• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Category Archives: Cerita Cinta

Short Stories about Love

Aku Mau Kamu

19 Thursday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dheaadyta, Adyta Dhea Purbaya, cerita cinta, cerita pendek, cerpen

Prepared by Client:
Adyta Dhea Purbaya (@dheaadyta)

Aku duduk manis disalah satu bangku kantin, menyesap sesendok demi sesendok Green Tea hangat yang tersaji di depanku. Mataku menatap nanar kearahmu. Kamu dan gadis manis berambut panjang disebelahmu. Kalian yang tertawa lepas dan nampak bahagia sekali.

Iya.

Kamu dan kekasihmu.

Aku mencoba mengingat, berapa lama semua berjalan sepetri ini. Sebulan? dua bulan? Ahh… lebih dari itu… ini sudah menahun… dan aku masih tetap setia seperti ini. Sudah merasa cukup hanya dengan melihat kamu dari jauh saja.

Iya.

Kamu dan kekasihmu.

Apa kamu tahu rasanya? Didera rindu yang teramat sangat tapi tidak bisa memelukmu erat untuk sekedar menuntaskannya? Jangankan berharap untuk kamu balas, sekedar untuk kamu tahu bahwa aku rindu pun mustahil.

Apa kamu tahu rasanya? Seberapa sering aku menyebut namamu dalam sujud-sujudku menghadap Sang Pencipta? Aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya… Aku bahkan takut Tuhan bosan mendengarnya.

Apa kamu tahu?

Baiklah… Mungkin kamu tahu… Lantas,, apa kamu mau mengerti??

Mataku sekali lagi melirik kearah sana… Kearah kamu dan kekasihmu… Kalian yang masih tertawa dan saling menatap mesra. Sesekali kulihat gadis manis itu mencubit pelan lenganmu.

Ah… aku cemburu!!!

Tapi…

Aku bisa apa??

Sejenak kemudian, kalian berlalu. Dari situ. Dari sudut dimana tadi kalian tertawa mesra dan membakar hatiku. Berlalu. Aku masih mengikuti gerak kaki kalian lewat sudut mataku. Terus. Hingga kalian tak lagi nampak.

Masih ada sisa-sisa kemesraan yang terlihat bahkan saat kalian sudah akan menjauh.

Aku bahkan masih bisa melihat kamu mengantar dia masuk kedalam mobilnya, menutup pintu, dan menunggu mobil itu berlalu. Menghilang dari pandanganmu.

Aku masih bisa merekam jelas semuanya lewat sudut mataku yang tak lepas memandangi kalian.

Lalu mobil yang membawa gadismu itu menjauh. Menghilang. Dan kamu berbalik. Berjalan santai. Kearahku.

Iya.

Kamu melangkah pasti kearahku.

“Hai…” katamu lembut dengan senyum menawan itu.

Aku memaksakan senyum.

“Udah makan?” tanyamu, basa-basi sekali, tentulah.

“Rara udah pulang?” tanyaku pelan.

Kamu menjawab dengan anggukan, menghempaskan pantat di sebelahku. Kita duduk bersisian dan sangat dekat. Aku bahkan bisa mencium wangi parfume-mu. Dan rasanya? Semakin sesak! Sesak akan rindu, sesak akan cinta, sesak akan rasa ingin menggenggam erat tanganmu.

“Kamu tambah mesra ya sama dia…” aku berkata pelan. gumpalan cemburu mendesak.

Kamu tertawa kecil. Mengacak rambutku. Sesuatu berdetak kencang dibalik dadaku.

“Kamu cemburu?” tanyamu.

Retoriiiiiis!

“Tenang aja… Kamu tetep sahabatku, kok!! Aku janji… Nggak akan ada yang berubah dari kita.. Aku pasti bakal tetep selalu ada tiap kamu butuh… Kita kan udah sahabatan dari kecil…” katamu riang. tetep dengan senyum manis itu.

Aku mulas. Lemas. Pingin pingsan.

Sahabat?

Nggak akan ada yang berubah?

Oh, well… Aku pinginnya kita berubah… berubah lebih dari sahabat… berubah ke suatu hubungan yang, ehm, lebih serius.

Kamu tau nggak aku tuh sayaaaang banget sama kamu. Bukan sekedar sahabat. Kamu tau nggak semua apa yang aku rasain ini?

Dan kamu bilang kita sahabat? dan akan selalu begitu?

