• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Category Archives: Cerita Cinta

Short Stories about Love

Sebuah Siang di Salemba

20 Thursday Sep 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ 6 Comments

Tags

@saputraroy, cerpen, cinta, modus, Roy Saputra

Prepared by Client: 
Roy Saputra (@saputraroy)

“Permisi. Numpang tanya.”

Kamu pun mengangguk. Di pinggir jalan Salemba, kamu berdiri sendiri. Nampak seperti mahasiswi dari kampus sebrang sana. Jadi sepertinya cocok untuk kutanya-tanya tentang daerah sekitar sini. Awalnya aku hanya menurunkan kaca jendela dan bertanya di mana letak sebuah mall yang lokasinya dekat dengan bundaran HI. Namun suaramu yang pelan membuatku harus turun dari mobil dan mengulangi pertanyaanku. Kamu bilang dari sini lurus saja, ketemu perempatan belok kanan, lalu ikuti saja jalurnya. Aku tak mungkin tersasar, begitu jawabmu.

“Makasih ya. Ngomong-ngomong, di sana itu ada…”

Lalu aku menyebutkan salah satu brand pakaian yang sedang happening. Lagi-lagi kamu mengangguk. Di sana ada semua, begitu katamu. Pakaian segala rupa, semua warna. Tapi semuanya dengan harga yang bukan jangkauan mahasiswa. Aku tertawa. Sepertinya itu lelucon andalanmu. Jadi sepertinya aku harus tertawa.

“Eh, kamu tuh temannya Icha ya?”

Echa, begitu ralatmu. Aku pun mengiyakan. Ternyata dunia memang sempit. Aku bilang sepertinya pernah melihat entah di mana. Mungkin di sekitar rumah, karena Echa itu tetanggaku. Kamu bilang memang pernah main ke rumahnya di Pondok Kopi. Aku bilang iya sambil mengeluarkan mimik pantas-saja-pernah-lihat. Kemudian aku membahas Echa dan kamu mengangguk-ngangguk sambil tertawa. Terima kasih untuk kebiasan-kebiasaan buruk Echa yang sudah membuat kita tertawa bersama.

“Kamu mau ke mana?”

Sarinah, jawabmu. Kamu ada pertemuan dengan dua orang teman dan beberapa cangkir kopi. Sudah janji, namun sedari tadi sulit mendapatkan taksi. Setauku itu dekat dengan bunderan HI. Aku tawarkan tumpangan dengan barter penunjuk jalan. Dan sekali lagi, kamu mengangguk.

“Kenal Echa udah lama?”

Baru setahun belakangan, katamu. Sebelumnya hanya kenal biasa, namun menjadi dekat di semester lima ini. Sering bersama dalam tugas kelompok, membuat kamu tau lebih jauh tentang Echa. Tentang lucunya, tentang ramahnya, dan tentang orang tuanya yang tidak memperbolehkannya pulang malam. Kelas ekonomi makro yang membuat kalian dekat. Begitu penjelasanmu. Lalu kamu bertanya balik. Aku bilang juga baru beberapa bulan kenal Echa. Dulu rumahku bukan di Pondok Kopi dan baru saja pindah ke sana. Kamu hanya mengangguk pelan sambil bilang pertigaan depan belok kanan.

“Ini masuk parkirnya dari mana ya?”

Kamu bilang tak usah masuk parkir. Turunkan saja kamu di depan sini agar aku bisa menghemat waktu. Aku jawab sebetulnya tak apa. Sebagai tanda terima kasihku untuk kamu yang sudah berbaik hati mengantarku. Sempat ada debat kecil namun akhirnya kamu mengalah. Ku masuk kan mobil lewat spasi besar sebelah gedung. Saat petugas mengetikkan nomor plat mobil, saat itu aku bertanya,

“Boleh minta nomor handphone-nya?”

Dengan segera kamu bilang boleh. Kamu sebut 10 digit angka dan sebuah nama setelahnya. Rani Priwasdani. Lalu kamu menunjuk café yang paling depan. Dari balik jendela, sudah terlihat dua orang teman yang sudah menunggu dengan secangkir minuman di tangan masing-masing. Sesaat sebelum kamu menutup pintu, kamu bilang kapan-kapan main ke kampusmu dan kita bisa jalan sama Echa juga.

“Iya. Hehehe.”

Begitu jawabku berbarengan dengan suara pintu mobil yang tertutup. Kutancap gas dengan senyum terkembang di wajah. Dari depan Sarinah, aku lurus. Ketemu bundaran HI belok kiri. Kembali ke arah Salemba, kembali ke sebrang kampus nomor satu di negara ini, kembali mencari beberapa mahasiswi yang sedang berdiri sendiri.

“Main ke kampus dan jalan sama Echa?”

Dalam hati aku tertawa. Entah kampus yang mana, entah Echa siapa. Yang jelas, aku hanya tau bahwa semua orang setidaknya punya satu teman bernama Icha atau Echa.

Dan itu lah caraku memodusimu.

-The End-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

The Simple Things

25 Saturday Aug 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerita cinta, cerpen, Mia Haryono, simple things in love

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

PING!

“Mel, I need you. Asap. Gue sama Mirza just broke up.”

Melisa menerima sebuah pesan BBM dari sahabatnya, Icha, yang mengabarkan ia baru saja putus dari Mirza, pria yang dipacarinya hampir satu tahun ini.

Sebuah pesan singkat namun sangat mengejutkan bagi Melisa, mengingat baru saja malam minggu kemarin mereka bertiga jalan bareng dan ketawa-ketiwi bersama. Lalu tanpa pikir panjang Melisa segera menelpon sahabatnya itu.

Begitu telepon diangkat, yang terdengar adalah suara isak tangis Icha.

“Cha, lo dimana? Gue samperin ya.”

“Di rumah, Mel. Ke sini ya cepat, gue butuh lo.” Suara Icha terdengar bergetar. Melisa mengiyakan dan segera menemui sahabatnya yang sedang patah hati itu.

Saat satu jam kemudian Melisa sampai di rumah Icha, ia menghambur ke kamarnya dan segera memeluk Icha. Icha sedang duduk di atas kasur dengan kain seprai yang berantakan. Tissue bekas ia menyeka air mata bertebaran di lantai.

“Ada apa, Cha?” tanya Melisa sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.

