Tags

, , ,

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Gue kembali melihat jam. Pukul 10:20. Oke, rasanya sudah cukup lama gue bertoleransi menunggu orang tersebut. Masa cewek yang nungguin cowok. Ok, It’s time to go home. Gue pun memutuskan memanggil pelayan untuk membayar bill minuman yang baru gue nikmati dua atau tiga teguk.

“Hi Darla” ujar seseorang menepukku dari belakang.
“Eh Faey,akhirnya dateng juga”,jawabku sinis.
“Hehehe telat 20 menit nggak apa-apa dong La, Jakarta gitu lho. Macettt”
“Ya udah tau macet,bukannya pergi dari jam 8 gitu. Kayak baru sebentar aja tinggal di Jakarta”, cerocosku kesal.
“Hehehe kamu masih belum berubah ya.. Masih tukang ngomel”, ujarnya sambil menahan senyum.

Ya ya ya karena itu kan lo ninggalin gue. Gue terlalu banyak ngomel dan marah – marah nggak jelas. PMS gue hampir tiap minggu.

“Ya, Darla ya Darla, jangan berharap aku jadi orang lain”,tukasku

“Eh makasih lho udah pesenin aku minum”,ujarnya sambil menyeruput minumanku hampir tandas.

“Faey, please deh itu minuman gue. Gih sana pesen sendiri!” Rebutku sambil kembali langsung meminum.

“O..o..o.. Bilang aja kamu mau nyobain bekas bibirku setelah sekian lama. Kangen ya”,godanya.

Tersedak. Ya, gue super tersedak sampai akhirnya pelayan membawakan Aqua melihat muka gue sudah nggak karuan warnanya. Sementara orang di depan gue hanya meringis – ringis menahan ketawa serta sakit karena dicubitin. Sialan. Dia masih saja bisa memainkan isi hati gue setelah 1 tahun kami berpisah.

Tapi tak urung gue tersenyum. Iya,gue kangen. Tapi mungkin sama dia yang dulu. Sekarang? Gue nggak tau dia berubah seperti apa.

“Heh udah dong ketawanya. Jelas – jelas yang kangen kamu sampe maksa-maksa ngajak ketemuan gitu”, ujarku nggak sanggup menahan malu karena sudah merasa beberapa pasang mata melihat “keributan” kami.

“Hah?maksa? Perasaan aku cuma nanya 2x. Yang pertama kamu jawab liat jadwal dulu. Yang kedua,kamu bilang kejauhan,ya aku geser tempatnya. Kalau namanya maksa tuh ya nyoba setelah hampir 20x ditolak gitu”, ujarnya makin memamerkan senyum jahilnya.

Oh sial, lagi – lagi gue yang kena getahnya. Mana bisa gue menolaknya. Hfff. Tapi gengsi dan harga diri sebagai wanita harus dipertahankan! “Ya karena aku teman yang baik hati aja, makanya kasian juga kalau kamu ditolak lebih dari 2x”.

Sepintas mukanya berubah jadi merah, marah kah? Dasar makhluk yang aneh. Nggak pernah bisa ketebak apa yang dipikirkan.

“Hmmm.. Ohhh teman.. Aku pikir kamu anggep aku lebih dari teman”,ucapnya kali ini serius.

“Ummm mantan itu lebih dari teman nggak? Menurutku sih mantan itu dibawah teman. Atau mungkin kita bisa jadi temantan,biar kamu puas,aku puas”
Seringaiku merasa di atas angin.

Dan dia tidak menjawab sambil tersenyum seperti biasanya. “Oh oke..aku teman kalau gitu ya sekarang buat kamu. Jadi, siapa sekarang pacar kamu?”

Aku langsung sibuk mengeluarkan blackberry dari tasku dan memperlihatkan beberapa foto. Yang mungkin adalah tindakan yang tidak dia sangka-sangka. Ha! Tau rasa dia, diputusin dia, gue jadi super laku!

Foto pertama: “Ini teman kantorku, orangnya baik banget. Pertamakali dekat karena ada event kantor..”

Next,foto kedua. “Nah, ini yang beda 10 tahun. Tapi takut ah sama dia. Kalau langsung diperistri gmn?kan dia ngejar umur booo”

“Satu lagi ada seumuran,tapi baru gitu-gitu doang bbm-annya” cerocosku pamer panjang lebar.

