• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Tag Archives: fiksi

Seratus Dua Puluh Detik

10 Sunday Jun 2012

Posted by gelaph in Estafet Working-Paper

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph. Grahita Primasari, cerbung, cerita cinta, cerita pendek, fiksi

Prepared by: GP
Reviewed by: MH 

Matahari telah terlelap ketika Cherry gue pacu keluar mall. Gagal sudah keinginan gue untuk memanjakan diri di salon. Hilang mood. Sebagai gantinya, gue malah pergi ke supermarket guna berbelanja keperluan bulanan.

Lampu merah menyala. Menghitung mundur seratus dua puluh detik sebelum akhirnya berganti hijau. Seratus dua puluh detik. Dua menit. Lumayan lama juga.

Ekor mata melirik jam tangan. Ah, sudah delapan menit lewat dari jam tujuh malam.

Astaga. Bahkan kegiatan melihat jam tangan pun dapat mengingatkan gue lagi dengannya. Gue ingat, ketika sedang menulis, ia harus berhenti menggerakkan pulpennya demi mengetahui jam berapa sekarang. Apabila sedang minum, ia terpaksa memindahkan gelasnya ke tangan kiri, sebelum akhirnya bisa melihat jam tangan.

“Kenapa pake jam tangan di sebelah kanan sih?” Protes gue pada suatu waktu. Saat itu tangan kanannya melepaskan genggaman tangan kiri gue demi mengecek, sudah terlalu larutkah bagi kami berdua dalam menghabiskan waktu bersama.

Ia hanya tersenyum. Tangan kanannya menggapai telapak tangan kiri gue. Jari-jari kami pun kembali bertautan, tergenggam erat satu sama lain.

“Kalau gue make jam di tangan kiri, jam tangan kita nggak akan pernah ketemu. Liat deh. Mereka bakal jalan sendiri-sendiri. Kasian kan?” Katanya sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Ya, gue mengenakan jam tangan di sebelah kiri. Sedangkan ia, di tangan kanannya. Dan kami selalu tersenyum berpandangan penuh arti apabila kedua jam tersebut bergesekan, ketika kami bergandengan tangan.

Makanya gue benci melihat pemandangan di mallsore tadi. Bahwa ada tangan kiri lain yang bertaut dengan tangan kanannya. Wanita itu mengenakan jam tangan di sebelah kiri, persis seperti gue.

Lampu hijau menyala.

Thanks, God.Dua menit yang ditunggu akhirnya datang juga. Klakson berbunyi sana sini, khas Jakarta. Pertanda para pengemudi sudah tak sabar untuk segera memacu kendaraannya.

Cherry tepat berada di depan lampu lalu lintas ketika akhirnya si merah kembali menyala dan menghitung ulang seratus dua puluh detik. Lirikan maut polisi di ujung sana membuat gue tidak berani mengambil resiko dengan menorobos lampu merah.

Ah…sial. Maki gue dalam hati. Seratus dua puluh detik kedua yang harus dilewati malam ini. Dan lagu Tertatih oleh Kerispatih ter-shuffle di CD player Cherry. Seolah turut berbela sungkawa atas keadaan gue hari ini.

Begitu dalamnya aku terjatuh…
Pada kehampaan rasa ini…
Jujur… Aku tak sanggup…
Aku tak bisa…
Aku tak mampu…
Dan aku tertatih…
Semua yang pernah kita lewati…
Tak mungkin dapat kudustai…

Mendadak hujan turun. Langsung lebat. Seperti ada sepasang tangan raksasa yang menyiram permukaan bumi dari angkasa. Sontak pengguna jalan berlarian. Mencari tempat berteduh terdekat dari jangkauan.

Tak disengaja, mata gue terpaku pada seorang anak lelaki. Berusia kurang lebih sepuluh tahun. Berperawakan sedang, cenderung kurus. Kulitnya hitam, pertanda sering terbakar matahari. Sekarang ia basah kuyup, badannya menggigil kedinginan.

Berhenti di halte bus, ia meletakkan barang bawaan yang dipanggulnya. Semacam tongkat panjang yang diletakkan di bahu, yang di kedua ujungnya terdapat keranjang anyaman bambu.

Keranjang anyaman bambu tersebut dijadikan tempat duduk olehnya. Setelah gue teliti, ternyata kedua keranjang tersebut berisi cobek. Iya, cobek. Alat untuk mengulek sambal atau bumbu masakan. Terbuat dari batu. Berat sekali tampaknya.

Gue mengernyitkan dahi, bingung. Anak berusia segitu, jam segini, memanggul cobek? Siapa yang mau membeli benda tersebut di sini? Oh, atau mungkin ia baru saja pulang sehabis berjualan di pasar tradisional di perempatan sebelum ini.

Sang anak duduk termenung. Menunggu hujan reda. Barang dagangannya masih penuh, pertanda dewi fortuna belum mengunjunginya hari ini. Kedua tangannya tergenggam satu sama lain, diletakkan di depan mulut. Mengusir hawa dingin yang datang bersamaan dengan hujan.

Seketika, gue merasa tertampar keras di wajah. Ia masih belia, namun sudah harus memikul perjuangan berat hanya untuk bertahan hidup. Sementara gue? Beban terberat yang pernah gue rasakan hanyalah…patah hati.

Suara klakson mobil bersahut-sahutan seolah membentak gue untuk segera bangun dari lamunan.

Dan gue pun segera menjalankan Cherry perlahan. Konyol sekali rasanya kalau sampai harus terjebak selama seratus dua puluh detik untuk ketiga kalinya, di tempat yang sama.

