• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Author Archives: clients

LIFT

29 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

cerita cinta, cerpen, jatuh cinta, romeogadungan, Tirta Prayudha

Prepared by Client:
Tirta Prayudha (@romeogadungan)

Selasa, 09.05 WIB

Setengah berlari, gue mengejar taksi burung biru yang berhenti agak jauh di depan. Kombinasi lembur tadi malam, dan handphone yang lupa di cas membuat gue sukses untuk bangun kesiangan pagi ini.

Untungnya, ketukan si bibik kosan yang meminta baju kotor di pintu kamar bisa membangunkan gue.

Minggu ini adalah minggu kedua gue kerja di kantor ini.

Resign dari kantor yang lama dengan alasan ketidak cocokan dengan bos gue, membuat gue tidak berpikir dua kali dalam menerima tawaran kantor baru ini.

Lagi pula dengan posisi yang sama, ditawarkan gaji yang lebih baik. Not bad, huh?

Tapi sayangnya, kenaikan di sisi penerimaan bulanannya tidak berbanding lurus dengan kehidupan asmara gue.

Oia sebelum curhat lebih jauh, kenalin, nama gue Yudha.

Tamat dari jurusan teknik informatika dari Institut Gajah Duduk dan menjadi seorang IT engineer ternyata ngga cukup membuat gue ‘terlihat’ di mata wanita.

Ngga banyak cewe-cewe yang tertarik dengan seorang IT engineer.

Tidak seperti mereka anak hukum yang pintar bersilat lidah atau bahasa kerennya ‘sepik”, atau anak ekonomi yang gaul, anak IT cenderung lebih pendiam.

Ya kayak gue ini.

Efeknya, gue hampir tidak bisa menemukan topik yang nyambung ketika berbicara dengan wanita. Kayaknya ngga mungkin nemu wanita yang ngerti masalah server atau coding.

The point is, I’m so bad at romance.

Oh shit, kebanyakan melamun dan sekarang gue telat.

Turun dari taksi, gue langsung sedikit berlari mengejar lift yang hampir tertutup.

“Hei, tunggu!” kata gue sedikit berteriak.

Dan lift itu nyaris tertutup, ketika kemudian pintu itu terbuka lagi.

Dan sebuah wajah cantik berdiri disana sambil jarinya menekan tombol “open”

“Thank you..” kata gue sambil membenarkan posisi  kacamata minus gue dengan napas yang tersengal

“sama-sama” kata dia tersenyum.

Cantik!

Dia menekan lantai 8, dan gue sendiri lantai 15.

Dan keheningan aneh yang biasa terjadi di dalam lift pun terjadi.

Sekilas gue perhatikan gadis ini. Kemeja putih, rok selutut, rambut hitam serutan kayu yang diikat keatas.

Okay, yang ga tau rambut serutan kayu itu apa, bakal gue kasi tau. Rambut serutan kayu, adalah model rambut yang mirip kayu yang keluar ketika kita meraut pensil. Keriting-keriting melingkar gitu. Karena gue gak tau itu model apa. Gue kasi nama ‘rambut serutan kayu’.

Ding!

Lift berenti di lantai 8 dan si gadis keluar tanpa menoleh sedikit pun ke gue.

Yup, Wajar.

Di dunia asmara, gadis secantik itu berada di kasta tertinggi, ibarat seorang putri yang tinggal di puncak kastil sebuah istana. Sedangkan gue? Berada di kasta terendah sebagai bencong lampu merah.

Ding!

Lift terbuka lagi di lantai 15 dan sebagai anak baru, gue gak pengen telat.

Lari menuju cubicle gue!

Selasa, 23.27 WIB

Dengan mata yang berkantung, gue menekan tombol lift. Ganggunan pada server perusahaan gue di Bangalore, di India sana, membuat gue terpaksa lembur lagi malam ini.

Dan teleconfrence dengan IT engineer di Bangalore bukanlah hal yang ingin gue anjurkan kepada kalian.

Teleconfrence dengan orang India berlogat kental dan diriingi dengan suara piring berjatuhan dan anak kecil yang berteriak-teriak sebagai backsound, membuat kesabaran gue benar-benar diuji hari ini.

Yup, mengingat betapa murahnya ongkos tenaga kerja mereka, membuat gue sedikit memaklumi jika ‘kantor’ mereka berada di dapur rumah mereka sendiri.

Ding!

Pintu lift terbuka di lantai 8, menghentikan lamunan gue tentang orang India. And guess what?

Si gadis cantik yang tadi masuk ke dalam lift yang sama.

Ngga percaya dengan mata gue sendiri, gue melihat ke arah kakinya.

Hampir tengah malam, di sebuah gedung yang sepi, wajar jika gue was-was.

Ternyata heels yang dia pake nyentuh lantai.

Lega.

Gue perhatiin dia lagi. Mukanya terlihat lelah tapi tetap kelihatan cantik.

You know guys, ada beberapa momen dalam hidup seorang pria, dimana mereka akan bertemu seorang gadis cantik luar biasa dan ingin segera berkenalan dengan mereka.

Dan bagi para pria di luar sana, gue bisa bilang, tengah malam di dalam sebuah lift, BUKAN SAAT YANG TEPAT!

Ga ingin kehilangan kesempatan, dengan mengumpulkan segenap keberanian dan nyali, gue akan menginisiasi percakapan.

“Lembur?” tanya gue

………………………………..

!@#$#%%&*&*())!!!

KENAPA GUE NANYA ITU??!! GA ADA PERTANYAAN YANG LEBIH BODOH LAGI?? MASA UDAH PULANG JAM SEGINI NGGA LEMBUR?!

MASA DIA MAU GENTAYANGAN?! *self toyor*

“Iya..” kata dia pelan sambil melihat ke gue.

“ohhhh”

CUMA ‘OHHHH’??? KALO GINI KAPAN MAU JADIANNYA? PAS KIAMAT???

Kata gue menyesali dalam hati.

Ding!

Pintu lift kembali terbuka.

‘Mari..’ kata dia pelan sambil berlalu.

“Ok, hati-hati..” kata gue sambil mengumpulkan harga diri yang udah tercecer entah kemana.

Kamis. 08.46 WIB

Gue menekan tombol lift itu. Dan segera masuk. Dan dari arah kiri, gadis cantik itu juga masuk lift yang sama. Kali ini ga ada sepatah kata yang keluar dari mulut gue.

Cuma sebuah senyum simpul yang gue keluarkan ketika dia masuk lift ini. Wajar, kalo yang gue keluarkan dari mulut gue adalah dispenser baru agak aneh.

Seperti biasa, dia keluar di lantai 8. Dan gue, di lantai 15.

Dan gue mulai menikmati kebetulan yang menyenangkan ini.

Jumat. 08.50 WIB

Gue udah menunggu di depan lift ini selama lima menit, dan ga ada tanda-tanda si gadis cantik akan muncul.

Berdiri sambil berpura-pura membuka smartphone gue, padahal ga ada satu sms pun yang masuk.

Celingak celinguk kiri kanan, dan kini gue udah berubah dari professional engineer ke seorang professional stalker!

Ketika udah pasrah akhirnya masuk kedalam lift, pintu hampir menutup ketika gue liat dia disana. Sedikit berlari kecil menuju lift ini.

Sambil senyum gue tahan pintu lift nya.

“Thanks..” kata dia pelan..

“Gpp, gantian.” kata gue.

Senin, 13.53 WIB

Gue memutuskan untuk turun kebawah untuk beli kopi, yang sangat butuhkan untuk menghilangkan kantuk ini.

Dengan kadar kantuk sedahsyat ini, gue kira gue akan memesan ukuran kopi ukuran venti! Biar mandi kopi sekalian.

