• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Category Archives: Cerita Cinta

Short Stories about Love

Evergreen [Us]

22 Sunday Jul 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@NH_Ranie, cerita cinta, cerpen, Nuning H Ranie

Prepared by Client:
Nuning H. Ranie (@NH_Ranie)

Dalam bayanganku, kita akan duduk berhadap-hadapan. Di tempat yang sama, pada jam yang biasanya. Kau akan bercerita tentang perjalananmu, dan aku akan bercerita tentang film yang baru saja kutonton.

Sendiri. Ya, akhir-akhir ini aku mencoba mengembalikan beberapa kebiasaan yang sering kulakukan sendiri. Menikmati cinema 21 sendiri, makan malam di mall sendiri, bahkan pergi ke beberapa tempat sendiri.

Aku membiasakan diri ini kembali ke kehidupan lamanya yang selalu sendiri.

Dan jelas seharusnya kau tak perlu menanyakan alasannya, karna aku yakin kau sudah mengerti. Selama ini kau tahu bukan?

Mata yang selalu mengikuti kemanapun sosokmu berada. Telinga yang tak letih mendengar setiap kalimat yang kau ucapkan. Serta raga yang tak pernah bisa berhenti memaksakan diri tuh menemanimu dalam malam-malam sepi.

Mungkin aku memang tak pernah mengungkapkannya secara jelas, tapi kau tahu alasan di balik semua sikapku dengan jelas.

Maka ketika mulanya kau bertanya dengan nada itu, kenapa aku memilih menonton film sendiri daripada menunggumu datang tuk menemani, aku hanya bisa terdiam.

Pun ketika akhirnya pertanyaan yang kuyakin akan datang malam ini ternyata terlontar dengan cara yang paling tidak kuinginkan, aku pun semakin terdiam.

Hey, why must you say it so eloquently cruel?

Suhu tubuhku menurun demi bekukan tangis yang seharusnya pecah, dan amarah yang terasa ingin membuncah. Aku menggigil. Harga diriku meluruh dan terbeku dengan bentuk yang tak ingin kusentuh. Aku menggigil. Bersama rasa jijik yang mengikis habis hatiku.

I know this will come. But I’m not expecting this will come in such a way.

Akhh…

Seandainya kau tahu, skenario yang kurangkai sesungguhnya jauh lebih sederhana.

Kau ingat dua cerita yang kututurkan padamu malam sebelumnya? Itu bukanlah kisah yang kuungkap tanpa makna. Ada misi di dalamnya yang aku rasa kau pun telah menangkapnya. Buktinya, kau merelakan diri menepis rasa letih dari perjalanan panjangmu hanya untuk mengklarifikasi semuanya bukan?

Aku telah memperhitungkan itu. Hanya saja dalam skenarioku, mulanya kau akan bertanya apakah dua cerita yang kubuat itu adalah kisah nyata tentang diriku?

Dan aku akan menjawab ya.

Lalu, kau akan bertanya apakah inti dua cerita itu ada kaitannya denganmu?

Lagi, aku akan menjawab ya. Dan sebelum kau sempat bertanya lebih jauh, setelah menarik nafas sejenak, aku akan lanjut bertutur,

“I’m not going to deny my feeling anymore. I’m already at my limit. But I know you still into her. So, let’s put an end to this story. I’m not expecting something. I just want to be honest with my feeling. And I just want to be as much as support just like how you were always there for me all this time. That’s it.”

“I’m not telling this so you can consider my feeling. I know you. So let’s just put it aside. Honestly, right now I just want to cherish our friendship.”

Yang akan kuakhiri dengan senyuman lembut, yang kemudian mungkin dibalas olehmu. Atau paling tidak kita akan terdiam ditemani musik background cafe dan hembusan angin malam yang dingin namun mendamaikan.

Dan aku akan memunculkan topik baru, sambil berusaha mengalihkan tema setiap kali pembicaraan ke arah sana. Simple.

Mungkin kau kemudian akan menghindar dariku. Tapi aku akan terbiasa. Aku pasti terbiasa.

But look what happened.

“You’re gay right? And you’re fall in love with me.” Ucapmu bagai petir yang menyambar di siang bolong.

“Don’t worries, I already know it. Anyway, I don’t mind to accompany you actually. You’re fun and make me comfortable. Honestly. Though, I’ll still be together with my wife after all. But, you know, I don’t mind to accompany you. Really.. So, what do you say?”

Lanjutmu lagi dengan kilauan mata yang memercikan api, dan buat otakku mati.

I feel like I heard another person voice, when my mouth finally says, “I would love to.”

Damn!

Welcoming hell myself.

Stuuuupid self.

***

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Sebuah Cerita di Suatu Sore

21 Saturday Jul 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerita cinta, cerpen, fiksi, Mia Haryono

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Setelah tak pernah lagi berbicara hampir 6 bulan lamanya, entah bagaimana dan apa yang membawa aku dan dia kembali duduk bersama, berdampingan.

Seperti saat ini, sore hari di sudut kantin kantor. Sebuah kedai makan yang biasanya dipenuhi para karyawan, karena letaknya yang dekat gedung perkantoran. Di kantin itu juga tempat aku dan dia biasa bercengkerama sambil menikmati menu sarapan pagi.