—————————————————-THE END——————————————————

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Sebuah Perjalanan

15 Sunday Apr 2012

Posted by gelaph in Cerita Cinta

≈ 5 Comments

Tags

@gelaph, cerita pendek, fiksi, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Dengan tergesa-gesa, gue berjalan masuk ke dalam ruang tunggu travel. Raka, sang pacar dua bulan belakangan, tampak kedodoran mengikuti langkah gue. Dia mengantar ke pool travel yang akan membawa gue ke Jakarta, seperti biasa.  Ini memang kegiatan rutin nyaris setiap akhir pekan. Gue naik travel dari Jakarta, dan dia akan menjemput di Bandung. Begitu gue balik ke Jakarta, ia akan mengantar sampai ke pool.

Gue  memang sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Hal ini dikarenakan gue bekerja di ibu kota, namun punya orang tua yang tinggal di kota kembang. Sementara ia, lahir, tumbuh, dan menetap di kota-seribu-wanita-cantik ini sampai sekarang.

“Mas, atas nama Grahita, ke Grogol,” kata gue begitu setiba di depan meja check in.

Petugas front office berseragam merah mengangkat muka, “sebentar, saya cek dulu. Untuk keberangkatan jam berapa, Ibu?”

“Jam lima, Mas.” Gue menjawab sambil menahan diri untuk gak protes dipanggil dengan sebutan ‘Ibu’. Sudahlah, mungkin itu prosedur standar. Lebih sopan dan rapih dibanding memanggil kakak atau teh atau mbak, mungkin?

“Maaf, Bu,” dia menghela napas, “untuk keberangkatan jam lima ke Grogol, sudah penuh.”

“Lah? Sudah penuh gimana? Kan saya udah booking?” gue melirik jam dinding, “dan saya kan gak telat.”

“Iya, tapi seharusnya Ibu datang 15 menit sebelum keberangkatan. Sekarang kan udah jam 16.50.” si petugas berusaha menjelaskan.

“Kan baru lima menit, Mas. Masak saya udah nggak bisa naik,” gue melemparkan poni ke belakang, “hoo, saya ngerti…. Tiket saya udah dijual ke orang lain ya? Begitu?”

Ia tidak menjawab, mendadak sibuk dengan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

“Yaudah, keberangkatan berikutnya aja. Jam berapa adanya?” terdengar pertanyaan dari Raka yang dijawab dengan takut-takut oleh si petugas, “maaf sekali, untuk hari ini kita udah fully-booked Pak. Sampai  yang terakhir jam 10 malam juga udah penuh.”

“APA?! Terus saya naik apa dong ke Jakarta? Kamu main jual aja sih. Nggak confirm dulu ke saya.”  Gue mulai naik darah.

Didi, begitu nama yang tertulis di ID card yang tertempel di dadanya, hanya bisa terdiam.

“Coba aku telpon travel lain ya, kali aja masih ada yang kosong,” kata Raka sambil mengeluarkan telepon genggam dari kantong celananya.

Gue merengut, “yaudah, aku juga telpon travel lain deh. Walaupun nggak yakin juga sih. Ini long weekend,  gitu kan…”

“Udah, kamu tenang aja ya…” Raka mengacak rambut gue pelan.

Ia berhenti mengacak rambut gue ketika tersambung dengan travel lain di daerah dekat sini.  “Eh, halo? Mbak? Mau pesan travel buat sore ini ke Jakarta, masih ada nggak ya?”

Pertanyaan yang sama diulangi untuk beberapa travel, dan menemui jawaban yang sama pula: semua kursi penuh. Gue yang mulai gemas dan kesal langsung meminta dipertemukan dengan manager on duty dari travel ini. Dan di sinilah gue sekarang, di depan meja sang manager.

“Jadi gini ya Pak. Saya tau kalian mau mengejar pendapatan maksimal. Daripada kursi yang udah saya book itu kosong, makanya kalian langsung jual aja. Tapi kenapa nggak confirm dulu sih? Tanya dulu dong, saya jadi pake kursi itu atau nggak? Jangan main jual aja!” semprot gue emosi.

Sang manager on duty ini masih muda. Perkiraan gue, umurnya sekitar akhir dua puluh atau awal tiga puluhan. Penampilannya bersih dengan kemeja berwarna biru langit dan rambut di-gel ala anak muda zaman sekarang.

“Begini, Mbak. Kita mengerti permasalahannya. Tapi kita tidak menyalahi prosedur. Penumpang harus hadir 15 menit sebelum keberangkatan. Kalau tidak, kita bisa anggap ia membatalkan pesanan,” jelas Pak Vino, si manager on duty.

