• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Monthly Archives: April 2012

My Kind of Guy

30 Monday Apr 2012

Posted by gelaph in Cerita Cinta

≈ 6 Comments

Tags

@gelaph, cerita pendek, cerpen, fiksi, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Layar laptop berkedip-kedip, pertanda ada pesan masuk. Karena sedang tanggung dengan spreadsheet, gue mengacuhkan pesan itu untuk sementara waktu.

Kecepatan detak jantung gue nyaris setara dengan seorang pelari cepat jarak pendek ketika mengetahui siapa pengirim pesan tersebut.

Raka:
Busy?

Si lelaki pencepat-detak-jantung ini cukup mengirim satu kata. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat gue kebingungan harus menjawab apa. Okay, kita lihat saja apa maunya.

Grahita:
Nope. You?
Raka:
I’m bored.

Well, percakapan satu dua kata. Akan gue jaga sesuai keinginannya.

Grahita:
Hmm…. So?
Raka:
I’m sleepy also.. 
So why don’t we go downstair and get some coffee there? 

Shoot! To-the-point man! My kind of guy.

Grahita:
Sounds great. Let’s!

Kedai kopi di lantai dasar gedung ini pun menjadi tempat tujuan utama. Tidak banyak yang berkunjung, mengingat ini masih terhitung office hour. Akan berbeda halnya jika kami berkunjung selepas jam kerja. Pasti penuh sesak oleh pegawai kantoran di sekitar sini.

Dua cangkir kopi menemani istirahat kami sore itu. Triple Shot Espresso untuknya yang merasa super-ngantuk, dan Dark Mocha untuk gue yang tidak suka kopi pahit. Kami mengobrol ringan saja, seputar sisi lain lingkungan pekerjaan dan hobi di kala senggang.

Dari ceritanya, gue mengetahui kalau dia sudah empat tahun di kantornya sekarang. Dan kebetulan, assignmenttahun ini membuatnya ditempatkan di kantor gue.

Ya, Raka adalah auditor perusahaan tempat gue bekerja. Ia berbadan tegap, berwajah oriental, dan berkaca mata minus tipis. Walaupun tampilannya terlihat serius, ternyata ia sangat kocak. Humoris. Again, my kind of guy. Perempuan mana yang tidak suka dengan lelaki humoris?

And… By the way, tahu auditor itu apa?

Hmmmm…

Okay, gue jelaskan sedikit.

Auditor, berbeda dengan editor, adalah orang yang berprofesi untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan. Apakah laporan keuangan suatu perusahaan telah ditampilkan dengan wajar, tidak ada yang overstated ataupun understated.

Tahu BPK? Badan Pemeriksa Keuangan? Nah, itu contoh auditor pemerintah. Kalau Raka, berasal dari kantor swasta. Istilah umumnya sih kantor akuntan publik.

“You said that you’re bored? And sleepy?” Gue menyedot Dark Mocha, “how come?”

Raka tersenyum tipis, “I’m overloaded, not enough sleep. So much to do with very little time. I think I can bang my head against the notebook. Just like… Bang! Bang! Bang!” Raka berakting seolah-olah membenturkan kepalanya ke meja, dan kami pun tertawa berdua.

Di dunia pergaulan gue, sangat jarang ada orang yang bisa menertawakan kepedihannya sendiri. Dan gue menyukai orang-orang yang dapat melihat sisi positif dari kesulitannya. Satu poin plus untuknya. Oh, my kind of guy, again.

Beberapa saat kemudian, terdengar alunan musik jazz dari telepon genggam miliknya. Bukannya mengangkat, ia malah berkata, “my boss. Going back to the cage, shall we?”

Sambil membenahi rambut, gue mengangguk.

Kami berdua berjalan menyusuri koridor gedung pencakar langit ini. Menuju lift yang akan mengantarkan kami kembali ke lantai 24, sang kantor tercinta.

Sebelum akhirnya pintu lift terbuka, telepon genggam milik Raka berdering lagi. Syukurlah ia tidak mengenal teknologi anti spy untuk layar teleponnya, karena gue bisa melihat dengan jelas nama yang terpampang di sana.

