• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Tag Archives: cinta

Rumah

09 Saturday Jun 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ 2 Comments

Tags

@myaharyono, cinta, Mia Haryono, nyaman, Rumah

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Nama saya Sani. Wanita berusia 30 tahun. Saya sudah hampir 8 tahun mengadu nasib di Jakarta. Keluarga saya tinggal di kota kecil di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Boyolali. Kesibukan bekerja dan berbagai aktifitas membuat saya enggak punya jadwal rutin untuk pulang mengunjungi orang tua. Sebenarnya itu hanya alasan semata saja. Sudah tiga tahun terakhir ini saya memang sengaja menghindar pulang ke rumah.

Kadang saya enggak tega mendengar suara ibu di telepon yang mengiba menanyakan keadaan si sulungnya ini. Di setiap desahan napasnya menyiratkan kerinduan yang dalam.

“Minggu depan ono libur kejepit. Kowe mulih kan, Ndok?” tanya ibu minggu lalu.

“Sani..hmm..sudah ada jadwal motret sama klub fotografi di Ujung Genteng, Bu. Iya, enggak bisa di-resechedule lagi.” jawab saya berbohong. Terpaksa.

“Kalau gitu ngesok-ngesok motretnya ke kampung kita wae, biar kowe bisa sekalian mulih.” sungut ibu.

Setelah menutup telepon ibu, lalu saya memesan tiket kereta untuk pulang ke kampung halaman. Sekarang di sini lah saya berdiri. Pukul 5 lewat 30 menit di stasiun kereta api. Pinggang sudah enggak karuan rasanya karena berjam-jam duduk. Salah satu alasan mengapa saya malas pulang kampung. Belum lagi hiruk pikuk di dalam stasiun tua yang kotor ini sangat membuat saya alergi. Setiap mata yang lalu lalang tergesa di sekitar saya terlihat lelah. Beberapa di antara yang lewat bahkan ada yang

Home

sempat melirik sinis, seolah berkata “Masih ingat rumah?”.

Cuekin. Cuekin. Perasaan kamu aja ini, San.

Dari stasiun saya harus naik angkutan umum lagi. Kurang lebih lima belas menit lagi saya akan sampai ke rumah. Saat itu fajar seharusnya sudah terbit.

Rumah. Saya mencoba mendefinisikan kembali apa itu rumah. Rumah adalah tempat di mana kita merasa nyaman di dalamnya. Apakah rumah kedua orang tua saya disebut rumah?

Tidak.

Itulah alasan utama saya jarang kembali pulang. Rumah ibu bapak adalah sekedar tempat saya berasal, tapi sudah lama tidak memberikan kenyamanan lagi di dalamnya.

Bukan, bukan karena rumahnya yang sederhana dan sempit. Keluarga saya bukan keluarga berada. Bapak hanya seorang PNS dengan penghasilan yang memaksa kami harus hidup ala kadarnya. Saya dulu pernah mencintai rumah tua kami. Dulu, sebelum saya memasuki usia yang dianggap perawan tua oleh tetangga sekitar. Gunjingan mereka yang memandang masih sendiri di usia 30 adalah tanda enggak laku-laku, sungguh menyakitkan buat saya. Dan omongan sekitar itulah yang membawa pengaruh buruk bagi ibu yang akhirnya selalu mengomel tiap kali saya pulang.

Mereka pikir saya tidak tertekan? Tolong jangan buat saya tambah tertekan.

Pikiran saya terhenti oleh sebuah mini bus yang datang dari arah selatan. Angkutan dengan nomor trayek yang akan membawa saya menuju kampung halaman. Saya segera berdiri dari tempat duduk di halte dekat stasiun ini. Tanpa perlu melambaikan tangan lagi, kendaraan itu sudah berhenti di depan saya. Masih ada tempat kosong, beruntung sekali saya tidak perlu terjebak di dalam angkutan yang mengetem menunggu peumpang sampai penuh.

Seandainya penantian saya terhadap jodoh secepat saya menunggu angkutan umum di pagi ini.

Saya butuh ketenangan di tempat asal saya, bukan petuah-petuah yang seolah menuding negatif atas pilihan hidup yang saya jalani. Tiga tahun yang lalu, saya memilih untuk menolak dijodohkan.

Penolakan saya terhadap perjodohan yang sudah diatur ibu dengan salah seorang temannya. Saya saat itu punya ego yang tinggi. Saya enggak mau dijodohkan, saya mau mencari sendiri. Saya mau menikahi pilihan saya sendiri.

“Mana buktinya? Katanya mau pilihan kowe dewe? Lah wuis bertahun-tahun ndak juga ono yang dikenalin ke ibu toh, Ndok.” Saya teringat omelan ibu sewaktu saya pulang lebaran tahun lalu. Ibu lalu mulai menyalahkan saya lagi karena tidak menuruti perintahnya.

Ah ibu, haruskah Sani mengorbankan perasaan sendiri untuk kebahagiaan ibu.

Saya sudah terlalu sering tidak mengindahkan saran ibu bapak. Menolak dikenalkan sana-sini. Apakah sudah saatnya bagi saya untuk mengalahkan ego seorang anak kali ini? Untuk kebahagian kedua orang tua yang sangat menginginkan melihat anaknya menikah, mumpung masih ada waktu di dunia ini.

Ya ampun sungguh menyakitkan. Tahukah para orang tua, bahwa belum menikah itu juga menjadi PR terbesar seorang anak kepada orang tuanya. Karena ternyata sukses saja belum cukup. Untuk sebagian mereka masih malah ada yang merasa berdosa karena terlambat menikahkan anaknya. Dan sungguh bukan keinginanku untuk belum menikah di usia 30 ini. Seseorang berhak menentukan kebahagiaannya sendiri. Ini hidup saya, saya lah yang menjalaninya. Tapi kebahagiaan yang saya jalani ternyata menyakiti kedua orang tua saya. Dan apakah ada yang lebih menyakitkan dari melihat ibumu menangis karenamu?