Icha mencoba berbicara sekuat tenaga dan mengambil nafas berkali-kali. Dengan nada amarah ia menjawab, “Mirza selingkuh.”

“Tau dari mana? Sama siapa?”

Melisa masih enggak percaya akan pernyataan sahabatnya itu. Melisa tau betul, Mirza itu cinta mati sama Icha. Berkali-kali Icha memutuskan hubungan dengan Mirza saat bertengkar, pria itu pasti mati-matian mempertahankannya. Tapi sepanjang yang Melisa tau, masalah dalam hubungan mereka enggak pernah sampai melibatkan pihak ketiga.

“Lo inget kan, gue pernah cerita tentang cewek yang suka nebeng mobil Mirza kalau pulang kerja?”

“Kalau enggak salah, Intan kan namanya? Masa sih sama dia? Enggak mungkin, Cha. Mirza pernah gue tanya dan mereka bener-bener cuma temen pulang bareng aja.”

“Itu kan cerita Mirza. Gue percaya selama ini dia jujur sama gue, Mel. Dan ternyata dia bohong! Mereka selingkuh di belakang gue. Bangsat enggak tuh. Gue sakit, Mel.” cerocos Icha.

Icha menyeka lagi air matanya dengan tissue, menyisihkan ingus di hidungnya, lalu melempar tissue penuh virus itu ke lantai kamarnya. Dia melanjutkan ceritanya, “tadi siang waktu lunch sama Mirza, gue mergokin si cewek jalang itu nge-BBM Mirza.”

“Mesra banget, Mel. Bilang kangen! Gimana gue enggak shocked coba?” Icha sesenggrukan lagi.

“Duh sabar ya, Cha. Tapi gue mau juga denger dari versi Mirza boleh? Kalian sama-sama sahabat gue. Gue harus bersikap objektif.”

***

Keesokan harinya Melisa dan Icha makan malam bersama di restoran favorit mereka. Icha masih membutuhkan kehadiran sahabat terbaiknya, untuk membantunya melewati masa sulit. Icha sendiri sedari tadi enggak menyentuh makanannya. Kebanyakan orang sedang patah hati memang kehilangan nafsu makan.

Satu hal yang Icha enggak tau, Mirza sudah meminta bantuan Melisa untuk membawa Icha ke restoran ini. Mirza harus menjelaskan kepada Icha, bahwa semua ini adalah salah paham semata. Mirza ingin mendapatkan kesempatan untuk kembali kepada Icha, dengan meminta maaf kepada wanita yang sangat dicintainya itu.

Tak sampai hati melihat ketulusan Mirza, Melisa pun setuju untuk membantu memudahkan rencananya. Melisa membawa Icha ke restoran, lalu Mirza akan muncul.

Dan tepat sesuai rencana, tiga puluh menit setelah Melisa dan Icha sedang menyantap makan malam mereka, Mirza tiba-tiba menghampiri meja mereka.

Keceriaan yang biasa menghiasi wajah tampan Mirza sama sekali tak terlihat malam ini. Ada kegelisahan dan ketakutan besar tersirat dari penampilannya. Dia menenteng sebuah tas keranjang kertas di tangan kirinya. Setangkai mawar merah terselip di antara jemari tangan kanannya.

Icha yang menyadari kehadiran Mirza lalu melotot ke arah Melisa. Pandangannya seolah berbicara “What the hell is he doing here?” Ia sudah hampir berdiri untuk pergi, tapi Melisa menarik lengannya dengan sigap. “Cha, tunggu. Jangan pergi. Kasih Mirza kesempatan bicara.”

Mirza yang panik akan Icha yang tampak ambil kuda-kuda untuk melarikan diri, segera duduk di sebelah Icha.

“Tolong, Cha, kamu dengerin aku dulu. Kamu itu salah paham.” Melisa masih memegang tangan Icha yang sedang mengepal karena menahan marah.

“Aku memang salah enggak pernah cerita sama kamu. Intan ngejar-ngejar aku, yang. Tapi aku sudah menolaknya.”

Dengan panjang lebar Mirza menjelaskan, “Sejak kutolak, itupun dengan baik-baik, dia juga udah enggak nebeng aku pulang lagi. Aku yang bilang enggak bisa lagi, selama dia belum bisa normal sama aku. Dia terpaksa menerima tapi ya itu…kadang masih suka kirim BBM enggak jelas.”

Icha masih terdiam.

“Sebagai tanda bersalah dan rasa menyesal, ini aku bawain sesuatu.” Lalu Mirza mengeluarkan sebuah barang dari tas keranjang kertas yang ditentengnya ketika masuk restoran tadi.

Sebuah bingkai. Isinya mozaik gambar Icha yang terbentuk dari kumpulan foto mereka berdua. Cantik sekali. Melisa enggak menyangka di balik penampilan maskulin Mirza, ternyata ia sangat sentimentil.

Icha tetap terdiam dan tak melirik Mirza sedikitpun. Melisa yang menyaksikannya sudah berkaca-kaca dan berulang kali mengeluarkan ungkapan haru.

“Aku bawain bunga juga buat kamu, yang. I’m sorry and I really mean it.”

Bunga yang disodorkan oleh Mirza ternyata diterima oleh Icha. Tapi baru saja senyuman tersungging di wajah Mirza, raut mukanya berubah kecewa, ketika Icha menyelupkan mawar itu ke dalam gelas minumannya. Beberapa pasang mata dari meja pengunjung restoran ini ikut menonton pertengkaran ini. Tentu saja disertai gunjingan, people do love watching drama.

“Udah ya Mirza. Aku enggak butuh kamu luluhin kayak gini. Pokoknya putus ya putus.” tegas Icha.

“Cha, kamu jangan ambil keputusan dalam keadaan marah begini. Kamu ingat dong perjuangan aku bertahun-tahun lakuin apa aja sampe kamu akhirnya jadi milikku. Setahun aku nungguin kamu, terus setahun lagi kita pacaran. Dua tahun yang kita lalui itu mestinya jadi pertimbangan kamu.”

“Ngerti enggak sih, Za. Kamu tuh enggak usah bahas-bahas lagi segala perjuangan kamu yang besar lah, apa lah…”

“Semua itu jadi enggak berarti apa-apa karena ulah kamu. Kamu enggak jujur, dan aku enggak bisa terima. Pokoknya aku enggak percaya lagi.” Suara Icha semakin meninggi penuh emosi. Ia menarik lengannya yang masih di pegang Melisa, lalu bangkit berdiri.

