Evergreen [Him]

Tags

, , ,

Prepared by Client:
Nuning H. Ranie (@NH_Ranie)


[Say You Love Me] Paidy Austin
Please turn around…
Have your eyes on me…
Please notice me…
Notice my presence…
Even if I turn weird, this is not just a father feeling…
Back then, maybe I just hide that certain feeling…

Memar itu lagi.

“Are u stupid.. How can a girl get scars so often?” Ucapku menilik lengan putih kemerah-merahan milik seorang gadis yang sedang duduk di hadapanku.

“Hehehee..” dia cuma nyengir seperti biasanya. Menampakkan sederetan gigi putihnya yang berbaris rapih.

Aku pun mngambil kotak P3K, menyeret gadis itu ke kursi panjang dekat jendela dan merawat lukanya. Ini bukan kali pertama aku harus membalurkan antiseptik ke lengannya. Dia selalu datang dengan memar yang berbeda, lebih sering di lengan, tapi terkadang di pundak atau bahkan wajahnya. Aku tak pernah bertanya lagi, karna tiap kali kulontarkan pertanyaan sama, dia hanya akan cengengesan seperti tadi. Really, can’t leave her alone..

“Lo baik yah…” dia berkata menatapku dengan senyuman lemah lembut. Manis. Tak pernah gagal buat salah satu sudut hatiku bergerak aneh.

“Coba cowok gw kaya lo..”

Yeah, right.. “Itu karna tiap ada beginian, lo selalu lari ke gw.. Coba lebih ngandelin dia..”

“Don’t wanna..” dia menaikkan dagu.

“Childish..” aku mengacak rambutnya, lalu bangkit mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula.

“Biarin..” kali ini dia menggigit bibirnya. “Well, it’s not like I don’t want to rely on him… I just don’t wanna bother him.”

“And you think that I’m not bothered?”

“Emang nggak kan?”

Masih berdiri, kumiringkan wajah dan menghela nafas. “Bothered, really feel bothered.”

Dia semakin merengut. Membuang pandangannya ke luar jendela.

Menggodanya seperti ini sungguh menyenangkan. Menatap kebiasannya duduk di kursi itu sambil menatap jendela. Menikmati figurnya yang bermandikan cahaya. Jauh lebih indah dari pemandangan di luar jendela itu sendiri. Aku tersenyum, sambil menyandarkan diri pada lemari.

“Cowo itu seneng kalo diandelin ama ceweknya. Kalo gw jadi cowo lo, gw sih bakal ngamuk-ngamuk tiap kali lo datengin gw kaya gini. And for him to not angry because of that, itu nunjukin kebaikan juga pengertiannya. You should cherish him the most.

I do! But, I’m just scared… I mean, semua orang pasti pengen terlihat sempurna di depan orang yang mereka suka kan? Kalo gw ngerepotin terus, gw takut dia bakal bosen en ninggalin gw..”

“Dan lo gak takut, kalo gw bakal bosen en ninggalin lo?”

“You won’t!” dia membalikkan wajah, dan menatapku tajam.

“How so?” Tanyaku, sambil menatap lurus matanya.

“Karna lo baik…”

Aku menghela nafas.

“Begitu pun cowo lo. Kalo dia gak baik, lo gak bakal suka ama dia kan? Lo harus lebih percaya ama cowo lo. Semua orang seneng diandelin ama orang yang mereka suka.”

Dia terdiam. Aku menghela nafas lagi

“Ko lo terus-terusan hela nafas sihh? Dasar kakek tua.. I’m the one who choose who I want to rely on. And you..,” dia menatapku tajam, “are not allowed to leave me.” Ujarnya sambil menaikkan kaki ke kursi, dan memeluknya erat. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Selfish..

“Biarin..”

Aku pun mendekatinya, ikut duduk di kursi itu sambil menatap ke luar jendela. Menikmati awan, dan entah apa lagi, yang bisa samarkan senyum yang tak bisa berhenti tersemat ini.

