Hati-hati, Hati

Tags

, , ,

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Sepotong Hati berjalan terseok-seok menuju rumah sakit, butuh pertolongan pertama. Di dalam kepanikannya ia berkata “Dok, tolong saya, saya tidak enak badan, nyaris pingsan rasanya. Ada apa dengan diri saya?”.  Dokter hanya tersenyum, “Tenang dulu Mbak Hati, berbaring saja dulu, sini saya periksa.”

Setelah Dokter selesai memeriksa Hati, ia mengeluarkan statement “diagnosa saya sih Mbak Hati keracunan Air Mata. Cukup akut dan tampaknya sudah cukup lama. Saya tidak akan membuatkan resep apa-apa, karena obatnya hanya waktu, serta menolak datangnya Air Mata. Tapi kalau Mbak Hati pingin bedrest di sini sekedar untuk menenangkan diri juga tidak apa-apa. Saya akan minta tolong perawat untuk menyiapkan kamar untuk Mbak Hati.”

Mendengar statement Dokter, Air Mata langsung menyela “Saya bukannya jahat mendatangi Hati terus-menerus, Bu Dokter. Tapi si Wajah sombongnya setengah mati. Jaim parah. Saya mau mendatanginya, ditahan habis-habisan. Kalau saya nekat, langsung dihapus paksa. Terpaksalah saya mendatangi Hati, karena ia selalu mau menerima saya tanpa banyak kata.”

Mendengar perkataan Air Mata, Wajah langsung membela diri. “Mana mungkin aku membiarkan kamu seenaknya datang dan pergi, Air Mata? Kalau aku sedang sendirian sih aku tidak berkeberatan sama sekali. Tapi terkadang kamu mau datang seenaknya, tidak kenal waktu, bahkan ketika sedang banyak orang. Kan aku malu kalau ada kamu, Air Mata!”

“Ya jangan salahkan aku dong, Wajah. Aku juga muncul gara-gara Kaki melangkahkan dirinya ke tempat itu lagi. Tempat yang membangkitkan kenangan menyakitkan.” Air Mata menjawab sewot.

“Eh eh, kok jadi aku yang disalahkan? Aku juga terpaksa menyeret diriku pergi ke tempat itu lagi. Kalau tidak terpaksa ya mana mungkin aku pergi ke sana? Kurang kerjaan, apa?” Kaki menjawab sengit.

Tangan pun ikut terpancing dalam suasana yang mulai memanas ini. “Kamu tuh Air Mata, jangan terlalu sering keluar rumah, sebentar-sebentar mau main ke Wajah, sebentar-sebentar mau main ke Hati. Kan aku juga yang repot. Kalau kamu main ke Wajah, aku yang sibuk mencari-cari tisu dan mengenyahkanmu. Kalau kamu main-main ke Hati, aku juga yang repot mencari-cari kegiatan sekedar agar ia bisa melupakan kedatanganmu. Ah, kamu memang selalu menyusahkan.”

Terdengar batuk-batuk kecil dari ujung keramaian, ternyata itu Otak yang hendak ambil suara. “Sudah sudah, jangan ribut-ribut. Lain kali, kalian semua sebelum bertindak itu harusnya berkonsultasi denganku dulu, jangan jalan sendiri-sendiri. Kalau tidak, ya jadi begini ini kejadiannya, jadi bertengkar tidak karuan, menyalahkan satu sama lain, merasa diri paling benar.”

Semua terdiam mendengar perkataan Otak. Otak pun langsung menutup percakapan malam itu dengan menyuruh Kaki melingkar di atas guling, meminta Tangan meluruskan diri dengan nyaman, memerintahkan Air Mata untuk tetap di rumahnya, menyuruh Wajah untuk tenang, dan menugaskan Hati untuk melupakan masalahnya sesaat saja. Dan seperti biasa, Otak merasa kesal karena si satu itu lagi-lagi tidak mau menuruti perkataannya. “Terkadang ia memang pantas diberi sedikit penyakit”, gumam Otak di sela-sela tidurnya.

-Jakarta, 20 Desember 2011-

-THE END-

Matahari, Bumi, dan Bulan

Tags

, , , , , ,

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

 

Bumi

Ah, kemana lagi si Matahari? Tidak tahukah ia di sini aku merindukannya? Apa sajakah gerangan hal yang menjadi urusannya sampai-sampai ia sering menghilang?

Bulan

Aku selalu mengagumi Bumi. Ia begitu cantik. Warna biru lautannya bercampur indah dengan warna hijau daratannya. Apalagi kalau ia mengenakan awan putihnya, berarak di atas pelupuk matanya, sungguh aku jatuh cinta. Tapi tampaknya ia sangat mencintai Matahari. Si makhluk angkuh yang semena-mena, yang selalu menutupi keberadaanku dengan kekuatan cahayanya.

Matahari

Aku capek dengan Bumi. Kerjanya mengomel terus tiada henti. Aku berikan cahaya untuk menumbuhkan pepohonannya, ia bilang ia kepanasan. Saat aku menyingkir dan membiarkan Hujan menumpahkan air matanya, ia bilang ia kedinginan. Saat aku bersamanya, ia mengenakan awan putihnya, tak mau menatapku. Saat aku tak ada, ia mencariku. Sungguh aku tak mengerti jalan pikirannya.

Bumi

Dan hey, siapa itu yang muncul di balik pekat malam? Menarik juga dia. Tampan dan tenang. Cahayanya sungguh lembut menyentuh wajah.

Bulan

Akhirnya ia menyadari keberadaanku. Ia harus tahu bahwa selama ia sibuk mengelilingi Matahari, aku selalu berada di dekatnya, mengelilinginya, berharap bahwa ia menyadari aku akan selalu ada untuknya. Dan malam ini, aku sedang dalam kondisi terbaikku, purnama. Kulemparkan senyum dan kuajak ia bersenda gurau. Kubiarkan ia berkeluh kesah. Hanya itu yang dapat kuberikan kepadanya. Mana sanggup aku memberikan cahaya yang ia butuhkan untuk menumbuhkan pepohonannya? Mana sanggup aku menyelaraskan Merkurius, Mars, Venus, dan lain-lainnya itu agar tetap berada di lintasan masing-masing dan tidak mengganggunya?

Matahari

Akhir-akhir ini aku merasa bahwa Bumi agak aneh. Ia tidak sering cemberut seperti biasanya. Cemberut yang menyebabkan lempengan wajahnya bergeser dan membuat gempa. Atau marah-marah sambil melontarkan kerikil-kerikil panas dari kawah berapinya. Apa yang terjadi padanya? Ia tampak, bahagia? Ah tapi sudahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Bumi

Dan hey, apa ini? Kenapa banyak kupu-kupu beterbangan di sekitar khatulistiwaku? Semakin lama semakin banyak, membuatku mau tak mau jadi tersenyum melihatnya. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi? Dengan sosok lembut nan menenangkan itu? Ah, mengingatnya saja sudah mampu membuatku mengundang Bu Pelangi ke rumah, padahal Pak Hujan sudah lama tidak kuajak mampir.

