Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

“Dengan ini saya terima nikahnya Sri Nikmah Binti Abdul Muin dengan mas kawin emas sebesar 20 gram diterima tunai”

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah. Sah”

Suara para hadirin yang memenuhi perhelatan akad nikah di dalam masjid bernuansa hijau ini terdengar riuh. Tidak sedikit yang bertepuk tangan merayakan keberhasilan sang mempelai pria mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Ucapan sah itu juga menandakan Sri, sahabat gue, per detik ini resmi melepaskan status lajangnya.

Dan Sri adalah orang ketiga yang menikah setelah Fina dan Rasya, sahabat gue yang lain, yang lebih dulu menikah dua tahun lalu. Tinggal tersisa gue dan Sita yang lajang. Kami berlima sudah bersahabat dekat sejak masih berseragan putih biru. Sejak kami berlima mengalami menstruasi pertama kami!

Awalnya gue masih merasakan kebahagian luar biasa sewaktu Fina dan Rasya menikah. Sedikit merasa kehilangan karena setelah menjadi istri yang langsung hamil, mereka berdua hampir ngga pernah lagi hang out bersama gue, Sri, dan Sita. Tapi sejak Sri mengumumkan rencana pernikahannya, kata yang pertama gue ucapkan dalam hati adalah “Crap!”. Well, it’s a super crap actually.”Rasa was-was mulai menyerang gue. Di antara kami berlima, artinya tinggal gue dan Sita yang melajang, di umur kami yang sudah berada di penghujung 20.

Tapi setidaknya Sita saat ini memiliki kekasih. Besar kemungkinannya dia lah yang akan menerima piala bergilir pernikahan berikutnya. Sedangkan gue? Not in a relationship with anyone! So, does it mean that I’ll be the last single on our gang?

OMGRRS! Oh My God, Run Run Small. Iki piye. Iki piye. Iki piye. Jodoh mana jodoh? Sesak seketika gue rasa. Tapi gue langsung sadar, sesak ini lebih karena korset gue sih. Pfft.

“Ta, kapan Edo mau nikahin lo? Udah ada omongan belum?” tanya gue gelisah. Raut muka Sita berubah masam. Apakah artinya masih belum jelas? Yes. Berarti gue masih aman.

“Doain aja tahun depan deh.” jawabnya kemudian.

Hah? Tahun depan? Artinya gue ada waktu 1 tahun untuk segera mencari calon suami. Setahun cukup ngga tuh? Dan sungguh gue sangat takut. Takut menjadi yang terakhir. Untuk itu, kali ini gue harus serius. Tidak besok, tidak nanti. Tapi sekarang.

Gue memasukkan keyword ‘pria mapan siap menikah’ ke dalam otak. Lalu tekan tombol SEARCH. Kemudian mata gue dengan cekatan menelusuri segala penjuru ruangan tempat berlangsungnya akad nikah ini. Arah jam 12, ganteng sih tapi bibirnya kenapa merah banget. Bisa-bisa nanti kami malah berbagi lipstick. Bulu kuduk gue berdiri seketika. Merinding.

Arah jam 3. Gagah juga dengan balutan batik casual. Baru saja gue putuskan untuk mendekatinya, lalu ada seorang wanita tinggi jenjang menghampirinya. Memakai batik dengan motif yang sama dengan pria itu. Suami istri rupanya.

Zero result.

Ini shit banget.

Dengan terburu-buru gue mengeluarkan blackberry dari clutch yang berwarna senada dengan kebaya yang gue kenakan. Hampir saja gue mengirimkan broadcast message “Hai, mau menikah sama aku?” ke seluruh pria di kontak BBM gue. Itung-itung, sekalian tes pasar. Selaku apa ya gue kalau dipasarkan? Ish, emangnya gue produk apa. Anyway, gue juga ngga se-desperate itu sih. Jadi gue urungkan saja niat nekat gue yang terkesan murahan itu. Kecewa dengan harapan yang tak tercapai, sepanjang sisa acara gue hanya bisa menunduk lesu.

