• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Tag Archives: cerita cinta

LIFT

29 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

cerita cinta, cerpen, jatuh cinta, romeogadungan, Tirta Prayudha

Prepared by Client:
Tirta Prayudha (@romeogadungan)

Selasa, 09.05 WIB

Setengah berlari, gue mengejar taksi burung biru yang berhenti agak jauh di depan. Kombinasi lembur tadi malam, dan handphone yang lupa di cas membuat gue sukses untuk bangun kesiangan pagi ini.

Untungnya, ketukan si bibik kosan yang meminta baju kotor di pintu kamar bisa membangunkan gue.

Minggu ini adalah minggu kedua gue kerja di kantor ini.

Resign dari kantor yang lama dengan alasan ketidak cocokan dengan bos gue, membuat gue tidak berpikir dua kali dalam menerima tawaran kantor baru ini.

Lagi pula dengan posisi yang sama, ditawarkan gaji yang lebih baik. Not bad, huh?

Tapi sayangnya, kenaikan di sisi penerimaan bulanannya tidak berbanding lurus dengan kehidupan asmara gue.

Oia sebelum curhat lebih jauh, kenalin, nama gue Yudha.

Tamat dari jurusan teknik informatika dari Institut Gajah Duduk dan menjadi seorang IT engineer ternyata ngga cukup membuat gue ‘terlihat’ di mata wanita.

Ngga banyak cewe-cewe yang tertarik dengan seorang IT engineer.

Tidak seperti mereka anak hukum yang pintar bersilat lidah atau bahasa kerennya ‘sepik”, atau anak ekonomi yang gaul, anak IT cenderung lebih pendiam.

Ya kayak gue ini.

Efeknya, gue hampir tidak bisa menemukan topik yang nyambung ketika berbicara dengan wanita. Kayaknya ngga mungkin nemu wanita yang ngerti masalah server atau coding.

The point is, I’m so bad at romance.

Oh shit, kebanyakan melamun dan sekarang gue telat.

Turun dari taksi, gue langsung sedikit berlari mengejar lift yang hampir tertutup.

“Hei, tunggu!” kata gue sedikit berteriak.

Dan lift itu nyaris tertutup, ketika kemudian pintu itu terbuka lagi.

Dan sebuah wajah cantik berdiri disana sambil jarinya menekan tombol “open”

“Thank you..” kata gue sambil membenarkan posisi  kacamata minus gue dengan napas yang tersengal

“sama-sama” kata dia tersenyum.

Cantik!

Dia menekan lantai 8, dan gue sendiri lantai 15.

Dan keheningan aneh yang biasa terjadi di dalam lift pun terjadi.

Sekilas gue perhatikan gadis ini. Kemeja putih, rok selutut, rambut hitam serutan kayu yang diikat keatas.

Okay, yang ga tau rambut serutan kayu itu apa, bakal gue kasi tau. Rambut serutan kayu, adalah model rambut yang mirip kayu yang keluar ketika kita meraut pensil. Keriting-keriting melingkar gitu. Karena gue gak tau itu model apa. Gue kasi nama ‘rambut serutan kayu’.

Ding!

Lift berenti di lantai 8 dan si gadis keluar tanpa menoleh sedikit pun ke gue.

Yup, Wajar.

Di dunia asmara, gadis secantik itu berada di kasta tertinggi, ibarat seorang putri yang tinggal di puncak kastil sebuah istana. Sedangkan gue? Berada di kasta terendah sebagai bencong lampu merah.

Ding!

Lift terbuka lagi di lantai 15 dan sebagai anak baru, gue gak pengen telat.

Lari menuju cubicle gue!

Selasa, 23.27 WIB

Dengan mata yang berkantung, gue menekan tombol lift. Ganggunan pada server perusahaan gue di Bangalore, di India sana, membuat gue terpaksa lembur lagi malam ini.

Dan teleconfrence dengan IT engineer di Bangalore bukanlah hal yang ingin gue anjurkan kepada kalian.