Dulu.

Saat masih tak ada jarak di antara kami.

Kini.

Dua jengkal jemari yang memisahkan posisi dudukku darinya menandakan hubungan kami yang sudah tidak lagi dekat.

Saat awalnya memasuki kantin ini bersamanya, aku hampir tidak percaya dengan yang terjadi. Ini gila. Dan sambil berdoa dalam hati, aku berharap tidak ada satupun yang mengenali kami.

Beberapa meja sudah terisi dengan pasangan pria dan wanita. Ada yang sedang tertawa lepas berdua, ada yang sedang berfoto berdua, dan ada juga yang terlihat sedang bertengkar. Namun setelah melewati meja-meja tersebut, aku tersadar bahwa pasangan seperti yang kulihat tadi tidak ada. Hanyalah meja-meja tanpa pengunjung. Kosong.

Rupanya penglihatanku tadi adalah fatamorgana. Bayangan pasangan-pasangan itu sebenarnya pengalaman aku bersamanya, di berbagai meja di kantin ini.

Kami pernah bahagia bersama. Kami pernah konyol bersama. Kami pernah tersiksa bersama.

Karena kepalang terus berjalan melewati meja-meja kosong itu, akhirnya aku memilih tempat di sudut ruangan. Untungnya, kantin sore ini tidak banyak pengunjung. Dan kali ini dengan penglihatan yang nyata, kulihat meja di samping kanan ditempati dua pria yang sedang menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Meja di depan kami hanya tersisa gelas-gelas bekas diminum yang belum sempat dibersihkan.

Seharusnya sebagai dua anak manusia yang bertemu kembali setelah sekian lama, kami akan berpelukan lalu mengobrol penuh antusias. Tidak, kami hanya diam. Ada kecanggungan besar membatasi kami.

Ucapan pertama yang keluar dari mulutnya, saat kami sudah sama-sama nyaman dengan posisi duduk adalah panggilan kepada pelayan. Tanpa menanyakan dulu padaku, dia memesan dua gelas es teh manis. Kebiasaan kami dulu di kantin ini.

Setelah pelayan membawakan minuman dan berlalu, barulah kami benar-benar bisa memulai obrolan. Dan inilah kami berdua. Satu hal yang tidak pernah berubah. Sama-sama susah menghentikan percakapan. Terus dan terus terlena dalam perbincangan ringan.

Dan aku masih tidak dapat memercayai apa yang terjadi sore ini, mengingat pertengkaran hebat kami lima bulan silam. Pertengkaran yang berakhir dengan saling menangis, karena keputusan untuk harus saling menjauh.

Demi menghargai wanita yang sedang dekat dengannya, aku memutuskan keluar dari hidupnya. Aku tak sudi dianggap wanita kesepian yang masih mengejar mantan terkasihnya.

Jauh di lubuk hati kami, perpisahan sebagai sahabat jauh lebih menyakitkan. Tapi kami sama-sama tau, meski tidak bisa kembali dekat seperti dulu kami akan selalu menjadi sahabat di hati. Ditambah kenyataan kami yang berada dalam gedung yang sama untuk mencari nafkah, pertemuan mendadak memang tidak bisa dihindari. Selama lima bulan terakhir ini hubungan kami hanya sebatas tegur sapa. Tidak lebih. Tidak seperti saat ini.

Dia terus menambah batang rokoknya, tampak sangat menikmatinya. Kulirik jam di tangan kiriku, sudah hampir 50 menit kami lewati. Tidak terasa kami sudah terseret pada pembicaraan yang tak terarah. Namun, tak satupun dari kami yang menyinggung kehidupan cinta masing-masing.

Lagipula aku tak ingin mengetahuinya. Aku tak ingin menghancurkan suasana kebersamaan saat ini. Maka kubiarkan saja asumsi dia masih bersama wanita itu, agar perasaan aku dapat tetap murni bersahabat dengannya.

Sampai akhir perbincangan kami, aku masih belum dapat tenang karena was-was. Aku takut dia akan menanyakan kabar percintaanku. Sungguh aku malu mengaku padanya, bahwa sampai saat ini belum juga menemukan pengganti dirinya.

Setelah satu jam menghabiskan waktu di sudut kantin pun, kami akhirnya memutuskan menyudahi reuni ini. Waktu menunjukkan pukul 4 lebih 15 menit, sudah lewat seperempat jam dari jam pulang kantor kami.

Lalu kami berdua berjalan beriringan keluar dari kantin. Setiap langkahku dipenuhi dengan berbagai pikiran. Aku tau banyak yang sudah memperingatkanku, untuk tidak mengulang lagi kebodohan. Tapi satu hal yang tak bisa kupungkiri, semesta rupanya belum menghendaki aku sepenuhnya keluar dari hidupnya.

Setidaknya, sampai sore ini.

-The End-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Althaf

30 Saturday Jun 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ 2 Comments

Tags

@myaharyono, Althaf, baby, cerita bayi, cerita pendek, Mia Haryono

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

30 Juni 2011.

Beep.

