Sebuah Siang di Salemba

Tags

, , , ,

Prepared by Client: 
Roy Saputra (@saputraroy)

“Permisi. Numpang tanya.”

Kamu pun mengangguk. Di pinggir jalan Salemba, kamu berdiri sendiri. Nampak seperti mahasiswi dari kampus sebrang sana. Jadi sepertinya cocok untuk kutanya-tanya tentang daerah sekitar sini. Awalnya aku hanya menurunkan kaca jendela dan bertanya di mana letak sebuah mall yang lokasinya dekat dengan bundaran HI. Namun suaramu yang pelan membuatku harus turun dari mobil dan mengulangi pertanyaanku. Kamu bilang dari sini lurus saja, ketemu perempatan belok kanan, lalu ikuti saja jalurnya. Aku tak mungkin tersasar, begitu jawabmu.

“Makasih ya. Ngomong-ngomong, di sana itu ada…”

Lalu aku menyebutkan salah satu brand pakaian yang sedang happening. Lagi-lagi kamu mengangguk. Di sana ada semua, begitu katamu. Pakaian segala rupa, semua warna. Tapi semuanya dengan harga yang bukan jangkauan mahasiswa. Aku tertawa. Sepertinya itu lelucon andalanmu. Jadi sepertinya aku harus tertawa.

“Eh, kamu tuh temannya Icha ya?”

Echa, begitu ralatmu. Aku pun mengiyakan. Ternyata dunia memang sempit. Aku bilang sepertinya pernah melihat entah di mana. Mungkin di sekitar rumah, karena Echa itu tetanggaku. Kamu bilang memang pernah main ke rumahnya di Pondok Kopi. Aku bilang iya sambil mengeluarkan mimik pantas-saja-pernah-lihat. Kemudian aku membahas Echa dan kamu mengangguk-ngangguk sambil tertawa. Terima kasih untuk kebiasan-kebiasaan buruk Echa yang sudah membuat kita tertawa bersama.

“Kamu mau ke mana?”

Sarinah, jawabmu. Kamu ada pertemuan dengan dua orang teman dan beberapa cangkir kopi. Sudah janji, namun sedari tadi sulit mendapatkan taksi. Setauku itu dekat dengan bunderan HI. Aku tawarkan tumpangan dengan barter penunjuk jalan. Dan sekali lagi, kamu mengangguk.

“Kenal Echa udah lama?”

Baru setahun belakangan, katamu. Sebelumnya hanya kenal biasa, namun menjadi dekat di semester lima ini. Sering bersama dalam tugas kelompok, membuat kamu tau lebih jauh tentang Echa. Tentang lucunya, tentang ramahnya, dan tentang orang tuanya yang tidak memperbolehkannya pulang malam. Kelas ekonomi makro yang membuat kalian dekat. Begitu penjelasanmu. Lalu kamu bertanya balik. Aku bilang juga baru beberapa bulan kenal Echa. Dulu rumahku bukan di Pondok Kopi dan baru saja pindah ke sana. Kamu hanya mengangguk pelan sambil bilang pertigaan depan belok kanan.

“Ini masuk parkirnya dari mana ya?”

Kamu bilang tak usah masuk parkir. Turunkan saja kamu di depan sini agar aku bisa menghemat waktu. Aku jawab sebetulnya tak apa. Sebagai tanda terima kasihku untuk kamu yang sudah berbaik hati mengantarku. Sempat ada debat kecil namun akhirnya kamu mengalah. Ku masuk kan mobil lewat spasi besar sebelah gedung. Saat petugas mengetikkan nomor plat mobil, saat itu aku bertanya,

“Boleh minta nomor handphone-nya?”

Dengan segera kamu bilang boleh. Kamu sebut 10 digit angka dan sebuah nama setelahnya. Rani Priwasdani. Lalu kamu menunjuk café yang paling depan. Dari balik jendela, sudah terlihat dua orang teman yang sudah menunggu dengan secangkir minuman di tangan masing-masing. Sesaat sebelum kamu menutup pintu, kamu bilang kapan-kapan main ke kampusmu dan kita bisa jalan sama Echa juga.

“Iya. Hehehe.”

