Tags

, , , , , ,

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

“Riani. Riani. Riani.” Sebuah tangan menepuk-nepuk punggung tanganku secara perlahan.

“Eh, iya? Kenapa, Gas?” suara Bagas membuyarkan lamunanku dan menarikku kembali ke alam nyata. Ini semua gara-gara Sinta. Perkataan Sinta tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Membuat pikiranku melayang kemana-mana mengenai apakah aku harus mengikuti sarannya atau tidak.

“Kamu kenapa sih malam ini, Ri? Dari tadi kok kayak lagi nggak di tempat pikirannya?”

”Ah, enggak.” Aku langsung meminum segelas Hot Chocholate yang ada di atas meja untuk mengalihkan kegugupanku. Saat ini aku dan Bagas sedang berada di sebuah kedai kopi tempat biasa kami menghabiskan waktu sehabis pulang kantor. Namun karena minum terburu-buru, Hot Chocholate itu sedikit tumpah dari mulutku. Tumpahannya membasahi blazer-ku.

”Tuh, kan, kalau minum tapi pikirannya nggak di sini, ya begini jadinya. Ada yang lagi dipikirin ya?” Bagas bertanya sekali lagi sambil mengelap blazer-ku dengan tisu. Pria ini memang sangat perhatian sekali. Ini yang menjadi alasanku nyaman bersamanya.

”Nggak apa-apa kok, Gas. Benar. ”

“Kalau kamu lagi banyak pikiran, mending cerita deh. Aku Siap ngedengerin kok. Biasanya juga begitu, kan? Kamu cerita soal masalah kamu, soal keluarga kamu, soal urusan kantor, dan aku akan jadi teman yang selalu siap mendengarkan dan memberi masukan.”

Teman. Setiap kali aku mendengar kata itu, ada perih yang mengiris pelan-pelan hatiku. Mencoba memaksakan senyum palsu kepadanya. Damn you, Sinta. Kali ini elo benar. Mungkin aku memang harus mengikuti sarannya. Percakapan tadi siang pun kembali berputar di kepalaku.

***

”Eh, nek, lo udah sedekat apa sih dengan si Bagas ini? Jangan-jangan lo udah jadian ya?” Sinta, sahabatku bertanya di sela-sela makan siang kami di kafetaria kantor.

“HUSSH!! Ngomongnya pelan sedikit kenapa? Kan nggak enak kalau ada yang mendengar.” kucubit lengan Sinta karena kesal dia sudah menggodaku.

”Jadi bener nih, lo udah jadian?” Sinta mengonfirmasi sekali lagi.

Aku cuma menggelengkan kepala.

”Lho, tiga bulan kalian dekat, sering pulang bareng, ngopi-ngopi bareng, bahkan terakhir kali lo cerita kalau dia nganterin lo belanja sepatu dan tas, tapi dia belum juga nembak lo?”

”Ya gitu deh.”

”Hmm.. jadi selama ini lo digantungin, gitu?”

”Ya nggak gitu juga sih, Sin. Mungkin Bagas belum nemu waktu yang pas aja. Mungkin dia pengen kenal gue lebih dekat lagi.”

”Susah deh ngomong sama orang yang lagi falling in love. Memang Bagas orangnya kayak gimana sih, nek? Selain ganteng dan lucu, tentunya ya.”

”Ya, dia sangat hangat dan perhatian. Teman curhat yang baik dan enak. Kayaknya tahu banget soal isi hati dan cara handle perempuan, bahkan saat-saat emosi gue lagi nggak stabil gara-gara PMS. Mantan-mantan pacar gue dulu, nggak ada yang sangat perhatian dan sepengertian itu. Bahkan kalau ngantar gue belanja juga, dia nggak pernah nunjukin muka bete. Kalau dimintain pendapat soal mana baju atau sepatu yang lebih bagus, dia selalu tau pilihan terbaik. Pokoknya, bagi gue dia cowok yang sempurna banget deh.”

