Tags

, , ,

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

PLAK! Lagi – lagi itulah yang kuterima malam ini, sehabis lelah pulang kerja.

“Kamu ini kayak cewek nggak bener aja. Pulang malem-malem! Kelayapan kemana dulu kamu?.” aku melirik malas sekilas melihat jam yang menurutku belum malam. Baru pukul 20.17 dan demi Tuhan aku bekerja! Bukan kelayapan seperti yang dikatakannya.

Aku hanya diam. Tak ingin menjawab pertanyaannya, aku sudah terlalu berpengalaman. Jawaban jenis apapun akan dimentahkannya dan akan bertambah fatal apabila dia tidak menyukainya, maka selain pipi, badanku akan kena.

“Apa alasanmu kali ini? Kerja lembur lagi demi tuntutan profesi?” ujarnya lagi seakan – akan satu tamparan di pipiku belum cukup untuknya. Aku hanya menunduk. Ingin rasanya mengiyakan. Siapa yang ingin lembur ? Wanita mana yang ingin banting tulang demi menghidupi keluarga?

“Mending lemburannya bayarannya gede, ini paling cuma cukup buat makan sehari!!”, cerocosnya lagi.  Ya Tuhan, andai kamu kerja mas, aku nggak perlu segininya berusaha cari duit. Aku tahan diriku untuk menjawab segala sumpah serapah lelaki yang  menikahiku tujuh tahun yang lalu. Aku ingin hari ini cepat berakhir. Aku lelah. Ingin tidur, ya Tuhan.

Dan setelah 30 menit kemudian sumpah serapah berbau kebun binatang dikeluarkan dan aku hanya berdiri diam dan menunduk. Akhirnya momen yang kunantikan datang saja. “Ya udah, sana. Kamu cepetan mandi, dekil amat pulang ngantor. Mandi gih. Harus tetap wangi dan menarik tau depan suami !Abis itu siapin makan buat aku!” , perintahnya.

Bergegas aku mandi. Akhirnya aku mendapatkan “kebebasanku”. Aku siap diomelin seperti apapun, disuruh apapun, bahkan dipukul pun aku tak akan membalas asal jangan dipisahkan dengan anakku, Kania. Aku mempercepat mandiku, tak sabar ingin bertemu dengannya. Entah apa yang dilakukan oleh pengasuhnya, hingga suara Kania tak terdengar selama aku diceramahi suamiku.

Kuketuk pintu kamarnya, ah putri kesayanganku. Ternyata dia sudah tidur. Pantas suaranya tidak terdengar dari tadi. Kupeluk Kania erat – erat. Sedih sekali rasanya pagi – pagi saat aku bersiap berangkat ke kantor, kadang Kania belum bangun. Dan malam – malam kadang dia sudah tertidur kecapaian seperti ini. Otomatis waktu kami “bertemu” hanya dalam keadaan kelelahan di ranjang seperti ini. Tapi kalau aku tidak bekerja, kami mau makan apa? Hidup darimana?  Meminta bantuan dari orangtuaku? Oh Tuhan, jangan sampai orangtuaku tau hidupku semengenaskan ini.

Lama memeluknya aku ragu, apakah ini panas badanku atau Kania? aku ambil termometer. “Ya Tuhan! 39.2 derajat!”, pekikku. Dia bisa saja kena step! Kontan aku berlari

”Mas, badan Kania panas mas!”, guncangku ke badan suamiku. Kutunggu 5 detik, tidak ada pergerakan. Oh Tuhan, mengapa Kau buat dia terlelap disaat seperti ini?. “Mas, bangun mas!!” kali ini aku mencoba melawan kerasnya suara dengkurannya. Namun sia – sia, mungkin aku harus menunggu petir menyambar rumahku, baru dia akan terbangun.

Mbak Tari, asisten rumah tangga kami tergopoh – gopoh datang. “Ada apa bu?”

“Mbak, tolong siapkan semua keperluan Kania, kita berangkat ke rumah sakit sekarang. Badan Kania panas” ujarku panik.

“Baik bu”

Sambil tetap memeriksa kening Kania yang sekarang sedang dipangku mbak Tari, aku melajukan mpbil secepat yang aku bisa. Jam menunjukkan jam 10 malam! Dokter anak mana yang masuh buka jam segini? Atau aku harus membawanya ke UGD saja?! Ya Tuhan, jangan ambil Kaniaku. Aku rela menukarkan kebahagiaanku dan nyawaku demi Kaniaku.

