• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Author Archives: myaharyono

Jodohku, Piye?

27 Friday Apr 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, Jodoh, Mia Haryono, Nikah, Takdir

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

“Dengan ini saya terima nikahnya Sri Nikmah Binti Abdul Muin dengan mas kawin emas sebesar 20 gram diterima tunai”

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah. Sah”

Suara para hadirin yang memenuhi perhelatan akad nikah di dalam masjid bernuansa hijau ini terdengar riuh. Tidak sedikit yang bertepuk tangan merayakan keberhasilan sang mempelai pria mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Ucapan sah itu juga menandakan Sri, sahabat gue, per detik ini resmi melepaskan status lajangnya.

Dan Sri adalah orang ketiga yang menikah setelah Fina dan Rasya, sahabat gue yang lain, yang lebih dulu menikah dua tahun lalu. Tinggal tersisa gue dan Sita yang lajang. Kami berlima sudah bersahabat dekat sejak masih berseragan putih biru. Sejak kami berlima mengalami menstruasi pertama kami!

Awalnya gue masih merasakan kebahagian luar biasa sewaktu Fina dan Rasya menikah. Sedikit merasa kehilangan karena setelah menjadi istri yang langsung hamil, mereka berdua hampir ngga pernah lagi hang out bersama gue, Sri, dan Sita. Tapi sejak Sri mengumumkan rencana pernikahannya, kata yang pertama gue ucapkan dalam hati adalah “Crap!”. Well, it’s a super crap actually.”Rasa was-was mulai menyerang gue. Di antara kami berlima, artinya tinggal gue dan Sita yang melajang, di umur kami yang sudah berada di penghujung 20.

Tapi setidaknya Sita saat ini memiliki kekasih. Besar kemungkinannya dia lah yang akan menerima piala bergilir pernikahan berikutnya. Sedangkan gue? Not in a relationship with anyone! So, does it mean that I’ll be the last single on our gang?

OMGRRS! Oh My God, Run Run Small. Iki piye. Iki piye. Iki piye. Jodoh mana jodoh? Sesak seketika gue rasa. Tapi gue langsung sadar, sesak ini lebih karena korset gue sih. Pfft.

“Ta, kapan Edo mau nikahin lo? Udah ada omongan belum?” tanya gue gelisah. Raut muka Sita berubah masam. Apakah artinya masih belum jelas? Yes. Berarti gue masih aman.

“Doain aja tahun depan deh.” jawabnya kemudian.

Hah? Tahun depan? Artinya gue ada waktu 1 tahun untuk segera mencari calon suami. Setahun cukup ngga tuh? Dan sungguh gue sangat takut. Takut menjadi yang terakhir. Untuk itu, kali ini gue harus serius. Tidak besok, tidak nanti. Tapi sekarang.

Gue memasukkan keyword ‘pria mapan siap menikah’ ke dalam otak. Lalu tekan tombol SEARCH. Kemudian mata gue dengan cekatan menelusuri segala penjuru ruangan tempat berlangsungnya akad nikah ini. Arah jam 12, ganteng sih tapi bibirnya kenapa merah banget. Bisa-bisa nanti kami malah berbagi lipstick. Bulu kuduk gue berdiri seketika. Merinding.

Arah jam 3. Gagah juga dengan balutan batik casual. Baru saja gue putuskan untuk mendekatinya, lalu ada seorang wanita tinggi jenjang menghampirinya. Memakai batik dengan motif yang sama dengan pria itu. Suami istri rupanya.

Zero result.

Ini shit banget.

Dengan terburu-buru gue mengeluarkan blackberry dari clutch yang berwarna senada dengan kebaya yang gue kenakan. Hampir saja gue mengirimkan broadcast message “Hai, mau menikah sama aku?” ke seluruh pria di kontak BBM gue. Itung-itung, sekalian tes pasar. Selaku apa ya gue kalau dipasarkan? Ish, emangnya gue produk apa. Anyway, gue juga ngga se-desperate itu sih. Jadi gue urungkan saja niat nekat gue yang terkesan murahan itu. Kecewa dengan harapan yang tak tercapai, sepanjang sisa acara gue hanya bisa menunduk lesu.

Sembilan bulan setelah pernikahan Sri, keadaan masih tidak ada yang berubah. Kecuali perut Sri yang membuncit, karena dia pun termasuk wanita yang beruntung langsung dianugerahi kehamilan setelah menikah. Beberapa minggu lagi ia akan melahirkan. Sita dan kekasihnya masih baik-baik saja, bahkan sepertinya mereka sudah mulai merancang pernikahan.