Anastasia.

“Who’s calling?” tanya gue santai.

“Hmmm.. My boss again,” Raka terlihat kikuk, “it must be very urgent.”

“Calm down,” gue meremas bahunya, ”everything is under control.”

Ia tersenyum lebar. Dan saat itu gue mengetahui bahwa ia sangat manis dengan lesung di kedua pipinya.

Anastasia.

Siapapun perempuan itu, anggap saja ia bernasib sial.

Because Raka, is really my kind of guy.

Pintu lift terbuka lebar. Hanya ada dua orang di dalamnya.

Raka menggamit tangan gue, menuntun masuk ke dalam lift. Gue menekan tombol 24 sambil mengulum bibir. Masih ada rasa Espresso pahit di sana. Ya, Triple Shot Espresso, minuman milik Raka.

My kind of guy is must be a good kisser, and love to play. Raka got both of them.

Senyum gue lempar ke arahnya, yang dibalas dengan bisikan di telinga, “you drive me crazy when smiling.”

Pintu lift terbuka lebar, menunjukkan lobi lantai 24. Gue tidak membalas kalimat terakhirnya, malah mengedikkan kepala dan mengibaskan rambut ke belakang, sambil berjalan keluar lift. Suatu gerakan yang gue yakin membuat parfum dari leher berhembus samar ke indra penciumannya. Membuatnya makin penasaran dan lupa daratan.

Dan suara tak-tok-tak-tok high heels gue ketika beradu dengan lantai seolah berkata…

You wanna play? Let’s play, darling.

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

LIFT

29 Sunday Apr 2012

Posted by clients in Cerita Cinta

≈ Leave a comment

Tags

cerita cinta, cerpen, jatuh cinta, romeogadungan, Tirta Prayudha

Prepared by Client:
Tirta Prayudha (@romeogadungan)

Selasa, 09.05 WIB

Setengah berlari, gue mengejar taksi burung biru yang berhenti agak jauh di depan. Kombinasi lembur tadi malam, dan handphone yang lupa di cas membuat gue sukses untuk bangun kesiangan pagi ini.

Untungnya, ketukan si bibik kosan yang meminta baju kotor di pintu kamar bisa membangunkan gue.

Minggu ini adalah minggu kedua gue kerja di kantor ini.

Resign dari kantor yang lama dengan alasan ketidak cocokan dengan bos gue, membuat gue tidak berpikir dua kali dalam menerima tawaran kantor baru ini.

Lagi pula dengan posisi yang sama, ditawarkan gaji yang lebih baik. Not bad, huh?

Tapi sayangnya, kenaikan di sisi penerimaan bulanannya tidak berbanding lurus dengan kehidupan asmara gue.

Oia sebelum curhat lebih jauh, kenalin, nama gue Yudha.

Tamat dari jurusan teknik informatika dari Institut Gajah Duduk dan menjadi seorang IT engineer ternyata ngga cukup membuat gue ‘terlihat’ di mata wanita.

Ngga banyak cewe-cewe yang tertarik dengan seorang IT engineer.

Tidak seperti mereka anak hukum yang pintar bersilat lidah atau bahasa kerennya ‘sepik”, atau anak ekonomi yang gaul, anak IT cenderung lebih pendiam.

Ya kayak gue ini.

Efeknya, gue hampir tidak bisa menemukan topik yang nyambung ketika berbicara dengan wanita. Kayaknya ngga mungkin nemu wanita yang ngerti masalah server atau coding.

The point is, I’m so bad at romance.

Oh shit, kebanyakan melamun dan sekarang gue telat.

Turun dari taksi, gue langsung sedikit berlari mengejar lift yang hampir tertutup.

“Hei, tunggu!” kata gue sedikit berteriak.

Dan lift itu nyaris tertutup, ketika kemudian pintu itu terbuka lagi.

Dan sebuah wajah cantik berdiri disana sambil jarinya menekan tombol “open”

“Thank you..” kata gue sambil membenarkan posisi  kacamata minus gue dengan napas yang tersengal

“sama-sama” kata dia tersenyum.

