• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Tag Archives: cerpen

A Gentle Smile in Amsterdam

27 Saturday Oct 2012

Posted by myaharyono in Fiction & Imagination

≈ 1 Comment

Tags

@myaharyono, Amsterdam, cerpen, fiksi, Mia Haryono

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Cik!

Aku berlari melewati hujan, yang menimbulkan bunyi gemericik akibat sepasang bootsku beradu dengan genangan air. Hujan tiba-tiba saja menyerbu di saat aku sedang menikmati suasana di negeri tanah rendah ini. Ya, tanah rendah, the lower land, atau dalam bahasa Dutch disebut The Nether Land.

Begitulah asal mula bagaimana negeri yang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad lamanya disebut, The Netherland. Rendah, karena berada sekian kaki ribu di bawah permukaan laut.

Dan aku, berkesempatan untuk mengunjungi ke Amsterdam, ibu kota negara itu. Sayangnya, perjalananku bertepatan dengan musim winter, dimana hampir setiap hari turun hujan.

“Miw…tunggu.” panggil Arin, teman seperjalanku di Amsterdam.

Dia selalu ingin menjadi satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama selain Mia atau Mimi, nickname-ku. Dia bahkan pernah mengatakan padaku seperti ini, “Kalau ada lagi yang manggil lo Mimiw, kasi tau ya. Gue cari nickname lain.”

Ada-ada saja travel mate-ku kali ini.

“Buruan, Rin. Kita naik tram aja ya daripada ujan-ujanan.” Suaraku meninggi agar Arin dapat mendengarnya, di tengah hembusan angin dan curahan hujan yang saling bersautan.

Kalau di Indonesia, aku suka berlarian di bawah hujan. Hujan tropis yang hangat dan sejuk dapat mengusir segala gundahku. Romantis sekali. Tapi di Belanda, air yang jatuh mencubiti kulit mukaku sampai sakit rasanya. Tak ketinggalan angin kencang yang membawa udara dingin menembus coat tebalku. Jadi, ketika hujan tiba-tiba datang ya kami harus segera berteduh.

We saved by the bell. Untung saja kami tepat sampai halte dan masih dapat memasuki tram sebelum kereta mini itu melanjutkan lajunya. Jadi nggak harus berteduh lebih lama di halte.

Tram adalah salah satu alat transportasi umum di Amsterdam, selain kereta dan taksi. Tram ini mungkin seperti monorail, kereta mini dengan lintasan 1 rel. Jarang sekali ditemui kendaraan roda empat maupun roda dua yang mengeluarkan polusi asap.

Selain itu, hampir separuh penduduknya menggunakan sepeda. Bahkan di sepanjang jalan, banyak diparkir sepeda. Hal tersebut menyebabkan kota Amsterdam sungguh luar biasa sejuknya.

Hujan membuat tram agak penuh dari biasanya. Setelah menempelkan kartu akses 24 jam seharga 7.5 euro atau sama dengan 93,750 rupiah, aku masuk ke dalam sambil menyapu pandangan ke seluruh isi tram ini mencari kursi kosong. No result found.

Udah mahal-mahal, berdiri pula. Keluhku dalam hati. Cukup mahal memang biaya hidup di Amsterdam. Tak terkecuali transportasi. Untuk dapat menggunakan seluruh alat transportasi umum sepuasnya di Amsterdam, tiket yang tersedia selain one-trip yaitu 1-hour-access, atau 24-hour-access. Hari ini aku membeli yang perhari, sesuai prediksiku seharian akan banyak diguyur hujan. Sehingga tak memungkinkan jika berjalan kaki.

Yasudahlah, yang penting kan enggak kehujanan. Aku mencoba menyenangkan hati sendiri.

Kereta mini yang aku naiki kemudian dengan gesit menyusuri bangunan-bangunan yang berdiri sejak tahun 1600-an ini. Amsterdam memang sangat mempertahankan sejarah. Tata kota yang meski tua, justru membuatnya terlihat unik. Aku sungguh menikmati perpaduan bangunan, kanal, dan kapal kecil yang menghiasi pemandangan dalam kereta. Jadi, meski berdiri, aku tak merasa susah.

Teng. Teng.

Begitu bunyi klakson tram ketika berjalan dan memberi peringatan, agar pejalan kaki maupun pengendara sepeda memperhatikan kereta yang lewat.

Aku sungguh menikmati tram, pemandangan di luar jendela, bunyi, ah segalanya. Sampai-sampai aku tak menyadari ada kursi kosong di belakangku. Yang semula menempatinya baru saja turun di halte tujuan.

“Miw, tuh duduk.” perintah Arin sambil menunjuk ke arah kursi kosong.

Setelah aku duduk Arin menanyakan tujuan kami kepadaku, “Jadi turun di mana? Berapa halte lagi, Miw?”

Biarlah peta yang menjawabnya. Aku mengeluarkan teman kesayangan Dora itu dari tasku. Sekilas, dari sudut mataku aku merasa diperhatikan oleh pria yang duduk di sebelahku. Aku meliriknya, benar saja, dia memang tadi memperhatikanku. Namun ia segera mengalihkan perhatiannya seoalah ketakutan dipergoki.

Tampan. Aku tersenyum ke-GR-an dalam hati.

Tapi aku langsung ingat bahwa di negeri Holland ini banyak beredar copet juga. Dan copet di sini tentu saja ganteng. Aku reflek menutup resleting tasku dengan cepat. Apa salahnya berhati-hati kan.

Aku membuka petaku, dan mencari-cari daerah yang hendak aku datangi. Kami ingin menuju Rijks Museum, di depannya ada tulisan I am sterdam yang terkenal itu. Kami ingin berfoto di manifesto kebanggaan Amsterdam tersebut.

“Rin, tiga halte lagi kita turun ya. Abis itu ganti tram.”

Aku menoleh lagi, pria di sampingku itu kembali memperhatikanku.

Ah, matanya biru dan bening. Ingin rasanya berlama-lama menyelam sampai ke dasarnya. Aku mendadak gugup dan sulit bernapas.

Oh my God!

Akupun kembali berkutat dengan petaku. Aku melihat lagi ke luar tram, kendaraan ini sedang berhenti di halte berikutnya. Dan aku bisa melihat pantulan pria itu dari jendela. Dia memperhatikanku dengan seksama.