Sebuah broadcast message gue terima di blackberry gue.

“Alhamdulillah.” gue mengucapkan kata pujian kepada Tuhan enggak lama setelah membacanya.

“Oppie melahirkan.” Gue kemudian menyampaikan berita itu kepada pria yang sedang duduk di sebelah gue di kantin kantor.

“Laki-laki.” lanjut gue sebelum pria itu sempat bertanya. Fokusnya masih tertuju pada semangkuk bubur yang sedang disantapnya sebagai menu sarapan.

“Nanti pulang kerja langsung jenguk ya?” ajak gue.

“Jangan pulang kerja, nanti waktu kita enggak banyak. Minggu aja.” dia menawar ajakan gue.

“Udah pulang dari RS dong si Oppie. Ke rumah berarti ya jenguknya?” Dia mengangguk pelan.

Gue sebenarnya sangat-sangat enggak sabar untuk melihat bayinya Oppie. Gue sudah mengikuti perkembangannya selama dia masih ada di rahim sahabat gue itu. Tapi apa boleh buat, gue kan masih mengandalkan pria yang tampangnya lurus saja, meski mendengar kabar gembira ini.

Satu hal yang gue enggak suka dari pria ini adalah kurang excited terhadap seputar anak kecil atau bayi. Sangat-sangat bukan calon-suami-able.

Hari minggu siang, jadilah kami berdua pergi menjenguk Oppie dan bayinya seperti yang dia mau. Sebagai hadiah untuk keponakan tercinta ini, gue membawakannya sebuah boneka jerapah.

“Kamu kasih kado jerapah?” tanyanya sambil tertawa. “Mau didoktrin pelan-pelan supaya suka jerapah juga kayak kamu? Dia tertawa lepas.

Sebuah tinju gue daratkan di bahunya. Motor yang kami kendarai oleng. Hampir saja jantung gue lompat saking kagetnya.

“Udah jangan ketawa terus, bawa motornya pelan-pelan” suara gue naikkan tingkat volumenya agar bisa didengar mengalahkan kebisingan jalan raya.

Setelah hampir 45 menit menempuh perjalanan, kami sampai juga di rumah Oppie.
“Aku mau lihat keponakanku. Udah dikasih nama, Pi?” tanya gue dengan semangatnya.

“Udah tante. Tapi tante dan om cuci tangan dulu sana sebelum liat bayi ganteng.” kami berdua mengikuti instruksi Oppie.

Sementara pria yang sudah berbaik hati mengantarkan gue ini duduk istirahat, gue langsung menghamburkan diri ke kamar tempat si bayi berada.

Mungil dan merah, dalam lilitan kain. Bayi itu mengulet-ulet enggak mau diam sambil memainkan liur di dalam mulutnya.

Subhanallah.

“Namanya Khalafi Shafwan Althaf. Artinya anak laki-laki yang baik, berhati lembut dan penuh belas kasih.” jelas sahabat gue itu.

“Amiin.” jawab gue. “Namanya seindah orangnya. Aku boleh cium?” gue kemudian memasang muka memelas.

“Kamu gendong juga. Biar nular cepat nikah terus punya bayi sendiri.”

“Takut.”

“Harus coba sayang. Kamu tuh sama saja sama laki kamu, takut anak kecil. Bawa Althaf ke dia, biar dia suka terus jadi pingin cepet-cepet deh.” si Oppie mengikik pelan.

Iya gue takut gendong bayi. Gue takut bayinya menangis. Kalau sudah begitu gue akan dipenuhi rasa bersalah. Apakah gue melukainya sampai menangis? Atau malah bayi itu menangis karena menolak gue?

Bayi ganteng ini terus menatap gue. Kedua tangan mungilnya dikepak-kepakan di kasur. Kemudian mengarahkannya ke gue. Seolah si bayi ingin digendong.

Oppie kemudian mengangkat Althaf.

“Ayo, siapkan posisi gendong. Hati-hati ya.”

Gue menahan nafas.

Beberapa detik kemudian, bayi ini sudah ada didalam gendongan gue.

Diluar dugaan, bayi ini enggak menangis. Malah masih menatap gue, tersenyum. Gue angkat sedikit tubuh mungilnya lalu gue kecup kening dan pipinya.

Bayi ini tampak kegirangan. Boys will be boys.

Gue melangkahkan kaki keluar dari kamar si bayi yang penuh dengan boneka dan hiasan lucu. Jerapah dari gue sudah gue berikan tadi waktu datang. Dan sekarang si jerapah bergabung dengan boneka-boneka lain milik Althaf.

Gue hendak mengantarkan bayi laki-laki ini ke pria yang sedang duduk di ruang tamu, berbincang dengan Ayahnya si bayi.

“Ini loh bayi gantengnya. Namanya Althaf.” gue kemudian duduk di samping pria itu.

“Halo Althaf.” Sudah begitu saja kata yang keluar dari bibir pria itu. Benar-benar kaku menghadapi bayi.

Bayi Althaf ini juga menatap si pria. Tangannya malah mencoba meraih muka si pria.