Cantik!

Dia menekan lantai 8, dan gue sendiri lantai 15.

Dan keheningan aneh yang biasa terjadi di dalam lift pun terjadi.

Sekilas gue perhatikan gadis ini. Kemeja putih, rok selutut, rambut hitam serutan kayu yang diikat keatas.

Okay, yang ga tau rambut serutan kayu itu apa, bakal gue kasi tau. Rambut serutan kayu, adalah model rambut yang mirip kayu yang keluar ketika kita meraut pensil. Keriting-keriting melingkar gitu. Karena gue gak tau itu model apa. Gue kasi nama ‘rambut serutan kayu’.

Ding!

Lift berenti di lantai 8 dan si gadis keluar tanpa menoleh sedikit pun ke gue.

Yup, Wajar.

Di dunia asmara, gadis secantik itu berada di kasta tertinggi, ibarat seorang putri yang tinggal di puncak kastil sebuah istana. Sedangkan gue? Berada di kasta terendah sebagai bencong lampu merah.

Ding!

Lift terbuka lagi di lantai 15 dan sebagai anak baru, gue gak pengen telat.

Lari menuju cubicle gue!

Selasa, 23.27 WIB

Dengan mata yang berkantung, gue menekan tombol lift. Ganggunan pada server perusahaan gue di Bangalore, di India sana, membuat gue terpaksa lembur lagi malam ini.

Dan teleconfrence dengan IT engineer di Bangalore bukanlah hal yang ingin gue anjurkan kepada kalian.

Teleconfrence dengan orang India berlogat kental dan diriingi dengan suara piring berjatuhan dan anak kecil yang berteriak-teriak sebagai backsound, membuat kesabaran gue benar-benar diuji hari ini.

Yup, mengingat betapa murahnya ongkos tenaga kerja mereka, membuat gue sedikit memaklumi jika ‘kantor’ mereka berada di dapur rumah mereka sendiri.

Ding!

Pintu lift terbuka di lantai 8, menghentikan lamunan gue tentang orang India. And guess what?

Si gadis cantik yang tadi masuk ke dalam lift yang sama.

Ngga percaya dengan mata gue sendiri, gue melihat ke arah kakinya.

Hampir tengah malam, di sebuah gedung yang sepi, wajar jika gue was-was.

Ternyata heels yang dia pake nyentuh lantai.

Lega.

Gue perhatiin dia lagi. Mukanya terlihat lelah tapi tetap kelihatan cantik.

You know guys, ada beberapa momen dalam hidup seorang pria, dimana mereka akan bertemu seorang gadis cantik luar biasa dan ingin segera berkenalan dengan mereka.

Dan bagi para pria di luar sana, gue bisa bilang, tengah malam di dalam sebuah lift, BUKAN SAAT YANG TEPAT!

Ga ingin kehilangan kesempatan, dengan mengumpulkan segenap keberanian dan nyali, gue akan menginisiasi percakapan.

“Lembur?” tanya gue

………………………………..

!@#$#%%&*&*())!!!

KENAPA GUE NANYA ITU??!! GA ADA PERTANYAAN YANG LEBIH BODOH LAGI?? MASA UDAH PULANG JAM SEGINI NGGA LEMBUR?!

MASA DIA MAU GENTAYANGAN?! *self toyor*

“Iya..” kata dia pelan sambil melihat ke gue.

“ohhhh”

CUMA ‘OHHHH’??? KALO GINI KAPAN MAU JADIANNYA? PAS KIAMAT???

Kata gue menyesali dalam hati.

Ding!

Pintu lift kembali terbuka.

‘Mari..’ kata dia pelan sambil berlalu.

“Ok, hati-hati..” kata gue sambil mengumpulkan harga diri yang udah tercecer entah kemana.

Kamis. 08.46 WIB

Gue menekan tombol lift itu. Dan segera masuk. Dan dari arah kiri, gadis cantik itu juga masuk lift yang sama. Kali ini ga ada sepatah kata yang keluar dari mulut gue.