Begitu jawabku berbarengan dengan suara pintu mobil yang tertutup. Kutancap gas dengan senyum terkembang di wajah. Dari depan Sarinah, aku lurus. Ketemu bundaran HI belok kiri. Kembali ke arah Salemba, kembali ke sebrang kampus nomor satu di negara ini, kembali mencari beberapa mahasiswi yang sedang berdiri sendiri.

“Main ke kampus dan jalan sama Echa?”

Dalam hati aku tertawa. Entah kampus yang mana, entah Echa siapa. Yang jelas, aku hanya tau bahwa semua orang setidaknya punya satu teman bernama Icha atau Echa.

Dan itu lah caraku memodusimu.

-The End-

The Simple Things

Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

PING!

“Mel, I need you. Asap. Gue sama Mirza just broke up.”

Melisa menerima sebuah pesan BBM dari sahabatnya, Icha, yang mengabarkan ia baru saja putus dari Mirza, pria yang dipacarinya hampir satu tahun ini.

Sebuah pesan singkat namun sangat mengejutkan bagi Melisa, mengingat baru saja malam minggu kemarin mereka bertiga jalan bareng dan ketawa-ketiwi bersama. Lalu tanpa pikir panjang Melisa segera menelpon sahabatnya itu.

Begitu telepon diangkat, yang terdengar adalah suara isak tangis Icha.

“Cha, lo dimana? Gue samperin ya.”

“Di rumah, Mel. Ke sini ya cepat, gue butuh lo.” Suara Icha terdengar bergetar. Melisa mengiyakan dan segera menemui sahabatnya yang sedang patah hati itu.

Saat satu jam kemudian Melisa sampai di rumah Icha, ia menghambur ke kamarnya dan segera memeluk Icha. Icha sedang duduk di atas kasur dengan kain seprai yang berantakan. Tissue bekas ia menyeka air mata bertebaran di lantai.

“Ada apa, Cha?” tanya Melisa sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.

Icha mencoba berbicara sekuat tenaga dan mengambil nafas berkali-kali. Dengan nada amarah ia menjawab, “Mirza selingkuh.”

“Tau dari mana? Sama siapa?”

Melisa masih enggak percaya akan pernyataan sahabatnya itu. Melisa tau betul, Mirza itu cinta mati sama Icha. Berkali-kali Icha memutuskan hubungan dengan Mirza saat bertengkar, pria itu pasti mati-matian mempertahankannya. Tapi sepanjang yang Melisa tau, masalah dalam hubungan mereka enggak pernah sampai melibatkan pihak ketiga.

“Lo inget kan, gue pernah cerita tentang cewek yang suka nebeng mobil Mirza kalau pulang kerja?”

“Kalau enggak salah, Intan kan namanya? Masa sih sama dia? Enggak mungkin, Cha. Mirza pernah gue tanya dan mereka bener-bener cuma temen pulang bareng aja.”

“Itu kan cerita Mirza. Gue percaya selama ini dia jujur sama gue, Mel. Dan ternyata dia bohong! Mereka selingkuh di belakang gue. Bangsat enggak tuh. Gue sakit, Mel.” cerocos Icha.

Icha menyeka lagi air matanya dengan tissue, menyisihkan ingus di hidungnya, lalu melempar tissue penuh virus itu ke lantai kamarnya. Dia melanjutkan ceritanya, “tadi siang waktu lunch sama Mirza, gue mergokin si cewek jalang itu nge-BBM Mirza.”

“Mesra banget, Mel. Bilang kangen! Gimana gue enggak shocked coba?” Icha sesenggrukan lagi.

“Duh sabar ya, Cha. Tapi gue mau juga denger dari versi Mirza boleh? Kalian sama-sama sahabat gue. Gue harus bersikap objektif.”

***

Keesokan harinya Melisa dan Icha makan malam bersama di restoran favorit mereka. Icha masih membutuhkan kehadiran sahabat terbaiknya, untuk membantunya melewati masa sulit. Icha sendiri sedari tadi enggak menyentuh makanannya. Kebanyakan orang sedang patah hati memang kehilangan nafsu makan.

Satu hal yang Icha enggak tau, Mirza sudah meminta bantuan Melisa untuk membawa Icha ke restoran ini. Mirza harus menjelaskan kepada Icha, bahwa semua ini adalah salah paham semata. Mirza ingin mendapatkan kesempatan untuk kembali kepada Icha, dengan meminta maaf kepada wanita yang sangat dicintainya itu.