Teleconfrence dengan orang India berlogat kental dan diriingi dengan suara piring berjatuhan dan anak kecil yang berteriak-teriak sebagai backsound, membuat kesabaran gue benar-benar diuji hari ini.

Yup, mengingat betapa murahnya ongkos tenaga kerja mereka, membuat gue sedikit memaklumi jika ‘kantor’ mereka berada di dapur rumah mereka sendiri.

Ding!

Pintu lift terbuka di lantai 8, menghentikan lamunan gue tentang orang India. And guess what?

Si gadis cantik yang tadi masuk ke dalam lift yang sama.

Ngga percaya dengan mata gue sendiri, gue melihat ke arah kakinya.

Hampir tengah malam, di sebuah gedung yang sepi, wajar jika gue was-was.

Ternyata heels yang dia pake nyentuh lantai.

Lega.

Gue perhatiin dia lagi. Mukanya terlihat lelah tapi tetap kelihatan cantik.

You know guys, ada beberapa momen dalam hidup seorang pria, dimana mereka akan bertemu seorang gadis cantik luar biasa dan ingin segera berkenalan dengan mereka.

Dan bagi para pria di luar sana, gue bisa bilang, tengah malam di dalam sebuah lift, BUKAN SAAT YANG TEPAT!

Ga ingin kehilangan kesempatan, dengan mengumpulkan segenap keberanian dan nyali, gue akan menginisiasi percakapan.

“Lembur?” tanya gue

………………………………..

!@#$#%%&*&*())!!!

KENAPA GUE NANYA ITU??!! GA ADA PERTANYAAN YANG LEBIH BODOH LAGI?? MASA UDAH PULANG JAM SEGINI NGGA LEMBUR?!

MASA DIA MAU GENTAYANGAN?! *self toyor*

“Iya..” kata dia pelan sambil melihat ke gue.

“ohhhh”

CUMA ‘OHHHH’??? KALO GINI KAPAN MAU JADIANNYA? PAS KIAMAT???

Kata gue menyesali dalam hati.

Ding!

Pintu lift kembali terbuka.

‘Mari..’ kata dia pelan sambil berlalu.

“Ok, hati-hati..” kata gue sambil mengumpulkan harga diri yang udah tercecer entah kemana.

Kamis. 08.46 WIB

Gue menekan tombol lift itu. Dan segera masuk. Dan dari arah kiri, gadis cantik itu juga masuk lift yang sama. Kali ini ga ada sepatah kata yang keluar dari mulut gue.

Cuma sebuah senyum simpul yang gue keluarkan ketika dia masuk lift ini. Wajar, kalo yang gue keluarkan dari mulut gue adalah dispenser baru agak aneh.

Seperti biasa, dia keluar di lantai 8. Dan gue, di lantai 15.

Dan gue mulai menikmati kebetulan yang menyenangkan ini.

Jumat. 08.50 WIB

Gue udah menunggu di depan lift ini selama lima menit, dan ga ada tanda-tanda si gadis cantik akan muncul.

Berdiri sambil berpura-pura membuka smartphone gue, padahal ga ada satu sms pun yang masuk.

Celingak celinguk kiri kanan, dan kini gue udah berubah dari professional engineer ke seorang professional stalker!

Ketika udah pasrah akhirnya masuk kedalam lift, pintu hampir menutup ketika gue liat dia disana. Sedikit berlari kecil menuju lift ini.

Sambil senyum gue tahan pintu lift nya.

“Thanks..” kata dia pelan..

“Gpp, gantian.” kata gue.

Senin, 13.53 WIB

Gue memutuskan untuk turun kebawah untuk beli kopi, yang sangat butuhkan untuk menghilangkan kantuk ini.

Dengan kadar kantuk sedahsyat ini, gue kira gue akan memesan ukuran kopi ukuran venti! Biar mandi kopi sekalian.

Dan gue baru selesai bayar ketika gue melihat dia disana. Baru turun dari taksi dan kesusahan membawa 2 ordner besar dan sebuah tas laptop.

Gue putuskan untuk membantu.

“Sini gue bantuin..” kata gue ke dia.