Sedangkan gue, masih juga sendiri. Padahal usaha gue sudah cukup lumayan. Mulai dari aktif bermain Facebook lagi, siapa tau ada teman lama yang bernasib sama. Tapi foto profile teman-teman gue malah sudah berubah menjadi gambar seorang bayi mungil. Foto anak-anak mereka rupanya. Sampai menjadi member di salah satu fitness club di Jakarta. Pasti banyak banget cowo keren dengan badan tegap dan perut six pack, ‘rebah-able’ banget kan pasti. Tapi yang terjadi adalah gue banyak mendapat teman baru gay. But they’re really women’s best friends actually. Cuma jeleknya, gue malah bersaing ‘ngegebet’ cowo keren dengan para gay itu. Dan seringnya, gue kalah.

Ya Tuhan, semakin banyaknya pria-pria penyuka sejenis ini apakah pertanda dunia segera kiamat? Jika ya, kumohon jangan akhiri dunia ini sebelum aku mengakhiri masa lajangku. Amiin.

All single ladies, all the single ladies. Now put your hands up.

Suara Beyonce melengking terdengar dari blackberry gue, bunyi nada panggilan telepon masuk. Sebuah nama menghiasi layar handphone yang masih awet meski sudah berusia tiga tahun lebih. Suaminya Sri. Jangan-jangan sudah waktunya Sri melahirkan.

Benar saja. Sri akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang tampan dan membuat siapa saja jatuh cinta.

Aga. Sosok yang membuat gue bahagia beberapa bulan setelah Sri melahirkan. Bukan, ia bukan bayinya Sri yang lucu itu. Dia seorang pria berusia awal 30-an yang gue temui di rumah sakit. Adik perempuannya juga melahirkan dan dirawat di ruang yang sama dengan Sri. Sama-sama menjadi penjaga ibu baru melahirkan membuat kami berkenalan dan sering bercakap-cakap. Lalu semuanya mengalir begitu saja dengan cepat. Belum juga berganti lembar kalender, Aga sudah menyatakan niatnya untuk menjalin hubungan lebih dari pertemanan.

“Aku tak tau kita berjodoh atau tidak pada akhirnya. Yang ku tau saat ini kamu lah takdirku” ucapnya dengan senyuman termanis yang membuat jantung gue seperti mau melompat keluar dari tubuh gue.

Lampu notifikasi blackberry warna merah berkedip-kedip, mengalihkan gue yang sedang tidur-tiduran. Gue sedang melamun di 4 x 4 meter yang penuh dengan dekorasi bernuansa jerapah. Sebuah kamar yang disebut sebagai kandang jerapah oleh para sahabat gue. Sudah hampir menjelang dini hari tapi gue masih ingin terjaga, karena realita jauh lebih membahagiakan dari mimpi gue selama ini. Itu mengapa gue ngga ada hentinya tersenyum-senyum sendiri. Mengingat kejadian malam tadi saat Aga ‘nembak’ gue.

Ternyata sebuah pesan BBM. Dari Sita.

Sita: Ayuuuuu... Udah tidur? Need someone to talk. 
Gue: Kenapa, Ta?
Sita: Gue baru putus. Edo balikan lagi sama mantannya. 
Kampreeeet.

Apa? Putus? Berarti ngga jadi nikah dong? Wah, berarti gue ngga jadi yang paling terakhir kan! Yes! Serta merta gue mengepalkan tangan ke udara.

La la la la. Ye ye ye ye.

Sita: Yuuu, are you there?
Sita: PING!
Gue: Iya iya, Ta. Sori gue shock banget tadi dengarnya. 
Sabar ya :(

Maaf ya, Ta. Teman lo ini egois sekali. Akhirnya lo akan merasakan yang gue rasakan setahun terakhir ini hihi. *smile like devil*

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Jangan Pilih Sembarangan (Tentukan Sendiri Ending-nya)

23 Monday Apr 2012

Posted by myaharyono in Fiction & Imagination

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerpen, hidup, Mia Haryono, pilihan

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Shalin. Perempuan berusia 18 tahun yang sesaat lagi segera merayakan kebebasan dari seragam putih abu-abu. Dia sedang kebingungan menentukan 3 jurusan yang jika diproratakan, memiliki tingkat kesukaan dengan presentasi yang sama besar yaitu 33.33%. Jurusan tersebut adalah Sastra Inggris, Kedokteran, dan Administrasi Fiskal. Bahasa, IPA, dan IPS. Ketiga jurusan dengan  jenis intelegensia yang sangat berbeda.