”Sempurna tapi kalau cuma jadi teman ya percuma, non. Terus, lo mau digantungin sampai kapan? Cucian basah kalau digantung sih bagus, bakal kering. Lah kalau hubungan digantung, ya bakal pahit jadinya.“

”kok lo ngomongnya gitu sih, Sin? Harusnya sebagai sahabat lo mendukung gue, bukan malah ngejatuhin kayak begini?“

”Justru karena gue sahabat lo, gue nggak mau lo terluka.“

”Terus, gue harus gimana, Sin?“

“Ya mungkin lo yang harus gerak duluan!”

“Tapi kan gue cewek, Sin. Masa cewek yang gerak duluan sih?”

“Kita nih perempuan, pengennya apa-apa yang enak harus Ladies First, tapi soal gerak duluan masih aja malu. Ri, dengerin ya, arwah Ibu Kita Kartini pasti nggak akan pernah tenang kalau lo masih teriak-teriak emansipasi tapi soal gerak duluan masih ngarep cowok yang bakal ngelakuin!”

Aku hanya bisa terdiam oleh perkataan Sinta.

***

Siang pun telah berganti malam. Di hadapanku sekarang bukanlah Sinta, tapi Bagas. Tapi perkataanya masih saja menghantuiku.

“Eh, maaf ya Ri. Aku jawab email dari kantor dulu. Dari si bos soal permintaan client kita yang kemarin.” Ucap Bagas lalu menatap serius layar smartphone-nya sambil sesekali jarinya menari mengetikkan beberapa kalimat di atas layar touchscreen gadget tersebut.

Bagas Candra Wijaya, anak baru special hiring yang ‘dibajak’ dari kantor pesaing. Usia awal tiga puluhan. Mempunyai wajah yang terbilang cukup tampan, berperawakan tinggi dengan badan yang cukup atletis karena sering fitness. Sorot matanya cukup tajam dan yang terutama lesung pipitnya ketika dia tersenyum bisa membuat luluh wanita manapun yang melihatnya. Dari semua hal tersebut, hal terpentingnya adalah dia masih single alias belum punya pacar. Aku bisa memastikan, hampir semua wanita di kantor ini jatuh cinta padanya. Tidak terkecuali aku, tentunya.

Semenjak kepindahannya, suasana di kantor juga menjadi berubah. Sikap dan pembawaannya yang sangat fleksibel dan tidak terkesan kaku – hasil dari budaya di kantor sebelumnya yaitu sebuah perusahaan swasta asing – sangat membawa pengaruh positif kepada kantorku, khususnya unit kerjaku yang sangat kaku. Yah maklum  hasil warisan budaya karyawan yang sudah cukup sepuh.

Balik lagi ke soal Bagas, dengan semua kelebihannya, usia masih muda namun sudah memegang jabatan marketing manager di kantorku, membuatku semakin tergila-gila kepadanya.

Oh iya, kenalkan namaku Riani. Wanita karir yang usia-nya tiga tahun lagi menginjak kepala tiga. Wajahku tidak terlalu cantik, namun teman-temanku bilang cukup manis, tipe cewek yang cantiknya tidak membosankan. Tinggi badan rata-rata, kulit berwarna coklat, tidak putih seperti para model iklan pemutih kulit di televisi itu. Aku cenderung pendiam, tidak akan memulai pembicaraan jika tidak ditanya terlebih dahulu.

Dengan semua hal-hal tersebut, sebenarnya membuatku minder karena harus bersaing dengan wanita-wanita yang di-cap cantik di kantorku untuk memperebutkan Bagas. Bahkan untuk berbicara urusan di luar pekerjaan dengan dirinya saja aku tak pernah berani. Tapi semuanya berubah setelah kejadian di suatu malam ketika pertama kalinya aku bisa berbicara Bagas.

***

“Lagi nunggu taksi ya?” terdengar suara dari dalam mobil bersamaan dengan diturunkan kaca jendela depan. Mobil ini tiba-tiba saja berhenti tepat di depanku yang sedari tadi sedang menunggu taksi. Dari dalam mobil sedan berwarna hitam metalik itu kini terlihat jelaslah siapa yang berbicara

“Eh, Bagas. Kirain siapa? Iya, nih lagi nunggu taksi. Tapi, dari tadi satupun tidak terlihat.”

