• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Tag Archives: cerita cinta

Without You

24 Sunday Jun 2012

Posted by myaharyono in Estafet Working-Paper

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerbung, cerita cinta, Mia Haryono, sahabat, without you

Prepared by: MH
Reviewed by: GP 

“Cantik.” puji gue kepada wanita yang sedang duduk di balik setir. Gue sendiri duduk di sampingnya.

“Mulai deh ngegombal.” jawabnya sambil mengibaskan rambut panjangnya dan tersipu.

Sore ini kami berniat menghabiskan malam minggu dengan menonton bioskop. Seperti biasanya kencan-kencan kami, gue awalnya datang ke rumah mewah milik orang tuanya. Lalu menitipkan motor butut gue di halaman parkir yang luasnya mengalahkan rumah keluarga gue. Wanita ini enggak mau gue bonceng, katanya panas lah, debu lah.

Beda dengannya. Dia enggak keberatan meninggalkan Cherry kesayangannya demi gue bonceng. Gue pernah iseng menanyakan apa dia enggak takut rambutnya kusut keseringan memakai helm gue. Jawabnya jujur sekali. “Rambut jadi lepek sih, tapi enggak sebanding dengan hepinya aku bisa meluk kamu.” Gue tiba-tiba tertawa sendiri mengingatnya.

“Mikirin apa sih? Kok jadi ketawa sendiri gitu.” selidik wanita ini. Dengan cepat  gue harus memutar otak agar dapat memberikan jawaban yang masuk akal.

“Tadi inget Didi di rumah, lucu banget. Ngebangunin aku tidur dengan nibanin. Gendut gitu kan badannya. Haha.” akhirnya gue menceritakan tentang Didi keponakan gue.

“Jadinya nonton di FX aja nih?” tanyanya kemudian, enggak terlalu excited dengan cerita gue tentang Didi.

Iya, kali ini gue ingin menonton di FX. Jauh dari kebiasaan gue dan wanita ini yang sering menonton bioskop di Citos.

“FX aja, bosen Citos.” tegas gue.

Maaf sayang, gue harus bohong. Gue ingin bernostalgia menonton di FX. Tempat gue dan dia menonton. Bioskop favoritnya. Dia menyukai bioskop itu dengan alasan yang sederhana. Karena pegangan samping kursinya bisa diangkat. Sehingga enggak ada lagi jarak di antara kami pada saat menonton. Dia kemudian akan bergelayut manja di bahu gue. Menyelipkan lengannya di lengan gue. Tindakannya itu membuat gue enggak bisa konsentrasi menonton. Dan susah bernapas. If you know what I mean.

Sebenarnya bukan bagian itu yang berkesan. Sungguh. Tapi ada kenangan lain bersamanya di bioskop ini. Gue dan dia pernah bertengkar hebat. Saling diam selama seminggu. Dan kami baikan di bioskop ini.

Sebelum bertengkar kami memang berencana akan menonton Harry Potter bagian terakhir. Tapi gue sudah enggak kepikiran lagi untuk menonton sama dia. Sebenarnya gue yang salah waktu itu, dia yang marah besar sama gue. Tapi gue gengsi juga berbaikan. Sampai sabtu pagi, ketika itu, gue menerima BBM darinya.

Aku tau kita lagi marahan. Tapi aku punya 2 tiket Harpot nih. Kan kamu janji mau nemenin aku nonton. Dateng ya di FX jam 7 malam nanti. Kalo kamu enggak dateng, aku nonton sendiri juga gpp sih…

Pesan darinya itu gue biarkan berstatus read. Gue tau dia pasti gondok setengah mati, karena pesannya sudah dibaca tapi enggak dibalas. Biasanya dia akan terus BBM gue, memancing pertengkaran. Tipikal wanita pada umumnya. Dan gue akan tetap diam mengacuhkannya. Tapi saat itu dia enggak menyerang gue. Gue tau dia pasti sedih. Itulah yang menyebabkan gue memutuskan datang tiba-tiba menyusulnya ke FX.

“Aku tau kamu pasti datang” katanya setelah bertemu dengan gue. Dia tersenyum.

Senyum yang gue suka, sejak pertama kali mengenalnya. Lesung di pipi kiri itu…ah bagaimana mungkin gue bisa melupakannya.

Dan sejak dia menghilang dari hidup gue, enggak ada lagi pertengkaran-pertengkaran konyol atau sekedar saling diam. Legakah gue? Jujur, enggak. Gue merindukannya. Dulu gue tersiksa karena selalu salah di matanya yang berujung dengan pertengkaran. Sekarang gue tersiksa karena tanpanya, enggak ada pertengkaran lagi yang berujung manis saat berbaikan. Berujung dengan senyumnya yang mendamaikan itu.

Tanpa dia, gue merasa…biasa saja.

Ya, sedikit aneh. Enggak sedikit. Banyak, terlebih dengan staus kami sebagai orang asing saat ini.

Stranger after lover.

Gue sempat membaca Timeline-nya yang menuliskan status itu. Gue masih bingung, katanya dia sayang banget sama gue.

Karena gue tau dia sangat menyayangi gue itulah, mungkin gue jadi memperlakukannya dengan enggak baik. Gue itu egois, hanya memikirkan diri sendiri. Semerajuk apapun dia meminta bantuan gue, kalau gue enggak mau ya enggak. Dia akan marah dan mendiami gue. Lalu gue akan membujuknya untuk enggak marah lagi? Big No. Marahnya akan reda dengan sendirinya, seperti caranya mengajak gue nonton itu lah, salah satu siasatnya untuk gencatan senjata.

Intinya, gue selalu menang dalam setiap pertengkaran dengannya. Tapi sekarang…apa yang bisa gue menangkan jika bahkan enggak ada hal yang dipertentangkan.

Bersama wanita yang masih serius menyetir di samping gue ini, entah kenapa gue seperti enggak menjadi diri gue sendiri. Gue sangat menjaga image. Gue berusaha menunjukkan hal-hal yang baik saja. Wanita ini engak seperti dia yang bisa menerima gue apa adanya. Herannya, gue menurut saja diperintah. Mungkin karena gue enggak mau kehilangan wanita ini juga. Mendapatkan wanita cantik itu susah. Dan kebanggaan tersendiri mendampinginya kemana-mana.

Satu hal yang enggak pernah gue duga, mendapatkan wanita ini harus gue bayar dengan kehilangan sahabat terbaik gue. Wanita itu.

And i hate to admit that i am lost without her.

“Sayang, sudah sampai nih. Kamu ngelamunin apa sih dari tadi?” gue dikagetkan dengan suara yang menyadarkan gue bahwa kami sudah berada di parkiran gedung ini.