“Wah, makasih..”

Dan disinilah gue membawakan ordner bertuliskan “Purwantono, Suherman & Surja”.

“Law firm ya?” tanya gue penasaran.

“Bukan, itu accounting firm. Gue auditornya PT. Selaras yang di lantai 8”

“Sendirian?” tanya gue penasaran, karena biasanya auditor kantor gue datangnya segerombolan.

“Ngga, bertiga sebenernya. Tapi manager gue jarang dateng, jadi cuma gue dan 1 staf”

“Ohhhh, “ gue cuma bisa bereaksi itu. Gue gak tau banyak tentang dunia auditor.

Masuk di lantai 8. gue cuma mengantarkan sampai lobby PT. Selaras saja.

“Makasih ya..gue Lila” kata dia sambil menjulurkan tangan.

“Gue Yudha..”

Karena gue ga tau mau ngomong apa lagi, gue putuskan untuk pamit dan segera kembali ke lantai 15.

Hilang sudah kantuk gue, tanpa perlu menyiramkan kopi panas ini ke mata gue.

Entah kenapa, sebuah senyum lebar menghiasi wajah gue kali ini.

Rabu. 11.53

Gue berniat turun makan siang ketika lift berhenti di lantai 8.

Disana, Lila masuk bersama beberapa ibu-ibu.

Gue cuma senyum ke dia dan dia membalas.

Dilantai 6, lift berhenti lagi dan segerombolan bapak-bapak masuk. Lift semakin penuh, akibatnya gue makin mepet kesamping. Dan kini gue berdiri bersebelahan dengan Lila.

Bapak-bapak itu bercanda dengan sesama temannya dengan suara kencang.  Dan ibu-ibu tadi juga ngobrol dengan gerombolannya.

Kondisi berisik di dalam lift kayak gini yang sangat gak gue suka.

“Makan sendirian?” tanya dia pelan secara tiba-tiba.

“Iya..gue anak baru di kantor ini, jadi..belum banyak kenal orang. Lo?”

“Iya kayaknya, staf gue ga dateng..”

Entah keberanian dari mana yang bisa membuat gue mengeluarkan kata-kata berikutnya. Kata-kata yang membuat gue berkeringat dingin menunggu jawabannya.

“Errr, mau bareng?” kata gue agak ragu.

Dan gue bisa bilang ke kalian. Itu adalah 1 detik terlama yang pernah gue rasain dalam hidup gue. Satu detik yang mempertaruhkan segalanya. Satu detik yang membuat gue mati rasa.

“Hmmmm, boleh” kata dia sambil senyum.

Dan, dunia gak pernah terasa lebih indah.

Sabtu, 13.12 WIB, 3 tahun kemudian..

Disinilah gue berdiri. Bersama Lila, menyalami para tamu di sebuah panggung kecil sederhana yang disulap jadi pelaminan yang mempesona.

Ga ada yang bisa gue ceritain lagi, selain makan siang 3 tahun yang lalu itu bukanlah makan siang kami yang terakhir.

Masih ada makan siang makan siang indah lainnya yang gak bisa gue ceritain. Ratusan kebersamaan yang dihiasi tawa, canda, pertengkaran, dan air mata.

Yang buat gue, menjadi suatu kenikmatan jatuh cinta.

Fallin in love is not a liability, it’s a privilege. That comes into the right person at the right time.

Anda tidak bisa memaksakan kapan akan jatuh cinta.

Cinta hanya duduk menunggu di ujung sana sambil menatap kita dan berkata ‘tidak sekarang’ lalu pergi ke orang lain yang sudah tiba waktunya.

Dan hingga kini, gue ga pernah berhenti mensyukuri, bahwa lift yang dulu gue naiki, selalu berhenti di lantai delapan.

Karena di lantai delapan itulah, cinta menyapa gue dan berkata.

“Sekarang waktunya!”