Matahari

Tampaknya aku tahu apa penyebab keanehan Bumi akhir-akhir ini. Aku memergokinya sedang bercanda tawa dengan Bulan. Ia tampak sangat bahagia. Garis bawahi kata “sangat”.

Bulan

Kenapa malam berlalu begitu cepat? Tumben Matahari bangun lebih awal, jadi tadi ia sempat melihatku sedang mencela Bumi gara-gara ia bilang kalau ia lupa membersihkan salah satu sungainya. Astaga, cantik-cantik jorok ya dia ternyata? Hahaha. Tapi aku tetap mencintainya, dan ia hanya perlu tahu hal itu. Itu saja sudah cukup bagiku.

Bumi

Ah, aku bingung sekali. Pagi itu Bulan menyatakan perasaannya padaku. Bahwa ia sangat mencintaiku. Sungguh, yang ingin kulakukan saat itu hanyalah memeluknya, tapi entah kenapa aku malah berlari menjauhinya. Aku tak sanggup berlama-lama menatap mata teduhnya. Aku takut aku makin jatuh cinta. Aku tidak mungkin mengkhianati Matahari yang begitu setia menjagaku. Aku tidak bisa. Itu saja.

Matahari

Ada apa dengan Bumi? Kenapa beberapa hari ini badai tsunami menghiasi wajahnya? Begitu aku mendekat untuk menghiburnya, ia malah makin terlihat merana, menolak untuk kudekati. Baiklah, akan kubiarkan ia sendiri saja dulu untuk menenangkan dirinya.

Bulan

Sungguh aku sedih sekali melihat Bumi beberapa hari ini. Sakit rasanya melihat ia bergulung dengan kesedihan. Mungkin memang ini yang terbaik untuk semuanya. Kalau aku mengikuti egoku, akan kubawa ia agar selalu bersamaku. Tapi aku tahu, itu tidak baik untuknya. Ia bisa mati tanpa keberadaan Matahari. Tampaknya aku yang harus menarik diri dari kehidupannya. Agar ia bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa. Pertanyaannya, mampukah aku hidup jauh darinya?

———————————————————————————————————————————————————————

Dari kejauhan Sang Sutradara tersenyum melihat ketiga aktornya. Ia telah merancang skenario untuk mereka bertiga. Pada suatu waktu, ia akan memercikkan api cemburu sedikit lebih banyak pada Matahari dan menambahkan sejumput ego pada Bulan. Hal ini akan membuat perang antara keduanya tak terelakkan, dengan Bumi sebagai pelerai. Sehingga pada akhirnya, mereka bertiga akan hancur, lebur, lalu kembali kepada ketidakadaan.

-Jakarta, 11 Desember 2011-

 

-THE END-

Si Jaket Merah

Tags

, , , ,

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Deru mesin sepeda motor terdengar menjauh. Begitu pun dengan punggung berjaket merah, yang pada akhirnya menyisakan sebias titik di ujung jalan.

Setelah beberapa detik termenung di balik jendela, gue merapatkan kembali kedua kelepak tirai merah muda bermotif bunga. Lelaki tersebut baru saja mengantar gue pulang dari taman. Dan mata gue mengekor kepergiannya dari balik jendela kaca.

Hmm, tampaknya sudah saatnya mandi. Gue nggak betah berlama-lama mengenakan pakaian yang berbau asap rokok. Dari dulu gue selalu suka melihat ia merokok, namun benci dengan baunya yang menempel di rambut dan baju. Apalagi kalau menempel di terusan biru laut favorit gue ini. Urghhh… mana rela?

“Bajunya cantik.” Begitu komentarnya ketika pertama kali melihat gue mengenakan pakaian ini.

“Tapi, cantikan lo sih…” lanjutnya dengan senyum jahil tertahan.

Gue yang tahu dia hanya bercanda, hanya ingin menggoda, mendaratkan sebuah pukulan ringan di bahunya sambil tergelak kencang.

Dan asal tahu saja, hari ini gue sengaja berdandan lebih keras dari biasanya. Itu semua karena gue berniat menyatakan cinta padanya di taman kota. Semua sel tubuh gue kuatkan untuk mengatakan bahwa betapa dia sangat berarti. Pun segenap keberanian gue kumpulkan untuk mengakui kalau ia diinginkan, lebih dari sekedar teman.

Namun sayangnya, gayung tidak bersambut. Alasannya standar saja, ia tidak bisa, katanya. Ia hanya menganggap gue sebagai sahabat baiknya. Tidak kurang, tidak lebih.

Tahukah ia, saat kalimat penolakan itu meluncur dari bibirnya, hati gue terluka? Seperti terkena silet tajam. Lukanya kecil, namun dalam. Meninggalkan perih yang tak tertahan.

Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah penolakan?

Air mata menetes lagi. Gue mengusap paksa, berusaha menghapus bayangannya yang berwujud dalam tangisan. Namun, semakin gue berusaha melupakannya, semakin ingatan tentangnya menancap kuat di kepala.

Dan sungguh, gue ingin melupakannya.  Melepaskannya. Merelakan hatinya yang tidak bisa dipaksa untuk mencinta.

Gue baru bisa memejamkan mata sekitar jam tiga dini hari. Untungnya besok adalah hari Sabtu, akhir pekan, sehingga gue bisa bangun agak siang.

Demi menghilangkan kesedihan, gue memutuskan untuk melakukan me time. Kali ini pilihan jatuh ke salon dan spa di salah satu mall ternama di bilangan Jakarta Selatan. Kayaknya enak nih dipijat. Apalagi plus lulur dan creambath. Ada getar bahagia yang terasa, hanya dengan membayangkan nikmatnya spa seharian.

Sudah tak sabar ingin memanjakan diri, gue pun langsung memacu Cherry si sedan merah di tol dalam kota. Tidak terlalu kencang tentu saja, mengingat Sabtu sore adalah waktu favorit Jakarta untuk menyuruh Si Komo menari-nari di tengah jalan raya.

Untungnya parkir mobil dengan mudah bisa gue temukan. Mendapat parkir di mall ini pada Sabtu sore sudah selayaknya dihitung sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, saking sulitnya.

Begitu turun dari mobil, gue melihat sekelompok remaja putra dan putri sedang tertawa bahagia. Canda riang mereka mengingatkan akan persahabatan gue dan dia yang kandas begitu saja karena ia menolak untuk menaikkan status hubungan kami.

Kaki gue melangkah memasuki ruang perawatan spa yang terdapat di lantai dasar mall. Bunyi pintu kaca yang berderit tertutup di belakang tidak mampu mengalihkan perhatian gue dari pemandangan di depan mata.

Si jaket merah.

Di depan meja kasir.

Digandeng seorang wanita langsing dan manis rupawan.

Ah, gue mengerti apa arti kata “tidak bisa” yang ia maksud. Kenapa kamu tidak berterus terang saja, sayang?

(to be continued..)