“Mikirin mau makan apa sebelum nonton. Makanan favorit kamu aja ya, mie goreng. Inget kan aku sama kesukaanmu? Yuk ah turun.” kilah gue. Dia langsung tersenyum. Wanita ini begitu mudah disanjung. Jadi enggak akan ngambek berlama-lama. Tidak seperti….

Damn!

     I am lost, I am vain
     I will never be the same without you
     Without you
     I can’t win, I can’t reign
     I will never winthis game without you
     Without you
     I won’t run, I won’t fly
     I will never make it by without you
     Without you
     I can’t rest, I can’t fight
     All I need is you and I, without you 
     [David Gueta ft Usher]

 -to be continued-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Seratus Dua Puluh Detik

10 Sunday Jun 2012

Posted by gelaph in Estafet Working-Paper

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph. Grahita Primasari, cerbung, cerita cinta, cerita pendek, fiksi

Prepared by: GP
Reviewed by: MH 

Matahari telah terlelap ketika Cherry gue pacu keluar mall. Gagal sudah keinginan gue untuk memanjakan diri di salon. Hilang mood. Sebagai gantinya, gue malah pergi ke supermarket guna berbelanja keperluan bulanan.

Lampu merah menyala. Menghitung mundur seratus dua puluh detik sebelum akhirnya berganti hijau. Seratus dua puluh detik. Dua menit. Lumayan lama juga.

Ekor mata melirik jam tangan. Ah, sudah delapan menit lewat dari jam tujuh malam.

Astaga. Bahkan kegiatan melihat jam tangan pun dapat mengingatkan gue lagi dengannya. Gue ingat, ketika sedang menulis, ia harus berhenti menggerakkan pulpennya demi mengetahui jam berapa sekarang. Apabila sedang minum, ia terpaksa memindahkan gelasnya ke tangan kiri, sebelum akhirnya bisa melihat jam tangan.

“Kenapa pake jam tangan di sebelah kanan sih?” Protes gue pada suatu waktu. Saat itu tangan kanannya melepaskan genggaman tangan kiri gue demi mengecek, sudah terlalu larutkah bagi kami berdua dalam menghabiskan waktu bersama.

Ia hanya tersenyum. Tangan kanannya menggapai telapak tangan kiri gue. Jari-jari kami pun kembali bertautan, tergenggam erat satu sama lain.

“Kalau gue make jam di tangan kiri, jam tangan kita nggak akan pernah ketemu. Liat deh. Mereka bakal jalan sendiri-sendiri. Kasian kan?” Katanya sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Ya, gue mengenakan jam tangan di sebelah kiri. Sedangkan ia, di tangan kanannya. Dan kami selalu tersenyum berpandangan penuh arti apabila kedua jam tersebut bergesekan, ketika kami bergandengan tangan.

Makanya gue benci melihat pemandangan di mallsore tadi. Bahwa ada tangan kiri lain yang bertaut dengan tangan kanannya. Wanita itu mengenakan jam tangan di sebelah kiri, persis seperti gue.

Lampu hijau menyala.

Thanks, God.Dua menit yang ditunggu akhirnya datang juga. Klakson berbunyi sana sini, khas Jakarta. Pertanda para pengemudi sudah tak sabar untuk segera memacu kendaraannya.

Cherry tepat berada di depan lampu lalu lintas ketika akhirnya si merah kembali menyala dan menghitung ulang seratus dua puluh detik. Lirikan maut polisi di ujung sana membuat gue tidak berani mengambil resiko dengan menorobos lampu merah.

Ah…sial. Maki gue dalam hati. Seratus dua puluh detik kedua yang harus dilewati malam ini. Dan lagu Tertatih oleh Kerispatih ter-shuffle di CD player Cherry. Seolah turut berbela sungkawa atas keadaan gue hari ini.

Begitu dalamnya aku terjatuh…
Pada kehampaan rasa ini…
Jujur… Aku tak sanggup…
Aku tak bisa…
Aku tak mampu…
Dan aku tertatih…
Semua yang pernah kita lewati…
Tak mungkin dapat kudustai…

Mendadak hujan turun. Langsung lebat. Seperti ada sepasang tangan raksasa yang menyiram permukaan bumi dari angkasa. Sontak pengguna jalan berlarian. Mencari tempat berteduh terdekat dari jangkauan.

Tak disengaja, mata gue terpaku pada seorang anak lelaki. Berusia kurang lebih sepuluh tahun. Berperawakan sedang, cenderung kurus. Kulitnya hitam, pertanda sering terbakar matahari. Sekarang ia basah kuyup, badannya menggigil kedinginan.

Berhenti di halte bus, ia meletakkan barang bawaan yang dipanggulnya. Semacam tongkat panjang yang diletakkan di bahu, yang di kedua ujungnya terdapat keranjang anyaman bambu.

Keranjang anyaman bambu tersebut dijadikan tempat duduk olehnya. Setelah gue teliti, ternyata kedua keranjang tersebut berisi cobek. Iya, cobek. Alat untuk mengulek sambal atau bumbu masakan. Terbuat dari batu. Berat sekali tampaknya.

Gue mengernyitkan dahi, bingung. Anak berusia segitu, jam segini, memanggul cobek? Siapa yang mau membeli benda tersebut di sini? Oh, atau mungkin ia baru saja pulang sehabis berjualan di pasar tradisional di perempatan sebelum ini.

Sang anak duduk termenung. Menunggu hujan reda. Barang dagangannya masih penuh, pertanda dewi fortuna belum mengunjunginya hari ini. Kedua tangannya tergenggam satu sama lain, diletakkan di depan mulut. Mengusir hawa dingin yang datang bersamaan dengan hujan.

Seketika, gue merasa tertampar keras di wajah. Ia masih belia, namun sudah harus memikul perjuangan berat hanya untuk bertahan hidup. Sementara gue? Beban terberat yang pernah gue rasakan hanyalah…patah hati.

Suara klakson mobil bersahut-sahutan seolah membentak gue untuk segera bangun dari lamunan.

Dan gue pun segera menjalankan Cherry perlahan. Konyol sekali rasanya kalau sampai harus terjebak selama seratus dua puluh detik untuk ketiga kalinya, di tempat yang sama.

***

Senin pagi. Identik dengan kesiangan atau terlambat bangun pagi. Kali ini penyebabnya adalah alarm telepon genggam tidak menyala. Gara-garanya ia mati kehabisan baterai, dan pemiliknya ini ketiduran semalam. Terlalu lelah untuk memberinya makan terlebih dahulu.

Tergesa-gesa gue menyusuri lobi, menuju ke lift. Untungnya gue kenal baik dengan para satpam gedung ini. Jadi gue bisa mempercayakan Cherry untuk dicarikan parkir oleh salah satu dari mereka.