Kuparkir mobillku dengan sembarang, aku ingin secepatnya sampai di ugd. Aku yakin warna kulit Kania sekarang sudah tidak normal lagi! Apakah Kania membiru? Oh shit, aku tidak berani membayangkannya. Dannnn ya, aku menyerempet mobil. Atau menyenggolnya? Entah mungkin hanya baret sedikit. Oh semoga pemilik mobil yang nampaknya sudah berniat menggetokku ini akan berbelas kasih sedikit melihat aku dan putriku yang baru berumur 3 tahun ini.

“Pak, saya minta maaf. Saya panik. Anak saya seperti sudah tidak sadarkan diri. Ma.. Maaf saya tidak melihat mobil anda. Saya janji akan mengganti kerusakan yang saya perbuat. Tapi saya mohon, nanti saja pak. Ini KTP saya, silahkan ditahan dulu, dan ini kartu nama saya untuk nanti bapak boleh menghubungi untuk menuntut saya, tapi jangan sekarang pak”, racauku.

“Boleh lihat anaknya bu?”

“eh, apa pak?”

“Siapa tau saya bisa bantu”, ujarnya

Aku sekilas melihat penampilannya. Dokter? Mana jubah putihnya? Kenapa penampilannya masih seperti anak muda?

Tiba – tiba pintu dibuka oleh mbak Tari “Bu, Kania mengigau”

spontan lelaki di depanku itu berlari dan menggendong Kania.

“kita bawa dia ke UGD” aku mengiringinya berlari sambil berdoa. Ya Tuhan, berikan aku keajaiban…

”Sepertinya demam tinggi dan ada gejala demam berdarah bu. Tapi saya tadi baru ambil darahnya. Besok kita tunggu hasil labnya. Amannya dirawat dulu sampai membaik disini. Bagaimana bu?”

Kring… Kring… Aku melihat layar ponselku sekilas. Oh suamiku. Damn, aku sampai lupa mengabarinya. Ya Tuhan, jangan sampai ada malapetaka lagi.

“Halo”

“Kamu dimana?? Kelayapan lagi ya? Kabur hah? Ke rumah mana? Dasar pel*cur kamu!” oh shit, aku lupa hpku rusak. Sehingga yang bisa difungsikan untuk panggilan telpon hanyalah soundspeakernya. Resmilah aku menjadi tontonan 3 pasang mata dewasa. 1 dokter, 1 suster dan 1 lagi asistenku yang nampaknya sudah tidak asing dengan cacimaki yang didengar dari suamiku untukku.

“Mas, tenang dulu. Aku lagi di RS. Bawa Kania ke UGD. Dia sakit panas tinggi mas” ujarku berusaha menenangkan. Mau keluar dari ruangan ini? Sudah kepalang tanggung. Toh di luar ruang UGD ini suster jaganya lebih banyak. Aku akan jadi tontonan lebih banyak orang.

“Bisa – bisanya kamu berbohong! Jelas – jelas Kania sehat – sehat saja seharian main denganku! Kamu pikir aku tidak mengurusnya dengan becus hah? Perempuan macam apa kamu? Bahkan mony*t betina lebih bisa mengurus anak dan suaminya dibanding…..” kututup perlahan soundspeaker dengan keduatanganku, lalu kumasukkan ke dalam tas. Aku sudah tau kalau seperti ini dia akan mengomel tiada henti minimal setengah jam tanpa mau mendengar apa penjelasanku. Sekarang waktu yang tidak tepat. Aku ingin fokus ke kesembuhan Kaniaku.

”jadi dok, apa saran buat Kaniaku? Ujarku berusaha menetralisir keadaan.

Sekilas dokter tersebut tersenyum. Sungguh menenangkan melihat ada orang yang senyum kepadamu ketika keadaan sedang kacau balau. Dan kemudian menjelaskan kepadaku detail-detailnya.

“Terimakasih dok, ujarku menjabat tangannya”. kulirik jam. Pukul 12.05. Kasian dokter ini, seharusnya pada saat aku serempet mobilnya di parkiran mungkin harusnya dia sudah pulang. “eh dok, mobil dokter. Maaf. Mau dibicarakan besok untuk penggantiannya atau..”

“Tenang saja bu Riana, mobil saya diasuransikan kok. Saya pulang dulu. Selamat beristirahat semuanya”, potong dokter Jimmy sambil berlalu menutup pintu.