Peri Sofia dan Tragedi Cinta Pertama

Tags

, , , , , ,

Prepared by Client:
Intan Kartika (@kartikaintan

“Tak akan kusesali,
setiap pertemuan atas nama cinta sejati,
walau ada luka,
walau ada kesedihan menyertai
Tapi tahukah kau,
bahwa sungguh tak pernah ada beda,
yang begitu terasa beda dalam mencinta.”


Ini adalah kisah cinta pandangan pertama dan kisah patah hati antara dua makhluk yang sangat berbeda.

*

Setiap pengalaman pertama merupakan keajaiban bagi Sofia. Dimulai dari saat ia membuka mata dan melihat dunia, dan mulai menyadari hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupannya. Seperti saat ia belajar bahwa sinar keemasan yang menerobos pepohonan dan jatuh menyinari lantai kayu gelap di kamarnya adalah seberkas sinar matahari.

Hidup itu sendiri adalah keajaiban, pikir Sofia pada dirinya sendiri. Saat itu ia tengah menunggu matahari terbit sambil duduk di sebatang pohon besar bercabang banyak. Sentuhan pertama dari sinar keemasan yang hangat itu langsung menjadikan warna kulitnya berpendar misterius, memantulkan kembali cahaya matahari dengan lebih lembut dari setiap jengkal kulitnya yang tidak tertutup pakaian. Kegelapan malam langsung tertinggal jauh di belakang.

Seekor burung gereja melompat-lompat di dekatnya dan bertengger di bahunya, mendendangkan nada menyambut pagi dengan riang. Tanpa sadar Sofia ikut bernyanyi dengannya, suaranya tidak kalah indah dibandingkan burung kecil kecokelatan itu. Beberapa saat kemudian, burung gereja itu pergi setelah mematuk pelan pundak Sofia dengan penuh sayang.

Sofia menghirup udara pagi dengan rakus dan melompat turun dari atas pohon. Bunyi berdebum pelan yang terdengar saat kakinya menyentuh rerumputan hijau lebat seharusnya tidak akan mengejutkan siapapun, tetapi kemunculannya yang tiba-tiba ternyata mengagetkan seseorang yang kebetulan sedang berjalan di bawah pohon itu.

Sosok itu memegang setumpuk buku bersampul kulit di depan dadanya. Rambut ikalnya yang panjang dan hitam tergerai sampai ke punggung dengan indah. Ia sangat cantik seperti halnya Sofia, hanya kebijaksanaan yang terpancar dari wajahnya yang menyiratkan bahwa umurnya jauh lebih tua. Seulas kerutan terbentuk dari kedua alisnya yang indah saat ia menyadari Sofia-lah yang mengagetkannya.

“Kau mengejutkan Peri Tua ini,” omelannya terdengar bagaikan alunan lonceng di telinga manusia.

“Ibu Guru belum terlalu tua, dan tidak akan pernah terlihat tua,” Sofia terkekeh geli sambil menyodorkan tangannya untuk menolong membawakan buku-buku tebal itu dari tangan si Peri tua. “Kita belajar Sejarah Peri hari ini?” tanya Sofia setelah melihat sekilas judul buku bersampul kulit paling atas yang dibawanya.

“Jadwal hari ini memang itu kan?” jawab si Peri sambil berjalan lebih cepat untuk mengiringi langkah Sofia yang bagaikan melayang itu menuju Sekolah Peri.

Bangunan itu hanya bagian dalam sebatang pohon yang diperluas dengan sihir Peri sehingga terlihat seperti sebuah ruangan berlangit-langit tinggi dengan meja-meja dan kursi yang disusun melingkar dengan bangku dan meja yang lebih tinggi untuk pengajarnya.

“Mungkin hari ini aku akan membolos, Old Minerva,” Sofia meletakkan buku-buku itu di meja guru dan melenggang pergi dengan cepat. Terlalu cepat sampai ia tidak bisa mendengar omelan Guru Minerva di belakangnya.

Langkah-langkah kaki Sofia bagaikan menari di atas seberkas rumput keemasan, pohon-pohon kurus tinggi berkelebat di sekitarnya saat ia berputar-putar, rambutnya yang keemasan berpendar dan melambai tertiup angin. Seandainya ada manusia yang melihatnya, mungkin mereka akan berkata telah melihat bidadari berambut emas di tengah hutan. Sayangnya, belum pernah ada manusia yang bisa masuk ke dalam hutan ini dan menyaksikan sendiri komunitas para Peri hutan. Masa itu adalah masa dimana mitos-mitos masih hidup dan berkembang sehingga belum ada satupun manusia yang berani masuk lebih jauh ke dalam hutan. Ditambah lagi sihir Peri menjaga kerahasiaan mereka semua tetap terjaga.

Peri remaja seperti Sofia bahkan tidak diijinkan bermain sampai ke batas hutan tertentu, karena mereka belum bisa menjaga diri dalam menghadapi manusia. Orang tua dan teman-teman Sofia selalu membicarakan manusia seakan mereka hanya komunitas yang tidak penting dan terlalu kasar untuk diajak bergaul. Sofia tidak pernah mempedulikan hal itu, ia telah memiliki segalanya yang ia butuhkan, dan begitu banyak keindahan untuk dinikmati satu persatu.

Sebagai contohnya, ia seharusnya memikirkan tentang Pesta Musim Semi yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Pesta itu adalah peringatan untuk merayakan berakhirnya musim dingin. Pesta ini juga ditunggu para Peri remaja karena secara informal merupakan ajang memperkenalkan pasangan Peri mereka. Sofia belum memutuskan dengan siapa ia akan pergi, bukan karena ia tidak menyukai satupun dari teman-temannya, tapi karena sejak ia masih kecil, ia sudah menantikan saat-saat ia datang ke acara musim semi itu dengan pasangannya, dan ia ingin berpasangan dengan Peri yang benar-benar membuatnya jatuh cinta, seperti yang ada di dalam buku-buku legenda para Peri, tentang bagaimana kisah cinta nenek moyang mereka dulu.

Sofia akhirnya berhenti menari dan merebahkan diri dibawah salah satu pohon apel yang sedang berbuah lebat. Beberapa ekor tupai kecil langsung berlari mengelilinginya seakan Sofia-lah yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Dengan santai Sofia menatap seberkas langit kebiruan yang tidak tertutup rindangnya daun-daun di pepohonan. Ia berpikir tentang Amarie, sahabatnya, yang juga akan menghadiri Pesta Musim Semi dengan pasangan untuk pertama kalinya. Amarie berkata padanya akan pergi dengan Levian, salah satu Peri muda tampan di sekolah mereka. Sofia menghela napas dan tanpa sadar membalikkan telapak tangan, membiarkan dua tupai memakan apel langsung dari tangannya, kebanyakan teman-teman sebayanya sibuk merencanakan dengan siapa mereka akan pergi dan berusaha agar pasangan mereka lebih membanggakan dibanding yang lain. Sudah beberapa Peri mengajak Sofia menghadiri Pesta bersama mereka, tapi Sofia selalu menolak karena merasa mereka bukan Peri yang tepat untuknya.