Tapi alasan Shalin menyukai ketiga jurusan itu sih sebenarnya simple. Pertama, dia ngga mau pisah kampus sama pacarnya, Rocki, yang tiada dua gantengnya bagi Shalin. Rocki sangat menyukai bahasa Inggris dan ingin serius mendalami bahasa Pangeran William itu. Rasa takut kehilangan cowok yang disayanginya itu membuat Shalin semangat juga belajar bahasa Inggris, demi bisa jebol ujian masuk salah perguruan tinggi yang sama dengan yang diminati Rocki.

Layaknya banyak anak kecil yang jika ditanya ‘Kalau sudah gede mau jadi apa?”, Shalin pun dengan mantab menjawab “Dokter dong.” Cita-cita mulianya ini sudah tercium oleh orang tuanya sejak Shalin bocah yang senang mengkoleksi handyplast, salah satu band-aid yang kini dikenal dengan sebutan hansaplast. Sebenarnya mudah saja bagi Shalin mewujudkan mimpinya. Dia memiliki nilai pelajaran IPA yang sangat baik, terutama Biologi. Tetapi keyakinan kuliah di Kedokteran tergoyahkan oleh keinginan mendalami sastra Ingris demi kekasih dan satu hal lainnya.

Shalin juga mengagumi sang Ibu yang sukses sebagai konsultan pajak. Kalau dia serius menekuni perpajakan, Ibunya sudah memberikan garansi untuk bekerja di kantor Ibunya setelah lulus nanti. Sungguh ketiganya pilihan yang sulit bukan?

Life is a choice. Pilihan saat ini menetukan masa depan nanti. Kira-kira jurusan apa yang akan dipilih Shalin? Masa depan seperti apa yang akan dijalani Shalin berdasarkan ketiga jurusan tersebut? Ending cerita hidup Shalin berada di pilihan anda. Pilihlah salah satunya.

Shalin memilih jurusan Sastra Inggris.

Betapa bahagia hidupnya selalu berdekatan dengan kekasihnya, Rocki. Memiliki pacar ganteng memang harus ekstra hati-hati menjaganya. Terlebih banyak senior perempuan yang terang-terangan menggodanya. Lama-lama, Shalin stes sendiri. Dia ngga bisa terus-terusan mengintil Rocki. Karena ternyata Rocki pun juga mulai gerah. Pertengkaran demi pertengkaran tak terhindarkan. Empat tahun di kampus sastra mereka lalui dengan hubungan on-off. Menjelang kelulusan, mereka sepakat untuk pisah baik-baik. Shalin sendiri bekerja menjadi penerjemah di salah satu penerbit besar di Jakarta. Sementara Rocki meneruskan studi S2nya dengan beasiswa ke Inggris yang berhasil ia dapatkan. Setelah dua tahun bekerja di penerbit itu, ia bertemu dengan seorang penulis novel komedi muda, Reza, yang tidak tampan tapi sangat yakin kalau dirinya tampan. Pria yang menyenangkan. Mereka menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya sebelum akhirnya menikah.

Shalin memilih jurusan Kedokteran.

Tahun-tahun pertama berjuang di fakultas kedokteran sangat berat. Tugas, praktikum, dan masih banyak lagi kegiatan di kampus sangat menyita waktu Shalin. Apa daya hubungannya dengan Rocki kandas juga di tengah jalan. Boro-boro memikirkan pacaran, diri sendiri saja ngga keurus. Tapi satu hal, Shalin sangat menikmati hidupnya. Inilah passion-nya. Dia tidak merasakan stres dan tetap bahagia walau jomblo sampai lulus KOAS. Menjalani praktek pertama sebagai dokter muda di Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu. Bayangkan, gadis metropolitan ini harus melewati hidup di kota kecil selama dua tahun lamanya. Ketika akhirnya kembali ke Jakarta dan bertugas di salah suatu rumah sakit swasta terkemuka, Shalin terlibat cinta lokasi dengan salah seorang dokter yang berusia 6 tahun di atasnya, Redi namanya. Kesibukan membuatnya lupa mencari jodoh. Mungkin bukan sibuk, dia hanya menunggu kedatangan Shalin dalam hidupnya. Wanita yang kelak memberikan keturunan untuknya.