Hari ketiga Kania di RS. Dan suamiku belum menjenguknya. Dia malah menuduh aku melebih-lebihkan keadaan, dan membohongi keberadaan kami. Aku terlalu lelah menanggapinya. Tenagaku sudah terkuras memikirkan dan mengurus Kania. Bahkan aku tak peduli jika sampai rumah, aku akan mendapat memar-memar kembali. Asal Kaniaku cepat sembuh

”Bu, makan dulu bu.”

“Nanti saja Tari. Kamu dulu saja”

“Ibu, ibu harus tetap sehat. Kalau ibu sampai sakit, ibu tidak ada, siapa yang akan mengurus Kania?”

Deg! Dadaku seperti disambar petir. Ya Tuhan, bahkan asistenku dapat melihat betapa bahayanya rumah tangga yang sedang kujalani ini demi keselamatan nyawa siapapun.

“Bu, 3 tahun saya ikut ibu dari Kania masih bayi, apakah ibu tidak pernah berfikir untuk berpisah dengan bapak?” tanyanya lugas dan berani.

Aku teringat kejadian lebih dari tujuh tahun lalu. Saat itu, di sebuah RS dengan banyaknya alat pacu jantung, bunyi-bunyian mengerikan yang tidak mau aku ingat

”Berjanjilah Kania, Hilman, kalian akan menikah dan hidup bersama sampai maut memisahkan kalian. Berjanjilah”

Aku, dan Hilman mengangguk patuh sambil bergenggaman tangan dan berpelukan bertiga. Dan malam setelah kami berjanji, aku menikah dengan Hilman di hadapan jenazah ibu Hilman.

Aku menitikkan airmata sambil menceritakan hal tersebut ke mbak Tari. Sudah lama aku tak berbagi, sudah lama hatiku tidak lagi merasakan apa – apa. hati ini rasanya plong. Tari menghambur memelukku. Mencoba membagi bebanku ke dia.

“Sejak kapan Bapak kasar dengan Ibu?”.

“Saya menikah dengan bapak karena saya mencintainya mbak, namun ternyata Bapak hanya ingin mendapatkan syarat warisan dari keluarganya. Yaitu harus menikah dan memiliki anak, sehingga setelah saya melahirkan Kania, perangainya berubah. Namun dia tidak akan menceraikan saya karena kalau Kania lepas dari pengasuhannya, dia tidak akan mendapatkan harta jika bapaknya meninggal. Sedangkan saya, selain kami sudah berjanji di depan almarhumah ibunya dan juga di mata Tuhan, saya tidak mungkin mau berpisah dengan Kania”

“Jadi itu sebabnya bapak tidak mau bekerja ya bu, karena menunggu warisan?”

“iya, mungkin mbak” ah menyenangkan sekali ternyata bisa curhat ke seseorang walau tidak berarti menyelesaikan masalah.

Dan kurasakan ada yang memperhatikan kami.

“eh dokter” sudah berapa lama dokter Jimmy ada di pintu itu? Apa dia mendengar semuanya?

“Maaf bu, saya mau mengecek perkembangan Kania”, ujarnya santun sambil melewati kami berdua yang masih dalam posisi berpelukan.

Tiga bulan berlalu dari kepulihan Kania dari RS namun aku tak pernah absen untuk sesering mungkin memeriksakan Kania ke dokter Jimmy. Kadang kami melakukan “terapi” di taman bermain, bioskop, dan rumah makan. Aku belum pernah merasa sebahagia ini. Apalagi Kania juga lambat laun menyayanginya, dan tentu kami selalu pergi berempat dengan mbak Tari yang juga sepertinya menyukai Jimmy karena bisa melihat kami (Kania dan aku tersenyum) kembali. Ah indahnya dunia….

”Rania, minggu depan ada tanggal cantik, 11-11-11, yuk kita menikah”, ujarnya sungguh – sungguh sambil memberikan cincin yang terbuat dari untaian bunga di taman, indah sekali. Sementara mbak Tari sedang menemani Kania bermain ayunan.

Aku terkesiap. “Tapi mas, kamu kan tau aku masih punya suami”

“Aku percaya dengan hatimu, bukan statusmu. Aku siap menanggung dosamu, seperti aku sanggup menanggung rasa bahagiaku ketika bersamamu. Aku sayang kamu dengan atau tanpa statusmu. Dan aku ingin merawat dan ikut membesarkan Kania”

 Dan di altar ini lah sekarang aku berjalan… Semoga Tuhan dapat mengampuni umatnya yang ingin mencicipi sedikit kebahagiaan.

-THE END-