“Pasti akan datang di waktu yang tepat,” gumam Sofia dengan suara seringan bulu. Beberapa tupai mencicit mendukung. Sofia bangkit untuk duduk, bersandar di batang pohon apel dan ikut menikmati buah apel merah kehijauan dengan para tupai. Ia menghabiskan dua butir apel, kemudian merasa haus. Dengan anggun ia berdiri dan berpamitan dengan para tupai itu sebelum berjalan lebih jauh ke dalam hutan untuk mencari sungai berair jernih. Ia menari lagi sambil mendendangkan lagu yang diciptakannya sendiri, begitu asyiknya sampai ia tidak sadar kalau telah melewati batas hutan untuk para Peri remaja.

Sofia sampai di aliran sungai yang tidak begitu deras. Air sungai begitu jernih sampai ia bisa melihat bebatuan berkilauan di dasarnya. Tanpa terburu-buru ia minum sampai kenyang, kemudian menelungkup di pinggir sungai untuk bermain dengan batu-batuan berkilauan itu. Ia hanya terganggu oleh suara langkah kaki yang tiba-tiba datang. Sofia menoleh dan langsung bangun dengan terkejut. Seorang Peri muda yang tampan dan kasar sedang menatapnya dari balik pepohonan yang lebat, mengenakan pakaian putih berlengan panjang dan sepatu bot kusam yang menutupi celana kulit cokelatnya. Ia terlihat kaget karena tidak menyangka akan bertemu dengan gadis Peri di tepi sungai itu.

Pemuda Peri itu tidak sama seperti Peri-Peri lain yang di kenalnya, kulitnya yang putih tidak begitu bersinar, dan langkahnya jauh lebih berat dari Sofia, sehingga menimbulkan kesan kasar. Tapi di mata Sofia ia lebih tampan daripada teman-teman Perinya yang lain.

“Kau membolos juga?” tanya Sofia lugu. Pemuda itu mengangkat bahu, lalu menjawab,

“Hari ini terlalu bagus untuk dihabiskan di dalam ruangan,”

Sofia mengangguk setuju. “Memang sudah mulai hangat cuacanya,”

Mereka berpandangan dan tersenyum.

“Namaku Marvel,” ia mengulurkan tangan pada Sofia.

“Sofia,” gadis Peri itu menyalami Marvel penuh semangat.

Marvel mengerutkan alis dengan heran.

“Kulitmu bersinar sekali, Sofia,”

“Dan kulitmu agak kasar,” Sofia menyahut dengan geli dan terkikik.

“Aku belum pernah melihatmu di sekolah,” kata Marvel lagi sambil duduk di sebelah Sofia.

“Aku juga belum, apa mungkin kau lebih tua daripadaku? Mungkin tingkatanmu sudah lebih tinggi.”

Marvel hanya mengangguk, terlalu terpesona untuk mengalihkan pandangan dari wajah Sofia yang begitu cantik.

Mereka berdua hanya duduk diam dan bertatapan untuk beberapa lama, sampai akhirnya matahari sudah bersinar sangat tinggi di atas kepala mereka.

“Aku harus pulang, atau ayah akan memarahiku habis-habisan,” kata Marvel sambil berdiri dan mengibaskan celana panjangnya dari rumput kering yang menempel.

Sofia mengangguk, “Aku juga sebaiknya kembali ke rumah,”

Marvel berdiri ragu sebelum pergi, kemudian memaksakan diri bertanya, “Kau akan kesini lagi besok?”

Sofia tertawa pelan, “Mungkin. Tapi sebaiknya tidak di waktu yang sama.” Ia mengedip pada Marvel. “Kita kan tidak boleh membolos sering-sering,”

“Aku akan menunggumu datang lagi,” Marvel berkata dengan sedikit putus asa.

Sofia mengangguk, lalu tersenyum. “Sampai Besok, Marvel,” kemudian ia menari menjauh meninggalkan Marvel yang masih tertegun di balik pepohonan di pinggir sungai.

Keesokan harinya, saat matahari sudah hampir terbenam, Sofia kembali lagi ke tepi sungai itu dan melihat Marvel sedang duduk di sana menunggunya.

“Hai,” sapa Sofia dengan ringan, mengejutkan Marvel begitu rupa sampai pemuda itu nyaris terjatuh ke dalam sungai.

“Kau datang!” serunya.

“Aku kan sudah berjanji,” Sofia mengingatkannya.

“Tapi…kupikir…” ia terbata-bata.

“Aku mencarimu di sekolah,” Sofia mengambil segenggam kerikil dari dasar sungai dan memainkannya di telapak tangannya, berkilauan memantulkan sinar matahari senja. “Tapi kau tidak ada,”

“Aku tidak masuk hari ini, Ayah membutuhkanku membantunya di rumah,” jawab Marvel, terpesona pada batu-batu yang digenggam Sofia.

Sofia mengangguk, kemudian tersenyum.

Kejadian kemarin terulang kembali saat mereka hanya bertatapan dan tersenyum. Terlalu takut untuk merusak saat-saat kebersamaan mereka, karena Sofia mengerti dan begitu juga Marvel, bahwa ada suatu hubungan yang terjalin begitu saja diantara mereka. Begitu matahari akhirnya benar-benar akan terbenam, Sofia teringat untuk bertanya sesuatu.

“Marvel,” panggilnya. “Kau mau pergi bersamaku ke Pesta Musim Semi?”

“Pesta Musim Semi?” Marvel bertanya dengan heran.

Tiba-tiba perasaan kecewa melanda Sofia, “Tapi tidak apa kalau kau sudah ada pasangan lain,”

Marvel cepat-cepat menggeleng, “Tentu saja aku mau pergi denganmu! Aku akan senang sekali!”

Sofia tersenyum senang, memamerkan gigi-giginya yang  cemerlang dan seputih susu.

“Kalau begitu kita berangkat bersama-sama, aku akan menemuimu di sini, kau harus membawa bunganya,” Sofia mengedip lagi.

Marvel mengangguk penuh semangat.

“Sudah malam, kita harus pulang,” ajak Marvel. Sofia hanya mengangguk, berpikir bahwa orangtua Marvel begitu keras memaksa putra mereka pulang begitu matahari terbenam. Ia sendiri akan berputar-putar dulu dan mengunjungi si Burung Hantu sebelum pulang ke rumah.

“Sampai nanti,” Marvel kali ini berlari pulang mendahului Sofia.

“Kau akan pergi dengan siapa?” tanya Amarie saat mereka berdua mengepas gaun baru untuk pesta.

“Itu kan rahasia.” Sofia menjawab dengan misterius. Ia membelai lekuk pinggang gaunnya yang bertaburkan bunga aster warna putih dan kuning, kemudian mendesah puas melihat pantulan dirinya di cermin.

“Oh, ayolah, aku kan sudah menceritakannya kepadamu!” Amarie ngotot bertanya.