“Itu Al sepertinya pingin interaksi sama kamu. Jangan takut.” kata Oppie pada pria itu.

Kemudian pria itu memegang tangan si mungil lalu menggoyangkannya. Si mungil tertawa, dia senang sepertinya.

Si pria juga tertawa. “Eh dia ketawa. Lucu banget.” ucapnya. Lalu tangan yang satunya mengelus rambut Althaf. “Rambutnya banyak ya.”

“Hadeuh, ngelusnya kaku banget. Kayak kamu elus rambut aku aja, sayang.” goda gue.

Dia nyengir lebar.

Lima belas menit berikutnya, si pria itu malah enggak ada berhentinya bermain dengan si bayi. Sampai waktunya si bayi minum ASI.

Kami pun pamit pulang.

Di perjalanan pulang, tiba-tiba pria itu bersuara. Memecahkan keheningan di antara kami.

“Kita nikah yuk. Aku ingin punya kayak Al juga.”

Lamaran macam apa ini? Di motor dan di tengah kemacetan. Begitu tiba-tiba dan tak terduga. Saking bahagia mendengarnya sampai-sampai mau jatuh dari motor rasanya.

Sungguh Althaf rupanya seketika membawa perubahan besar pada pria yang sedang membonceng gue ini. Si pria yang selama ini mengaku belum siap menikah, seperti mukjizat, setelah melihat Althaf keraguan dan ketakutannya menghilang.

Dia ingin segera menjadi Ayah. Sangat mengejutkan.

Semengejutkan kecelakaan yang merenggut nyawa pria itu tiga hari setelahnya.

***

Satu tahun kemudian.

“Selamat ulang tahun, Althaf sayang.” Gue menyerang bocah ganteng ini dengan ciuman bertubi-tubi.

Waktu sangat cepat berlalu. Rasanya baru kemarin Al dilahirkan, lalu gue dan dia menjenguknya. Ah…hati ini terasa sesak karena memikirkannya.

Gue masih belum dapat melupakannya. Sejak kepergiannya, satu-satunya yang dapat menghibur gue adalah Althaf. Gue rutin ke rumah Oppie hanya untuk bermain dengan Althaf, bayi yang sangat disayangi pria itu. Bayi yang telah membuatnya memutuskan untuk siap berumah tangga. Gue merasa berhutang budi pada Althaf.

Meski akhirnya kenyataan berjalan enggak seperti harapan.

Dengan bermain bersama Althaf gue merasakan kehadirannya. Sangat kental terasa. Seperti kami sedang tertawa-tawa bertiga.

Gue tau dia masih ada bersama kami.

“Al sayang, mari kita doakan Om baik-baik ya di sana. Dia pasti sudah bahagia di tempat dimana dia dicintai sekarang.”

Bocah itu menatap gue dengan matanya yang sipit. Makin lama seperti bocah korea deh.

Lalu Al tertawa sendiri. Sangat menggemaskan. Gue serbu si asem ini lagi dengan kelitikan di perut. Al makin senang.

“Al sayang, doakan tante cepat dapat pengganti Om ya?”

Al menatap gue dengan bengong. Lalu menganggukkan kepalanya dan tertawa lagi sambil teriak kecil.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Rumah

09 Saturday Jun 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ 2 Comments

Tags

@myaharyono, cinta, Mia Haryono, nyaman, Rumah

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Nama saya Sani. Wanita berusia 30 tahun. Saya sudah hampir 8 tahun mengadu nasib di Jakarta. Keluarga saya tinggal di kota kecil di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Boyolali. Kesibukan bekerja dan berbagai aktifitas membuat saya enggak punya jadwal rutin untuk pulang mengunjungi orang tua. Sebenarnya itu hanya alasan semata saja. Sudah tiga tahun terakhir ini saya memang sengaja menghindar pulang ke rumah.

Kadang saya enggak tega mendengar suara ibu di telepon yang mengiba menanyakan keadaan si sulungnya ini. Di setiap desahan napasnya menyiratkan kerinduan yang dalam.

“Minggu depan ono libur kejepit. Kowe mulih kan, Ndok?” tanya ibu minggu lalu.

“Sani..hmm..sudah ada jadwal motret sama klub fotografi di Ujung Genteng, Bu. Iya, enggak bisa di-resechedule lagi.” jawab saya berbohong. Terpaksa.

“Kalau gitu ngesok-ngesok motretnya ke kampung kita wae, biar kowe bisa sekalian mulih.” sungut ibu.

Setelah menutup telepon ibu, lalu saya memesan tiket kereta untuk pulang ke kampung halaman. Sekarang di sini lah saya berdiri. Pukul 5 lewat 30 menit di stasiun kereta api. Pinggang sudah enggak karuan rasanya karena berjam-jam duduk. Salah satu alasan mengapa saya malas pulang kampung. Belum lagi hiruk pikuk di dalam stasiun tua yang kotor ini sangat membuat saya alergi. Setiap mata yang lalu lalang tergesa di sekitar saya terlihat lelah. Beberapa di antara yang lewat bahkan ada yang

Home

sempat melirik sinis, seolah berkata “Masih ingat rumah?”.