Sembilan bulan setelah pernikahan Sri, keadaan masih tidak ada yang berubah. Kecuali perut Sri yang membuncit, karena dia pun termasuk wanita yang beruntung langsung dianugerahi kehamilan setelah menikah. Beberapa minggu lagi ia akan melahirkan. Sita dan kekasihnya masih baik-baik saja, bahkan sepertinya mereka sudah mulai merancang pernikahan.

Sedangkan gue, masih juga sendiri. Padahal usaha gue sudah cukup lumayan. Mulai dari aktif bermain Facebook lagi, siapa tau ada teman lama yang bernasib sama. Tapi foto profile teman-teman gue malah sudah berubah menjadi gambar seorang bayi mungil. Foto anak-anak mereka rupanya. Sampai menjadi member di salah satu fitness club di Jakarta. Pasti banyak banget cowo keren dengan badan tegap dan perut six pack, ‘rebah-able’ banget kan pasti. Tapi yang terjadi adalah gue banyak mendapat teman baru gay. But they’re really women’s best friends actually. Cuma jeleknya, gue malah bersaing ‘ngegebet’ cowo keren dengan para gay itu. Dan seringnya, gue kalah.

Ya Tuhan, semakin banyaknya pria-pria penyuka sejenis ini apakah pertanda dunia segera kiamat? Jika ya, kumohon jangan akhiri dunia ini sebelum aku mengakhiri masa lajangku. Amiin.

All single ladies, all the single ladies. Now put your hands up.

Suara Beyonce melengking terdengar dari blackberry gue, bunyi nada panggilan telepon masuk. Sebuah nama menghiasi layar handphone yang masih awet meski sudah berusia tiga tahun lebih. Suaminya Sri. Jangan-jangan sudah waktunya Sri melahirkan.

Benar saja. Sri akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang tampan dan membuat siapa saja jatuh cinta.

Aga. Sosok yang membuat gue bahagia beberapa bulan setelah Sri melahirkan. Bukan, ia bukan bayinya Sri yang lucu itu. Dia seorang pria berusia awal 30-an yang gue temui di rumah sakit. Adik perempuannya juga melahirkan dan dirawat di ruang yang sama dengan Sri. Sama-sama menjadi penjaga ibu baru melahirkan membuat kami berkenalan dan sering bercakap-cakap. Lalu semuanya mengalir begitu saja dengan cepat. Belum juga berganti lembar kalender, Aga sudah menyatakan niatnya untuk menjalin hubungan lebih dari pertemanan.

“Aku tak tau kita berjodoh atau tidak pada akhirnya. Yang ku tau saat ini kamu lah takdirku” ucapnya dengan senyuman termanis yang membuat jantung gue seperti mau melompat keluar dari tubuh gue.

Lampu notifikasi blackberry warna merah berkedip-kedip, mengalihkan gue yang sedang tidur-tiduran. Gue sedang melamun di 4 x 4 meter yang penuh dengan dekorasi bernuansa jerapah. Sebuah kamar yang disebut sebagai kandang jerapah oleh para sahabat gue. Sudah hampir menjelang dini hari tapi gue masih ingin terjaga, karena realita jauh lebih membahagiakan dari mimpi gue selama ini. Itu mengapa gue ngga ada hentinya tersenyum-senyum sendiri. Mengingat kejadian malam tadi saat Aga ‘nembak’ gue.

Ternyata sebuah pesan BBM. Dari Sita.

Sita: Ayuuuuu... Udah tidur? Need someone to talk. 
Gue: Kenapa, Ta?
Sita: Gue baru putus. Edo balikan lagi sama mantannya. 
Kampreeeet.

Apa? Putus? Berarti ngga jadi nikah dong? Wah, berarti gue ngga jadi yang paling terakhir kan! Yes! Serta merta gue mengepalkan tangan ke udara.

La la la la. Ye ye ye ye.

Sita: Yuuu, are you there?
Sita: PING!
Gue: Iya iya, Ta. Sori gue shock banget tadi dengarnya. 
Sabar ya :(

Maaf ya, Ta. Teman lo ini egois sekali. Akhirnya lo akan merasakan yang gue rasakan setahun terakhir ini hihi. *smile like devil*

-THE END-