Tak sampai hati melihat ketulusan Mirza, Melisa pun setuju untuk membantu memudahkan rencananya. Melisa membawa Icha ke restoran, lalu Mirza akan muncul.

Dan tepat sesuai rencana, tiga puluh menit setelah Melisa dan Icha sedang menyantap makan malam mereka, Mirza tiba-tiba menghampiri meja mereka.

Keceriaan yang biasa menghiasi wajah tampan Mirza sama sekali tak terlihat malam ini. Ada kegelisahan dan ketakutan besar tersirat dari penampilannya. Dia menenteng sebuah tas keranjang kertas di tangan kirinya. Setangkai mawar merah terselip di antara jemari tangan kanannya.

Icha yang menyadari kehadiran Mirza lalu melotot ke arah Melisa. Pandangannya seolah berbicara “What the hell is he doing here?” Ia sudah hampir berdiri untuk pergi, tapi Melisa menarik lengannya dengan sigap. “Cha, tunggu. Jangan pergi. Kasih Mirza kesempatan bicara.”

Mirza yang panik akan Icha yang tampak ambil kuda-kuda untuk melarikan diri, segera duduk di sebelah Icha.

“Tolong, Cha, kamu dengerin aku dulu. Kamu itu salah paham.” Melisa masih memegang tangan Icha yang sedang mengepal karena menahan marah.

“Aku memang salah enggak pernah cerita sama kamu. Intan ngejar-ngejar aku, yang. Tapi aku sudah menolaknya.”

Dengan panjang lebar Mirza menjelaskan, “Sejak kutolak, itupun dengan baik-baik, dia juga udah enggak nebeng aku pulang lagi. Aku yang bilang enggak bisa lagi, selama dia belum bisa normal sama aku. Dia terpaksa menerima tapi ya itu…kadang masih suka kirim BBM enggak jelas.”

Icha masih terdiam.

“Sebagai tanda bersalah dan rasa menyesal, ini aku bawain sesuatu.” Lalu Mirza mengeluarkan sebuah barang dari tas keranjang kertas yang ditentengnya ketika masuk restoran tadi.

Sebuah bingkai. Isinya mozaik gambar Icha yang terbentuk dari kumpulan foto mereka berdua. Cantik sekali. Melisa enggak menyangka di balik penampilan maskulin Mirza, ternyata ia sangat sentimentil.

Icha tetap terdiam dan tak melirik Mirza sedikitpun. Melisa yang menyaksikannya sudah berkaca-kaca dan berulang kali mengeluarkan ungkapan haru.

“Aku bawain bunga juga buat kamu, yang. I’m sorry and I really mean it.”

Bunga yang disodorkan oleh Mirza ternyata diterima oleh Icha. Tapi baru saja senyuman tersungging di wajah Mirza, raut mukanya berubah kecewa, ketika Icha menyelupkan mawar itu ke dalam gelas minumannya. Beberapa pasang mata dari meja pengunjung restoran ini ikut menonton pertengkaran ini. Tentu saja disertai gunjingan, people do love watching drama.

“Udah ya Mirza. Aku enggak butuh kamu luluhin kayak gini. Pokoknya putus ya putus.” tegas Icha.

“Cha, kamu jangan ambil keputusan dalam keadaan marah begini. Kamu ingat dong perjuangan aku bertahun-tahun lakuin apa aja sampe kamu akhirnya jadi milikku. Setahun aku nungguin kamu, terus setahun lagi kita pacaran. Dua tahun yang kita lalui itu mestinya jadi pertimbangan kamu.”

“Ngerti enggak sih, Za. Kamu tuh enggak usah bahas-bahas lagi segala perjuangan kamu yang besar lah, apa lah…”

“Semua itu jadi enggak berarti apa-apa karena ulah kamu. Kamu enggak jujur, dan aku enggak bisa terima. Pokoknya aku enggak percaya lagi.” Suara Icha semakin meninggi penuh emosi. Ia menarik lengannya yang masih di pegang Melisa, lalu bangkit berdiri.

“Dua tahun itu means nothing, karena satu hari waktu aku menangkap basah bbm si jalang itu.” ucap Icha lalu pergi meninggalkan Mirza dan Melisa.