Dan gue baru selesai bayar ketika gue melihat dia disana. Baru turun dari taksi dan kesusahan membawa 2 ordner besar dan sebuah tas laptop.

Gue putuskan untuk membantu.

“Sini gue bantuin..” kata gue ke dia.

“Wah, makasih..”

Dan disinilah gue membawakan ordner bertuliskan “Purwantono, Suherman & Surja”.

“Law firm ya?” tanya gue penasaran.

“Bukan, itu accounting firm. Gue auditornya PT. Selaras yang di lantai 8”

“Sendirian?” tanya gue penasaran, karena biasanya auditor kantor gue datangnya segerombolan.

“Ngga, bertiga sebenernya. Tapi manager gue jarang dateng, jadi cuma gue dan 1 staf”

“Ohhhh, “ gue cuma bisa bereaksi itu. Gue gak tau banyak tentang dunia auditor.

Masuk di lantai 8. gue cuma mengantarkan sampai lobby PT. Selaras saja.

“Makasih ya..gue Lila” kata dia sambil menjulurkan tangan.

“Gue Yudha..”

Karena gue ga tau mau ngomong apa lagi, gue putuskan untuk pamit dan segera kembali ke lantai 15.

Hilang sudah kantuk gue, tanpa perlu menyiramkan kopi panas ini ke mata gue.

Entah kenapa, sebuah senyum lebar menghiasi wajah gue kali ini.

Rabu. 11.53

Gue berniat turun makan siang ketika lift berhenti di lantai 8.

Disana, Lila masuk bersama beberapa ibu-ibu.

Gue cuma senyum ke dia dan dia membalas.

Dilantai 6, lift berhenti lagi dan segerombolan bapak-bapak masuk. Lift semakin penuh, akibatnya gue makin mepet kesamping. Dan kini gue berdiri bersebelahan dengan Lila.

Bapak-bapak itu bercanda dengan sesama temannya dengan suara kencang.  Dan ibu-ibu tadi juga ngobrol dengan gerombolannya.

Kondisi berisik di dalam lift kayak gini yang sangat gak gue suka.

“Makan sendirian?” tanya dia pelan secara tiba-tiba.

“Iya..gue anak baru di kantor ini, jadi..belum banyak kenal orang. Lo?”

“Iya kayaknya, staf gue ga dateng..”

Entah keberanian dari mana yang bisa membuat gue mengeluarkan kata-kata berikutnya. Kata-kata yang membuat gue berkeringat dingin menunggu jawabannya.

“Errr, mau bareng?” kata gue agak ragu.

Dan gue bisa bilang ke kalian. Itu adalah 1 detik terlama yang pernah gue rasain dalam hidup gue. Satu detik yang mempertaruhkan segalanya. Satu detik yang membuat gue mati rasa.

“Hmmmm, boleh” kata dia sambil senyum.

Dan, dunia gak pernah terasa lebih indah.

Sabtu, 13.12 WIB, 3 tahun kemudian..

Disinilah gue berdiri. Bersama Lila, menyalami para tamu di sebuah panggung kecil sederhana yang disulap jadi pelaminan yang mempesona.

Ga ada yang bisa gue ceritain lagi, selain makan siang 3 tahun yang lalu itu bukanlah makan siang kami yang terakhir.

Masih ada makan siang makan siang indah lainnya yang gak bisa gue ceritain. Ratusan kebersamaan yang dihiasi tawa, canda, pertengkaran, dan air mata.

Yang buat gue, menjadi suatu kenikmatan jatuh cinta.

Fallin in love is not a liability, it’s a privilege. That comes into the right person at the right time.

Anda tidak bisa memaksakan kapan akan jatuh cinta.

Cinta hanya duduk menunggu di ujung sana sambil menatap kita dan berkata ‘tidak sekarang’ lalu pergi ke orang lain yang sudah tiba waktunya.

Dan hingga kini, gue ga pernah berhenti mensyukuri, bahwa lift yang dulu gue naiki, selalu berhenti di lantai delapan.

Karena di lantai delapan itulah, cinta menyapa gue dan berkata.

“Sekarang waktunya!”

Ding!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Peri Sofia dan Tragedi Cinta Pertama

28 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Fiction & Imagination

≈ 1 Comment

Tags

@kartikaintan, cerpen, cinta, Intan Kartika, Kartika Intan, peri, pertama

Prepared by Client:
Intan Kartika (@kartikaintan) 

“Tak akan kusesali,
setiap pertemuan atas nama cinta sejati,
walau ada luka,
walau ada kesedihan menyertai
Tapi tahukah kau,
bahwa sungguh tak pernah ada beda,
yang begitu terasa beda dalam mencinta.”


Ini adalah kisah cinta pandangan pertama dan kisah patah hati antara dua makhluk yang sangat berbeda.

*

Setiap pengalaman pertama merupakan keajaiban bagi Sofia. Dimulai dari saat ia membuka mata dan melihat dunia, dan mulai menyadari hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupannya. Seperti saat ia belajar bahwa sinar keemasan yang menerobos pepohonan dan jatuh menyinari lantai kayu gelap di kamarnya adalah seberkas sinar matahari.

Hidup itu sendiri adalah keajaiban, pikir Sofia pada dirinya sendiri. Saat itu ia tengah menunggu matahari terbit sambil duduk di sebatang pohon besar bercabang banyak. Sentuhan pertama dari sinar keemasan yang hangat itu langsung menjadikan warna kulitnya berpendar misterius, memantulkan kembali cahaya matahari dengan lebih lembut dari setiap jengkal kulitnya yang tidak tertutup pakaian. Kegelapan malam langsung tertinggal jauh di belakang.

Seekor burung gereja melompat-lompat di dekatnya dan bertengger di bahunya, mendendangkan nada menyambut pagi dengan riang. Tanpa sadar Sofia ikut bernyanyi dengannya, suaranya tidak kalah indah dibandingkan burung kecil kecokelatan itu. Beberapa saat kemudian, burung gereja itu pergi setelah mematuk pelan pundak Sofia dengan penuh sayang.

Sofia menghirup udara pagi dengan rakus dan melompat turun dari atas pohon. Bunyi berdebum pelan yang terdengar saat kakinya menyentuh rerumputan hijau lebat seharusnya tidak akan mengejutkan siapapun, tetapi kemunculannya yang tiba-tiba ternyata mengagetkan seseorang yang kebetulan sedang berjalan di bawah pohon itu.

Sosok itu memegang setumpuk buku bersampul kulit di depan dadanya. Rambut ikalnya yang panjang dan hitam tergerai sampai ke punggung dengan indah. Ia sangat cantik seperti halnya Sofia, hanya kebijaksanaan yang terpancar dari wajahnya yang menyiratkan bahwa umurnya jauh lebih tua. Seulas kerutan terbentuk dari kedua alisnya yang indah saat ia menyadari Sofia-lah yang mengagetkannya.

“Kau mengejutkan Peri Tua ini,” omelannya terdengar bagaikan alunan lonceng di telinga manusia.

“Ibu Guru belum terlalu tua, dan tidak akan pernah terlihat tua,” Sofia terkekeh geli sambil menyodorkan tangannya untuk menolong membawakan buku-buku tebal itu dari tangan si Peri tua. “Kita belajar Sejarah Peri hari ini?” tanya Sofia setelah melihat sekilas judul buku bersampul kulit paling atas yang dibawanya.

“Jadwal hari ini memang itu kan?” jawab si Peri sambil berjalan lebih cepat untuk mengiringi langkah Sofia yang bagaikan melayang itu menuju Sekolah Peri.

Bangunan itu hanya bagian dalam sebatang pohon yang diperluas dengan sihir Peri sehingga terlihat seperti sebuah ruangan berlangit-langit tinggi dengan meja-meja dan kursi yang disusun melingkar dengan bangku dan meja yang lebih tinggi untuk pengajarnya.