Shalin memilih jurusan Administrasi Fiskal.

Ternyata pajak susah! Setengah mati Shalin harus menghapalkan berbagai ketentuan perpajakan. Untung saja ia memiliki tentor setia, yaitu Ibunya. Contoh-contoh kasus tugas kuliahnya dapat diselesaikan dengan bantuan Ibunya. Hubungannya dengan Rocki juga lancar, apalagi kampus mereka berdekatan. Berhasil menyelesaikan studinya, Shalin pun langsung bekerja di kantor Ibunya. Menjadi wanita kantoran di usia muda sungguh menyenangkan bagi Shalin. Namun hubungannya dengan Rocki harus kandas setelah Rocki melanjutkan studinya ke Inggris. Dia mendapatkan beasiswa karena prestasi di kampusnya yang membanggakan. Mereka berpisah demi kebaikan masing-masing. Rocki tidak ingin Shalin menunggunya. Long Distance Relationship adalah hubungan yang mereka ingin hindari. Kenyataannya, meski berpisah mereka tetap rajin berkomunikasi. Shalin yang menjalin kedekatan dengan beberapa pria malah menjadikan Rocki seagai tempat curhat. Dua tahun di Inggris tidak membuat Rocki lupa kampung halamannya. Ia pulang ke Indonesia untuk masa depannya yang ingin ia habiskan di negara kelahirannya itu. Bersama wanita yang selalu dicintainya, Shalin.

Jodoh anda ditentukan sejak memilih jurusan kuliah – @pervertauditor

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Dipacari Seleb Twitter

14 Saturday Apr 2012

Posted by myaharyono in Cerita Cinta

≈ 5 Comments

Tags

@myaharyono, cerpen, cinta, Mia Haryono, Twitter

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Selama itu gue terdiam. Tercengang ngga mampu berkata-kata. Apa gue ngga salah dengar? Cowok keren yang duduk tepat di hadapan gue ini baru saja meminta gue jadi pacarnya!

Matanya yang hitam pekat menusuk mata gue dengan tatapannya. Bibirnya tersenyum sambil memainkan jari telunjuknya pada bibir gelas.  Semua perilakunya itu mengisyaratkan, “It’s okay. Take your time to think about it.”

Yang gue butuhkan saat ini tepatnya tidak hanya waktu, tapi juga udara segar. Karena tiba-tiba saja gue merasa sesak. Gue sedot lemon ice tea yang gue pesan menemani menu makan malam tadi untuk mengalihkan ketegangan. Tapi saking gugupnya, yang ada malah gue terus meminumnya sampai habis. Bodohnya gue ngga sadar kalau terus menyedot es batu di dalam gelas. Memberikan suara yang tidak enak didengar.

Srot. Srot. Srot.

“Mau tambah minumannya saja?” tawarannya menyadarkan tindakan bodoh gue itu.

“Ngga usah. Udah cukup kok.” jawab gue malu-malu pada si teman baru gue ini.

Ya, gue belum lama mengenalnya. Keberadaan dia di hidup gue juga sungguh tiba-tiba dan tak terduga. Sebelumnya dia hanya mondar-mandir di timeline gue.

Namanya Rayan. Pemilik akun Twitter @rayarayan yang mempunyai ribuan follower. Dia bukan public figure yang sering muncul di berbagai media. Dia hanyalah satu dari beberapa orang beken di Twitter. Gue ngga pernah tau dia itu siapa sampai suatu waktu teman gue me-retweet beberapa tweet keren si Rayan. Isinya smart jokes, unik, lucu, dan ‘bangke’. Alasan gue akhirnya ikut-ikut me-follow orang biasa dengan tweet ngga biasa.

Semakin sering kicauannya menghiasi timeline semakin gue mengaguminya. He becomes my Twitter Crush. Dan Rayan ini ramah, dia juga sering me-reply mention para followers-nya, termasuk gue. Di-reply saja sudah bikin gue happy banget. Apalagi di-foll-back? Teriak kegirangan adalah yang pertama kali gue lakukan sewaktu di-follow Rayan.

Sampai beberapa minggu setelahnya kami semakin aktif saja di Twitter. Dia membuat gue setengah semaput sewaktu mengirimkan Direct Message yang bertuliskan, “Boleh minta pin BB?”

Mimpi apa gue sampai bisa BBM-an sama Twitter Crush!