***

Senin pagi. Identik dengan kesiangan atau terlambat bangun pagi. Kali ini penyebabnya adalah alarm telepon genggam tidak menyala. Gara-garanya ia mati kehabisan baterai, dan pemiliknya ini ketiduran semalam. Terlalu lelah untuk memberinya makan terlebih dahulu.

Tergesa-gesa gue menyusuri lobi, menuju ke lift. Untungnya gue kenal baik dengan para satpam gedung ini. Jadi gue bisa mempercayakan Cherry untuk dicarikan parkir oleh salah satu dari mereka.

Sambil menunggu lift, gue merapikan rambut. Dan pakaian. Serta napas yang masih memburu kencang.

Okay…. rileks…

Tarik napas….. Buang napas….

Tarik napas lagi….. Buang napas lagi…..

Tarik napas……

Hhhffftttt…..

Nyaris saja gue lupa membuang napas lagi ketika melihat sesosok lelaki yang tampak familiar berjalan mendekat.

Oh, God. No. Please, not now.

Sambil mengatur napas, gue berdoa dalam hati. Mudah-mudahan lelaki itu bukan dia. Gue belum siap bertemu dengannya saat ini. Semoga gue salah lihat, karena gue nggak mengenakan kaca mata gue pagi ini. Demi semua dewa dewi lift, please God. Please.

TING!

Syukurlah pintu lift akhirnya terbuka. Secepat kilat gue memasuki lift. Gue sempatkan untuk melirik ke arah lelaki mencurigakan itu. Dan, ah. Ternyata dewa dewi lift sedang tidak bersahabat. Doa gue tak terkabul.

Lelaki itu memang dia.

Rambut ikal, hidung mancung, kemeja abu-abu. Seratus persen itu memang dirinya. Gue tidak salah lihat.

Okay, Blackberry mana Blackberry? Dengan gaya yang sangat di-cool-cool-kan, gue mengambil Blackberry dari dalam tas. Ah, sial. Tidak ada notifikasi apapun di sana. Nobody miss me.

Demi menghilangkan grogi, gue membuka linimasa Twitter. Kata-kata berseliweran di depan mata, tanpa ada satupun yang tertangkap di kepala.

Gue melirik ke penunjuk lantai di bagian atas lift.

Astaga naga terbang! Dari tadi baru sampai lantai tiga? Perasaan udah lama banget deh.

Mata gue terus mengawasi penunjuk lantai.

Lantai empat. Seorang wanita oriental berkemeja pink keluar, berbarengan dengan seseorang yang tampaknya merupakan teman lelakinya.

Lantai lima. Di Twitter ternyata sedang ramai permainan tagar #CapekGakSih. Ingin rasanya mem-post “#CapekGakSih satu lift sama #nomention?”, tapi itu terdengar terlalu kekanak-kanakan. Jadi gue batalkan.

Lantai enam. God please. Dua lantai lagi.

Lantai tujuh. Lift berhenti lagi. Seorang lelaki gemuk pendek bermata besar, masuk. Ia menekan angka sepuluh sebagai lantai tujuannya.

Gue mengalami seratus dua puluh detik mengingat caranya mengenakan jam tangan. Seratus dua puluh detik berikutnya mengamati bocah si pedagang cobek. Namun, rasanya tidak ada yang lebih lama dari seratus dua puluh detik di lift bersama dia, orang yang pernah gue sayang. Oh, atau mungkin sebenarnya masih gue sayang.

Saatnya melangkah keluar. Apakah gue harus menoleh ke belakang, sekedar memberi senyuman?

Sepersekian detik, gue merasa bimbang.

Tapi akhirnya gue memutuskan untuk tidak membuang energi. Yang berlalu, biarlah berlalu. Karena diri gue menolak untuk melihat ke belakang. Baik secara harfiah, maupun secara istilah. Terima saja, sayang.

TING!

(to be continued…)

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Satu Hari Tanpa Koma

10 Thursday May 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 1 Comment

Tags

@deardiar, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Diar Trihastuti, fiksi

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Ganesh

Jam menunjukkan pukul 21.15. Sudah tiga gelas kuminum demi orang yang aku sendiri tidak tau  harus kutemui atau tidak. Tidak sesuai janjinya, sudah hampir 2 jam aku menunggunya.

Sendiri.

Di kafe favorit kami, dahulu.

Aku kembali melihat smartphone di tanganku, apa sebaiknya ku-chat atau tidak. Dan kembali, yang kulakukan hanya membaca potongan-potongan percakapan kami melalui WhatsApp kemarin.

Lolita : Kamu yakin mau ketemu aku? Gendut banget lho aku sekarang
Ganesh : hahaha.. kenapa nggak? Lagian aku udah tau segendut apa kamu
Lolita : Lho? Tau darimana?
Ganesh : Lah.. 
itu profile picture kamu di what’s app isinya pipi semua. 
Itu aja baru mukanya, apalagi badannya
Lolita : hahaha… oke jam berapa?

Kubaca kembali, sambil tersenyum sendiri. Entah mengapa membacanya saja sudah sanggup membuat mukaku memerah. Pffftt…. Sudah lama aku tidak merasakan seperti ini…lagi. Mungkin hanya dia wanita yang bisa membuatku seperti ini.

 

Lolita

“Jadi…?” Aku mengaduk hot chocolate yang sudah mulai dingin, “aku ketemu dia nggak ya?”

“Menurutku sih nggak usah, toh dia juga dulu yang memilih ninggalin kamu,” sahut wanita manis di seberangku.

“Hmmm iya sih. Tapi aku penasaran sekarang dia kayak gimana. Lagipula kan dia dulu ninggalinnya juga karena kita LDR, dia sekolah lagi ambil S2 di Berkeley,” belaku.