Sambil menunggu lift, gue merapikan rambut. Dan pakaian. Serta napas yang masih memburu kencang.

Okay…. rileks…

Tarik napas….. Buang napas….

Tarik napas lagi….. Buang napas lagi…..

Tarik napas……

Hhhffftttt…..

Nyaris saja gue lupa membuang napas lagi ketika melihat sesosok lelaki yang tampak familiar berjalan mendekat.

Oh, God. No. Please, not now.

Sambil mengatur napas, gue berdoa dalam hati. Mudah-mudahan lelaki itu bukan dia. Gue belum siap bertemu dengannya saat ini. Semoga gue salah lihat, karena gue nggak mengenakan kaca mata gue pagi ini. Demi semua dewa dewi lift, please God. Please.

TING!

Syukurlah pintu lift akhirnya terbuka. Secepat kilat gue memasuki lift. Gue sempatkan untuk melirik ke arah lelaki mencurigakan itu. Dan, ah. Ternyata dewa dewi lift sedang tidak bersahabat. Doa gue tak terkabul.

Lelaki itu memang dia.

Rambut ikal, hidung mancung, kemeja abu-abu. Seratus persen itu memang dirinya. Gue tidak salah lihat.

Okay, Blackberry mana Blackberry? Dengan gaya yang sangat di-cool-cool-kan, gue mengambil Blackberry dari dalam tas. Ah, sial. Tidak ada notifikasi apapun di sana. Nobody miss me.

Demi menghilangkan grogi, gue membuka linimasa Twitter. Kata-kata berseliweran di depan mata, tanpa ada satupun yang tertangkap di kepala.

Gue melirik ke penunjuk lantai di bagian atas lift.

Astaga naga terbang! Dari tadi baru sampai lantai tiga? Perasaan udah lama banget deh.

Mata gue terus mengawasi penunjuk lantai.

Lantai empat. Seorang wanita oriental berkemeja pink keluar, berbarengan dengan seseorang yang tampaknya merupakan teman lelakinya.

Lantai lima. Di Twitter ternyata sedang ramai permainan tagar #CapekGakSih. Ingin rasanya mem-post “#CapekGakSih satu lift sama #nomention?”, tapi itu terdengar terlalu kekanak-kanakan. Jadi gue batalkan.

Lantai enam. God please. Dua lantai lagi.

Lantai tujuh. Lift berhenti lagi. Seorang lelaki gemuk pendek bermata besar, masuk. Ia menekan angka sepuluh sebagai lantai tujuannya.

Gue mengalami seratus dua puluh detik mengingat caranya mengenakan jam tangan. Seratus dua puluh detik berikutnya mengamati bocah si pedagang cobek. Namun, rasanya tidak ada yang lebih lama dari seratus dua puluh detik di lift bersama dia, orang yang pernah gue sayang. Oh, atau mungkin sebenarnya masih gue sayang.

Saatnya melangkah keluar. Apakah gue harus menoleh ke belakang, sekedar memberi senyuman?

Sepersekian detik, gue merasa bimbang.

Tapi akhirnya gue memutuskan untuk tidak membuang energi. Yang berlalu, biarlah berlalu. Karena diri gue menolak untuk melihat ke belakang. Baik secara harfiah, maupun secara istilah. Terima saja, sayang.

TING!

(to be continued…)

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Semoga yang Aku Lakukan Ini Tidak (begitu) Dosa

16 Wednesday May 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 1 Comment

Tags

@deardiar, cerita cinta, cerpen, Diar Trihastuti

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

PLAK! Lagi – lagi itulah yang kuterima malam ini, sehabis lelah pulang kerja.

“Kamu ini kayak cewek nggak bener aja. Pulang malem-malem! Kelayapan kemana dulu kamu?.” aku melirik malas sekilas melihat jam yang menurutku belum malam. Baru pukul 20.17 dan demi Tuhan aku bekerja! Bukan kelayapan seperti yang dikatakannya.

Aku hanya diam. Tak ingin menjawab pertanyaannya, aku sudah terlalu berpengalaman. Jawaban jenis apapun akan dimentahkannya dan akan bertambah fatal apabila dia tidak menyukainya, maka selain pipi, badanku akan kena.

“Apa alasanmu kali ini? Kerja lembur lagi demi tuntutan profesi?” ujarnya lagi seakan – akan satu tamparan di pipiku belum cukup untuknya. Aku hanya menunduk. Ingin rasanya mengiyakan. Siapa yang ingin lembur ? Wanita mana yang ingin banting tulang demi menghidupi keluarga?

“Mending lemburannya bayarannya gede, ini paling cuma cukup buat makan sehari!!”, cerocosnya lagi.  Ya Tuhan, andai kamu kerja mas, aku nggak perlu segininya berusaha cari duit. Aku tahan diriku untuk menjawab segala sumpah serapah lelaki yang  menikahiku tujuh tahun yang lalu. Aku ingin hari ini cepat berakhir. Aku lelah. Ingin tidur, ya Tuhan.

Dan setelah 30 menit kemudian sumpah serapah berbau kebun binatang dikeluarkan dan aku hanya berdiri diam dan menunduk. Akhirnya momen yang kunantikan datang saja. “Ya udah, sana. Kamu cepetan mandi, dekil amat pulang ngantor. Mandi gih. Harus tetap wangi dan menarik tau depan suami !Abis itu siapin makan buat aku!” , perintahnya.

Bergegas aku mandi. Akhirnya aku mendapatkan “kebebasanku”. Aku siap diomelin seperti apapun, disuruh apapun, bahkan dipukul pun aku tak akan membalas asal jangan dipisahkan dengan anakku, Kania. Aku mempercepat mandiku, tak sabar ingin bertemu dengannya. Entah apa yang dilakukan oleh pengasuhnya, hingga suara Kania tak terdengar selama aku diceramahi suamiku.

Kuketuk pintu kamarnya, ah putri kesayanganku. Ternyata dia sudah tidur. Pantas suaranya tidak terdengar dari tadi. Kupeluk Kania erat – erat. Sedih sekali rasanya pagi – pagi saat aku bersiap berangkat ke kantor, kadang Kania belum bangun. Dan malam – malam kadang dia sudah tertidur kecapaian seperti ini. Otomatis waktu kami “bertemu” hanya dalam keadaan kelelahan di ranjang seperti ini. Tapi kalau aku tidak bekerja, kami mau makan apa? Hidup darimana?  Meminta bantuan dari orangtuaku? Oh Tuhan, jangan sampai orangtuaku tau hidupku semengenaskan ini.