“Jangan dikejar dulu, Za. Give her a little more time, okay.” saran Melisa.

Mirza menunduk. Ia menangis pelan.

Dalam hati Melisa terenyuh melihat pria di depannya yang benar-benar hancur. Astaga, cinta mati emang si Mirza ini.

***

Sebulan berlalu setelah perpisahan kedua sahabat Melisa itu, Mirza masih berusaha mendapatkan cintanya lagi. Luar biasa perjuangan pria ini, pikir Melisa. Ia tak gencar mengirimkan pesan yang berisi ucapan maaf dan meminta Icha kembali.

Tak satupun dibalas Icha.

“Mirza masih kontak lo, Cha?” tanya Melisa sambil membolak-balik menu makanan. Hampir tiap hari mereka menghabikan waktu bersama-sama, terutama ketika saat jam makan malam.

Icha mengganguk.

“Kamu nggak kangen sama Mirza?”

“Ya kangen lah, Mel. Kehilangan ini masih berasa banget. Tapi mau gimana lagi, gue harus bisa melupakan dia.”

Pesanan mereka pun datang, Melisa tanpa banyak basa-basi langsung bersuara riang, “Mari makaaan.”

Di saat Melisa sudah menyendokkan nasi goreng pesanannya beberapa suap ke dalam mulutnya, Icha masih bersibuk sendiri dengan botol minuman mineralnya. Ia mencoba dengan susah payah membuka tutup botolnya. Icha, sadar dengan kelemahannya yang satu ini, tidak pernah bisa membuka botol air mineral sendiri.

Dan selama dua tahun ini, Mirza lah yang selalu membukakannya untuk Icha. Icha meringis, “Mel, tolongin dong.”

Melisa menghentikan makannya ketika menyadari sahabatnya itu kesusahan. Melisa tiba-tiba ikut menyadari kelemahan sahabatnya ini. “Cha, lo itu bener-bener enggak bisa buka tutup botol aqua?”

Icha menggeleng.

“Jadi, selama gue bareng dengan lo dan Mirza itu, yang Mirza selalu bukain botol aqua buat lo. Itu bukan inisiatif dia, karena dia laki banget dan gentle?”

Icha menggeleng.

“Damn it!” Melisa terdiam sepersekian detik sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Cha, lo yang enggak bisa buka tutup botol itu hal simpel banget. Hal kecil banget, kebanyakan perempuan emang gitu. Tapi lo sadar nggak, Mirza itu bahkan inget hal sesimpel itu dari lo. Dan tanpa lo minta tolong bukain, dia udah inisiatif bukain buat lo, Cha.”

Begitu emosinya Melisa, sampai air mata menetes juga di pipinya.

“Ih Melisa, kenapa lo jadi nangis gini…”

“You know what, it’s the simple thing but touchy.”

Melisa menyeka air mata dengan punggung tangannya, “Berapa banyak cowok yang memperhatikan hal kecil seperti itu ke cewek? Cowok akan bukain botol kalau ceweknya minta tolong. Tapi Mirza, he paid attention for you in every detail.”

Icha tercengang, air mata sudah memenuhi matanya. Mengedip sekali saja, air mata itu sudah pasti berguguran.

“Did you get my message?” tanya Melisa.

“Seumur hidup lo, saat lo buka tuh botol aqua dengan susah payah, lo akan selalu ingat tuh laki. Dia cinta mati sama lo. Dan gue yakin, dia enggak selingkuh, Cha.”

Icha mulai menangis.

“Because, sometimes it’s the simple things someone did to you that can not make you simply forget about him.”

Melisa melanjutkan, “The way he says your name, the way he looks at you, even the way dia bukain tutup botol aqua itu. Silly sih. Simple but counts.”

“Iya, Mel. Gue bego banget. Kenapa gue enggak pernah mikir sampe ke situ. Gue kebawa emosi dan sampe segitunya ke Mirza.”

“Pikirin baik-baik lagi, Cha. Ya emang sih kita bisa ukur kadar cinta seseorang dari perjuangannya. Tapi coba diingat-ingat lagi deh hal-hal kecil yang pernah dia lakuin. Kelihatan kecil tapi sebenarnya, it means a lot.”

