• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Category Archives: Cerita Cinta

Short Stories about Love

Satu Hari Tanpa Koma

10 Thursday May 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 1 Comment

Tags

@deardiar, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Diar Trihastuti, fiksi

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Ganesh

Jam menunjukkan pukul 21.15. Sudah tiga gelas kuminum demi orang yang aku sendiri tidak tau  harus kutemui atau tidak. Tidak sesuai janjinya, sudah hampir 2 jam aku menunggunya.

Sendiri.

Di kafe favorit kami, dahulu.

Aku kembali melihat smartphone di tanganku, apa sebaiknya ku-chat atau tidak. Dan kembali, yang kulakukan hanya membaca potongan-potongan percakapan kami melalui WhatsApp kemarin.

Lolita : Kamu yakin mau ketemu aku? Gendut banget lho aku sekarang
Ganesh : hahaha.. kenapa nggak? Lagian aku udah tau segendut apa kamu
Lolita : Lho? Tau darimana?
Ganesh : Lah.. 
itu profile picture kamu di what’s app isinya pipi semua. 
Itu aja baru mukanya, apalagi badannya
Lolita : hahaha… oke jam berapa?

Kubaca kembali, sambil tersenyum sendiri. Entah mengapa membacanya saja sudah sanggup membuat mukaku memerah. Pffftt…. Sudah lama aku tidak merasakan seperti ini…lagi. Mungkin hanya dia wanita yang bisa membuatku seperti ini.

 

Lolita

“Jadi…?” Aku mengaduk hot chocolate yang sudah mulai dingin, “aku ketemu dia nggak ya?”

“Menurutku sih nggak usah, toh dia juga dulu yang memilih ninggalin kamu,” sahut wanita manis di seberangku.

“Hmmm iya sih. Tapi aku penasaran sekarang dia kayak gimana. Lagipula kan dia dulu ninggalinnya juga karena kita LDR, dia sekolah lagi ambil S2 di Berkeley,” belaku.

“Kamu yakin karena itu? Bukannya lebih tepatnya dia pergi jauh – jauh keluar negeri karena kamu minta dikawinin?“ Ucapnya seperti memberikan pertanyaan retoris.

“Aku nggak minta dikawinin. Aku cuma nanya, rencana ke depannya kayak gimana,” sanggahku.

“Iya, abis itu dia pergi kan. Lariiiii dari keinginan berkomitmen, dengan sok – sok bilang mau sekolah biar abis itu bisa langsung nikah sama kamu. Nyatanya? Makin lama dia disana, yang ada adalah omongan ‘aku mau aku begini’, bukan ‘aku mau nanti kita begini’. Ya kan?” Cerocos Vaya panjang lebar.

Aku terpekur. Tertohok. Ya, memang seperti itu. Dan kembali mataku berkaca – kaca

“Setelah tiga tahun kamu ditinggalin dia dan merasa tersakiti, masih tetap sayang ya kamu ternyata sama dia?” Tanya Vaya bernada prihatin.

“Nggak kok. Aku cuma keinget aja rasa sakit waktu itu,” sahutku sambil cepat – cepat mengambil tisu sebagai langkah siaga pencegahan pertumpahan airmataku, takut menjadi pemandangan para pengunjung restoran yang melihat kami mulai memainkan “drama”. Susah memang berkelit dengan psikiater seperti sahabatku ini. Pekerjaannya sehari – hari memang bermain dengan jiwa dan hati orang. Walau kuakui dia sangat pandai menjaga hatinya sendiri. Tak pernah sekalipun kudengar dari bibirnya kalau dia disakiti oleh lelaki. Mungkin yang ada kebalikannya

“Loli, oke gini deh. Kalau kamu tetep mau ketemu dia, aku temenin. Tapi sekali lagi aku liat kamu ditangisin dia lagi, aku samperin dia dan aku nggak mau janji apa yang bakal terjadi sama dia ataupun kamu nantinya,” ujar Vaya berapi-api.

Oke, sepertinya aku harus berfikir ulang. Wanita di depanku ini bersabuk hitam, dan dia termasuk orang yang sangat menepati omongannya. Dan akhirnya dengan berjanji dalam hati bahwa tidak akan ada airmata lagi, setidaknya depan Vaya atau Ganesh, aku mengangguk pasti.

“Oke Vay, temani aku ya. Tapi kamu nunggunya di meja lain aja. Pura – pura nggak kenal sama aku. Biar aku bisa mengorek lebih jauh tentang dia selama tiga tahun ini dengan berduaan aja,” pintaku

Sekilas dia nampak keberatan namun akhirnya yang keluar dari bibirnya hanya. “Sip! Yuk kita pergi!”

Vaya

Gue gagal mencegah Lolita pergi. Pfft.. mungkin memang sekarang waktu yang tepat untuk Lolita akhirnya tau. Tiga tahun ternyata bukan waktu yang cukup untuk dia melupakan Ganesh. Semoga setelah pertemuan ini, dia tetap menjadi Lolita yang gue kenal. Ya Tuhan, jagalah hati Lolita.

Bertemu

Ganesh

Dia tetap cantik seperti dahulu. Tak menyesal rasanya aku menunggunya berjam – jam. Mungkinkah dia ke salon dulu sebelum bertemu aku? dalam hati aku tersenyum. Ah andai saja..

“Hai Lolita, kamu nggak berubah. Tetap cantik,” ucapku sambil memeluknya erat dan merasakan harum rambutnya. Ternyata dia masih menggunakan shampoo yang sama.

“Eh Hai Ganesh, apa kabar?” Balasnya dengan terengah – engah. Apakah dia habis lari?