“Kau akan melihatnya di pesta. Ia tampan sekali,” kata Sofia, membetulkan letak bunga lily di rambut panjang lurus sahabatnya.

“Oohh.. apakah dia Stefan?” tanya Amarie, menyebutkan nama Peri tertampan di sekolah menurut sebagian besar gadis Peri.

“Bukan!” Sofia menggeleng dengan ngeri. “Lihat saja nanti,”

Amarie merengut dengan kesal, tapi kemudian pikirannya teralihkan begitu melihat kedua Ibu mereka memasuki ruangan dengan begitu banyak bunga lagi. Kelihatannya hari pengepasan gaun ini belum akan selesai, keluh Sofia dalam hati. Hari ini ia melewatkan pertemuan dengan Marvel, tidak seperti hari-hari berikutnya dimana mereka berdua selalu tidak terpisahkan di pinggir sungai, tempat milik mereka berdua. Sofia sepenuhnya berharap besok akan segera datang dan ia bisa bertemu Marvel lagi.

*

Pagi hari itu, sesaat sebelum Pesta Musim Semi dimulai, Sofia dan Marvel bertemu lagi di pinggir hutan yang sama. Pemuda itu membawakan Sofia seikat bunga aster warna putih dan kuning yang serasi dengan bunga-bunga yang menempel di gaun putih melambai Sofia.

“Kau membawa bunga yang tepat,” Sofia terkejut. Ibunya bercerita semalam bahwa kalau pasangannya membawa bunga seperti yang dipakai olehnya, berarti mereka memang berjodoh. Ia sama sekali tidak menduga Marvel akan membawa bunga aster, mengingat bunga ini tidak begitu populer dibandingkan Mawar atau Lily.

Marvel tersipu malu, Sofia senang sekali melihat semburat warna merah di pipinya. Tidak ada seorangpun di dunia Peri yang wajahnya bisa memerah seindah itu.

“Aku memetiknya di pinggir hutan, disana tumbuh banyak sekali…” kata-katanya terputus saat melihat penampilan Sofia yang tanpa cela. “Kau sangat cantik,” pujinya tulus. Sofia menyunggingkan senyumnya yang paling menawan, kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak Marvel lebih jauh ke dalam hutan, ke tempat Pesta Musim Semi diselenggarakan.

Suasana pesta begitu meriah, Peri-peri yang lebih tua duduk-duduk di tempat yang telah disediakan di bawah sebatang pohon perdu yang rindang, menikmati hidangan kue-kue dan teh khas Peri, saling mengobrol dengan riangnya. Suara ocehan mereka terdengat seperti ribuan lonceng yang berbunyi dengan harmonis. Para Peri remaja kebanyakan menguasai lantai dansa, berdansa dengan pasangan-pasangan mereka, dan anak-anak Peri berlari berkejaran, bermain dengan kupu-kupu yang melintas, atau memakan kue buah yang tersedia ratusan mangkuk di meja.

Sofia tertawa riang dan menggandeng Marvel menuju keramaian pesta, ke tempat teman-temannya berkumpul. Marvel hanya memandang semua keramaian itu dengan ekspresi tidak percaya, mulutnya ternganga lebar, dan ia menurut saja waktu Sofia menariknya lagi.

“Amarie!” Sofia memanggil sahabatnya yang sedang mengobrol dekat sekali dengan Levian. Amarie menoleh dan melambai, kemudian matanya yang indah membelalak begitu melihat siapa yang dibawa oleh Sofia.

“Ini temanku, Amarie dan pasangannya Levian.” Sofia memperkenalkan Marvel pada mereka berdua. “Ini Marvel.” Marvel menyalami mereka dengan takut-takut. Ia kelihatan tercengang sekarang, tidak mampu berbicara sedikitpun.

“Kau kelihatan berbeda, Marvel,” Levian berkata setelah mengamati Marvel dengan teliti. “Apakah kau berasal dari ras yang lain?” Marvel tidak bisa menjawab.

“Aku juga berpendapat begitu,” Amarie menyahut. “Kau tinggal di bagian hutan yang mana, Marvel?”

Yang ditanya hanya menggeleng dan menelan ludah.

“Sudahlah, jangan mengganggu dia lagi,” Sofia menepis kedua temannya. “Ayo kita mengambil minuman.” Sofia mengajak Marvel ke arah meja panjang yang penuh makanan.

“Aku tidak…” Marvel menggumam tidak jelas.

“Apa kau bilang?” tanya Sofia.

“Aku tidak tinggal di hutan,” Marvel akhirnya bisa bicara.

“Apa maksudmu? Semua Peri tinggal di hutan.” Sofia berkata dengan heran.

“Aku bukan Peri. Aku manusia, aku tinggal di desa, di pinggir hutan…” kalimat Marvel terhenti karena reaksi yang didapatnya.

Sofia, Amarie, dan Levian mematung di tempatnya. Wajah-wajah rupawan mereka berubah dari ingin tahu menjadi penuh kengerian. Dalam sekejap, beberapa Peri Tua termasuk Pemimpin mereka yang sosoknya paling tinggi dan paling mempesona dari mereka semua, berhasil mendekat dan menemui empat remaja itu.

“Kau tidak ada urusan di sini, manusia.” Suaranya yang indah terdengar menyeramkan di telinga Marvel. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah, dan dalam kejapan mata berikutnya, ia menemukan dirinya sudah berada di pinggir hutan yang tadi pagi didatanginya, sendirian.

“Sofia?” ia mencoba memanggil. “Jangan pergi, maafkan aku!”

Hanya gaung keheningan yang kini menjawab panggilannya.

“Manusia tidak pernah bisa dipercaya,” Pemimpin Peri menasihati Sofia di dalam rumahnya yang hangat dan nyaman. “Salahku, tidak pernah mereasa perlu mengajarkan bagaimana rupa mereka, dan betapa miripnya kita dengan mereka dalam satu dan lain hal.”

Sofia hanya terdiam. Kalau ia bisa menangis, ia pasti sudah tersedu-sedu. Hanya kebisuan yang terpancar darinya yang memberitahukan betapa sedih hatinya sekarang.

“Tetap saja, Marvel sekarang akan bercerita kepada kaumnya mengenai keberadaan kita, dan kita terpaksa harus pergi dari hutan ini.” Pemimpin Peri melanjutkan, seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Aku yakin kau akan berhati-hati kali ini, Sofia?”

Sofia mengangguk. “Perasaan itu akan hilang dengan sendirinya, sayangku, jangan sia-siakan keabadian dan kemuliaanmu untuk mencintai makhluk seperti mereka,”

Peri tua itu menepuk pundak Sofia, secara halus mengatakan bahwa ia boleh pulang. Sofia berdiri dan keluar dari rumah pemimpin Peri dengan langkah lunglai. Lama sekali ia berdiri di bawah naungan pohon perdu sambil termenung. Hujan yang tiba-tiba turun mengagetkannya. Hujan pertama di musim semi. Tidak pernah terjadi sebelumnya, dan tidak ada yang mengerti kecuali Sofia bahwa alam juga ikut berduka akan kandasnya cinta pertama dan terakhir Peri muda itu.

