Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Roy Saputra (@saputraroy

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Gedung BI menjulang megah di sisi kiri. Departemen Agama berdiri di sebelah kanan. Para karyawan kedua instasi negara ini sudah pulang dari petang. Mobil lalu lalang di depan mata. Jalur busway bersih dari kontaminasi mobil pribadi.

Trotoar Thamrin ramai oleh calon penumpang yang sedang menunggu bus langganannya lewat. Berteduh di bawah pohon-pohon rindang yang ditanam di antara beton pelapis sisi jalan. Pedagang kopi bersepeda menjadi ornamen tersendiri bagi trotoar Thamrin. Lampu-lampu jalanan jadi penerang nomor satu. Memberi cahaya pada langit Jakarta yang sudah tak berbintang dari dulu.

Sebuah Kopaja seliweran tak beratturan. Sang kondektur yang berseragam menjajakan tujuan akhir dari rutenya. Tenabang, Tenabang. Begitu katanya. Seolah mengatakan Tanah Abang secara lengkap bisa membuatnya sesak napas. Kopaja itu lalu berkelok cepat di tikungan Departemen Agama. Si supir seperti lupa apa itu pedal rem.

Aku berdiri di situ. Di antara gedung BI dan Departemen Agama. Di bawah lampu jalanan dekat tikungan Kopaja tadi berbelok. Berkemeja dengan lengan dilipat, tas kugendong di belakang, dan sepasang earphone menggantung di telinga.

Mataku fokus melihat ke depan. Menatap plang biru Bangkok Bank yang ada di seberang jalan sana. Menanti mobil dari arah Sudirman dan sebaliknya berhenti melintas. Tepat di sebelahku, motor-motor juga sedang menunggu. Gas mereka tarik dalam posisi gigi netral. Seakan mereka pembalap yang sedang menanti aba-aba.

Yang aku dan mereka tunggu hanya satu. Detik lampu lalu lintas, berubah dari merah jadi hijau. Karena ketika itu, motor akan meliar, mobil pasti memadati jalan Kebun Sirih, dan aku bisa menyebrang jalan dan bertanya pada seseorang di sana. Seseorang yang kusebut mantan.

Ia sedang berdiri dengan blazer hitam dan celana panjang. Mendekap tas di depan, seperti terakhir kali dia mengucap pisah. Entah ia tau atau tidak keberadaanku yang sedang mengamatinya dari jauh. Perjumpaan tak sengaja ini tak akan kusiakan. Akan kutanya satu hal yang dari dulu menggangguku.

Kenapa kita putus?

Waktu ia mengucap pisah, itu hanya lewat pesan singkat. Kubalas dengan geram namun tak ada balasan. Ditelpon pun tak diangkat. Entah apa maunya. Setelah hari itu, tak ada kabar berita. Kutanya temannya, semua enggan menjawab. Kudatang ke rumahnya, tak ada yang membukakan pintu. Ia bagai hilang begitu saja. Namun, dua purnama kemudian, aku tak sengaja melihatnya.

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Entah siap atau tidak, aku ingin mendengar darinya langsung tentang kenapa kita putus. Lebih baik hidup menderita karena kejujuran daripada mati menyesal penasaran. Malam ini, akan ku dapat jawab darinya.

Ah.

Yang ditunggu tiba juga. Lampu lalu lintas berubah jadi hijau.

Dan aku menyebrang jalan.