“Kamu yakin karena itu? Bukannya lebih tepatnya dia pergi jauh – jauh keluar negeri karena kamu minta dikawinin?“ Ucapnya seperti memberikan pertanyaan retoris.

“Aku nggak minta dikawinin. Aku cuma nanya, rencana ke depannya kayak gimana,” sanggahku.

“Iya, abis itu dia pergi kan. Lariiiii dari keinginan berkomitmen, dengan sok – sok bilang mau sekolah biar abis itu bisa langsung nikah sama kamu. Nyatanya? Makin lama dia disana, yang ada adalah omongan ‘aku mau aku begini’, bukan ‘aku mau nanti kita begini’. Ya kan?” Cerocos Vaya panjang lebar.

Aku terpekur. Tertohok. Ya, memang seperti itu. Dan kembali mataku berkaca – kaca

“Setelah tiga tahun kamu ditinggalin dia dan merasa tersakiti, masih tetap sayang ya kamu ternyata sama dia?” Tanya Vaya bernada prihatin.

“Nggak kok. Aku cuma keinget aja rasa sakit waktu itu,” sahutku sambil cepat – cepat mengambil tisu sebagai langkah siaga pencegahan pertumpahan airmataku, takut menjadi pemandangan para pengunjung restoran yang melihat kami mulai memainkan “drama”. Susah memang berkelit dengan psikiater seperti sahabatku ini. Pekerjaannya sehari – hari memang bermain dengan jiwa dan hati orang. Walau kuakui dia sangat pandai menjaga hatinya sendiri. Tak pernah sekalipun kudengar dari bibirnya kalau dia disakiti oleh lelaki. Mungkin yang ada kebalikannya

“Loli, oke gini deh. Kalau kamu tetep mau ketemu dia, aku temenin. Tapi sekali lagi aku liat kamu ditangisin dia lagi, aku samperin dia dan aku nggak mau janji apa yang bakal terjadi sama dia ataupun kamu nantinya,” ujar Vaya berapi-api.

Oke, sepertinya aku harus berfikir ulang. Wanita di depanku ini bersabuk hitam, dan dia termasuk orang yang sangat menepati omongannya. Dan akhirnya dengan berjanji dalam hati bahwa tidak akan ada airmata lagi, setidaknya depan Vaya atau Ganesh, aku mengangguk pasti.

“Oke Vay, temani aku ya. Tapi kamu nunggunya di meja lain aja. Pura – pura nggak kenal sama aku. Biar aku bisa mengorek lebih jauh tentang dia selama tiga tahun ini dengan berduaan aja,” pintaku

Sekilas dia nampak keberatan namun akhirnya yang keluar dari bibirnya hanya. “Sip! Yuk kita pergi!”

Vaya

Gue gagal mencegah Lolita pergi. Pfft.. mungkin memang sekarang waktu yang tepat untuk Lolita akhirnya tau. Tiga tahun ternyata bukan waktu yang cukup untuk dia melupakan Ganesh. Semoga setelah pertemuan ini, dia tetap menjadi Lolita yang gue kenal. Ya Tuhan, jagalah hati Lolita.

Bertemu

Ganesh

Dia tetap cantik seperti dahulu. Tak menyesal rasanya aku menunggunya berjam – jam. Mungkinkah dia ke salon dulu sebelum bertemu aku? dalam hati aku tersenyum. Ah andai saja..

“Hai Lolita, kamu nggak berubah. Tetap cantik,” ucapku sambil memeluknya erat dan merasakan harum rambutnya. Ternyata dia masih menggunakan shampoo yang sama.

“Eh Hai Ganesh, apa kabar?” Balasnya dengan terengah – engah. Apakah dia habis lari?

Seorang pelayan datang, memecahkan keheningan diantara kami yang entah mengapa dalam diam saja aku merasa nyaman dengan wanita yang pernah mengisi hidupku selama empat tahun.

“Mau pesan apa mbak?” Ujar pelayan itu, tanpa bertanya kepadaku. Ya, aku sudah pesan 4 gelas selama menunggunya. Buat apalagi kan? Dengan memandangnya saja, rasanya dahagaku sudah hilang.

“Baileys,” ujarku bersamaan dengan bibir mungilnya. Aha! Aku masih ingat apa yang dia selalu pesan di café bergaya apartment ini.

Susah memang tiga tahun tidak bertemu, namun begitu banyak yang ingin disampaikan. Sehingga saat benar-benar bertemu seperti ini, kami atau setidaknya aku, bingung untuk memulai pembicaraan dari mana.

“Jadi, kamu dapet darimana nomor handphone-ku?” tembak Lolita. Ya, sejak kami putus dan Lolita memutuskan untuk mencoba melupakan kebersamaan kami, dia mengganti semua nomor yang biasa kuhubungi

“Oh itu, aku nemu di yellow pages, ada namanya Lolita cantik mempesona, ya udah aku simpan deh di handphone-ku. Ternyata kamu punya WhatsApp dan here we go,” ucapku menggodanya

“Seriusan deh….kalau nggak aku pergi lagi nih,” jawab Lolita sambil bergegas ingin mengambil tasnya yang langsung kutahan.

Aku menahannya langsung dan sambil tersenyum berkata, “Lolita, kalau kamu nggak ingin dihubungi sembarang orang, kenapa kamu kasih nomor handphone kamu di linked-in (situs lowongan pekerjaan berbasis social media)”.

“oh.. itu.. aku .. kan itu buat headhunter yang nawarin aku kerjaan, bukan buat lelaki iseng kayak kamu!” sahutnya mulai mencair. Ah.. tawanya.. seandainya aku bisa selalu membuatnya tertawa seperti itu… hfff…

“Iya, jadi ceritanya aku mau pindah Negara, tapi yaa aku harus cari – cari pekerjaan baru lagi kan. Jadilah aku bermain di situs itu dan nemuin kamu,” ujarku berusaha memamerkan gigi putihku.