Ding!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Hati-hati, Hati

29 Sunday Apr 2012

Posted by gelaph in Fiction & Imagination

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph, cerita cinta, cerita pendek, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Sepotong Hati berjalan terseok-seok menuju rumah sakit, butuh pertolongan pertama. Di dalam kepanikannya ia berkata “Dok, tolong saya, saya tidak enak badan, nyaris pingsan rasanya. Ada apa dengan diri saya?”.  Dokter hanya tersenyum, “Tenang dulu Mbak Hati, berbaring saja dulu, sini saya periksa.”

Setelah Dokter selesai memeriksa Hati, ia mengeluarkan statement “diagnosa saya sih Mbak Hati keracunan Air Mata. Cukup akut dan tampaknya sudah cukup lama. Saya tidak akan membuatkan resep apa-apa, karena obatnya hanya waktu, serta menolak datangnya Air Mata. Tapi kalau Mbak Hati pingin bedrest di sini sekedar untuk menenangkan diri juga tidak apa-apa. Saya akan minta tolong perawat untuk menyiapkan kamar untuk Mbak Hati.”

Mendengar statement Dokter, Air Mata langsung menyela “Saya bukannya jahat mendatangi Hati terus-menerus, Bu Dokter. Tapi si Wajah sombongnya setengah mati. Jaim parah. Saya mau mendatanginya, ditahan habis-habisan. Kalau saya nekat, langsung dihapus paksa. Terpaksalah saya mendatangi Hati, karena ia selalu mau menerima saya tanpa banyak kata.”

Mendengar perkataan Air Mata, Wajah langsung membela diri. “Mana mungkin aku membiarkan kamu seenaknya datang dan pergi, Air Mata? Kalau aku sedang sendirian sih aku tidak berkeberatan sama sekali. Tapi terkadang kamu mau datang seenaknya, tidak kenal waktu, bahkan ketika sedang banyak orang. Kan aku malu kalau ada kamu, Air Mata!”

“Ya jangan salahkan aku dong, Wajah. Aku juga muncul gara-gara Kaki melangkahkan dirinya ke tempat itu lagi. Tempat yang membangkitkan kenangan menyakitkan.” Air Mata menjawab sewot.

“Eh eh, kok jadi aku yang disalahkan? Aku juga terpaksa menyeret diriku pergi ke tempat itu lagi. Kalau tidak terpaksa ya mana mungkin aku pergi ke sana? Kurang kerjaan, apa?” Kaki menjawab sengit.

Tangan pun ikut terpancing dalam suasana yang mulai memanas ini. “Kamu tuh Air Mata, jangan terlalu sering keluar rumah, sebentar-sebentar mau main ke Wajah, sebentar-sebentar mau main ke Hati. Kan aku juga yang repot. Kalau kamu main ke Wajah, aku yang sibuk mencari-cari tisu dan mengenyahkanmu. Kalau kamu main-main ke Hati, aku juga yang repot mencari-cari kegiatan sekedar agar ia bisa melupakan kedatanganmu. Ah, kamu memang selalu menyusahkan.”

Terdengar batuk-batuk kecil dari ujung keramaian, ternyata itu Otak yang hendak ambil suara. “Sudah sudah, jangan ribut-ribut. Lain kali, kalian semua sebelum bertindak itu harusnya berkonsultasi denganku dulu, jangan jalan sendiri-sendiri. Kalau tidak, ya jadi begini ini kejadiannya, jadi bertengkar tidak karuan, menyalahkan satu sama lain, merasa diri paling benar.”

Semua terdiam mendengar perkataan Otak. Otak pun langsung menutup percakapan malam itu dengan menyuruh Kaki melingkar di atas guling, meminta Tangan meluruskan diri dengan nyaman, memerintahkan Air Mata untuk tetap di rumahnya, menyuruh Wajah untuk tenang, dan menugaskan Hati untuk melupakan masalahnya sesaat saja. Dan seperti biasa, Otak merasa kesal karena si satu itu lagi-lagi tidak mau menuruti perkataannya. “Terkadang ia memang pantas diberi sedikit penyakit”, gumam Otak di sela-sela tidurnya.