Seketika aku merasa kegerahan, padahal tadi sempat menggigil kehujanan. Dengan malu-malu aku menoleh padanya lagi.

Dan kali ini, ia tersenyum. A gentle smile that makes me warm.

Astaga, he’s so damn cute! Mungkin senyuman ter-cute yang pernah kulihat selama tiga hari menjadi turis di kota ini.

Aku merasakan jantung ini mulai berdebar cepat. Aku lirik lagi, ia tersenyum lagi. Aku menunduk lagi. Begitu seterusnya sampai tram kembali berhenti.

Satu halte lagi aku akan turun, jadi aku tidak boleh melewatkan kesempatan baik ini. Ada pria bule tampan dan menggemaskan di sampingku lalu aku harus diam saja?

Tidak, it’s now or never. Aku buang segala ketakutanku dan mengumpulkan segenap nadi keberanian yang aku punya.

Aku menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya nekad menanyakan namanya.

“Hi, what’s your name.”

“He’s Sebastian. Isn’t he cute, huh?” ucap wanita yang menggendongnya di pangkuan.

“Yes, he’s charming. I love his smile. Hi Sebastian..” aku menyalaminya dengan memegang tangan mungilnya.

Ia menggelembungkan ludah dari mulut mungilnya, pertanda sedang sangat riang.

Dengan masih memegang jemarinya, aku mengatakan kepada Ibunya sambil tersenyum, “You’re so lucky to have a cute baby like Sebastian.”

Aku ingin juga punya anak bule selucu ini! tekadku dalam hati, tepat sebelum pintu tram terbuka di pemberhentian tujuanku.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Atas Nama Emansipasi Wanita

28 Friday Sep 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 3 Comments

Tags

@dendiriandi, atas nama emansipasi wanita, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, emansipasi wanita

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

“Riani. Riani. Riani.” Sebuah tangan menepuk-nepuk punggung tanganku secara perlahan.

“Eh, iya? Kenapa, Gas?” suara Bagas membuyarkan lamunanku dan menarikku kembali ke alam nyata. Ini semua gara-gara Sinta. Perkataan Sinta tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Membuat pikiranku melayang kemana-mana mengenai apakah aku harus mengikuti sarannya atau tidak.

“Kamu kenapa sih malam ini, Ri? Dari tadi kok kayak lagi nggak di tempat pikirannya?”

”Ah, enggak.” Aku langsung meminum segelas Hot Chocholate yang ada di atas meja untuk mengalihkan kegugupanku. Saat ini aku dan Bagas sedang berada di sebuah kedai kopi tempat biasa kami menghabiskan waktu sehabis pulang kantor. Namun karena minum terburu-buru, Hot Chocholate itu sedikit tumpah dari mulutku. Tumpahannya membasahi blazer-ku.

”Tuh, kan, kalau minum tapi pikirannya nggak di sini, ya begini jadinya. Ada yang lagi dipikirin ya?” Bagas bertanya sekali lagi sambil mengelap blazer-ku dengan tisu. Pria ini memang sangat perhatian sekali. Ini yang menjadi alasanku nyaman bersamanya.

”Nggak apa-apa kok, Gas. Benar. ”

“Kalau kamu lagi banyak pikiran, mending cerita deh. Aku Siap ngedengerin kok. Biasanya juga begitu, kan? Kamu cerita soal masalah kamu, soal keluarga kamu, soal urusan kantor, dan aku akan jadi teman yang selalu siap mendengarkan dan memberi masukan.”

Teman. Setiap kali aku mendengar kata itu, ada perih yang mengiris pelan-pelan hatiku. Mencoba memaksakan senyum palsu kepadanya. Damn you, Sinta. Kali ini elo benar. Mungkin aku memang harus mengikuti sarannya. Percakapan tadi siang pun kembali berputar di kepalaku.

***

”Eh, nek, lo udah sedekat apa sih dengan si Bagas ini? Jangan-jangan lo udah jadian ya?” Sinta, sahabatku bertanya di sela-sela makan siang kami di kafetaria kantor.

“HUSSH!! Ngomongnya pelan sedikit kenapa? Kan nggak enak kalau ada yang mendengar.” kucubit lengan Sinta karena kesal dia sudah menggodaku.

”Jadi bener nih, lo udah jadian?” Sinta mengonfirmasi sekali lagi.

Aku cuma menggelengkan kepala.

”Lho, tiga bulan kalian dekat, sering pulang bareng, ngopi-ngopi bareng, bahkan terakhir kali lo cerita kalau dia nganterin lo belanja sepatu dan tas, tapi dia belum juga nembak lo?”

”Ya gitu deh.”

”Hmm.. jadi selama ini lo digantungin, gitu?”

”Ya nggak gitu juga sih, Sin. Mungkin Bagas belum nemu waktu yang pas aja. Mungkin dia pengen kenal gue lebih dekat lagi.”

”Susah deh ngomong sama orang yang lagi falling in love. Memang Bagas orangnya kayak gimana sih, nek? Selain ganteng dan lucu, tentunya ya.”

”Ya, dia sangat hangat dan perhatian. Teman curhat yang baik dan enak. Kayaknya tahu banget soal isi hati dan cara handle perempuan, bahkan saat-saat emosi gue lagi nggak stabil gara-gara PMS. Mantan-mantan pacar gue dulu, nggak ada yang sangat perhatian dan sepengertian itu. Bahkan kalau ngantar gue belanja juga, dia nggak pernah nunjukin muka bete. Kalau dimintain pendapat soal mana baju atau sepatu yang lebih bagus, dia selalu tau pilihan terbaik. Pokoknya, bagi gue dia cowok yang sempurna banget deh.”

”Sempurna tapi kalau cuma jadi teman ya percuma, non. Terus, lo mau digantungin sampai kapan? Cucian basah kalau digantung sih bagus, bakal kering. Lah kalau hubungan digantung, ya bakal pahit jadinya.“

”kok lo ngomongnya gitu sih, Sin? Harusnya sebagai sahabat lo mendukung gue, bukan malah ngejatuhin kayak begini?“

”Justru karena gue sahabat lo, gue nggak mau lo terluka.“

”Terus, gue harus gimana, Sin?“

“Ya mungkin lo yang harus gerak duluan!”

“Tapi kan gue cewek, Sin. Masa cewek yang gerak duluan sih?”