”Bareng sama aku aja yuk!”

”Nggak usah, Gas. Nanti ngerepotin”

“Enggak, nggak sama sekali. Memangnya pulangnya ke arah mana?” tanyanya lagi.

“Oh, dekat kok. Kost-an ku di daerah Setia Budi. Aku nunggu taksi saja” ucapku.

Ah, bodoh! Bodoh! Bodoh! Inilah kelemahan wanita nomor satu, gengsinya terlalu tinggi. Seorang pria tampan yang aku kagumi meminta untuk mengantarku pulang, tapi aku malah menolaknya.

“Wah kebetulan banget, itu searah dengan apartemenku. Apartemenku di daerah Bunderan HI situ. Ayolah, naik mobilku saja. Dijamin, nggak akan diculik kok.” Ucap Bagas sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis dan sangat menggoda.

“Tapi bener ya, aku nggak diculik dan langsung diantar pulang dengan selamat?” balasku sambil tersenyum juga.

Swear!!!” sebuah huruf huruf V dibentuk dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Lalu aku pun masuk ke dalam mobilnya. Kelemahan wanita nomor dua adalah mudah luluh oleh bujuk rayu dan senyum manis seorang cowok tampan.

Kejadian antar pulang sehabis kami lembur pada malam itu, mungkin menjadi awal aku jatuh cinta kepada Bagas. Maksudku, benar-benar jatuh cinta. Sebelumnya, aku hanya nge-fans saja. Maklum, Bagas adalah favorit cewek-cewek di kantorku.

Setelah malam itu, hampir setiap habis lembur di kantor aku selalu diantar pulang oleh Bagas. Tentu saja hal ini membuat iri sebagian besar wanita-wanita di kantor. Aku merasa diriku jadi bahan gosip utama oleh mereka. Namun di dalam hatiku, aku tersenyum bahagia karena bisa dekat dengan Bagas. Bahagia karena akulah wanita yang dipilih untuk diantar pulang bersama Bagas.

Tiga bulan telah berlalu semenjak malam itu. Entah sudah berpuluh-puluh kali aku duduk di kursi sebelah kiri mobilnya dalam perjalanan pulang menuju kost-an-ku. Memperhatikan dia bercerita tentang segala hal, dari masalah kerjaan hingga mengomentari juri reality show acara masak yang sok galak itu. Di malam-malam yang lain, giliran aku yang bercerita keluh kesahku. Tentang keluargaku, tentang adik-adikku yang masih bersekolah dan hal-hal lainya.

***

”Sori ya, obrolan kita keganggu kerjaan kantor. Sampai mana tadi obrolan kita?” untuk kesekian kalinya suara Bagas menyadarkanku dari lamunan. Sepertinya Bagas telah selesai dengan urusan email kantor tadi. Smartphone-nya ditaruh kembali ke dalam kantung kemeja. Matanya kembali menatapku dalam-dalam. Sorot mata yang membuatku tak kuat menatap balik karena wajahku pasti akan bersemu merah.

Di sinilah kami duduk sekarang. Di sebuah kedai kopi favorit kami, tempat kami menghabiskan waktu sepulang kantor hingga larut malam. Biasanya untuk melanjutkan obrolan kami yang tidak selesai di dalam mobil.

“Oh iya, aku ingat. Soal kamu yang sepertinya sedang ada pikiran, dan aku sebagai teman kamu siap mendengarkan.” Bagas tersenyum kepadaku.

”Teman?” Sebuah pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutku.  Sekali lagi kata-kata Sinta pun melintas dalam otakku

”Iya, sebagai teman.” Jawab Bagas dengan nada sedikit bingung.

”Gas,…..”

”Iya, kenapa Ri?”

”Aku mau tanya sesuatu. Tapi janji ya jangan marah?” Aku menarik napas sebentar, “menurut kamu, aku ini kamu anggap sebagai apa sih selama ini? Teman kantor, sahabat, atau…. apa?” Nafasku tertahan seketika setelah aku mengatakan kalimat tadi. Aku nggak percaya kata-kata itu bisa keluar dari mulutku.

