama.

“Iya… Iya… Kamu lebih manis daripada teh. Aku rela nggak minum teh lagi, asalkan bisa terus sama kamu…” jawabmu, mengelus sayang rambutku.

Kalimat singkatmu itu. Jleb banget dihatiku aku. Tetiba saja sudut mataku sudah terasa panas. Ah kamu…. Kenapa harus membahas itu, sih?

“Tapi kamu kan cinta banget sama teh?” tanyaku, entah kenapa, aku ingin memperjelas pemahamanku.  Sekedar melegakan hati, nggak salah kan?

Kamu tersenyum. Ah senyum itu. Bahkan aku merasakan tehku pun mendadak ikut menjadi tawar.

“Karena manisnya teh  ini ada di kamu. Sekalipun aku cinta banget sama teh, tapi kan aku nggak butuh sesuatu yang tawar, lebih baik kamu yang manis. Hehehe…”

Setitik kehangatan menelusup kedadaku.

“Kenapa kamu nggak meninggalkan dia dan memintaku? Bukankah hubungan kalian sudah tawar? Sementara kita bisa memulai sesuatu yang manis, berdua saja…” tanyaku pelan, sangat pelan. Nyaris tak terdengar.

Aku kaget mendengar ucapanku sendiri. Oh My… Kita kan sudah janji untuk nggak pernah bahas ini, yah?  Aku mengutuki diriku sendiri. Mengutuk mulut bawel yang nggak pernah bisa ditahan ini. Aku merasakan genggamanmu erat dijemariku. Hangat. pasti lebih hangat dari Green Tea dalam gelasmu.

Kamu tersenyum. Menatap mataku dalam-dalam. Aku ingin membuang pandang, nggak pernah sanggup menatap mata beningmu lama-lama. Mata yang selalu membuat aku jatuh cinta dan berkali-kali membatalkan niat menyeret langkah menjauh darimu. Mata yang selalu memaksaku bertahan dengan kesadaran penuh, tanpa todongan senjata tajam, atau bahkan pengaruh alkohol.

Ah kamu… Kalau teh itu ada padaku, kenapa kamu masih membiarkan dia yang mengisi hatimu?

Lepaskan lah… Aku janji bisa memberikan hubungan yang manis bagimu.

Kalau kamu saja bisa meninggalkan teh yang sangat kamu cintai itu untuk aku. Kenapa kamu begitu berat meninggalkan dia dan beralih memintaku??

Ada banyak jawaban dari berbagai pertanyaan yang aku butuhkan darimu.

Sekarang… aku masih bisa berdamai dan membohongi hati. Kalau nanti aku sudah tidak sanggup, bagaimana??

Please. Bisakah meninggalkan dia dan memintaku sekarang??

Aku Mau Kamu

Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Adyta Dhea Purbaya (@dheaadyta)

Aku duduk manis disalah satu bangku kantin, menyesap sesendok demi sesendok Green Tea hangat yang tersaji di depanku. Mataku menatap nanar kearahmu. Kamu dan gadis manis berambut panjang disebelahmu. Kalian yang tertawa lepas dan nampak bahagia sekali.

Iya.

Kamu dan kekasihmu.

Aku mencoba mengingat, berapa lama semua berjalan sepetri ini. Sebulan? dua bulan? Ahh… lebih dari itu… ini sudah menahun… dan aku masih tetap setia seperti ini. Sudah merasa cukup hanya dengan melihat kamu dari jauh saja.

Iya.

Kamu dan kekasihmu.

Apa kamu tahu rasanya? Didera rindu yang teramat sangat tapi tidak bisa memelukmu erat untuk sekedar menuntaskannya? Jangankan berharap untuk kamu balas, sekedar untuk kamu tahu bahwa aku rindu pun mustahil.

Apa kamu tahu rasanya? Seberapa sering aku menyebut namamu dalam sujud-sujudku menghadap Sang Pencipta? Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya… Aku bahkan takut Tuhan bosan mendengarnya.

Apa kamu tahu?

Baiklah… Mungkin kamu tahu… Lantas,, apa kamu mau mengerti??