Seorang pelayan datang, memecahkan keheningan diantara kami yang entah mengapa dalam diam saja aku merasa nyaman dengan wanita yang pernah mengisi hidupku selama empat tahun.

“Mau pesan apa mbak?” Ujar pelayan itu, tanpa bertanya kepadaku. Ya, aku sudah pesan 4 gelas selama menunggunya. Buat apalagi kan? Dengan memandangnya saja, rasanya dahagaku sudah hilang.

“Baileys,” ujarku bersamaan dengan bibir mungilnya. Aha! Aku masih ingat apa yang dia selalu pesan di café bergaya apartment ini.

Susah memang tiga tahun tidak bertemu, namun begitu banyak yang ingin disampaikan. Sehingga saat benar-benar bertemu seperti ini, kami atau setidaknya aku, bingung untuk memulai pembicaraan dari mana.

“Jadi, kamu dapet darimana nomor handphone-ku?” tembak Lolita. Ya, sejak kami putus dan Lolita memutuskan untuk mencoba melupakan kebersamaan kami, dia mengganti semua nomor yang biasa kuhubungi

“Oh itu, aku nemu di yellow pages, ada namanya Lolita cantik mempesona, ya udah aku simpan deh di handphone-ku. Ternyata kamu punya WhatsApp dan here we go,” ucapku menggodanya

“Seriusan deh….kalau nggak aku pergi lagi nih,” jawab Lolita sambil bergegas ingin mengambil tasnya yang langsung kutahan.

Aku menahannya langsung dan sambil tersenyum berkata, “Lolita, kalau kamu nggak ingin dihubungi sembarang orang, kenapa kamu kasih nomor handphone kamu di linked-in (situs lowongan pekerjaan berbasis social media)”.

“oh.. itu.. aku .. kan itu buat headhunter yang nawarin aku kerjaan, bukan buat lelaki iseng kayak kamu!” sahutnya mulai mencair. Ah.. tawanya.. seandainya aku bisa selalu membuatnya tertawa seperti itu… hfff…

“Iya, jadi ceritanya aku mau pindah Negara, tapi yaa aku harus cari – cari pekerjaan baru lagi kan. Jadilah aku bermain di situs itu dan nemuin kamu,” ujarku berusaha memamerkan gigi putihku.

“Oh ya? Kamu mau pindah ke Negara mana lagi? Nggak bosen – bosen yah melarikan diri,” ujarnya sambil menyeruput Baileys kesukaannya pelan – pelan.

Aha! Jleb! Kata – kata melarikan diri itu sepertinya memang sudah patut kuterima dari dulu.

Sepertinya setelah sekian lama aku menghilang dan memberikan dia kekacauan batin yang luar biasa, inilah saatnya aku menjawabnya… sesuai dengan janjiku pada wanita di ujung sebrang sana.

Lolita

“Aku mau menikah,” ucap lelaki di hadapanku. Jleb! Rasa itu makin menjadi. Mataku mulai berkaca – kaca. Oh Tuhan, setelah tiga tahun menanti, dan ternyata inikah jawabannya?

“Wah, selamat Ganesh! Akhirnya ada yang bisa bikin kamu berkomitmen yaaa,” ucapku menguatkan diri berusaha tersenyum.

“Terimakasih Lo-li-ta,” ucapnya sambil menggenggam tanganku. Tapi buat apa? Toh sudah ada wanita lain yang bisa dia genggam. Namun aku tak kunjung melepaskan genggaman tangannya. Terpekur dalam pikiranku sendiri. Empat tahun pacaran denganku, tapi lelaki ini tidak kunjung berkata ingin menikahiku. Dan dengan selang tiga tahun berpisah denganku, ada wanita lain yang membuatnya tergerak untuk menikah. Oh Tuhan, bolehkah aku mati saja?

“Aku bertemu dia di California waktu kuliah dulu, waktu itu pelajaran …………….. dan akhirnya aku menyadari, bahwa dialah yang selama ini kucari, yang ingin kunikahi”.  Aku sudah tidak terlalu mendengar apa yang dia jelaskan karena pikiranku menerawang. Hanya bisa mendengarnya sepotong – potong.

“Kenapa bukan aku, Ganesh?” akhirnya kata – kata itu muncul dari bibirku.

“Lolita, aku sayang sekali sama kamu. Kamu pasti tau itu. Tapi aku nggak bisa nerusin hubungan kita ke jenjang pernikahan,” jawabnya pilu

“Iya nesh. Tapi kenapa?” suaraku mulai meninggi. Aku tidak pernah mendapatkan inti dari permasalahan kenapa aku diputuskan. Aku terlalu penuntutkah? Aku sudah tidak menarik kah? Atau???

“Kamu tau selama 4 tahun kita pacaran, aku selalu menjaga kesucianmu. Aku tidak pernah berusaha menodai kamu.”

“Iya. Aku tau. Itu pasti karena kamu sayang aku kan?”

“Iya dan umm… tidak”

“Maksud kamu?”

“Iya, benar aku sayang kamu. Tidak, karena ternyata aku menyayangimu mungkin tidak lebih dari sebagai adik”

“Apaaa???!!!”

Aku sudah mulai tak tahan. Aku tak peduli jika Vaya akan langsung datang dan menghajar lelaki di depanku yang pernah menjadi kesayanganku ini

“Aku tidak bisa memberikan kamu anak, Lolita. Bahkan untuk mencoba membuat anak denganmu pun aku tak bisa.”

Mataku sudah kabur dengan airmata. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sosok yang sekarang terasa asing buatku.

Vaya

“Lolita, akulah calon istri Ganesh,” ucapku pelan.

