Tags

, , ,

Prepared by Client:
Ulfah Fitria (@cupahul)

“Aku tunggu kamu di kafe tempat biasa ya. See you.” kata Rafqi sambil berlalu dan tersenyum.

Akupun membalas dengan anggukan dan senyuman yang kata Rafqi paling ‘bikin nagih’. Sejujurnya aku tidak mengerti apa artinya. Dan tidak ingin mencari tahu. Karena kadang kita memang tidak mau menggali lebih jauh apa alasan yang membuat kita bahagia. Asal hati senang, sudah cukup. Tidak peduli alasan di balik itu semua.

Segelas cappuccino dan sepotong blueberry cheesecake menemaniku menunggu kedatangan Rafqi. Langit agak muram sore ini, tapi aku tetap asik mendengarkan lagu dari pemutar MP3. Lagu-lagu pilihan aku dan Rafqi. Isinya lagu seputar pertemuan pertama kami sampai dengan soundtrack petualangan kami berdua. Kami memang suka traveling. Suka ke tempat-tempat baru. Atau lebih tepatnya, tempat baru buatku. Karena sebagian besar tempat yang kami datangi sudah pernah Rafqi jelajahi. Dia yang selalu tahu segalanya, dan itu salah satu alasan kenapa aku jatuh hati padanya.

Kutengok tembok yang ada di seberang kanan, terpatri sebuah jam dinding yang terbuat dari kayu tanpa ornamen apapun. Sederhana. Sesederhana perasaanku menunggu Rafqi petang ini. Terkadang ia sibuk dengan deadline pekerjaannya di sebuah majalah, tapi tak apa.

Rafqi selalu bilang, “Kalo aku belum dateng, liat ke langit aja. Masih ada awan atau bintang di sana. Mereka yang nemenin kamu sampe aku dateng. Kamu ga akan bosen sama mereka. Percaya deh.”

***

Aku jemput kamu ya. Jangan pake bawel!

Demikian ini SMS Rafqi. Sebaris pesan dengan tanda seru di akhir kalimat. Pertanda bahwa ia serius. Ya, ini memang perjanjian kami berdua. Kalau di antara kami sudah memakai tanda seru, itu artinya kita sedang dalam pembicaraan yang serius.

“Kenapa tiba-tiba mau jemput?” Tanyaku sambil menangkap jaket yang dilempar Rafqi.

“Apa aku harus kasih alesan cuma buat jemput kamu doang?” Rafqi mencubit hidungku “suatu hari nanti kamu bakal nemuin suatu kejadian yang kamu ga tahu alesannya.”

Aku memasukkan jaket dalam tas Rafqi, “Oh ya? Kapan? Kenapa ga ada alesannya?”

“Suatu hari. Sekarang aku kasih tahu kamu dulu alesan kenapa harus pake jaket. Pertama, kita mau jalan agak jauh. Kalo ga pake jaket ntar masuk angin. Kedua, nanti kamu gak bisa duduk leluasa kalo jaket ini masih ada di tas aku. Ketiga, nanti orang mikir apa kalo aku make jaket tapi kamu enggak.”

Aku kalah. Rafqi memberikan penjelasan sambil memakai helm dan sarung tangannya. Dan akupun mengeluarkan kembali jaket yang tadi sudah aku masukan ke dalam ransel Rafqi.

***

“Qiii. Aku belum pernah kesini sebelumnya. Suer!” Aku berbicara sedikit berteriak.

“Terus?” Jawab Rafqi sambil menengok sedikit kearah kanan lalu kembali fokus ke depan.

Aku melayangkan tinju kecil ke pundak Rafqi, “Idih! Responnya gitu doang. Ga asik ah.”

“Udah biasa, Neng. Justru kalo aku denger ‘aku udah pernah ke tempat ini Qi’ baru aku bakal kaget dan berekspresi lebih.”

Aku hanya tersenyum kecil membenarkan kata-katanya. Dari jok belakang sepeda motor, terlihat bahu Rafqi yang tegap dan bidang. Aku suka bahu itu. Bahu yang selalu aku usap dan menjadi tempatku bersandar kala penat.

Di hamparan pasir putih, aku duduk dengan tas ransel di sebelah kiri, headset di telinga, dan kamera di tangan kanan. Pandanganku tertuju pada hamparan aquarium raksasa berwarna biru. Gelombangnya yang tenang membuatku merasakan ketenangan yang luar biasa.

Rafqi menggulung celana jinsnya dan berjalan ke arah laut. Ia melompat-lompat di atas air seperti anak kecil yang baru pertama kali ke pantai. Ekspresi wajahnya lepas sekali seperti semua beban pekerjaannya hilang bersama hempasan ombak. Akupun asik mengabadikan tiap gerakannya dari kamera.