“Kita nih perempuan, pengennya apa-apa yang enak harus Ladies First, tapi soal gerak duluan masih aja malu. Ri, dengerin ya, arwah Ibu Kita Kartini pasti nggak akan pernah tenang kalau lo masih teriak-teriak emansipasi tapi soal gerak duluan masih ngarep cowok yang bakal ngelakuin!”

Aku hanya bisa terdiam oleh perkataan Sinta.

***

Siang pun telah berganti malam. Di hadapanku sekarang bukanlah Sinta, tapi Bagas. Tapi perkataanya masih saja menghantuiku.

“Eh, maaf ya Ri. Aku jawab email dari kantor dulu. Dari si bos soal permintaan client kita yang kemarin.” Ucap Bagas lalu menatap serius layar smartphone-nya sambil sesekali jarinya menari mengetikkan beberapa kalimat di atas layar touchscreen gadget tersebut.

Bagas Candra Wijaya, anak baru special hiring yang ‘dibajak’ dari kantor pesaing. Usia awal tiga puluhan. Mempunyai wajah yang terbilang cukup tampan, berperawakan tinggi dengan badan yang cukup atletis karena sering fitness. Sorot matanya cukup tajam dan yang terutama lesung pipitnya ketika dia tersenyum bisa membuat luluh wanita manapun yang melihatnya. Dari semua hal tersebut, hal terpentingnya adalah dia masih single alias belum punya pacar. Aku bisa memastikan, hampir semua wanita di kantor ini jatuh cinta padanya. Tidak terkecuali aku, tentunya.

Semenjak kepindahannya, suasana di kantor juga menjadi berubah. Sikap dan pembawaannya yang sangat fleksibel dan tidak terkesan kaku – hasil dari budaya di kantor sebelumnya yaitu sebuah perusahaan swasta asing – sangat membawa pengaruh positif kepada kantorku, khususnya unit kerjaku yang sangat kaku. Yah maklum  hasil warisan budaya karyawan yang sudah cukup sepuh.

Balik lagi ke soal Bagas, dengan semua kelebihannya, usia masih muda namun sudah memegang jabatan marketing manager di kantorku, membuatku semakin tergila-gila kepadanya.

Oh iya, kenalkan namaku Riani. Wanita karir yang usia-nya tiga tahun lagi menginjak kepala tiga. Wajahku tidak terlalu cantik, namun teman-temanku bilang cukup manis, tipe cewek yang cantiknya tidak membosankan. Tinggi badan rata-rata, kulit berwarna coklat, tidak putih seperti para model iklan pemutih kulit di televisi itu. Aku cenderung pendiam, tidak akan memulai pembicaraan jika tidak ditanya terlebih dahulu.

Dengan semua hal-hal tersebut, sebenarnya membuatku minder karena harus bersaing dengan wanita-wanita yang di-cap cantik di kantorku untuk memperebutkan Bagas. Bahkan untuk berbicara urusan di luar pekerjaan dengan dirinya saja aku tak pernah berani. Tapi semuanya berubah setelah kejadian di suatu malam ketika pertama kalinya aku bisa berbicara Bagas.

***

“Lagi nunggu taksi ya?” terdengar suara dari dalam mobil bersamaan dengan diturunkan kaca jendela depan. Mobil ini tiba-tiba saja berhenti tepat di depanku yang sedari tadi sedang menunggu taksi. Dari dalam mobil sedan berwarna hitam metalik itu kini terlihat jelaslah siapa yang berbicara

“Eh, Bagas. Kirain siapa? Iya, nih lagi nunggu taksi. Tapi, dari tadi satupun tidak terlihat.”

”Bareng sama aku aja yuk!”

”Nggak usah, Gas. Nanti ngerepotin”

“Enggak, nggak sama sekali. Memangnya pulangnya ke arah mana?” tanyanya lagi.

“Oh, dekat kok. Kost-an ku di daerah Setia Budi. Aku nunggu taksi saja” ucapku.

Ah, bodoh! Bodoh! Bodoh! Inilah kelemahan wanita nomor satu, gengsinya terlalu tinggi. Seorang pria tampan yang aku kagumi meminta untuk mengantarku pulang, tapi aku malah menolaknya.

“Wah kebetulan banget, itu searah dengan apartemenku. Apartemenku di daerah Bunderan HI situ. Ayolah, naik mobilku saja. Dijamin, nggak akan diculik kok.” Ucap Bagas sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis dan sangat menggoda.

“Tapi bener ya, aku nggak diculik dan langsung diantar pulang dengan selamat?” balasku sambil tersenyum juga.

“Swear!!!” sebuah huruf huruf V dibentuk dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Lalu aku pun masuk ke dalam mobilnya. Kelemahan wanita nomor dua adalah mudah luluh oleh bujuk rayu dan senyum manis seorang cowok tampan.

Kejadian antar pulang sehabis kami lembur pada malam itu, mungkin menjadi awal aku jatuh cinta kepada Bagas. Maksudku, benar-benar jatuh cinta. Sebelumnya, aku hanya nge-fans saja. Maklum, Bagas adalah favorit cewek-cewek di kantorku.

Setelah malam itu, hampir setiap habis lembur di kantor aku selalu diantar pulang oleh Bagas. Tentu saja hal ini membuat iri sebagian besar wanita-wanita di kantor. Aku merasa diriku jadi bahan gosip utama oleh mereka. Namun di dalam hatiku, aku tersenyum bahagia karena bisa dekat dengan Bagas. Bahagia karena akulah wanita yang dipilih untuk diantar pulang bersama Bagas.

Tiga bulan telah berlalu semenjak malam itu. Entah sudah berpuluh-puluh kali aku duduk di kursi sebelah kiri mobilnya dalam perjalanan pulang menuju kost-an-ku. Memperhatikan dia bercerita tentang segala hal, dari masalah kerjaan hingga mengomentari juri reality show acara masak yang sok galak itu. Di malam-malam yang lain, giliran aku yang bercerita keluh kesahku. Tentang keluargaku, tentang adik-adikku yang masih bersekolah dan hal-hal lainya.

***

”Sori ya, obrolan kita keganggu kerjaan kantor. Sampai mana tadi obrolan kita?” untuk kesekian kalinya suara Bagas menyadarkanku dari lamunan. Sepertinya Bagas telah selesai dengan urusan email kantor tadi. Smartphone-nya ditaruh kembali ke dalam kantung kemeja. Matanya kembali menatapku dalam-dalam. Sorot mata yang membuatku tak kuat menatap balik karena wajahku pasti akan bersemu merah.