-Jakarta, 20 Desember 2011-

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Sebuah Malam di Thamrin

25 Wednesday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@saputraroy, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Roy Saputra

Prepared by Client:
Roy Saputra (@saputraroy) 

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Gedung BI menjulang megah di sisi kiri. Departemen Agama berdiri di sebelah kanan. Para karyawan kedua instasi negara ini sudah pulang dari petang. Mobil lalu lalang di depan mata. Jalur busway bersih dari kontaminasi mobil pribadi.

Trotoar Thamrin ramai oleh calon penumpang yang sedang menunggu bus langganannya lewat. Berteduh di bawah pohon-pohon rindang yang ditanam di antara beton pelapis sisi jalan. Pedagang kopi bersepeda menjadi ornamen tersendiri bagi trotoar Thamrin. Lampu-lampu jalanan jadi penerang nomor satu. Memberi cahaya pada langit Jakarta yang sudah tak berbintang dari dulu.

Sebuah Kopaja seliweran tak beratturan. Sang kondektur yang berseragam menjajakan tujuan akhir dari rutenya. Tenabang, Tenabang. Begitu katanya. Seolah mengatakan Tanah Abang secara lengkap bisa membuatnya sesak napas. Kopaja itu lalu berkelok cepat di tikungan Departemen Agama. Si supir seperti lupa apa itu pedal rem.

Aku berdiri di situ. Di antara gedung BI dan Departemen Agama. Di bawah lampu jalanan dekat tikungan Kopaja tadi berbelok. Berkemeja dengan lengan dilipat, tas kugendong di belakang, dan sepasang earphone menggantung di telinga.

Mataku fokus melihat ke depan. Menatap plang biru Bangkok Bank yang ada di seberang jalan sana. Menanti mobil dari arah Sudirman dan sebaliknya berhenti melintas. Tepat di sebelahku, motor-motor juga sedang menunggu. Gas mereka tarik dalam posisi gigi netral. Seakan mereka pembalap yang sedang menanti aba-aba.

Yang aku dan mereka tunggu hanya satu. Detik lampu lalu lintas, berubah dari merah jadi hijau. Karena ketika itu, motor akan meliar, mobil pasti memadati jalan Kebun Sirih, dan aku bisa menyebrang jalan dan bertanya pada seseorang di sana. Seseorang yang kusebut mantan.

Ia sedang berdiri dengan blazer hitam dan celana panjang. Mendekap tas di depan, seperti terakhir kali dia mengucap pisah. Entah ia tau atau tidak keberadaanku yang sedang mengamatinya dari jauh. Perjumpaan tak sengaja ini tak akan kusiakan. Akan kutanya satu hal yang dari dulu menggangguku.

Kenapa kita putus?

Waktu ia mengucap pisah, itu hanya lewat pesan singkat. Kubalas dengan geram namun tak ada balasan. Ditelpon pun tak diangkat. Entah apa maunya. Setelah hari itu, tak ada kabar berita. Kutanya temannya, semua enggan menjawab. Kudatang ke rumahnya, tak ada yang membukakan pintu. Ia bagai hilang begitu saja. Namun, dua purnama kemudian, aku tak sengaja melihatnya.

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Entah siap atau tidak, aku ingin mendengar darinya langsung tentang kenapa kita putus. Lebih baik hidup menderita karena kejujuran daripada mati menyesal penasaran. Malam ini, akan ku dapat jawab darinya.

Ah.

Yang ditunggu tiba juga. Lampu lalu lintas berubah jadi hijau.

Dan aku menyebrang jalan.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Racun

23 Monday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 3 Comments

Tags

@dendiriandi, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, romeo and juliet

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Aku memandang tubuh yang terbaring di hadapanku. Kemarahan dan kesedihan yang kurasakan telah melebur menjadi satu. Bahkan tak sedikitpun air mata yang menetes dari mataku.