“Kadang kita ga sadar kalo setiap detik kebersamaan yang kita lewati pada nantinya harus dibayar dengan sebuah perpisahan,” kata Rafqi tiba-tiba sambil menghempaskan tubuhnya di sampingku.

Aku terhenyak dan tanpa sadar menghentikan gerakan ibu jariku yang sedari tadi memencet tuts kamera. Tapi aku berusaha menjawab sesantai mungkin.

“Yup. Makanya harus bersyukur kapanpun di manapun. Dan harus selalu menikmati setiap momen yang terjadi di hidup kita dengan siapapun.”

Hening melanda kami berdua. Hanya terdengar suara debur ombak di kejauhan. Tiba-tiba Rafqi memegang tanganku. Aku hanya terpana, membiarkan ia mengambil jemariku. Sore itu, merahnya senja dan birunya laut menjadi saksi pertama kalinya Rafqi menggenggam tanganku.

***

Jadi nanti kamu dari rumah jam berapa?

Send to : Rafqiku.

Tak lama, telepon genggamku berbunyi nyaring. Tak lain, itu Rafqiku yang menelepon.

“Hadeh. Kenapa nelpon sih?” Aku langsung mengecilkan volume lagu dari laptop dan menutup spidol.

“Kelamaan kalo SMS. Apalagi kalo miskom, tambah lama. Aku jemput kamu di rumah jam tujuh kan?”

“Yeee. Itu mah udah tau. Maksudnya, kalo nyampe sini jam tujuh, nanti kamu dari rumah jam berapa? Kepagian ga? Apa jam delapan aja?”

“Ga penting aku dari rumah jam berapa. Yang penting jam tujuh udah di depan rumah kamu. Siapin sarapan sekalian.” Suara Rafqi yang berat membuyarkan lamunanku tentang musik instrumen.

Ya udah. Besok jam tujuh di rumah aku. See you.”

“Weeey. Ga sopan banget. Aku yang nelpon, kamu yang mau nutup duluan. Haha. Ya udah. Besok jam tujuh di rumah kamu ya. Bye bye.”

Rafqi langsung menutup telponnya dan aku cuma bisa tersenyum sendiri setelahnya. Rafqi memang punya prinsip “Siapa yang telpon duluan, dia juga yang harus nutup duluan. Sama kayak siapa yang mulai duluan, dia yang harus mengakhiri.”

Ah. Rafqiku.

***

Aku duduk di tangga depan museum. Memegang sebotol air mineral sambil memperhatikan keramaian sekeliling. Rafqi? Jangan tanya. Dia sedang sibuk dengan liputannya. Aku diminta menemaninya hari ini dan benar jam tujuh tepat dia sudah berada di depan rumahku.

“Sini aku yang pegang karcisnya. Eh lagian kok tumben minta ditemenin?” Kami berjalan terburu-buru menuju peron.

“Lagi mau ditemenin aja. Lagi mau bikin banyak memori indah tentang kamu.”

“Huuuu… Gombal gembel. Mau dipindahin ke luar kota ya?”

“Enggak tuh. Sotoy marotoy deh situ.” Katanya sambil mengusap kepalaku.

Kamipun duduk di gerbong empat dari belakang. Kuda listrik ini belum terlalu sesak, mungkin karena hari masih pagi dan ini Minggu.

Aku menunggu Rafqi sampai dia selesai liputan.. Dibekali gadget, notes kecil, dan spidol biru. Di halaman pertama aku menggambar sebuah bintang besar. Malaikat berwajah teduh dengan sepasang sayap aku taruh di lembar ke dua. Aku butuh waktu lama untuk menggambar seorang malaikat karena selama ini aku terbiasa menggambar alam. Akhirnya aku menyelesaikan gambar malaikat yang menggenggam sebuah bintang di lembar ke tiga. Di pojok kanan bawah ku tulis “Kota Tua – 8 Aug’12.

***

Perdebatan panjang akan terjadi ketika kami hendak memilih tempat makan. Kami sepakat untuk tidak memakai kata ‘terserah’ ketika salah seorang dari kami menanyakan sesuatu. Sekarang aku dan Rafqi berada di antara jejeran tempat makanan. Mulai dari masakan Indonesia sampe makanan yang bule banget.

Aku bersikukuh memilih restoran yang terkenal dengan mocca float-nya tapi Rafqi menolak dengan keras sambil seolah memberikan tatapan ‘kita udah makan di tempat itu puluhan kali, Aira’.