“Ya tapi etikanya di mana?” Gue mendengus sebal, “Masak penumpang nggak dikasih tau? Ini pembatalan sepihak namanya!”

Raka menyentuh punggung gue, “yaudah deh Pak. Sekarang gimana caranya biar dia dapet kursi. Semua travel penuh hari ini. Bapak nggak bisa ngusahain satu kursi aja buat pacar saya?”

Pak Vino tersenyum, “sayang sekali Mas, kita udah fully booked. Mungkin Mbaknya mau saya daftarkan di waiting list untuk keberangkatan berikutnya? Jam enam sore, gimana?”

“Kenapa Bapak nggak nelponin semua penumpang yang berangkat jam enam sore? Siapa tau ada yang cancel. Kalo nggak ada, ya calon penumpang keberangkatan berikutnya yang Bapak telponin!” Gue masih nyolot bak orang kebakaran jenggot.

“ Wah, maaf sekali Mbak,” kata Pak Vino sambil merapikan kerah kemejanya, “itu di luar prosedur dan budaya perusahaan.”

“Prosedur?! Budaya?! Yang bener aja, Pak!” Gue mulai melotot marah.

“Mbak tunggu aja,” sambungnya tenang,  “keberangkatan terakhir kita ada di jam sepuluh malam kok. Biasanya pasti ada yang cancel barang satu dua orang.”

Ketenangannya membuat gue semakin naik darah. Enak aja ni orang nyuruh gue nunggu. Gue terancam nggak bisa balik ke Jakarta nih. Mana besok pagi gue ada meeting penting pula, nggak mungkin datang telat apalagi bolos.

“Ya sampe kapan saya harus nunggu? Jam sepuluh?! Belum tentu ada kan?! GILA APA?!”

BRAKK!

Emosi yang tinggi tanpa disadari mengantarkan gue untuk menggebrak meja. Air putih di gelas Pak Vino bergetar. Sehelai kertas di mejanya tampak berubah posisi setelah sempat melayang selama sepersekian detik. Suasana menjadi hening. Sangat hening. Di antara kami bertiga, tak ada yang angkat suara.

Untungnya gue nggak perlu berlama-lama menunggu. Pak Vino akhirnya setuju untuk menelpon calon penumpang di keberangkatan jam enam sore. Dan syukurlah, ada satu orang yang membatalkan pesanannya sehingga gue bisa mendaratkan pantat di kursi mobil yang empuk ini.

Tiga jam perjalanan gue isi dengan tidur lantaran lelah berkeliling kota kembang seharian bersama Raka. Ketika terbangun, gedung bioskop Slipi Jaya merupakan pemandangan pertama yang gue lihat.

Wah, udah mau sampai nih. Saatnya untuk beres-beres barang bawaan kali ya.

Jaket. Check. Dompet. Check. Oleh-oleh. Check. Telepon genggam. Check.

Lampu LED telepon genggam berkedip-kedip. Gue segera memeriksa apakah ada pesan atau panggilan tak terjawab.

Ternyata ada tiga panggilan tak terjawab. Satu dari nomor asing dan dua dari Raka. Gue segera mengirimkan pesan agar ia tak khawatir. Sekedar mengabari kalo gue udah hampir sampai, dan berjanji akan menelponnya begitu tiba di kosan.

Kening gue berkerut ketika menyadari ada SMS masuk. SMS dari nomor asing yang tadi panggilannya nggak terjawab. Ada keanehan yang gue rasakan, bukan hanya karena siapa pengirimnya, tapi juga karena isinya.

Hai Grahita. Ini Vino, yang kamu marahin 3 jam yang lalu. :P 
Cuma mau nanya, kamu udah nyampe?

Perhatian banget ni orang, sampai mengecek apakah gue udah sampai apa belum. Hmm.. mungkin ini udah jadi prosedur kali ya?

Pesannya gue balas singkat saja.

Oh, udah. Thanks.

Telepon genggam gue berdenting pelan kurang lebih tiga menit kemudian.

Baguslah kalo begitu. Maaf soal yang tadi. 
Mudah-mudahan nggak bikin kamu kapok naik travel kita ya. :)

Tuh, bener kan. Ngapain gue GR. Wong dia memang menjalankan tugasnya. Menjaga konsumen loyal agar tak pindah ke lain hati.

Tampaknya lebih dari cukup kalo gue membalas pesannya dengan lima karakter. Huruf S, kemudian U, lalu R, dan E. Tak lupa tanda titik sebagai penutup.