“Dua tahun itu means nothing, karena satu hari waktu aku menangkap basah bbm si jalang itu.” ucap Icha lalu pergi meninggalkan Mirza dan Melisa.

“Jangan dikejar dulu, Za. Give her a little more time, okay.” saran Melisa.

Mirza menunduk. Ia menangis pelan.

Dalam hati Melisa terenyuh melihat pria di depannya yang benar-benar hancur. Astaga, cinta mati emang si Mirza ini.

***

Sebulan berlalu setelah perpisahan kedua sahabat Melisa itu, Mirza masih berusaha mendapatkan cintanya lagi. Luar biasa perjuangan pria ini, pikir Melisa. Ia tak gencar mengirimkan pesan yang berisi ucapan maaf dan meminta Icha kembali.

Tak satupun dibalas Icha.

“Mirza masih kontak lo, Cha?” tanya Melisa sambil membolak-balik menu makanan. Hampir tiap hari mereka menghabikan waktu bersama-sama, terutama ketika saat jam makan malam.

Icha mengganguk.

“Kamu nggak kangen sama Mirza?”

“Ya kangen lah, Mel. Kehilangan ini masih berasa banget. Tapi mau gimana lagi, gue harus bisa melupakan dia.”

Pesanan mereka pun datang, Melisa tanpa banyak basa-basi langsung bersuara riang, “Mari makaaan.”

Di saat Melisa sudah menyendokkan nasi goreng pesanannya beberapa suap ke dalam mulutnya, Icha masih bersibuk sendiri dengan botol minuman mineralnya. Ia mencoba dengan susah payah membuka tutup botolnya. Icha, sadar dengan kelemahannya yang satu ini, tidak pernah bisa membuka botol air mineral sendiri.

Dan selama dua tahun ini, Mirza lah yang selalu membukakannya untuk Icha. Icha meringis, “Mel, tolongin dong.”

Melisa menghentikan makannya ketika menyadari sahabatnya itu kesusahan. Melisa tiba-tiba ikut menyadari kelemahan sahabatnya ini. “Cha, lo itu bener-bener enggak bisa buka tutup botol aqua?”

Icha menggeleng.

“Jadi, selama gue bareng dengan lo dan Mirza itu, yang Mirza selalu bukain botol aqua buat lo. Itu bukan inisiatif dia, karena dia laki banget dan gentle?”

Icha menggeleng.

“Damn it!” Melisa terdiam sepersekian detik sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Cha, lo yang enggak bisa buka tutup botol itu hal simpel banget. Hal kecil banget, kebanyakan perempuan emang gitu. Tapi lo sadar nggak, Mirza itu bahkan inget hal sesimpel itu dari lo. Dan tanpa lo minta tolong bukain, dia udah inisiatif bukain buat lo, Cha.”

Begitu emosinya Melisa, sampai air mata menetes juga di pipinya.

“Ih Melisa, kenapa lo jadi nangis gini…”

“You know what, it’s the simple thing but touchy.”

Melisa menyeka air mata dengan punggung tangannya, “Berapa banyak cowok yang memperhatikan hal kecil seperti itu ke cewek? Cowok akan bukain botol kalau ceweknya minta tolong. Tapi Mirza, he paid attention for you in every detail.”

Icha tercengang, air mata sudah memenuhi matanya. Mengedip sekali saja, air mata itu sudah pasti berguguran.

“Did you get my message?” tanya Melisa.

“Seumur hidup lo, saat lo buka tuh botol aqua dengan susah payah, lo akan selalu ingat tuh laki. Dia cinta mati sama lo. Dan gue yakin, dia enggak selingkuh, Cha.”

Icha mulai menangis.

“Because, sometimes it’s the simple things someone did to you that can not make you simply forget about him.”

Melisa melanjutkan, “The way he says your name, the way he looks at you, even the way dia bukain tutup botol aqua itu. Silly sih. Simple but counts.”

“Iya, Mel. Gue bego banget. Kenapa gue enggak pernah mikir sampe ke situ. Gue kebawa emosi dan sampe segitunya ke Mirza.”

“Pikirin baik-baik lagi, Cha. Ya emang sih kita bisa ukur kadar cinta seseorang dari perjuangannya. Tapi coba diingat-ingat lagi deh hal-hal kecil yang pernah dia lakuin. Kelihatan kecil tapi sebenarnya, it means a lot.”

“Mirza paham banget sama kekurangan gue dan dia enggak membiarkan gue meminta duluan bahkan. Dia otomatis bukain botolnya buat gue. Dia enggak mau gue kesakitan karena tutup yang susah dibuka itu ngegesek kulit gue.”

Icha kemudian berusaha lagi membuka botol dengan sekuat tenaga. Ia menggunakan kukunya untuk menusuk bagian yang merapatkan tutup dengan segel pada botol itu. Lalu tiba-tiba sebuah tangan merebut botol itu dari tangan Icha. Kekuatan seorang pria dari tangan si perebut itu berhasil membuka tutup botolnya. Lalu kembali menyerahkan botol yang siap di minum itu kepada Icha.

Icha pun menjawab, “Makasih, Za.”

Melisa pun tersenyum sambil mengedipkan mata pada Mirza.

— THE END —

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

God Knows

01 Wednesday Aug 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@sanny_nielo, cerita cinta, cerita pendek, cerpen, Julianti Chiasidy

Prepared by Client:
Julianti Chiasidy (@sanny_nielo)

Sore itu, senja turun perlahan membungkus bumi. Dari jendela tempat aku duduk, aku menikmati semburat oranye yang menyilaukan dan nyanyian dengkuran halus di sisi kananku. Aku menoleh perlahan, di sanalah kudapati sosoknya sedang tertidur. Dengkuran halusnya, bukti betapa lelah harinya. Dan aku hanya bisa menarik nafas panjang. Kembali aku menikmati semburat oranye yang merambat masuk lewat celah-celah jendela, berpadu dengan dengkurannya.

Aku mengingat percakapan kami.

“Jangan terlalu menyiksa diri, kamu nggak perlu ambil semua tanggung jawab itu..”

Dia tersenyum. “Ini satu-satunya cara, supaya aku bisa mengalihkan pikiranku..”