“Apa maksud kamu, Vaya?” Tergagap Lolita menganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Mungkin dalam pikirannya, orang yang selalu dipercaya untuk tumpah ceritakan segala isi hatinya, ternyata merampas tambatan hatinya.

“Tapi… Kamu tidak pernah kuliah di California, Vaya! Please jangan bohongi aku!” hentak Lolita sudah mulai lepas kendali.

“Iya, kakakku yang kuliah disana Lolita. Kamu inget kan?” ucapku berusaha menenangkannya.

“Terus? Apa hubungannya denganmu? Kenapa kamu yang menikah dengan Ganesh-ku?” Lolita sudah tidak mengerti dan merasa menyesal kenapa tadi tidak benar – benar menyimak pertemuan Ganesh dengan pacar barunya.

“Kakakku laki-laki, Lolita. Apa kamu lupa?” ucapku getir.

Lolita terlihat tergugu. Berusaha menyerapnya. Dan akhirnya menoleh ke orang yang pernah amat sangat dia cintai. Mencoba mencari jawaban.

“Aku gay, Lolita. Dan itu baru kusadari setelah kuliah disana, menghabiskan hari-hariku disana. Disanalah aku menyadari mengapa aku selalu ingin melindungimu, namun tidak pernah memiliki hasrat untuk melakukan apapun denganmu. Dan ya, aku jatuh cinta, cinta yang juga memiliki nafsu di dalamnya dengan Haris, kakak Vaya,” ucapnya berat menghela nafas.

“….”

“Namun atas nama adat ketimuran, dan agama, kami tidak bisa menikah. Hanya dengan kebaikan hati Vaya, yang juga kakaknya Haris, dia mau berkorban agar kami dapat tinggal serumah dengan cara yang halal,” sambung Ganesh lagi.

“Halal maksudmu dengan menikahi Vaya, namun sebenarnya yang kau nikahi adalah Haris???” Lolita membelalak tak percaya.

Lolita

Aku sekarat. Setidaknya itu yang aku rasakan sekarang. Aku kehilangan lelakiku dan juga sang sahabat kesayangan. What could be worse?

“Iya Lolita,  maafkan aku. Aku tidak bisa menjelaskannya selama ini via Skype, telpon atau apapun tentang hal ini. Aku pun tau ini salah, tapi ini hatiku yang berbicara. Di sisi lain, hanya kamu wanita yang dapat membuatku tertarik, merasakan getaran-getaran apalah itu namanya. Tapi di lain sisi,aku tau aku tidak normal. Setidaknya menurut kaum awam begitu. Aku ingin menghabiskan hidupku dengan Haris, melalui menikahi Vaya”. Mata Ganesh mulai sendu. Aku langsung tau dia tidak bermaksud membohongiku selama empat tahun kami bersama. Empat tahun  dan dia baru menyadari bahwa dirinya gay. Oh great!

“Namun bagaimana dengan Vaya? Dia pasti juga ingin punya masa depan yang indah! Anak yang lucu – lucu dengan suaminya yang NORMAL nanti,” ucapku sambil menekankan kata – kata NORMAL. Ya Tuhan, aku ingin hari ini tidak terjadi. Aku ingin tidak tau hal ini!

“Masa depan yang indah buatku adalah melihat kita semua bahagia bersama. Kakakku dengan Ganesh. Aku dan kamu. Aku cinta kamu, Lolita. Dan aku ingin kamu menikah dengan kakakku, agar nanti kita bisa tinggal serumah bersama. Maukah kamu menghabiskan hidupmu denganku?” ucap Vaya menggenggam tanganku erat.

“……….”

 -THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Karena Wanita Harus Menjaga Harga Diri

05 Saturday May 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 1 Comment

Tags

@deardiar, cerita cinta, cerpen, Diar Trihastuti

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Gue kembali melihat jam. Pukul 10:20. Oke, rasanya sudah cukup lama gue bertoleransi menunggu orang tersebut. Masa cewek yang nungguin cowok. Ok, It’s time to go home. Gue pun memutuskan memanggil pelayan untuk membayar bill minuman yang baru gue nikmati dua atau tiga teguk.

“Hi Darla” ujar seseorang menepukku dari belakang.
“Eh Faey,akhirnya dateng juga”,jawabku sinis.
“Hehehe telat 20 menit nggak apa-apa dong La, Jakarta gitu lho. Macettt”
“Ya udah tau macet,bukannya pergi dari jam 8 gitu. Kayak baru sebentar aja tinggal di Jakarta”, cerocosku kesal.
“Hehehe kamu masih belum berubah ya.. Masih tukang ngomel”, ujarnya sambil menahan senyum.

Ya ya ya karena itu kan lo ninggalin gue. Gue terlalu banyak ngomel dan marah – marah nggak jelas. PMS gue hampir tiap minggu.

“Ya, Darla ya Darla, jangan berharap aku jadi orang lain”,tukasku

“Eh makasih lho udah pesenin aku minum”,ujarnya sambil menyeruput minumanku hampir tandas.

“Faey, please deh itu minuman gue. Gih sana pesen sendiri!” Rebutku sambil kembali langsung meminum.

“O..o..o.. Bilang aja kamu mau nyobain bekas bibirku setelah sekian lama. Kangen ya”,godanya.

Tersedak. Ya, gue super tersedak sampai akhirnya pelayan membawakan Aqua melihat muka gue sudah nggak karuan warnanya. Sementara orang di depan gue hanya meringis – ringis menahan ketawa serta sakit karena dicubitin. Sialan. Dia masih saja bisa memainkan isi hati gue setelah 1 tahun kami berpisah.

Tapi tak urung gue tersenyum. Iya,gue kangen. Tapi mungkin sama dia yang dulu. Sekarang? Gue nggak tau dia berubah seperti apa.