Di sinilah kami duduk sekarang. Di sebuah kedai kopi favorit kami, tempat kami menghabiskan waktu sepulang kantor hingga larut malam. Biasanya untuk melanjutkan obrolan kami yang tidak selesai di dalam mobil.

“Oh iya, aku ingat. Soal kamu yang sepertinya sedang ada pikiran, dan aku sebagai teman kamu siap mendengarkan.” Bagas tersenyum kepadaku.

”Teman?” Sebuah pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutku.  Sekali lagi kata-kata Sinta pun melintas dalam otakku

”Iya, sebagai teman.” Jawab Bagas dengan nada sedikit bingung.

”Gas,…..”

”Iya, kenapa Ri?”

”Aku mau tanya sesuatu. Tapi janji ya jangan marah?” Aku menarik napas sebentar, “menurut kamu, aku ini kamu anggap sebagai apa sih selama ini? Teman kantor, sahabat, atau…. apa?” Nafasku tertahan seketika setelah aku mengatakan kalimat tadi. Aku nggak percaya kata-kata itu bisa keluar dari mulutku.

”Bagiku…. ya kamu lebih dari seorang teman kantor. Kamu itu sahabatku yang paling dekat. Memang kenapa, Ri?” Bagas berkata dengan nada yang semakin kebingungan

”Cuma sahabat aja, Gas? Gak lebih?” ada keheningan yang cukup panjang setelah aku mengucapkan pertanyaan itu. Waktu berjalan terasa sangat lambat. Rasanya aku bisa mendengar setiap gerak dari detik jarum jam di atas tembok sana. Tapi anehnya, detak jantungku berdegup semakin cepat.

“Iya, Ri. Kamu kok tiba-tiba nanya hal itu sih?” Bagas masih terlihat bingung kemana arah dari pertanyaanku. Atau mungkin dia pura-pura bingung. Inilah kelemahan wanita nomor tiga: nggak bisa mengutarakan maksud sebenarnya atas apa yang mau diucapkan.

Aku menghela nafas panjang. Panjang sekali.

”Gas, gimana kalau aku ingin lebih dari sekedar sahabat dengan kamu? Aku ingin menjadi kekasihmu. Tiga bulan waktu yang kita lalui bersama, sudah cukup bagiku untuk menyakini kalau aku sangat sayang sama kamu.”

Kali ini waktu bukan hanya terasa berjalan sangat lambat, tapi berhenti sama sekali. Bumi sepertinya terbalik tiba-tiba hingga membuat perutku terasa diaduk-aduk dan sangat mual. Ingin rasanya aku berlari ke luar pintu karena kebodohan atas ucapanku barusan. Tapi setidaknya di atas langit sana, Ibu Kartini  sudah bisa tersenyum karena salah satu kaumnya menjalankan emansipasi dengan benar. Bukan hanya menuntut soal hak, tapi juga emansipasi kewajiban. Wanita bisa juga bergerak duluan, mengutarakan isi hatinya kepada pria terlebih dahulu.

”Maaf, Ri. Aku tahu kamu wanita yang sangat baik. Aku juga nyaman ngobrol dan jalan sama kamu. Tapi maaf, aku nggak bisa. Bagiku, kamu tidak lebih dari sekedar sahabat.”

Ada hangat yang terasa dari pelupuk mataku. Sebutir air mata tidak terasa mengalir melewati pipi.

”Kenapa, Gas? Kenapa? Apa aku tidak begitu cantik untuk menjadi kekasihmu? Atau aku kurang baik? Terus selama ini, apa maksud kamu mengantarkanku pulang, menemaniku belanja dan obrolan-obrolan nggak penting kita lewat telepon hingga larut malam? Jawab, Gas?” Kali ini air mata sudah mengalir deras dari kedua mataku.

”Bukan itu masalahnya, Ri!”

”Kalau bukan itu masalahnya, terus apa, Gas?” suaraku sedikit meninggi. Bingung, sedih dan marah bercampur menjadi satu di dalam dadaku. Sepertinya Bagas sangat tidak siap dengan pertanyaanku tadi.

”Jujur Ri, selama ini aku sudah berusaha untuk mencoba dekat denganmu. Aku berharap aku bisa jatuh cinta sama kamu. Tapi nyatanya sekian lama aku dekat denganmu, rasa cinta itu tidak pernah ada. Maafkan aku, Ri. Bukan maksudku menyakitimu. Kamu terlalu baik untuk aku sakiti. Maaf, tapi aku bukan pria yang selama ini kamu kira.”

Nafasku tiba-tiba berhenti. Aku tidak bisa bernafas. Rasanya tenggorokanku tercekat. Tidak percaya dengan apa yang baru kudengar barusan. Ratusan bahkan ribuan kalimat rasanya ingin melompat keluar dari mulutku, namun sia-sia.

”Maksud kamu apa sih, Gas?”

”Aku bukan pria normal, Ri,” Bagas menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya “Aku gay. Ri”

Pandanganku mendadak kabur lalu berubah menjadi gelap.

 -The End-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Sebuah Siang di Salemba

20 Thursday Sep 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 6 Comments

Tags

@saputraroy, cerpen, cinta, modus, Roy Saputra

Prepared by Client: 
Roy Saputra (@saputraroy)

“Permisi. Numpang tanya.”

Kamu pun mengangguk. Di pinggir jalan Salemba, kamu berdiri sendiri. Nampak seperti mahasiswi dari kampus sebrang sana. Jadi sepertinya cocok untuk kutanya-tanya tentang daerah sekitar sini. Awalnya aku hanya menurunkan kaca jendela dan bertanya di mana letak sebuah mall yang lokasinya dekat dengan bundaran HI. Namun suaramu yang pelan membuatku harus turun dari mobil dan mengulangi pertanyaanku. Kamu bilang dari sini lurus saja, ketemu perempatan belok kanan, lalu ikuti saja jalurnya. Aku tak mungkin tersasar, begitu jawabmu.

“Makasih ya. Ngomong-ngomong, di sana itu ada…”

Lalu aku menyebutkan salah satu brand pakaian yang sedang happening. Lagi-lagi kamu mengangguk. Di sana ada semua, begitu katamu. Pakaian segala rupa, semua warna. Tapi semuanya dengan harga yang bukan jangkauan mahasiswa. Aku tertawa. Sepertinya itu lelucon andalanmu. Jadi sepertinya aku harus tertawa.