If to love is to live in you more than in myself, to hide great weariness under a mask of joy, to feel in the depths of my soul the odds against which I fight, to be hot and cold as the fever of love takes me, To be ashamed, when I speak to you, to confess my pain – if that is to love, then I love you furiously, I love you, knowing full well my pain is deadly. The heart says so often enough; the tongue is silent.
— [Taken from Sonnets pour Hélène by Pierre de Ronsard (1524-1585)]

-THE END-

Jodohku, Piye?

Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

“Dengan ini saya terima nikahnya Sri Nikmah Binti Abdul Muin dengan mas kawin emas sebesar 20 gram diterima tunai”

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah. Sah”

Suara para hadirin yang memenuhi perhelatan akad nikah di dalam masjid bernuansa hijau ini terdengar riuh. Tidak sedikit yang bertepuk tangan merayakan keberhasilan sang mempelai pria mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Ucapan sah itu juga menandakan Sri, sahabat gue, per detik ini resmi melepaskan status lajangnya.

Dan Sri adalah orang ketiga yang menikah setelah Fina dan Rasya, sahabat gue yang lain, yang lebih dulu menikah dua tahun lalu. Tinggal tersisa gue dan Sita yang lajang. Kami berlima sudah bersahabat dekat sejak masih berseragan putih biru. Sejak kami berlima mengalami menstruasi pertama kami!

Awalnya gue masih merasakan kebahagian luar biasa sewaktu Fina dan Rasya menikah. Sedikit merasa kehilangan karena setelah menjadi istri yang langsung hamil, mereka berdua hampir ngga pernah lagi hang out bersama gue, Sri, dan Sita. Tapi sejak Sri mengumumkan rencana pernikahannya, kata yang pertama gue ucapkan dalam hati adalah “Crap!”. Well, it’s a super crap actually.”Rasa was-was mulai menyerang gue. Di antara kami berlima, artinya tinggal gue dan Sita yang melajang, di umur kami yang sudah berada di penghujung 20.

Tapi setidaknya Sita saat ini memiliki kekasih. Besar kemungkinannya dia lah yang akan menerima piala bergilir pernikahan berikutnya. Sedangkan gue? Not in a relationship with anyone! So, does it mean that I’ll be the last single on our gang?

OMGRRS! Oh My God, Run Run Small. Iki piye. Iki piye. Iki piye. Jodoh mana jodoh? Sesak seketika gue rasa. Tapi gue langsung sadar, sesak ini lebih karena korset gue sih. Pfft.

“Ta, kapan Edo mau nikahin lo? Udah ada omongan belum?” tanya gue gelisah. Raut muka Sita berubah masam. Apakah artinya masih belum jelas? Yes. Berarti gue masih aman.

“Doain aja tahun depan deh.” jawabnya kemudian.

Hah? Tahun depan? Artinya gue ada waktu 1 tahun untuk segera mencari calon suami. Setahun cukup ngga tuh? Dan sungguh gue sangat takut. Takut menjadi yang terakhir. Untuk itu, kali ini gue harus serius. Tidak besok, tidak nanti. Tapi sekarang.

Gue memasukkan keyword ‘pria mapan siap menikah’ ke dalam otak. Lalu tekan tombol SEARCH. Kemudian mata gue dengan cekatan menelusuri segala penjuru ruangan tempat berlangsungnya akad nikah ini. Arah jam 12, ganteng sih tapi bibirnya kenapa merah banget. Bisa-bisa nanti kami malah berbagi lipstick. Bulu kuduk gue berdiri seketika. Merinding.

Arah jam 3. Gagah juga dengan balutan batik casual. Baru saja gue putuskan untuk mendekatinya, lalu ada seorang wanita tinggi jenjang menghampirinya. Memakai batik dengan motif yang sama dengan pria itu. Suami istri rupanya.

Zero result.

Ini shit banget.