“Oh ya? Kamu mau pindah ke Negara mana lagi? Nggak bosen – bosen yah melarikan diri,” ujarnya sambil menyeruput Baileys kesukaannya pelan – pelan.

Aha! Jleb! Kata – kata melarikan diri itu sepertinya memang sudah patut kuterima dari dulu.

Sepertinya setelah sekian lama aku menghilang dan memberikan dia kekacauan batin yang luar biasa, inilah saatnya aku menjawabnya… sesuai dengan janjiku pada wanita di ujung sebrang sana.

Lolita

“Aku mau menikah,” ucap lelaki di hadapanku. Jleb! Rasa itu makin menjadi. Mataku mulai berkaca – kaca. Oh Tuhan, setelah tiga tahun menanti, dan ternyata inikah jawabannya?

“Wah, selamat Ganesh! Akhirnya ada yang bisa bikin kamu berkomitmen yaaa,” ucapku menguatkan diri berusaha tersenyum.

“Terimakasih Lo-li-ta,” ucapnya sambil menggenggam tanganku. Tapi buat apa? Toh sudah ada wanita lain yang bisa dia genggam. Namun aku tak kunjung melepaskan genggaman tangannya. Terpekur dalam pikiranku sendiri. Empat tahun pacaran denganku, tapi lelaki ini tidak kunjung berkata ingin menikahiku. Dan dengan selang tiga tahun berpisah denganku, ada wanita lain yang membuatnya tergerak untuk menikah. Oh Tuhan, bolehkah aku mati saja?

“Aku bertemu dia di California waktu kuliah dulu, waktu itu pelajaran …………….. dan akhirnya aku menyadari, bahwa dialah yang selama ini kucari, yang ingin kunikahi”.  Aku sudah tidak terlalu mendengar apa yang dia jelaskan karena pikiranku menerawang. Hanya bisa mendengarnya sepotong – potong.

“Kenapa bukan aku, Ganesh?” akhirnya kata – kata itu muncul dari bibirku.

“Lolita, aku sayang sekali sama kamu. Kamu pasti tau itu. Tapi aku nggak bisa nerusin hubungan kita ke jenjang pernikahan,” jawabnya pilu

“Iya nesh. Tapi kenapa?” suaraku mulai meninggi. Aku tidak pernah mendapatkan inti dari permasalahan kenapa aku diputuskan. Aku terlalu penuntutkah? Aku sudah tidak menarik kah? Atau???

“Kamu tau selama 4 tahun kita pacaran, aku selalu menjaga kesucianmu. Aku tidak pernah berusaha menodai kamu.”

“Iya. Aku tau. Itu pasti karena kamu sayang aku kan?”

“Iya dan umm… tidak”

“Maksud kamu?”

“Iya, benar aku sayang kamu. Tidak, karena ternyata aku menyayangimu mungkin tidak lebih dari sebagai adik”

“Apaaa???!!!”

Aku sudah mulai tak tahan. Aku tak peduli jika Vaya akan langsung datang dan menghajar lelaki di depanku yang pernah menjadi kesayanganku ini

“Aku tidak bisa memberikan kamu anak, Lolita. Bahkan untuk mencoba membuat anak denganmu pun aku tak bisa.”

Mataku sudah kabur dengan airmata. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sosok yang sekarang terasa asing buatku.

Vaya

“Lolita, akulah calon istri Ganesh,” ucapku pelan.

“Apa maksud kamu, Vaya?” Tergagap Lolita menganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Mungkin dalam pikirannya, orang yang selalu dipercaya untuk tumpah ceritakan segala isi hatinya, ternyata merampas tambatan hatinya.

“Tapi… Kamu tidak pernah kuliah di California, Vaya! Please jangan bohongi aku!” hentak Lolita sudah mulai lepas kendali.

“Iya, kakakku yang kuliah disana Lolita. Kamu inget kan?” ucapku berusaha menenangkannya.

“Terus? Apa hubungannya denganmu? Kenapa kamu yang menikah dengan Ganesh-ku?” Lolita sudah tidak mengerti dan merasa menyesal kenapa tadi tidak benar – benar menyimak pertemuan Ganesh dengan pacar barunya.

“Kakakku laki-laki, Lolita. Apa kamu lupa?” ucapku getir.

Lolita terlihat tergugu. Berusaha menyerapnya. Dan akhirnya menoleh ke orang yang pernah amat sangat dia cintai. Mencoba mencari jawaban.

“Aku gay, Lolita. Dan itu baru kusadari setelah kuliah disana, menghabiskan hari-hariku disana. Disanalah aku menyadari mengapa aku selalu ingin melindungimu, namun tidak pernah memiliki hasrat untuk melakukan apapun denganmu. Dan ya, aku jatuh cinta, cinta yang juga memiliki nafsu di dalamnya dengan Haris, kakak Vaya,” ucapnya berat menghela nafas.

“….”

“Namun atas nama adat ketimuran, dan agama, kami tidak bisa menikah. Hanya dengan kebaikan hati Vaya, yang juga kakaknya Haris, dia mau berkorban agar kami dapat tinggal serumah dengan cara yang halal,” sambung Ganesh lagi.

“Halal maksudmu dengan menikahi Vaya, namun sebenarnya yang kau nikahi adalah Haris???” Lolita membelalak tak percaya.

Lolita

Aku sekarat. Setidaknya itu yang aku rasakan sekarang. Aku kehilangan lelakiku dan juga sang sahabat kesayangan. What could be worse?