“Eh, kamu tuh temannya Icha ya?”

Echa, begitu ralatmu. Aku pun mengiyakan. Ternyata dunia memang sempit. Aku bilang sepertinya pernah melihat entah di mana. Mungkin di sekitar rumah, karena Echa itu tetanggaku. Kamu bilang memang pernah main ke rumahnya di Pondok Kopi. Aku bilang iya sambil mengeluarkan mimik pantas-saja-pernah-lihat. Kemudian aku membahas Echa dan kamu mengangguk-ngangguk sambil tertawa. Terima kasih untuk kebiasan-kebiasaan buruk Echa yang sudah membuat kita tertawa bersama.

“Kamu mau ke mana?”

Sarinah, jawabmu. Kamu ada pertemuan dengan dua orang teman dan beberapa cangkir kopi. Sudah janji, namun sedari tadi sulit mendapatkan taksi. Setauku itu dekat dengan bunderan HI. Aku tawarkan tumpangan dengan barter penunjuk jalan. Dan sekali lagi, kamu mengangguk.

“Kenal Echa udah lama?”

Baru setahun belakangan, katamu. Sebelumnya hanya kenal biasa, namun menjadi dekat di semester lima ini. Sering bersama dalam tugas kelompok, membuat kamu tau lebih jauh tentang Echa. Tentang lucunya, tentang ramahnya, dan tentang orang tuanya yang tidak memperbolehkannya pulang malam. Kelas ekonomi makro yang membuat kalian dekat. Begitu penjelasanmu. Lalu kamu bertanya balik. Aku bilang juga baru beberapa bulan kenal Echa. Dulu rumahku bukan di Pondok Kopi dan baru saja pindah ke sana. Kamu hanya mengangguk pelan sambil bilang pertigaan depan belok kanan.

“Ini masuk parkirnya dari mana ya?”

Kamu bilang tak usah masuk parkir. Turunkan saja kamu di depan sini agar aku bisa menghemat waktu. Aku jawab sebetulnya tak apa. Sebagai tanda terima kasihku untuk kamu yang sudah berbaik hati mengantarku. Sempat ada debat kecil namun akhirnya kamu mengalah. Ku masuk kan mobil lewat spasi besar sebelah gedung. Saat petugas mengetikkan nomor plat mobil, saat itu aku bertanya,

“Boleh minta nomor handphone-nya?”

Dengan segera kamu bilang boleh. Kamu sebut 10 digit angka dan sebuah nama setelahnya. Rani Priwasdani. Lalu kamu menunjuk café yang paling depan. Dari balik jendela, sudah terlihat dua orang teman yang sudah menunggu dengan secangkir minuman di tangan masing-masing. Sesaat sebelum kamu menutup pintu, kamu bilang kapan-kapan main ke kampusmu dan kita bisa jalan sama Echa juga.

“Iya. Hehehe.”

Begitu jawabku berbarengan dengan suara pintu mobil yang tertutup. Kutancap gas dengan senyum terkembang di wajah. Dari depan Sarinah, aku lurus. Ketemu bundaran HI belok kiri. Kembali ke arah Salemba, kembali ke sebrang kampus nomor satu di negara ini, kembali mencari beberapa mahasiswi yang sedang berdiri sendiri.

“Main ke kampus dan jalan sama Echa?”

Dalam hati aku tertawa. Entah kampus yang mana, entah Echa siapa. Yang jelas, aku hanya tau bahwa semua orang setidaknya punya satu teman bernama Icha atau Echa.

Dan itu lah caraku memodusimu.

-The End-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

The Simple Things

25 Saturday Aug 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerita cinta, cerpen, Mia Haryono, simple things in love

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

PING!

“Mel, I need you. Asap. Gue sama Mirza just broke up.”

Melisa menerima sebuah pesan BBM dari sahabatnya, Icha, yang mengabarkan ia baru saja putus dari Mirza, pria yang dipacarinya hampir satu tahun ini.

Sebuah pesan singkat namun sangat mengejutkan bagi Melisa, mengingat baru saja malam minggu kemarin mereka bertiga jalan bareng dan ketawa-ketiwi bersama. Lalu tanpa pikir panjang Melisa segera menelpon sahabatnya itu.

Begitu telepon diangkat, yang terdengar adalah suara isak tangis Icha.

“Cha, lo dimana? Gue samperin ya.”

“Di rumah, Mel. Ke sini ya cepat, gue butuh lo.” Suara Icha terdengar bergetar. Melisa mengiyakan dan segera menemui sahabatnya yang sedang patah hati itu.

Saat satu jam kemudian Melisa sampai di rumah Icha, ia menghambur ke kamarnya dan segera memeluk Icha. Icha sedang duduk di atas kasur dengan kain seprai yang berantakan. Tissue bekas ia menyeka air mata bertebaran di lantai.

“Ada apa, Cha?” tanya Melisa sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.

Icha mencoba berbicara sekuat tenaga dan mengambil nafas berkali-kali. Dengan nada amarah ia menjawab, “Mirza selingkuh.”

“Tau dari mana? Sama siapa?”

Melisa masih enggak percaya akan pernyataan sahabatnya itu. Melisa tau betul, Mirza itu cinta mati sama Icha. Berkali-kali Icha memutuskan hubungan dengan Mirza saat bertengkar, pria itu pasti mati-matian mempertahankannya. Tapi sepanjang yang Melisa tau, masalah dalam hubungan mereka enggak pernah sampai melibatkan pihak ketiga.

“Lo inget kan, gue pernah cerita tentang cewek yang suka nebeng mobil Mirza kalau pulang kerja?”

“Kalau enggak salah, Intan kan namanya? Masa sih sama dia? Enggak mungkin, Cha. Mirza pernah gue tanya dan mereka bener-bener cuma temen pulang bareng aja.”

“Itu kan cerita Mirza. Gue percaya selama ini dia jujur sama gue, Mel. Dan ternyata dia bohong! Mereka selingkuh di belakang gue. Bangsat enggak tuh. Gue sakit, Mel.” cerocos Icha.

Icha menyeka lagi air matanya dengan tissue, menyisihkan ingus di hidungnya, lalu melempar tissue penuh virus itu ke lantai kamarnya. Dia melanjutkan ceritanya, “tadi siang waktu lunch sama Mirza, gue mergokin si cewek jalang itu nge-BBM Mirza.”

