Sepatu untuk Titanium

Tags

, , , ,

Prepared by Client:
Cynthia Febrina (@cyncynthiaaa)

‘Lo masih mau nyari sesuatu ?’ Tanya Saras membuyarkan lamunanku yang sejak tadi terbayang akan sesuatu. Ya, memori itu lagi, sepuluh tahun silam. Entahlah, memori itu selalu datang disini, beresonansi di tempat yang serupa.

‘Eh, enggak Ras, kayaknya belanjaan gue udah cukup banyak.’ Aku berusaha menjawab sekalem mungkin. Betul sekali, aku adalah Tita, si jago berekspresi. Pikiranku tengah berkecamuk oleh banyak hal tapi kurasa memperlihatkan itu pada Saras bukanlah hal yang tepat.

‘Lo lagi kenapa sih, Ta ? Akhir-akhir ini lo agak pendiem deh kalo gue perhatiin.’ Sepintar apapun aku menyembunyikan perasaan, Saras lebih pintar dalam menerka keadaan. Yeah, wanita memang peka.

‘Enggak kok Ras, semuanya baik-baik aja. Take it easy.’ Aku mencoba membuat raut muka sumringah dan sepertinya Saras cukup percaya.

‘Okee, kalo gitu kita langsung balik aja ya? Gue juga udah pegel-pegel nih. Lumayan juga belanja belinji kita hari ini, ngabisin duit ternyata asyik ya.’ Saras meletakkan sepasang sepatu converse yang hampir dua jam lebih membuat kami bolak-balik ke toko ini. Membuatku tenggelam pada memori itu lagi. Continue reading

Advertisements

Susan dan Sepatu Barunya

Tags

, , ,

Prepared by Client:
Connie Wong (@Dear_Connie)

Pernahkah kamu melihat padang rumput yang berwarna biru muda dan langit yang berwarna hijau daun? Kalau belum, bisa jadi kita belum pernah bertemu. Itu tempat tinggalku. Dimana matahari bertekstur merah jambu dan bulan bercorak ungu keperakan.

Namaku Susan. Kulitku seperti sawo matang, dan rambutku tergerai panjang. Aku memiliki sepasang mata yang paling damai yang pernah kau lihat. Mataku adalah tempat berteduh orang-orang kesepian dan butuh sekedar pelukan. Mereka tidak tahu, bahwa sebenarnya aku pun kesepian. Aku bahkan butuh lebih dari sekedar pelukan.

Aku hidup bersama Tuanku yang budiman. Dia memang menyayangiku dan memberikan apa pun yang aku butuhkan, tapi seperti mahluk lainnya, aku butuh dari sekedar rasa cukup. Aku butuh seorang sahabat, bukan banyak teman. Aku butuh rasa aman, bukan sekedar rasa nyaman. Aku butuh memberi, bukan hanya sekedar diberi.

***

Pada suatu hari Minggu yang cerah, sinar matahari yang jatuh ke bumi membuat kulitku bersinar. Hari ini aku diajak Tuanku berjalan-jalan. Kau tahu kemana dia membawaku? Continue reading

Jangan Jatuh di Bromo

Tags

, , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Siapa yang enggak mau mendapatkan pacar saat liburan? Gue mau! Banget. Tapi gue enggak mengharap lebih sih sebenarnya. At least, ketemu teman baru saja sudah cukup. Dan gue menemukannya waktu gue traveling ke Bali akhir tahun lalu.

Sebut saja dia si Rendang, panggilan akrab gue untuknya yang sangat menyukai makanan berlemak tinggi khas Padang itu.

Kebetulan kami menginap di hotel yang sama, dan bertemu tak sengaja saat sarapan pagi. Restoran cukup ramai oleh pengunjung karena saat itu Bali sedang high season. Dan dari sekian meja yang ditempati tamu hotel, pilihan dia jatuh ke meja gue yang memang hanya sendiri di tempat yang cukup ditempati oleh 2 orang. Mungkin juga karena gue adalah salah satu dari sedikit penduduk lokal di antara padatnya wisatawan asing yang memenuhi restoran.

“Maaf, sendirian? Boleh join?” Seakan dia sudah yakin bahwa gue tak bersama siapapun, permohonan ijin untuk bergabung sudah ia ajukan sebelum gue mengaku memang hanya sendirian.

Sebagai jawaban gue hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar dia duduk di hadapan gue.

Selanjutnya yang terjadi sungguh di luar kebiasaanku yang jarang sekali mau berbasa-basi dengan orang yang baru dikenal. Ya, kami mengobrol sampai batas jam makan pagi hampir selesai di restoran itu. Kami berdua seolah lupa waktu, entahlah, rasanya seperti bertemu sahabat lama. Dengan cepat kami bisa langsung ‘klik’.

Dan anehnya gue pun merasa nyaman untuk jujur padanya maksud gue berlibur sendirian di Bali kala itu.

“Patah hati. Gue ingin menenangkan diri di sini.”

Matanya terbelalak mendengar pengakuan gue lalu terbahak. “Kayak di film-film aja. Patah hati lalu traveling.”