Sejak saat itu kami rutin BBM-an. Gue baru mengenalnya tapi seperti sudah lama menjadi teman baik. Percakapan yang awalnya hanya seputar ide-ide untuk tweet bangke dia berikutnya, lama-lama naik setingkat menjadi curhatan sehari-hari. Gue pun heran bisa nyaman bercerita dengan orang baru. Dan rasa penasaran terhadap statusnya terjawab ketika akhirnya gue iseng BBM dia di malam minggu.

Sansan : Rayan...

Langsung dibalas.

Rayan  : Alooo
Sansan : Lagi ngapain? Kok ngga muncul di Twitter?
Rayan  : Memantau TL saja. Biar disangka ngga jomblo haha.


Aha! Gue merasa hidung gue kembang-kempis.

Sansan : Bohong banget! Pencitraan doang kali.
Rayan  : Serius kok. I’m single and on my way to find unhappy woman. I’m gonna make her smile again. :)
Sansan : Hahaha basi lo.
Rayan  : Lo sendiri kok malam minggu nyari gue? Ngga pacaran?
Sansan : I’m single and happy. So I dont need you to make me smile. 
Rayan  : Are you sure? Be careful with your words, girl.. ;)

He’s right. I should’ve noticed his warning. I can’t believe now i’m addicted to the way he makes me smile. Ngga cuma melalui BBM tapi juga saat mengobrol langsung. Dia sangat menyenangkan. Setelah cukup akrab kami memutuskan untuk tweet up. Istilah dua orang yang bertemu setelah berkenalan lewat Twitter.

Pertemuan yang berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Termasuk saat ini. Di tempat makan favorit kami, malam minggu kesekian yang kami lewati bersama karena memiliki status yang sama-sama sendiri. Dan gue masih ngga percaya kalau cowok yang gue suka ini juga merasakan hal yang sama.

I know my feeling towards him is just a little crush. But I really don’t mind to fall for a completely stranger in front of me. Staring at me and patiently waiting for my answer.

Sepuluh menit.

Akhirnya gue tersenyum.

“Congratulation Mr. Rayan. You finally make this happy woman to smile, because she’s happier since you’ve crossed her borderline.”

Dia tersenyum semakin lebar. Cute sekali.

Gila! Gue baru saja ‘ditembak’ oleh seorang Seleb Twitter! Hore!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

When She Cries

09 Monday Apr 2012

Posted by myaharyono in Estafet Working-Paper

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerbung, cerpen, cinta, Mia Haryono

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

“Ngga bisa. Pokoknya gue ngga bisa.” tegas gue.

“Kenapa ngga mau mencobanya dulu?” ucapnya sambil terisak.

Argh, wanita ini sungguh keras kepala. Pake acara menangis segala. Gue paling ngga bisa lihat wanita menangis sebenarnya. Tapi entah sudah berapa kali dia menitikkan air matanya di depan gue. Dan untuk kesekian kalinya gue ngga juga merasa iba. Gue sendiri heran mengapa hati gue ngga tergerak sedikitpun akan kesungguhan wanita ini. Gue kasihan padanya. Cintanya setengah mati sama gue. Sedangkan gue? Tidak memiliki perasaan apapun padanya.

Sudah setahun lamanya ketika pertama kali gue menolak cintanya. Tapi dia tetap gigih mengejar gue. Tetap setia bertahan menjadi teman gue. Bukan gue yang meminta, dia sendiri yang dengan suka rela melakukannya. Atas dasar ‘ngga enak’ ya gue pun tetap memperlakukannya sebagai teman baik.. Tapi kalau kebaikan gue diartikan terus-menerus olehnya sebagai harapan, lama-lama gue bingung juga.

Jujur, gue menikmati rasa sayangnya itu. Disaat gue susah, dia toh selalu ada buat gue. Bangga lah gue punya fans setia semacam dia. Tapi sebagai pria dewasa normal pada umumnya, gue juga ingin mengejar wanita. Wanita yang ingin gue sayang. Dan sayangnya, itu bukan dia. Dia yang kini menangis tersedu di hadapan gue karena cintanya ditolak untuk ke sekian kalinya.

Gue keluarkan sebatang rokok dari saku kantong lalu membakar ujungnya dengan korek api. Kondisi seperti ini membuat mood gue rusak. Dan hanya selinting tembakau yang dapat menyelamatkan ketegangan gue. Gue tarik satu hisapan panjang lalu mendongakkan wajah ke atas. Gue memainkan asapnya di dalam mulut sebelum menghembuskannya ke udara. Dari sudut mata gue bisa tau kalau wanita itu sedang memperhatikan gue. Gue melirik ke arahnya. Tak ada lagi air mata di wajahnya. Tersisa hanya lengkungan tipis bibirnya. Dia sedang tersenyum.