“Mirza paham banget sama kekurangan gue dan dia enggak membiarkan gue meminta duluan bahkan. Dia otomatis bukain botolnya buat gue. Dia enggak mau gue kesakitan karena tutup yang susah dibuka itu ngegesek kulit gue.”

Icha kemudian berusaha lagi membuka botol dengan sekuat tenaga. Ia menggunakan kukunya untuk menusuk bagian yang merapatkan tutup dengan segel pada botol itu. Lalu tiba-tiba sebuah tangan merebut botol itu dari tangan Icha. Kekuatan seorang pria dari tangan si perebut itu berhasil membuka tutup botolnya. Lalu kembali menyerahkan botol yang siap di minum itu kepada Icha.

Icha pun menjawab, “Makasih, Za.”

Melisa pun tersenyum sambil mengedipkan mata pada Mirza.

— THE END —

Sepatu Sol Merah

Tags

, , , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Disclaimer: cerita ini fiksi belaka, bukan bagian dari sejarah hidup Christian Louboutin.

The shiny red color of the soles has no function other than to identify to the public that they are mine. I selected the color because it is engaging, flirtatious, memorable and the color of passion. – Christian Louboutin

Begitulah pengakuan tuanku, mengenai asal usul mengapa semua sepatu karyanya ditandai dengan ciri khas yang sama. Sol merah. Kamu percaya kalau tak ada arti lain di balik sol merah itu? Bukankah selalu ada cerita di balik sebuah karya? Hanya saja, ada cerita yang dikubur dengan rapih oleh sang pencipta maha karya. Alasannya sederhana, karena cerita itu tak ingin diingatnya lagi. Tidak ada satupun yang mengetahuinya, kecuali aku. Aku, ciptaannya yang pertama 20 tahun silam.

***

Paris, 1992

Pagi itu tuanku duduk termenung di balik meja kantornya, yang berserakan dengan kertas-kertas bergambar hasil coretannya. Ia hanya menunduk sambil menopangkan kedua tangannya, pada kepala yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kebotakan. Seolah ada beban berat menggelayuti pikirannya.

Aku tau ia sedang dipusingkan dengan bisnis sepatu yang baru digelutinya. Memutuskan berhenti bekerja dari designer ternama seperti Chanel maupun Yves Saint Laurent, dan memulai usahanya sendiri bukanlah hal yang mudah. Ia sadar sudah banyak sekali heels cantik di pasaran. Tuanku hanya membutuhkan sebuah strategi, agar karya dengan label namanya sendiri itu dapat meluluhkan hati setiap wanita yang melihatnya.

Wanita-wanita Perancis masa kini sudah jatuh hati pada label ternama. Mereka bukan membeli sepatu untuk alas kaki, tapi membeli label untuk gaya. Semenarik apapun model sepatu buatan tuanku, tetap saja tidak dilirik. PR besar sekali bagi tuanku, untuk melakukan penggebrakan di dunia shoe-fashion.

Ia sudah hampir putus asa sebenarnya. Sampai masuklah seorang gadis muda ke dalam hidup tuanku.

Gadis itu, setiap hari berkeliaran di salah satu pasar tradisional di kota Paris. Ia menawarkan bantuan untuk membenarkan sol sepatu. Tuanku melihatnya, dan terpanggil untuk menolongnya. Iapun menawarkan pekerjaan kepada gadis itu, yang disambut dengan teramat antusias.

“Apa yang harus aku kerjakan untukmu, monsieur?”

“Membantuku membuat sepatu, modemoiselle. Aku seorang designer sepatu. Namaku Christian.”

Sejak pertemuan itu, tuanku memiliki seorang karyawan. Tugas wanita itu, memasang sol pada setiap sepatu ciptaannya.

Tuanku, diam-diam memperhatikan keuletan sang modemoiselle dalam menjahit sepatu. Di setiap untaian jemarinya yang berpadu dengan benang, ada kekuatan yang seolah iia pindahkan dari dalam dirinya kepada sepatu itu. Tuanku pun benar-benar puas dengan hasil kerja sang modemoiselle.