“Mengalihkan dari apa? Dari Giana?”

“Dari Giana dan dari Papa, San..”

“Ada cara lain, El, nggak harus kaya gini..”

Dia, si Ello tersenyum. “Ini yang terbaik. Oke, nanti sore ya, di ruang rapat..” Ello berlalu dengan map tebalnya.

Aku menarik nafas panjang lagi, dan menatap wajah Ello yang masih tidur. Lelaki gigih, dengan berjuta mimpi dan keyakinan. Pribadinya yang supel, membuat dia memiliki banyak teman. Dan sisi charming-nya membuat banyak gadis jatuh cinta. Dari sekian gadis yang menyukainya, hatinya tertambat pada Giani Lupita. Gadis yang justru tidak menyukainya.  Sesuai dengan kegigihannya, Ello mengejar Giani hingga keujung dunia. Ya, Ello berangkat ke Perth dua bulan lalu, hanya untuk mengejar Giani. Sayangnya, Ello kembali sia-sia, dengan wajah suntuk dan penampilan lusuh. Hatinya telah tertolak.

Aku sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa Giani menolak laki-laki yang sampai menyusul dia ke Perth, hanya untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dan perasaannya. Sampai hari ini, Ello sama sekali nggak mau cerita. Perihal dia tidak berhasil membawa Giani pulang. Tapi, aku sering mendapati Ello menatap foto Giani di Blackberry-nya, dan sesekali tersenyum nanar.

Suara Ello yang akhirnya terbangun dari tidur memecahkan lamunanku.

“San, jam berapa?”

“Setengah enam, El..”

Ello mengangkat badannya, dan merenggangkan punggungnya. “Ayo balik..”

“Kumpulin nyawa dulu..”

Ello tersenyum sambil mengucek matanya. “Pegel, San.. Capek juga ya..”

Aku mendengus. “Percuma, kamu nggak pernah dengerin kata-kataku..”

Ello menoleh ke arahku, memajukan wajahnya, sangat dekat. “Aku dengerin kok, kadang-kadang..” Kemudian dia tersenyum menggoda.

“Kamu selalu gitu, nggak takut kalo aku jatuh cinta sama kamu..”

“Kalo kamu jatuh cinta, ya nggak papa, masalahnya kan, aku mau nangkap cinta kamu yang jatuh apa nggak..”

“Eksplisit ya, bilang aja kamu nolak aku..”

“Siapa bilang..” Ello bangkit berdiri, menyilangkan tas slempangnya. “Ayo pulang..”

Aku tersenyum, ikut berdiri dan memanggul ranselku.

Ello berjalan di depanku, dan aku mengikutinya. Menyusuri lorong ruang rapat beragam Himpunan Mahasiswa yang sepi, masih dengan semburat oranye yang perlahan menghilang.

“El, percaya sama aku. Suatu hari, luka hati kamu karena Giani pasti sembuh.. dan kamu, kamu sama sekali nggak akan kaya Papa kamu.. Jangan sedih terus, El..”

Ello menoleh ke belakang, dan tersenyum. “Kamu juga bisa nemuin yang lebih baik dari aku..”

Aku tertunduk, nggak nyangka Ello bakal ngomong kaya gitu. Meski nggak ada maksud apa-apa, tapi kata-kata Ello itu cukup menyakitkan.

Ello mengulurkan tangan kanannya ke belakang, dan menggandeng tangan kiriku. “Jangan berdiri di tempat yang aku nggak bisa lihat..”

Dan selanjutnya kami memilih untuk diam.

***

NIELO. Sanny + Ello.

Aku menutup organizer bersampul beludru merah, dengan jahitan NIELO di atasnya. Desta, sahabatku, bilang, diary beludru itu adalah diary of Nielo. Ya, sebuah diary berisi cinta bertepuk sebelah tangan antara aku dan Ello.

Kami bertemu semester 4 dan aku jatuh cinta beberapa bulan berikutnya. Ello adalah sosok sahabat yang baik. Dia selalu berusaha ada, sekalipun dengan beragam kesibukan yang memang sudah dia tekuni sejak sebelum dia patah hati. He’s my guardian angel.

Seperti beragam kebetulan yang ada di bumi ini, aku juga nggak pernah tahu, bagaimana bisa aku dekat sama Ello. Sampai seperti saat ini. Layaknya sebuah persahabatan, banyak hal yang kami ceritakan. Kami saling berbagi bersama. Dan hari demi hari, kami semakin dekat. Begitupun dengan perasaanku yang semakin menguat.

Satu hal yang menarik dari kami, aku dan Ello adalah dua pribadi yang saling menjaga satu sama lain. Tapi kami sama-sama tidak dapat mengungkapkannya. Kami nyaman untuk selalu bersama, meski kami sadar, ada satu pembatas besar yang tidak akan pernah bisa kami lewati.

“Kalo aku bisa menemukan orang lain yang lebih baik daripada kamu, aku akan lakukan. Kenyataannya hingga saat ini, kamu adalah yang terbaik yang bisa aku miliki namun tidak aku miliki. Bagaimana caranya aku bisa mencari yang lain?”

“Kamu tahu sendiri, ketika kita bersama, akan ada banyak sekali luka. Kita sudah dewasa, San.. Kita nggak bisa berhenti seenaknya.”

“Apa kita memang nggak bisa melawan?”

“Apa kamu mau melawan?”

Aku terdiam, menggenggam telapak tanganku kuat-kuat. “Kita memang tidak pernah bisa melawannya.”

Ello menggenggam tanganku. “Mungkin kita memang hanya bisa sebatas ini, San. Tapi, aku benar-benar nyaman. Dan aku nggak mau kehilangan kamu. Kalau ada hal yang bisa kita lawan, pasti akan kita lawan.”

Aku mengangguk sambil menahan air mataku, ini selalu jadi topik yang menyakitkan.

“Jangan menangis karena kita tidak bisa saling memiliki, tetapi bersyukurlah, karena Tuhan mu dan Tuhan ku, masih mengijinkan kita bertemu dan berbagi rasa. Masih mengijinkan aku untuk tetap menggenggam tanganmu seperti saat ini.”

Aku mengangguk lagi. “Dengarkan aku, Ello.. Jika kita bertemu lima tahun lagi, dan segalanya belum berubah, ayo kita bersama. Aku janji, saat itu, aku akan jauh lebih kuat. Aku akan melawan segalanya  dan aku pasti bisa mendampingimu.”

