Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Annisa Fitrianda P. (@nisfp)

Masih pada matahari yang sama, kota yang sama, kepenatan yang sama, dan tentunya dosen yang sama.

“Yes! Kali ini aku datang 10 menit setelah Bu Jenny masuk kelas. Artinya aku bisa ikut kelas Psikologi Umum! Yes!”

Aku mengetuk pintu kelas sambil menarik napas dalam-dalam, “Permisi, Bu.”

It’s been 15 minutes since I’m here. Late again, Miss.

What?” Jawabku syok.

“Dan kalaupun tidak terlambat, kemungkinan saya mengizinkan kamu masuk itu kecil sekali. Lihat itu. Sepatu di kaki kanan dan sandal jepit di kaki kiri. What a shame, Miss.”

Leherku tertohok. Mulutku menganga. Pelan-pelan kuturunkan kepala. Terlihat di sana sepatu berhak datar biru tua di sebelah kanan dan sandal jepit kuning di sebelah kiri. Seketika itu juga kelas langsung riuh rendah dengan tawa. Sialan! Sekejap aku langsung keluar kelas, membanting pintu. Amat sangat memalukan!

Ya memang sih aku nggak suka memakai sepatu dan lebih sering memakai sandal. Tapi sandalnya lengkap di kedua kakiku, bukan seperti pagi ini!

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kantin saja. Saat sedang menuju ke sana, aku berpapasan dengan Samudera. Kami saling mengenal sudah lama, sejak duduk di tingkat pertama SMA. Tapi herannya hubungan kami tak pernah baik. Sejak dulu Samu sangat senang mengejekku yang tak pernah suka memakai sepatu.

Another day of new shoes, Mister?” Ujarku sebelum ditekuk kalah olehnya. Aku memandangnya penuh kesal setelah melihat sepasang sepatu Nike keluaran terbaru terpasang pada kakinya. Konsumtif sekali.

And another day of sandal…wait…and shoe?” Samudera membelalak, “Miss Navida Tjokro…are you crazy or something?” Detik berikutnya, tatapan kaget itu berubah menjadi tawa keras menggelegar.

Aku melangkah berusaha melewatinya. Tapi dia malah menghalangiku.

What…do…you…want?” Ujarku sambil melotot ke arahnya.

Navida, come on. Masa mau kayak gini terus sih? Ke mana-mana pakai sandal jepit terus. Sekarang malah tambah parah. Sebelah-sebelah sandal dan sepatu. What’s on your mind, Girl?”

Aku menarik napas panjang, “Samudera Mangkubumi, denger ya. Aku mau nyeker kek. Mau pake sepatu kantong plastik kek. Atau mau pake sepatu sandal sebelah sebelah kek. Itu bukan urusan kamu. Sama sekali bukan. Makasih ya untuk selalu ngurusin apa yang seharusnya aku pasang di kaki aku.”

Yes, Navida. That’s what friends are for, right?” Jawabnya sambil menyeringai licik.

“Hah? Your eyes!” Aku melenggang meninggalkannya. Berusaha untuk tak peduli.

Asal tahu saja. Semasa SMA, aku selalu rajin memakai sepatu. Se-la-lu! Selalu setiap melewati guru pemeriksa kerapihan di gerbang sekolah, maksudnya. Tapi begitu tiba di kelas, aku seringnya mengganti dengan sandal. Pintar-pintar saja sih, asal nggak ketahuan.

Tapi kalau pakai sebelah-sebelah gini sih ya nggak pernah lah. Ini cuma kesalahan teknis aja.

Dan oh, kenapa aku malas sekali memakai sepatu?

Alasannya hanya satu sih. Pengap! Aku lebih suka memakai sandal. Lebih bebas. Lebih lepas.

Sambil menuju kantin, aku melihat-lihat mading. Seperti biasa aku mencari acara fotografi. Kampusku lumayan sering mengadakan acara fotografi. Setiap ada fakultas yang mengadakan acara, biasanya akan menyisipkan kontes fotografi di dalamnya. Dan, aku selalu ikut!

Kuamati mading dengan sabar. Book fair, lomba makan, pre-screen, seminar hypnosis, bioteknologi, sepatu, fotografi, anak jalanan. What? Tiga kategori terakhir yang kusebutkan berada dalam satu flyer. Penyelenggaranya adalah fakultas ilmu politik dan ilmu sosial (FISIP), yang tak lain dan tak bukan adalah fakultas tempat Samudera belajar. Nama Samudera malah jelas tercatat sebagai ketua panitia acara tersebut.

Hell yeah, ini jelas tantangan! Kapan lagi aku mengikuti lomba fotografi yang diadakan oleh musuh bebuyutanku?

Ketekunanku membaca keterangan mengenai lomba terpecahkan oleh kehadiran seseorang di sisi kananku.

“Hai, Galaksi!” Sapaku antusias.

Nama lengkapnya adalah Bima Sakti dan seantero kampus memanggilnya Bimsak. Namun aku sering iseng memanggilnya Galaksi. Untung ya namanya bukan Mars. Bisa-bisa ia kupanggil Planet!