Dengan terburu-buru gue mengeluarkan blackberry dari clutch yang berwarna senada dengan kebaya yang gue kenakan. Hampir saja gue mengirimkan broadcast message “Hai, mau menikah sama aku?” ke seluruh pria di kontak BBM gue. Itung-itung, sekalian tes pasar. Selaku apa ya gue kalau dipasarkan? Ish, emangnya gue produk apa. Anyway, gue juga ngga se-desperate itu sih. Jadi gue urungkan saja niat nekat gue yang terkesan murahan itu. Kecewa dengan harapan yang tak tercapai, sepanjang sisa acara gue hanya bisa menunduk lesu.

Sembilan bulan setelah pernikahan Sri, keadaan masih tidak ada yang berubah. Kecuali perut Sri yang membuncit, karena dia pun termasuk wanita yang beruntung langsung dianugerahi kehamilan setelah menikah. Beberapa minggu lagi ia akan melahirkan. Sita dan kekasihnya masih baik-baik saja, bahkan sepertinya mereka sudah mulai merancang pernikahan.

Sedangkan gue, masih juga sendiri. Padahal usaha gue sudah cukup lumayan. Mulai dari aktif bermain Facebook lagi, siapa tau ada teman lama yang bernasib sama. Tapi foto profile teman-teman gue malah sudah berubah menjadi gambar seorang bayi mungil. Foto anak-anak mereka rupanya. Sampai menjadi member di salah satu fitness club di Jakarta. Pasti banyak banget cowo keren dengan badan tegap dan perut six pack, ‘rebah-able’ banget kan pasti. Tapi yang terjadi adalah gue banyak mendapat teman baru gay. But they’re really women’s best friends actually. Cuma jeleknya, gue malah bersaing ‘ngegebet’ cowo keren dengan para gay itu. Dan seringnya, gue kalah.

Ya Tuhan, semakin banyaknya pria-pria penyuka sejenis ini apakah pertanda dunia segera kiamat? Jika ya, kumohon jangan akhiri dunia ini sebelum aku mengakhiri masa lajangku. Amiin.

All single ladies, all the single ladies. Now put your hands up.

Suara Beyonce melengking terdengar dari blackberry gue, bunyi nada panggilan telepon masuk. Sebuah nama menghiasi layar handphone yang masih awet meski sudah berusia tiga tahun lebih. Suaminya Sri. Jangan-jangan sudah waktunya Sri melahirkan.

Benar saja. Sri akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang tampan dan membuat siapa saja jatuh cinta.

Aga. Sosok yang membuat gue bahagia beberapa bulan setelah Sri melahirkan. Bukan, ia bukan bayinya Sri yang lucu itu. Dia seorang pria berusia awal 30-an yang gue temui di rumah sakit. Adik perempuannya juga melahirkan dan dirawat di ruang yang sama dengan Sri. Sama-sama menjadi penjaga ibu baru melahirkan membuat kami berkenalan dan sering bercakap-cakap. Lalu semuanya mengalir begitu saja dengan cepat. Belum juga berganti lembar kalender, Aga sudah menyatakan niatnya untuk menjalin hubungan lebih dari pertemanan.

“Aku tak tau kita berjodoh atau tidak pada akhirnya. Yang ku tau saat ini kamu lah takdirku” ucapnya dengan senyuman termanis yang membuat jantung gue seperti mau melompat keluar dari tubuh gue.

Lampu notifikasi blackberry warna merah berkedip-kedip, mengalihkan gue yang sedang tidur-tiduran. Gue sedang melamun di 4 x 4 meter yang penuh dengan dekorasi bernuansa jerapah. Sebuah kamar yang disebut sebagai kandang jerapah oleh para sahabat gue. Sudah hampir menjelang dini hari tapi gue masih ingin terjaga, karena realita jauh lebih membahagiakan dari mimpi gue selama ini. Itu mengapa gue ngga ada hentinya tersenyum-senyum sendiri. Mengingat kejadian malam tadi saat Aga ‘nembak’ gue.

Ternyata sebuah pesan BBM. Dari Sita.

Sita: Ayuuuuu... Udah tidur? Need someone to talk. 
Gue: Kenapa, Ta?
Sita: Gue baru putus. Edo balikan lagi sama mantannya. 
Kampreeeet.