“Mungkin hari ini aku akan membolos, Old Minerva,” Sofia meletakkan buku-buku itu di meja guru dan melenggang pergi dengan cepat. Terlalu cepat sampai ia tidak bisa mendengar omelan Guru Minerva di belakangnya.

Langkah-langkah kaki Sofia bagaikan menari di atas seberkas rumput keemasan, pohon-pohon kurus tinggi berkelebat di sekitarnya saat ia berputar-putar, rambutnya yang keemasan berpendar dan melambai tertiup angin. Seandainya ada manusia yang melihatnya, mungkin mereka akan berkata telah melihat bidadari berambut emas di tengah hutan. Sayangnya, belum pernah ada manusia yang bisa masuk ke dalam hutan ini dan menyaksikan sendiri komunitas para Peri hutan. Masa itu adalah masa dimana mitos-mitos masih hidup dan berkembang sehingga belum ada satupun manusia yang berani masuk lebih jauh ke dalam hutan. Ditambah lagi sihir Peri menjaga kerahasiaan mereka semua tetap terjaga.

Peri remaja seperti Sofia bahkan tidak diijinkan bermain sampai ke batas hutan tertentu, karena mereka belum bisa menjaga diri dalam menghadapi manusia. Orang tua dan teman-teman Sofia selalu membicarakan manusia seakan mereka hanya komunitas yang tidak penting dan terlalu kasar untuk diajak bergaul. Sofia tidak pernah mempedulikan hal itu, ia telah memiliki segalanya yang ia butuhkan, dan begitu banyak keindahan untuk dinikmati satu persatu.

Sebagai contohnya, ia seharusnya memikirkan tentang Pesta Musim Semi yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Pesta itu adalah peringatan untuk merayakan berakhirnya musim dingin. Pesta ini juga ditunggu para Peri remaja karena secara informal merupakan ajang memperkenalkan pasangan Peri mereka. Sofia belum memutuskan dengan siapa ia akan pergi, bukan karena ia tidak menyukai satupun dari teman-temannya, tapi karena sejak ia masih kecil, ia sudah menantikan saat-saat ia datang ke acara musim semi itu dengan pasangannya, dan ia ingin berpasangan dengan Peri yang benar-benar membuatnya jatuh cinta, seperti yang ada di dalam buku-buku legenda para Peri, tentang bagaimana kisah cinta nenek moyang mereka dulu.

Sofia akhirnya berhenti menari dan merebahkan diri dibawah salah satu pohon apel yang sedang berbuah lebat. Beberapa ekor tupai kecil langsung berlari mengelilinginya seakan Sofia-lah yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Dengan santai Sofia menatap seberkas langit kebiruan yang tidak tertutup rindangnya daun-daun di pepohonan. Ia berpikir tentang Amarie, sahabatnya, yang juga akan menghadiri Pesta Musim Semi dengan pasangan untuk pertama kalinya. Amarie berkata padanya akan pergi dengan Levian, salah satu Peri muda tampan di sekolah mereka. Sofia menghela napas dan tanpa sadar membalikkan telapak tangan, membiarkan dua tupai memakan apel langsung dari tangannya, kebanyakan teman-teman sebayanya sibuk merencanakan dengan siapa mereka akan pergi dan berusaha agar pasangan mereka lebih membanggakan dibanding yang lain. Sudah beberapa Peri mengajak Sofia menghadiri Pesta bersama mereka, tapi Sofia selalu menolak karena merasa mereka bukan Peri yang tepat untuknya.

“Pasti akan datang di waktu yang tepat,” gumam Sofia dengan suara seringan bulu. Beberapa tupai mencicit mendukung. Sofia bangkit untuk duduk, bersandar di batang pohon apel dan ikut menikmati buah apel merah kehijauan dengan para tupai. Ia menghabiskan dua butir apel, kemudian merasa haus. Dengan anggun ia berdiri dan berpamitan dengan para tupai itu sebelum berjalan lebih jauh ke dalam hutan untuk mencari sungai berair jernih. Ia menari lagi sambil mendendangkan lagu yang diciptakannya sendiri, begitu asyiknya sampai ia tidak sadar kalau telah melewati batas hutan untuk para Peri remaja.

Sofia sampai di aliran sungai yang tidak begitu deras. Air sungai begitu jernih sampai ia bisa melihat bebatuan berkilauan di dasarnya. Tanpa terburu-buru ia minum sampai kenyang, kemudian menelungkup di pinggir sungai untuk bermain dengan batu-batuan berkilauan itu. Ia hanya terganggu oleh suara langkah kaki yang tiba-tiba datang. Sofia menoleh dan langsung bangun dengan terkejut. Seorang Peri muda yang tampan dan kasar sedang menatapnya dari balik pepohonan yang lebat, mengenakan pakaian putih berlengan panjang dan sepatu bot kusam yang menutupi celana kulit cokelatnya. Ia terlihat kaget karena tidak menyangka akan bertemu dengan gadis Peri di tepi sungai itu.

Pemuda Peri itu tidak sama seperti Peri-Peri lain yang di kenalnya, kulitnya yang putih tidak begitu bersinar, dan langkahnya jauh lebih berat dari Sofia, sehingga menimbulkan kesan kasar. Tapi di mata Sofia ia lebih tampan daripada teman-teman Perinya yang lain.

“Kau membolos juga?” tanya Sofia lugu. Pemuda itu mengangkat bahu, lalu menjawab,

“Hari ini terlalu bagus untuk dihabiskan di dalam ruangan,”

Sofia mengangguk setuju. “Memang sudah mulai hangat cuacanya,”

Mereka berpandangan dan tersenyum.

“Namaku Marvel,” ia mengulurkan tangan pada Sofia.

“Sofia,” gadis Peri itu menyalami Marvel penuh semangat.

Marvel mengerutkan alis dengan heran.

“Kulitmu bersinar sekali, Sofia,”

“Dan kulitmu agak kasar,” Sofia menyahut dengan geli dan terkikik.

“Aku belum pernah melihatmu di sekolah,” kata Marvel lagi sambil duduk di sebelah Sofia.

“Aku juga belum, apa mungkin kau lebih tua daripadaku? Mungkin tingkatanmu sudah lebih tinggi.”

Marvel hanya mengangguk, terlalu terpesona untuk mengalihkan pandangan dari wajah Sofia yang begitu cantik.

Mereka berdua hanya duduk diam dan bertatapan untuk beberapa lama, sampai akhirnya matahari sudah bersinar sangat tinggi di atas kepala mereka.

“Aku harus pulang, atau ayah akan memarahiku habis-habisan,” kata Marvel sambil berdiri dan mengibaskan celana panjangnya dari rumput kering yang menempel.

Sofia mengangguk, “Aku juga sebaiknya kembali ke rumah,”

Marvel berdiri ragu sebelum pergi, kemudian memaksakan diri bertanya, “Kau akan kesini lagi besok?”

Sofia tertawa pelan, “Mungkin. Tapi sebaiknya tidak di waktu yang sama.” Ia mengedip pada Marvel. “Kita kan tidak boleh membolos sering-sering,”

“Aku akan menunggumu datang lagi,” Marvel berkata dengan sedikit putus asa.

Sofia mengangguk, lalu tersenyum. “Sampai Besok, Marvel,” kemudian ia menari menjauh meninggalkan Marvel yang masih tertegun di balik pepohonan di pinggir sungai.

Keesokan harinya, saat matahari sudah hampir terbenam, Sofia kembali lagi ke tepi sungai itu dan melihat Marvel sedang duduk di sana menunggunya.