Lama memeluknya aku ragu, apakah ini panas badanku atau Kania? aku ambil termometer. “Ya Tuhan! 39.2 derajat!”, pekikku. Dia bisa saja kena step! Kontan aku berlari

”Mas, badan Kania panas mas!”, guncangku ke badan suamiku. Kutunggu 5 detik, tidak ada pergerakan. Oh Tuhan, mengapa Kau buat dia terlelap disaat seperti ini?. “Mas, bangun mas!!” kali ini aku mencoba melawan kerasnya suara dengkurannya. Namun sia – sia, mungkin aku harus menunggu petir menyambar rumahku, baru dia akan terbangun.

Mbak Tari, asisten rumah tangga kami tergopoh – gopoh datang. “Ada apa bu?”

“Mbak, tolong siapkan semua keperluan Kania, kita berangkat ke rumah sakit sekarang. Badan Kania panas” ujarku panik.

“Baik bu”

Sambil tetap memeriksa kening Kania yang sekarang sedang dipangku mbak Tari, aku melajukan mpbil secepat yang aku bisa. Jam menunjukkan jam 10 malam! Dokter anak mana yang masuh buka jam segini? Atau aku harus membawanya ke UGD saja?! Ya Tuhan, jangan ambil Kaniaku. Aku rela menukarkan kebahagiaanku dan nyawaku demi Kaniaku.

Kuparkir mobillku dengan sembarang, aku ingin secepatnya sampai di ugd. Aku yakin warna kulit Kania sekarang sudah tidak normal lagi! Apakah Kania membiru? Oh shit, aku tidak berani membayangkannya. Dannnn ya, aku menyerempet mobil. Atau menyenggolnya? Entah mungkin hanya baret sedikit. Oh semoga pemilik mobil yang nampaknya sudah berniat menggetokku ini akan berbelas kasih sedikit melihat aku dan putriku yang baru berumur 3 tahun ini.

“Pak, saya minta maaf. Saya panik. Anak saya seperti sudah tidak sadarkan diri. Ma.. Maaf saya tidak melihat mobil anda. Saya janji akan mengganti kerusakan yang saya perbuat. Tapi saya mohon, nanti saja pak. Ini KTP saya, silahkan ditahan dulu, dan ini kartu nama saya untuk nanti bapak boleh menghubungi untuk menuntut saya, tapi jangan sekarang pak”, racauku.

“Boleh lihat anaknya bu?”

“eh, apa pak?”

“Siapa tau saya bisa bantu”, ujarnya

Aku sekilas melihat penampilannya. Dokter? Mana jubah putihnya? Kenapa penampilannya masih seperti anak muda?

Tiba – tiba pintu dibuka oleh mbak Tari “Bu, Kania mengigau”

spontan lelaki di depanku itu berlari dan menggendong Kania.

“kita bawa dia ke UGD” aku mengiringinya berlari sambil berdoa. Ya Tuhan, berikan aku keajaiban…

”Sepertinya demam tinggi dan ada gejala demam berdarah bu. Tapi saya tadi baru ambil darahnya. Besok kita tunggu hasil labnya. Amannya dirawat dulu sampai membaik disini. Bagaimana bu?”

Kring… Kring… Aku melihat layar ponselku sekilas. Oh suamiku. Damn, aku sampai lupa mengabarinya. Ya Tuhan, jangan sampai ada malapetaka lagi.

“Halo”

“Kamu dimana?? Kelayapan lagi ya? Kabur hah? Ke rumah mana? Dasar pel*cur kamu!” oh shit, aku lupa hpku rusak. Sehingga yang bisa difungsikan untuk panggilan telpon hanyalah soundspeakernya. Resmilah aku menjadi tontonan 3 pasang mata dewasa. 1 dokter, 1 suster dan 1 lagi asistenku yang nampaknya sudah tidak asing dengan cacimaki yang didengar dari suamiku untukku.

“Mas, tenang dulu. Aku lagi di RS. Bawa Kania ke UGD. Dia sakit panas tinggi mas” ujarku berusaha menenangkan. Mau keluar dari ruangan ini? Sudah kepalang tanggung. Toh di luar ruang UGD ini suster jaganya lebih banyak. Aku akan jadi tontonan lebih banyak orang.

“Bisa – bisanya kamu berbohong! Jelas – jelas Kania sehat – sehat saja seharian main denganku! Kamu pikir aku tidak mengurusnya dengan becus hah? Perempuan macam apa kamu? Bahkan mony*t betina lebih bisa mengurus anak dan suaminya dibanding…..” kututup perlahan soundspeaker dengan keduatanganku, lalu kumasukkan ke dalam tas. Aku sudah tau kalau seperti ini dia akan mengomel tiada henti minimal setengah jam tanpa mau mendengar apa penjelasanku. Sekarang waktu yang tidak tepat. Aku ingin fokus ke kesembuhan Kaniaku.

”jadi dok, apa saran buat Kaniaku? Ujarku berusaha menetralisir keadaan.

Sekilas dokter tersebut tersenyum. Sungguh menenangkan melihat ada orang yang senyum kepadamu ketika keadaan sedang kacau balau. Dan kemudian menjelaskan kepadaku detail-detailnya.

“Terimakasih dok, ujarku menjabat tangannya”. kulirik jam. Pukul 12.05. Kasian dokter ini, seharusnya pada saat aku serempet mobilnya di parkiran mungkin harusnya dia sudah pulang. “eh dok, mobil dokter. Maaf. Mau dibicarakan besok untuk penggantiannya atau..”

“Tenang saja bu Riana, mobil saya diasuransikan kok. Saya pulang dulu. Selamat beristirahat semuanya”, potong dokter Jimmy sambil berlalu menutup pintu.

Hari ketiga Kania di RS. Dan suamiku belum menjenguknya. Dia malah menuduh aku melebih-lebihkan keadaan, dan membohongi keberadaan kami. Aku terlalu lelah menanggapinya. Tenagaku sudah terkuras memikirkan dan mengurus Kania. Bahkan aku tak peduli jika sampai rumah, aku akan mendapat memar-memar kembali. Asal Kaniaku cepat sembuh

”Bu, makan dulu bu.”

“Nanti saja Tari. Kamu dulu saja”

“Ibu, ibu harus tetap sehat. Kalau ibu sampai sakit, ibu tidak ada, siapa yang akan mengurus Kania?”

Deg! Dadaku seperti disambar petir. Ya Tuhan, bahkan asistenku dapat melihat betapa bahayanya rumah tangga yang sedang kujalani ini demi keselamatan nyawa siapapun.

“Bu, 3 tahun saya ikut ibu dari Kania masih bayi, apakah ibu tidak pernah berfikir untuk berpisah dengan bapak?” tanyanya lugas dan berani.