“Mesra banget, Mel. Bilang kangen! Gimana gue enggak shocked coba?” Icha sesenggrukan lagi.

“Duh sabar ya, Cha. Tapi gue mau juga denger dari versi Mirza boleh? Kalian sama-sama sahabat gue. Gue harus bersikap objektif.”

***

Keesokan harinya Melisa dan Icha makan malam bersama di restoran favorit mereka. Icha masih membutuhkan kehadiran sahabat terbaiknya, untuk membantunya melewati masa sulit. Icha sendiri sedari tadi enggak menyentuh makanannya. Kebanyakan orang sedang patah hati memang kehilangan nafsu makan.

Satu hal yang Icha enggak tau, Mirza sudah meminta bantuan Melisa untuk membawa Icha ke restoran ini. Mirza harus menjelaskan kepada Icha, bahwa semua ini adalah salah paham semata. Mirza ingin mendapatkan kesempatan untuk kembali kepada Icha, dengan meminta maaf kepada wanita yang sangat dicintainya itu.

Tak sampai hati melihat ketulusan Mirza, Melisa pun setuju untuk membantu memudahkan rencananya. Melisa membawa Icha ke restoran, lalu Mirza akan muncul.

Dan tepat sesuai rencana, tiga puluh menit setelah Melisa dan Icha sedang menyantap makan malam mereka, Mirza tiba-tiba menghampiri meja mereka.

Keceriaan yang biasa menghiasi wajah tampan Mirza sama sekali tak terlihat malam ini. Ada kegelisahan dan ketakutan besar tersirat dari penampilannya. Dia menenteng sebuah tas keranjang kertas di tangan kirinya. Setangkai mawar merah terselip di antara jemari tangan kanannya.

Icha yang menyadari kehadiran Mirza lalu melotot ke arah Melisa. Pandangannya seolah berbicara “What the hell is he doing here?” Ia sudah hampir berdiri untuk pergi, tapi Melisa menarik lengannya dengan sigap. “Cha, tunggu. Jangan pergi. Kasih Mirza kesempatan bicara.”

Mirza yang panik akan Icha yang tampak ambil kuda-kuda untuk melarikan diri, segera duduk di sebelah Icha.

“Tolong, Cha, kamu dengerin aku dulu. Kamu itu salah paham.” Melisa masih memegang tangan Icha yang sedang mengepal karena menahan marah.

“Aku memang salah enggak pernah cerita sama kamu. Intan ngejar-ngejar aku, yang. Tapi aku sudah menolaknya.”

Dengan panjang lebar Mirza menjelaskan, “Sejak kutolak, itupun dengan baik-baik, dia juga udah enggak nebeng aku pulang lagi. Aku yang bilang enggak bisa lagi, selama dia belum bisa normal sama aku. Dia terpaksa menerima tapi ya itu…kadang masih suka kirim BBM enggak jelas.”

Icha masih terdiam.

“Sebagai tanda bersalah dan rasa menyesal, ini aku bawain sesuatu.” Lalu Mirza mengeluarkan sebuah barang dari tas keranjang kertas yang ditentengnya ketika masuk restoran tadi.

Sebuah bingkai. Isinya mozaik gambar Icha yang terbentuk dari kumpulan foto mereka berdua. Cantik sekali. Melisa enggak menyangka di balik penampilan maskulin Mirza, ternyata ia sangat sentimentil.

Icha tetap terdiam dan tak melirik Mirza sedikitpun. Melisa yang menyaksikannya sudah berkaca-kaca dan berulang kali mengeluarkan ungkapan haru.

“Aku bawain bunga juga buat kamu, yang. I’m sorry and I really mean it.”

Bunga yang disodorkan oleh Mirza ternyata diterima oleh Icha. Tapi baru saja senyuman tersungging di wajah Mirza, raut mukanya berubah kecewa, ketika Icha menyelupkan mawar itu ke dalam gelas minumannya. Beberapa pasang mata dari meja pengunjung restoran ini ikut menonton pertengkaran ini. Tentu saja disertai gunjingan, people do love watching drama.

“Udah ya Mirza. Aku enggak butuh kamu luluhin kayak gini. Pokoknya putus ya putus.” tegas Icha.

“Cha, kamu jangan ambil keputusan dalam keadaan marah begini. Kamu ingat dong perjuangan aku bertahun-tahun lakuin apa aja sampe kamu akhirnya jadi milikku. Setahun aku nungguin kamu, terus setahun lagi kita pacaran. Dua tahun yang kita lalui itu mestinya jadi pertimbangan kamu.”

“Ngerti enggak sih, Za. Kamu tuh enggak usah bahas-bahas lagi segala perjuangan kamu yang besar lah, apa lah…”

“Semua itu jadi enggak berarti apa-apa karena ulah kamu. Kamu enggak jujur, dan aku enggak bisa terima. Pokoknya aku enggak percaya lagi.” Suara Icha semakin meninggi penuh emosi. Ia menarik lengannya yang masih di pegang Melisa, lalu bangkit berdiri.

“Dua tahun itu means nothing, karena satu hari waktu aku menangkap basah bbm si jalang itu.” ucap Icha lalu pergi meninggalkan Mirza dan Melisa.

“Jangan dikejar dulu, Za. Give her a little more time, okay.” saran Melisa.

Mirza menunduk. Ia menangis pelan.

Dalam hati Melisa terenyuh melihat pria di depannya yang benar-benar hancur. Astaga, cinta mati emang si Mirza ini.

***

Sebulan berlalu setelah perpisahan kedua sahabat Melisa itu, Mirza masih berusaha mendapatkan cintanya lagi. Luar biasa perjuangan pria ini, pikir Melisa. Ia tak gencar mengirimkan pesan yang berisi ucapan maaf dan meminta Icha kembali.

Tak satupun dibalas Icha.

“Mirza masih kontak lo, Cha?” tanya Melisa sambil membolak-balik menu makanan. Hampir tiap hari mereka menghabikan waktu bersama-sama, terutama ketika saat jam makan malam.

Icha mengganguk.

“Kamu nggak kangen sama Mirza?”

“Ya kangen lah, Mel. Kehilangan ini masih berasa banget. Tapi mau gimana lagi, gue harus bisa melupakan dia.”

Pesanan mereka pun datang, Melisa tanpa banyak basa-basi langsung bersuara riang, “Mari makaaan.”