Kucoba semua cara untuk memastikan kebenarannya. Kepegang pergelangan tangannya, kutempelkan telingaku di dadanya,  kudekatkan jariku di dekat hidungnya. Kucoba mengguncangkan tubuh itu berkali-kali. berharap apa yang aku pikirkan saat ini adalah salah. Berharap ada keajaiban yang hadir pada dirinya saat ini juga. Namun usahaku sia-sia. Tubuh itu masih diam tak bergerak. Tak ada hembusan nafas atau bunyi detak jantung.

Lalu tiba-tiba semua kenangan bersamanya melintas di otakku. Seperti film hitam putih tanpa suara yang diputar perlahan-lahan. Bagaimana kami berkenalan di pesta itu pertama kali, malam-malam yang kami habiskan bersama secara sembunyi-bunyi, hingga perang yang terjadi antara keluarga kami ketika mengetahui hubungan kami.

“KENAPA?? KENAPA? KENAPA JULIET” teriakku pada tubuh itu. “Bukankah kita sudah berjanji akan terus bersama selamanya apapun yang terjadi?” Namun tubuh itu tetap diam.

Aku memandangi botol kecil di depanku. Botol kecil yang berisi cairan yang mungkin bisa menyelesaikan masalahku saat ini juga. Botol kecil yang membuat tubuh di hadapanku seperti ini.

“Baiklah, jika kita tidak bisa bersama di alam ini, mungkin kita bisa bersama di alam yang lain”.

Lalu kutenggak botol kecil yang berisi cairan itu. Terasa sangat pahit dan pekat di tenggorokanku. Seperti ada tali yang mencekik leher. Pandanganku mulai kabur. Lalu semuanya gelap. Gelap tanpa sisa.

***

Wanita itu terbatuk-batuk dan mulai sadarkan diri setelah sebutir pil mengalir di kerongkongannya. Pria yang memasukkan pil itu tersenyum lalu memeluk dan mencium bibirnya. Wanita itu pun tersenyum.

“Akhirnya kita bisa bersama tanpa ada gangguan dan tak ada lagi kebimbangan memilih di dalam hatimu” ucap pria itu.

“Ya, akhirnya kita bisa bersama tanpa aku perlu menyakiti hati pria yang sangat mencintaiku.” ucap wanita itu kepada pria di hadapannya denga penuh rasa cinta.

“Maafkan aku, Romeo.” Ucap wanita itu.

Lalu kedua orang itu pergi meninggalkan sesosok tubuh pria yang mati konyol karena cinta.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

How I Met Your Mother

22 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dendiriandi, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, fiksi, how I met your mother

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Keringat bercucuran dari seluruh tubuhku. Udara siang hari yang cukup panas membuatku malas melangkahkan kaki ke arah antrian pemeriksaan paspor itu. Sebenarnya aku lebih menyukai perjalanan malam hari. Selain udara malam yang sejuk, di malam hari aku bisa tertidur tanpa harus berkali-kali melirik jam tangan, menghitung sudah berapa lama perjalanan dan berapa lama lagi akan sampai. Tapi apa boleh buat, perjalanan antar negara ini tidak ada jadwal malam hari. Semuanya perjalanan dilakukan pada siang hari.

Selesai urusan keimigrasian, bus yang kutumpangi kenbali berjalan lagi. Setelah tiga hari berada di Vietnam, akhirnya aku menyebrang perbatasan juga. Menuju Kamboja.

Sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat di Vietnam. Kota Ho Chi Minh terbilang cukup sepi. Seluruh museum dan tempat wisata sudah habis kukunjungi. Sebenarnya masih ada kota yang belum kukunjungi, yaitu Hanoi. Namun sayang, kota itu terlalu jauh, berada di ujung utara Vietnam. Jika ditempuh dengan perjalanan darat, butuh waktu 4 hari pulang pergi. Jatah cutiku bisa habis tak terasa. Jika ditempuh dengan pesawat, cukup menguras kantong dan membuatku bangkrut.

***

Sudah lebih dari setahun sejak perjalanan solo backpacking terakhirku menyebrangi semenanjung Malaka, dari ujung Singapura hingga kota Bangkok di Thailand. Seperti perjalananku sebelumnya, tujuan traveling kali ini pun sama. Kakiku melangkah karena hati yang patah. Aku mencoba mengambil jarak, untuk melonggarkan hati yang sesak. Tapi kali ini bukan karena seseorang, tapi sepuluh orang.