Pertigaan jalan memasuki kawasan kampung saya sudah terlihat. Saya segera menenteng tas bawaan dan memeriksanya kembali agar jangan ada yang tertinggal.

“Pertigaan depan, Pak.” Kemudian saya turun dari kendaraan berasap tebal ini dan menyerahkan uang pas sebagai ongkos naik angkutan. Lalu kendaraan itu berlalu meninggalkan saya yang segera menutupi hidung akibat polusi. Jalanan masih kosong sehingga saya bisa langsung menyeberanginya.

Saya menyusuri gank setapak yang menuju rumah ibu bapak. Kalau di kota besar pagi buta begini mungkin penduduknya masih tertidur pulas, ditambah lagi ini hari libur. Di kampung sudah banyak yang beraktivitas. Seperti ibu-ibu yang sedang metani (mencabut rambut putih) di halaman rumahnya.

“Eh nak Sani. Kowe mulih. Mampir sek.” salah seorang tetangga menyapa. Saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Saya tau itu hanya basa-basi. Tapi  saya senang, karena keramahan seperti ini sudah jarang sekali ditemui di kota saya tinggal sekarang.

Beberapa langkah lagi saya segera sampai rumah. Sedikit terhalang anak-anak kecil yang bermain sambil berlarian.

“Eh berhenti, berhenti dulu. Nih, Mbak Sani kasih duit buat jajan ya. Bagi-bagi ya.” Lalu saya membagikan beberapa lembar uang kertas. Jumlahnya bahkan enggak cukup untuk membeli semangkok bakso di Jakarta, tapi sudah membuat bocah-bocah kampung ini girang. Membuat hati saya hangat melihat keceriaan mereka.

“Assalammualaikum, Ibu. Sani mulih, Bu.” Suara saya yang tiba-tiba muncul di pintu rumah membuat ibu terkaget. Lalu berlarian memeluk putrinya yang pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu ini.

Ada genangan di mata ibu. Ada cinta mengambang di sana. Lalu ada Bapak yang juga memandang sendu penuh rindu. Dan adik laki-laki remaja semata wayang yang sudah beranjak dewasa. Sudah pantas menyandang predikat pria penakluk gadis remaja sekarang.

Mereka bertiga memeluk saya erat. Menciumi kening saya bertubi-tubi. Saya layangkan lagi pandangan kepada ketiganya satu-persatu. Tidak ada kekecewaan akan sikap saya yang seolah sudah melupakan mereka selama ini. Saya mengerti akhirnya, selama ini saya hanya takut mereka marah. Saya hanya menghindari omongan miring. Saya lari menghindari masalah. Dan ketiga orang terkasih ini enggak pernah marah sedikitpun pada saya.

Dan seketika, saya pun menyadari definisi arti rumah yang sebenarnya.

Rumah adalah tempat di mana ada orang yang mencintai dan menantimu untuk pulang.

Thanks, God. I’m home.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Somebody That I Used to Know

17 Thursday May 2012

Posted by myaharyono in Estafet Working-Paper

≈ 2 Comments

Tags

@myaharyono, cerbung, cerpen, cinta, Mia Haryono, stranger

Prepared by: MH
Reviewed by: GP 

Dengan terburu-buru gue meninggalkan parkiran motor, karena waktu menunjukkan 10 menit lewat dari jam masuk kerja gue. Baru beberapa langkah kemudian gue tersadar masih mengenakan jaket merah kesayangan. Lalu gue pun kembali ke tempat motor diparkir untuk meninggalkan jaket ini.

SRREEEET.

Gue buka perlahan resleting jaket yang mengeluarkan suara seperti decitan. Membuat pikiran gue tiba-tiba tertuju pada sosok seseorang. Wanita yang setahun terakhir ini pernah mengisi hari-hari gue. Dia selalu menggoda tiap kali gue menboncengnya, dengan bilang jaket gue ini persis jaket tukang ojek. Dia semakin senang melihat mulut manyun gue, yang ngga terima disamakan dengan abang ojek. Tapi kadang gue juga membalas godaannya. Suatu waktu gue pernah mengantarnya pulang. Ketika sampai depan rumahnya, gue iseng menagih tarif bayaran. “Lima belas ribu aja, neng”. Tapi yang gue terima adalah sebuah tinju di lengan gue.

Melalui kaca spion motor, gue mendapati bibir gue menyunggingkan lengkungan senyuman. Jokes ojek kami berdua memang lucu sampai-sampai gue masih bisa tersenyum mengingatnya.

Jaket yang sudah gue lepaskan kemudian gue simpan di bawah jok motor dengan asal. Gue seperti masih mendengar suara wanita itu yang selalu mengkritik cara gue melipat jaket. Dan seperti biasa, gue hanya melenggang meninggalkannya yang masih ngomel-ngomel. Gue memang ngga pernah mau menuruti kata-katanya. Dan membuatnya kesal sudah menjadi hobi gue. Shit, kenapa gue jadi mengenang dia?

Faktanya tidak mudah melupakan kebiasaan yang pernah dijalani bersamanya. Jangan salah, meski gue lah yang menolak cintanya sampai dia memutuskan tali persahabatan dengan gue. Tapi bukan berarti gue bisa tenang. Gue akui sangat gelisah sebulan ini. Tidak terasa sudah berlalu empat minggu sejak kejadian di taman malam itu. Peristiwa malam itu terjadi begitu cepat. Di malam hari gue melihatnya menangis memohon cinta gue, keesokan harinya gue mendapati dia sudah memutuskan semua komunikasi dengan gue. Mengapa? Tidakkah gue berhak diberi penjelasan?