Aku teringat kejadian lebih dari tujuh tahun lalu. Saat itu, di sebuah RS dengan banyaknya alat pacu jantung, bunyi-bunyian mengerikan yang tidak mau aku ingat

”Berjanjilah Kania, Hilman, kalian akan menikah dan hidup bersama sampai maut memisahkan kalian. Berjanjilah”

Aku, dan Hilman mengangguk patuh sambil bergenggaman tangan dan berpelukan bertiga. Dan malam setelah kami berjanji, aku menikah dengan Hilman di hadapan jenazah ibu Hilman.

Aku menitikkan airmata sambil menceritakan hal tersebut ke mbak Tari. Sudah lama aku tak berbagi, sudah lama hatiku tidak lagi merasakan apa – apa. hati ini rasanya plong. Tari menghambur memelukku. Mencoba membagi bebanku ke dia.

“Sejak kapan Bapak kasar dengan Ibu?”.

“Saya menikah dengan bapak karena saya mencintainya mbak, namun ternyata Bapak hanya ingin mendapatkan syarat warisan dari keluarganya. Yaitu harus menikah dan memiliki anak, sehingga setelah saya melahirkan Kania, perangainya berubah. Namun dia tidak akan menceraikan saya karena kalau Kania lepas dari pengasuhannya, dia tidak akan mendapatkan harta jika bapaknya meninggal. Sedangkan saya, selain kami sudah berjanji di depan almarhumah ibunya dan juga di mata Tuhan, saya tidak mungkin mau berpisah dengan Kania”

“Jadi itu sebabnya bapak tidak mau bekerja ya bu, karena menunggu warisan?”

“iya, mungkin mbak” ah menyenangkan sekali ternyata bisa curhat ke seseorang walau tidak berarti menyelesaikan masalah.

Dan kurasakan ada yang memperhatikan kami.

“eh dokter” sudah berapa lama dokter Jimmy ada di pintu itu? Apa dia mendengar semuanya?

“Maaf bu, saya mau mengecek perkembangan Kania”, ujarnya santun sambil melewati kami berdua yang masih dalam posisi berpelukan.

Tiga bulan berlalu dari kepulihan Kania dari RS namun aku tak pernah absen untuk sesering mungkin memeriksakan Kania ke dokter Jimmy. Kadang kami melakukan “terapi” di taman bermain, bioskop, dan rumah makan. Aku belum pernah merasa sebahagia ini. Apalagi Kania juga lambat laun menyayanginya, dan tentu kami selalu pergi berempat dengan mbak Tari yang juga sepertinya menyukai Jimmy karena bisa melihat kami (Kania dan aku tersenyum) kembali. Ah indahnya dunia….

”Rania, minggu depan ada tanggal cantik, 11-11-11, yuk kita menikah”, ujarnya sungguh – sungguh sambil memberikan cincin yang terbuat dari untaian bunga di taman, indah sekali. Sementara mbak Tari sedang menemani Kania bermain ayunan.

Aku terkesiap. “Tapi mas, kamu kan tau aku masih punya suami”

“Aku percaya dengan hatimu, bukan statusmu. Aku siap menanggung dosamu, seperti aku sanggup menanggung rasa bahagiaku ketika bersamamu. Aku sayang kamu dengan atau tanpa statusmu. Dan aku ingin merawat dan ikut membesarkan Kania”

 Dan di altar ini lah sekarang aku berjalan… Semoga Tuhan dapat mengampuni umatnya yang ingin mencicipi sedikit kebahagiaan.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Satu Hari Tanpa Koma

10 Thursday May 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 1 Comment

Tags

@deardiar, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Diar Trihastuti, fiksi

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Ganesh

Jam menunjukkan pukul 21.15. Sudah tiga gelas kuminum demi orang yang aku sendiri tidak tau  harus kutemui atau tidak. Tidak sesuai janjinya, sudah hampir 2 jam aku menunggunya.

Sendiri.

Di kafe favorit kami, dahulu.

Aku kembali melihat smartphone di tanganku, apa sebaiknya ku-chat atau tidak. Dan kembali, yang kulakukan hanya membaca potongan-potongan percakapan kami melalui WhatsApp kemarin.

Lolita : Kamu yakin mau ketemu aku? Gendut banget lho aku sekarang
Ganesh : hahaha.. kenapa nggak? Lagian aku udah tau segendut apa kamu
Lolita : Lho? Tau darimana?
Ganesh : Lah.. 
itu profile picture kamu di what’s app isinya pipi semua. 
Itu aja baru mukanya, apalagi badannya
Lolita : hahaha… oke jam berapa?

Kubaca kembali, sambil tersenyum sendiri. Entah mengapa membacanya saja sudah sanggup membuat mukaku memerah. Pffftt…. Sudah lama aku tidak merasakan seperti ini…lagi. Mungkin hanya dia wanita yang bisa membuatku seperti ini.

 

Lolita

“Jadi…?” Aku mengaduk hot chocolate yang sudah mulai dingin, “aku ketemu dia nggak ya?”

“Menurutku sih nggak usah, toh dia juga dulu yang memilih ninggalin kamu,” sahut wanita manis di seberangku.

“Hmmm iya sih. Tapi aku penasaran sekarang dia kayak gimana. Lagipula kan dia dulu ninggalinnya juga karena kita LDR, dia sekolah lagi ambil S2 di Berkeley,” belaku.

“Kamu yakin karena itu? Bukannya lebih tepatnya dia pergi jauh – jauh keluar negeri karena kamu minta dikawinin?“ Ucapnya seperti memberikan pertanyaan retoris.

“Aku nggak minta dikawinin. Aku cuma nanya, rencana ke depannya kayak gimana,” sanggahku.

“Iya, abis itu dia pergi kan. Lariiiii dari keinginan berkomitmen, dengan sok – sok bilang mau sekolah biar abis itu bisa langsung nikah sama kamu. Nyatanya? Makin lama dia disana, yang ada adalah omongan ‘aku mau aku begini’, bukan ‘aku mau nanti kita begini’. Ya kan?” Cerocos Vaya panjang lebar.

Aku terpekur. Tertohok. Ya, memang seperti itu. Dan kembali mataku berkaca – kaca

“Setelah tiga tahun kamu ditinggalin dia dan merasa tersakiti, masih tetap sayang ya kamu ternyata sama dia?” Tanya Vaya bernada prihatin.