Di saat Melisa sudah menyendokkan nasi goreng pesanannya beberapa suap ke dalam mulutnya, Icha masih bersibuk sendiri dengan botol minuman mineralnya. Ia mencoba dengan susah payah membuka tutup botolnya. Icha, sadar dengan kelemahannya yang satu ini, tidak pernah bisa membuka botol air mineral sendiri.

Dan selama dua tahun ini, Mirza lah yang selalu membukakannya untuk Icha. Icha meringis, “Mel, tolongin dong.”

Melisa menghentikan makannya ketika menyadari sahabatnya itu kesusahan. Melisa tiba-tiba ikut menyadari kelemahan sahabatnya ini. “Cha, lo itu bener-bener enggak bisa buka tutup botol aqua?”

Icha menggeleng.

“Jadi, selama gue bareng dengan lo dan Mirza itu, yang Mirza selalu bukain botol aqua buat lo. Itu bukan inisiatif dia, karena dia laki banget dan gentle?”

Icha menggeleng.

“Damn it!” Melisa terdiam sepersekian detik sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Cha, lo yang enggak bisa buka tutup botol itu hal simpel banget. Hal kecil banget, kebanyakan perempuan emang gitu. Tapi lo sadar nggak, Mirza itu bahkan inget hal sesimpel itu dari lo. Dan tanpa lo minta tolong bukain, dia udah inisiatif bukain buat lo, Cha.”

Begitu emosinya Melisa, sampai air mata menetes juga di pipinya.

“Ih Melisa, kenapa lo jadi nangis gini…”

“You know what, it’s the simple thing but touchy.”

Melisa menyeka air mata dengan punggung tangannya, “Berapa banyak cowok yang memperhatikan hal kecil seperti itu ke cewek? Cowok akan bukain botol kalau ceweknya minta tolong. Tapi Mirza, he paid attention for you in every detail.”

Icha tercengang, air mata sudah memenuhi matanya. Mengedip sekali saja, air mata itu sudah pasti berguguran.

“Did you get my message?” tanya Melisa.

“Seumur hidup lo, saat lo buka tuh botol aqua dengan susah payah, lo akan selalu ingat tuh laki. Dia cinta mati sama lo. Dan gue yakin, dia enggak selingkuh, Cha.”

Icha mulai menangis.

“Because, sometimes it’s the simple things someone did to you that can not make you simply forget about him.”

Melisa melanjutkan, “The way he says your name, the way he looks at you, even the way dia bukain tutup botol aqua itu. Silly sih. Simple but counts.”

“Iya, Mel. Gue bego banget. Kenapa gue enggak pernah mikir sampe ke situ. Gue kebawa emosi dan sampe segitunya ke Mirza.”

“Pikirin baik-baik lagi, Cha. Ya emang sih kita bisa ukur kadar cinta seseorang dari perjuangannya. Tapi coba diingat-ingat lagi deh hal-hal kecil yang pernah dia lakuin. Kelihatan kecil tapi sebenarnya, it means a lot.”

“Mirza paham banget sama kekurangan gue dan dia enggak membiarkan gue meminta duluan bahkan. Dia otomatis bukain botolnya buat gue. Dia enggak mau gue kesakitan karena tutup yang susah dibuka itu ngegesek kulit gue.”

Icha kemudian berusaha lagi membuka botol dengan sekuat tenaga. Ia menggunakan kukunya untuk menusuk bagian yang merapatkan tutup dengan segel pada botol itu. Lalu tiba-tiba sebuah tangan merebut botol itu dari tangan Icha. Kekuatan seorang pria dari tangan si perebut itu berhasil membuka tutup botolnya. Lalu kembali menyerahkan botol yang siap di minum itu kepada Icha.

Icha pun menjawab, “Makasih, Za.”

Melisa pun tersenyum sambil mengedipkan mata pada Mirza.

— THE END —

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

God Knows

01 Wednesday Aug 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@sanny_nielo, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Julianti Chiasidy

Prepared by Client:
Julianti Chiasidy (@sanny_nielo)

Sore itu, senja turun perlahan membungkus bumi. Dari jendela tempat aku duduk, aku menikmati semburat oranye yang menyilaukan dan nyanyian dengkuran halus di sisi kananku. Aku menoleh perlahan, di sanalah kudapati sosoknya sedang tertidur. Dengkuran halusnya, bukti betapa lelah harinya. Dan aku hanya bisa menarik nafas panjang. Kembali aku menikmati semburat oranye yang merambat masuk lewat celah-celah jendela, berpadu dengan dengkurannya.

Aku mengingat percakapan kami.

“Jangan terlalu menyiksa diri, kamu nggak perlu ambil semua tanggung jawab itu..”

Dia tersenyum. “Ini satu-satunya cara, supaya aku bisa mengalihkan pikiranku..”

“Mengalihkan dari apa? Dari Giana?”

“Dari Giana dan dari Papa, San..”

“Ada cara lain, El, nggak harus kaya gini..”

Dia, si Ello tersenyum. “Ini yang terbaik. Oke, nanti sore ya, di ruang rapat..” Ello berlalu dengan map tebalnya.

Aku menarik nafas panjang lagi, dan menatap wajah Ello yang masih tidur. Lelaki gigih, dengan berjuta mimpi dan keyakinan. Pribadinya yang supel, membuat dia memiliki banyak teman. Dan sisi charming-nya membuat banyak gadis jatuh cinta. Dari sekian gadis yang menyukainya, hatinya tertambat pada Giani Lupita. Gadis yang justru tidak menyukainya.  Sesuai dengan kegigihannya, Ello mengejar Giani hingga keujung dunia. Ya, Ello berangkat ke Perth dua bulan lalu, hanya untuk mengejar Giani. Sayangnya, Ello kembali sia-sia, dengan wajah suntuk dan penampilan lusuh. Hatinya telah tertolak.

Aku sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa Giani menolak laki-laki yang sampai menyusul dia ke Perth, hanya untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dan perasaannya. Sampai hari ini, Ello sama sekali nggak mau cerita. Perihal dia tidak berhasil membawa Giani pulang. Tapi, aku sering mendapati Ello menatap foto Giani di Blackberry-nya, dan sesekali tersenyum nanar.

Suara Ello yang akhirnya terbangun dari tidur memecahkan lamunanku.

“San, jam berapa?”