Ello menatapku bingung, namun akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk dan tersenyum.

“Aku boleh memelukmu?”

Ello merentangkan kedua tangannya dan aku langsung memeluknya. Aku tumpahkan beragam duka dan luka yang selama ini ku simpan, akan ku kenang hari ini sebagai satu hari terbaik dalam hidupku.

“Apa kamu menyayangiku?”

“Iya aku menyayangimu..” Ello mengusap punggungku yang bergetar dengan tangis pilu.

***

Ello memang tidak pernah mengingkari janjinya, aku pun tidak, kita tetap berkirim kabar, sampai sebuah email membawaku kemari. Aku duduk tenang di kursi deretan depan, dengan dress tertutup dan high heels 12 cm, dan riasan sederhana, sesekali aku melempar senyum, menyembunyikan luka menganga yang sekali lagi tertoreh dalam.

Wedding Bell berdering, dan Ello menggandeng Giani memasuki pintu gereja dan melangkah dengan pasti menuju altar.

Inilah alasan akhirnya Ello mendapatkan Giana.

“Apa alasanmu menolakku, G?”

“Karena kamu selalu bersama gadis itu, gadis yang tidak aku sukai..”

“Sanny maksud kamu?”

Giani mengangguk. “Ada pilihan yang harus kamu buat, aku atau dia..”

Dear Giani, kamu tidak perlu meminta Ello membuat pilihannya. Takdir kami telah memilih dengan baik, terlebih Tuhan kami.

 –The End–

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Hari Yang Ku Tunggu

29 Sunday Jul 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerpen, cinta, Mia Haryono, unspoken love

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

“Ya, Yaya kan?” sebuah suara datang dari arah kanan gue. Gue lalu menoleh untuk mencari siapa pria pemilik suara itu. Bersamaan dengan itu, seorang pria muncul dari balik rak buku di sebelah gue berdiri.

“Didit? Astaga! Apa kabar?”

Gue kemudian menyapa pria itu dengan antusias. Bagaimana tidak, kami sudah sekitar tujuh tahun putus komunikasi.

“Baik. Baik. Udah lama juga ya enggak ketemu. Sejak lulus SMA kan ya?” tanyanya, yang gue jawab dengan beberapa kali anggukan. “Bisa-bisanya malah ketemu lagi di toko buku.” lanjutnya sambil tertawa.

Gue mendadak nervous dengan pertemuan tiba-tiba ini. Dan aroma canggung menyerbak di antara kami berdua, yang dulu semasa SMA tidak pernah akur. Ya, 3 tahun sekelas dan semua tau bahwa kami saling tidak menyukai satu sama lain.

“Eh gue buru-buru, Ya. Kapan-kapan kita sambung ngobrolnya. Boleh tukeran kontak? Nomor atau PIN?”

Kami pun bertukar kontak lalu dia meninggalkan gue dengan sebuah lambaian dan senyuman yang ternyata, masih menimbulkan efek tonjokan di perut gue.

Ah Didit, sudah 10 tahun dan selama itu rasa ini mengapa belum juga lenyap?

Sudah dapat diprediksi, pertemuan tadi siang dengan Didit membuat gue kembali terlena dengan kenangan silam saat masih berseragamkan putih abu. Di hari pertama menjadi pelajar SMU, bahkan saat masih memakai seragam SMP selama masa ospek, gue sudah naksir Didit.

Didit yang tampan langsung menjadi idola, baik oleh anak-anak baru maupun para kakak kelas perempuan. Dia tidak begitu pintar sebenarnya, hanya saja berkarisma. Tak heran dia langsung ditunjuk sebagai pemimpin. Pemimpin di kelas, di angkatan, dan di tahun berikutnya terpilih menjadi ketua OSIS.

Didit sangat populer di sekolah gue dulu. Sedangkan gue? Seorang pengagum rahasia yang hanya berani curi-curi pandang kepadanya. Didit juga baik dan ramah. Awalnya dia sering mengajak gue ngobrol. Tapi sayangnya, gue adalah pengecut yang takut perasaan ini diketahui olehnya.

Dan ketakutan akan Didit dapat mengetahui perasaan ini, gue alihkan dengan berpura-pura tidak menyukainya. Dengan terang-terangan gue menentangnya. Gue selalu sinis jika berurusan dengannya. Ketidakcocokan kami ini, sudah menjadi rahasia umum di sekolah. Bahkan setelah saling lulus dan terpisah, gue maupun Didit sama-sama menghindari acara reuni karena enggan bertatap muka.

Ironis. Didit maupun orang lain tidak pernah tau, dibalik kebencian yang gue tunjukkan pada Didit sebenarnya ada perasaan sayang yang tak tersampaikan.

Adalah Lina, teman sebangku gue, satu-satunya yang mengetahui perasaan gue pada Adit. Dan sampai saat ini gue masih aktif berkomunikasi dengannya. Gue langsung menghubungi Lina dan menceritakan pertemuan dengan Didit.

“Liiiiin, guess what? Gue tadi siang ketemu Didit lagi. Ya ampun masih ganteng Lin. Deg-deg-an gue…”

“Eh lo tuh ye ujug-ujug telepon basa-basi dulu kek!” sungut Lina.

“Halah sama lo ini aja pake basa-basi.”

“Terus, kalian labrak-labrakan? Tampar-tamparan? Hahaha.” tanya Lina yang membuat gue ingin mencekiknya.

“Eh buset, ya enggak lah. Tapi aneh juga sih, dua musuh bebuyutan di jaman SMA ketemu lagi dan saling senyum hihi.”

“Aeeeh, CLBK nih kayaknya. Hati-hati naksir lagi, Ceu.”

“Ah Lina, jangan ingetin itu lagi. Udah lama woi, rasa-rasa anak SMA masa iya bisa bangkit lagi. Udah kekubur kali.”

Lagi-lagi gue harus bohong. Apanya yang terkubur? Nyatanya, rasa ini perlahan muncul lagi. Atau memang sebenarnya tidak pernah berakhir?

***

Sebuah pesan BBM gue terima. Dari Didit! Setelah pertemuan tiga hari yang lalu itu, dia atau gue sama-sama belum memulai kontak. Sampai akhirnya malam ini Didit menghubungi gue.