Apa? Putus? Berarti ngga jadi nikah dong? Wah, berarti gue ngga jadi yang paling terakhir kan! Yes! Serta merta gue mengepalkan tangan ke udara.

La la la la. Ye ye ye ye.

Sita: Yuuu, are you there?
Sita: PING!
Gue: Iya iya, Ta. Sori gue shock banget tadi dengarnya. 
Sabar ya :(

Maaf ya, Ta. Teman lo ini egois sekali. Akhirnya lo akan merasakan yang gue rasakan setahun terakhir ini hihi. *smile like devil*

-THE END-

Sebuah Malam di Thamrin

Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Roy Saputra (@saputraroy

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Gedung BI menjulang megah di sisi kiri. Departemen Agama berdiri di sebelah kanan. Para karyawan kedua instasi negara ini sudah pulang dari petang. Mobil lalu lalang di depan mata. Jalur busway bersih dari kontaminasi mobil pribadi.

Trotoar Thamrin ramai oleh calon penumpang yang sedang menunggu bus langganannya lewat. Berteduh di bawah pohon-pohon rindang yang ditanam di antara beton pelapis sisi jalan. Pedagang kopi bersepeda menjadi ornamen tersendiri bagi trotoar Thamrin. Lampu-lampu jalanan jadi penerang nomor satu. Memberi cahaya pada langit Jakarta yang sudah tak berbintang dari dulu.

Sebuah Kopaja seliweran tak beratturan. Sang kondektur yang berseragam menjajakan tujuan akhir dari rutenya. Tenabang, Tenabang. Begitu katanya. Seolah mengatakan Tanah Abang secara lengkap bisa membuatnya sesak napas. Kopaja itu lalu berkelok cepat di tikungan Departemen Agama. Si supir seperti lupa apa itu pedal rem.

Aku berdiri di situ. Di antara gedung BI dan Departemen Agama. Di bawah lampu jalanan dekat tikungan Kopaja tadi berbelok. Berkemeja dengan lengan dilipat, tas kugendong di belakang, dan sepasang earphone menggantung di telinga.

Mataku fokus melihat ke depan. Menatap plang biru Bangkok Bank yang ada di seberang jalan sana. Menanti mobil dari arah Sudirman dan sebaliknya berhenti melintas. Tepat di sebelahku, motor-motor juga sedang menunggu. Gas mereka tarik dalam posisi gigi netral. Seakan mereka pembalap yang sedang menanti aba-aba.

Yang aku dan mereka tunggu hanya satu. Detik lampu lalu lintas, berubah dari merah jadi hijau. Karena ketika itu, motor akan meliar, mobil pasti memadati jalan Kebun Sirih, dan aku bisa menyebrang jalan dan bertanya pada seseorang di sana. Seseorang yang kusebut mantan.

Ia sedang berdiri dengan blazer hitam dan celana panjang. Mendekap tas di depan, seperti terakhir kali dia mengucap pisah. Entah ia tau atau tidak keberadaanku yang sedang mengamatinya dari jauh. Perjumpaan tak sengaja ini tak akan kusiakan. Akan kutanya satu hal yang dari dulu menggangguku.

Kenapa kita putus?

Waktu ia mengucap pisah, itu hanya lewat pesan singkat. Kubalas dengan geram namun tak ada balasan. Ditelpon pun tak diangkat. Entah apa maunya. Setelah hari itu, tak ada kabar berita. Kutanya temannya, semua enggan menjawab. Kudatang ke rumahnya, tak ada yang membukakan pintu. Ia bagai hilang begitu saja. Namun, dua purnama kemudian, aku tak sengaja melihatnya.

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Entah siap atau tidak, aku ingin mendengar darinya langsung tentang kenapa kita putus. Lebih baik hidup menderita karena kejujuran daripada mati menyesal penasaran. Malam ini, akan ku dapat jawab darinya.

Ah.

Yang ditunggu tiba juga. Lampu lalu lintas berubah jadi hijau.

Dan aku menyebrang jalan.