Mataku sekali lagi melirik kearah sana… Kearah kamu dan kekasihmu… Kalian yang masih tertawa dan saling menatap mesra. Sesekali kulihat gadis manis itu mencubit pelan lenganmu.

Ah… aku cemburu!!!

Tapi…

Aku bisa apa??

Sejenak kemudian, kalian berlalu. Dari situ. Dari sudut dimana tadi kalian tertawa mesra dan membakar hatiku. Berlalu. Aku masih mengikuti gerak kaki kalian lewat sudut mataku. Terus. Hingga kalian tak lagi nampak.

Masih ada sisa-sisa kemesraan yang terlihat bahkan saat kalian sudah akan menjauh.

Aku bahkan masih bisa melihat kamu mengantar dia masuk kedalam mobilnya, menutup pintu, dan menunggu mobil itu berlalu. Menghilang dari pandanganmu.

Aku masih bisa merekam jelas semuanya lewat sudut mataku yang tak lepas memandangi kalian.

Lalu mobil yang membawa gadismu itu menjauh. Menghilang. Dan kamu berbalik. Berjalan santai. Kearahku.

Iya.

Kamu melangkah pasti kearahku.

“Hai…” katamu lembut dengan senyum menawan itu.

Aku memaksakan senyum.

“Udah makan?” tanyamu, basa-basi sekali, tentulah.

“Rara udah pulang?” tanyaku pelan.

Kamu menjawab dengan anggukan, menghempaskan pantat di sebelahku. Kita duduk bersisian dan sangat dekat. Aku bahkan bisa mencium wangi parfume-mu. Dan rasanya? Semakin sesak! Sesak akan rindu, sesak akan cinta, sesak akan rasa ingin menggenggam erat tanganmu.

“Kamu tambah mesra ya sama dia…” aku berkata pelan. gumpalan cemburu mendesak.

Kamu tertawa kecil. Mengacak rambutku. Sesuatu berdetak kencang dibalik dadaku.

“Kamu cemburu?” tanyamu.

Retoriiiiiis!

“Tenang aja… Kamu tetep sahabatku, kok!! Aku janji… Nggak akan ada yang berubah dari kita.. Aku pasti bakal tetep selalu ada tiap kamu butuh… Kita kan udah sahabatan dari kecil…” katamu riang. tetep dengan senyum manis itu.

Aku mulas. Lemas. Pingin pingsan.

Sahabat?

Nggak akan ada yang berubah?

Oh, well… Aku pinginnya kita berubah… berubah lebih dari sahabat… berubah ke suatu hubungan yang, ehm, lebih serius.

Kamu tau nggak aku tuh sayaaaang banget sama kamu. Bukan sekedar sahabat. Kamu tau nggak semua apa yang aku rasain ini?

Dan kamu bilang kita sahabat? dan akan selalu begitu?

—————————————————-THE END——————————————————

Sebuah Perjalanan

Tags

, , ,

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Dengan tergesa-gesa, gue berjalan masuk ke dalam ruang tunggu travel. Raka, sang pacar dua bulan belakangan, tampak kedodoran mengikuti langkah gue. Dia mengantar ke pool travel yang akan membawa gue ke Jakarta, seperti biasa.  Ini memang kegiatan rutin nyaris setiap akhir pekan. Gue naik travel dari Jakarta, dan dia akan menjemput di Bandung. Begitu gue balik ke Jakarta, ia akan mengantar sampai ke pool.

Gue  memang sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Hal ini dikarenakan gue bekerja di ibu kota, namun punya orang tua yang tinggal di kota kembang. Sementara ia, lahir, tumbuh, dan menetap di kota-seribu-wanita-cantik ini sampai sekarang.

“Mas, atas nama Grahita, ke Grogol,” kata gue begitu setiba di depan meja check in.

Petugas front office berseragam merah mengangkat muka, “sebentar, saya cek dulu. Untuk keberangkatan jam berapa, Ibu?”

“Jam lima, Mas.” Gue menjawab sambil menahan diri untuk gak protes dipanggil dengan sebutan ‘Ibu’. Sudahlah, mungkin itu prosedur standar. Lebih sopan dan rapih dibanding memanggil kakak atau teh atau mbak, mungkin?