Cuma sebuah senyum simpul yang gue keluarkan ketika dia masuk lift ini. Wajar, kalo yang gue keluarkan dari mulut gue adalah dispenser baru agak aneh.

Seperti biasa, dia keluar di lantai 8. Dan gue, di lantai 15.

Dan gue mulai menikmati kebetulan yang menyenangkan ini.

Jumat. 08.50 WIB

Gue udah menunggu di depan lift ini selama lima menit, dan ga ada tanda-tanda si gadis cantik akan muncul.

Berdiri sambil berpura-pura membuka smartphone gue, padahal ga ada satu sms pun yang masuk.

Celingak celinguk kiri kanan, dan kini gue udah berubah dari professional engineer ke seorang professional stalker!

Ketika udah pasrah akhirnya masuk kedalam lift, pintu hampir menutup ketika gue liat dia disana. Sedikit berlari kecil menuju lift ini.

Sambil senyum gue tahan pintu lift nya.

“Thanks..” kata dia pelan..

“Gpp, gantian.” kata gue.

Senin, 13.53 WIB

Gue memutuskan untuk turun kebawah untuk beli kopi, yang sangat butuhkan untuk menghilangkan kantuk ini.

Dengan kadar kantuk sedahsyat ini, gue kira gue akan memesan ukuran kopi ukuran venti! Biar mandi kopi sekalian.

Dan gue baru selesai bayar ketika gue melihat dia disana. Baru turun dari taksi dan kesusahan membawa 2 ordner besar dan sebuah tas laptop.

Gue putuskan untuk membantu.

“Sini gue bantuin..” kata gue ke dia.

“Wah, makasih..”

Dan disinilah gue membawakan ordner bertuliskan “Purwantono, Suherman & Surja”.

“Law firm ya?” tanya gue penasaran.

“Bukan, itu accounting firm. Gue auditornya PT. Selaras yang di lantai 8”

“Sendirian?” tanya gue penasaran, karena biasanya auditor kantor gue datangnya segerombolan.

“Ngga, bertiga sebenernya. Tapi manager gue jarang dateng, jadi cuma gue dan 1 staf”

“Ohhhh, “ gue cuma bisa bereaksi itu. Gue gak tau banyak tentang dunia auditor.

Masuk di lantai 8. gue cuma mengantarkan sampai lobby PT. Selaras saja.

“Makasih ya..gue Lila” kata dia sambil menjulurkan tangan.

“Gue Yudha..”

Karena gue ga tau mau ngomong apa lagi, gue putuskan untuk pamit dan segera kembali ke lantai 15.

Hilang sudah kantuk gue, tanpa perlu menyiramkan kopi panas ini ke mata gue.

Entah kenapa, sebuah senyum lebar menghiasi wajah gue kali ini.

Rabu. 11.53

Gue berniat turun makan siang ketika lift berhenti di lantai 8.

Disana, Lila masuk bersama beberapa ibu-ibu.

Gue cuma senyum ke dia dan dia membalas.

Dilantai 6, lift berhenti lagi dan segerombolan bapak-bapak masuk. Lift semakin penuh, akibatnya gue makin mepet kesamping. Dan kini gue berdiri bersebelahan dengan Lila.

Bapak-bapak itu bercanda dengan sesama temannya dengan suara kencang.  Dan ibu-ibu tadi juga ngobrol dengan gerombolannya.

Kondisi berisik di dalam lift kayak gini yang sangat gak gue suka.

“Makan sendirian?” tanya dia pelan secara tiba-tiba.

“Iya..gue anak baru di kantor ini, jadi..belum banyak kenal orang. Lo?”

“Iya kayaknya, staf gue ga dateng..”

Entah keberanian dari mana yang bisa membuat gue mengeluarkan kata-kata berikutnya. Kata-kata yang membuat gue berkeringat dingin menunggu jawabannya.

“Errr, mau bareng?” kata gue agak ragu.