“Hai,” sapa Sofia dengan ringan, mengejutkan Marvel begitu rupa sampai pemuda itu nyaris terjatuh ke dalam sungai.

“Kau datang!” serunya.

“Aku kan sudah berjanji,” Sofia mengingatkannya.

“Tapi…kupikir…” ia terbata-bata.

“Aku mencarimu di sekolah,” Sofia mengambil segenggam kerikil dari dasar sungai dan memainkannya di telapak tangannya, berkilauan memantulkan sinar matahari senja. “Tapi kau tidak ada,”

“Aku tidak masuk hari ini, Ayah membutuhkanku membantunya di rumah,” jawab Marvel, terpesona pada batu-batu yang digenggam Sofia.

Sofia mengangguk, kemudian tersenyum.

Kejadian kemarin terulang kembali saat mereka hanya bertatapan dan tersenyum. Terlalu takut untuk merusak saat-saat kebersamaan mereka, karena Sofia mengerti dan begitu juga Marvel, bahwa ada suatu hubungan yang terjalin begitu saja diantara mereka. Begitu matahari akhirnya benar-benar akan terbenam, Sofia teringat untuk bertanya sesuatu.

“Marvel,” panggilnya. “Kau mau pergi bersamaku ke Pesta Musim Semi?”

“Pesta Musim Semi?” Marvel bertanya dengan heran.

Tiba-tiba perasaan kecewa melanda Sofia, “Tapi tidak apa kalau kau sudah ada pasangan lain,”

Marvel cepat-cepat menggeleng, “Tentu saja aku mau pergi denganmu! Aku akan senang sekali!”

Sofia tersenyum senang, memamerkan gigi-giginya yang  cemerlang dan seputih susu.

“Kalau begitu kita berangkat bersama-sama, aku akan menemuimu di sini, kau harus membawa bunganya,” Sofia mengedip lagi.

Marvel mengangguk penuh semangat.

“Sudah malam, kita harus pulang,” ajak Marvel. Sofia hanya mengangguk, berpikir bahwa orangtua Marvel begitu keras memaksa putra mereka pulang begitu matahari terbenam. Ia sendiri akan berputar-putar dulu dan mengunjungi si Burung Hantu sebelum pulang ke rumah.

“Sampai nanti,” Marvel kali ini berlari pulang mendahului Sofia.

“Kau akan pergi dengan siapa?” tanya Amarie saat mereka berdua mengepas gaun baru untuk pesta.

“Itu kan rahasia.” Sofia menjawab dengan misterius. Ia membelai lekuk pinggang gaunnya yang bertaburkan bunga aster warna putih dan kuning, kemudian mendesah puas melihat pantulan dirinya di cermin.

“Oh, ayolah, aku kan sudah menceritakannya kepadamu!” Amarie ngotot bertanya.

“Kau akan melihatnya di pesta. Ia tampan sekali,” kata Sofia, membetulkan letak bunga lily di rambut panjang lurus sahabatnya.

“Oohh.. apakah dia Stefan?” tanya Amarie, menyebutkan nama Peri tertampan di sekolah menurut sebagian besar gadis Peri.

“Bukan!” Sofia menggeleng dengan ngeri. “Lihat saja nanti,”

Amarie merengut dengan kesal, tapi kemudian pikirannya teralihkan begitu melihat kedua Ibu mereka memasuki ruangan dengan begitu banyak bunga lagi. Kelihatannya hari pengepasan gaun ini belum akan selesai, keluh Sofia dalam hati. Hari ini ia melewatkan pertemuan dengan Marvel, tidak seperti hari-hari berikutnya dimana mereka berdua selalu tidak terpisahkan di pinggir sungai, tempat milik mereka berdua. Sofia sepenuhnya berharap besok akan segera datang dan ia bisa bertemu Marvel lagi.

*

Pagi hari itu, sesaat sebelum Pesta Musim Semi dimulai, Sofia dan Marvel bertemu lagi di pinggir hutan yang sama. Pemuda itu membawakan Sofia seikat bunga aster warna putih dan kuning yang serasi dengan bunga-bunga yang menempel di gaun putih melambai Sofia.

“Kau membawa bunga yang tepat,” Sofia terkejut. Ibunya bercerita semalam bahwa kalau pasangannya membawa bunga seperti yang dipakai olehnya, berarti mereka memang berjodoh. Ia sama sekali tidak menduga Marvel akan membawa bunga aster, mengingat bunga ini tidak begitu populer dibandingkan Mawar atau Lily.

Marvel tersipu malu, Sofia senang sekali melihat semburat warna merah di pipinya. Tidak ada seorangpun di dunia Peri yang wajahnya bisa memerah seindah itu.

“Aku memetiknya di pinggir hutan, disana tumbuh banyak sekali…” kata-katanya terputus saat melihat penampilan Sofia yang tanpa cela. “Kau sangat cantik,” pujinya tulus. Sofia menyunggingkan senyumnya yang paling menawan, kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak Marvel lebih jauh ke dalam hutan, ke tempat Pesta Musim Semi diselenggarakan.

Suasana pesta begitu meriah, Peri-peri yang lebih tua duduk-duduk di tempat yang telah disediakan di bawah sebatang pohon perdu yang rindang, menikmati hidangan kue-kue dan teh khas Peri, saling mengobrol dengan riangnya. Suara ocehan mereka terdengat seperti ribuan lonceng yang berbunyi dengan harmonis. Para Peri remaja kebanyakan menguasai lantai dansa, berdansa dengan pasangan-pasangan mereka, dan anak-anak Peri berlari berkejaran, bermain dengan kupu-kupu yang melintas, atau memakan kue buah yang tersedia ratusan mangkuk di meja.

Sofia tertawa riang dan menggandeng Marvel menuju keramaian pesta, ke tempat teman-temannya berkumpul. Marvel hanya memandang semua keramaian itu dengan ekspresi tidak percaya, mulutnya ternganga lebar, dan ia menurut saja waktu Sofia menariknya lagi.

“Amarie!” Sofia memanggil sahabatnya yang sedang mengobrol dekat sekali dengan Levian. Amarie menoleh dan melambai, kemudian matanya yang indah membelalak begitu melihat siapa yang dibawa oleh Sofia.

“Ini temanku, Amarie dan pasangannya Levian.” Sofia memperkenalkan Marvel pada mereka berdua. “Ini Marvel.” Marvel menyalami mereka dengan takut-takut. Ia kelihatan tercengang sekarang, tidak mampu berbicara sedikitpun.

“Kau kelihatan berbeda, Marvel,” Levian berkata setelah mengamati Marvel dengan teliti. “Apakah kau berasal dari ras yang lain?” Marvel tidak bisa menjawab.

“Aku juga berpendapat begitu,” Amarie menyahut. “Kau tinggal di bagian hutan yang mana, Marvel?”

Yang ditanya hanya menggeleng dan menelan ludah.

“Sudahlah, jangan mengganggu dia lagi,” Sofia menepis kedua temannya. “Ayo kita mengambil minuman.” Sofia mengajak Marvel ke arah meja panjang yang penuh makanan.

“Aku tidak…” Marvel menggumam tidak jelas.

“Apa kau bilang?” tanya Sofia.

“Aku tidak tinggal di hutan,” Marvel akhirnya bisa bicara.

“Apa maksudmu? Semua Peri tinggal di hutan.” Sofia berkata dengan heran.

“Aku bukan Peri. Aku manusia, aku tinggal di desa, di pinggir hutan…” kalimat Marvel terhenti karena reaksi yang didapatnya.

Sofia, Amarie, dan Levian mematung di tempatnya. Wajah-wajah rupawan mereka berubah dari ingin tahu menjadi penuh kengerian. Dalam sekejap, beberapa Peri Tua termasuk Pemimpin mereka yang sosoknya paling tinggi dan paling mempesona dari mereka semua, berhasil mendekat dan menemui empat remaja itu.