Sekilas ada keheningan dan emosi yang sepertinya tertahan di wajahnya.

“Darla, are u happy with them?”
“Maksud kamu Faey?”
“Apa kamu bahagia dengan keadaan kamu sekarang?”
I’m single. Dan punya banyak pilihan kan? Aku nggak mau asal karena kali ini aku mau serius. Mau ini yang terakhir bukan karena aku maenin mereka”
“Tapi ini bukan gaya kamu. Kamu dulu nggak pernah nanggepin banyak cowok dalam waktu bersamaan gini”

So, what? Dulu aku punya kamu ya Aku jaga perasaan kamu.sekarang? Terserah aku dong Faey, ini hidupku bukan hidup “kita” lagi!”, ucapku meninggi. Enak saja nih cowok. Setahun menghilang, baru ketemu setengah jam sudah mau menceramahiku tentang hidup gue lagi.

Atau malah posesif sama gue?

“Oke, sekarang aku jadi tau. Kalau kamu sudah berubah. Kamu sudah bukan Darla yang kusayang dulu. Bukan Darla ku lagi. Kamu sama seperti wanita-wanita yang kucoba kenal kemarin-kemarin” hentaknya keras.

“Hahaha kamu kemana saja Faey? Sejak setahun kamu pergi, kamu pikir aku akan kayak lagu “the man who can’t be moved” nya the script? Yang menantimu dan kapanpun kamu datang aku menerimamu?”, jawabku dengan gengsi setinggi langit. Walaupun memang mungkin lagu itu yang sering terngiang – ngiang di telinga gue, hingga nangis ketiduran hampir setiap malam. Tapi dia nggak harus tau kan?

“Darla,oke aku jujur. Aku ngajak kamu ketemu karena ingin balik sama kamu.  Aku juga yang kirim coklat, kue-kue kesukaan kamu ke rumah walau tanpa nama karena aku punya niat baik sama kamu dan berharap kamu tau itu adalah perbuatanku, bukan cowok-cowok di blackberry kamu itu”

Gue terpekur. Nggak menyangka. Gue berusaha memahami arti setiap kata yang berhasil gue denger. Ah great! Dia ternyata merasakan hal yang sama dengan gue. Oke, gue akan jawab gue mau balik sama dia.. 1.. 2.. 3..

“Tapi setelah tau kamu kayak gini, aku nggak akan berfikir lagi untuk balik sama kamu. Bahkan untuk mencoba inget hubungin kamu”

Damn! Whattt??? Ahh untung gue tadi belum langsung jawab mau balik sama dia. Biarin deh dia usaha dulu kalau bener-bener serius

“Mungkin 1 tahun ini gue buang – buang waktu mikirin coba perbaikin hubungan kita dan mendewasakan diri untuk kita nantinya” sambung faey berapi-api

Itu juga yang gue lakukan Faey.. Semua.

Senyum untuk lelaki lain, mencoba mengenal mereka adalah tameng yang bisa gue lakukan agar malam minggu gue ga kosong, agar gue ga mesti nangis inget tentang kita, gue berharap itu bisa buat gue move on. Cecar gue dalam hati.

“So, Darla.. Ini pertemuan kita yang terakhir. Aku nggak akan hubungi kamu lagi. Mungkin kita sekarang sudah dibawah teman statusnya. Anggap saja kita nggak pernah kenal”, cerocos Faey tanpa ampun.

“Faey..” Gue ingin menjelaskan namun lidah gue kelu. Bingung harus memulai darimana. Atau harga diri yang menahan gue? Menyerahkan hati dua kali ke cowok yang sama?? Apa kata orang?

“Pergilah jika itu bisa buat kamu bahagia”, akhirnya hanya kata-kata itu yang gue anggap aman buat harga diri dan kesehatan hati gue di masa depan. Gue tau banget kalau diginiin biasanya dia akan tetap tinggal, seperti waktu dulu … Dan kemudian akan memohon-mohon untuk kembali. Mengejar-ngejar gue. Ahhh..

Gue menghitung dalam hati 1..2..3. Nah kan dia tidak pergi. Untung nggak perlu ngomong yang sebenarnya..

“Bye Darla”

“…”

 -The End-

Advertisements