Rafqi menarikku ke sebuah Restoran Jepang. Karena aku ga ngerti sama sekali akhirnya dia yang memilih. Semangkuk sup, nasi putih, chicken teriyaki, salad, dan segelas jus jeruk. Rafqi makan dengan lahap. Dia selalu punya nafsu makan yang tinggi, berbanding terbalik dengan aku yang selalu malas makan.

Aku punya pemikiran ‘kalo laper juga nanti makan, ga perlu dipaksa’.

Tapi Rafqi selalu membalas ‘masalahnya, kamu itu ga pernah ngerasa laper’.

Oke, aku kalah.

“Abisin sayurannya.” Kata Rafqi sambil mengunyah.

“Udah abis. Ini pajangan, bukan buat dimakan.” Aku menunjukkan piring besarku.

“Makan, atau aku paksa buat ngabisin semangkok.” Rafqi mengambil sesendok munjung sayuran. Ia amat tahu aku ga pernah suka sama sayuran. Tatapan matanya mulai tajam.

“Sini.” Kataku sambil mengambil sendok ditangannya.

“Enggak. Sini aku suapin. Kalo kamu makan sendiri nanti dipilih-pilih lagi.”  Jawabnya tegas,

“Hei! Dia tahu apa yang ada di otakku!”

Akhirnya aku mendekati sendokan Rafqi dan menghabiskan sayuran itu.

“Nah. Lama banget sih cuma disuruh makan sayuran doang. Cuma sesendok padahal. Aku yang makan semangkok aja gak apa-apa,” kata Rafqi sambil tersenyum puas.

Aku berusaha menikmati sayuran itu tapi tak bisa. Namun untungnya tetap tertelan juga.

“Kamu kalo ga dipaksa, ga bakal makan sayuran deh kayaknya. Aku akan terus maksa kamu ya, sampe kamu doyan sayuran.” Ia menasehatiku sambil menyodorkan gelas jus jeruk miliknya.

“Aku makan kok. Dikit aja tapi, ga baik kalo kebanyakan.”

“Yeee. Kebiasaan ya. Dibilangin malah ngejawab aja. Emang ga akan terasa manfaatnya sayuran itu sekarang, tapi itu buat nanti. Buat kesehatan kamu juga. Kalo buat diri kamu sendiri aja kamu ga perhatian, gimana mau merhatiin orang lain.”

Aku yang tidak biasa ‘dikalahkan’, selalu bisa bertekuk lutut dengan pernyataan-pernyataan Rafqi. Tapi entah kenapa hanya dengan Rafqi aku senang ‘dikalahkan’. Aku cuma bisa tersenyum.

“Nanti ada saatnya kamu ngerti apa yang aku ngomongin ya Aira,” kata Rafqi sambil merapikan kerah kemeja dan bahunya semakin terlihat bidang. Aku suka.

***

Aku terbangun dari lamunanku di Kafe Cihuy karena dikejutkan oleh pelayan yang biasa membawa pesananku dan Rafqi.

“Mbak Aira, mau dibawa pulang aja blueberry cheesecakenya?”

Aku melihat ke seberang kanan. Jarum jam menunjuk angka sepuluh di jarum pendek dan angka dua di jarum panjang.

“Eh, iya deh. Boleh. Makasih ya..”

Kulirik ponselku. Tertera tanggal 8 November 2012 di layarnya.

Rafqi ternyata tidak datang di lagi hari ini. Tidak datang di 8 Oktober lalu dan tidak juga di 8 September. Ia pasti juga tidak akan datang di 8 Desember nanti.

Di sini, di kafe ini, semua cerita tentang Rafqi kembali terulang. Candaan Rafqi, kedewasaan Rafqi, semua pemikiran-pemikiran Rafqi, dan semua kenyataan tentang Rafqi.

“Ini Mbak, cake-nya.”

“Eh iya. Makasih ya, Mbak. Oiya besok acara seratus hari Rafqi. Dateng ya.” Aku berkata lemah kepada wanita berseragam merah ini.

“Iya, Mbak. Pasti,” jawabnya sambil tersenyum getir..

Kututup halaman “Kota Tua – 8 Aug’12” di halama ketiga notesku. Ternyata goresan di notes itu adalah sebuah pertanda. Pertanda bahwa Rafqi akan meninggalkanku untuk selamanya. Sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa kini Rafqi tidak lagi nyata.

Aku melangkahkan kaki keluar kafe dengan hati yang masih tertinggal di sana. Sambil menuruni tangga, batinku berucap, “Kamu benar Qi. Aku ga pernah bosen ditemenin bintang kalo di sini. Tapi aku rindu kamu, Qi. Aku rindu kamu..”

-THE END-

Advertisements