Jangan Pilih Sembarangan (Tentukan Sendiri Ending-nya)

Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Shalin. Perempuan berusia 18 tahun yang sesaat lagi segera merayakan kebebasan dari seragam putih abu-abu. Dia sedang kebingungan menentukan 3 jurusan yang jika diproratakan, memiliki tingkat kesukaan dengan presentasi yang sama besar yaitu 33.33%. Jurusan tersebut adalah Sastra Inggris, Kedokteran, dan Administrasi Fiskal. Bahasa, IPA, dan IPS. Ketiga jurusan dengan  jenis intelegensia yang sangat berbeda.

Tapi alasan Shalin menyukai ketiga jurusan itu sih sebenarnya simple. Pertama, dia ngga mau pisah kampus sama pacarnya, Rocki, yang tiada dua gantengnya bagi Shalin. Rocki sangat menyukai bahasa Inggris dan ingin serius mendalami bahasa Pangeran William itu. Rasa takut kehilangan cowok yang disayanginya itu membuat Shalin semangat juga belajar bahasa Inggris, demi bisa jebol ujian masuk salah perguruan tinggi yang sama dengan yang diminati Rocki.

Layaknya banyak anak kecil yang jika ditanya ‘Kalau sudah gede mau jadi apa?”, Shalin pun dengan mantab menjawab “Dokter dong.” Cita-cita mulianya ini sudah tercium oleh orang tuanya sejak Shalin bocah yang senang mengkoleksi handyplast, salah satu band-aid yang kini dikenal dengan sebutan hansaplast. Sebenarnya mudah saja bagi Shalin mewujudkan mimpinya. Dia memiliki nilai pelajaran IPA yang sangat baik, terutama Biologi. Tetapi keyakinan kuliah di Kedokteran tergoyahkan oleh keinginan mendalami sastra Ingris demi kekasih dan satu hal lainnya.

Shalin juga mengagumi sang Ibu yang sukses sebagai konsultan pajak. Kalau dia serius menekuni perpajakan, Ibunya sudah memberikan garansi untuk bekerja di kantor Ibunya setelah lulus nanti. Sungguh ketiganya pilihan yang sulit bukan?

Life is a choice. Pilihan saat ini menetukan masa depan nanti. Kira-kira jurusan apa yang akan dipilih Shalin? Masa depan seperti apa yang akan dijalani Shalin berdasarkan ketiga jurusan tersebut? Ending cerita hidup Shalin berada di pilihan anda. Pilihlah salah satunya.

Shalin memilih jurusan Sastra Inggris.

Betapa bahagia hidupnya selalu berdekatan dengan kekasihnya, Rocki. Memiliki pacar ganteng memang harus ekstra hati-hati menjaganya. Terlebih banyak senior perempuan yang terang-terangan menggodanya. Lama-lama, Shalin stes sendiri. Dia ngga bisa terus-terusan mengintil Rocki. Karena ternyata Rocki pun juga mulai gerah. Pertengkaran demi pertengkaran tak terhindarkan. Empat tahun di kampus sastra mereka lalui dengan hubungan on-off. Menjelang kelulusan, mereka sepakat untuk pisah baik-baik. Shalin sendiri bekerja menjadi penerjemah di salah satu penerbit besar di Jakarta. Sementara Rocki meneruskan studi S2nya dengan beasiswa ke Inggris yang berhasil ia dapatkan. Setelah dua tahun bekerja di penerbit itu, ia bertemu dengan seorang penulis novel komedi muda, Reza, yang tidak tampan tapi sangat yakin kalau dirinya tampan. Pria yang menyenangkan. Mereka menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya sebelum akhirnya menikah.

Shalin memilih jurusan Kedokteran.