“Heh udah dong ketawanya. Jelas – jelas yang kangen kamu sampe maksa-maksa ngajak ketemuan gitu”, ujarku nggak sanggup menahan malu karena sudah merasa beberapa pasang mata melihat “keributan” kami.

“Hah?maksa? Perasaan aku cuma nanya 2x. Yang pertama kamu jawab liat jadwal dulu. Yang kedua,kamu bilang kejauhan,ya aku geser tempatnya. Kalau namanya maksa tuh ya nyoba setelah hampir 20x ditolak gitu”, ujarnya makin memamerkan senyum jahilnya.

Oh sial, lagi – lagi gue yang kena getahnya. Mana bisa gue menolaknya. Hfff. Tapi gengsi dan harga diri sebagai wanita harus dipertahankan! “Ya karena aku teman yang baik hati aja, makanya kasian juga kalau kamu ditolak lebih dari 2x”.

Sepintas mukanya berubah jadi merah, marah kah? Dasar makhluk yang aneh. Nggak pernah bisa ketebak apa yang dipikirkan.

“Hmmm.. Ohhh teman.. Aku pikir kamu anggep aku lebih dari teman”,ucapnya kali ini serius.

“Ummm mantan itu lebih dari teman nggak? Menurutku sih mantan itu dibawah teman. Atau mungkin kita bisa jadi temantan,biar kamu puas,aku puas”
Seringaiku merasa di atas angin.

Dan dia tidak menjawab sambil tersenyum seperti biasanya. “Oh oke..aku teman kalau gitu ya sekarang buat kamu. Jadi, siapa sekarang pacar kamu?”

Aku langsung sibuk mengeluarkan blackberry dari tasku dan memperlihatkan beberapa foto. Yang mungkin adalah tindakan yang tidak dia sangka-sangka. Ha! Tau rasa dia, diputusin dia, gue jadi super laku!

Foto pertama: “Ini teman kantorku, orangnya baik banget. Pertamakali dekat karena ada event kantor..”

Next,foto kedua. “Nah, ini yang beda 10 tahun. Tapi takut ah sama dia. Kalau langsung diperistri gmn?kan dia ngejar umur booo”

“Satu lagi ada seumuran,tapi baru gitu-gitu doang bbm-annya” cerocosku pamer panjang lebar.

Sekilas ada keheningan dan emosi yang sepertinya tertahan di wajahnya.

“Darla, are u happy with them?”
“Maksud kamu Faey?”
“Apa kamu bahagia dengan keadaan kamu sekarang?”
“I’m single. Dan punya banyak pilihan kan? Aku nggak mau asal karena kali ini aku mau serius. Mau ini yang terakhir bukan karena aku maenin mereka”
“Tapi ini bukan gaya kamu. Kamu dulu nggak pernah nanggepin banyak cowok dalam waktu bersamaan gini”

“So, what? Dulu aku punya kamu ya Aku jaga perasaan kamu.sekarang? Terserah aku dong Faey, ini hidupku bukan hidup “kita” lagi!”, ucapku meninggi. Enak saja nih cowok. Setahun menghilang, baru ketemu setengah jam sudah mau menceramahiku tentang hidup gue lagi.

Atau malah posesif sama gue?

“Oke, sekarang aku jadi tau. Kalau kamu sudah berubah. Kamu sudah bukan Darla yang kusayang dulu. Bukan Darla ku lagi. Kamu sama seperti wanita-wanita yang kucoba kenal kemarin-kemarin” hentaknya keras.

“Hahaha kamu kemana saja Faey? Sejak setahun kamu pergi, kamu pikir aku akan kayak lagu “the man who can’t be moved” nya the script? Yang menantimu dan kapanpun kamu datang aku menerimamu?”, jawabku dengan gengsi setinggi langit. Walaupun memang mungkin lagu itu yang sering terngiang – ngiang di telinga gue, hingga nangis ketiduran hampir setiap malam. Tapi dia nggak harus tau kan?

“Darla,oke aku jujur. Aku ngajak kamu ketemu karena ingin balik sama kamu.  Aku juga yang kirim coklat, kue-kue kesukaan kamu ke rumah walau tanpa nama karena aku punya niat baik sama kamu dan berharap kamu tau itu adalah perbuatanku, bukan cowok-cowok di blackberry kamu itu”

Gue terpekur. Nggak menyangka. Gue berusaha memahami arti setiap kata yang berhasil gue denger. Ah great! Dia ternyata merasakan hal yang sama dengan gue. Oke, gue akan jawab gue mau balik sama dia.. 1.. 2.. 3..

“Tapi setelah tau kamu kayak gini, aku nggak akan berfikir lagi untuk balik sama kamu. Bahkan untuk mencoba inget hubungin kamu”

Damn! Whattt??? Ahh untung gue tadi belum langsung jawab mau balik sama dia. Biarin deh dia usaha dulu kalau bener-bener serius

“Mungkin 1 tahun ini gue buang – buang waktu mikirin coba perbaikin hubungan kita dan mendewasakan diri untuk kita nantinya” sambung faey berapi-api

Itu juga yang gue lakukan Faey.. Semua.

Senyum untuk lelaki lain, mencoba mengenal mereka adalah tameng yang bisa gue lakukan agar malam minggu gue ga kosong, agar gue ga mesti nangis inget tentang kita, gue berharap itu bisa buat gue move on. Cecar gue dalam hati.

“So, Darla.. Ini pertemuan kita yang terakhir. Aku nggak akan hubungi kamu lagi. Mungkin kita sekarang sudah dibawah teman statusnya. Anggap saja kita nggak pernah kenal”, cerocos Faey tanpa ampun.