“Setengah enam, El..”

Ello mengangkat badannya, dan merenggangkan punggungnya. “Ayo balik..”

“Kumpulin nyawa dulu..”

Ello tersenyum sambil mengucek matanya. “Pegel, San.. Capek juga ya..”

Aku mendengus. “Percuma, kamu nggak pernah dengerin kata-kataku..”

Ello menoleh ke arahku, memajukan wajahnya, sangat dekat. “Aku dengerin kok, kadang-kadang..” Kemudian dia tersenyum menggoda.

“Kamu selalu gitu, nggak takut kalo aku jatuh cinta sama kamu..”

“Kalo kamu jatuh cinta, ya nggak papa, masalahnya kan, aku mau nangkap cinta kamu yang jatuh apa nggak..”

“Eksplisit ya, bilang aja kamu nolak aku..”

“Siapa bilang..” Ello bangkit berdiri, menyilangkan tas slempangnya. “Ayo pulang..”

Aku tersenyum, ikut berdiri dan memanggul ranselku.

Ello berjalan di depanku, dan aku mengikutinya. Menyusuri lorong ruang rapat beragam Himpunan Mahasiswa yang sepi, masih dengan semburat oranye yang perlahan menghilang.

“El, percaya sama aku. Suatu hari, luka hati kamu karena Giani pasti sembuh.. dan kamu, kamu sama sekali nggak akan kaya Papa kamu.. Jangan sedih terus, El..”

Ello menoleh ke belakang, dan tersenyum. “Kamu juga bisa nemuin yang lebih baik dari aku..”

Aku tertunduk, nggak nyangka Ello bakal ngomong kaya gitu. Meski nggak ada maksud apa-apa, tapi kata-kata Ello itu cukup menyakitkan.

Ello mengulurkan tangan kanannya ke belakang, dan menggandeng tangan kiriku. “Jangan berdiri di tempat yang aku nggak bisa lihat..”

Dan selanjutnya kami memilih untuk diam.

***

NIELO. Sanny + Ello.

Aku menutup organizer bersampul beludru merah, dengan jahitan NIELO di atasnya. Desta, sahabatku, bilang, diary beludru itu adalah diary of Nielo. Ya, sebuah diary berisi cinta bertepuk sebelah tangan antara aku dan Ello.

Kami bertemu semester 4 dan aku jatuh cinta beberapa bulan berikutnya. Ello adalah sosok sahabat yang baik. Dia selalu berusaha ada, sekalipun dengan beragam kesibukan yang memang sudah dia tekuni sejak sebelum dia patah hati. He’s my guardian angel.

Seperti beragam kebetulan yang ada di bumi ini, aku juga nggak pernah tahu, bagaimana bisa aku dekat sama Ello. Sampai seperti saat ini. Layaknya sebuah persahabatan, banyak hal yang kami ceritakan. Kami saling berbagi bersama. Dan hari demi hari, kami semakin dekat. Begitupun dengan perasaanku yang semakin menguat.

Satu hal yang menarik dari kami, aku dan Ello adalah dua pribadi yang saling menjaga satu sama lain. Tapi kami sama-sama tidak dapat mengungkapkannya. Kami nyaman untuk selalu bersama, meski kami sadar, ada satu pembatas besar yang tidak akan pernah bisa kami lewati.

“Kalo aku bisa menemukan orang lain yang lebih baik daripada kamu, aku akan lakukan. Kenyataannya hingga saat ini, kamu adalah yang terbaik yang bisa aku miliki namun tidak aku miliki. Bagaimana caranya aku bisa mencari yang lain?”

“Kamu tahu sendiri, ketika kita bersama, akan ada banyak sekali luka. Kita sudah dewasa, San.. Kita nggak bisa berhenti seenaknya.”

“Apa kita memang nggak bisa melawan?”

“Apa kamu mau melawan?”

Aku terdiam, menggenggam telapak tanganku kuat-kuat. “Kita memang tidak pernah bisa melawannya.”

Ello menggenggam tanganku. “Mungkin kita memang hanya bisa sebatas ini, San. Tapi, aku benar-benar nyaman. Dan aku nggak mau kehilangan kamu. Kalau ada hal yang bisa kita lawan, pasti akan kita lawan.”

Aku mengangguk sambil menahan air mataku, ini selalu jadi topik yang menyakitkan.

“Jangan menangis karena kita tidak bisa saling memiliki, tetapi bersyukurlah, karena Tuhan mu dan Tuhan ku, masih mengijinkan kita bertemu dan berbagi rasa. Masih mengijinkan aku untuk tetap menggenggam tanganmu seperti saat ini.”

Aku mengangguk lagi. “Dengarkan aku, Ello.. Jika kita bertemu lima tahun lagi, dan segalanya belum berubah, ayo kita bersama. Aku janji, saat itu, aku akan jauh lebih kuat. Aku akan melawan segalanya  dan aku pasti bisa mendampingimu.”

Ello menatapku bingung, namun akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk dan tersenyum.

“Aku boleh memelukmu?”

Ello merentangkan kedua tangannya dan aku langsung memeluknya. Aku tumpahkan beragam duka dan luka yang selama ini ku simpan, akan ku kenang hari ini sebagai satu hari terbaik dalam hidupku.

“Apa kamu menyayangiku?”

“Iya aku menyayangimu..” Ello mengusap punggungku yang bergetar dengan tangis pilu.

***

Ello memang tidak pernah mengingkari janjinya, aku pun tidak, kita tetap berkirim kabar, sampai sebuah email membawaku kemari. Aku duduk tenang di kursi deretan depan, dengan dress tertutup dan high heels 12 cm, dan riasan sederhana, sesekali aku melempar senyum, menyembunyikan luka menganga yang sekali lagi tertoreh dalam.

Wedding Bell berdering, dan Ello menggandeng Giani memasuki pintu gereja dan melangkah dengan pasti menuju altar.

Inilah alasan akhirnya Ello mendapatkan Giana.

“Apa alasanmu menolakku, G?”

“Karena kamu selalu bersama gadis itu, gadis yang tidak aku sukai..”

“Sanny maksud kamu?”

Giani mengangguk. “Ada pilihan yang harus kamu buat, aku atau dia..”

Dear Giani, kamu tidak perlu meminta Ello membuat pilihannya. Takdir kami telah memilih dengan baik, terlebih Tuhan kami.

 –The End–

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d