Gue enggak menyangka sama sekali, jantung ini langsung berdegup kencang. Mirip seperti yang gue rasakan dulu, ketika bertubrukan pandangan mata dengannya.

Dan layaknya remaja SMA yang sedang jatuh cinta, setelah lewat 10 tahun lamanya, gue kembali merasakan keriangan saat harus berbalas BBM dengan Didit.

Rasa naksir anak kelas 1 SMU itu, sudah berkembang dengan perasaan cinta yang mendalam. Sehingga ampasnya masih tersisa sampai 10 tahun lamanya.

Kini, Didit  lagi-lagi mencuri hati gue. Setidaknya malam ini.

Hingga esoknya, esoknya lagi, dan hari setelah esoknya lagi.

***
“Seriusan, Ya? Kalian jadi sering ketemuan sekarang?” Tanya Lina tak percaya saat gue menceritakan perkembangan hubungan gue dan Didit.

“Iya, Lin. Gue juga enggak nyangka.”

“Ya udah atuh di-follow up. Mumpung sama-sama single. Sapa tau-sapa tau…”

“Amiiiin.”

“Heh cepat amat Amininnya! Dasar ngarep lo. Ha ha.” Lina menoyor kepala gue. Kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Inget nggak, Lin. Dulu gue pernah berjanji sama diri gue sendiri. Kalau suatu saat akan menyatakan perasaan ke Didit. Tapi di saat gue udah enggak ada feeling lagi sama dia.” Lina menyimak kata-kata gue.

“Gue ada niatan mau bilang gini: Eh Dit, dulu gue pernah suka sama lo tau. Tapi karena takut enggak terbalas, gue pilih pura-pura jutek.” lanjut gue.

“Apalagi kan Lin, dulu pas jaman naksir dia kan sambil dengerin lagu Selena yang Dreaming Of You. Memotivasi gue untuk ngaku ke Didit.”

 So I’ll wait till the day for the courage to say how much i love you.

“Terus? Kapan mau confession? Ya udah geura atuh, ceu. Siapa tau jadi. Gue dukung.”

***

“Halo, Ya. Long time no see.” sapa Andi sambil mengambil posisi duduk di depan gue. Andi ini teman SMA gue juga. Sepanjang yang gue tau, Andi adalah sahabat terdekat Didit. Dua hari yang lalu Andi tiba-tiba menghubungi gue dan meminta bertemu. Katanya ada yang ingin disampaikan. Dia meminta gue enggak memberitahukan Didit perihal rencana pertemuan kami.

Mungkinkah ini semacam konspirasi mereka? tanya gue dalam hati. Mengapa setelah kedekatan gue dan Didit akhir-akhir ini kemudian muncul Andi, sahabatnya. Gue masih bingung dan menebak-nebak sendiri apa yang akan disampaikan Andi.

“Apa kabar, Ndi? Kok tumben tau-tau ngehubungin gue? Ada hubungannya dengan Didit kah? tembak gue.

“To the point banget, Bu. He he.” Andi menghela nafas sesaat. Tapi, iya benar. Apa yang akan gue sampaikan, ada hubungannya dengan Didit.” lalu Andi mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Kalau tidak salah lihat, sepertinya sebuah undangan…pernikahan. DEG. Belum memegang dan membukanya saja gue merasa lemas. Perasaan gue mendadak enggak enak.

Andi menyerahkan kertas beramplopkan emas itu sambil mengisyaratkan agar gue membacanya. Ada nama gue tertulis di bagian depan. Oh shit! Untuk gue. Perasaan ini semakin enggak karuan.

Gue kemudian membaliknya sambil menahan napas. Nama panggilan pengantin yang tertera di situ sangat akrab sekali buat gue. Orang yang gue sayang bertahun-tahun lalu dan kini hadir lagi mewarnai hidup gue.

Didit dan seorang wanita lain, akan menikah DUA HARI LAGI.

Dunia gue yang semula berwarna karenanya, berubah gelap.

Ternyata Didit cukup pengecut dengan tidak berani menyerahkan langsung undangan ini pada gue. Dia meminta Andi yang menjadi penghubung di antara kami.

“Saat kalian bertemu lagi, Didit sedang mempersiapkan pernikahannya. Dia mengakui juga terbawa suasana nostalgia setelah pertemuan itu. Mengingat…sebenarnya dulu dia naksir lo, Ya.” penjelasan Andi ini membuat gue tersedak. Seolah dapat menangkap kebingungan gue, Andi melanjutkan ceritanya.

“Awalnya, dia bete. Kenapa sih Yaya kok sinis banget. Disaat cewek-cewek lain memujanya. Dulu si Didit itu curhat melulu tentang lo, Ya. Gue sih terkekeh aja. Gue cuma ngingetin kalau mungkin itu pertanda naksir. Gue suruh dia deketin lo. Dia mau coba, tapi lo terlalu angkuh di depannya.”

Oke. Ini masih sore kan. Cerah lagi. Terus kenapa tiba-tiba ada ada petir begini barusan?

Gue masih mencoba mencerna perkataan Andi dengan tenang. Jadi sebenarnya waktu SMU itu, gue dan Didit yang saling menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain, sebenarnya..

Ah, tidak. Gue merasa menyesal. Teramat sangat. Gue bodoh sekali, ya Tuhan. Mengapa dulu bisa-bisanya gue memperlakukan orang yang gue sayang dengan tidak baik. Menyia-nyiakan perasaan dan membiarkannya terkurung selama bertahun-tahun. Tanpa pernah sedikitpun terpikirkan, bahwa gue bisa saja memiliki hati seorang Didit. Didit gue!

***

“Gue harus menelpon Didit dan mengaku tentang perasaan gue, Lin. Now or never. Masih ada waktu untuk mendapatkannya kan?” Selesai pertemuan dengan Andi tadi dan sampai di rumah, gue langsung menelpon Lina. Gue meminta persetujuannya akan ide gila yang akan gue lakukan. Malam ini juga.

Kalau gue pernah bertindak bodoh sepuluh tahun yang lalu, maka kali ini adalah kesempatan gue untuk memperbaikinya. Untuk merenggut kembali hak memiliki hati Didit yang seharusnya terjadi sejak beberapa tahun silam.