“Nggak kok. Aku cuma keinget aja rasa sakit waktu itu,” sahutku sambil cepat – cepat mengambil tisu sebagai langkah siaga pencegahan pertumpahan airmataku, takut menjadi pemandangan para pengunjung restoran yang melihat kami mulai memainkan “drama”. Susah memang berkelit dengan psikiater seperti sahabatku ini. Pekerjaannya sehari – hari memang bermain dengan jiwa dan hati orang. Walau kuakui dia sangat pandai menjaga hatinya sendiri. Tak pernah sekalipun kudengar dari bibirnya kalau dia disakiti oleh lelaki. Mungkin yang ada kebalikannya

“Loli, oke gini deh. Kalau kamu tetep mau ketemu dia, aku temenin. Tapi sekali lagi aku liat kamu ditangisin dia lagi, aku samperin dia dan aku nggak mau janji apa yang bakal terjadi sama dia ataupun kamu nantinya,” ujar Vaya berapi-api.

Oke, sepertinya aku harus berfikir ulang. Wanita di depanku ini bersabuk hitam, dan dia termasuk orang yang sangat menepati omongannya. Dan akhirnya dengan berjanji dalam hati bahwa tidak akan ada airmata lagi, setidaknya depan Vaya atau Ganesh, aku mengangguk pasti.

“Oke Vay, temani aku ya. Tapi kamu nunggunya di meja lain aja. Pura – pura nggak kenal sama aku. Biar aku bisa mengorek lebih jauh tentang dia selama tiga tahun ini dengan berduaan aja,” pintaku

Sekilas dia nampak keberatan namun akhirnya yang keluar dari bibirnya hanya. “Sip! Yuk kita pergi!”

Vaya

Gue gagal mencegah Lolita pergi. Pfft.. mungkin memang sekarang waktu yang tepat untuk Lolita akhirnya tau. Tiga tahun ternyata bukan waktu yang cukup untuk dia melupakan Ganesh. Semoga setelah pertemuan ini, dia tetap menjadi Lolita yang gue kenal. Ya Tuhan, jagalah hati Lolita.

Bertemu

Ganesh

Dia tetap cantik seperti dahulu. Tak menyesal rasanya aku menunggunya berjam – jam. Mungkinkah dia ke salon dulu sebelum bertemu aku? dalam hati aku tersenyum. Ah andai saja..

“Hai Lolita, kamu nggak berubah. Tetap cantik,” ucapku sambil memeluknya erat dan merasakan harum rambutnya. Ternyata dia masih menggunakan shampoo yang sama.

“Eh Hai Ganesh, apa kabar?” Balasnya dengan terengah – engah. Apakah dia habis lari?

Seorang pelayan datang, memecahkan keheningan diantara kami yang entah mengapa dalam diam saja aku merasa nyaman dengan wanita yang pernah mengisi hidupku selama empat tahun.

“Mau pesan apa mbak?” Ujar pelayan itu, tanpa bertanya kepadaku. Ya, aku sudah pesan 4 gelas selama menunggunya. Buat apalagi kan? Dengan memandangnya saja, rasanya dahagaku sudah hilang.

“Baileys,” ujarku bersamaan dengan bibir mungilnya. Aha! Aku masih ingat apa yang dia selalu pesan di café bergaya apartment ini.

Susah memang tiga tahun tidak bertemu, namun begitu banyak yang ingin disampaikan. Sehingga saat benar-benar bertemu seperti ini, kami atau setidaknya aku, bingung untuk memulai pembicaraan dari mana.

“Jadi, kamu dapet darimana nomor handphone-ku?” tembak Lolita. Ya, sejak kami putus dan Lolita memutuskan untuk mencoba melupakan kebersamaan kami, dia mengganti semua nomor yang biasa kuhubungi

“Oh itu, aku nemu di yellow pages, ada namanya Lolita cantik mempesona, ya udah aku simpan deh di handphone-ku. Ternyata kamu punya WhatsApp dan here we go,” ucapku menggodanya

“Seriusan deh….kalau nggak aku pergi lagi nih,” jawab Lolita sambil bergegas ingin mengambil tasnya yang langsung kutahan.

Aku menahannya langsung dan sambil tersenyum berkata, “Lolita, kalau kamu nggak ingin dihubungi sembarang orang, kenapa kamu kasih nomor handphone kamu di linked-in (situs lowongan pekerjaan berbasis social media)”.

“oh.. itu.. aku .. kan itu buat headhunter yang nawarin aku kerjaan, bukan buat lelaki iseng kayak kamu!” sahutnya mulai mencair. Ah.. tawanya.. seandainya aku bisa selalu membuatnya tertawa seperti itu… hfff…

“Iya, jadi ceritanya aku mau pindah Negara, tapi yaa aku harus cari – cari pekerjaan baru lagi kan. Jadilah aku bermain di situs itu dan nemuin kamu,” ujarku berusaha memamerkan gigi putihku.

“Oh ya? Kamu mau pindah ke Negara mana lagi? Nggak bosen – bosen yah melarikan diri,” ujarnya sambil menyeruput Baileys kesukaannya pelan – pelan.

Aha! Jleb! Kata – kata melarikan diri itu sepertinya memang sudah patut kuterima dari dulu.

Sepertinya setelah sekian lama aku menghilang dan memberikan dia kekacauan batin yang luar biasa, inilah saatnya aku menjawabnya… sesuai dengan janjiku pada wanita di ujung sebrang sana.

Lolita

“Aku mau menikah,” ucap lelaki di hadapanku. Jleb! Rasa itu makin menjadi. Mataku mulai berkaca – kaca. Oh Tuhan, setelah tiga tahun menanti, dan ternyata inikah jawabannya?

“Wah, selamat Ganesh! Akhirnya ada yang bisa bikin kamu berkomitmen yaaa,” ucapku menguatkan diri berusaha tersenyum.

“Terimakasih Lo-li-ta,” ucapnya sambil menggenggam tanganku. Tapi buat apa? Toh sudah ada wanita lain yang bisa dia genggam. Namun aku tak kunjung melepaskan genggaman tangannya. Terpekur dalam pikiranku sendiri. Empat tahun pacaran denganku, tapi lelaki ini tidak kunjung berkata ingin menikahiku. Dan dengan selang tiga tahun berpisah denganku, ada wanita lain yang membuatnya tergerak untuk menikah. Oh Tuhan, bolehkah aku mati saja?

“Aku bertemu dia di California waktu kuliah dulu, waktu itu pelajaran …………….. dan akhirnya aku menyadari, bahwa dialah yang selama ini kucari, yang ingin kunikahi”.  Aku sudah tidak terlalu mendengar apa yang dia jelaskan karena pikiranku menerawang. Hanya bisa mendengarnya sepotong – potong.

“Kenapa bukan aku, Ganesh?” akhirnya kata – kata itu muncul dari bibirku.