Cuekin. Cuekin. Perasaan kamu aja ini, San.

Dari stasiun saya harus naik angkutan umum lagi. Kurang lebih lima belas menit lagi saya akan sampai ke rumah. Saat itu fajar seharusnya sudah terbit.

Rumah. Saya mencoba mendefinisikan kembali apa itu rumah. Rumah adalah tempat di mana kita merasa nyaman di dalamnya. Apakah rumah kedua orang tua saya disebut rumah?

Tidak.

Itulah alasan utama saya jarang kembali pulang. Rumah ibu bapak adalah sekedar tempat saya berasal, tapi sudah lama tidak memberikan kenyamanan lagi di dalamnya.

Bukan, bukan karena rumahnya yang sederhana dan sempit. Keluarga saya bukan keluarga berada. Bapak hanya seorang PNS dengan penghasilan yang memaksa kami harus hidup ala kadarnya. Saya dulu pernah mencintai rumah tua kami. Dulu, sebelum saya memasuki usia yang dianggap perawan tua oleh tetangga sekitar. Gunjingan mereka yang memandang masih sendiri di usia 30 adalah tanda enggak laku-laku, sungguh menyakitkan buat saya. Dan omongan sekitar itulah yang membawa pengaruh buruk bagi ibu yang akhirnya selalu mengomel tiap kali saya pulang.

Mereka pikir saya tidak tertekan? Tolong jangan buat saya tambah tertekan.

Pikiran saya terhenti oleh sebuah mini bus yang datang dari arah selatan. Angkutan dengan nomor trayek yang akan membawa saya menuju kampung halaman. Saya segera berdiri dari tempat duduk di halte dekat stasiun ini. Tanpa perlu melambaikan tangan lagi, kendaraan itu sudah berhenti di depan saya. Masih ada tempat kosong, beruntung sekali saya tidak perlu terjebak di dalam angkutan yang mengetem menunggu peumpang sampai penuh.

Seandainya penantian saya terhadap jodoh secepat saya menunggu angkutan umum di pagi ini.

Saya butuh ketenangan di tempat asal saya, bukan petuah-petuah yang seolah menuding negatif atas pilihan hidup yang saya jalani. Tiga tahun yang lalu, saya memilih untuk menolak dijodohkan.

Penolakan saya terhadap perjodohan yang sudah diatur ibu dengan salah seorang temannya. Saya saat itu punya ego yang tinggi. Saya enggak mau dijodohkan, saya mau mencari sendiri. Saya mau menikahi pilihan saya sendiri.

“Mana buktinya? Katanya mau pilihan kowe dewe? Lah wuis bertahun-tahun ndak juga ono yang dikenalin ke ibu toh, Ndok.” Saya teringat omelan ibu sewaktu saya pulang lebaran tahun lalu. Ibu lalu mulai menyalahkan saya lagi karena tidak menuruti perintahnya.

Ah ibu, haruskah Sani mengorbankan perasaan sendiri untuk kebahagiaan ibu.

Saya sudah terlalu sering tidak mengindahkan saran ibu bapak. Menolak dikenalkan sana-sini. Apakah sudah saatnya bagi saya untuk mengalahkan ego seorang anak kali ini? Untuk kebahagian kedua orang tua yang sangat menginginkan melihat anaknya menikah, mumpung masih ada waktu di dunia ini.

Ya ampun sungguh menyakitkan. Tahukah para orang tua, bahwa belum menikah itu juga menjadi PR terbesar seorang anak kepada orang tuanya. Karena ternyata sukses saja belum cukup. Untuk sebagian mereka masih malah ada yang merasa berdosa karena terlambat menikahkan anaknya. Dan sungguh bukan keinginanku untuk belum menikah di usia 30 ini. Seseorang berhak menentukan kebahagiaannya sendiri. Ini hidup saya, saya lah yang menjalaninya. Tapi kebahagiaan yang saya jalani ternyata menyakiti kedua orang tua saya. Dan apakah ada yang lebih menyakitkan dari melihat ibumu menangis karenamu?

Pertigaan jalan memasuki kawasan kampung saya sudah terlihat. Saya segera menenteng tas bawaan dan memeriksanya kembali agar jangan ada yang tertinggal.

“Pertigaan depan, Pak.” Kemudian saya turun dari kendaraan berasap tebal ini dan menyerahkan uang pas sebagai ongkos naik angkutan. Lalu kendaraan itu berlalu meninggalkan saya yang segera menutupi hidung akibat polusi. Jalanan masih kosong sehingga saya bisa langsung menyeberanginya.

Saya menyusuri gank setapak yang menuju rumah ibu bapak. Kalau di kota besar pagi buta begini mungkin penduduknya masih tertidur pulas, ditambah lagi ini hari libur. Di kampung sudah banyak yang beraktivitas. Seperti ibu-ibu yang sedang metani (mencabut rambut putih) di halaman rumahnya.

“Eh nak Sani. Kowe mulih. Mampir sek.” salah seorang tetangga menyapa. Saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Saya tau itu hanya basa-basi. Tapi  saya senang, karena keramahan seperti ini sudah jarang sekali ditemui di kota saya tinggal sekarang.