Sofia berjalan ditengah hujan yang kian lama kian deras, di ujung hutan yang lain, Marvel juga berjalan dengan putus asa, masih berusaha menemukan Sofia. Usaha yang sia-sia mengingat sihir pengamanan kaum Peri sudah dipasang lebih kuat lagi. Keduanya berjalan tanpa sadar, mencoba menemukan satu sama lain, sampai akhirnya sosok Peri Sofia menjadi kabur, dan kabur, dan akhirnya lenyap ditengah derasnya air hujan yang membasahi hutan. Ia tidak akan pernah terlihat lagi. Marvel tersedu, berlutut memukul tanah berumput yang basah, menyerah dalam pencariannya.

-THE END-

Hari-hari Bersama Nenek Liliana

Tags

, ,

Prepared by Client:
Tia Setiawati (@TiaSetiawati

“Akan ada seseorang yang datang,
kemudian pergi,
memberikan sesuatu padamu,
kebesaran cinta, barangkali,
ya, semua itu bisa saja terjadi…”

Hari ini adalah genap hari ke tiga aku di opname di Rumah Sakit besar ini. Rasanya semuanya begitu membosankan. Bau obat-obatan, latar belakang serba putih, orang-orang hilir mudik di setiap jam besuk. Ah, aku bosan. Ingin keluar, ingin pergi, ingin kabur. Tapi seperti kebanyakan pasien lainnya, aku belum bisa. Penyakitku lah yang membawaku sampai kesini. Demam berdarah dan tipes. Dua kombinasi yang sepertinya memang bersahabat. Dan aku adalah salah satu yang tidak beruntung karena mereka mampir ke tubuhku. Ya, tubuh yang memang sepertinya membutuhkan istirahat total dari semua rutinitas harian yang membuat tubuh ini kelelahan.

Ruang tempat ku dirawat tidak terlalu besar. Ruang ini cukup dihuni oleh tiga orang pasien dengan luas ruangan perpasien ala kadarnya. Yah, inilah kelas medium. Bukan VIP. Ah tak penting memang, karena mau seluas dan seleluasa apapun, aku toh memang tidak suka Rumah Sakit. Tidak suka semuanya. Karena disini itu tempat kesedihan, kesakitan. Atau mungkin beda kasus bila RS nya RS Bersalin.

Ah ada yang lupa aku sampaikan, di hari ketiga ini pula, si kamar rawat ku ini mendadak saja menjadi penuh. Para pasien berdatangan. Awalnya aku pikir, aku bisa istirahat dengan baik disini. Dengan situasi yang lebih tenang tentunya. Namun mungkin tidak lagi setelah hari ini. Kamar yang tadinya hanya dihuni oleh ku seorang, kini mulai dihuni oleh dua orang. Dan bahkan di subuh hari keesokan harinya, kamar ini resmi penuh. Sungguh tak nyaman untuk beristirahat diruangan penuh seperti ini.

*

Salah satu wanita yang menemaniku di kamar inap itu bernama Liliana. Wanita separuh baya itu tersenyum simpul menatapku dengan sangat ramah. Dari sejak kedatangannya, tak pernah ku lihat sedikitpun raut muka kesedihan seperti kebanyakan pasien yang datang ke sini di hari-hari awal mereka. Dia selalu tersenyum. Entah sedang sakit atau tidak. Senyum itulah yang setiap hari selalu aku lihat. Senyum itu pula, tak pernah absen setiap hari dari wajah yang sudah keriput itu. Nenek Liliana juga tipikal wanita yang memperhatikan penampilan. Sungguh dia terlihat segar dan cantik setiap hari. Dengan make up yang teroles di wajahnya, dia tak tampak seperti sedang sakit.

Setiap pihak (suster terutama, dimana dengan mereka lah aku banyak berinteraksi) di Rumah Sakit ini selalu merahasiakan apa penyakit pasiennya. Begitupun dengan penyakit yang di derita oleh Nenek Liliana. Entah kesamaan apa yang dapat membuat kami begitu cepat akrab satu sama lain. Padahal, aku berani bersumpah aku sudah hampir mati kebosanan berada disini. Trombositku yang makin hari makin menurun juga di tambah dengan keadaan perut akibat tipes yang tak semakin membaik. Itu saja bisa membuatku bosan setengah mati. Dan bantuan novel-novelpun rasanya sama sekali tidak membantu. Rasa bosan itu memang bisa kukatakan hampir membunuh hari-hariku. Bosan sekali. Dan kehadiaran nenek Liliana bisa sedikit menghiburku.

Saat itulah si Nenek itu menawarkan beberapa hal baru yang mampu menghilangkan rasa bosanku. Ya, dia itu seorang nenek yang unik. Seorang nenek tua yang masih sangat enerjik. Seorang nenek yang masih sangat bersemangat untuk hidup. Walau sampai detik aku menulis inipun aku masih belum tau apa penyakitnya, dia tetap ajaib buatku.

*

‘Nona Tirania, selamat pagi. Mau langsung mandi atau mau di lap saja?’

Sambil bersungut-sungut aku mencoba bangun dari atas kasurku.

‘Ha? Jam berapa ya, Sus?’

‘Sudah jam sembilan’

‘Hah? Wow. Saya ga mandi ah. Males’ jawabku seenaknya sambil menoleh ke kasur tempat dimana Nenek Liliana berada. Sang suster mengetahui kemana arah mataku menatap.

‘Nenek Liliana sudah dari pagi tadi keluar’

‘Hah? Kemana, sus? Memang beliau sudah boleh pulang? Memang sudah sembuh total?’

‘Bukan, kan Jumat itu waktunya beliau ke luar di pagi hari setiap jam sembilan sampai jam sebelas’

‘Hmmm’ gumamku sambil kembali menarik selimutku dan kemudian berpikir kemana gerangan si nenek itu berada sepagi itu.

*

‘Nek, tadi pagi kemana aja?’ tanyaku di waktu makan siang masih di hari yang sama

‘Hehe, nenek melakukan rutinitas’

‘Rutinitas?’

‘Iya, rutinitas. Namanya rutinitas kan mau sakit atau ga, mau sedang di rawat atau ga, harus tetap dilaksanakan tho? Sama saja kalo kita makan. Kalo sakit ga jadi tiba-tiba ga butuh makan kan? Hehe’ jawabnya sambil tersenyum jenaka

‘Ah, nenek ini bisa aja deh. Jadi, rutinitas macam apakah itu?’