“Lolita, aku sayang sekali sama kamu. Kamu pasti tau itu. Tapi aku nggak bisa nerusin hubungan kita ke jenjang pernikahan,” jawabnya pilu

“Iya nesh. Tapi kenapa?” suaraku mulai meninggi. Aku tidak pernah mendapatkan inti dari permasalahan kenapa aku diputuskan. Aku terlalu penuntutkah? Aku sudah tidak menarik kah? Atau???

“Kamu tau selama 4 tahun kita pacaran, aku selalu menjaga kesucianmu. Aku tidak pernah berusaha menodai kamu.”

“Iya. Aku tau. Itu pasti karena kamu sayang aku kan?”

“Iya dan umm… tidak”

“Maksud kamu?”

“Iya, benar aku sayang kamu. Tidak, karena ternyata aku menyayangimu mungkin tidak lebih dari sebagai adik”

“Apaaa???!!!”

Aku sudah mulai tak tahan. Aku tak peduli jika Vaya akan langsung datang dan menghajar lelaki di depanku yang pernah menjadi kesayanganku ini

“Aku tidak bisa memberikan kamu anak, Lolita. Bahkan untuk mencoba membuat anak denganmu pun aku tak bisa.”

Mataku sudah kabur dengan airmata. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sosok yang sekarang terasa asing buatku.

Vaya

“Lolita, akulah calon istri Ganesh,” ucapku pelan.

“Apa maksud kamu, Vaya?” Tergagap Lolita menganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Mungkin dalam pikirannya, orang yang selalu dipercaya untuk tumpah ceritakan segala isi hatinya, ternyata merampas tambatan hatinya.

“Tapi… Kamu tidak pernah kuliah di California, Vaya! Please jangan bohongi aku!” hentak Lolita sudah mulai lepas kendali.

“Iya, kakakku yang kuliah disana Lolita. Kamu inget kan?” ucapku berusaha menenangkannya.

“Terus? Apa hubungannya denganmu? Kenapa kamu yang menikah dengan Ganesh-ku?” Lolita sudah tidak mengerti dan merasa menyesal kenapa tadi tidak benar – benar menyimak pertemuan Ganesh dengan pacar barunya.

“Kakakku laki-laki, Lolita. Apa kamu lupa?” ucapku getir.

Lolita terlihat tergugu. Berusaha menyerapnya. Dan akhirnya menoleh ke orang yang pernah amat sangat dia cintai. Mencoba mencari jawaban.

“Aku gay, Lolita. Dan itu baru kusadari setelah kuliah disana, menghabiskan hari-hariku disana. Disanalah aku menyadari mengapa aku selalu ingin melindungimu, namun tidak pernah memiliki hasrat untuk melakukan apapun denganmu. Dan ya, aku jatuh cinta, cinta yang juga memiliki nafsu di dalamnya dengan Haris, kakak Vaya,” ucapnya berat menghela nafas.

“….”

“Namun atas nama adat ketimuran, dan agama, kami tidak bisa menikah. Hanya dengan kebaikan hati Vaya, yang juga kakaknya Haris, dia mau berkorban agar kami dapat tinggal serumah dengan cara yang halal,” sambung Ganesh lagi.

“Halal maksudmu dengan menikahi Vaya, namun sebenarnya yang kau nikahi adalah Haris???” Lolita membelalak tak percaya.

Lolita

Aku sekarat. Setidaknya itu yang aku rasakan sekarang. Aku kehilangan lelakiku dan juga sang sahabat kesayangan. What could be worse?

“Iya Lolita,  maafkan aku. Aku tidak bisa menjelaskannya selama ini via Skype, telpon atau apapun tentang hal ini. Aku pun tau ini salah, tapi ini hatiku yang berbicara. Di sisi lain, hanya kamu wanita yang dapat membuatku tertarik, merasakan getaran-getaran apalah itu namanya. Tapi di lain sisi,aku tau aku tidak normal. Setidaknya menurut kaum awam begitu. Aku ingin menghabiskan hidupku dengan Haris, melalui menikahi Vaya”. Mata Ganesh mulai sendu. Aku langsung tau dia tidak bermaksud membohongiku selama empat tahun kami bersama. Empat tahun  dan dia baru menyadari bahwa dirinya gay. Oh great!

“Namun bagaimana dengan Vaya? Dia pasti juga ingin punya masa depan yang indah! Anak yang lucu – lucu dengan suaminya yang NORMAL nanti,” ucapku sambil menekankan kata – kata NORMAL. Ya Tuhan, aku ingin hari ini tidak terjadi. Aku ingin tidak tau hal ini!

“Masa depan yang indah buatku adalah melihat kita semua bahagia bersama. Kakakku dengan Ganesh. Aku dan kamu. Aku cinta kamu, Lolita. Dan aku ingin kamu menikah dengan kakakku, agar nanti kita bisa tinggal serumah bersama. Maukah kamu menghabiskan hidupmu denganku?” ucap Vaya menggenggam tanganku erat.

“……….”

 -THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Karena Wanita Harus Menjaga Harga Diri

05 Saturday May 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 1 Comment

Tags

@deardiar, cerita cinta, cerpen, Diar Trihastuti

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Gue kembali melihat jam. Pukul 10:20. Oke, rasanya sudah cukup lama gue bertoleransi menunggu orang tersebut. Masa cewek yang nungguin cowok. Ok, It’s time to go home. Gue pun memutuskan memanggil pelayan untuk membayar bill minuman yang baru gue nikmati dua atau tiga teguk.

“Hi Darla” ujar seseorang menepukku dari belakang.
“Eh Faey,akhirnya dateng juga”,jawabku sinis.
“Hehehe telat 20 menit nggak apa-apa dong La, Jakarta gitu lho. Macettt”
“Ya udah tau macet,bukannya pergi dari jam 8 gitu. Kayak baru sebentar aja tinggal di Jakarta”, cerocosku kesal.
“Hehehe kamu masih belum berubah ya.. Masih tukang ngomel”, ujarnya sambil menahan senyum.

Ya ya ya karena itu kan lo ninggalin gue. Gue terlalu banyak ngomel dan marah – marah nggak jelas. PMS gue hampir tiap minggu.

“Ya, Darla ya Darla, jangan berharap aku jadi orang lain”,tukasku

“Eh makasih lho udah pesenin aku minum”,ujarnya sambil menyeruput minumanku hampir tandas.

“Faey, please deh itu minuman gue. Gih sana pesen sendiri!” Rebutku sambil kembali langsung meminum.

“O..o..o.. Bilang aja kamu mau nyobain bekas bibirku setelah sekian lama. Kangen ya”,godanya.

Tersedak. Ya, gue super tersedak sampai akhirnya pelayan membawakan Aqua melihat muka gue sudah nggak karuan warnanya. Sementara orang di depan gue hanya meringis – ringis menahan ketawa serta sakit karena dicubitin. Sialan. Dia masih saja bisa memainkan isi hati gue setelah 1 tahun kami berpisah.