“Iya Lolita,  maafkan aku. Aku tidak bisa menjelaskannya selama ini via Skype, telpon atau apapun tentang hal ini. Aku pun tau ini salah, tapi ini hatiku yang berbicara. Di sisi lain, hanya kamu wanita yang dapat membuatku tertarik, merasakan getaran-getaran apalah itu namanya. Tapi di lain sisi,aku tau aku tidak normal. Setidaknya menurut kaum awam begitu. Aku ingin menghabiskan hidupku dengan Haris, melalui menikahi Vaya”. Mata Ganesh mulai sendu. Aku langsung tau dia tidak bermaksud membohongiku selama empat tahun kami bersama. Empat tahun  dan dia baru menyadari bahwa dirinya gay. Oh great!

“Namun bagaimana dengan Vaya? Dia pasti juga ingin punya masa depan yang indah! Anak yang lucu – lucu dengan suaminya yang NORMAL nanti,” ucapku sambil menekankan kata – kata NORMAL. Ya Tuhan, aku ingin hari ini tidak terjadi. Aku ingin tidak tau hal ini!

“Masa depan yang indah buatku adalah melihat kita semua bahagia bersama. Kakakku dengan Ganesh. Aku dan kamu. Aku cinta kamu, Lolita. Dan aku ingin kamu menikah dengan kakakku, agar nanti kita bisa tinggal serumah bersama. Maukah kamu menghabiskan hidupmu denganku?” ucap Vaya menggenggam tanganku erat.

“……….”

 -THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

My Kind of Guy

30 Monday Apr 2012

Posted by gelaph in Cerita Cinta

≈ 6 Comments

Tags

@gelaph, cerita pendek, cerpen, fiksi, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Layar laptop berkedip-kedip, pertanda ada pesan masuk. Karena sedang tanggung dengan spreadsheet, gue mengacuhkan pesan itu untuk sementara waktu.

Kecepatan detak jantung gue nyaris setara dengan seorang pelari cepat jarak pendek ketika mengetahui siapa pengirim pesan tersebut.

Raka:
Busy?

Si lelaki pencepat-detak-jantung ini cukup mengirim satu kata. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat gue kebingungan harus menjawab apa. Okay, kita lihat saja apa maunya.

Grahita:
Nope. You?
Raka:
I’m bored.

Well, percakapan satu dua kata. Akan gue jaga sesuai keinginannya.

Grahita:
Hmm…. So?
Raka:
I’m sleepy also.. 
So why don’t we go downstair and get some coffee there? 

Shoot! To-the-point man! My kind of guy.

Grahita:
Sounds great. Let’s!

Kedai kopi di lantai dasar gedung ini pun menjadi tempat tujuan utama. Tidak banyak yang berkunjung, mengingat ini masih terhitung office hour. Akan berbeda halnya jika kami berkunjung selepas jam kerja. Pasti penuh sesak oleh pegawai kantoran di sekitar sini.

Dua cangkir kopi menemani istirahat kami sore itu. Triple Shot Espresso untuknya yang merasa super-ngantuk, dan Dark Mocha untuk gue yang tidak suka kopi pahit. Kami mengobrol ringan saja, seputar sisi lain lingkungan pekerjaan dan hobi di kala senggang.

Dari ceritanya, gue mengetahui kalau dia sudah empat tahun di kantornya sekarang. Dan kebetulan, assignmenttahun ini membuatnya ditempatkan di kantor gue.

Ya, Raka adalah auditor perusahaan tempat gue bekerja. Ia berbadan tegap, berwajah oriental, dan berkaca mata minus tipis. Walaupun tampilannya terlihat serius, ternyata ia sangat kocak. Humoris. Again, my kind of guy. Perempuan mana yang tidak suka dengan lelaki humoris?

And… By the way, tahu auditor itu apa?

Hmmmm…

Okay, gue jelaskan sedikit.

Auditor, berbeda dengan editor, adalah orang yang berprofesi untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan. Apakah laporan keuangan suatu perusahaan telah ditampilkan dengan wajar, tidak ada yang overstated ataupun understated.

Tahu BPK? Badan Pemeriksa Keuangan? Nah, itu contoh auditor pemerintah. Kalau Raka, berasal dari kantor swasta. Istilah umumnya sih kantor akuntan publik.

“You said that you’re bored? And sleepy?” Gue menyedot Dark Mocha, “how come?”

Raka tersenyum tipis, “I’m overloaded, not enough sleep. So much to do with very little time. I think I can bang my head against the notebook. Just like… Bang! Bang! Bang!” Raka berakting seolah-olah membenturkan kepalanya ke meja, dan kami pun tertawa berdua.

Di dunia pergaulan gue, sangat jarang ada orang yang bisa menertawakan kepedihannya sendiri. Dan gue menyukai orang-orang yang dapat melihat sisi positif dari kesulitannya. Satu poin plus untuknya. Oh, my kind of guy, again.

Beberapa saat kemudian, terdengar alunan musik jazz dari telepon genggam miliknya. Bukannya mengangkat, ia malah berkata, “my boss. Going back to the cage, shall we?”

Sambil membenahi rambut, gue mengangguk.

Kami berdua berjalan menyusuri koridor gedung pencakar langit ini. Menuju lift yang akan mengantarkan kami kembali ke lantai 24, sang kantor tercinta.

Sebelum akhirnya pintu lift terbuka, telepon genggam milik Raka berdering lagi. Syukurlah ia tidak mengenal teknologi anti spy untuk layar teleponnya, karena gue bisa melihat dengan jelas nama yang terpampang di sana.

Anastasia.

“Who’s calling?” tanya gue santai.

“Hmmm.. My boss again,” Raka terlihat kikuk, “it must be very urgent.”