“Kau tidak ada urusan di sini, manusia.” Suaranya yang indah terdengar menyeramkan di telinga Marvel. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah, dan dalam kejapan mata berikutnya, ia menemukan dirinya sudah berada di pinggir hutan yang tadi pagi didatanginya, sendirian.

“Sofia?” ia mencoba memanggil. “Jangan pergi, maafkan aku!”

Hanya gaung keheningan yang kini menjawab panggilannya.

“Manusia tidak pernah bisa dipercaya,” Pemimpin Peri menasihati Sofia di dalam rumahnya yang hangat dan nyaman. “Salahku, tidak pernah mereasa perlu mengajarkan bagaimana rupa mereka, dan betapa miripnya kita dengan mereka dalam satu dan lain hal.”

Sofia hanya terdiam. Kalau ia bisa menangis, ia pasti sudah tersedu-sedu. Hanya kebisuan yang terpancar darinya yang memberitahukan betapa sedih hatinya sekarang.

“Tetap saja, Marvel sekarang akan bercerita kepada kaumnya mengenai keberadaan kita, dan kita terpaksa harus pergi dari hutan ini.” Pemimpin Peri melanjutkan, seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Aku yakin kau akan berhati-hati kali ini, Sofia?”

Sofia mengangguk. “Perasaan itu akan hilang dengan sendirinya, sayangku, jangan sia-siakan keabadian dan kemuliaanmu untuk mencintai makhluk seperti mereka,”

Peri tua itu menepuk pundak Sofia, secara halus mengatakan bahwa ia boleh pulang. Sofia berdiri dan keluar dari rumah pemimpin Peri dengan langkah lunglai. Lama sekali ia berdiri di bawah naungan pohon perdu sambil termenung. Hujan yang tiba-tiba turun mengagetkannya. Hujan pertama di musim semi. Tidak pernah terjadi sebelumnya, dan tidak ada yang mengerti kecuali Sofia bahwa alam juga ikut berduka akan kandasnya cinta pertama dan terakhir Peri muda itu.

Sofia berjalan ditengah hujan yang kian lama kian deras, di ujung hutan yang lain, Marvel juga berjalan dengan putus asa, masih berusaha menemukan Sofia. Usaha yang sia-sia mengingat sihir pengamanan kaum Peri sudah dipasang lebih kuat lagi. Keduanya berjalan tanpa sadar, mencoba menemukan satu sama lain, sampai akhirnya sosok Peri Sofia menjadi kabur, dan kabur, dan akhirnya lenyap ditengah derasnya air hujan yang membasahi hutan. Ia tidak akan pernah terlihat lagi. Marvel tersedu, berlutut memukul tanah berumput yang basah, menyerah dalam pencariannya.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Hari-hari Bersama Nenek Liliana

28 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Fiction & Imagination

≈ Leave a comment

Tags

@tiasetiawati, cerpen, Tia Setiawati

Prepared by Client:
Tia Setiawati (@TiaSetiawati) 

“Akan ada seseorang yang datang,
kemudian pergi,
memberikan sesuatu padamu,
kebesaran cinta, barangkali,
ya, semua itu bisa saja terjadi…”

Hari ini adalah genap hari ke tiga aku di opname di Rumah Sakit besar ini. Rasanya semuanya begitu membosankan. Bau obat-obatan, latar belakang serba putih, orang-orang hilir mudik di setiap jam besuk. Ah, aku bosan. Ingin keluar, ingin pergi, ingin kabur. Tapi seperti kebanyakan pasien lainnya, aku belum bisa. Penyakitku lah yang membawaku sampai kesini. Demam berdarah dan tipes. Dua kombinasi yang sepertinya memang bersahabat. Dan aku adalah salah satu yang tidak beruntung karena mereka mampir ke tubuhku. Ya, tubuh yang memang sepertinya membutuhkan istirahat total dari semua rutinitas harian yang membuat tubuh ini kelelahan.

Ruang tempat ku dirawat tidak terlalu besar. Ruang ini cukup dihuni oleh tiga orang pasien dengan luas ruangan perpasien ala kadarnya. Yah, inilah kelas medium. Bukan VIP. Ah tak penting memang, karena mau seluas dan seleluasa apapun, aku toh memang tidak suka Rumah Sakit. Tidak suka semuanya. Karena disini itu tempat kesedihan, kesakitan. Atau mungkin beda kasus bila RS nya RS Bersalin.

Ah ada yang lupa aku sampaikan, di hari ketiga ini pula, si kamar rawat ku ini mendadak saja menjadi penuh. Para pasien berdatangan. Awalnya aku pikir, aku bisa istirahat dengan baik disini. Dengan situasi yang lebih tenang tentunya. Namun mungkin tidak lagi setelah hari ini. Kamar yang tadinya hanya dihuni oleh ku seorang, kini mulai dihuni oleh dua orang. Dan bahkan di subuh hari keesokan harinya, kamar ini resmi penuh. Sungguh tak nyaman untuk beristirahat diruangan penuh seperti ini.

*

Salah satu wanita yang menemaniku di kamar inap itu bernama Liliana. Wanita separuh baya itu tersenyum simpul menatapku dengan sangat ramah. Dari sejak kedatangannya, tak pernah ku lihat sedikitpun raut muka kesedihan seperti kebanyakan pasien yang datang ke sini di hari-hari awal mereka. Dia selalu tersenyum. Entah sedang sakit atau tidak. Senyum itulah yang setiap hari selalu aku lihat. Senyum itu pula, tak pernah absen setiap hari dari wajah yang sudah keriput itu. Nenek Liliana juga tipikal wanita yang memperhatikan penampilan. Sungguh dia terlihat segar dan cantik setiap hari. Dengan make up yang teroles di wajahnya, dia tak tampak seperti sedang sakit.

Setiap pihak (suster terutama, dimana dengan mereka lah aku banyak berinteraksi) di Rumah Sakit ini selalu merahasiakan apa penyakit pasiennya. Begitupun dengan penyakit yang di derita oleh Nenek Liliana. Entah kesamaan apa yang dapat membuat kami begitu cepat akrab satu sama lain. Padahal, aku berani bersumpah aku sudah hampir mati kebosanan berada disini. Trombositku yang makin hari makin menurun juga di tambah dengan keadaan perut akibat tipes yang tak semakin membaik. Itu saja bisa membuatku bosan setengah mati. Dan bantuan novel-novelpun rasanya sama sekali tidak membantu. Rasa bosan itu memang bisa kukatakan hampir membunuh hari-hariku. Bosan sekali. Dan kehadiaran nenek Liliana bisa sedikit menghiburku.

Saat itulah si Nenek itu menawarkan beberapa hal baru yang mampu menghilangkan rasa bosanku. Ya, dia itu seorang nenek yang unik. Seorang nenek tua yang masih sangat enerjik. Seorang nenek yang masih sangat bersemangat untuk hidup. Walau sampai detik aku menulis inipun aku masih belum tau apa penyakitnya, dia tetap ajaib buatku.

*

‘Nona Tirania, selamat pagi. Mau langsung mandi atau mau di lap saja?’

Sambil bersungut-sungut aku mencoba bangun dari atas kasurku.

‘Ha? Jam berapa ya, Sus?’

‘Sudah jam sembilan’

‘Hah? Wow. Saya ga mandi ah. Males’ jawabku seenaknya sambil menoleh ke kasur tempat dimana Nenek Liliana berada. Sang suster mengetahui kemana arah mataku menatap.

‘Nenek Liliana sudah dari pagi tadi keluar’

‘Hah? Kemana, sus? Memang beliau sudah boleh pulang? Memang sudah sembuh total?’

