Tags

, , , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP 

“Cantik.” puji gue kepada wanita yang sedang duduk di balik setir. Gue sendiri duduk di sampingnya.

“Mulai deh ngegombal.” jawabnya sambil mengibaskan rambut panjangnya dan tersipu.

Sore ini kami berniat menghabiskan malam minggu dengan menonton bioskop. Seperti biasanya kencan-kencan kami, gue awalnya datang ke rumah mewah milik orang tuanya. Lalu menitipkan motor butut gue di halaman parkir yang luasnya mengalahkan rumah keluarga gue. Wanita ini enggak mau gue bonceng, katanya panas lah, debu lah.

Beda dengannya. Dia enggak keberatan meninggalkan Cherry kesayangannya demi gue bonceng. Gue pernah iseng menanyakan apa dia enggak takut rambutnya kusut keseringan memakai helm gue. Jawabnya jujur sekali. “Rambut jadi lepek sih, tapi enggak sebanding dengan hepinya aku bisa meluk kamu.” Gue tiba-tiba tertawa sendiri mengingatnya.

“Mikirin apa sih? Kok jadi ketawa sendiri gitu.” selidik wanita ini. Dengan cepat  gue harus memutar otak agar dapat memberikan jawaban yang masuk akal.

“Tadi inget Didi di rumah, lucu banget. Ngebangunin aku tidur dengan nibanin. Gendut gitu kan badannya. Haha.” akhirnya gue menceritakan tentang Didi keponakan gue.

“Jadinya nonton di FX aja nih?” tanyanya kemudian, enggak terlalu excited dengan cerita gue tentang Didi.

Iya, kali ini gue ingin menonton di FX. Jauh dari kebiasaan gue dan wanita ini yang sering menonton bioskop di Citos.

“FX aja, bosen Citos.” tegas gue.

Maaf sayang, gue harus bohong. Gue ingin bernostalgia menonton di FX. Tempat gue dan dia menonton. Bioskop favoritnya. Dia menyukai bioskop itu dengan alasan yang sederhana. Karena pegangan samping kursinya bisa diangkat. Sehingga enggak ada lagi jarak di antara kami pada saat menonton. Dia kemudian akan bergelayut manja di bahu gue. Menyelipkan lengannya di lengan gue. Tindakannya itu membuat gue enggak bisa konsentrasi menonton. Dan susah bernapas. If you know what I mean.

Sebenarnya bukan bagian itu yang berkesan. Sungguh. Tapi ada kenangan lain bersamanya di bioskop ini. Gue dan dia pernah bertengkar hebat. Saling diam selama seminggu. Dan kami baikan di bioskop ini.

Sebelum bertengkar kami memang berencana akan menonton Harry Potter bagian terakhir. Tapi gue sudah enggak kepikiran lagi untuk menonton sama dia. Sebenarnya gue yang salah waktu itu, dia yang marah besar sama gue. Tapi gue gengsi juga berbaikan. Sampai sabtu pagi, ketika itu, gue menerima BBM darinya.

Aku tau kita lagi marahan. Tapi aku punya 2 tiket Harpot nih. Kan kamu janji mau nemenin aku nonton. Dateng ya di FX jam 7 malam nanti. Kalo kamu enggak dateng, aku nonton sendiri juga gpp sih…

Pesan darinya itu gue biarkan berstatus read. Gue tau dia pasti gondok setengah mati, karena pesannya sudah dibaca tapi enggak dibalas. Biasanya dia akan terus BBM gue, memancing pertengkaran. Tipikal wanita pada umumnya. Dan gue akan tetap diam mengacuhkannya. Tapi saat itu dia enggak menyerang gue. Gue tau dia pasti sedih. Itulah yang menyebabkan gue memutuskan datang tiba-tiba menyusulnya ke FX.

“Aku tau kamu pasti datang” katanya setelah bertemu dengan gue. Dia tersenyum.

Senyum yang gue suka, sejak pertama kali mengenalnya. Lesung di pipi kiri itu…ah bagaimana mungkin gue bisa melupakannya.

Dan sejak dia menghilang dari hidup gue, enggak ada lagi pertengkaran-pertengkaran konyol atau sekedar saling diam. Legakah gue? Jujur, enggak. Gue merindukannya. Dulu gue tersiksa karena selalu salah di matanya yang berujung dengan pertengkaran. Sekarang gue tersiksa karena tanpanya, enggak ada pertengkaran lagi yang berujung manis saat berbaikan. Berujung dengan senyumnya yang mendamaikan itu.

Tanpa dia, gue merasa…biasa saja.

Ya, sedikit aneh. Enggak sedikit. Banyak, terlebih dengan staus kami sebagai orang asing saat ini.

Stranger after lover.

Gue sempat membaca Timeline-nya yang menuliskan status itu. Gue masih bingung, katanya dia sayang banget sama gue.

Karena gue tau dia sangat menyayangi gue itulah, mungkin gue jadi memperlakukannya dengan enggak baik. Gue itu egois, hanya memikirkan diri sendiri. Semerajuk apapun dia meminta bantuan gue, kalau gue enggak mau ya enggak. Dia akan marah dan mendiami gue. Lalu gue akan membujuknya untuk enggak marah lagi? Big No. Marahnya akan reda dengan sendirinya, seperti caranya mengajak gue nonton itu lah, salah satu siasatnya untuk gencatan senjata.

Intinya, gue selalu menang dalam setiap pertengkaran dengannya. Tapi sekarang…apa yang bisa gue menangkan jika bahkan enggak ada hal yang dipertentangkan.

Bersama wanita yang masih serius menyetir di samping gue ini, entah kenapa gue seperti enggak menjadi diri gue sendiri. Gue sangat menjaga image. Gue berusaha menunjukkan hal-hal yang baik saja. Wanita ini engak seperti dia yang bisa menerima gue apa adanya. Herannya, gue menurut saja diperintah. Mungkin karena gue enggak mau kehilangan wanita ini juga. Mendapatkan wanita cantik itu susah. Dan kebanggaan tersendiri mendampinginya kemana-mana.

Satu hal yang enggak pernah gue duga, mendapatkan wanita ini harus gue bayar dengan kehilangan sahabat terbaik gue. Wanita itu.

And i hate to admit that i am lost without her.

“Sayang, sudah sampai nih. Kamu ngelamunin apa sih dari tadi?” gue dikagetkan dengan suara yang menyadarkan gue bahwa kami sudah berada di parkiran gedung ini.

“Mikirin mau makan apa sebelum nonton. Makanan favorit kamu aja ya, mie goreng. Inget kan aku sama kesukaanmu? Yuk ah turun.” kilah gue. Dia langsung tersenyum. Wanita ini begitu mudah disanjung. Jadi enggak akan ngambek berlama-lama. Tidak seperti….

Damn!

     I am lost, I am vain
     I will never be the same without you
     Without you
     I can’t win, I can’t reign
     I will never winthis game without you
     Without you
     I won’t run, I won’t fly
     I will never make it by without you
     Without you
     I can’t rest, I can’t fight
     All I need is you and I, without you 
     [David Gueta ft Usher]

 -to be continued-

Advertisements