Beberapa langkah lagi saya segera sampai rumah. Sedikit terhalang anak-anak kecil yang bermain sambil berlarian.

“Eh berhenti, berhenti dulu. Nih, Mbak Sani kasih duit buat jajan ya. Bagi-bagi ya.” Lalu saya membagikan beberapa lembar uang kertas. Jumlahnya bahkan enggak cukup untuk membeli semangkok bakso di Jakarta, tapi sudah membuat bocah-bocah kampung ini girang. Membuat hati saya hangat melihat keceriaan mereka.

“Assalammualaikum, Ibu. Sani mulih, Bu.” Suara saya yang tiba-tiba muncul di pintu rumah membuat ibu terkaget. Lalu berlarian memeluk putrinya yang pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu ini.

Ada genangan di mata ibu. Ada cinta mengambang di sana. Lalu ada Bapak yang juga memandang sendu penuh rindu. Dan adik laki-laki remaja semata wayang yang sudah beranjak dewasa. Sudah pantas menyandang predikat pria penakluk gadis remaja sekarang.

Mereka bertiga memeluk saya erat. Menciumi kening saya bertubi-tubi. Saya layangkan lagi pandangan kepada ketiganya satu-persatu. Tidak ada kekecewaan akan sikap saya yang seolah sudah melupakan mereka selama ini. Saya mengerti akhirnya, selama ini saya hanya takut mereka marah. Saya hanya menghindari omongan miring. Saya lari menghindari masalah. Dan ketiga orang terkasih ini enggak pernah marah sedikitpun pada saya.

Dan seketika, saya pun menyadari definisi arti rumah yang sebenarnya.

Rumah adalah tempat di mana ada orang yang mencintai dan menantimu untuk pulang.

Thanks, God. I’m home.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Semoga yang Aku Lakukan Ini Tidak (begitu) Dosa

16 Wednesday May 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 1 Comment

Tags

@deardiar, cerita cinta, cerpen, Diar Trihastuti

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

PLAK! Lagi – lagi itulah yang kuterima malam ini, sehabis lelah pulang kerja.

“Kamu ini kayak cewek nggak bener aja. Pulang malem-malem! Kelayapan kemana dulu kamu?.” aku melirik malas sekilas melihat jam yang menurutku belum malam. Baru pukul 20.17 dan demi Tuhan aku bekerja! Bukan kelayapan seperti yang dikatakannya.

Aku hanya diam. Tak ingin menjawab pertanyaannya, aku sudah terlalu berpengalaman. Jawaban jenis apapun akan dimentahkannya dan akan bertambah fatal apabila dia tidak menyukainya, maka selain pipi, badanku akan kena.

“Apa alasanmu kali ini? Kerja lembur lagi demi tuntutan profesi?” ujarnya lagi seakan – akan satu tamparan di pipiku belum cukup untuknya. Aku hanya menunduk. Ingin rasanya mengiyakan. Siapa yang ingin lembur ? Wanita mana yang ingin banting tulang demi menghidupi keluarga?

“Mending lemburannya bayarannya gede, ini paling cuma cukup buat makan sehari!!”, cerocosnya lagi.  Ya Tuhan, andai kamu kerja mas, aku nggak perlu segininya berusaha cari duit. Aku tahan diriku untuk menjawab segala sumpah serapah lelaki yang  menikahiku tujuh tahun yang lalu. Aku ingin hari ini cepat berakhir. Aku lelah. Ingin tidur, ya Tuhan.

Dan setelah 30 menit kemudian sumpah serapah berbau kebun binatang dikeluarkan dan aku hanya berdiri diam dan menunduk. Akhirnya momen yang kunantikan datang saja. “Ya udah, sana. Kamu cepetan mandi, dekil amat pulang ngantor. Mandi gih. Harus tetap wangi dan menarik tau depan suami !Abis itu siapin makan buat aku!” , perintahnya.

Bergegas aku mandi. Akhirnya aku mendapatkan “kebebasanku”. Aku siap diomelin seperti apapun, disuruh apapun, bahkan dipukul pun aku tak akan membalas asal jangan dipisahkan dengan anakku, Kania. Aku mempercepat mandiku, tak sabar ingin bertemu dengannya. Entah apa yang dilakukan oleh pengasuhnya, hingga suara Kania tak terdengar selama aku diceramahi suamiku.

Kuketuk pintu kamarnya, ah putri kesayanganku. Ternyata dia sudah tidur. Pantas suaranya tidak terdengar dari tadi. Kupeluk Kania erat – erat. Sedih sekali rasanya pagi – pagi saat aku bersiap berangkat ke kantor, kadang Kania belum bangun. Dan malam – malam kadang dia sudah tertidur kecapaian seperti ini. Otomatis waktu kami “bertemu” hanya dalam keadaan kelelahan di ranjang seperti ini. Tapi kalau aku tidak bekerja, kami mau makan apa? Hidup darimana?  Meminta bantuan dari orangtuaku? Oh Tuhan, jangan sampai orangtuaku tau hidupku semengenaskan ini.