Tapi tak urung gue tersenyum. Iya,gue kangen. Tapi mungkin sama dia yang dulu. Sekarang? Gue nggak tau dia berubah seperti apa.

“Heh udah dong ketawanya. Jelas – jelas yang kangen kamu sampe maksa-maksa ngajak ketemuan gitu”, ujarku nggak sanggup menahan malu karena sudah merasa beberapa pasang mata melihat “keributan” kami.

“Hah?maksa? Perasaan aku cuma nanya 2x. Yang pertama kamu jawab liat jadwal dulu. Yang kedua,kamu bilang kejauhan,ya aku geser tempatnya. Kalau namanya maksa tuh ya nyoba setelah hampir 20x ditolak gitu”, ujarnya makin memamerkan senyum jahilnya.

Oh sial, lagi – lagi gue yang kena getahnya. Mana bisa gue menolaknya. Hfff. Tapi gengsi dan harga diri sebagai wanita harus dipertahankan! “Ya karena aku teman yang baik hati aja, makanya kasian juga kalau kamu ditolak lebih dari 2x”.

Sepintas mukanya berubah jadi merah, marah kah? Dasar makhluk yang aneh. Nggak pernah bisa ketebak apa yang dipikirkan.

“Hmmm.. Ohhh teman.. Aku pikir kamu anggep aku lebih dari teman”,ucapnya kali ini serius.

“Ummm mantan itu lebih dari teman nggak? Menurutku sih mantan itu dibawah teman. Atau mungkin kita bisa jadi temantan,biar kamu puas,aku puas”
Seringaiku merasa di atas angin.

Dan dia tidak menjawab sambil tersenyum seperti biasanya. “Oh oke..aku teman kalau gitu ya sekarang buat kamu. Jadi, siapa sekarang pacar kamu?”

Aku langsung sibuk mengeluarkan blackberry dari tasku dan memperlihatkan beberapa foto. Yang mungkin adalah tindakan yang tidak dia sangka-sangka. Ha! Tau rasa dia, diputusin dia, gue jadi super laku!

Foto pertama: “Ini teman kantorku, orangnya baik banget. Pertamakali dekat karena ada event kantor..”

Next,foto kedua. “Nah, ini yang beda 10 tahun. Tapi takut ah sama dia. Kalau langsung diperistri gmn?kan dia ngejar umur booo”

“Satu lagi ada seumuran,tapi baru gitu-gitu doang bbm-annya” cerocosku pamer panjang lebar.

Sekilas ada keheningan dan emosi yang sepertinya tertahan di wajahnya.

“Darla, are u happy with them?”
“Maksud kamu Faey?”
“Apa kamu bahagia dengan keadaan kamu sekarang?”
“I’m single. Dan punya banyak pilihan kan? Aku nggak mau asal karena kali ini aku mau serius. Mau ini yang terakhir bukan karena aku maenin mereka”
“Tapi ini bukan gaya kamu. Kamu dulu nggak pernah nanggepin banyak cowok dalam waktu bersamaan gini”

“So, what? Dulu aku punya kamu ya Aku jaga perasaan kamu.sekarang? Terserah aku dong Faey, ini hidupku bukan hidup “kita” lagi!”, ucapku meninggi. Enak saja nih cowok. Setahun menghilang, baru ketemu setengah jam sudah mau menceramahiku tentang hidup gue lagi.

Atau malah posesif sama gue?

“Oke, sekarang aku jadi tau. Kalau kamu sudah berubah. Kamu sudah bukan Darla yang kusayang dulu. Bukan Darla ku lagi. Kamu sama seperti wanita-wanita yang kucoba kenal kemarin-kemarin” hentaknya keras.

“Hahaha kamu kemana saja Faey? Sejak setahun kamu pergi, kamu pikir aku akan kayak lagu “the man who can’t be moved” nya the script? Yang menantimu dan kapanpun kamu datang aku menerimamu?”, jawabku dengan gengsi setinggi langit. Walaupun memang mungkin lagu itu yang sering terngiang – ngiang di telinga gue, hingga nangis ketiduran hampir setiap malam. Tapi dia nggak harus tau kan?

“Darla,oke aku jujur. Aku ngajak kamu ketemu karena ingin balik sama kamu.  Aku juga yang kirim coklat, kue-kue kesukaan kamu ke rumah walau tanpa nama karena aku punya niat baik sama kamu dan berharap kamu tau itu adalah perbuatanku, bukan cowok-cowok di blackberry kamu itu”

Gue terpekur. Nggak menyangka. Gue berusaha memahami arti setiap kata yang berhasil gue denger. Ah great! Dia ternyata merasakan hal yang sama dengan gue. Oke, gue akan jawab gue mau balik sama dia.. 1.. 2.. 3..

“Tapi setelah tau kamu kayak gini, aku nggak akan berfikir lagi untuk balik sama kamu. Bahkan untuk mencoba inget hubungin kamu”

Damn! Whattt??? Ahh untung gue tadi belum langsung jawab mau balik sama dia. Biarin deh dia usaha dulu kalau bener-bener serius

“Mungkin 1 tahun ini gue buang – buang waktu mikirin coba perbaikin hubungan kita dan mendewasakan diri untuk kita nantinya” sambung faey berapi-api

Itu juga yang gue lakukan Faey.. Semua.

Senyum untuk lelaki lain, mencoba mengenal mereka adalah tameng yang bisa gue lakukan agar malam minggu gue ga kosong, agar gue ga mesti nangis inget tentang kita, gue berharap itu bisa buat gue move on. Cecar gue dalam hati.

“So, Darla.. Ini pertemuan kita yang terakhir. Aku nggak akan hubungi kamu lagi. Mungkin kita sekarang sudah dibawah teman statusnya. Anggap saja kita nggak pernah kenal”, cerocos Faey tanpa ampun.

“Faey..” Gue ingin menjelaskan namun lidah gue kelu. Bingung harus memulai darimana. Atau harga diri yang menahan gue? Menyerahkan hati dua kali ke cowok yang sama?? Apa kata orang?

“Pergilah jika itu bisa buat kamu bahagia”, akhirnya hanya kata-kata itu yang gue anggap aman buat harga diri dan kesehatan hati gue di masa depan. Gue tau banget kalau diginiin biasanya dia akan tetap tinggal, seperti waktu dulu … Dan kemudian akan memohon-mohon untuk kembali. Mengejar-ngejar gue. Ahhh..

Gue menghitung dalam hati 1..2..3. Nah kan dia tidak pergi. Untung nggak perlu ngomong yang sebenarnya..

“Bye Darla”

“…”

 -The End-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Create a free website or blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d