“Maaf, Bu,” dia menghela napas, “untuk keberangkatan jam lima ke Grogol, sudah penuh.”

“Lah? Sudah penuh gimana? Kan saya udah booking?” gue melirik jam dinding, “dan saya kan gak telat.”

“Iya, tapi seharusnya Ibu datang 15 menit sebelum keberangkatan. Sekarang kan udah jam 16.50.” si petugas berusaha menjelaskan.

“Kan baru lima menit, Mas. Masak saya udah nggak bisa naik,” gue melemparkan poni ke belakang, “hoo, saya ngerti…. Tiket saya udah dijual ke orang lain ya? Begitu?”

Ia tidak menjawab, mendadak sibuk dengan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

“Yaudah, keberangkatan berikutnya aja. Jam berapa adanya?” terdengar pertanyaan dari Raka yang dijawab dengan takut-takut oleh si petugas, “maaf sekali, untuk hari ini kita udah fully-booked Pak. Sampai  yang terakhir jam 10 malam juga udah penuh.”

“APA?! Terus saya naik apa dong ke Jakarta? Kamu main jual aja sih. Nggak confirm dulu ke saya.”  Gue mulai naik darah.

Didi, begitu nama yang tertulis di ID card yang tertempel di dadanya, hanya bisa terdiam.

“Coba aku telpon travel lain ya, kali aja masih ada yang kosong,” kata Raka sambil mengeluarkan telepon genggam dari kantong celananya.

Gue merengut, “yaudah, aku juga telpon travel lain deh. Walaupun nggak yakin juga sih. Ini long weekend,  gitu kan…”

“Udah, kamu tenang aja ya…” Raka mengacak rambut gue pelan.

Ia berhenti mengacak rambut gue ketika tersambung dengan travel lain di daerah dekat sini.  “Eh, halo? Mbak? Mau pesan travel buat sore ini ke Jakarta, masih ada nggak ya?”

Pertanyaan yang sama diulangi untuk beberapa travel, dan menemui jawaban yang sama pula: semua kursi penuh. Gue yang mulai gemas dan kesal langsung meminta dipertemukan dengan manager on duty dari travel ini. Dan di sinilah gue sekarang, di depan meja sang manager.

“Jadi gini ya Pak. Saya tau kalian mau mengejar pendapatan maksimal. Daripada kursi yang udah saya book itu kosong, makanya kalian langsung jual aja. Tapi kenapa nggak confirm dulu sih? Tanya dulu dong, saya jadi pake kursi itu atau nggak? Jangan main jual aja!” semprot gue emosi.

Sang manager on duty ini masih muda. Perkiraan gue, umurnya sekitar akhir dua puluh atau awal tiga puluhan. Penampilannya bersih dengan kemeja berwarna biru langit dan rambut di-gel ala anak muda zaman sekarang.

“Begini, Mbak. Kita mengerti permasalahannya. Tapi kita tidak menyalahi prosedur. Penumpang harus hadir 15 menit sebelum keberangkatan. Kalau tidak, kita bisa anggap ia membatalkan pesanan,” jelas Pak Vino, si manager on duty.

“Ya tapi etikanya di mana?” Gue mendengus sebal, “Masak penumpang nggak dikasih tau? Ini pembatalan sepihak namanya!”

Raka menyentuh punggung gue, “yaudah deh Pak. Sekarang gimana caranya biar dia dapet kursi. Semua travel penuh hari ini. Bapak nggak bisa ngusahain satu kursi aja buat pacar saya?”

Pak Vino tersenyum, “sayang sekali Mas, kita udah fully booked. Mungkin Mbaknya mau saya daftarkan di waiting list untuk keberangkatan berikutnya? Jam enam sore, gimana?”

“Kenapa Bapak nggak nelponin semua penumpang yang berangkat jam enam sore? Siapa tau ada yang cancel. Kalo nggak ada, ya calon penumpang keberangkatan berikutnya yang Bapak telponin!” Gue masih nyolot bak orang kebakaran jenggot.

“ Wah, maaf sekali Mbak,” kata Pak Vino sambil merapikan kerah kemejanya, “itu di luar prosedur dan budaya perusahaan.”

