Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Evan Januli (@evanjanuli)

Orang ketiga.

Dua kata yang paling aku benci sampai saat ini.

Dua kali hubunganku harus berhenti di tengah jalan karena orang ketiga yang tiba-tiba hadir. Mungkin memang tidak sepatutnya kita terlalu membenci sesuatu. Karena suatu saat, bisa saja kita malah berada di posisi tersebut.

Ya, itu aku. Baru saja kemarin menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Dan yang aku pelajari adalah, salah dan benar hanyalah sebuah skala pengukuran relativitas.

Hari ke sembilan belas bulan sembilan. Merupakan awal dari rentetan hari-hariku yang tidak tenang. Hampir setiap malam, dua orang kekasih yang juga sahabatku masing-masing mengadukan masalah percintaan mereka kepadaku. Setiap paginya, terpaksa aku harus membersihkan telingaku lebih lama akibat terlalu sering digunakan untuk menerima telepon mereka.

Jujur, aku gemas sekali. Mengapa mereka tidak bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mengapa harus aku menjadi perantaranya? Mengapa?

Suatu ketika aku sedang bersama empat temanku yang merupakan penulis novel dan sekitar lima orang lainnya yang merupakan pembaca mereka. Iya, kami sedang mengadakan tweet up di sebuah kedai kopi di Senopati. Bukan kedai pada arti sesungguhnya. Anggap saja ini adalah sebuah kedai yang cukup mewah.

Tujuan empat temanku mengadakan tweet up ini adalah agar mereka bisa lebih dekat dengan beberapa pembacanya yang sering ‘menyambar’ tweet mereka. Tapi untuk dua orang yang hadir di tempat itu, pertemuan kali ini bukanlah sekedar tweet up. Untuk Justin dan Cheryl, pertemuan itu adalah awal berseminya bunga-bunga asmara. Adalah aku, salah satu yang berperan membantu mengarahkan hubungan mereka lebih jauh.

Sejak pertemuan  itu, Justin dan Cheryl tidak hentinya melakukan TDA. Ya, TDA itu pada intinya adalah bermesraan di Twitter. Karena penduduk Twitter adalah manusia yang saling peduli dengan sesama (baca : kepo) jadi muncullah anggapan bahwa Justin dan Cheryl sudah jadian. Secepat itu? Iya, dan ternyata Cheryl akhirnya mengakui tepat seminggu setelahnya, mereka memutuskan untuk ‘jadian’.

Di sinilah drama dimulai.

Tepat seminggu setelah pengakuan Cheryl tersebut, aku mendapatkan kehormatan pertama untuk mendengarkan curhatan tentang hubungannya dengan Justin.

Semakin lama, bukan hanya Cheryl yang menjadikan aku ‘pelacur’ tapi Justin juga menjadikan aku pelacur. Bukan pelacur yang itu, bukan. Pelacur itu pelabuhan curhat.

Mulai dari masalah ketidakpercayaan, keraguan hati yang ada, perbedaan sikap dan sifat, insecure, pembagian waktu dan pengertian. Banyak sekali.

Cheryl mengeluhkan sikap Justin yang tidak terlalu perhatian sampai ia beranggapan bahwa Justin punya pacar yang lain. Sehingga ia seolah takut untuk mengakui Cheryl sebagai kekasihnya. Setiap kali Cheryl me-mention Justin di twitter, Justin enggak pernah membalasnya. Cheryl semakin “yakin” kalau Justin memiliki orang lain. Tapi Justin beralibi bahwa dia sudah enggak mau TDA lagi. Dan lagi menurut Justin, Cheryl adalah pacar satu-satunya.

Justin juga selalu mengatakan bahwa Cheryl masih sangat kekanak-kanakan. Ia seringkali mengeluh bahwa Cheryl terlalu banyak menuntut waktunya. Ia nyaris tidak punya kebebasan dalam memiliki waktu sendiri.

Cheryl mulai sering menangisi BBM nya yang jarang dibalas. Sementara Justin merasa selalu diinterogasi oleh Cheryl. Mereka berdua mengeluhkan bahwa seperti tidak lagi memiliki pasangan namun keduanya masih tidak ingin mengakhiri hubungan.

Ah ya nasib. Mengapa aku harus banyak tahu tentang masalah-masalah mereka?

Namun semakin lama semua hal yang terjadi dengan mereka membuatku berpikir, bahkan terkadang membuatku berkaca. Bagiku, semua masalah terjadi karena komunikasi. Komunikasi yang baik tidak terbangun secara instan.

Karena satu hal yang instan hanyalah mie.

Sedangkan hubungan Cheryl dan Justin bahkan lebih singkat daripada pembuatan mie instan sekalipun. Dua kepala memang lebih baik daripada satu. Tetapi untuk menggabungkan dua kepala tidak bisa dilakukan hanya dari satu pihak saja. Pun tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat.

Mungkin puncak konflik Cheryl dan Justin terjadi ketika hampir semua orang di planet ini merayakan kegembiraan.

Hari ke dua puluh bulan dua belas, aku dan beberapa temanku memutuskan untuk merayakan pergantian tahun di sebuah hotel bintang lima. Kami pun berencana untuk turun ke jalan karena saat malam pergantian tahun nanti akan diadakan Car Free Night. Kapan lagi kita merasakan berjalan kaki di tengah malam di ibukota yang biasanya dipenuhi dengan mobil yang saling berdesakan.

Hari ke tiga puluh satu bulan dua belas, aku dan empat temanku ditambah dengan Cheryl dan Justin yang memutuskan untuk ikut akhirnya tiba di hotel yang sudah di-booked khusus untuk malam tahun baru ini.