‘Nanti juga kamu tau’

‘Nanti itu kapan ya, nek? Tahun depan juga kan masih nanti, hehe’ jawabku tak kalah berkelakar

‘Hihi, bisa aja kamu. Ya nantinya nenek sih ga selama itu. Tunggu saja tanggal mainnya ya’

*

Lagi-lagi, hari ini aku kehilangan  jejak nenek Lili (begitu akhirnya aku memanggil namanya). Jam sembilan pagi dia sudah tak berada di kasurnya. Ini sudah berselang satu minggu dari sejak pertama kali aku mengetahui jadwal rutinitas dia. Ah, aku jadi heran sendiri. Bagaimana bisa dia seperti sangat leluasa untuk keluar masuk rumah sakit ini sesukanya? Aku yang baru berhari-hari saja tidak bisa seleluasa dia. Apa yang aneh yah? Atau memang begitu sikap pihak rumah sakit dalam memperlakukan pasiennya yang sudah renta? Ah, itu sepertinya lebih tak masuk akal buatku.

‘Suster, Nenek Lili kemana lagi ya?’ tanyaku ketika suster masuk sambil membawa seperangkat alat suntik. Ah, saat inilah yang paling menyebalkan dari semuanya. Aku benci jarum suntik. Sangat.

‘Oh, nenek Lili kan sedang melakukan rutinitasnya’

‘Iya, saya tau. Tapi, rutinitas macam apa ya, suster?’

‘Waduh, kalo itu, lebih baik mba tanya langsung saja ke beliau. Saya takut lancang kalo memberitahu tanpa seijinnya’

Huh, suster ini juga berkomplot ternyata. Ya Tuhan, aku benar-benar penasaran.

Ngomong-ngomong, sudah lama juga ya aku berada di Rumah Sakit ini. Seminggu lebih. Sebenarnya keadaanku sudah cukup membaik. Trombositku pun sudah semakin meningkat. Hanya saja, dokter belum mengizinkan aku untuk keluar. Karena dia sepertinya dapat membaca gelagatku, gelagat untuk langsung beraktifitas seperti biasa setelah keluar dari Rumah Sakit ini. Padahal jelas-jelas dokter sudah megatakan berkali-kali, aku butuh lebih lama waktu untuk beristirahat. Benar-benar total dan tanpa aktifitas. Dan dia memang tak salah. Aku memang sudah tak tahan untuk segera masuk kantor lagi. Rasanya pekerjaanku pasti sudah menumpuk. Ah stress sendiri aku membayangkan akan sebanyak apa nanti pekerjaanku.

*

‘Tira, kamu kemarin nyari-nyari nenek lagi yah?’ tegur nenek Lili di suatu senja ketika aku baru saja keluar dari toilet dan hendak mengambil novelku.

‘Iya. Nenek kemana sih? Aduh nek, aku dikasih tau dong, nenek kemana sih kalo Jumat pagi-pagi gitu? Aku beneran penasaran lho’ jawabku

‘Hihi, lucu deh kamu. Kenapa juga mesti penasaran sih?’

‘Ya penasaran ya penasaran, nek. Memang harus ada alasannya ya untuk penasaran? Hehe’

‘Ah, kamu ini. Ngeles aja’

Lalu kami tersenyum bersamaan. Selang beberapa menit, aku kembali menanyakan hal yang sama.

‘Jadi, nenek kemana?’

‘Ya Tuhan, kepala kamu itu terbuat dari apa sih? Kok ga kapok-kapok nanya’ jawabnya sambil tersenyum jahil

‘Ih nenek. Aku kan tadi udah bilang, aku penasaran. Makanya nenek cepet jawab dong, biar aku ga nanya-nanya terus. Emang nenek ga bosen aku cerewetin pertanyaan yang sama?’

‘Hmmm, gimana ya? Nanti kalo nenek jawab, ruangan ini jadi sepi deh. Kehilangan si nona tukang bertanya, hihi’

‘Aahh, nenek. Jail banget deh. Ayo doooong, nek’

‘Gimana kalo nenek jawab langsung aja? Besok jam sembilan kamu sudah harus siap ya! Kita ke tempat rutinitas itu. Mau?’

Dan tanpa ba-bi-bu aku langsung menyetujuinya. Bersiap untuk terbangun tepat waktu di pagi esoknya, ya sepertinya itu akan sedikit merepotkanku. Tapi tak apa lah, demi menjawab rasa penasaran ini.

*

Pukul sembilan pagi, kami sudah menyusuri taman kota. Taman di dalam perumahan ini memang sangat asri. Menyenangkan sepertinya untuk berlama-lama berada disini. Terlebih jika memang aku tinggal di sekitar perumahan elit ini.

Nenek Lili berbelok ke sebuah ruko. Dan disana tertera tulisan SALON CANTIK.

‘Nek?’

‘Iya, Tira. Kenapa?’

‘Ini? Lho? Jadi ini?’

‘Yuk masuk. Nenek mau apa ya hari ini?’

Dan aku terbengong-bengong mengikuti langkah kaki nenek Lili ketika dia memasuki salon tersebut. Ya Tuhan, bagaimana mungkin tempat itu adalah sebuah salon?

*

Aku masih berdiam diri selama beberapa waktu. Selang beberapa jam, kami sudah berada di dalam ruang rawat kembali. Dan aku masih tak habis pikir, bagaimana mungkin tempat itu adalah sebuah salon? Haruskah aku menanyakan hal itu lagi pada nenek? Atau menunggunya menjelaskan hal tersebut?

‘Tira, kok daritadi kamu diam saja?’ tegur Nenek Lili saat suster mengantarkan makan siang kami

‘Ah, gapapa kok, nek’ jawabku berbohong

‘Yakin gapapa? Kamu kan biasanya cerewet. Apa juga diobrolin’ seru nenek sambil tersenyum

Aku hanya balik tersenyum sambil tak tahu mau berkata apa. Kecewakah aku akan terjawabnya rasa penasaran itu? Atau aku hanya tak berpuas diri akan kenyataan tempat itu yang nyatanya memang tidak sesuai dengan bayanganku?

Kami berdua makan siang dalam diam. Hanya sebuah siaran berita di siang hari yang menemani. Hari ini nenek Lili terlihat tak seperti biasanya. Bukan wajah penuh senyum yang aku maksud, ini lebih ke staminanya yang terlihat semakin berkurang. Dari hari ke hari dia terlihat melemah. Dan para suster pun terlihat lebih sering mengunjunginya. Ada apakah gerangan dengan keadaan kesehatan nenek Lili?

*

Beberapa hari berselang dari terjawabnya rasa penasaranku, aku mendapati nenek Lili tergeletak lemah tak berdaya di kasurnya. Ini sangat berbeda dengan keadaanku. Aku yang makin hari makin membaik tentu prihatin dengan keadaan beliau. Sakit apakah dia?

Suster memberitahuku untuk tak banyak mengajaknya bicara. Ya, bahkan untuk bicara saja dia terlihat tak berdaya. Miris sekali hati ini melihat keadaan fisiknya. Jauh sekali berbeda dengan keadaan satu minggu yang lalu. Dia masih mampu berjalan-jalan, masih mampu bersuara dengan volume keras, masih mampu melakukan rutinitas itu. Ah, nenek, dirimu mengapa jatuh secepat ini? Bukankah kita berjanji untuk keluar dari Rumah Sakit ini bersama-sama?