Setiap harinya gue berharap dapat bertemu dengannya di lingkungan kantor. Kami memang berada di gedung kantor yang sama. Tapi semesta sepertinya berkonspirasi dengannya, agar tidak mengijinkannya bertemu gue secara tidak sengaja. Gue ingin sekali bertemu dengannya, melihatnya. Bukan, bukan karena kangen. Mana mungkin? Gue yang tidak menginginkannya, bukan? Tegas gue dalam hati. Gue selalu berusaha meyakinkan diri, kalau memang gue tidak seharusnya memikirkan dia. Apalagi sampai ingin bertemu, karena gue tidak punya perasaan apapun padanya.

Gue melanjutkan langkah menuju gedung kantor dengan setengah berlari. Tampaknya banyak yang terlambat senin pagi ini sama halnya dengan gue. Antrean masuk gedung agak lebih panjang dari biasanya. Pak sekuriti memeriksa sau per satu yang akan memasui gedung sudah seperti di bandara saja. Setelah akhirnya berhasil melewati pintu detector gue kembali tergesa menuju lift.

DEG.

Di antara kerumunan orang-orang yang menunggu lift, sepertinya ada wanita yang mirip sekali dengan dia. Usaha gue mempercepat langkah kaki malah tampak seperti adegan slow motion. Benar kah itu dia?

Berdiri anggun dengan balutan baju merah muda. Tampak cerah. Tidak seharusnya wanita yang sedang patah hati berpenampilan seperti itu. Seharusnya dia terlihat memperihatinkan, bukan mengagumkan begini.

Lima langkah lagi untuk sampai lebih dekat padanya. Dia terlihat sibuk dengan blackberry putihnya. Apakah dia sedang berkirim BBM dengan seseorang? Secepat itu dia mendapatkan pengganti gue?

Lalu mengapa gue harus peduli?

Satu langkah lagi. Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah gue. Dia terlihat sedikit terkejut dan dengan cepat kembali membuang wajahnya dari gue. Dia bahkan tidak menggubris senyuman yang gue lemparkan padanya.

Astaga. Angkuh sekali wanita ini. Apakah dia sekarang sudah benar-benar tidak menganggap gue ada? Dia pura-pura tidak mengenal gue? Tidak cukup memutuskan kontak dengan gue, masih perlu dia memperlakukan gue seperti orang asing?

TING.

Pintu lift yang kami tunggu terbuka. Kami berbarengan memasuki lift tersebut. Kami berdua terdiam. Sangat tidak nyaman. Rasanya ingin sekali gue menariknya lalu mengeluarkan jeritan hati gue selama ini. Jadi begini perilakunya yang pernah mengatakan sangat menyayangi gue? Jadi begini caranya membalas penolakan gue? Membalas sakit hatinya dengan memberikan sakit yang sama pada hati gue?

Dia menunduk. Gue yang berdiri selangkah di belakangnya masih bisa memperhatikannya dari ujung rambut sampai kaki. Tubuh yang pernah memeluk gue dengan manjanya, kini seperti magnet dengan kutub yang sama sehingga memberikan tolakan kuat atas keberadaan gue.

TING.

Setelah dua menit lift bergerak akhirnya pintu terbuka. Dia dan juga beberapa orang melangkah ke luar dari lift. Dua menit terlama dalam hidup gue.

Please, tengok gue. Please. Mohon gue dalam hati. Gue masih berharap ada sedikit saja iba yang dia berikan pada pria yang sudah dia buat tercecer harga dirinya.

Dia tidak menengok. Dia terus berjalan memunggungi gue sampai pintu lift kembali menutup dan melanjutkan perjalanannya ke lantai atas.

Seperti gue yang harus melanjutkan perjalanan hidup tanpanya.

Per detik ini, hari-hari gue akan dilewati dengan kenyataan bahwa wanita itu kini hanya menjadi seseorang yang pernah gue kenal.

Now and then I think of when we were together
Like when you said you felt so happy you could die
Told myself that you were right for me
But felt so lonely in your company
But that was love and it’s an ache I still remember

But you didn’t have to cut me off
Make out like it never happened and that we were nothing
And I don’t even need your love
But you treat me like a stranger and I feel so rough
[Gotye]

(to be continued..)

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Peri Sofia dan Tragedi Cinta Pertama

28 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Fiction & Imagination

≈ 1 Comment

Tags

@kartikaintan, cerpen, cinta, Intan Kartika, Kartika Intan, peri, pertama

Prepared by Client:
Intan Kartika (@kartikaintan) 

“Tak akan kusesali,
setiap pertemuan atas nama cinta sejati,
walau ada luka,
walau ada kesedihan menyertai
Tapi tahukah kau,
bahwa sungguh tak pernah ada beda,
yang begitu terasa beda dalam mencinta.”


Ini adalah kisah cinta pandangan pertama dan kisah patah hati antara dua makhluk yang sangat berbeda.

*

Setiap pengalaman pertama merupakan keajaiban bagi Sofia. Dimulai dari saat ia membuka mata dan melihat dunia, dan mulai menyadari hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupannya. Seperti saat ia belajar bahwa sinar keemasan yang menerobos pepohonan dan jatuh menyinari lantai kayu gelap di kamarnya adalah seberkas sinar matahari.

Hidup itu sendiri adalah keajaiban, pikir Sofia pada dirinya sendiri. Saat itu ia tengah menunggu matahari terbit sambil duduk di sebatang pohon besar bercabang banyak. Sentuhan pertama dari sinar keemasan yang hangat itu langsung menjadikan warna kulitnya berpendar misterius, memantulkan kembali cahaya matahari dengan lebih lembut dari setiap jengkal kulitnya yang tidak tertutup pakaian. Kegelapan malam langsung tertinggal jauh di belakang.

Seekor burung gereja melompat-lompat di dekatnya dan bertengger di bahunya, mendendangkan nada menyambut pagi dengan riang. Tanpa sadar Sofia ikut bernyanyi dengannya, suaranya tidak kalah indah dibandingkan burung kecil kecokelatan itu. Beberapa saat kemudian, burung gereja itu pergi setelah mematuk pelan pundak Sofia dengan penuh sayang.