“Calm down,” gue meremas bahunya, ”everything is under control.”

Ia tersenyum lebar. Dan saat itu gue mengetahui bahwa ia sangat manis dengan lesung di kedua pipinya.

Anastasia.

Siapapun perempuan itu, anggap saja ia bernasib sial.

Because Raka, is really my kind of guy.

Pintu lift terbuka lebar. Hanya ada dua orang di dalamnya.

Raka menggamit tangan gue, menuntun masuk ke dalam lift. Gue menekan tombol 24 sambil mengulum bibir. Masih ada rasa Espresso pahit di sana. Ya, Triple Shot Espresso, minuman milik Raka.

My kind of guy is must be a good kisser, and love to play. Raka got both of them.

Senyum gue lempar ke arahnya, yang dibalas dengan bisikan di telinga, “you drive me crazy when smiling.”

Pintu lift terbuka lebar, menunjukkan lobi lantai 24. Gue tidak membalas kalimat terakhirnya, malah mengedikkan kepala dan mengibaskan rambut ke belakang, sambil berjalan keluar lift. Suatu gerakan yang gue yakin membuat parfum dari leher berhembus samar ke indra penciumannya. Membuatnya makin penasaran dan lupa daratan.

Dan suara tak-tok-tak-tok high heels gue ketika beradu dengan lantai seolah berkata…

You wanna play? Let’s play, darling.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Matahari, Bumi, dan Bulan

29 Sunday Apr 2012

Posted by gelaph in Fiction & Imagination

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph, bulan, bumi, cerita pendek, fiksi, Grahita Primasari, matahari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

 

Bumi

Ah, kemana lagi si Matahari? Tidak tahukah ia di sini aku merindukannya? Apa sajakah gerangan hal yang menjadi urusannya sampai-sampai ia sering menghilang?

Bulan

Aku selalu mengagumi Bumi. Ia begitu cantik. Warna biru lautannya bercampur indah dengan warna hijau daratannya. Apalagi kalau ia mengenakan awan putihnya, berarak di atas pelupuk matanya, sungguh aku jatuh cinta. Tapi tampaknya ia sangat mencintai Matahari. Si makhluk angkuh yang semena-mena, yang selalu menutupi keberadaanku dengan kekuatan cahayanya.

Matahari

Aku capek dengan Bumi. Kerjanya mengomel terus tiada henti. Aku berikan cahaya untuk menumbuhkan pepohonannya, ia bilang ia kepanasan. Saat aku menyingkir dan membiarkan Hujan menumpahkan air matanya, ia bilang ia kedinginan. Saat aku bersamanya, ia mengenakan awan putihnya, tak mau menatapku. Saat aku tak ada, ia mencariku. Sungguh aku tak mengerti jalan pikirannya.

Bumi

Dan hey, siapa itu yang muncul di balik pekat malam? Menarik juga dia. Tampan dan tenang. Cahayanya sungguh lembut menyentuh wajah.

Bulan

Akhirnya ia menyadari keberadaanku. Ia harus tahu bahwa selama ia sibuk mengelilingi Matahari, aku selalu berada di dekatnya, mengelilinginya, berharap bahwa ia menyadari aku akan selalu ada untuknya. Dan malam ini, aku sedang dalam kondisi terbaikku, purnama. Kulemparkan senyum dan kuajak ia bersenda gurau. Kubiarkan ia berkeluh kesah. Hanya itu yang dapat kuberikan kepadanya. Mana sanggup aku memberikan cahaya yang ia butuhkan untuk menumbuhkan pepohonannya? Mana sanggup aku menyelaraskan Merkurius, Mars, Venus, dan lain-lainnya itu agar tetap berada di lintasan masing-masing dan tidak mengganggunya?

Matahari

Akhir-akhir ini aku merasa bahwa Bumi agak aneh. Ia tidak sering cemberut seperti biasanya. Cemberut yang menyebabkan lempengan wajahnya bergeser dan membuat gempa. Atau marah-marah sambil melontarkan kerikil-kerikil panas dari kawah berapinya. Apa yang terjadi padanya? Ia tampak, bahagia? Ah tapi sudahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Bumi

Dan hey, apa ini? Kenapa banyak kupu-kupu beterbangan di sekitar khatulistiwaku? Semakin lama semakin banyak, membuatku mau tak mau jadi tersenyum melihatnya. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi? Dengan sosok lembut nan menenangkan itu? Ah, mengingatnya saja sudah mampu membuatku mengundang Bu Pelangi ke rumah, padahal Pak Hujan sudah lama tidak kuajak mampir.

Matahari

Tampaknya aku tahu apa penyebab keanehan Bumi akhir-akhir ini. Aku memergokinya sedang bercanda tawa dengan Bulan. Ia tampak sangat bahagia. Garis bawahi kata “sangat”.

Bulan

Kenapa malam berlalu begitu cepat? Tumben Matahari bangun lebih awal, jadi tadi ia sempat melihatku sedang mencela Bumi gara-gara ia bilang kalau ia lupa membersihkan salah satu sungainya. Astaga, cantik-cantik jorok ya dia ternyata? Hahaha. Tapi aku tetap mencintainya, dan ia hanya perlu tahu hal itu. Itu saja sudah cukup bagiku.

Bumi

Ah, aku bingung sekali. Pagi itu Bulan menyatakan perasaannya padaku. Bahwa ia sangat mencintaiku. Sungguh, yang ingin kulakukan saat itu hanyalah memeluknya, tapi entah kenapa aku malah berlari menjauhinya. Aku tak sanggup berlama-lama menatap mata teduhnya. Aku takut aku makin jatuh cinta. Aku tidak mungkin mengkhianati Matahari yang begitu setia menjagaku. Aku tidak bisa. Itu saja.