Lina mendukung rencana gue sepenuhnya. Tapi tidak malam ini. Menurut Lina, jangan tergesa-gesa. Pikirkan baik-baik dulu, kalau sudah yakin maka lakukan esok hari. Gue menuruti kata sahabat gue itu. Alhasil, malam ini gue tidak bisa tidur memikirkannya. Sangupkah gue mengatakan kepada Didit, tentang cinta gue yang begitu dalam dan berhasrat untuk memilikinya? Lalu setelah mendengarkan pengakuan gue, apa yang akan terjadi?

Late at night when all the world is sleeping. 
I stay up and think of you.
And I wish on a star, 
That somewhere you are thinking of me too.

***

30 Mei 2010


“Hai, Ya. Terima kasih sudah datang.” ucap Didit sambil menyalami gue di atas pelaminannya. Tangannya dingin sekali, dia lama memegang tangan gue sampai gue sendiri yang harus melepaskannya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita, yang sudah resmi menjadi istri Didit. Pujaan hati gue.

Gue mengurungkan niat untuk menyatakan perasaan gue. Karena tak sampai hati, jika aksi nekat gue kemudian hanya akan menambah beban pikiran dan perasaan Didit.

Dan rupanya, hari yang gue tunggu untuk mengungkapkan sayang tidak pernah kunjung datang. Tapi sepertinya, hari ini sudah gue tunggu sejak pertama kali gue sadar memiliki perasaan kepada Didit. Sepuluh tahun silam, bahwa gue ditakdirkan untuk berdiri di atas pelaminan ini. Untuk mengucapkan selamat kepada Didit dan mempelainya.

Sometimes, love is meant to be unspoken.

–THE END–

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Cinta Keyko

29 Sunday Jul 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@cyncynthiaaa, cerita cinta, cerpen, Cynthia Febrina

Prepared by Client:
Cynthia Febrina (@cyncynthiaaa) 

Bogor, 7 Juni 2006

Semuanya terasa begitu cepat. Pertemuan singkat yang membuat segalanya berubah. Sendratari Ramayana, theater tari yang indah di kawasan Candi Prambanan, tepatnya di Ramayana Open Air Theater adalah tempat pertama kami bertemu. Pertemuan pertama yang lebih cocok disebut sebagai musibah.

Yogyakarta, 7 Mei 2006

“Permisi… maaf mengganggu mas….maaf ya mbak, permisii…” Aku yang kebetulan mendapat kursi agak belakang, mencoba mendekati panggung. Adegan Dewi Shinta yang tengah menari dalam suasana sedih menggodaku untuk memotret dari jarak dekat. Ya, aku menyukai fotografi. Menurutku foto dan tulisan adalah ibarat surat dan prangko, lengket, saling melengkapi. Selain itu keduanya membuat suatu momen akan terus hidup walau sudah termakan waktu.

BRUKK!!! Aku terjatuh, bersamaan dengan kameraku yang lensanya jadi retak.

“Hey!!!! Kaki kamu ngehalangin jalan saya, saya kan udah bilang permisi, tuh lihat kamera saya jadi jatuh kan, duh…” Sontak aku pun jadi pusat perhatian dalam hitungan detik. Berani taruhan, orang-orang di kursi penonton pasti ingin segera melemparku dari gedung theater.

“Sssst, ini theater, bukan pasar. Jaga bicaramu nona. Nih, lensanya aku gantiin, lebih bagus ini kan?” Pria yang berdiri di hadapanku dengan santainya menyerahkan kamera yang bergantung manis di lehernya. Refleks, aku menarik kerah kemejanya, hendak meninjunya walau aku tahu jika pertengkaran terjadi aku akan kalah.

“Yuk kita selesaikan di luar.” Dia menarik lenganku erat.

 Bogor, 7 Juni 2006

Memoriku tentang Yogya tidak sebatas hanya tulisan dan foto. Kali ini berbeda. Yogya memperkenalkan aku pada sosok baru. Dia, yang mengajarkan aku tentang pentingnya kesederhanaan. Dia, seseorang yang dapat bercerita dengan bebas. Dia, seseorang yang terobsesi untuk menjadi gitaris. Dia, imajinasi paling liar yang pernah kubayangkan.

Depok, 7 Desember 2006

“Key, dimana?”

Satu pesan singkat itu kuterima sesaat setelah turun dari kereta. Hari ini seharusnya hari libur tapi sayangnya aku tetap pergi ke kampus. Niat kakakku untuk menjalin bisnis dengan salah satu pengusaha mini market membuatku rela melepas hari libur ini. Seharusnya, aku sedang berada di dapur, bersama Ibu dan Bi Sumi, mengganggu mereka yang pastinya sedang asyik membuat sarapan pagi.

Dia yang (sebenarnya) menjadi alasan utamaku untuk bangun pagi-pagi sekali. Alhasil aku pun sukses mengejar kereta yang berangkat dari Bogor pukul 08.16 agar sampai disini tepat pukul 09.00. sesuai janjiku padanya.

“Baru sampe nih gue. Gue tunggu lo di halte bus aja ya?”

Pesan terkirim. Sambil merapikan rambut, aku duduk di samping seorang perempuan yang tengah asyik dengan smartphone-nya.

Tiba-tiba suara motor yang sudah aku hapal betul milik siapa sudah berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Dia melambaikan tangan.

“Hei, lama ya?” Deg! Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Kampungan.

“Hei, engga kok. Lagian, gue tadi kasih kabarnya juga telat. Hm, kita ke mini market lo yang dimana, Nik?” Ya, namanya Niki. Dari balik kacamata minus 5-nya semua orang akan tahu kalau dia sulit untuk dimengerti. Raut muka tukang mikir, begitu kalau Ariana, sahabatku, bilang. Tatapan matanya tajam dan terkesan serius. Tinggi badannya yang agak berlebihan membuatku hanya setingkat bahu jika berdiri di sampingnya.

“Di daerah Sawangan, cukup jauh dari sini, gapapa kan?” Niki tersenyum. Pertanyaan retoris seperti ini yang kadang aku benci.

“Iya, gapapa kok Nik.” Aku membalas senyumnya.

“Oke kalo gitu, ayo naik.”

***

“Nah, kita sampai!” Niki memarkirkan motornya di halaman sebuah mini market. Cukup besar. Ada beberapa pegawai disana yang sepertinya tengah mempersiapkan toko untuk dibuka. Niki menghampiri seorang pemuda yang kira-kira berumur 30 tahunan.