“Faey..” Gue ingin menjelaskan namun lidah gue kelu. Bingung harus memulai darimana. Atau harga diri yang menahan gue? Menyerahkan hati dua kali ke cowok yang sama?? Apa kata orang?

“Pergilah jika itu bisa buat kamu bahagia”, akhirnya hanya kata-kata itu yang gue anggap aman buat harga diri dan kesehatan hati gue di masa depan. Gue tau banget kalau diginiin biasanya dia akan tetap tinggal, seperti waktu dulu … Dan kemudian akan memohon-mohon untuk kembali. Mengejar-ngejar gue. Ahhh..

Gue menghitung dalam hati 1..2..3. Nah kan dia tidak pergi. Untung nggak perlu ngomong yang sebenarnya..

“Bye Darla”

“…”

 -The End-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

My Kind of Guy

30 Monday Apr 2012

Posted by gelaph in Cerita Cinta

≈ 6 Comments

Tags

@gelaph, cerita pendek, cerpen, fiksi, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Layar laptop berkedip-kedip, pertanda ada pesan masuk. Karena sedang tanggung dengan spreadsheet, gue mengacuhkan pesan itu untuk sementara waktu.

Kecepatan detak jantung gue nyaris setara dengan seorang pelari cepat jarak pendek ketika mengetahui siapa pengirim pesan tersebut.

Raka:
Busy?

Si lelaki pencepat-detak-jantung ini cukup mengirim satu kata. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat gue kebingungan harus menjawab apa. Okay, kita lihat saja apa maunya.

Grahita:
Nope. You?
Raka:
I’m bored.

Well, percakapan satu dua kata. Akan gue jaga sesuai keinginannya.

Grahita:
Hmm…. So?
Raka:
I’m sleepy also.. 
So why don’t we go downstair and get some coffee there? 

Shoot! To-the-point man! My kind of guy.

Grahita:
Sounds great. Let’s!

Kedai kopi di lantai dasar gedung ini pun menjadi tempat tujuan utama. Tidak banyak yang berkunjung, mengingat ini masih terhitung office hour. Akan berbeda halnya jika kami berkunjung selepas jam kerja. Pasti penuh sesak oleh pegawai kantoran di sekitar sini.

Dua cangkir kopi menemani istirahat kami sore itu. Triple Shot Espresso untuknya yang merasa super-ngantuk, dan Dark Mocha untuk gue yang tidak suka kopi pahit. Kami mengobrol ringan saja, seputar sisi lain lingkungan pekerjaan dan hobi di kala senggang.

Dari ceritanya, gue mengetahui kalau dia sudah empat tahun di kantornya sekarang. Dan kebetulan, assignmenttahun ini membuatnya ditempatkan di kantor gue.

Ya, Raka adalah auditor perusahaan tempat gue bekerja. Ia berbadan tegap, berwajah oriental, dan berkaca mata minus tipis. Walaupun tampilannya terlihat serius, ternyata ia sangat kocak. Humoris. Again, my kind of guy. Perempuan mana yang tidak suka dengan lelaki humoris?

And… By the way, tahu auditor itu apa?

Hmmmm…

Okay, gue jelaskan sedikit.

Auditor, berbeda dengan editor, adalah orang yang berprofesi untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan. Apakah laporan keuangan suatu perusahaan telah ditampilkan dengan wajar, tidak ada yang overstated ataupun understated.

Tahu BPK? Badan Pemeriksa Keuangan? Nah, itu contoh auditor pemerintah. Kalau Raka, berasal dari kantor swasta. Istilah umumnya sih kantor akuntan publik.

“You said that you’re bored? And sleepy?” Gue menyedot Dark Mocha, “how come?”

Raka tersenyum tipis, “I’m overloaded, not enough sleep. So much to do with very little time. I think I can bang my head against the notebook. Just like… Bang! Bang! Bang!” Raka berakting seolah-olah membenturkan kepalanya ke meja, dan kami pun tertawa berdua.

Di dunia pergaulan gue, sangat jarang ada orang yang bisa menertawakan kepedihannya sendiri. Dan gue menyukai orang-orang yang dapat melihat sisi positif dari kesulitannya. Satu poin plus untuknya. Oh, my kind of guy, again.

Beberapa saat kemudian, terdengar alunan musik jazz dari telepon genggam miliknya. Bukannya mengangkat, ia malah berkata, “my boss. Going back to the cage, shall we?”

Sambil membenahi rambut, gue mengangguk.

Kami berdua berjalan menyusuri koridor gedung pencakar langit ini. Menuju lift yang akan mengantarkan kami kembali ke lantai 24, sang kantor tercinta.

Sebelum akhirnya pintu lift terbuka, telepon genggam milik Raka berdering lagi. Syukurlah ia tidak mengenal teknologi anti spy untuk layar teleponnya, karena gue bisa melihat dengan jelas nama yang terpampang di sana.

Anastasia.

“Who’s calling?” tanya gue santai.

“Hmmm.. My boss again,” Raka terlihat kikuk, “it must be very urgent.”

“Calm down,” gue meremas bahunya, ”everything is under control.”

Ia tersenyum lebar. Dan saat itu gue mengetahui bahwa ia sangat manis dengan lesung di kedua pipinya.

Anastasia.

Siapapun perempuan itu, anggap saja ia bernasib sial.

Because Raka, is really my kind of guy.

Pintu lift terbuka lebar. Hanya ada dua orang di dalamnya.

Raka menggamit tangan gue, menuntun masuk ke dalam lift. Gue menekan tombol 24 sambil mengulum bibir. Masih ada rasa Espresso pahit di sana. Ya, Triple Shot Espresso, minuman milik Raka.