‘Bukan, kan Jumat itu waktunya beliau ke luar di pagi hari setiap jam sembilan sampai jam sebelas’

‘Hmmm’ gumamku sambil kembali menarik selimutku dan kemudian berpikir kemana gerangan si nenek itu berada sepagi itu.

*

‘Nek, tadi pagi kemana aja?’ tanyaku di waktu makan siang masih di hari yang sama

‘Hehe, nenek melakukan rutinitas’

‘Rutinitas?’

‘Iya, rutinitas. Namanya rutinitas kan mau sakit atau ga, mau sedang di rawat atau ga, harus tetap dilaksanakan tho? Sama saja kalo kita makan. Kalo sakit ga jadi tiba-tiba ga butuh makan kan? Hehe’ jawabnya sambil tersenyum jenaka

‘Ah, nenek ini bisa aja deh. Jadi, rutinitas macam apakah itu?’

‘Nanti juga kamu tau’

‘Nanti itu kapan ya, nek? Tahun depan juga kan masih nanti, hehe’ jawabku tak kalah berkelakar

‘Hihi, bisa aja kamu. Ya nantinya nenek sih ga selama itu. Tunggu saja tanggal mainnya ya’

*

Lagi-lagi, hari ini aku kehilangan  jejak nenek Lili (begitu akhirnya aku memanggil namanya). Jam sembilan pagi dia sudah tak berada di kasurnya. Ini sudah berselang satu minggu dari sejak pertama kali aku mengetahui jadwal rutinitas dia. Ah, aku jadi heran sendiri. Bagaimana bisa dia seperti sangat leluasa untuk keluar masuk rumah sakit ini sesukanya? Aku yang baru berhari-hari saja tidak bisa seleluasa dia. Apa yang aneh yah? Atau memang begitu sikap pihak rumah sakit dalam memperlakukan pasiennya yang sudah renta? Ah, itu sepertinya lebih tak masuk akal buatku.

‘Suster, Nenek Lili kemana lagi ya?’ tanyaku ketika suster masuk sambil membawa seperangkat alat suntik. Ah, saat inilah yang paling menyebalkan dari semuanya. Aku benci jarum suntik. Sangat.

‘Oh, nenek Lili kan sedang melakukan rutinitasnya’

‘Iya, saya tau. Tapi, rutinitas macam apa ya, suster?’

‘Waduh, kalo itu, lebih baik mba tanya langsung saja ke beliau. Saya takut lancang kalo memberitahu tanpa seijinnya’

Huh, suster ini juga berkomplot ternyata. Ya Tuhan, aku benar-benar penasaran.

Ngomong-ngomong, sudah lama juga ya aku berada di Rumah Sakit ini. Seminggu lebih. Sebenarnya keadaanku sudah cukup membaik. Trombositku pun sudah semakin meningkat. Hanya saja, dokter belum mengizinkan aku untuk keluar. Karena dia sepertinya dapat membaca gelagatku, gelagat untuk langsung beraktifitas seperti biasa setelah keluar dari Rumah Sakit ini. Padahal jelas-jelas dokter sudah megatakan berkali-kali, aku butuh lebih lama waktu untuk beristirahat. Benar-benar total dan tanpa aktifitas. Dan dia memang tak salah. Aku memang sudah tak tahan untuk segera masuk kantor lagi. Rasanya pekerjaanku pasti sudah menumpuk. Ah stress sendiri aku membayangkan akan sebanyak apa nanti pekerjaanku.

*

‘Tira, kamu kemarin nyari-nyari nenek lagi yah?’ tegur nenek Lili di suatu senja ketika aku baru saja keluar dari toilet dan hendak mengambil novelku.

‘Iya. Nenek kemana sih? Aduh nek, aku dikasih tau dong, nenek kemana sih kalo Jumat pagi-pagi gitu? Aku beneran penasaran lho’ jawabku

‘Hihi, lucu deh kamu. Kenapa juga mesti penasaran sih?’

‘Ya penasaran ya penasaran, nek. Memang harus ada alasannya ya untuk penasaran? Hehe’

‘Ah, kamu ini. Ngeles aja’

Lalu kami tersenyum bersamaan. Selang beberapa menit, aku kembali menanyakan hal yang sama.

‘Jadi, nenek kemana?’

‘Ya Tuhan, kepala kamu itu terbuat dari apa sih? Kok ga kapok-kapok nanya’ jawabnya sambil tersenyum jahil

‘Ih nenek. Aku kan tadi udah bilang, aku penasaran. Makanya nenek cepet jawab dong, biar aku ga nanya-nanya terus. Emang nenek ga bosen aku cerewetin pertanyaan yang sama?’

‘Hmmm, gimana ya? Nanti kalo nenek jawab, ruangan ini jadi sepi deh. Kehilangan si nona tukang bertanya, hihi’

‘Aahh, nenek. Jail banget deh. Ayo doooong, nek’

‘Gimana kalo nenek jawab langsung aja? Besok jam sembilan kamu sudah harus siap ya! Kita ke tempat rutinitas itu. Mau?’

Dan tanpa ba-bi-bu aku langsung menyetujuinya. Bersiap untuk terbangun tepat waktu di pagi esoknya, ya sepertinya itu akan sedikit merepotkanku. Tapi tak apa lah, demi menjawab rasa penasaran ini.

*

Pukul sembilan pagi, kami sudah menyusuri taman kota. Taman di dalam perumahan ini memang sangat asri. Menyenangkan sepertinya untuk berlama-lama berada disini. Terlebih jika memang aku tinggal di sekitar perumahan elit ini.

Nenek Lili berbelok ke sebuah ruko. Dan disana tertera tulisan SALON CANTIK.

‘Nek?’

‘Iya, Tira. Kenapa?’

‘Ini? Lho? Jadi ini?’

‘Yuk masuk. Nenek mau apa ya hari ini?’

Dan aku terbengong-bengong mengikuti langkah kaki nenek Lili ketika dia memasuki salon tersebut. Ya Tuhan, bagaimana mungkin tempat itu adalah sebuah salon?

*

Aku masih berdiam diri selama beberapa waktu. Selang beberapa jam, kami sudah berada di dalam ruang rawat kembali. Dan aku masih tak habis pikir, bagaimana mungkin tempat itu adalah sebuah salon? Haruskah aku menanyakan hal itu lagi pada nenek? Atau menunggunya menjelaskan hal tersebut?

‘Tira, kok daritadi kamu diam saja?’ tegur Nenek Lili saat suster mengantarkan makan siang kami

‘Ah, gapapa kok, nek’ jawabku berbohong

‘Yakin gapapa? Kamu kan biasanya cerewet. Apa juga diobrolin’ seru nenek sambil tersenyum

Aku hanya balik tersenyum sambil tak tahu mau berkata apa. Kecewakah aku akan terjawabnya rasa penasaran itu? Atau aku hanya tak berpuas diri akan kenyataan tempat itu yang nyatanya memang tidak sesuai dengan bayanganku?

Kami berdua makan siang dalam diam. Hanya sebuah siaran berita di siang hari yang menemani. Hari ini nenek Lili terlihat tak seperti biasanya. Bukan wajah penuh senyum yang aku maksud, ini lebih ke staminanya yang terlihat semakin berkurang. Dari hari ke hari dia terlihat melemah. Dan para suster pun terlihat lebih sering mengunjunginya. Ada apakah gerangan dengan keadaan kesehatan nenek Lili?

*

Beberapa hari berselang dari terjawabnya rasa penasaranku, aku mendapati nenek Lili tergeletak lemah tak berdaya di kasurnya. Ini sangat berbeda dengan keadaanku. Aku yang makin hari makin membaik tentu prihatin dengan keadaan beliau. Sakit apakah dia?

