Orang Ketiga

Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Evan Januli (@evanjanuli)

Orang ketiga.

Dua kata yang paling aku benci sampai saat ini.

Dua kali hubunganku harus berhenti di tengah jalan karena orang ketiga yang tiba-tiba hadir. Mungkin memang tidak sepatutnya kita terlalu membenci sesuatu. Karena suatu saat, bisa saja kita malah berada di posisi tersebut.

Ya, itu aku. Baru saja kemarin menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Dan yang aku pelajari adalah, salah dan benar hanyalah sebuah skala pengukuran relativitas.

Hari ke sembilan belas bulan sembilan. Merupakan awal dari rentetan hari-hariku yang tidak tenang. Hampir setiap malam, dua orang kekasih yang juga sahabatku masing-masing mengadukan masalah percintaan mereka kepadaku. Setiap paginya, terpaksa aku harus membersihkan telingaku lebih lama akibat terlalu sering digunakan untuk menerima telepon mereka.

Jujur, aku gemas sekali. Mengapa mereka tidak bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mengapa harus aku menjadi perantaranya? Mengapa? Continue reading

Perkara Setelah Putus

Tags

, , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Nothing Last Forever.

Baru dua minggu yang lalu aku dan dia yang kusebut sebagai kekasih itu, masih bersama memadu kasih dengan bahagia. Setidaknya, aku bahagia. Dan aku pun mengira, dia juga merasakan hal yang sama.

Aku salah. Ah, aku tak tahu salahku dimana. Tiba-tiba saja hubungan kami terasa aneh. Pertengkaran tak bisa dihindari dan kata ‘putus’ terucap dari bibirnya.

Orang bilang, mencintai dengan tulus itu adalah dengan merelakan. Karenanya aku tak menentang kemauannya dan permintaan putus itu aku iyakan, dengan satu keyakinan jika kami berjodoh pasti ia akan kembali padaku. Continue reading

Rafqiku

Tags

, , ,

Prepared by Client:
Ulfah Fitria (@cupahul)

“Aku tunggu kamu di kafe tempat biasa ya. See you.” kata Rafqi sambil berlalu dan tersenyum.

Akupun membalas dengan anggukan dan senyuman yang kata Rafqi paling ‘bikin nagih’. Sejujurnya aku tidak mengerti apa artinya. Dan tidak ingin mencari tahu. Karena kadang kita memang tidak mau menggali lebih jauh apa alasan yang membuat kita bahagia. Asal hati senang, sudah cukup. Tidak peduli alasan di balik itu semua.

Segelas cappuccino dan sepotong blueberry cheesecake menemaniku menunggu kedatangan Rafqi. Langit agak muram sore ini, tapi aku tetap asik mendengarkan lagu dari pemutar MP3. Lagu-lagu pilihan aku dan Rafqi. Isinya lagu seputar pertemuan pertama kami sampai dengan soundtrack petualangan kami berdua. Kami memang suka traveling. Suka ke tempat-tempat baru. Atau lebih tepatnya, tempat baru buatku. Karena sebagian besar tempat yang kami datangi sudah pernah Rafqi jelajahi. Dia yang selalu tahu segalanya, dan itu salah satu alasan kenapa aku jatuh hati padanya. Continue reading

Cinta Pertama

Tags

, , ,

Prepared by Client:
Armeyn Sinaga (@armeyn)

Terdengar suara langkah kaki yang sudah sangat kuhapal. Manda datang! Manda datang! MANDA DATANG!

“GUK! GUK! GUK!” aku menyalak dengan gembira.

Ada dua pasang kaki ketika aku mengintip dari sela-sela pagar. Lho, siapa itu? Manda dengan siapa?

Kucoba mengendus aroma yang dibawa oleh si makhluk asing. Tak pernah kucium sebelumnya. Tak familiar di hidungku. Siapa dia? Mau apa dia dengan tuanku?

“GUK! GUK! GUK!” kali ini kutujukan gonggongan kepada si makhluk asing.

Aku marah! Siapa dia dengan lancangnya bertamu ke sini?! Gonggonganku semakin keras dan bulu punggungku berdiri. Kutunjukkan gigi taring ketika pagar perlahan terbuka.

Manda datang bersama dengan seorang laki-laki. Badannya tinggi besar. Jauh lebih besar dari Manda. Matanya memicing menatapku seakan aku adalah musuhnya. Aku membalas dengan memicing lebih tajam sambil memamerkan deretan gigi.

“GRRRRRR….”aku menggeram sambil terus menatap si laki-laki misterius. Continue reading

Si Kepala Sepatu

Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Annisa Fitrianda P. (@nisfp)

Masih pada matahari yang sama, kota yang sama, kepenatan yang sama, dan tentunya dosen yang sama.

“Yes! Kali ini aku datang 10 menit setelah Bu Jenny masuk kelas. Artinya aku bisa ikut kelas Psikologi Umum! Yes!”

Aku mengetuk pintu kelas sambil menarik napas dalam-dalam, “Permisi, Bu.”

It’s been 15 minutes since I’m here. Late again, Miss.

What?” Jawabku syok.

“Dan kalaupun tidak terlambat, kemungkinan saya mengizinkan kamu masuk itu kecil sekali. Lihat itu. Sepatu di kaki kanan dan sandal jepit di kaki kiri. What a shame, Miss.”

Leherku tertohok. Mulutku menganga. Pelan-pelan kuturunkan kepala. Terlihat di sana sepatu berhak datar biru tua di sebelah kanan dan sandal jepit kuning di sebelah kiri. Seketika itu juga kelas langsung riuh rendah dengan tawa. Sialan! Sekejap aku langsung keluar kelas, membanting pintu. Amat sangat memalukan! Continue reading