My kind of guy is must be a good kisser, and love to play. Raka got both of them.

Senyum gue lempar ke arahnya, yang dibalas dengan bisikan di telinga, “you drive me crazy when smiling.”

Pintu lift terbuka lebar, menunjukkan lobi lantai 24. Gue tidak membalas kalimat terakhirnya, malah mengedikkan kepala dan mengibaskan rambut ke belakang, sambil berjalan keluar lift. Suatu gerakan yang gue yakin membuat parfum dari leher berhembus samar ke indra penciumannya. Membuatnya makin penasaran dan lupa daratan.

Dan suara tak-tok-tak-tok high heels gue ketika beradu dengan lantai seolah berkata…

You wanna play? Let’s play, darling.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

LIFT

29 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

cerita cinta, cerpen, jatuh cinta, romeogadungan, Tirta Prayudha

Prepared by Client:
Tirta Prayudha (@romeogadungan)

Selasa, 09.05 WIB

Setengah berlari, gue mengejar taksi burung biru yang berhenti agak jauh di depan. Kombinasi lembur tadi malam, dan handphone yang lupa di cas membuat gue sukses untuk bangun kesiangan pagi ini.

Untungnya, ketukan si bibik kosan yang meminta baju kotor di pintu kamar bisa membangunkan gue.

Minggu ini adalah minggu kedua gue kerja di kantor ini.

Resign dari kantor yang lama dengan alasan ketidak cocokan dengan bos gue, membuat gue tidak berpikir dua kali dalam menerima tawaran kantor baru ini.

Lagi pula dengan posisi yang sama, ditawarkan gaji yang lebih baik. Not bad, huh?

Tapi sayangnya, kenaikan di sisi penerimaan bulanannya tidak berbanding lurus dengan kehidupan asmara gue.

Oia sebelum curhat lebih jauh, kenalin, nama gue Yudha.

Tamat dari jurusan teknik informatika dari Institut Gajah Duduk dan menjadi seorang IT engineer ternyata ngga cukup membuat gue ‘terlihat’ di mata wanita.

Ngga banyak cewe-cewe yang tertarik dengan seorang IT engineer.

Tidak seperti mereka anak hukum yang pintar bersilat lidah atau bahasa kerennya ‘sepik”, atau anak ekonomi yang gaul, anak IT cenderung lebih pendiam.

Ya kayak gue ini.

Efeknya, gue hampir tidak bisa menemukan topik yang nyambung ketika berbicara dengan wanita. Kayaknya ngga mungkin nemu wanita yang ngerti masalah server atau coding.

The point is, I’m so bad at romance.

Oh shit, kebanyakan melamun dan sekarang gue telat.

Turun dari taksi, gue langsung sedikit berlari mengejar lift yang hampir tertutup.

“Hei, tunggu!” kata gue sedikit berteriak.

Dan lift itu nyaris tertutup, ketika kemudian pintu itu terbuka lagi.

Dan sebuah wajah cantik berdiri disana sambil jarinya menekan tombol “open”

“Thank you..” kata gue sambil membenarkan posisi  kacamata minus gue dengan napas yang tersengal

“sama-sama” kata dia tersenyum.

Cantik!

Dia menekan lantai 8, dan gue sendiri lantai 15.

Dan keheningan aneh yang biasa terjadi di dalam lift pun terjadi.

Sekilas gue perhatikan gadis ini. Kemeja putih, rok selutut, rambut hitam serutan kayu yang diikat keatas.

Okay, yang ga tau rambut serutan kayu itu apa, bakal gue kasi tau. Rambut serutan kayu, adalah model rambut yang mirip kayu yang keluar ketika kita meraut pensil. Keriting-keriting melingkar gitu. Karena gue gak tau itu model apa. Gue kasi nama ‘rambut serutan kayu’.

Ding!

Lift berenti di lantai 8 dan si gadis keluar tanpa menoleh sedikit pun ke gue.

Yup, Wajar.

Di dunia asmara, gadis secantik itu berada di kasta tertinggi, ibarat seorang putri yang tinggal di puncak kastil sebuah istana. Sedangkan gue? Berada di kasta terendah sebagai bencong lampu merah.

Ding!

Lift terbuka lagi di lantai 15 dan sebagai anak baru, gue gak pengen telat.

Lari menuju cubicle gue!

Selasa, 23.27 WIB

Dengan mata yang berkantung, gue menekan tombol lift. Ganggunan pada server perusahaan gue di Bangalore, di India sana, membuat gue terpaksa lembur lagi malam ini.

Dan teleconfrence dengan IT engineer di Bangalore bukanlah hal yang ingin gue anjurkan kepada kalian.

Teleconfrence dengan orang India berlogat kental dan diriingi dengan suara piring berjatuhan dan anak kecil yang berteriak-teriak sebagai backsound, membuat kesabaran gue benar-benar diuji hari ini.

Yup, mengingat betapa murahnya ongkos tenaga kerja mereka, membuat gue sedikit memaklumi jika ‘kantor’ mereka berada di dapur rumah mereka sendiri.

Ding!

Pintu lift terbuka di lantai 8, menghentikan lamunan gue tentang orang India. And guess what?

Si gadis cantik yang tadi masuk ke dalam lift yang sama.

Ngga percaya dengan mata gue sendiri, gue melihat ke arah kakinya.

Hampir tengah malam, di sebuah gedung yang sepi, wajar jika gue was-was.

Ternyata heels yang dia pake nyentuh lantai.

Lega.

Gue perhatiin dia lagi. Mukanya terlihat lelah tapi tetap kelihatan cantik.