Tapi hubungan yang tidak lebih dari sebatas hubungan kerja ini, membuat pikiran tuanku lama-kelamaan tidak tenang. Lebih dari 12 jam dalam hari-harinya ia lewati bersama sang modemoiselle. Tuanku tidak bisa bersikap biasa saja. Dan ada perasaan menggelitik pada hatinya, tiap kali ia beradu pandang dengan gadis itu.

Tuanku itu tak pernah menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Ia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Suatu hal yang lazimnya disebut kawula muda di Perancis sebagai: Tomber en amour – jatuh cinta.

Suatu ketika, sang modemoiselle sedang melakukan rutinitasnya yaitu menjahit sol sepatu. Sedikit lalai, jarinya tertusuk jarum yang besarnya hampir seperti pena itu. Setetes darah keluar dari telunjuknya yang putih pucat. Dengan spontan, tuanku meraih telunjuk berdarah itu, lalu menghisapnya. Dibersihkannya dengan beberapa kali kecupan.

Itulah moment di saat keduanya tak dapat lagi membendung hasrat hati mereka. Mereka berdua tak lagi sepasang atasan dan karyawannya, tapi mereka adalah sepasang kekasih setelah malam itu.

Sang modemoiselle dengan kasihnya, memberikan dukungan luar biasa kepada tuanku. Sedikit demi sedikit usahanya mulai diakui oleh penduduk sekitar. Stiletto dari toko Louboutin semakin terkenal. Dari mulut ke mulut, mulai tersebar bahwa stiletto karya Louboutin memiliki sol yang kuat tapi halus, sehingga tidak menggores lantai.

Ketika usahanya semakin maju, tuanku merekrut satu karyawan lagi. Seorang pria muda, tampan dan pintar. Dengan bantuannya, sepatu yang dihasilkan dalam seminggu lebih banyak dua kali lipat.

Tuanku mempercayakan pembuatan sepatu kepada kekasihnya dan pemuda itu, sehingga ia bisa pergi ke pusat kota untuk mempromosikan sepatu buatannya.

Tak pernah sedikitpun tuanku menaruh curiga, mengapa terjadi perubahan pada kekasihnya. Sang modemoiselle tampak lebih cantik. Ia merias dirinya menjadi lebih baik. Mengganti busananya yang semula suram, dengan warna lebih cerah. Membiarkan rambut pirang keemasannya menjuntai sampai ke pinggulnya.

Tuanku menjumput rambut sang modemoiselle dari belakang dan meresapi aromanya dengan penuh cinta. “Kau wangi, sayangku.”

Wanita itu memutar tubuhnya sehingga berdiri berhadapan dengan tuanku. Tuanku meraih tangan wanita itu dan mencium punggung tangannya.

“Cantik sekali kukumu. Sejak kapan kukumu berwarna merah seperti ini?”

Dengan suara yang halus dan nyaris berbisik wanita itu berucap “Aku sudah lama ingin memberi kuteks warna merah pada kukuku, sayang. Tapi baru kesampaian sekarang. Kuteks membuat kuku menjadi lebih indah.”

“Aku suka jemarimu yang kuat pada saat menjahit sol pada sepatu. Dan kini, aku bahkan lebih menyukainya dengan warna merah di kukumu itu, yang membuat jemarimu semakin sempurna.”

Lalu tuanku memekikkan suara kegirangan, seperti baru saja menemukan benda kesukaannya yang lama hilang.

“Terima kasih, sayangku. Kau sudah memberikan sebuah ide brilliant. Sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan dengan sepatu buatanku itu, agar memiliki ciri khas yang berbeda dari label sepatu lainnya.”

“Apa itu, sayangku?” tanya sang modemoiselle kebingungan.

Tuanku hanya tersenyum dan mendaratkan ciuman sekilas di bibir mungil sang modemoiselle. Ia menghambur pergi ke ruang kerjanya, karena sudah sangat bersemangat menuangkan ide barunya itu.

***

Begitulah cerita dibalik proses terciptanya aku, sepatu dengan sol merah. Sol yang dicat warna merah, sudah menjadi ciri khas setiap maha karya tuanku, Louboutin. Menambah keindahan dari kekuatan heels.

Sejak pertama kali dipasarkan, aku menjadi terkenal. Usaha tuanku berkembang pesat. Ia bahkan memiliki sebuah perusahaan yang menangani bisnis sepatunya. Perusahaan yang ia kelola bersama rekan-rekan barunya. Tanpa sang modemoiselle, kekasihnya, dan sang pria muda yang membantunya dulu.