Lama memeluknya aku ragu, apakah ini panas badanku atau Kania? aku ambil termometer. “Ya Tuhan! 39.2 derajat!”, pekikku. Dia bisa saja kena step! Kontan aku berlari

”Mas, badan Kania panas mas!”, guncangku ke badan suamiku. Kutunggu 5 detik, tidak ada pergerakan. Oh Tuhan, mengapa Kau buat dia terlelap disaat seperti ini?. “Mas, bangun mas!!” kali ini aku mencoba melawan kerasnya suara dengkurannya. Namun sia – sia, mungkin aku harus menunggu petir menyambar rumahku, baru dia akan terbangun.

Mbak Tari, asisten rumah tangga kami tergopoh – gopoh datang. “Ada apa bu?”

“Mbak, tolong siapkan semua keperluan Kania, kita berangkat ke rumah sakit sekarang. Badan Kania panas” ujarku panik.

“Baik bu”

Sambil tetap memeriksa kening Kania yang sekarang sedang dipangku mbak Tari, aku melajukan mpbil secepat yang aku bisa. Jam menunjukkan jam 10 malam! Dokter anak mana yang masuh buka jam segini? Atau aku harus membawanya ke UGD saja?! Ya Tuhan, jangan ambil Kaniaku. Aku rela menukarkan kebahagiaanku dan nyawaku demi Kaniaku.

Kuparkir mobillku dengan sembarang, aku ingin secepatnya sampai di ugd. Aku yakin warna kulit Kania sekarang sudah tidak normal lagi! Apakah Kania membiru? Oh shit, aku tidak berani membayangkannya. Dannnn ya, aku menyerempet mobil. Atau menyenggolnya? Entah mungkin hanya baret sedikit. Oh semoga pemilik mobil yang nampaknya sudah berniat menggetokku ini akan berbelas kasih sedikit melihat aku dan putriku yang baru berumur 3 tahun ini.

“Pak, saya minta maaf. Saya panik. Anak saya seperti sudah tidak sadarkan diri. Ma.. Maaf saya tidak melihat mobil anda. Saya janji akan mengganti kerusakan yang saya perbuat. Tapi saya mohon, nanti saja pak. Ini KTP saya, silahkan ditahan dulu, dan ini kartu nama saya untuk nanti bapak boleh menghubungi untuk menuntut saya, tapi jangan sekarang pak”, racauku.

“Boleh lihat anaknya bu?”

“eh, apa pak?”

“Siapa tau saya bisa bantu”, ujarnya

Aku sekilas melihat penampilannya. Dokter? Mana jubah putihnya? Kenapa penampilannya masih seperti anak muda?

Tiba – tiba pintu dibuka oleh mbak Tari “Bu, Kania mengigau”

spontan lelaki di depanku itu berlari dan menggendong Kania.

“kita bawa dia ke UGD” aku mengiringinya berlari sambil berdoa. Ya Tuhan, berikan aku keajaiban…

”Sepertinya demam tinggi dan ada gejala demam berdarah bu. Tapi saya tadi baru ambil darahnya. Besok kita tunggu hasil labnya. Amannya dirawat dulu sampai membaik disini. Bagaimana bu?”

Kring… Kring… Aku melihat layar ponselku sekilas. Oh suamiku. Damn, aku sampai lupa mengabarinya. Ya Tuhan, jangan sampai ada malapetaka lagi.

“Halo”

“Kamu dimana?? Kelayapan lagi ya? Kabur hah? Ke rumah mana? Dasar pel*cur kamu!” oh shit, aku lupa hpku rusak. Sehingga yang bisa difungsikan untuk panggilan telpon hanyalah soundspeakernya. Resmilah aku menjadi tontonan 3 pasang mata dewasa. 1 dokter, 1 suster dan 1 lagi asistenku yang nampaknya sudah tidak asing dengan cacimaki yang didengar dari suamiku untukku.

“Mas, tenang dulu. Aku lagi di RS. Bawa Kania ke UGD. Dia sakit panas tinggi mas” ujarku berusaha menenangkan. Mau keluar dari ruangan ini? Sudah kepalang tanggung. Toh di luar ruang UGD ini suster jaganya lebih banyak. Aku akan jadi tontonan lebih banyak orang.

“Bisa – bisanya kamu berbohong! Jelas – jelas Kania sehat – sehat saja seharian main denganku! Kamu pikir aku tidak mengurusnya dengan becus hah? Perempuan macam apa kamu? Bahkan mony*t betina lebih bisa mengurus anak dan suaminya dibanding…..” kututup perlahan soundspeaker dengan keduatanganku, lalu kumasukkan ke dalam tas. Aku sudah tau kalau seperti ini dia akan mengomel tiada henti minimal setengah jam tanpa mau mendengar apa penjelasanku. Sekarang waktu yang tidak tepat. Aku ingin fokus ke kesembuhan Kaniaku.

”jadi dok, apa saran buat Kaniaku? Ujarku berusaha menetralisir keadaan.

Sekilas dokter tersebut tersenyum. Sungguh menenangkan melihat ada orang yang senyum kepadamu ketika keadaan sedang kacau balau. Dan kemudian menjelaskan kepadaku detail-detailnya.