Iya. Sepuluh. Orang. Wanita.

Sudah lebih dari satu setengah tahun semenjak terakhir kali aku mempunyai kekasih. Dan semenjak saat itu, sudah sepuluh orang wanita juga yang pernah dekat denganku. Tapi sepertinya Semesta selalu menjawab kalimat doa jodohku yang kedua: “Jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah”.  Iya, semuanya tidak ada yang berjalan sampai jauh. Semuanya pergi menjauh. Friendzone, Hubungan Tanpa Status, Teman Tapi Mesra, Friends in Benefit dan entah bermacam-macam istilah apa lagi yang teman-temanku pernah sematkan untuk setiap hubungan yang aku jalin. Tapi intinya sama, semuanya hanya mentok sebagai gebetan saja.

Bukan kekasih. Bukan pacar.

***

Hari sudah semakin sore saat aku berjalan menyusuri jalanan kota Phnom Penh, ibukota dari Kamboja. Tujuanku mencari penginapan dahulu untuk sekedar beristirahat. Namun sepertinya keberuntungan belum berpihak kepadaku. Hampir seluruh penginapan penuh terisi. Jikapun ada yang kosong, keadaannya agak kurang layak. Ini konsekuensi karena aku tidak mem-booking terlebih dahulu padahal saat ini adalah long weekend.

“Masih ada kamar kosong?” tanyaku kepada salah satu resepsionis dormitory room – sejenis hotel budget, untuk yang kesekian kalinya.

“Tadinya ada. Tapi baru saja satu kamar terakhir diambil oleh seseorang,” Jawab resepsionis itu. “Kamar itu sebenarnya berisi double-bed. Jika tamu tadi mengijinkan, mungkin kamu bisa sharing kamar dengannya.”

Sharing kamar dengan orang asing. Sepertinya itu ide buruk. Tapi jika tidak, bisa-bisa aku tidur di jalanan untuk malam ini.

“Oh, itu dia tamu yang baru saja mengambil kamar terakhir” si resepsionis menunjuk seorang cewek yang baru saja turun dari tangga lantai atas menuju ke arah kami.

Aku memicingkan mata. Sepertinya aku kenal dengan cewek itu. Demi sejuta kepiting rebus di lautan, kenapa harus cewek itu yang ku temui di Kamboja sini. Si cewek tomboy jutek, sombong, senga, dan belagu yang selalu buatku kesal waktu di Gunung Rinjani kemarin.

***

Tiga bulan lalu aku mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Ikut rombongan “tukang jalan” yang tak sengaja aku dapat dari internet. Fisikku yang tidak lagi muda seperti jaman kuliah dan juga jarang berolah raga, membuatku berkali-kali meminta untuk beristirahat barang sejenak. Rasanya kaki tidak sanggup untuk menanjak sampai ke puncak. Udara gunung yang tipis tambah membuat nafasku tak karuan.

Lalu tiba-tiba lewatlah dia. Seorang cewek tomboy, dengan rambut pendek berpotongan ala Demi Moore yang nge-trend di film Ghost jaman dahulu. Tak ada tampang kelelahan sedikitpun di wajahnya.

“Jadi cowok kok lemah banget. Malu sama cewek!” katanya pas melewatiku.

Berikutnya, selama tiga hari dua malam berada di Rinjani, entah sudah berapa kali omongannya selalu merendahkan dan meremehkanku. Ada saja kata-katanya yang bikin kami ribut dan beradu mulut. Seumur hidup aku tidak pernah ribut dengan cewek. Baru kali ini ada cewek yang selalu bikin naik darah.