Selesai membalas pesan, gue mengaduk isi tempat pensil dan menemukan kunci kamar di sana. Ah, akhirnya sampai juga.

Sementara itu, 130 kilometer dari sana, Vino tersenyum lebar.

Hmmm, lumayanlah untuk langkah awal. Biar gue bisa sering-sering melihat dia di sini. Udah lama gue merhatiin dia. Tadi bahkan gue sempat memfoto dia tanpa sepengetahuannya. Gue emang bakat jadi paparazzi.

Senyum Vino semakin mengembang ketika melihat sebuah foto blur di galeri telepon genggam­nya.

Seorang lelaki berpolo shirt putih.

Raka.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Dipacari Seleb Twitter

14 Saturday Apr 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ 5 Comments

Tags

@myaharyono, cerpen, cinta, Mia Haryono, Twitter

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Selama itu gue terdiam. Tercengang ngga mampu berkata-kata. Apa gue ngga salah dengar? Cowok keren yang duduk tepat di hadapan gue ini baru saja meminta gue jadi pacarnya!

Matanya yang hitam pekat menusuk mata gue dengan tatapannya. Bibirnya tersenyum sambil memainkan jari telunjuknya pada bibir gelas.  Semua perilakunya itu mengisyaratkan, “It’s okay. Take your time to think about it.”

Yang gue butuhkan saat ini tepatnya tidak hanya waktu, tapi juga udara segar. Karena tiba-tiba saja gue merasa sesak. Gue sedot lemon ice tea yang gue pesan menemani menu makan malam tadi untuk mengalihkan ketegangan. Tapi saking gugupnya, yang ada malah gue terus meminumnya sampai habis. Bodohnya gue ngga sadar kalau terus menyedot es batu di dalam gelas. Memberikan suara yang tidak enak didengar.

Srot. Srot. Srot.

“Mau tambah minumannya saja?” tawarannya menyadarkan tindakan bodoh gue itu.

“Ngga usah. Udah cukup kok.” jawab gue malu-malu pada si teman baru gue ini.

Ya, gue belum lama mengenalnya. Keberadaan dia di hidup gue juga sungguh tiba-tiba dan tak terduga. Sebelumnya dia hanya mondar-mandir di timeline gue.

Namanya Rayan. Pemilik akun Twitter @rayarayan yang mempunyai ribuan follower. Dia bukan public figure yang sering muncul di berbagai media. Dia hanyalah satu dari beberapa orang beken di Twitter. Gue ngga pernah tau dia itu siapa sampai suatu waktu teman gue me-retweet beberapa tweet keren si Rayan. Isinya smart jokes, unik, lucu, dan ‘bangke’. Alasan gue akhirnya ikut-ikut me-follow orang biasa dengan tweet ngga biasa.

Semakin sering kicauannya menghiasi timeline semakin gue mengaguminya. He becomes my Twitter Crush. Dan Rayan ini ramah, dia juga sering me-reply mention para followers-nya, termasuk gue. Di-reply saja sudah bikin gue happy banget. Apalagi di-foll-back? Teriak kegirangan adalah yang pertama kali gue lakukan sewaktu di-follow Rayan.

Sampai beberapa minggu setelahnya kami semakin aktif saja di Twitter. Dia membuat gue setengah semaput sewaktu mengirimkan Direct Message yang bertuliskan, “Boleh minta pin BB?”

Mimpi apa gue sampai bisa BBM-an sama Twitter Crush!

Sejak saat itu kami rutin BBM-an. Gue baru mengenalnya tapi seperti sudah lama menjadi teman baik. Percakapan yang awalnya hanya seputar ide-ide untuk tweet bangke dia berikutnya, lama-lama naik setingkat menjadi curhatan sehari-hari. Gue pun heran bisa nyaman bercerita dengan orang baru. Dan rasa penasaran terhadap statusnya terjawab ketika akhirnya gue iseng BBM dia di malam minggu.

Sansan : Rayan...

Langsung dibalas.

Rayan  : Alooo
Sansan : Lagi ngapain? Kok ngga muncul di Twitter?
Rayan  : Memantau TL saja. Biar disangka ngga jomblo haha.


Aha! Gue merasa hidung gue kembang-kempis.