“Prosedur?! Budaya?! Yang bener aja, Pak!” Gue mulai melotot marah.

“Mbak tunggu aja,” sambungnya tenang,  “keberangkatan terakhir kita ada di jam sepuluh malam kok. Biasanya pasti ada yang cancel barang satu dua orang.”

Ketenangannya membuat gue semakin naik darah. Enak aja ni orang nyuruh gue nunggu. Gue terancam nggak bisa balik ke Jakarta nih. Mana besok pagi gue ada meeting penting pula, nggak mungkin datang telat apalagi bolos.

“Ya sampe kapan saya harus nunggu? Jam sepuluh?! Belum tentu ada kan?! GILA APA?!”

BRAKK!

Emosi yang tinggi tanpa disadari mengantarkan gue untuk menggebrak meja. Air putih di gelas Pak Vino bergetar. Sehelai kertas di mejanya tampak berubah posisi setelah sempat melayang selama sepersekian detik. Suasana menjadi hening. Sangat hening. Di antara kami bertiga, tak ada yang angkat suara.

Untungnya gue nggak perlu berlama-lama menunggu. Pak Vino akhirnya setuju untuk menelpon calon penumpang di keberangkatan jam enam sore. Dan syukurlah, ada satu orang yang membatalkan pesanannya sehingga gue bisa mendaratkan pantat di kursi mobil yang empuk ini.

Tiga jam perjalanan gue isi dengan tidur lantaran lelah berkeliling kota kembang seharian bersama Raka. Ketika terbangun, gedung bioskop Slipi Jaya merupakan pemandangan pertama yang gue lihat.

Wah, udah mau sampai nih. Saatnya untuk beres-beres barang bawaan kali ya.

Jaket. Check. Dompet. Check. Oleh-oleh. Check. Telepon genggam. Check.

Lampu LED telepon genggam berkedip-kedip. Gue segera memeriksa apakah ada pesan atau panggilan tak terjawab.

Ternyata ada tiga panggilan tak terjawab. Satu dari nomor asing dan dua dari Raka. Gue segera mengirimkan pesan agar ia tak khawatir. Sekedar mengabari kalo gue udah hampir sampai, dan berjanji akan menelponnya begitu tiba di kosan.

Kening gue berkerut ketika menyadari ada SMS masuk. SMS dari nomor asing yang tadi panggilannya nggak terjawab. Ada keanehan yang gue rasakan, bukan hanya karena siapa pengirimnya, tapi juga karena isinya.

Hai Grahita. Ini Vino, yang kamu marahin 3 jam yang lalu. :P 
Cuma mau nanya, kamu udah nyampe?

Perhatian banget ni orang, sampai mengecek apakah gue udah sampai apa belum. Hmm.. mungkin ini udah jadi prosedur kali ya?

Pesannya gue balas singkat saja.

Oh, udah. Thanks.

Telepon genggam gue berdenting pelan kurang lebih tiga menit kemudian.

Baguslah kalo begitu. Maaf soal yang tadi. 
Mudah-mudahan nggak bikin kamu kapok naik travel kita ya. :)

Tuh, bener kan. Ngapain gue GR. Wong dia memang menjalankan tugasnya. Menjaga konsumen loyal agar tak pindah ke lain hati.

Tampaknya lebih dari cukup kalo gue membalas pesannya dengan lima karakter. Huruf S, kemudian U, lalu R, dan E. Tak lupa tanda titik sebagai penutup.

Selesai membalas pesan, gue mengaduk isi tempat pensil dan menemukan kunci kamar di sana. Ah, akhirnya sampai juga.

Sementara itu, 130 kilometer dari sana, Vino tersenyum lebar.

Hmmm, lumayanlah untuk langkah awal. Biar gue bisa sering-sering melihat dia di sini. Udah lama gue merhatiin dia. Tadi bahkan gue sempat memfoto dia tanpa sepengetahuannya. Gue emang bakat jadi paparazzi.

Senyum Vino semakin mengembang ketika melihat sebuah foto blur di galeri telepon genggam­nya.

Seorang lelaki berpolo shirt putih.

Raka.

-THE END-