Tahun-tahun pertama berjuang di fakultas kedokteran sangat berat. Tugas, praktikum, dan masih banyak lagi kegiatan di kampus sangat menyita waktu Shalin. Apa daya hubungannya dengan Rocki kandas juga di tengah jalan. Boro-boro memikirkan pacaran, diri sendiri saja ngga keurus. Tapi satu hal, Shalin sangat menikmati hidupnya. Inilah passion-nya. Dia tidak merasakan stres dan tetap bahagia walau jomblo sampai lulus KOAS. Menjalani praktek pertama sebagai dokter muda di Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu. Bayangkan, gadis metropolitan ini harus melewati hidup di kota kecil selama dua tahun lamanya. Ketika akhirnya kembali ke Jakarta dan bertugas di salah suatu rumah sakit swasta terkemuka, Shalin terlibat cinta lokasi dengan salah seorang dokter yang berusia 6 tahun di atasnya, Redi namanya. Kesibukan membuatnya lupa mencari jodoh. Mungkin bukan sibuk, dia hanya menunggu kedatangan Shalin dalam hidupnya. Wanita yang kelak memberikan keturunan untuknya.

Shalin memilih jurusan Administrasi Fiskal.

Ternyata pajak susah! Setengah mati Shalin harus menghapalkan berbagai ketentuan perpajakan. Untung saja ia memiliki tentor setia, yaitu Ibunya. Contoh-contoh kasus tugas kuliahnya dapat diselesaikan dengan bantuan Ibunya. Hubungannya dengan Rocki juga lancar, apalagi kampus mereka berdekatan. Berhasil menyelesaikan studinya, Shalin pun langsung bekerja di kantor Ibunya. Menjadi wanita kantoran di usia muda sungguh menyenangkan bagi Shalin. Namun hubungannya dengan Rocki harus kandas setelah Rocki melanjutkan studinya ke Inggris. Dia mendapatkan beasiswa karena prestasi di kampusnya yang membanggakan. Mereka berpisah demi kebaikan masing-masing. Rocki tidak ingin Shalin menunggunya. Long Distance Relationship adalah hubungan yang mereka ingin hindari. Kenyataannya, meski berpisah mereka tetap rajin berkomunikasi. Shalin yang menjalin kedekatan dengan beberapa pria malah menjadikan Rocki seagai tempat curhat. Dua tahun di Inggris tidak membuat Rocki lupa kampung halamannya. Ia pulang ke Indonesia untuk masa depannya yang ingin ia habiskan di negara kelahirannya itu. Bersama wanita yang selalu dicintainya, Shalin.

Jodoh anda ditentukan sejak memilih jurusan kuliah – @pervertauditor

-THE END-

Manusia Zaman Batu

Tags

, , ,

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Hari ini saatnya gue belajar mata pelajaran Sejarah Manusia Abad 21. Dan tadi gue bangun kesiangan, jadi agak telat sign in di virtual college modul. Dosen dan semua mahasiswa sudah lengkap ketika gue bergabung di kelas ini.

Ding!

Sebuah broadcast message muncul di dinding kamar yang gue jadiin layar komputer. Melihat ID dan wajah pengirimnya aja udah bikin gue mules.

Bapak Dosen Killer yang Suka Ngiler:
Grahita. Kemana saja kamu? Terlambat lagi, terlambat lagi.

Zzzzz si bapak ini yah. Kenapa harus di broadcast message sih? Kenapa nggak personal message aja? Bikin malu aja deh. Gengsi kan sama Raka, gebetan gue yang gantengnya bikin garuk-garuk meja.

Hmmm… tapi masih untung sih dia nggak melakukan broadcast video call. Bisa keliatan muka malu gue diomelin sama dia di depan para mahasiswa lain. Ehem, di depan Raka maksudnya.

Kuliah Sejarah hari ini membahas peralatan elektronik yang digunakan oleh manusia abad 21. Gue hanya bisa prihatin melihat peralatan yang mereka gunakan. Masak mereka harus membawa laptop, handphone, dan MP3 untuk fungsi yang berbeda? Sementara sekarang, hanya butuh satu alat kompak yang disebut handtool. Berukuran seperti handphone manusia abad 21, namun bisa dipakai sebagai laptop juga. Tinggal pilih menu laptop, maka akan bisa menyulap permukaan datar vertikal sebagai layar, dan permukaan datar horizontal sebagai keyboard. Dan lagi, walaupun alat ini sedang berfungsi sebagai laptop, bukan berarti ia nggak bisa dipakai sebagai telepon dan MP3.