Dan gue bisa bilang ke kalian. Itu adalah 1 detik terlama yang pernah gue rasain dalam hidup gue. Satu detik yang mempertaruhkan segalanya. Satu detik yang membuat gue mati rasa.

“Hmmmm, boleh” kata dia sambil senyum.

Dan, dunia gak pernah terasa lebih indah.

Sabtu, 13.12 WIB, 3 tahun kemudian..

Disinilah gue berdiri. Bersama Lila, menyalami para tamu di sebuah panggung kecil sederhana yang disulap jadi pelaminan yang mempesona.

Ga ada yang bisa gue ceritain lagi, selain makan siang 3 tahun yang lalu itu bukanlah makan siang kami yang terakhir.

Masih ada makan siang makan siang indah lainnya yang gak bisa gue ceritain. Ratusan kebersamaan yang dihiasi tawa, canda, pertengkaran, dan air mata.

Yang buat gue, menjadi suatu kenikmatan jatuh cinta.

Fallin in love is not a liability, it’s a privilege. That comes into the right person at the right time.

Anda tidak bisa memaksakan kapan akan jatuh cinta.

Cinta hanya duduk menunggu di ujung sana sambil menatap kita dan berkata ‘tidak sekarang’ lalu pergi ke orang lain yang sudah tiba waktunya.

Dan hingga kini, gue ga pernah berhenti mensyukuri, bahwa lift yang dulu gue naiki, selalu berhenti di lantai delapan.

Karena di lantai delapan itulah, cinta menyapa gue dan berkata.

“Sekarang waktunya!”

Ding!

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Hati-hati, Hati

29 Sunday Apr 2012

Posted by gelaph in Fiction & Imagination

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph, cerita cinta, cerita pendek, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Sepotong Hati berjalan terseok-seok menuju rumah sakit, butuh pertolongan pertama. Di dalam kepanikannya ia berkata “Dok, tolong saya, saya tidak enak badan, nyaris pingsan rasanya. Ada apa dengan diri saya?”.  Dokter hanya tersenyum, “Tenang dulu Mbak Hati, berbaring saja dulu, sini saya periksa.”

Setelah Dokter selesai memeriksa Hati, ia mengeluarkan statement “diagnosa saya sih Mbak Hati keracunan Air Mata. Cukup akut dan tampaknya sudah cukup lama. Saya tidak akan membuatkan resep apa-apa, karena obatnya hanya waktu, serta menolak datangnya Air Mata. Tapi kalau Mbak Hati pingin bedrest di sini sekedar untuk menenangkan diri juga tidak apa-apa. Saya akan minta tolong perawat untuk menyiapkan kamar untuk Mbak Hati.”

Mendengar statement Dokter, Air Mata langsung menyela “Saya bukannya jahat mendatangi Hati terus-menerus, Bu Dokter. Tapi si Wajah sombongnya setengah mati. Jaim parah. Saya mau mendatanginya, ditahan habis-habisan. Kalau saya nekat, langsung dihapus paksa. Terpaksalah saya mendatangi Hati, karena ia selalu mau menerima saya tanpa banyak kata.”

Mendengar perkataan Air Mata, Wajah langsung membela diri. “Mana mungkin aku membiarkan kamu seenaknya datang dan pergi, Air Mata? Kalau aku sedang sendirian sih aku tidak berkeberatan sama sekali. Tapi terkadang kamu mau datang seenaknya, tidak kenal waktu, bahkan ketika sedang banyak orang. Kan aku malu kalau ada kamu, Air Mata!”

“Ya jangan salahkan aku dong, Wajah. Aku juga muncul gara-gara Kaki melangkahkan dirinya ke tempat itu lagi. Tempat yang membangkitkan kenangan menyakitkan.” Air Mata menjawab sewot.

“Eh eh, kok jadi aku yang disalahkan? Aku juga terpaksa menyeret diriku pergi ke tempat itu lagi. Kalau tidak terpaksa ya mana mungkin aku pergi ke sana? Kurang kerjaan, apa?” Kaki menjawab sengit.