“Tertarik ikut itu?” Bimsak mendekatkan kepalanya pada papan mading, “tahu gak itu idenya siapa?”

“Ya tahulah. Siapa lagi kalau bukan ketua panitianya. Samudera Mangkubumi. Si tukang cari masalah dengan Navida Tjokro.”

“Cerdas! Terus?”

“Apa?”

“Kamu bakal ikut?”

“Ya ikutlah! Ini namanya Samudera udah nantangin. Navida Tjokro pantang untuk tidak menanggapi tantangan Samudera Mangkubumi!”

Good girl!

Lalu terdengar bunyi kedua telapak tangan kami yang saling bertepuk di udara.

Aku dan Bimsak memang telah bersahabat sejak lama. Lebih tepatnya sejak duduk di Sekolah Dasar. Tapi tak seperti kebanyakan hubungan pertemanan yang telah lama terjalin, aku dan Bimsak hanya bertemu saat aku terkena hukuman atau menangis karena diejek.

Bimsak sering ada di saat aku sedih. Ia selalu hadir di momen-momen menyakitkan. Tapi ia sangat jarang muncul ketika aku sedang tertawa bahagia. Entahlah. Keadannya memang demikian.

Banyak yang bilang, sebuah persahabatan bukan hanya tentang bersama di masa-masa susah. Tapi juga tentang saling merajut kebahagiaan. Makanya aku selalu merasa ada yang aneh setiap kali memikirkan hubunganku dengan Bimsak.

Aku merasa seperti bukan teman baiknya.

***

Saat jeda mata kuliah, aku duduk di sebelah Bimsak di kantin. Kami berbincang-bincang santai mengenai ini dan itu.

“Eh, acaranya anak FISIP keren deh kayaknya. Nyumbangin sepatu ke anak-anak jalanan. Terus ada festival fotografinya juga.” Aku membuka perbincangan sambil merapikan rambut.

“FISIP?” Bimsak mengerutkan kening.

“Samu…” Kataku malas.

“Oooh si kepala sepatu itu.” Bimsak menepuk jidatnya.

“ Aku ikut ah!” Sambungnya lagi.

What?” Kataku kaget, “serius kamu Bim?”

Bagaimana tidak. Sedari dulu Bimsak sangat anti dengan Samu. Jangankan berurusan, jika berpapasan dengan Samu pun ia akan pura-pura tidak melihat. Lalu kali ini?

“Acara amal, kan? Aku mau ikutan beramal. Gak apa-apa dong?” Kilahnya.

Aku hanya mengerutkan kening, “Sabtu ini di Monas. Mulai dari jam 10 pagi sampai dengan selesai. Ketemu di sana ya!”

***

Hari Sabtu jam 9 pagi, aku sudah berada di taman kota yang sangat asri ini. Kuhirup udara segar di sana dengan perlahan. Bersamaan kututup kedua mata. Ingin merasakan kesejukan yang turut menyentuh lembut kedua kelopaknya.

Kuhembuskan napas perlahan. Seakan tak rela melepaskan oksigen bersih yang kini telah berganti menjadi karbondioksida. Nyaman sekali. Pada menit yang sama, kubuka kedua mata ini. Hamparan rumput nan hijau menyesaki penglihatan. Sungguh damai terasa.

Boleh juga Samudera pilih tempat, pikirku sesaat. Lalu aku langsung merasa sangat amat bodoh. Nggak mungkin kan aku mendadak kagum pada si kepala sepatu itu?

Aku memutuskan untuk berkeliling. Saat sedang asik mencari objek sambil menunggu panggilan panitia, aku menangkap objek potret yang sangat asing. Penuh paradoks.

Tak lain adalah Samudera.

Ia duduk di tengah-tengah para anak jalanan. Bersinar dengan kemeja kotak-kotaknya. Wajahnya tampak sangat bercahaya di antara mereka yang berpakaian lusuh, rambut kering, dan kulit hitam dimakan sinar matahari.

Mataku masih terpaku di sana. Terpaku di tiap senyuman hangat yang memancar dari bibir tipisnya. Terpaku pada sorotan penuh kasih sayang yang ia berikan pada lingkaran anak asuhnya. Aku mencari pohon terdekat, bersembunyi untuk tetap melihat apa yang sedang mereka bicarakan.

“Andi,”demikian suara Samudera memanggil salah satu anak,“ ke sini sebentar! Ada yang mau aku kasih nih!”

Suaranya sebenarnya kencang tapi malah terdengar sangat lembut di relung hatiku. Sialan!

“Kamu kemarin juara kelas kan?” Sambungnya lagi.

Kulihat Samu mengeluarkan sebuah kotak sepatu dari tas ranselnya. Aku kenal betul sepatu itu! Itu sepatunya!

“Ini untuk kamu,” Samudera mengangsurkan benda tersebut ke Andi, “mungkin agak kebesaran. Tapi sebentar lagi pasti cukup. Kamu udah gede ini kan?”

Anak yang bernama Andi pun tergelak. Terlihat sekali di matanya bahwa ia sangat senang menerima hadiah tersebut.