***

Aku menatap cewek itu. Rambutnya sudah agak panjang sedikit dibadingkan dengan waktu di Rinjani dulu. Terpotong rapi tepat di atas bahunya, tidak lagi pendek seperti Demi Moore. Tapi gaya pakaiannya tidak ada yang berubah, kaos oblong dan celana kargo selutut. Jauh-jauh aku ke sini karena ingin menenangkan diri atas hatiku yang kalut. Sepertinya akan bertambah kalut karena bertemu lagi dengan cewek tomboy belagu ini.

“Eh, elo. Lagi ngapain lo di sini?” tanyanya dengan wajah lurus dan jutek.

“Justru gue yang baru aja mau nanya begitu ke elo. Kok bisa ada di sini?” Tanyaku tak kalah jutek.

Ternyata dia sama gilanya denganku. Si cewek itu juga sedang backpacking sendirian di IndoChina ini. Entah konspirasi semesta apa yang sedang terjadi, ternyata dari semenjak berangkat, tiba di Vietnam hingga sampai di Kamboja ini, kami selalu bareng-bareng. Tapi baru dipertemukan di hotel budget ini.

Lalu si resepsionis menjelaskan bahwa aku butuh kamar dan siapa tahu dia mau sharing kamar denganku.

“Karena kebetulan gue udah kenal sama lo dan emang tempat tidur ada dua, dengan terpaksa gue mau sharing kamar sama lo. Tapi kalo lo macem2, gue gibas muka lo gak pake ampun lagi,” ucap si cewek itu setelah akhirnya menyetujui kami akan bersharing kamar.

“Oh iya, awas kalo lo sampe cinlok sama  gue!”

Cinlok? Kalaupun tersisa satu wanita di dunia dan itu adalah dia, aku gak mungkin sampai jatuh cinta sama dia. Dari dulu tipe wanita yang bisa buatku jatuh cinta itu feminim, cantik dan berambut panjang. Bukan cewek tomboy dan belagu kayak dia.

“Terus satu lagi. tidur gue ngorok dan gue sering kentut. Jadi maklumin aja ya!” katanya lagi.

Dasar cewek tomboy, umpatku dalam hati.

Karena sama-sama traveling sendirian, akhirnya mau gak mau aku menjelajah Kamboja bersama cewek tomboy itu. Dari Phnom Penh dilanjutkan ke Siam Reap. Selama 3 hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Seperti halnya juga di Rinjani, selama tiga hari itupun tidak ada hentinya kami beradu mulut. Dari mulai meributkan akan kemana, naik apa, mau makan apa sekarang sampai hal-hal gak penting seperti mengomentari kacamataku yang KW. Tiga hari yang seperti berada di neraka.

Setelah menjelajahi Kamboja, kami kembali ke Vietnam, karena pesawat menuju Indonesia hanya ada di kota Ho Chi Minh. Dari sana, kami kembali ke Indonesia. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta kami berpisah.

***

“Lalu, apakah papah akhirnya bertemu lagi dengan wanita tomboy itu?” seorang anak laki-laki berumur 15 tahun bertanya kepadaku.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak aku traveling ke Indochina. Malam itu gerimis turun perlahan di luar sana. Meskipun hujan, suasana ruang tivi saat itu sangatlah hangat. Sehangat segelas kopi hitam dan segelas susu coklat yang tergeletak di atas meja. Di sebelahku tampak seorang anak laki-laki yang sedang duduk di sofa, bersemangat mendengarkan cerita pengalamanku waktu muda dulu. Di depan tivi, seorang gadis kecil berumur 7 tahun sedang asik menonton film kartun. Mulutnya celemotan dipenuhi sisa-sisa es krim yang baru saja habis dimakannya. Aku cuma bisa tersenyum melihat semuanya.

“Kalau mau tahu kelanjutannya, biar mamah-mu yang bercerita sehabis kita makan malam ya! Sekarang kita makan dulu. Itu mamah-mu sudah menyiapkan makanan. Ayo, ajak adikmu sekalian!” Kataku kemudian sambil menatap ke seorang wanita cantik berambut panjang yang sedang membereskan piring di depan meja makan. Wanita yang sama dengan wanita tomboy belagu yang pernah traveling bersamaku dulu.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Create a free website or blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d