Sofia menghirup udara pagi dengan rakus dan melompat turun dari atas pohon. Bunyi berdebum pelan yang terdengar saat kakinya menyentuh rerumputan hijau lebat seharusnya tidak akan mengejutkan siapapun, tetapi kemunculannya yang tiba-tiba ternyata mengagetkan seseorang yang kebetulan sedang berjalan di bawah pohon itu.

Sosok itu memegang setumpuk buku bersampul kulit di depan dadanya. Rambut ikalnya yang panjang dan hitam tergerai sampai ke punggung dengan indah. Ia sangat cantik seperti halnya Sofia, hanya kebijaksanaan yang terpancar dari wajahnya yang menyiratkan bahwa umurnya jauh lebih tua. Seulas kerutan terbentuk dari kedua alisnya yang indah saat ia menyadari Sofia-lah yang mengagetkannya.

“Kau mengejutkan Peri Tua ini,” omelannya terdengar bagaikan alunan lonceng di telinga manusia.

“Ibu Guru belum terlalu tua, dan tidak akan pernah terlihat tua,” Sofia terkekeh geli sambil menyodorkan tangannya untuk menolong membawakan buku-buku tebal itu dari tangan si Peri tua. “Kita belajar Sejarah Peri hari ini?” tanya Sofia setelah melihat sekilas judul buku bersampul kulit paling atas yang dibawanya.

“Jadwal hari ini memang itu kan?” jawab si Peri sambil berjalan lebih cepat untuk mengiringi langkah Sofia yang bagaikan melayang itu menuju Sekolah Peri.

Bangunan itu hanya bagian dalam sebatang pohon yang diperluas dengan sihir Peri sehingga terlihat seperti sebuah ruangan berlangit-langit tinggi dengan meja-meja dan kursi yang disusun melingkar dengan bangku dan meja yang lebih tinggi untuk pengajarnya.

“Mungkin hari ini aku akan membolos, Old Minerva,” Sofia meletakkan buku-buku itu di meja guru dan melenggang pergi dengan cepat. Terlalu cepat sampai ia tidak bisa mendengar omelan Guru Minerva di belakangnya.

Langkah-langkah kaki Sofia bagaikan menari di atas seberkas rumput keemasan, pohon-pohon kurus tinggi berkelebat di sekitarnya saat ia berputar-putar, rambutnya yang keemasan berpendar dan melambai tertiup angin. Seandainya ada manusia yang melihatnya, mungkin mereka akan berkata telah melihat bidadari berambut emas di tengah hutan. Sayangnya, belum pernah ada manusia yang bisa masuk ke dalam hutan ini dan menyaksikan sendiri komunitas para Peri hutan. Masa itu adalah masa dimana mitos-mitos masih hidup dan berkembang sehingga belum ada satupun manusia yang berani masuk lebih jauh ke dalam hutan. Ditambah lagi sihir Peri menjaga kerahasiaan mereka semua tetap terjaga.

Peri remaja seperti Sofia bahkan tidak diijinkan bermain sampai ke batas hutan tertentu, karena mereka belum bisa menjaga diri dalam menghadapi manusia. Orang tua dan teman-teman Sofia selalu membicarakan manusia seakan mereka hanya komunitas yang tidak penting dan terlalu kasar untuk diajak bergaul. Sofia tidak pernah mempedulikan hal itu, ia telah memiliki segalanya yang ia butuhkan, dan begitu banyak keindahan untuk dinikmati satu persatu.

Sebagai contohnya, ia seharusnya memikirkan tentang Pesta Musim Semi yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Pesta itu adalah peringatan untuk merayakan berakhirnya musim dingin. Pesta ini juga ditunggu para Peri remaja karena secara informal merupakan ajang memperkenalkan pasangan Peri mereka. Sofia belum memutuskan dengan siapa ia akan pergi, bukan karena ia tidak menyukai satupun dari teman-temannya, tapi karena sejak ia masih kecil, ia sudah menantikan saat-saat ia datang ke acara musim semi itu dengan pasangannya, dan ia ingin berpasangan dengan Peri yang benar-benar membuatnya jatuh cinta, seperti yang ada di dalam buku-buku legenda para Peri, tentang bagaimana kisah cinta nenek moyang mereka dulu.

Sofia akhirnya berhenti menari dan merebahkan diri dibawah salah satu pohon apel yang sedang berbuah lebat. Beberapa ekor tupai kecil langsung berlari mengelilinginya seakan Sofia-lah yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Dengan santai Sofia menatap seberkas langit kebiruan yang tidak tertutup rindangnya daun-daun di pepohonan. Ia berpikir tentang Amarie, sahabatnya, yang juga akan menghadiri Pesta Musim Semi dengan pasangan untuk pertama kalinya. Amarie berkata padanya akan pergi dengan Levian, salah satu Peri muda tampan di sekolah mereka. Sofia menghela napas dan tanpa sadar membalikkan telapak tangan, membiarkan dua tupai memakan apel langsung dari tangannya, kebanyakan teman-teman sebayanya sibuk merencanakan dengan siapa mereka akan pergi dan berusaha agar pasangan mereka lebih membanggakan dibanding yang lain. Sudah beberapa Peri mengajak Sofia menghadiri Pesta bersama mereka, tapi Sofia selalu menolak karena merasa mereka bukan Peri yang tepat untuknya.

“Pasti akan datang di waktu yang tepat,” gumam Sofia dengan suara seringan bulu. Beberapa tupai mencicit mendukung. Sofia bangkit untuk duduk, bersandar di batang pohon apel dan ikut menikmati buah apel merah kehijauan dengan para tupai. Ia menghabiskan dua butir apel, kemudian merasa haus. Dengan anggun ia berdiri dan berpamitan dengan para tupai itu sebelum berjalan lebih jauh ke dalam hutan untuk mencari sungai berair jernih. Ia menari lagi sambil mendendangkan lagu yang diciptakannya sendiri, begitu asyiknya sampai ia tidak sadar kalau telah melewati batas hutan untuk para Peri remaja.