“Om, ada temen aku yang mau lihat-lihat toko. Kakaknya mau kerja sama dengan ayah.” Pria itu tersenyum ke arahku.

“Boleh kok boleh, silahkan, ayo masuk jangan sungkan.” Aku membalas senyum pria ramah yang satu ini.

“Dia itu manager disini Key, namanya Om Tio, dia yang punya tempat ini. Tapi, isi mini marketnya semua dari ayah gue. Jadi, sistemnya bagi hasil, 30 persen untuk yang punya tempat, 70 persen untuk yang punya barangnya.” Niki menjelaskan dengan telaten.

“Kalo yang kerja disini Nik, yang nyari siapa?”

“Kalo yang kerja disini sepenuhnya jadi tanggung jawab ayah gue semua. Ibu gue yang nyari.” Niki mulai bercerita perjuangan ayahnya dulu yang merintis usaha dari nol. Ayahnya sama sekali bukan keturunan pengusaha seperti pengusaha-pengusaha besar lainnya. Ayah Niki bekerja sebagai pedagang asongan sebelum akhirnya jadi pengusaha sukses seperti sekarang. Beda banget sama papa, pikirku.

“Nik, tau ga? Orang kaya ayah lo yang saat ini seharusnya lebih dihargai loh, seseorang yang memulai segalanya dari bawah.”

“Kata siapa? Kalo jaman sekarang itu yang lebih dihargai ya orang-orang yang punya uang sama kekuasaan.” Pembicaraan aku dan Niki semakin meruncing. Aku tetap bersikeras bahwa seharusnya seseorang dihargai bukan karena uang dan kekuasaan tapi karena perjuangan. Tapi, Niki bilang orang seperti aku itu tidak realistis, tidak melihat kenyataan.

“Coba deh gue tanya, apa seorang penulis pernah lebih dihargai dari seorang politikus? Apa seorang jurnalis pernah lebih dihargai dari seorang anggota DPR? Dan apa seorang yang hidup dengan mengais sampah pernah lebih dihargai dari seorang Presiden? Fakta kalo uang dan kekuasaan itu bukan keperluan, tapi kewajiban, Key.”

Aku terdiam. Semua yang Niki katakan memang benar. Tapi rasanya menyanyat. Niki adalah satu dari sekian banyak orang pesimistis kalau negaranya sendiri punya sisi positif. Atau mungkin ini memang tempat dimana uang lebih berharga dari perjuangan?

“Key, sorry. Hm, tadi gue menggebu-gebu banget, ya? Haha selalu emosi setiap ngomongin hal-hal berbau Indonesia.”

“Hmm, gapapa Nik, take it easy, memang harus ada pengusaha kayak bokap lo di negara ini supaya ada orang-orang yang pada akhirnya tahu kalau perjuangan itu penting.”

“Yap. You get my point Key. Perjuangan meraih sukses memang ga selamanya berjalan mulus. Dalam segala hal, termasuk cinta.”

“Hahaha tumben banget lo ngomong gitu Nik, gue pikir lo tipe orang yang idealis abis, termasuk soal urusan cinta. Nih ya, selama ini gue pikir lo cuma mikirin negara, negara, negara. Oh ya, satu lagi, uang. Gue pernah bayangin lo akan bersama seorang perempuan yang tipe-tipe aktivis kampus, kuliah sambil ngejalanin usaha, oh mungkin perempuan itu udah punya usaha dari orok kali yaa. Terus..”

DEG! Niki tiba-tiba memeluk gue, erat.

“Maaf tiba-tiba. Gue sayang lo Key, gue yakin lo dari dulu tahu. Tapi kita ga bisa sama-sama. Kita beda, entah karena apa. Mungkin karena Tuhan kita sama tapi cara menyembahnya yang berbeda.” bisik Niki lirih.

“Gue.. gue nggak tahu Nik. Denger ya Nik, lo kolot banget, gue benci. Cara menyembah yang berbeda pada Tuhan yang sama memang masih disebut perbedaan ? Itu kan sama saja seperti kamu minum obat, aku langsung ditelan sementara kamu harus dihaluskan terlebih dahulu.”

“Key, nggak sesederhana itu kamu bisa merumuskan segalanya.”

Niki melepaskan pelukannya perlahan bersamaan dengan Om Tio yang datang mendekat.

“Ehem.. Keyko, kalau sudah fix mau kerja sama bisa langsung hubungi ayahnya Niki saja ya, hmm tapi kalau boleh tahu, kamu nggak keberatan? Toko ini kan sistemnya bagi hasil, seperti sistem ekonomi syariah sesuai anjuran dalam agama Om dan Niki.. Eh, Om ga bermaksud…”

“Iya Om, aku ga keberatan sama sekali kok, tenang aja ya perbedaan bukan berarti penghalang untuk dapat menjadi profesional, aku cukup ngerti tentang ekonomi syariah kok om. Nanti pasti kukabari kalau sudah fix.” Gue melayangkan senyum manis pada Om Tio yang seraya kembali ke meja kerjanya. Niki hanya memandang gue dengan nanar.

“Key?”

“Ya Nik?”

“Sorry ya, harusnya ini cuma jadi kunjungan lo ke toko gue, tapi jadi begini..”

“Hmm, gapapa Nik, cinta kadang ga selamanya berjalan mulus. Yuk, anter gue pulang.” Gue berlalu meninggalkan Niki, ada setitik air mata yang jatuh disana.

Bogor, 7 Juni 2012

From : niki@sujowo.org

To : keyko@kim.id

Keyko, Aku sudah lihat fotomu sama si kecil, lucu sekali Key. Beruntung sekali papanya punya dua bidadari. Anw, aku pulang ke Indonesia bulan depan, nampaknya usaha mini market di Indonesia butuh aku tengok. Selain itu, program desa mandiri yang aku rancang untuk penduduk miskin di Indonesia sudah mulai jalan. Meet up ? Eh, ajak Keyza juga ya. Paman mau kasih hadiah :D

Niki Sujowo

From : keyko@kim.id

To : niki@sujowo.org

Sip Nik, tempat biasa, pukul 2 siang. Keyza ingin sekali bertemu paman. Bawa hadiah yang banyak ya :D

Kim Keyko

–The End–

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d