You know guys, ada beberapa momen dalam hidup seorang pria, dimana mereka akan bertemu seorang gadis cantik luar biasa dan ingin segera berkenalan dengan mereka.

Dan bagi para pria di luar sana, gue bisa bilang, tengah malam di dalam sebuah lift, BUKAN SAAT YANG TEPAT!

Ga ingin kehilangan kesempatan, dengan mengumpulkan segenap keberanian dan nyali, gue akan menginisiasi percakapan.

“Lembur?” tanya gue

………………………………..

!@#$#%%&*&*())!!!

KENAPA GUE NANYA ITU??!! GA ADA PERTANYAAN YANG LEBIH BODOH LAGI?? MASA UDAH PULANG JAM SEGINI NGGA LEMBUR?!

MASA DIA MAU GENTAYANGAN?! *self toyor*

“Iya..” kata dia pelan sambil melihat ke gue.

“ohhhh”

CUMA ‘OHHHH’??? KALO GINI KAPAN MAU JADIANNYA? PAS KIAMAT???

Kata gue menyesali dalam hati.

Ding!

Pintu lift kembali terbuka.

‘Mari..’ kata dia pelan sambil berlalu.

“Ok, hati-hati..” kata gue sambil mengumpulkan harga diri yang udah tercecer entah kemana.

Kamis. 08.46 WIB

Gue menekan tombol lift itu. Dan segera masuk. Dan dari arah kiri, gadis cantik itu juga masuk lift yang sama. Kali ini ga ada sepatah kata yang keluar dari mulut gue.

Cuma sebuah senyum simpul yang gue keluarkan ketika dia masuk lift ini. Wajar, kalo yang gue keluarkan dari mulut gue adalah dispenser baru agak aneh.

Seperti biasa, dia keluar di lantai 8. Dan gue, di lantai 15.

Dan gue mulai menikmati kebetulan yang menyenangkan ini.

Jumat. 08.50 WIB

Gue udah menunggu di depan lift ini selama lima menit, dan ga ada tanda-tanda si gadis cantik akan muncul.

Berdiri sambil berpura-pura membuka smartphone gue, padahal ga ada satu sms pun yang masuk.

Celingak celinguk kiri kanan, dan kini gue udah berubah dari professional engineer ke seorang professional stalker!

Ketika udah pasrah akhirnya masuk kedalam lift, pintu hampir menutup ketika gue liat dia disana. Sedikit berlari kecil menuju lift ini.

Sambil senyum gue tahan pintu lift nya.

“Thanks..” kata dia pelan..

“Gpp, gantian.” kata gue.

Senin, 13.53 WIB

Gue memutuskan untuk turun kebawah untuk beli kopi, yang sangat butuhkan untuk menghilangkan kantuk ini.

Dengan kadar kantuk sedahsyat ini, gue kira gue akan memesan ukuran kopi ukuran venti! Biar mandi kopi sekalian.

Dan gue baru selesai bayar ketika gue melihat dia disana. Baru turun dari taksi dan kesusahan membawa 2 ordner besar dan sebuah tas laptop.

Gue putuskan untuk membantu.

“Sini gue bantuin..” kata gue ke dia.

“Wah, makasih..”

Dan disinilah gue membawakan ordner bertuliskan “Purwantono, Suherman & Surja”.

“Law firm ya?” tanya gue penasaran.

“Bukan, itu accounting firm. Gue auditornya PT. Selaras yang di lantai 8”

“Sendirian?” tanya gue penasaran, karena biasanya auditor kantor gue datangnya segerombolan.

“Ngga, bertiga sebenernya. Tapi manager gue jarang dateng, jadi cuma gue dan 1 staf”

“Ohhhh, “ gue cuma bisa bereaksi itu. Gue gak tau banyak tentang dunia auditor.

Masuk di lantai 8. gue cuma mengantarkan sampai lobby PT. Selaras saja.

“Makasih ya..gue Lila” kata dia sambil menjulurkan tangan.

“Gue Yudha..”

Karena gue ga tau mau ngomong apa lagi, gue putuskan untuk pamit dan segera kembali ke lantai 15.

Hilang sudah kantuk gue, tanpa perlu menyiramkan kopi panas ini ke mata gue.

Entah kenapa, sebuah senyum lebar menghiasi wajah gue kali ini.

Rabu. 11.53

Gue berniat turun makan siang ketika lift berhenti di lantai 8.

Disana, Lila masuk bersama beberapa ibu-ibu.

Gue cuma senyum ke dia dan dia membalas.

Dilantai 6, lift berhenti lagi dan segerombolan bapak-bapak masuk. Lift semakin penuh, akibatnya gue makin mepet kesamping. Dan kini gue berdiri bersebelahan dengan Lila.

Bapak-bapak itu bercanda dengan sesama temannya dengan suara kencang.  Dan ibu-ibu tadi juga ngobrol dengan gerombolannya.

Kondisi berisik di dalam lift kayak gini yang sangat gak gue suka.

“Makan sendirian?” tanya dia pelan secara tiba-tiba.

“Iya..gue anak baru di kantor ini, jadi..belum banyak kenal orang. Lo?”

“Iya kayaknya, staf gue ga dateng..”

Entah keberanian dari mana yang bisa membuat gue mengeluarkan kata-kata berikutnya. Kata-kata yang membuat gue berkeringat dingin menunggu jawabannya.

“Errr, mau bareng?” kata gue agak ragu.

Dan gue bisa bilang ke kalian. Itu adalah 1 detik terlama yang pernah gue rasain dalam hidup gue. Satu detik yang mempertaruhkan segalanya. Satu detik yang membuat gue mati rasa.

“Hmmmm, boleh” kata dia sambil senyum.

Dan, dunia gak pernah terasa lebih indah.