Sofia sampai di aliran sungai yang tidak begitu deras. Air sungai begitu jernih sampai ia bisa melihat bebatuan berkilauan di dasarnya. Tanpa terburu-buru ia minum sampai kenyang, kemudian menelungkup di pinggir sungai untuk bermain dengan batu-batuan berkilauan itu. Ia hanya terganggu oleh suara langkah kaki yang tiba-tiba datang. Sofia menoleh dan langsung bangun dengan terkejut. Seorang Peri muda yang tampan dan kasar sedang menatapnya dari balik pepohonan yang lebat, mengenakan pakaian putih berlengan panjang dan sepatu bot kusam yang menutupi celana kulit cokelatnya. Ia terlihat kaget karena tidak menyangka akan bertemu dengan gadis Peri di tepi sungai itu.

Pemuda Peri itu tidak sama seperti Peri-Peri lain yang di kenalnya, kulitnya yang putih tidak begitu bersinar, dan langkahnya jauh lebih berat dari Sofia, sehingga menimbulkan kesan kasar. Tapi di mata Sofia ia lebih tampan daripada teman-teman Perinya yang lain.

“Kau membolos juga?” tanya Sofia lugu. Pemuda itu mengangkat bahu, lalu menjawab,

“Hari ini terlalu bagus untuk dihabiskan di dalam ruangan,”

Sofia mengangguk setuju. “Memang sudah mulai hangat cuacanya,”

Mereka berpandangan dan tersenyum.

“Namaku Marvel,” ia mengulurkan tangan pada Sofia.

“Sofia,” gadis Peri itu menyalami Marvel penuh semangat.

Marvel mengerutkan alis dengan heran.

“Kulitmu bersinar sekali, Sofia,”

“Dan kulitmu agak kasar,” Sofia menyahut dengan geli dan terkikik.

“Aku belum pernah melihatmu di sekolah,” kata Marvel lagi sambil duduk di sebelah Sofia.

“Aku juga belum, apa mungkin kau lebih tua daripadaku? Mungkin tingkatanmu sudah lebih tinggi.”

Marvel hanya mengangguk, terlalu terpesona untuk mengalihkan pandangan dari wajah Sofia yang begitu cantik.

Mereka berdua hanya duduk diam dan bertatapan untuk beberapa lama, sampai akhirnya matahari sudah bersinar sangat tinggi di atas kepala mereka.

“Aku harus pulang, atau ayah akan memarahiku habis-habisan,” kata Marvel sambil berdiri dan mengibaskan celana panjangnya dari rumput kering yang menempel.

Sofia mengangguk, “Aku juga sebaiknya kembali ke rumah,”

Marvel berdiri ragu sebelum pergi, kemudian memaksakan diri bertanya, “Kau akan kesini lagi besok?”

Sofia tertawa pelan, “Mungkin. Tapi sebaiknya tidak di waktu yang sama.” Ia mengedip pada Marvel. “Kita kan tidak boleh membolos sering-sering,”

“Aku akan menunggumu datang lagi,” Marvel berkata dengan sedikit putus asa.

Sofia mengangguk, lalu tersenyum. “Sampai Besok, Marvel,” kemudian ia menari menjauh meninggalkan Marvel yang masih tertegun di balik pepohonan di pinggir sungai.

Keesokan harinya, saat matahari sudah hampir terbenam, Sofia kembali lagi ke tepi sungai itu dan melihat Marvel sedang duduk di sana menunggunya.

“Hai,” sapa Sofia dengan ringan, mengejutkan Marvel begitu rupa sampai pemuda itu nyaris terjatuh ke dalam sungai.

“Kau datang!” serunya.

“Aku kan sudah berjanji,” Sofia mengingatkannya.

“Tapi…kupikir…” ia terbata-bata.

“Aku mencarimu di sekolah,” Sofia mengambil segenggam kerikil dari dasar sungai dan memainkannya di telapak tangannya, berkilauan memantulkan sinar matahari senja. “Tapi kau tidak ada,”

“Aku tidak masuk hari ini, Ayah membutuhkanku membantunya di rumah,” jawab Marvel, terpesona pada batu-batu yang digenggam Sofia.

Sofia mengangguk, kemudian tersenyum.

Kejadian kemarin terulang kembali saat mereka hanya bertatapan dan tersenyum. Terlalu takut untuk merusak saat-saat kebersamaan mereka, karena Sofia mengerti dan begitu juga Marvel, bahwa ada suatu hubungan yang terjalin begitu saja diantara mereka. Begitu matahari akhirnya benar-benar akan terbenam, Sofia teringat untuk bertanya sesuatu.

“Marvel,” panggilnya. “Kau mau pergi bersamaku ke Pesta Musim Semi?”

“Pesta Musim Semi?” Marvel bertanya dengan heran.

Tiba-tiba perasaan kecewa melanda Sofia, “Tapi tidak apa kalau kau sudah ada pasangan lain,”

Marvel cepat-cepat menggeleng, “Tentu saja aku mau pergi denganmu! Aku akan senang sekali!”

Sofia tersenyum senang, memamerkan gigi-giginya yang  cemerlang dan seputih susu.

“Kalau begitu kita berangkat bersama-sama, aku akan menemuimu di sini, kau harus membawa bunganya,” Sofia mengedip lagi.

Marvel mengangguk penuh semangat.

“Sudah malam, kita harus pulang,” ajak Marvel. Sofia hanya mengangguk, berpikir bahwa orangtua Marvel begitu keras memaksa putra mereka pulang begitu matahari terbenam. Ia sendiri akan berputar-putar dulu dan mengunjungi si Burung Hantu sebelum pulang ke rumah.

“Sampai nanti,” Marvel kali ini berlari pulang mendahului Sofia.

“Kau akan pergi dengan siapa?” tanya Amarie saat mereka berdua mengepas gaun baru untuk pesta.