Matahari

Ada apa dengan Bumi? Kenapa beberapa hari ini badai tsunami menghiasi wajahnya? Begitu aku mendekat untuk menghiburnya, ia malah makin terlihat merana, menolak untuk kudekati. Baiklah, akan kubiarkan ia sendiri saja dulu untuk menenangkan dirinya.

Bulan

Sungguh aku sedih sekali melihat Bumi beberapa hari ini. Sakit rasanya melihat ia bergulung dengan kesedihan. Mungkin memang ini yang terbaik untuk semuanya. Kalau aku mengikuti egoku, akan kubawa ia agar selalu bersamaku. Tapi aku tahu, itu tidak baik untuknya. Ia bisa mati tanpa keberadaan Matahari. Tampaknya aku yang harus menarik diri dari kehidupannya. Agar ia bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa. Pertanyaannya, mampukah aku hidup jauh darinya?

———————————————————————————————————————————————————————

Dari kejauhan Sang Sutradara tersenyum melihat ketiga aktornya. Ia telah merancang skenario untuk mereka bertiga. Pada suatu waktu, ia akan memercikkan api cemburu sedikit lebih banyak pada Matahari dan menambahkan sejumput ego pada Bulan. Hal ini akan membuat perang antara keduanya tak terelakkan, dengan Bumi sebagai pelerai. Sehingga pada akhirnya, mereka bertiga akan hancur, lebur, lalu kembali kepada ketidakadaan.

-Jakarta, 11 Desember 2011-

 

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

How I Met Your Mother

22 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@dendiriandi, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Dendi Riandi, fiksi, how I met your mother

Prepared by Client:
Dendi Riandi (@dendiriandi)

Keringat bercucuran dari seluruh tubuhku. Udara siang hari yang cukup panas membuatku malas melangkahkan kaki ke arah antrian pemeriksaan paspor itu. Sebenarnya aku lebih menyukai perjalanan malam hari. Selain udara malam yang sejuk, di malam hari aku bisa tertidur tanpa harus berkali-kali melirik jam tangan, menghitung sudah berapa lama perjalanan dan berapa lama lagi akan sampai. Tapi apa boleh buat, perjalanan antar negara ini tidak ada jadwal malam hari. Semuanya perjalanan dilakukan pada siang hari.

Selesai urusan keimigrasian, bus yang kutumpangi kenbali berjalan lagi. Setelah tiga hari berada di Vietnam, akhirnya aku menyebrang perbatasan juga. Menuju Kamboja.

Sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat di Vietnam. Kota Ho Chi Minh terbilang cukup sepi. Seluruh museum dan tempat wisata sudah habis kukunjungi. Sebenarnya masih ada kota yang belum kukunjungi, yaitu Hanoi. Namun sayang, kota itu terlalu jauh, berada di ujung utara Vietnam. Jika ditempuh dengan perjalanan darat, butuh waktu 4 hari pulang pergi. Jatah cutiku bisa habis tak terasa. Jika ditempuh dengan pesawat, cukup menguras kantong dan membuatku bangkrut.

***

Sudah lebih dari setahun sejak perjalanan solo backpacking terakhirku menyebrangi semenanjung Malaka, dari ujung Singapura hingga kota Bangkok di Thailand. Seperti perjalananku sebelumnya, tujuan traveling kali ini pun sama. Kakiku melangkah karena hati yang patah. Aku mencoba mengambil jarak, untuk melonggarkan hati yang sesak. Tapi kali ini bukan karena seseorang, tapi sepuluh orang.

Iya. Sepuluh. Orang. Wanita.

Sudah lebih dari satu setengah tahun semenjak terakhir kali aku mempunyai kekasih. Dan semenjak saat itu, sudah sepuluh orang wanita juga yang pernah dekat denganku. Tapi sepertinya Semesta selalu menjawab kalimat doa jodohku yang kedua: “Jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah”.  Iya, semuanya tidak ada yang berjalan sampai jauh. Semuanya pergi menjauh. Friendzone, Hubungan Tanpa Status, Teman Tapi Mesra, Friends in Benefit dan entah bermacam-macam istilah apa lagi yang teman-temanku pernah sematkan untuk setiap hubungan yang aku jalin. Tapi intinya sama, semuanya hanya mentok sebagai gebetan saja.

Bukan kekasih. Bukan pacar.

***

Hari sudah semakin sore saat aku berjalan menyusuri jalanan kota Phnom Penh, ibukota dari Kamboja. Tujuanku mencari penginapan dahulu untuk sekedar beristirahat. Namun sepertinya keberuntungan belum berpihak kepadaku. Hampir seluruh penginapan penuh terisi. Jikapun ada yang kosong, keadaannya agak kurang layak. Ini konsekuensi karena aku tidak mem-booking terlebih dahulu padahal saat ini adalah long weekend.

“Masih ada kamar kosong?” tanyaku kepada salah satu resepsionis dormitory room – sejenis hotel budget, untuk yang kesekian kalinya.

“Tadinya ada. Tapi baru saja satu kamar terakhir diambil oleh seseorang,” Jawab resepsionis itu. “Kamar itu sebenarnya berisi double-bed. Jika tamu tadi mengijinkan, mungkin kamu bisa sharing kamar dengannya.”

Sharing kamar dengan orang asing. Sepertinya itu ide buruk. Tapi jika tidak, bisa-bisa aku tidur di jalanan untuk malam ini.

“Oh, itu dia tamu yang baru saja mengambil kamar terakhir” si resepsionis menunjuk seorang cewek yang baru saja turun dari tangga lantai atas menuju ke arah kami.