‘Tira? Sedang tak tertidur kan?’ sebuah kalimat meluncur tiba-tiba dari Nenek Liliana. Hari sedang hujan lebat saat itu. Dan aku sedang asik menatap kelluar jendela, memandang hujan yang tak kunjung berhenti.

‘Ya nek. Aku lagi ga tidur kok. Kenapa, Nek?’ jawabku bergegas menghampiri kasurnya

‘Tidak apa-apa. Hanya ingin mengobrol saja. Kamu sedang ga baca novel mu kan? Takut nenek mengganggu’

‘Ah, nenek, jangan sungkan begitu. Aku ga lagi baca novel kok. Tadi itu aku lagi liat hujan, hehe. Aku kan suka hujan, nek. Damai kayanya kalo menatap tanah disaat hujan mengguyur’ jawabku sambil duduk di samping kasur Nenek Lili

Nenek hanya tersenyum. Senyum yang tidak dipaksakan memang, hanya saja itu terlihat sedikit sulit untuknya.

‘Tira, kamu suka salon kan?’ serunya selang beberapa menit sejak beliau tersenyum tadi

‘Iya dong, nek. Suka banget. Kan enak bisa memanjakan diri, hehe. Lagian, emang ada ya cewe yang ga suka salon?’ jawabku jujur

‘Seharusnya sih ga ada yah. Tapi pada kenyataannya, masih ada kan wanita yang ga suka ke salon’

‘Iya juga sih, Nek. Tapi emang kenapa nenek nanya begitu sama aku?’

‘Soalnya kamu terlihat ga suka sejak hari itu. Pas nenek ajak kamu ke salon. Nenek ga salah kan kalo nebak kamu ga suka salon?’

Aku terhenyak. Ya Tuhan, ternyata nenek menyadari hal itu. Aku jadi tak enak hati. Aku berpikir keras sekali saat itu, apa yang harus aku katakan pada nenek ya? Rasanya tak etis jika aku terlalu jujur dan mengatakan bahwa aku bukannya tidak menyukai salon. Aku hanya kecewa. Itu saja.

‘Tuh kan, kamu diam saja’ seru Nenek lagi

‘Ah, ga kok nek. Itu mah perasaan nenek aja. Aku gapapa kok’ jawabku, lagi-lagi aku mencoba berbohong

‘Jangan berbohong, Tira. Biar bagaimanapun, kamu sangat tidak cocok untuk berbohong. Dan sejujurnya, tak ada satu manusiapun yang cocok dengan kebohongan’ tiba-tiba kalimat itu terdengar begitu serius dan berhati-hati. Aku tertegun namun tetap menyimak apa yang akan Nenek Lili ucapkan selanjutnya.

‘Nenek tau, kamu sepertinya bukan tak menyukai salon. Kamu hanya kecewa atas jawaban rasa penasaran kamu tempo hari. Benar begitu kan?’

Aku mengangguk. Tak lebih. Entah apa yang harus aku ucapkan saat itu. Tak terpikirkan sepatah kata pun.

‘Kamu punya seseorang yang kamu sayang dengan sepenuh hati? Atau kamu pernah menyayangi seseorang sepenuh hati kamu?’

Lagi-lagi, aku menggangguk.

‘Dan bagaimana rasanya?’

Aku terdiam. Sungguh itu bukan pertanyaan yang akan dengan mudah aku jawab.

‘Ada yang bilang, dicintai dan mencintai seseorang dengan tulus dan sepenuh hati itu seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi, bukan hanya dari satu sisi saja. Kamu mengerti apa maksud kata-kata itu?’

Aku menganggguk. Sampai kapan setiap kalimat Nenek Lili hanya mampu aku jawab dengan anggukan kepala? Ah, mengapa jadi serba sulit begini berkomunikasi dengan beliau?

‘Nenek sudah merasakan sinar matahari itu, dari kedua sisinya. Dan itu sangat membahagiakan. Tapi, dia sudah tiada. Toni sudah pergi meninggalkan dunia ini tepat di usia pernikahanan kami yang ke tigapuluh’

Nenek terdiam beberapa menit. Terdiam dan menatap ke arah jendela. Hujan masih mengguyur di luar. Dan aku pun terbawa suasana saat itu.

‘Kalo kamu bertanya, kenapa salon? Kenapa Jumat? Itu karena, Toni bilang, dia menyukai wangi rambut nenek yang abis di creambath. Cream kiwi. Wanginya memang segar kan, Tira?’ jelas nenek sambil tertawa kecil

‘Iya nek, yang kiwi memang enak. Aku juga suka cream kiwi. Lebih mirip wangi permen karet deh, ya kan nek?’ jawabku sambil juga tertawa kecil. Aku mencoba mencairkan suasana yang terlanjur menjadi terlalu serius sejak awal pembicaraan kami.

‘Iya, kamu benar. Nenek juga heran, kenapa Toni bisa sesuka itu dengan wangi rambut kiwi. Sampai setiap Jumat, jadwal biasa nenek creambath, dia selalu menyempatkan diri menjemput nenek ke salon di jam makan siang. Tepat di waktu dia selesai melaksanakan ibadah sholat Jumat’ suara nenek Lili tiba-tiba saja menjadi lebih pelan

Kami lagi-lagi terdiam selama beberapa menit.

‘Kematian itu hanya mengakhiri hidup, Tira. Bukan suatu ikatan atau suatu hubungan, terlebih cinta. Dan itulah yang nenek rasakan sampai detik ini nenek hidup. Toni masih disini, dia masih hidup di hati nenek. Sampai kapanpun’ nenek Lili memegang dadanya saat mengucapkan kalimat ini. Lalu setelah itu, dia tertidur pulas. Sambil tersenyum. Dan aku kembali ke kasurku. Masih menatap ke luar melalui jendela kamar Rumah Sakit.

*

Nenek Lili meninggal keesokan harinya. Tepat di hari Jumat, di jam makan siang, sekitar pukul 13. Aku sedikit kaget dengan kepergiannya, namun tak ada yang bisa aku katakan mengenai hal itu. Keadaan Nenek Lili memang melemah dengan drastis. Dan sejak pembicaraan kami yang serius sehari sebelum Nenek Lili meninggal, aku merasakan ada yang berbeda dari setiap kata yang dia ucapkan. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Sebuah pelajaran hidup sepertinya.

Dan ya, beliau berhasil. Semua yang dia katakan sangat mengena. Semua yang dia katakan memang benar. Kematian tidak mengakhiri suatu hubungan apalagi sebuah cinta. Kematian hanya mengakhiri hidup.

Aku mengaguminya. Dengan semua hal yang sempat dia tunjukkan dan ajarkan padaku. Semangat hidup, ketulusan mencintai, dan semua hal baik yang aku lalui selama beberapa hari aku menghabiskan hari-hari bersamanya.

Terimakasih, Nek. Terimakasih untuk semuanya. Cintamu masih disini. Tentu saja. Kan kematian hanya mengakhiri hidup. Begitu kan katamu?

-THE END-