Sansan : Bohong banget! Pencitraan doang kali.
Rayan  : Serius kok. I’m single and on my way to find unhappy woman. I’m gonna make her smile again. :)
Sansan : Hahaha basi lo.
Rayan  : Lo sendiri kok malam minggu nyari gue? Ngga pacaran?
Sansan : I’m single and happy. So I dont need you to make me smile. 
Rayan  : Are you sure? Be careful with your words, girl.. ;)

He’s right. I should’ve noticed his warning. I can’t believe now i’m addicted to the way he makes me smile. Ngga cuma melalui BBM tapi juga saat mengobrol langsung. Dia sangat menyenangkan. Setelah cukup akrab kami memutuskan untuk tweet up. Istilah dua orang yang bertemu setelah berkenalan lewat Twitter.

Pertemuan yang berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Termasuk saat ini. Di tempat makan favorit kami, malam minggu kesekian yang kami lewati bersama karena memiliki status yang sama-sama sendiri. Dan gue masih ngga percaya kalau cowok yang gue suka ini juga merasakan hal yang sama.

I know my feeling towards him is just a little crush. But I really don’t mind to fall for a completely stranger in front of me. Staring at me and patiently waiting for my answer.

Sepuluh menit.

Akhirnya gue tersenyum.

“Congratulation Mr. Rayan. You finally make this happy woman to smile, because she’s happier since you’ve crossed her borderline.”

Dia tersenyum semakin lebar. Cute sekali.

Gila! Gue baru saja ‘ditembak’ oleh seorang Seleb Twitter! Hore!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

First Thing on My Head

08 Sunday Apr 2012

Posted by gelaph in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph, cerita cinta, cerita pendek, fiksi, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Hal pertama yang  terlintas di kepala saat memulai hari, merupakan hal yang paling kau anggap penting dalam hidup.

Demikian potongan kalimat yang sedang kubaca di sebuah artikel. Aku menganggukkan kepala tanda setuju sambil merapikan letak bantal dan selimut. Sesaat sebelum tidur memang biasanya kuhabiskan dengan membaca. Bisa buku atau majalah, tergantung suasana hati. Dan malam ini, pilihanku jatuh pada sebuah majalah wanita metropolitan.

Tanganku berhenti membalik halaman. Pikiranku melayang, mencoba mengingat hal apa yang pertama terlintas setelah terlelap semalaman.

Dan sebagai jawabannya, aku menemukan satu hal:

Pekerjaan.

Setiap pagi, aku selalu memikirkan bagaimana cara untuk memulai hari agar berakhir sempurna. Atau paling tidak, berakhir menyenangkan. Dan karena aku menghabiskan sebagian besar waktu di kantor, mau tak mau aku harus memutar otak seputar pekerjaan di pagi hari.

Hal-hal semacam “pending item kemarin apa aja ya?”, atau “hari ini ngerjain apa dulu ya?”. Kurang lebih begitu.

Pikir punya pikir, profesiku sebagai akuntan publik benar-benar menyita waktu. Di saat orang kantoran pada umumnya pulang jam lima sore, terkadang aku baru bisa pulang jam lima pagi. Sama-sama jam lima, memang. Namun berbeda a.m dan p.m.-nya.

BIPPP BIPPP… BIPPP BIPPP… BIPPP BIPPP…

Aku tersentak kaget. Terbangun. Terbangun karena mendengar suara alarm harianku. Kulirik jam digital ponsel, dan mendapati sudah saatnya bangun. Aku menarik selimut yang membalut tubuh, memaksa untuk berdiri. Lalu terlihatlah sebuah majalah tergeletak ringsek tak berdaya di balik bantal guling. Oh, ternyata aku semalam tertidur begitu saja, bahkan tanpa merapikan majalah yang tak berdosa itu.

Sambil berusaha mengumpulkan nyawa yang masih berceceran entah di mana, aku berjalan ke kamar mandi.

Bip… bip… bip…

Langkah kakiku terhenti karena mendengar notifikasi pesan masuk. Setengah terhuyung, aku meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Sambil mengucek mata, aku mengarahkan kursor ponsel ke arah pesan baru. Mau tak mau, senyum tersungging di bibir kala membaca sebaris pesan sederhana itu.

Good morning, sunshine :)

Ah, dari dia. Lelaki manis nan periang yang akhir-akhir ini menemani keseharianku.
Dengan lincah, kuketikkan pesan balasan untuknya.

Morning to you too…

Seraya berbisik dalam hati,

Morning to you too, dear first-thing-on-my-head…finally, after months….

Mana cukup keberanianku untuk mengatakan bahwa ia adalah hal pertama yang terlintas di kepalaku pagi ini?

-Bandung, 07 April 2012-

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d