“Udah nangisnya? Kok sekarang senyum?” tanya gue yang terdengar cukup galak.

“Gue suka lihat gaya lo ngerokok. Makin jantan deh.” ucapnya sambil terkikik.

“Gak usah ngerayu. Kata-kata begitu doang ngga lantas bikin gue nerima cinta lo juga.” kata-kata gue langsung merubah mimiknya dari senyum menjadi semburat kesedihan. Sebelum dia mulai menangis lagi sebaiknya gue segera ajak pulang.

“Udah malam nih, makin sepi juga nih taman. Yuk, gue anter pulang.”

Sepanjang perjalanan mengantarnya pulang kami saling diam. Gue geser spion motor sedikit agar dapat memperhatikannya yang duduk di boncengan motor gue. Astaga, dia menangis lagi. Ah, bagaimana gue bisa berkonsentrasi mengendarai motor kalau begini. Ada ketakutan luar biasa kalau-kalau wanita yang sedang rapuh ini terjatuh dari motor gue.

Diam-diam aku berdoa. Mengapa Engkau membawanya masuk ke kehidupanku, Ya Tuhan? Sungguh aku sulit menentukan sikap menghadapi semua ini. Setiap jiwaku sepertinya ingin mati saja ketika melihatnya menangis. Beban yang kurasa sungguh berat karena tak mampu membalas cinta dan kebaikannya. Sangat ingin aku memantaskan diriku untuknya yang sudah dengan setia menantiku. Sudah kucoba dan tak bisa. Lalu apa yang harus aku lakukan? Mencintanya aku tak sanggup tapi meninggalkannya aku tak mampu.

Tiba di halaman depan rumahnya, tanpa banyak bicara dia menyerahkan helm kepada gue. Dia lalu melangkah pergi menuju pintu pagar dan membukanya. Bunyi decitan kunci dibuka terdengar memecahkan kesunyian malam ini. Dia membalikkan badan ke arah gue lalu berkata, “Thanks ya. Untuk semuanya. Bye.” Sambil mengusap pipi dengan punggung tangannya, dia pun membalikkan badan lagi.

Gerakannya yang beberapa kali membalikkan badan, menghapus air mata, mengunci pagar, lalu berjalan memasuki rumahnya terlihat anggun sekali. Dia layak mendapatkan pria yang tepat. Yang dapat mencintainya. Gue pasang kembali helm dan menstater motor gue. Bunyi raungan mesin pun mengiringi laju kendaraan roda dua yang meninggalkan rumahnya.

Doa sekali lagi kupanjatkan pada Tuhan, menemani perjalanan pulang di malam ini. Ya Tuhan, jangan biarkan dia menangis lagi.

Cukup jelas kan doa gue? Gue ingin dia tidak menangis lagi. Bukan menjauhi gue. Karena gue belum siap ditinggalkan olehnya.

Setelah malam itu, dia memutuskan segala komunikasi dengan gue. Dia benar-benar berusaha untuk melupakan perasaannya. Melupakan gue. Lalu mengapa gue harus kehilangan? Bukankah ini yang sejak awal gue inginkan. Bahkan gue pernah mencoba menjauhinya beberapa kali.

Selang beberapa hari tanpa kehadirannya, ada rasa gamang gue rasakan. Tapi nyali gue sangat ciut untuk menghubunginya. Ngga sanggup untuk menghadapinya. Sudahlah, gue tidak ingin mengganggunya lagi.

Sekarang, biarlah gue jalani kenyataan menjadi seorang stalker yang mengamati timeline-nya. Ya, membaca tweet-nya diam-diam karena dia sudah block account Twitter gue.

Melepaskanmu adalah bukti ketulusanku mencintaimu.

Gue baca berkali-kali kata demi kata.

Melepaskanmu. Adalah. Bukti. Ketulusanku. Mencintaimu.

Lalu air mata membasahi pipi.

Tuhan, apa yang telah aku lakukan?

When she cries at night
And she doesn’t think that I can hear her
She tries to hide
All the fear she feels inside

So I pray this time
I can be the man that she deserves
‘Cos I die a little each time
When she cries

– Restless Heart

(to be continued…)

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Create a free website or blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d