“Itu kan rahasia.” Sofia menjawab dengan misterius. Ia membelai lekuk pinggang gaunnya yang bertaburkan bunga aster warna putih dan kuning, kemudian mendesah puas melihat pantulan dirinya di cermin.

“Oh, ayolah, aku kan sudah menceritakannya kepadamu!” Amarie ngotot bertanya.

“Kau akan melihatnya di pesta. Ia tampan sekali,” kata Sofia, membetulkan letak bunga lily di rambut panjang lurus sahabatnya.

“Oohh.. apakah dia Stefan?” tanya Amarie, menyebutkan nama Peri tertampan di sekolah menurut sebagian besar gadis Peri.

“Bukan!” Sofia menggeleng dengan ngeri. “Lihat saja nanti,”

Amarie merengut dengan kesal, tapi kemudian pikirannya teralihkan begitu melihat kedua Ibu mereka memasuki ruangan dengan begitu banyak bunga lagi. Kelihatannya hari pengepasan gaun ini belum akan selesai, keluh Sofia dalam hati. Hari ini ia melewatkan pertemuan dengan Marvel, tidak seperti hari-hari berikutnya dimana mereka berdua selalu tidak terpisahkan di pinggir sungai, tempat milik mereka berdua. Sofia sepenuhnya berharap besok akan segera datang dan ia bisa bertemu Marvel lagi.

*

Pagi hari itu, sesaat sebelum Pesta Musim Semi dimulai, Sofia dan Marvel bertemu lagi di pinggir hutan yang sama. Pemuda itu membawakan Sofia seikat bunga aster warna putih dan kuning yang serasi dengan bunga-bunga yang menempel di gaun putih melambai Sofia.

“Kau membawa bunga yang tepat,” Sofia terkejut. Ibunya bercerita semalam bahwa kalau pasangannya membawa bunga seperti yang dipakai olehnya, berarti mereka memang berjodoh. Ia sama sekali tidak menduga Marvel akan membawa bunga aster, mengingat bunga ini tidak begitu populer dibandingkan Mawar atau Lily.

Marvel tersipu malu, Sofia senang sekali melihat semburat warna merah di pipinya. Tidak ada seorangpun di dunia Peri yang wajahnya bisa memerah seindah itu.

“Aku memetiknya di pinggir hutan, disana tumbuh banyak sekali…” kata-katanya terputus saat melihat penampilan Sofia yang tanpa cela. “Kau sangat cantik,” pujinya tulus. Sofia menyunggingkan senyumnya yang paling menawan, kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak Marvel lebih jauh ke dalam hutan, ke tempat Pesta Musim Semi diselenggarakan.

Suasana pesta begitu meriah, Peri-peri yang lebih tua duduk-duduk di tempat yang telah disediakan di bawah sebatang pohon perdu yang rindang, menikmati hidangan kue-kue dan teh khas Peri, saling mengobrol dengan riangnya. Suara ocehan mereka terdengat seperti ribuan lonceng yang berbunyi dengan harmonis. Para Peri remaja kebanyakan menguasai lantai dansa, berdansa dengan pasangan-pasangan mereka, dan anak-anak Peri berlari berkejaran, bermain dengan kupu-kupu yang melintas, atau memakan kue buah yang tersedia ratusan mangkuk di meja.

Sofia tertawa riang dan menggandeng Marvel menuju keramaian pesta, ke tempat teman-temannya berkumpul. Marvel hanya memandang semua keramaian itu dengan ekspresi tidak percaya, mulutnya ternganga lebar, dan ia menurut saja waktu Sofia menariknya lagi.

“Amarie!” Sofia memanggil sahabatnya yang sedang mengobrol dekat sekali dengan Levian. Amarie menoleh dan melambai, kemudian matanya yang indah membelalak begitu melihat siapa yang dibawa oleh Sofia.

“Ini temanku, Amarie dan pasangannya Levian.” Sofia memperkenalkan Marvel pada mereka berdua. “Ini Marvel.” Marvel menyalami mereka dengan takut-takut. Ia kelihatan tercengang sekarang, tidak mampu berbicara sedikitpun.

“Kau kelihatan berbeda, Marvel,” Levian berkata setelah mengamati Marvel dengan teliti. “Apakah kau berasal dari ras yang lain?” Marvel tidak bisa menjawab.

“Aku juga berpendapat begitu,” Amarie menyahut. “Kau tinggal di bagian hutan yang mana, Marvel?”

Yang ditanya hanya menggeleng dan menelan ludah.

“Sudahlah, jangan mengganggu dia lagi,” Sofia menepis kedua temannya. “Ayo kita mengambil minuman.” Sofia mengajak Marvel ke arah meja panjang yang penuh makanan.

“Aku tidak…” Marvel menggumam tidak jelas.

“Apa kau bilang?” tanya Sofia.

“Aku tidak tinggal di hutan,” Marvel akhirnya bisa bicara.

“Apa maksudmu? Semua Peri tinggal di hutan.” Sofia berkata dengan heran.

“Aku bukan Peri. Aku manusia, aku tinggal di desa, di pinggir hutan…” kalimat Marvel terhenti karena reaksi yang didapatnya.

Sofia, Amarie, dan Levian mematung di tempatnya. Wajah-wajah rupawan mereka berubah dari ingin tahu menjadi penuh kengerian. Dalam sekejap, beberapa Peri Tua termasuk Pemimpin mereka yang sosoknya paling tinggi dan paling mempesona dari mereka semua, berhasil mendekat dan menemui empat remaja itu.

“Kau tidak ada urusan di sini, manusia.” Suaranya yang indah terdengar menyeramkan di telinga Marvel. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah, dan dalam kejapan mata berikutnya, ia menemukan dirinya sudah berada di pinggir hutan yang tadi pagi didatanginya, sendirian.

“Sofia?” ia mencoba memanggil. “Jangan pergi, maafkan aku!”