Suster memberitahuku untuk tak banyak mengajaknya bicara. Ya, bahkan untuk bicara saja dia terlihat tak berdaya. Miris sekali hati ini melihat keadaan fisiknya. Jauh sekali berbeda dengan keadaan satu minggu yang lalu. Dia masih mampu berjalan-jalan, masih mampu bersuara dengan volume keras, masih mampu melakukan rutinitas itu. Ah, nenek, dirimu mengapa jatuh secepat ini? Bukankah kita berjanji untuk keluar dari Rumah Sakit ini bersama-sama?

‘Tira? Sedang tak tertidur kan?’ sebuah kalimat meluncur tiba-tiba dari Nenek Liliana. Hari sedang hujan lebat saat itu. Dan aku sedang asik menatap kelluar jendela, memandang hujan yang tak kunjung berhenti.

‘Ya nek. Aku lagi ga tidur kok. Kenapa, Nek?’ jawabku bergegas menghampiri kasurnya

‘Tidak apa-apa. Hanya ingin mengobrol saja. Kamu sedang ga baca novel mu kan? Takut nenek mengganggu’

‘Ah, nenek, jangan sungkan begitu. Aku ga lagi baca novel kok. Tadi itu aku lagi liat hujan, hehe. Aku kan suka hujan, nek. Damai kayanya kalo menatap tanah disaat hujan mengguyur’ jawabku sambil duduk di samping kasur Nenek Lili

Nenek hanya tersenyum. Senyum yang tidak dipaksakan memang, hanya saja itu terlihat sedikit sulit untuknya.

‘Tira, kamu suka salon kan?’ serunya selang beberapa menit sejak beliau tersenyum tadi

‘Iya dong, nek. Suka banget. Kan enak bisa memanjakan diri, hehe. Lagian, emang ada ya cewe yang ga suka salon?’ jawabku jujur

‘Seharusnya sih ga ada yah. Tapi pada kenyataannya, masih ada kan wanita yang ga suka ke salon’

‘Iya juga sih, Nek. Tapi emang kenapa nenek nanya begitu sama aku?’

‘Soalnya kamu terlihat ga suka sejak hari itu. Pas nenek ajak kamu ke salon. Nenek ga salah kan kalo nebak kamu ga suka salon?’

Aku terhenyak. Ya Tuhan, ternyata nenek menyadari hal itu. Aku jadi tak enak hati. Aku berpikir keras sekali saat itu, apa yang harus aku katakan pada nenek ya? Rasanya tak etis jika aku terlalu jujur dan mengatakan bahwa aku bukannya tidak menyukai salon. Aku hanya kecewa. Itu saja.

‘Tuh kan, kamu diam saja’ seru Nenek lagi

‘Ah, ga kok nek. Itu mah perasaan nenek aja. Aku gapapa kok’ jawabku, lagi-lagi aku mencoba berbohong

‘Jangan berbohong, Tira. Biar bagaimanapun, kamu sangat tidak cocok untuk berbohong. Dan sejujurnya, tak ada satu manusiapun yang cocok dengan kebohongan’ tiba-tiba kalimat itu terdengar begitu serius dan berhati-hati. Aku tertegun namun tetap menyimak apa yang akan Nenek Lili ucapkan selanjutnya.

‘Nenek tau, kamu sepertinya bukan tak menyukai salon. Kamu hanya kecewa atas jawaban rasa penasaran kamu tempo hari. Benar begitu kan?’

Aku mengangguk. Tak lebih. Entah apa yang harus aku ucapkan saat itu. Tak terpikirkan sepatah kata pun.

‘Kamu punya seseorang yang kamu sayang dengan sepenuh hati? Atau kamu pernah menyayangi seseorang sepenuh hati kamu?’

Lagi-lagi, aku menggangguk.

‘Dan bagaimana rasanya?’

Aku terdiam. Sungguh itu bukan pertanyaan yang akan dengan mudah aku jawab.

‘Ada yang bilang, dicintai dan mencintai seseorang dengan tulus dan sepenuh hati itu seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi, bukan hanya dari satu sisi saja. Kamu mengerti apa maksud kata-kata itu?’

Aku menganggguk. Sampai kapan setiap kalimat Nenek Lili hanya mampu aku jawab dengan anggukan kepala? Ah, mengapa jadi serba sulit begini berkomunikasi dengan beliau?

‘Nenek sudah merasakan sinar matahari itu, dari kedua sisinya. Dan itu sangat membahagiakan. Tapi, dia sudah tiada. Toni sudah pergi meninggalkan dunia ini tepat di usia pernikahanan kami yang ke tigapuluh’

Nenek terdiam beberapa menit. Terdiam dan menatap ke arah jendela. Hujan masih mengguyur di luar. Dan aku pun terbawa suasana saat itu.

‘Kalo kamu bertanya, kenapa salon? Kenapa Jumat? Itu karena, Toni bilang, dia menyukai wangi rambut nenek yang abis di creambath. Cream kiwi. Wanginya memang segar kan, Tira?’ jelas nenek sambil tertawa kecil

‘Iya nek, yang kiwi memang enak. Aku juga suka cream kiwi. Lebih mirip wangi permen karet deh, ya kan nek?’ jawabku sambil juga tertawa kecil. Aku mencoba mencairkan suasana yang terlanjur menjadi terlalu serius sejak awal pembicaraan kami.

‘Iya, kamu benar. Nenek juga heran, kenapa Toni bisa sesuka itu dengan wangi rambut kiwi. Sampai setiap Jumat, jadwal biasa nenek creambath, dia selalu menyempatkan diri menjemput nenek ke salon di jam makan siang. Tepat di waktu dia selesai melaksanakan ibadah sholat Jumat’ suara nenek Lili tiba-tiba saja menjadi lebih pelan

Kami lagi-lagi terdiam selama beberapa menit.

‘Kematian itu hanya mengakhiri hidup, Tira. Bukan suatu ikatan atau suatu hubungan, terlebih cinta. Dan itulah yang nenek rasakan sampai detik ini nenek hidup. Toni masih disini, dia masih hidup di hati nenek. Sampai kapanpun’ nenek Lili memegang dadanya saat mengucapkan kalimat ini. Lalu setelah itu, dia tertidur pulas. Sambil tersenyum. Dan aku kembali ke kasurku. Masih menatap ke luar melalui jendela kamar Rumah Sakit.

*

Nenek Lili meninggal keesokan harinya. Tepat di hari Jumat, di jam makan siang, sekitar pukul 13. Aku sedikit kaget dengan kepergiannya, namun tak ada yang bisa aku katakan mengenai hal itu. Keadaan Nenek Lili memang melemah dengan drastis. Dan sejak pembicaraan kami yang serius sehari sebelum Nenek Lili meninggal, aku merasakan ada yang berbeda dari setiap kata yang dia ucapkan. Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Sebuah pelajaran hidup sepertinya.

Dan ya, beliau berhasil. Semua yang dia katakan sangat mengena. Semua yang dia katakan memang benar. Kematian tidak mengakhiri suatu hubungan apalagi sebuah cinta. Kematian hanya mengakhiri hidup.

Aku mengaguminya. Dengan semua hal yang sempat dia tunjukkan dan ajarkan padaku. Semangat hidup, ketulusan mencintai, dan semua hal baik yang aku lalui selama beberapa hari aku menghabiskan hari-hari bersamanya.

Terimakasih, Nek. Terimakasih untuk semuanya. Cintamu masih disini. Tentu saja. Kan kematian hanya mengakhiri hidup. Begitu kan katamu?

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Evergreen [Him]

28 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@NH_Ranie, cerpen, cinta, Nuning H Ranie

Prepared by Client:
Nuning H. Ranie (@NH_Ranie)


[Say You Love Me] Paidy Austin
Please turn around…
Have your eyes on me…
Please notice me…
Notice my presence…
Even if I turn weird, this is not just a father feeling…
Back then, maybe I just hide that certain feeling…

Memar itu lagi.