Kemanakah mereka?

Tak lama setelah berhasil dengan ide sepatu sol merah, tuanku yang semakin sibuk di luar toko untuk usaha pemasaran, tak pernah menduga. Bahwa di belakangnya, kekasihnya itu sudah mengkhianatinya. Ia bermain gila dengan sang pemuda.

Betapa kecewanya tuanku, mereka yang sudah ia ambil dari jalanan lalu diberikan pekerjaan, sudah menikamnya dari belakang.

Begitu sakit hati tuanku yang sudah dikhianati oleh wanita itu, sang modemoiselle yang dicintainya terlampau dalam. Sampai tuanku tak ada ampun mengusir pergi kedua biadab itu dari hidupnya.

Sejak saat itu, tuanku bertekad dengan bulat, tidak akan pernah mencintai wanita manapun lagi. Baginya wanita bukan untuk dicintai, tapi dimengerti. Seperti dengan terus bersemangat menciptakan sepatu mahal terbaik. Sepatu sol merah yang akan membuat mereka, para wanita, berlutut memujanya.

The Red Sole Shoes

Tell Us Your Shoes Story

Tags

, , , , , ,

Kamu penggila sepatu?
Kamu suka nulis cerpen?
Tertarik untuk nulis cerpen ttg sepatu?

Working-Paper.Com mau mengajak teman-teman untuk ikutan Project KumCer (kumpulan cerita) yang bertema sepatu. Kenapa?

Karena kami berdua suka banget sama sepatu! Hehe.

Sama halnya dengan sepatu yang punya jenis dan fungsi beragam. Kalau kita jeli, dari sepasang sepatu bisa dibuat banyak cerita. Kita berharap teman-teman bisa ikut jeli, mengupas segala cerita tentang sepatu dari berbagai sudut pandang.

Untuk ikutan project ini syaratnya gampang:

  1. Cewek .
  2. Maksimal 2000 kata.
  3. Cerita bisa seputar cinta cowok cewek, cinta general, hidup, apapun. Analogikan dengan sepatu.
  4. Ada pesan moral di balik sepatu, yang tersirat di dalam cerita.
  5. Satu orang maksimal mengumpulkan dua cerpen.
  6. Sudut pandang cerita tidak harus dari orang pertama, bisa dari orang ketiga juga.
  7. Batas waktu pengumpulan cerpen kurang lebih 2 minggu dari sekarang, atau setelah lebaran, tepatnya 21 Agustus 2012. Lebih cepat lebih baik, jadi bisa brainstorming sama kami untuk perbaikan dsb.
  8. Cerpen dikirim via email ke mia.hindrayanti@gmail.com, jika sudah jangan lupa mention @myaharyono atau @gelaph untuk ngingetin ya.

Harapan kami berdua sih, kumcer ini bisa dibukukan dengan judul ‘Why Woman Loves Shoes’. Sebuah cerita yang dibuat oleh wanita, tentang wanita, dan untuk wanita. Tapi bisa dibaca pria juga tentunya :d

So, dare to join?

Signed by,
@myaharyono
(on behalf of Working-Paper.Com)

 

How To Be Our Clients

Tags

, , , , ,

Hallooooo,

Gue dan Gelaph mau mengajak teman-teman ikut meramaikan blog fiksi asuhan kami ini dengan menjadi kontributor cerpen. Cerita bisa bertema apa saja, bebas, dan di bawah 2000 kata ya.

Caranya gampang, kirim email ke mia.hindrayanti@gmail.com atau grahita.primasari@gmail.com. Jangan lupa mention @myaharyono dan @gelaph juga ya :)

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan:

1. Peran teman-teman nantinya akan sebagai ‘client’.

2. Cerita mentah yang dikumpulkan adalah ‘data’.

3. Gue dan gelaph akan berfungsi sebagai ‘auditor’ yaitu editor yang mengolah lebih lanjut cerita kalian sehingga menjadi ‘working-paper’.

4. Working-paper kalian yang sudah di-publish kemudian siap di-review oleh para pembaca.

Mudah aja kan? So, ditunggu partisipasinya ya :)

Signed by,
@myaharyono (on behalf on working-paper.com)