Tangan pun ikut terpancing dalam suasana yang mulai memanas ini. “Kamu tuh Air Mata, jangan terlalu sering keluar rumah, sebentar-sebentar mau main ke Wajah, sebentar-sebentar mau main ke Hati. Kan aku juga yang repot. Kalau kamu main ke Wajah, aku yang sibuk mencari-cari tisu dan mengenyahkanmu. Kalau kamu main-main ke Hati, aku juga yang repot mencari-cari kegiatan sekedar agar ia bisa melupakan kedatanganmu. Ah, kamu memang selalu menyusahkan.”

Terdengar batuk-batuk kecil dari ujung keramaian, ternyata itu Otak yang hendak ambil suara. “Sudah sudah, jangan ribut-ribut. Lain kali, kalian semua sebelum bertindak itu harusnya berkonsultasi denganku dulu, jangan jalan sendiri-sendiri. Kalau tidak, ya jadi begini ini kejadiannya, jadi bertengkar tidak karuan, menyalahkan satu sama lain, merasa diri paling benar.”

Semua terdiam mendengar perkataan Otak. Otak pun langsung menutup percakapan malam itu dengan menyuruh Kaki melingkar di atas guling, meminta Tangan meluruskan diri dengan nyaman, memerintahkan Air Mata untuk tetap di rumahnya, menyuruh Wajah untuk tenang, dan menugaskan Hati untuk melupakan masalahnya sesaat saja. Dan seperti biasa, Otak merasa kesal karena si satu itu lagi-lagi tidak mau menuruti perkataannya. “Terkadang ia memang pantas diberi sedikit penyakit”, gumam Otak di sela-sela tidurnya.

-Jakarta, 20 Desember 2011-

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Matahari, Bumi, dan Bulan

29 Sunday Apr 2012

Posted by gelaph in Fiction & Imagination

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph, bulan, bumi, cerita pendek, fiksi, Grahita Primasari, matahari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

 

Bumi

Ah, kemana lagi si Matahari? Tidak tahukah ia di sini aku merindukannya? Apa sajakah gerangan hal yang menjadi urusannya sampai-sampai ia sering menghilang?

Bulan

Aku selalu mengagumi Bumi. Ia begitu cantik. Warna biru lautannya bercampur indah dengan warna hijau daratannya. Apalagi kalau ia mengenakan awan putihnya, berarak di atas pelupuk matanya, sungguh aku jatuh cinta. Tapi tampaknya ia sangat mencintai Matahari. Si makhluk angkuh yang semena-mena, yang selalu menutupi keberadaanku dengan kekuatan cahayanya.

Matahari

Aku capek dengan Bumi. Kerjanya mengomel terus tiada henti. Aku berikan cahaya untuk menumbuhkan pepohonannya, ia bilang ia kepanasan. Saat aku menyingkir dan membiarkan Hujan menumpahkan air matanya, ia bilang ia kedinginan. Saat aku bersamanya, ia mengenakan awan putihnya, tak mau menatapku. Saat aku tak ada, ia mencariku. Sungguh aku tak mengerti jalan pikirannya.

Bumi

Dan hey, siapa itu yang muncul di balik pekat malam? Menarik juga dia. Tampan dan tenang. Cahayanya sungguh lembut menyentuh wajah.

Bulan

Akhirnya ia menyadari keberadaanku. Ia harus tahu bahwa selama ia sibuk mengelilingi Matahari, aku selalu berada di dekatnya, mengelilinginya, berharap bahwa ia menyadari aku akan selalu ada untuknya. Dan malam ini, aku sedang dalam kondisi terbaikku, purnama. Kulemparkan senyum dan kuajak ia bersenda gurau. Kubiarkan ia berkeluh kesah. Hanya itu yang dapat kuberikan kepadanya. Mana sanggup aku memberikan cahaya yang ia butuhkan untuk menumbuhkan pepohonannya? Mana sanggup aku menyelaraskan Merkurius, Mars, Venus, dan lain-lainnya itu agar tetap berada di lintasan masing-masing dan tidak mengganggunya?