Aku memicingkan mata. Sepertinya aku kenal dengan cewek itu. Demi sejuta kepiting rebus di lautan, kenapa harus cewek itu yang ku temui di Kamboja sini. Si cewek tomboy jutek, sombong, senga, dan belagu yang selalu buatku kesal waktu di Gunung Rinjani kemarin.

***

Tiga bulan lalu aku mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Ikut rombongan “tukang jalan” yang tak sengaja aku dapat dari internet. Fisikku yang tidak lagi muda seperti jaman kuliah dan juga jarang berolah raga, membuatku berkali-kali meminta untuk beristirahat barang sejenak. Rasanya kaki tidak sanggup untuk menanjak sampai ke puncak. Udara gunung yang tipis tambah membuat nafasku tak karuan.

Lalu tiba-tiba lewatlah dia. Seorang cewek tomboy, dengan rambut pendek berpotongan ala Demi Moore yang nge-trend di film Ghost jaman dahulu. Tak ada tampang kelelahan sedikitpun di wajahnya.

“Jadi cowok kok lemah banget. Malu sama cewek!” katanya pas melewatiku.

Berikutnya, selama tiga hari dua malam berada di Rinjani, entah sudah berapa kali omongannya selalu merendahkan dan meremehkanku. Ada saja kata-katanya yang bikin kami ribut dan beradu mulut. Seumur hidup aku tidak pernah ribut dengan cewek. Baru kali ini ada cewek yang selalu bikin naik darah.

***

Aku menatap cewek itu. Rambutnya sudah agak panjang sedikit dibadingkan dengan waktu di Rinjani dulu. Terpotong rapi tepat di atas bahunya, tidak lagi pendek seperti Demi Moore. Tapi gaya pakaiannya tidak ada yang berubah, kaos oblong dan celana kargo selutut. Jauh-jauh aku ke sini karena ingin menenangkan diri atas hatiku yang kalut. Sepertinya akan bertambah kalut karena bertemu lagi dengan cewek tomboy belagu ini.

“Eh, elo. Lagi ngapain lo di sini?” tanyanya dengan wajah lurus dan jutek.

“Justru gue yang baru aja mau nanya begitu ke elo. Kok bisa ada di sini?” Tanyaku tak kalah jutek.

Ternyata dia sama gilanya denganku. Si cewek itu juga sedang backpacking sendirian di IndoChina ini. Entah konspirasi semesta apa yang sedang terjadi, ternyata dari semenjak berangkat, tiba di Vietnam hingga sampai di Kamboja ini, kami selalu bareng-bareng. Tapi baru dipertemukan di hotel budget ini.

Lalu si resepsionis menjelaskan bahwa aku butuh kamar dan siapa tahu dia mau sharing kamar denganku.

“Karena kebetulan gue udah kenal sama lo dan emang tempat tidur ada dua, dengan terpaksa gue mau sharing kamar sama lo. Tapi kalo lo macem2, gue gibas muka lo gak pake ampun lagi,” ucap si cewek itu setelah akhirnya menyetujui kami akan bersharing kamar.

“Oh iya, awas kalo lo sampe cinlok sama  gue!”

Cinlok? Kalaupun tersisa satu wanita di dunia dan itu adalah dia, aku gak mungkin sampai jatuh cinta sama dia. Dari dulu tipe wanita yang bisa buatku jatuh cinta itu feminim, cantik dan berambut panjang. Bukan cewek tomboy dan belagu kayak dia.

“Terus satu lagi. tidur gue ngorok dan gue sering kentut. Jadi maklumin aja ya!” katanya lagi.

Dasar cewek tomboy, umpatku dalam hati.

Karena sama-sama traveling sendirian, akhirnya mau gak mau aku menjelajah Kamboja bersama cewek tomboy itu. Dari Phnom Penh dilanjutkan ke Siam Reap. Selama 3 hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Seperti halnya juga di Rinjani, selama tiga hari itupun tidak ada hentinya kami beradu mulut. Dari mulai meributkan akan kemana, naik apa, mau makan apa sekarang sampai hal-hal gak penting seperti mengomentari kacamataku yang KW. Tiga hari yang seperti berada di neraka.

Setelah menjelajahi Kamboja, kami kembali ke Vietnam, karena pesawat menuju Indonesia hanya ada di kota Ho Chi Minh. Dari sana, kami kembali ke Indonesia. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta kami berpisah.

***

“Lalu, apakah papah akhirnya bertemu lagi dengan wanita tomboy itu?” seorang anak laki-laki berumur 15 tahun bertanya kepadaku.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak aku traveling ke Indochina. Malam itu gerimis turun perlahan di luar sana. Meskipun hujan, suasana ruang tivi saat itu sangatlah hangat. Sehangat segelas kopi hitam dan segelas susu coklat yang tergeletak di atas meja. Di sebelahku tampak seorang anak laki-laki yang sedang duduk di sofa, bersemangat mendengarkan cerita pengalamanku waktu muda dulu. Di depan tivi, seorang gadis kecil berumur 7 tahun sedang asik menonton film kartun. Mulutnya celemotan dipenuhi sisa-sisa es krim yang baru saja habis dimakannya. Aku cuma bisa tersenyum melihat semuanya.

“Kalau mau tahu kelanjutannya, biar mamah-mu yang bercerita sehabis kita makan malam ya! Sekarang kita makan dulu. Itu mamah-mu sudah menyiapkan makanan. Ayo, ajak adikmu sekalian!” Kataku kemudian sambil menatap ke seorang wanita cantik berambut panjang yang sedang membereskan piring di depan meja makan. Wanita yang sama dengan wanita tomboy belagu yang pernah traveling bersamaku dulu.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d