Hanya gaung keheningan yang kini menjawab panggilannya.

“Manusia tidak pernah bisa dipercaya,” Pemimpin Peri menasihati Sofia di dalam rumahnya yang hangat dan nyaman. “Salahku, tidak pernah mereasa perlu mengajarkan bagaimana rupa mereka, dan betapa miripnya kita dengan mereka dalam satu dan lain hal.”

Sofia hanya terdiam. Kalau ia bisa menangis, ia pasti sudah tersedu-sedu. Hanya kebisuan yang terpancar darinya yang memberitahukan betapa sedih hatinya sekarang.

“Tetap saja, Marvel sekarang akan bercerita kepada kaumnya mengenai keberadaan kita, dan kita terpaksa harus pergi dari hutan ini.” Pemimpin Peri melanjutkan, seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Aku yakin kau akan berhati-hati kali ini, Sofia?”

Sofia mengangguk. “Perasaan itu akan hilang dengan sendirinya, sayangku, jangan sia-siakan keabadian dan kemuliaanmu untuk mencintai makhluk seperti mereka,”

Peri tua itu menepuk pundak Sofia, secara halus mengatakan bahwa ia boleh pulang. Sofia berdiri dan keluar dari rumah pemimpin Peri dengan langkah lunglai. Lama sekali ia berdiri di bawah naungan pohon perdu sambil termenung. Hujan yang tiba-tiba turun mengagetkannya. Hujan pertama di musim semi. Tidak pernah terjadi sebelumnya, dan tidak ada yang mengerti kecuali Sofia bahwa alam juga ikut berduka akan kandasnya cinta pertama dan terakhir Peri muda itu.

Sofia berjalan ditengah hujan yang kian lama kian deras, di ujung hutan yang lain, Marvel juga berjalan dengan putus asa, masih berusaha menemukan Sofia. Usaha yang sia-sia mengingat sihir pengamanan kaum Peri sudah dipasang lebih kuat lagi. Keduanya berjalan tanpa sadar, mencoba menemukan satu sama lain, sampai akhirnya sosok Peri Sofia menjadi kabur, dan kabur, dan akhirnya lenyap ditengah derasnya air hujan yang membasahi hutan. Ia tidak akan pernah terlihat lagi. Marvel tersedu, berlutut memukul tanah berumput yang basah, menyerah dalam pencariannya.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Evergreen [Him]

28 Saturday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@NH_Ranie, cerpen, cinta, Nuning H Ranie

Prepared by Client:
Nuning H. Ranie (@NH_Ranie)


[Say You Love Me] Paidy Austin
Please turn around…
Have your eyes on me…
Please notice me…
Notice my presence…
Even if I turn weird, this is not just a father feeling…
Back then, maybe I just hide that certain feeling…

Memar itu lagi.

“Are u stupid.. How can a girl get scars so often?” Ucapku menilik lengan putih kemerah-merahan milik seorang gadis yang sedang duduk di hadapanku.

“Hehehee..” dia cuma nyengir seperti biasanya. Menampakkan sederetan gigi putihnya yang berbaris rapih.

Aku pun mngambil kotak P3K, menyeret gadis itu ke kursi panjang dekat jendela dan merawat lukanya. Ini bukan kali pertama aku harus membalurkan antiseptik ke lengannya. Dia selalu datang dengan memar yang berbeda, lebih sering di lengan, tapi terkadang di pundak atau bahkan wajahnya. Aku tak pernah bertanya lagi, karna tiap kali kulontarkan pertanyaan sama, dia hanya akan cengengesan seperti tadi. Really, can’t leave her alone..

“Lo baik yah…” dia berkata menatapku dengan senyuman lemah lembut. Manis. Tak pernah gagal buat salah satu sudut hatiku bergerak aneh.

“Coba cowok gw kaya lo..”

Yeah, right.. “Itu karna tiap ada beginian, lo selalu lari ke gw.. Coba lebih ngandelin dia..”

“Don’t wanna..” dia menaikkan dagu.

“Childish..” aku mengacak rambutnya, lalu bangkit mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula.

“Biarin..” kali ini dia menggigit bibirnya. “Well, it’s not like I don’t want to rely on him… I just don’t wanna bother him.”

“And you think that I’m not bothered?”

“Emang nggak kan?”

Masih berdiri, kumiringkan wajah dan menghela nafas. “Bothered, really feel bothered.”

Dia semakin merengut. Membuang pandangannya ke luar jendela.

Menggodanya seperti ini sungguh menyenangkan. Menatap kebiasannya duduk di kursi itu sambil menatap jendela. Menikmati figurnya yang bermandikan cahaya. Jauh lebih indah dari pemandangan di luar jendela itu sendiri. Aku tersenyum, sambil menyandarkan diri pada lemari.

“Cowo itu seneng kalo diandelin ama ceweknya. Kalo gw jadi cowo lo, gw sih bakal ngamuk-ngamuk tiap kali lo datengin gw kaya gini. And for him to not angry because of that, itu nunjukin kebaikan juga pengertiannya. You should cherish him the most.”

“I do! But, I’m just scared… I mean, semua orang pasti pengen terlihat sempurna di depan orang yang mereka suka kan? Kalo gw ngerepotin terus, gw takut dia bakal bosen en ninggalin gw..”

“Dan lo gak takut, kalo gw bakal bosen en ninggalin lo?”

“You won’t!” dia membalikkan wajah, dan menatapku tajam.

“How so?” Tanyaku, sambil menatap lurus matanya.

“Karna lo baik…”

Aku menghela nafas.

“Begitu pun cowo lo. Kalo dia gak baik, lo gak bakal suka ama dia kan? Lo harus lebih percaya ama cowo lo. Semua orang seneng diandelin ama orang yang mereka suka.”

Dia terdiam. Aku menghela nafas lagi

“Ko lo terus-terusan hela nafas sihh? Dasar kakek tua.. I’m the one who choose who I want to rely on. And you..,” dia menatapku tajam, “are not allowed to leave me.” Ujarnya sambil menaikkan kaki ke kursi, dan memeluknya erat. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Selfish..”