Hatiku terenyuh. Tak salah lagi. Ia membuatku jatuh hati dengan segala kehangatannya. Ya Tuhan! Selama ini aku salah tentangnya. Kukira ia sangat hedon, sangat konsumtif. Selalu membeli sepatu baru setiap satu dua bulan sekali. Tapi ternyata, astaga!

Tiba-tiba tatapannya bertumpu padaku. Pandangan kami bertemu dan aku hanya bisa mematung. Napasku pun tercekat. Udara sejuk di taman asri ini tiba-tiba habis disedot tatapan matanya.

***

“Bimsak! You…really…have…to…know…about…this!” Kataku dengan napas tersengal. “Samudera Mangkubumi si kepala sepatu, ternyata gak separah yang aku, well, kita pikir selama ini!” Aku menekankan intonasi pada kata ‘kita’.

“Kamu tahu? Dia suka nyumbangin sepatunya! Ya ampun, you like…I…” Ceritaku tertahan. Tak dapat menemukan kata yang pas untuk menceritakan perasaanku.

You’re in love with him?” Tanya Bimsak penuh selidik.

Refleks kumundurkan kepala saat kepalanya maju perlahan, memotong jarak kami. Aku mengerutkan kening, mencerna kalimatnya barusan.

“Entahlah. Mungkin saja. Karena aku merasa sangat bahagia, nyaman, dan nggak mau beranjak menjauhinya.”

“Navida..!! Kamu nggak sadar dia siapa?” Bimsak tiba-tiba meledak, “Samudera! Orang yang selalu ngeledekin kamu! Ngerendahin kamu! Inget?!”

“Sementara aku? Aku orang yang selalu jadi bahu setiap kamu nangis karena ledekannya! Inget itu Navida?”

Aku tertohok. Tak dapat menemukan kata-kata untuk menjawab luapan emosinya.

“Asal kamu tahu, Navida, “ geram Bimsak, “aku, Bima Sakti, jatuh cinta sama kamu sejak dulu! Sudah bertahun-tahun lamanya!”

Bodooooh! Aku hanya bisa berdiri terdiam sementara Bima Sakti berlalu dengan mata berapi-api. Oksigen! Oksigen! Aku butuh oksigen saat ini juga!

“Bimsak…! Bima Sakti…!!” Teriakku tersengal.

Namun ia tidak menoleh sama sekali. Punggungnya terus menjauh dan menjauh. Ia berjalan meninggalkanku menuju taman. Ketika ia akhirnya berbelok ke lingkaran para anak jalanan, aku tersadar.

Aku segera berlari sekencang yang aku bisa. Kukumpulkan semua tenaga untuk mengejarnya. Pokoknya aku harus membuatnya sejauh mungkin dari si kepala sepatu.

Di sana, di lingkaran bersinar penuh kehangatan itu, Bimsak—yang telah berubah menjadi manusia api—mengampiri Samu. Ia menarik kerah kemeja Samu, lalu menghadiahi sebuah kepalan tangan dengan kecepatan super kilat.

Setitik merah segar mengalir dari ujung bibir Samu. Raut keheranan menghiasi wajahnya. Sementara matanya dilanda kesakitan yang teramat sangat.

Seketika itu juga duniaku terasa hancur. Aku hanya mampu memandangi Bimsak sambil berbisik lirih.

“Tapi Bimsak. Kamu kan sudah punya Qete. Kenapa kamu bilang kamu cinta aku?”

***

“Hai, Senjaku,” lelaki berkemeja kotak-kotak itu menyapaku.

“Hai, Samuderaku,” jawabku sambil tersenyum manis.

Senja, nama panggilan kesayanganku darinya, Samuderaku.

“Kamu tahu, Samudera? Kamu itu seperti sepasang sepatu, yang setia memelukku dengan lembut dan penuh kehangatan.”

Samudera tersenyum mendengar kata-kataku, “Sedangkan kamu, Senja. Kamu itu seperti sepasang kaki. Kaki yang mengisi aku dan menaruh seluruh kepercayaannya.”

Samudera tersenyum sebelum berkata lagi, “Tetap menjadi senjaku?”

“Asal kamu berjanji akan tetap menjadi samuderaku.”

“Tentu saja aku mau!”

Ada hening satu detik sebelum lelakiku melanjutkan.

“Eh, mungkin lebih tepatnya aku bilang gini ya tadi. ‘Tetap menjadi kakiku?’ Dan kamu harus menjawab ‘Asal kamu berjanji akan tetap menjadi sepatuku.’ Hahaha!”

“Ih, jelek banget sih kata-katanya!” Aku memukul ringan bahunya sambil terbahak.

Mungkin, samudera memang ditakdirkan untuk memeluk senjanya. Sama seperti halnya sepatu yang digariskan untuk memeluk kaki pemakainya.

-THE END-

Cerpen ini sedianya dikirimkan penulis untuk dimasukkan ke project buku kumcer sepatu yang bertajuk Sole-Mate. Namun kami memutuskan untuk mengambil satu karyanya yang lain untuk dibukukan.

Advertisements