”Bagiku…. ya kamu lebih dari seorang teman kantor. Kamu itu sahabatku yang paling dekat. Memang kenapa, Ri?” Bagas berkata dengan nada yang semakin kebingungan

”Cuma sahabat aja, Gas? Gak lebih?” ada keheningan yang cukup panjang setelah aku mengucapkan pertanyaan itu. Waktu berjalan terasa sangat lambat. Rasanya aku bisa mendengar setiap gerak dari detik jarum jam di atas tembok sana. Tapi anehnya, detak jantungku berdegup semakin cepat.

“Iya, Ri. Kamu kok tiba-tiba nanya hal itu sih?” Bagas masih terlihat bingung kemana arah dari pertanyaanku. Atau mungkin dia pura-pura bingung. Inilah kelemahan wanita nomor tiga: nggak bisa mengutarakan maksud sebenarnya atas apa yang mau diucapkan.

Aku menghela nafas panjang. Panjang sekali.

”Gas, gimana kalau aku ingin lebih dari sekedar sahabat dengan kamu? Aku ingin menjadi kekasihmu. Tiga bulan waktu yang kita lalui bersama, sudah cukup bagiku untuk menyakini kalau aku sangat sayang sama kamu.”

Kali ini waktu bukan hanya terasa berjalan sangat lambat, tapi berhenti sama sekali. Bumi sepertinya terbalik tiba-tiba hingga membuat perutku terasa diaduk-aduk dan sangat mual. Ingin rasanya aku berlari ke luar pintu karena kebodohan atas ucapanku barusan. Tapi setidaknya di atas langit sana, Ibu Kartini  sudah bisa tersenyum karena salah satu kaumnya menjalankan emansipasi dengan benar. Bukan hanya menuntut soal hak, tapi juga emansipasi kewajiban. Wanita bisa juga bergerak duluan, mengutarakan isi hatinya kepada pria terlebih dahulu.

”Maaf, Ri. Aku tahu kamu wanita yang sangat baik. Aku juga nyaman ngobrol dan jalan sama kamu. Tapi maaf, aku nggak bisa. Bagiku, kamu tidak lebih dari sekedar sahabat.”

Ada hangat yang terasa dari pelupuk mataku. Sebutir air mata tidak terasa mengalir melewati pipi.

”Kenapa, Gas? Kenapa? Apa aku tidak begitu cantik untuk menjadi kekasihmu? Atau aku kurang baik? Terus selama ini, apa maksud kamu mengantarkanku pulang, menemaniku belanja dan obrolan-obrolan nggak penting kita lewat telepon hingga larut malam? Jawab, Gas?” Kali ini air mata sudah mengalir deras dari kedua mataku.

”Bukan itu masalahnya, Ri!”

”Kalau bukan itu masalahnya, terus apa, Gas?” suaraku sedikit meninggi. Bingung, sedih dan marah bercampur menjadi satu di dalam dadaku. Sepertinya Bagas sangat tidak siap dengan pertanyaanku tadi.

”Jujur Ri, selama ini aku sudah berusaha untuk mencoba dekat denganmu. Aku berharap aku bisa jatuh cinta sama kamu. Tapi nyatanya sekian lama aku dekat denganmu, rasa cinta itu tidak pernah ada. Maafkan aku, Ri. Bukan maksudku menyakitimu. Kamu terlalu baik untuk aku sakiti. Maaf, tapi aku bukan pria yang selama ini kamu kira.”

Nafasku tiba-tiba berhenti. Aku tidak bisa bernafas. Rasanya tenggorokanku tercekat. Tidak percaya dengan apa yang baru kudengar barusan. Ratusan bahkan ribuan kalimat rasanya ingin melompat keluar dari mulutku, namun sia-sia.

”Maksud kamu apa sih, Gas?”

”Aku bukan pria normal, Ri,” Bagas menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya “Aku gay. Ri”

Pandanganku mendadak kabur lalu berubah menjadi gelap.

 -The End-

Advertisements