Sabtu, 13.12 WIB, 3 tahun kemudian..

Disinilah gue berdiri. Bersama Lila, menyalami para tamu di sebuah panggung kecil sederhana yang disulap jadi pelaminan yang mempesona.

Ga ada yang bisa gue ceritain lagi, selain makan siang 3 tahun yang lalu itu bukanlah makan siang kami yang terakhir.

Masih ada makan siang makan siang indah lainnya yang gak bisa gue ceritain. Ratusan kebersamaan yang dihiasi tawa, canda, pertengkaran, dan air mata.

Yang buat gue, menjadi suatu kenikmatan jatuh cinta.

Fallin in love is not a liability, it’s a privilege. That comes into the right person at the right time.

Anda tidak bisa memaksakan kapan akan jatuh cinta.

Cinta hanya duduk menunggu di ujung sana sambil menatap kita dan berkata ‘tidak sekarang’ lalu pergi ke orang lain yang sudah tiba waktunya.

Dan hingga kini, gue ga pernah berhenti mensyukuri, bahwa lift yang dulu gue naiki, selalu berhenti di lantai delapan.

Karena di lantai delapan itulah, cinta menyapa gue dan berkata.

“Sekarang waktunya!”

Ding!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Evergreen [Him]

28 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@NH_Ranie, cerpen, cinta, Nuning H Ranie

Prepared by Client:
Nuning H. Ranie (@NH_Ranie)


[Say You Love Me] Paidy Austin
Please turn around…
Have your eyes on me…
Please notice me…
Notice my presence…
Even if I turn weird, this is not just a father feeling…
Back then, maybe I just hide that certain feeling…

Memar itu lagi.

“Are u stupid.. How can a girl get scars so often?” Ucapku menilik lengan putih kemerah-merahan milik seorang gadis yang sedang duduk di hadapanku.

“Hehehee..” dia cuma nyengir seperti biasanya. Menampakkan sederetan gigi putihnya yang berbaris rapih.

Aku pun mngambil kotak P3K, menyeret gadis itu ke kursi panjang dekat jendela dan merawat lukanya. Ini bukan kali pertama aku harus membalurkan antiseptik ke lengannya. Dia selalu datang dengan memar yang berbeda, lebih sering di lengan, tapi terkadang di pundak atau bahkan wajahnya. Aku tak pernah bertanya lagi, karna tiap kali kulontarkan pertanyaan sama, dia hanya akan cengengesan seperti tadi. Really, can’t leave her alone..

“Lo baik yah…” dia berkata menatapku dengan senyuman lemah lembut. Manis. Tak pernah gagal buat salah satu sudut hatiku bergerak aneh.

“Coba cowok gw kaya lo..”

Yeah, right.. “Itu karna tiap ada beginian, lo selalu lari ke gw.. Coba lebih ngandelin dia..”

“Don’t wanna..” dia menaikkan dagu.

“Childish..” aku mengacak rambutnya, lalu bangkit mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula.

“Biarin..” kali ini dia menggigit bibirnya. “Well, it’s not like I don’t want to rely on him… I just don’t wanna bother him.”

“And you think that I’m not bothered?”

“Emang nggak kan?”

Masih berdiri, kumiringkan wajah dan menghela nafas. “Bothered, really feel bothered.”

Dia semakin merengut. Membuang pandangannya ke luar jendela.

Menggodanya seperti ini sungguh menyenangkan. Menatap kebiasannya duduk di kursi itu sambil menatap jendela. Menikmati figurnya yang bermandikan cahaya. Jauh lebih indah dari pemandangan di luar jendela itu sendiri. Aku tersenyum, sambil menyandarkan diri pada lemari.

“Cowo itu seneng kalo diandelin ama ceweknya. Kalo gw jadi cowo lo, gw sih bakal ngamuk-ngamuk tiap kali lo datengin gw kaya gini. And for him to not angry because of that, itu nunjukin kebaikan juga pengertiannya. You should cherish him the most.”

“I do! But, I’m just scared… I mean, semua orang pasti pengen terlihat sempurna di depan orang yang mereka suka kan? Kalo gw ngerepotin terus, gw takut dia bakal bosen en ninggalin gw..”

“Dan lo gak takut, kalo gw bakal bosen en ninggalin lo?”

“You won’t!” dia membalikkan wajah, dan menatapku tajam.

“How so?” Tanyaku, sambil menatap lurus matanya.

“Karna lo baik…”

Aku menghela nafas.

“Begitu pun cowo lo. Kalo dia gak baik, lo gak bakal suka ama dia kan? Lo harus lebih percaya ama cowo lo. Semua orang seneng diandelin ama orang yang mereka suka.”

Dia terdiam. Aku menghela nafas lagi

“Ko lo terus-terusan hela nafas sihh? Dasar kakek tua.. I’m the one who choose who I want to rely on. And you..,” dia menatapku tajam, “are not allowed to leave me.” Ujarnya sambil menaikkan kaki ke kursi, dan memeluknya erat. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Selfish..”

“Biarin..”

Aku pun mendekatinya, ikut duduk di kursi itu sambil menatap ke luar jendela. Menikmati awan, dan entah apa lagi, yang bisa samarkan senyum yang tak bisa berhenti tersemat ini.

If to love is to live in you more than in myself, to hide great weariness under a mask of joy, to feel in the depths of my soul the odds against which I fight, to be hot and cold as the fever of love takes me, To be ashamed, when I speak to you, to confess my pain – if that is to love, then I love you furiously, I love you, knowing full well my pain is deadly. The heart says so often enough; the tongue is silent.
— [Taken from Sonnets pour Hélène by Pierre de Ronsard (1524-1585)]

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d