Parahnya lagi, baterai peralatan elektronik manusia abad 21 hanya tahan satu hari! Demi semua dewa dewi, satu hari! Bahkan tak jarang, baterainya hanya tahan setengah hari. Mereka harus bolak-balik mengisi ulang baterai ke stop kontak listrik terdekat. Kasihan banget. Gue yang harus ngisi ulang baterai setahun sekali aja udah misuh-misuh kalau saatnya tiba.

Yang lebih kasihan adalah, jaringan internet hanya bisa diakses di tempat-tempat tertentu atau dengan menggunakan alat khusus. Namanya wi-fi dan modem. Sementara sekarang udah ada global internet. Setiap titik di muka bumi mendapatkan akses internet, tanpa terkecuali.

Hhhhh… Wajar sih. Toh itu peradaban tiga abad yang lalu. What do I expect?

Gue menarik napas lega ketika mata kuliah ini berakhir. Sekarang saatnya bertemu dengan teman-teman. Secara kita udah janjian untuk ngopi-ngopi lucu di café langganan. Tepatnya di lantai 151 salah satu gedung pencakar langit di Thamrin.

Dengan malas, gue merayap ke arah garasi tempat Bibo disimpan. Ia mobil kesayangan gue. Warnanya kuning cerah, favorit gue banget.

Gue memasukkan tujuan Thamrin dari Grogol. Dan berdasarkan petunjuk GPS si Bibo, jalan terdekat yang bisa gue dapatkan hanyalah dengan cara terbang melewati Roxy dan mulai turun di Harmoni, karena jalan darat dari Harmoni ke Thamrin terpantau ramai lancar. Untung aja rute kali ini nggak perlu lewat Kali Grogol. Terakhir Si Bibo disuruh berenang di kali dekil itu, ia ngambek abis-abisan. Gue terpaksa membelikan oli paling mahal untuk cemilan sorenya.

Auto-driver Si Bibo gue set on. Waktu perkiraan sampai di tempat tujuan adalah 22 menit 8 detik. Saatnya meluruskan kaki sambil melanjutkan membaca novel yang gue beli semalam. Gue mengeluarkan handtool, mengarahkan lampu sorot ke arah dashboard, lalu mengatur luas permukaan novel agar bisa nyaman dibaca.

Ketika mendarat di Harmoni, gue melihat ada sebuah kios bertuliskan “Jual Es Potong”. Penampilan kiosnya sangat klasik, persis seperti arsitektur tahun 2000-an awal yang sering gue liat di mata kuliah Sejarah.

Gue memutuskan untuk membeli sepotong. Harganya 2 Point. Murah. Sama seperti harga sepiring nasi instant.

Tas gue aduk-aduk, namun gak menemukan Pay Card di sana. Pay Card ini semacam kartu pembayaran yang berlaku di dunia internasional. Hanya ada satu mata uang di dunia, Point. Dan satu kartu pembayaran, Pay Card, untuk semua jenis transaksi di seluruh dunia, tanpa terkecuali.

Mbak penjaga kios es potong hanya melihat prihatin ke arah gue yang membatalkan pembelian karena nggak menemukan Pay Card di dalam tas. Setelah gue deteksi dari handtool melalui nomor kartunya, ia ternyata tersimpan manis di tas yang lain.

Huh sebal.

Kalau gue tinggal di abad 21 sih, gue bisa mengorek tas dan mungkin menemukan uang logam di sana. Jadi kan gue nggak perlu repot pulang hanya sekadar untuk mengambil Pay Card.

Dan kalau dilihat dari penampilannya, gue yakin si Mbak penjaga kios ini suka berdandan. Ia pasti bersedia membarter lima es potong dengan lipbalm strawberry milik gue.

Gue jadi bertanya-tanya, apakah gue lebih cocok hidup di zaman batu? Di mana manusia bertransaksi dengan tukar-menukar barang dan jasa?

-THE END-