Mau tak mau, gue pun ikut tertawa bersamanya.

Semenjak percakapan di pagi hari itu, kami tak berjumpa lagi di Bali karena sungguh disayangkan, ia harus kembali ke Jakarta malam itu juga. Gue menghembuskan nafas kecewa saat dia pamit undur diri. Well, time to say goodbye to stranger, gue membatin. Tetapi lagi-lagi yang terjadi sama sekali tak gue sangka, dia meminta kontak gue! Continue reading

My Mysterious Friend

Tags

, , ,

Prepared by Client:
Diar Trihastuti (@deardiar)

Arrggghhh…! Ini kerjaan kenapa nggak abis – abis!

Ingin rasanya gue menyerudukkan kepala ke layar laptop setiap ada notifikasi yang masuk di Microsoft Outlook. Seriously, nggak bisa distop gitu ya email – email ini? Misalnya tiap hari cuma terima 60 email, gitu?

Gue melirik ke sekeliling kubikel meja kerja. Ternyata nggak semua orang tampangnya se-stress gue. Ada yang kayaknya lagi curi –curi main Twitter, Path,  browsing, sampai game online di Facebook. Padahal title kita semua sama di sini. Sama – sama junior manager!

Oh ok. Berarti gue aja yang over loaded. Atau guenya aja yang kerjanya kurang smart. Mamam noh work smart, play hard! Rutuk gue dalam hati.

Trrrtt Trrrtt

Getaran Blackberry membuat gue mengambilnya dengan cepat. Ada SMS! Dan bukan dari provider kayak biasanya. Duh jomblo amat sih gue.

08157316XXXX:
Senyum dikit dong

Eh?

Nomor yang nggak gue kenal.

Gue melirik ke kanan kiri. Penasaran siapa yang mengirim gue SMS. Ini pasti keisengan salah satu teman kantor gue. Kalau nggak, mana si pengirim tau gue lagi manyun?

Me:
Siapa sih ini?

08157316XXXX:
Nggak usah nanya siapa gue. Tapi tanyakan apa yang telah gue berikan pada negara

Me:
-_____-“ Continue reading

Perih

Tags

, , , , ,

Prepared by Client:
Sarah Puspita (@sarahpuspita)

Spaghetti bolognaise-nya satu ya, Mbak. Sama ice lemon tea.”

“Saya sama.”

Pelayan itu mencatat pesananku dan Dira dengan patuh. Setelah mengulang membacakan pesanan kami berdua, ia pamit undur diri.

“Sabtu ini jadinya gue ke tempat anak-anak ya. Lo nggak mau kemana-mana kan?”

Aku diam. Kemudian melukis senyum menyebalkan di bibirku. “Terserah elo. Kaya gue punya hak aja ngelarang-larang. Emang gue siapa?”

“Hahaha, iya ya. Emang lo siapa?”

“Yup, kita kan udah bukan apa-apa. Lo juga udah bukan siapa-siapa.” ujarku tawar.

Dira diam. Aku diam. Kami berdua duduk bersama, dengan pikiran yang menuju ke arah yang jauh berbeda. Lalu tiba-tiba saja aku ingin mengecek smart phone-nya. Aku pun meraih HP yang aku belikan untuknya itu, yang tergeletak di meja.

“Eh! Ngapain sih?” Ia panik, berusaha meraih smart phone-nya yang kini ada di tanganku. “Sini nggak! Nggak sopan banget sih lo jadi orang!” Nadanya meninggi. Mukanya memerah menahan geram.

Aku tersenyum mengejek. Kemudian melempar mobile cellular itu kembali ke meja.

“Kenapa sih? Kan gue cuma mau liat galeri aja… Pasti ada foto gebetan baru ya.” sindirku sinis.

“Pernah diajarin sopan santun nggak sih lo? Suka-suka gue. Mau ada foto gebetan kek. Siapa kek. Bukan urusan lo. Bukan hak lo buat nanya-nanya. Inget kan kita udah putus? Inget kan lo bukan siapa-siapa gue lagi? Ngapain mau tau? Ngaca dong. EMANG LO SIAPA?” tandasnya tajam.

Aku diam lagi. Masih berusaha menahan sakit yang ditimbulkan akibat ucapan kasarnya. Dira yang selalu temperamental. Aneh, mengapa aku belum juga terbiasa? Padahal, setiap kami bertemu, setiap kami bicara, aku selalu dihujani kepahitan yang sama. Tapi, mengapa air mata ini masih juga menggenang di sudut mata? Tidak turun dan keluar, serta terlalu bening untuk tertangkap mata.

“Tau kok. Lo emang bukan siapa-siapa. Cuma satu dari jutaan cowok brengsek di dunia.” jawabku singkat, berusaha mengontrol nada bicaraku. Sedemikian rupa aku berusaha menguasai diri.

“Yang selalu lo kejar-kejar? Yang nggak bisa lo lepasin? Yang selalu lo minta bahkan sampe ngemis untuk kembali?” balasnya tak kalah pedas. Continue reading