“Biarin..”

Aku pun mendekatinya, ikut duduk di kursi itu sambil menatap ke luar jendela. Menikmati awan, dan entah apa lagi, yang bisa samarkan senyum yang tak bisa berhenti tersemat ini.

If to love is to live in you more than in myself, to hide great weariness under a mask of joy, to feel in the depths of my soul the odds against which I fight, to be hot and cold as the fever of love takes me, To be ashamed, when I speak to you, to confess my pain – if that is to love, then I love you furiously, I love you, knowing full well my pain is deadly. The heart says so often enough; the tongue is silent.
— [Taken from Sonnets pour Hélène by Pierre de Ronsard (1524-1585)]

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Dipacari Seleb Twitter

14 Saturday Apr 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ 5 Comments

Tags

@myaharyono, cerpen, cinta, Mia Haryono, Twitter

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Selama itu gue terdiam. Tercengang ngga mampu berkata-kata. Apa gue ngga salah dengar? Cowok keren yang duduk tepat di hadapan gue ini baru saja meminta gue jadi pacarnya!

Matanya yang hitam pekat menusuk mata gue dengan tatapannya. Bibirnya tersenyum sambil memainkan jari telunjuknya pada bibir gelas.  Semua perilakunya itu mengisyaratkan, “It’s okay. Take your time to think about it.”

Yang gue butuhkan saat ini tepatnya tidak hanya waktu, tapi juga udara segar. Karena tiba-tiba saja gue merasa sesak. Gue sedot lemon ice tea yang gue pesan menemani menu makan malam tadi untuk mengalihkan ketegangan. Tapi saking gugupnya, yang ada malah gue terus meminumnya sampai habis. Bodohnya gue ngga sadar kalau terus menyedot es batu di dalam gelas. Memberikan suara yang tidak enak didengar.

Srot. Srot. Srot.

“Mau tambah minumannya saja?” tawarannya menyadarkan tindakan bodoh gue itu.

“Ngga usah. Udah cukup kok.” jawab gue malu-malu pada si teman baru gue ini.

Ya, gue belum lama mengenalnya. Keberadaan dia di hidup gue juga sungguh tiba-tiba dan tak terduga. Sebelumnya dia hanya mondar-mandir di timeline gue.

Namanya Rayan. Pemilik akun Twitter @rayarayan yang mempunyai ribuan follower. Dia bukan public figure yang sering muncul di berbagai media. Dia hanyalah satu dari beberapa orang beken di Twitter. Gue ngga pernah tau dia itu siapa sampai suatu waktu teman gue me-retweet beberapa tweet keren si Rayan. Isinya smart jokes, unik, lucu, dan ‘bangke’. Alasan gue akhirnya ikut-ikut me-follow orang biasa dengan tweet ngga biasa.

Semakin sering kicauannya menghiasi timeline semakin gue mengaguminya. He becomes my Twitter Crush. Dan Rayan ini ramah, dia juga sering me-reply mention para followers-nya, termasuk gue. Di-reply saja sudah bikin gue happy banget. Apalagi di-foll-back? Teriak kegirangan adalah yang pertama kali gue lakukan sewaktu di-follow Rayan.

Sampai beberapa minggu setelahnya kami semakin aktif saja di Twitter. Dia membuat gue setengah semaput sewaktu mengirimkan Direct Message yang bertuliskan, “Boleh minta pin BB?”

Mimpi apa gue sampai bisa BBM-an sama Twitter Crush!

Sejak saat itu kami rutin BBM-an. Gue baru mengenalnya tapi seperti sudah lama menjadi teman baik. Percakapan yang awalnya hanya seputar ide-ide untuk tweet bangke dia berikutnya, lama-lama naik setingkat menjadi curhatan sehari-hari. Gue pun heran bisa nyaman bercerita dengan orang baru. Dan rasa penasaran terhadap statusnya terjawab ketika akhirnya gue iseng BBM dia di malam minggu.

Sansan : Rayan...

Langsung dibalas.

Rayan  : Alooo
Sansan : Lagi ngapain? Kok ngga muncul di Twitter?
Rayan  : Memantau TL saja. Biar disangka ngga jomblo haha.


Aha! Gue merasa hidung gue kembang-kempis.

Sansan : Bohong banget! Pencitraan doang kali.
Rayan  : Serius kok. I’m single and on my way to find unhappy woman. I’m gonna make her smile again. :)
Sansan : Hahaha basi lo.
Rayan  : Lo sendiri kok malam minggu nyari gue? Ngga pacaran?
Sansan : I’m single and happy. So I dont need you to make me smile. 
Rayan  : Are you sure? Be careful with your words, girl.. ;)

He’s right. I should’ve noticed his warning. I can’t believe now i’m addicted to the way he makes me smile. Ngga cuma melalui BBM tapi juga saat mengobrol langsung. Dia sangat menyenangkan. Setelah cukup akrab kami memutuskan untuk tweet up. Istilah dua orang yang bertemu setelah berkenalan lewat Twitter.

Pertemuan yang berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Termasuk saat ini. Di tempat makan favorit kami, malam minggu kesekian yang kami lewati bersama karena memiliki status yang sama-sama sendiri. Dan gue masih ngga percaya kalau cowok yang gue suka ini juga merasakan hal yang sama.

I know my feeling towards him is just a little crush. But I really don’t mind to fall for a completely stranger in front of me. Staring at me and patiently waiting for my answer.

Sepuluh menit.

Akhirnya gue tersenyum.

“Congratulation Mr. Rayan. You finally make this happy woman to smile, because she’s happier since you’ve crossed her borderline.”

Dia tersenyum semakin lebar. Cute sekali.

Gila! Gue baru saja ‘ditembak’ oleh seorang Seleb Twitter! Hore!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...
 

    %d