“Are u stupid.. How can a girl get scars so often?” Ucapku menilik lengan putih kemerah-merahan milik seorang gadis yang sedang duduk di hadapanku.

“Hehehee..” dia cuma nyengir seperti biasanya. Menampakkan sederetan gigi putihnya yang berbaris rapih.

Aku pun mngambil kotak P3K, menyeret gadis itu ke kursi panjang dekat jendela dan merawat lukanya. Ini bukan kali pertama aku harus membalurkan antiseptik ke lengannya. Dia selalu datang dengan memar yang berbeda, lebih sering di lengan, tapi terkadang di pundak atau bahkan wajahnya. Aku tak pernah bertanya lagi, karna tiap kali kulontarkan pertanyaan sama, dia hanya akan cengengesan seperti tadi. Really, can’t leave her alone..

“Lo baik yah…” dia berkata menatapku dengan senyuman lemah lembut. Manis. Tak pernah gagal buat salah satu sudut hatiku bergerak aneh.

“Coba cowok gw kaya lo..”

Yeah, right.. “Itu karna tiap ada beginian, lo selalu lari ke gw.. Coba lebih ngandelin dia..”

“Don’t wanna..” dia menaikkan dagu.

“Childish..” aku mengacak rambutnya, lalu bangkit mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula.

“Biarin..” kali ini dia menggigit bibirnya. “Well, it’s not like I don’t want to rely on him… I just don’t wanna bother him.”

“And you think that I’m not bothered?”

“Emang nggak kan?”

Masih berdiri, kumiringkan wajah dan menghela nafas. “Bothered, really feel bothered.”

Dia semakin merengut. Membuang pandangannya ke luar jendela.

Menggodanya seperti ini sungguh menyenangkan. Menatap kebiasannya duduk di kursi itu sambil menatap jendela. Menikmati figurnya yang bermandikan cahaya. Jauh lebih indah dari pemandangan di luar jendela itu sendiri. Aku tersenyum, sambil menyandarkan diri pada lemari.

“Cowo itu seneng kalo diandelin ama ceweknya. Kalo gw jadi cowo lo, gw sih bakal ngamuk-ngamuk tiap kali lo datengin gw kaya gini. And for him to not angry because of that, itu nunjukin kebaikan juga pengertiannya. You should cherish him the most.”

“I do! But, I’m just scared… I mean, semua orang pasti pengen terlihat sempurna di depan orang yang mereka suka kan? Kalo gw ngerepotin terus, gw takut dia bakal bosen en ninggalin gw..”

“Dan lo gak takut, kalo gw bakal bosen en ninggalin lo?”

“You won’t!” dia membalikkan wajah, dan menatapku tajam.

“How so?” Tanyaku, sambil menatap lurus matanya.

“Karna lo baik…”

Aku menghela nafas.

“Begitu pun cowo lo. Kalo dia gak baik, lo gak bakal suka ama dia kan? Lo harus lebih percaya ama cowo lo. Semua orang seneng diandelin ama orang yang mereka suka.”

Dia terdiam. Aku menghela nafas lagi

“Ko lo terus-terusan hela nafas sihh? Dasar kakek tua.. I’m the one who choose who I want to rely on. And you..,” dia menatapku tajam, “are not allowed to leave me.” Ujarnya sambil menaikkan kaki ke kursi, dan memeluknya erat. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Selfish..”

“Biarin..”

Aku pun mendekatinya, ikut duduk di kursi itu sambil menatap ke luar jendela. Menikmati awan, dan entah apa lagi, yang bisa samarkan senyum yang tak bisa berhenti tersemat ini.

If to love is to live in you more than in myself, to hide great weariness under a mask of joy, to feel in the depths of my soul the odds against which I fight, to be hot and cold as the fever of love takes me, To be ashamed, when I speak to you, to confess my pain – if that is to love, then I love you furiously, I love you, knowing full well my pain is deadly. The heart says so often enough; the tongue is silent.
— [Taken from Sonnets pour Hélène by Pierre de Ronsard (1524-1585)]

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Sebuah Malam di Thamrin

25 Wednesday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@saputraroy, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Roy Saputra

Prepared by Client:
Roy Saputra (@saputraroy) 

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Gedung BI menjulang megah di sisi kiri. Departemen Agama berdiri di sebelah kanan. Para karyawan kedua instasi negara ini sudah pulang dari petang. Mobil lalu lalang di depan mata. Jalur busway bersih dari kontaminasi mobil pribadi.

Trotoar Thamrin ramai oleh calon penumpang yang sedang menunggu bus langganannya lewat. Berteduh di bawah pohon-pohon rindang yang ditanam di antara beton pelapis sisi jalan. Pedagang kopi bersepeda menjadi ornamen tersendiri bagi trotoar Thamrin. Lampu-lampu jalanan jadi penerang nomor satu. Memberi cahaya pada langit Jakarta yang sudah tak berbintang dari dulu.

Sebuah Kopaja seliweran tak beratturan. Sang kondektur yang berseragam menjajakan tujuan akhir dari rutenya. Tenabang, Tenabang. Begitu katanya. Seolah mengatakan Tanah Abang secara lengkap bisa membuatnya sesak napas. Kopaja itu lalu berkelok cepat di tikungan Departemen Agama. Si supir seperti lupa apa itu pedal rem.

Aku berdiri di situ. Di antara gedung BI dan Departemen Agama. Di bawah lampu jalanan dekat tikungan Kopaja tadi berbelok. Berkemeja dengan lengan dilipat, tas kugendong di belakang, dan sepasang earphone menggantung di telinga.

Mataku fokus melihat ke depan. Menatap plang biru Bangkok Bank yang ada di seberang jalan sana. Menanti mobil dari arah Sudirman dan sebaliknya berhenti melintas. Tepat di sebelahku, motor-motor juga sedang menunggu. Gas mereka tarik dalam posisi gigi netral. Seakan mereka pembalap yang sedang menanti aba-aba.

Yang aku dan mereka tunggu hanya satu. Detik lampu lalu lintas, berubah dari merah jadi hijau. Karena ketika itu, motor akan meliar, mobil pasti memadati jalan Kebun Sirih, dan aku bisa menyebrang jalan dan bertanya pada seseorang di sana. Seseorang yang kusebut mantan.

Ia sedang berdiri dengan blazer hitam dan celana panjang. Mendekap tas di depan, seperti terakhir kali dia mengucap pisah. Entah ia tau atau tidak keberadaanku yang sedang mengamatinya dari jauh. Perjumpaan tak sengaja ini tak akan kusiakan. Akan kutanya satu hal yang dari dulu menggangguku.

Kenapa kita putus?

Waktu ia mengucap pisah, itu hanya lewat pesan singkat. Kubalas dengan geram namun tak ada balasan. Ditelpon pun tak diangkat. Entah apa maunya. Setelah hari itu, tak ada kabar berita. Kutanya temannya, semua enggan menjawab. Kudatang ke rumahnya, tak ada yang membukakan pintu. Ia bagai hilang begitu saja. Namun, dua purnama kemudian, aku tak sengaja melihatnya.

Hari itu hari Rabu. Pukulnya pukul tujuh. Entah siap atau tidak, aku ingin mendengar darinya langsung tentang kenapa kita putus. Lebih baik hidup menderita karena kejujuran daripada mati menyesal penasaran. Malam ini, akan ku dapat jawab darinya.

Ah.

Yang ditunggu tiba juga. Lampu lalu lintas berubah jadi hijau.

Dan aku menyebrang jalan.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Create a free website or blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d