“Terimakasih dok, ujarku menjabat tangannya”. kulirik jam. Pukul 12.05. Kasian dokter ini, seharusnya pada saat aku serempet mobilnya di parkiran mungkin harusnya dia sudah pulang. “eh dok, mobil dokter. Maaf. Mau dibicarakan besok untuk penggantiannya atau..”

“Tenang saja bu Riana, mobil saya diasuransikan kok. Saya pulang dulu. Selamat beristirahat semuanya”, potong dokter Jimmy sambil berlalu menutup pintu.

Hari ketiga Kania di RS. Dan suamiku belum menjenguknya. Dia malah menuduh aku melebih-lebihkan keadaan, dan membohongi keberadaan kami. Aku terlalu lelah menanggapinya. Tenagaku sudah terkuras memikirkan dan mengurus Kania. Bahkan aku tak peduli jika sampai rumah, aku akan mendapat memar-memar kembali. Asal Kaniaku cepat sembuh

”Bu, makan dulu bu.”

“Nanti saja Tari. Kamu dulu saja”

“Ibu, ibu harus tetap sehat. Kalau ibu sampai sakit, ibu tidak ada, siapa yang akan mengurus Kania?”

Deg! Dadaku seperti disambar petir. Ya Tuhan, bahkan asistenku dapat melihat betapa bahayanya rumah tangga yang sedang kujalani ini demi keselamatan nyawa siapapun.

“Bu, 3 tahun saya ikut ibu dari Kania masih bayi, apakah ibu tidak pernah berfikir untuk berpisah dengan bapak?” tanyanya lugas dan berani.

Aku teringat kejadian lebih dari tujuh tahun lalu. Saat itu, di sebuah RS dengan banyaknya alat pacu jantung, bunyi-bunyian mengerikan yang tidak mau aku ingat

”Berjanjilah Kania, Hilman, kalian akan menikah dan hidup bersama sampai maut memisahkan kalian. Berjanjilah”

Aku, dan Hilman mengangguk patuh sambil bergenggaman tangan dan berpelukan bertiga. Dan malam setelah kami berjanji, aku menikah dengan Hilman di hadapan jenazah ibu Hilman.

Aku menitikkan airmata sambil menceritakan hal tersebut ke mbak Tari. Sudah lama aku tak berbagi, sudah lama hatiku tidak lagi merasakan apa – apa. hati ini rasanya plong. Tari menghambur memelukku. Mencoba membagi bebanku ke dia.

“Sejak kapan Bapak kasar dengan Ibu?”.

“Saya menikah dengan bapak karena saya mencintainya mbak, namun ternyata Bapak hanya ingin mendapatkan syarat warisan dari keluarganya. Yaitu harus menikah dan memiliki anak, sehingga setelah saya melahirkan Kania, perangainya berubah. Namun dia tidak akan menceraikan saya karena kalau Kania lepas dari pengasuhannya, dia tidak akan mendapatkan harta jika bapaknya meninggal. Sedangkan saya, selain kami sudah berjanji di depan almarhumah ibunya dan juga di mata Tuhan, saya tidak mungkin mau berpisah dengan Kania”

“Jadi itu sebabnya bapak tidak mau bekerja ya bu, karena menunggu warisan?”

“iya, mungkin mbak” ah menyenangkan sekali ternyata bisa curhat ke seseorang walau tidak berarti menyelesaikan masalah.

Dan kurasakan ada yang memperhatikan kami.

“eh dokter” sudah berapa lama dokter Jimmy ada di pintu itu? Apa dia mendengar semuanya?

“Maaf bu, saya mau mengecek perkembangan Kania”, ujarnya santun sambil melewati kami berdua yang masih dalam posisi berpelukan.

Tiga bulan berlalu dari kepulihan Kania dari RS namun aku tak pernah absen untuk sesering mungkin memeriksakan Kania ke dokter Jimmy. Kadang kami melakukan “terapi” di taman bermain, bioskop, dan rumah makan. Aku belum pernah merasa sebahagia ini. Apalagi Kania juga lambat laun menyayanginya, dan tentu kami selalu pergi berempat dengan mbak Tari yang juga sepertinya menyukai Jimmy karena bisa melihat kami (Kania dan aku tersenyum) kembali. Ah indahnya dunia….

”Rania, minggu depan ada tanggal cantik, 11-11-11, yuk kita menikah”, ujarnya sungguh – sungguh sambil memberikan cincin yang terbuat dari untaian bunga di taman, indah sekali. Sementara mbak Tari sedang menemani Kania bermain ayunan.

Aku terkesiap. “Tapi mas, kamu kan tau aku masih punya suami”

“Aku percaya dengan hatimu, bukan statusmu. Aku siap menanggung dosamu, seperti aku sanggup menanggung rasa bahagiaku ketika bersamamu. Aku sayang kamu dengan atau tanpa statusmu. Dan aku ingin merawat dan ikut membesarkan Kania”

 Dan di altar ini lah sekarang aku berjalan… Semoga Tuhan dapat mengampuni umatnya yang ingin mencicipi sedikit kebahagiaan.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...
 

    %d