Bola mataku berputar mengingat apa yang terjadi pada malam pergantian tahun tersebut. Dan inilah yang terlintas di kepalaku.

Pukul 10.15

Kami semua bertemu di lobby hotel. Ketiga temanku terlelap tak lama setelah kami tiba di kamar yang nyaman. Aku asik membuka Twitter dan membalas BBM. Sementara  itu, Cheryl dan Justin malah keluar kamar dengan gesture hendak memulai perang dunia ketiga.

Pukul 14.10

Cheryl masuk kamar dengan mata yang bengkak dan berair. Aku bertanya kepada Cheryl tapi dia hanya diam saja. Aku akhirnya memutuskan untuk tak banyak cakap daripada semakin memperkeruh suasana. Tak lama kemudian, Justin menyusul masuk ke kamar dengan air muka tegang.

Pukul 15.05

Ketiga temanku akhirnya aku bangunkan karena sudah mulai tidak betah dengan suasana kamar yang dingin dan “dingin”. Kami lalu memutuskan untuk keluar menghabiskan waktu di Grand Indonesia karena nantinya kami juga akan turun ke Bundaran HI. Dari sore hingga tengah malam kami hanya menghabiskan waktu dengan tertawa dan foto-foto hingga tengah malam.

Pukul 00.00

Pergantian tahun akhirnya tiba! Good bye 2012, welcome 2013! Kami semua meniup terompet dengan gembira sambil menonton kembang api yang tersedia di langit malam ini. SELAMAT TAHUN BARU, SEMUANYA!

Pukul 01.10

Kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena lelah mulai melanda. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, kami pun terlelap. Dengan mata setengah terpejam aku menyadari bahwa Justin dan Cheryl tidak ada di kamar. Tapi aku tak ambil pusing. Biarkan sajalah. Toh mereka berdua sudah gede ini kan.

Pukul 09.35

Keesokan paginya kami dibangunkan dengan pamit Cheryl yang buru-buru pulang. Aku bahkan tak punya bayangan kapan dia tidur. Sempat ada perasaan aneh berdesir di dada, kenapa ia pulang sendirian. Tapi lagi-lagi aku tak memikirkannya. Aku terlalu capek untuk menduga-duga. Kasur tampaknya lebih nyaman

Belum lama tertidur, sekarang ganti Justin yang membangunkan kami dengan ijin pulangnya. Akupun jadi benar-benar terbangun dan mulai mencium gelagat aneh. Kenapa mereka pulang sendiri-sendiri? Teman-temanku pun melihat ada yang tidak beres di sini. Ada apa dengan mereka berdua?

Di tengah tanda tanya, tiba-tiba Cheryl menghubungi aku melalui BBM. Seperti biasa, ia langsung melacur. Melakukan curhat.

Cheryl dan Justin sama-sama tahu bahwa hubungan mereka tidak sehat sejak bulan pertama bersama. Mereka sama-sama tahu dan mencoba untuk mempertahankan hubungannya. Cheryl mulai menghilangkan sikap manja dan kekanak-kanakan terhadap Justin.

Begitupun Justin mulai rajin membalas BBM Cheryl. Cheryl sudah enggak pernah membalas mention dari pria lain dan bahkan mem-block mereka atas permintaan Justin. Tapi masalah tetap muncul karena Justin masih merasa bahwa Cheryl lebih menjadi pengawas setiap aspek kehidupan Justin.

Justin yang mulai jengah pun akhirnya berubah. Ia mulai tidak pernah membalas BBM Cheryl. Ia juga tidak pernah lagi mengajak Cheryl pergi. Justin mulai tidak menganggap Cheryl sebagai pasangan. Ketika Cheryl meminta Justin untuk mengakhiri hubungan mereka, Justin langsung mengiyakan dan malah Cheryl yang menarik kembali keputusan putus tersebut.

Masalah yang dihadapi sama dan orang yang menghadapi pun sama. Sikap yang diambil juga tidak berbeda. Justin dan Cheryl sama-sama tahu hubungannya sudah tidak bisa diselamatkan tapi mereka berdua tetap saling tidak mau mengakhirinya.

Aku pun merasa bersalah karena dari awal akulah yang mengenalkan mereka berdua. Karena sudah sangat kesal, akupun turun tangan. Segera aku mengundang keduanya ke dalam multi chat di Blackberry Messenger.

“Kalian sekarang maunya gimana? Putus?”

Jawaban keduanya sama, “Iya. ”

Aku tak mengerti apa maksud kata ‘iya’ di sini. Apakah mereka benar-benar ingin putus ataukah malah karena gengsi saja untuk menjawab tidak di depan pasangannya.

“Yakin?” tanyaku lagi.

“Iya yakin.” Mereka menjawab hampir berbarengan.

“Oke, kalau gitu putus ya. Kalau sudah putus ya putus. Jangan maju mundur lagi. Awas ya kalau masih misuh-misuh di Twitter. Dan enggak ada lagi curhat-curhat ke gue tentang masing-masing ya. Demi Tuhan, dewasalah kalian…”

Chat dariku hanya diiyakan saja. Tak ada kata maaf karena telah membuatku terperosok sangat jauh di dalam hubungan mereka berdua.

Tapi sudahlah. Yang penting kegilaan ini sudah berakhir.

Aku menghembuskan napas lega, namun masih tak dapat berhenti memikirkan predikat baruku, orang ketiga.

Orang ketiga yang mengenalkan mereka.

Orang ketiga yang membuat mereka putus.

Aku salah?

-THE END-

Advertisements