Matahari

Akhir-akhir ini aku merasa bahwa Bumi agak aneh. Ia tidak sering cemberut seperti biasanya. Cemberut yang menyebabkan lempengan wajahnya bergeser dan membuat gempa. Atau marah-marah sambil melontarkan kerikil-kerikil panas dari kawah berapinya. Apa yang terjadi padanya? Ia tampak, bahagia? Ah tapi sudahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Bumi

Dan hey, apa ini? Kenapa banyak kupu-kupu beterbangan di sekitar khatulistiwaku? Semakin lama semakin banyak, membuatku mau tak mau jadi tersenyum melihatnya. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi? Dengan sosok lembut nan menenangkan itu? Ah, mengingatnya saja sudah mampu membuatku mengundang Bu Pelangi ke rumah, padahal Pak Hujan sudah lama tidak kuajak mampir.

Matahari

Tampaknya aku tahu apa penyebab keanehan Bumi akhir-akhir ini. Aku memergokinya sedang bercanda tawa dengan Bulan. Ia tampak sangat bahagia. Garis bawahi kata “sangat”.

Bulan

Kenapa malam berlalu begitu cepat? Tumben Matahari bangun lebih awal, jadi tadi ia sempat melihatku sedang mencela Bumi gara-gara ia bilang kalau ia lupa membersihkan salah satu sungainya. Astaga, cantik-cantik jorok ya dia ternyata? Hahaha. Tapi aku tetap mencintainya, dan ia hanya perlu tahu hal itu. Itu saja sudah cukup bagiku.

Bumi

Ah, aku bingung sekali. Pagi itu Bulan menyatakan perasaannya padaku. Bahwa ia sangat mencintaiku. Sungguh, yang ingin kulakukan saat itu hanyalah memeluknya, tapi entah kenapa aku malah berlari menjauhinya. Aku tak sanggup berlama-lama menatap mata teduhnya. Aku takut aku makin jatuh cinta. Aku tidak mungkin mengkhianati Matahari yang begitu setia menjagaku. Aku tidak bisa. Itu saja.

Matahari

Ada apa dengan Bumi? Kenapa beberapa hari ini badai tsunami menghiasi wajahnya? Begitu aku mendekat untuk menghiburnya, ia malah makin terlihat merana, menolak untuk kudekati. Baiklah, akan kubiarkan ia sendiri saja dulu untuk menenangkan dirinya.

Bulan

Sungguh aku sedih sekali melihat Bumi beberapa hari ini. Sakit rasanya melihat ia bergulung dengan kesedihan. Mungkin memang ini yang terbaik untuk semuanya. Kalau aku mengikuti egoku, akan kubawa ia agar selalu bersamaku. Tapi aku tahu, itu tidak baik untuknya. Ia bisa mati tanpa keberadaan Matahari. Tampaknya aku yang harus menarik diri dari kehidupannya. Agar ia bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa. Pertanyaannya, mampukah aku hidup jauh darinya?

———————————————————————————————————————————————————————

Dari kejauhan Sang Sutradara tersenyum melihat ketiga aktornya. Ia telah merancang skenario untuk mereka bertiga. Pada suatu waktu, ia akan memercikkan api cemburu sedikit lebih banyak pada Matahari dan menambahkan sejumput ego pada Bulan. Hal ini akan membuat perang antara keduanya tak terelakkan, dengan Bumi sebagai pelerai. Sehingga pada akhirnya, mereka bertiga akan hancur, lebur, lalu kembali kepada ketidakadaan.

-Jakarta, 11 Desember 2011-

 

-THE END-

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...

Si Jaket Merah

29 Sunday Apr 2012

Posted by gelaph in Estafet Working-Paper

≈ Leave a comment

Tags

@gelaph, cerbung, cerita pendek, estafet WP, Grahita Primasari

Prepared by: GP
Reviewed by: MH

Deru mesin sepeda motor terdengar menjauh. Begitu pun dengan punggung berjaket merah, yang pada akhirnya menyisakan sebias titik di ujung jalan.

Setelah beberapa detik termenung di balik jendela, gue merapatkan kembali kedua kelepak tirai merah muda bermotif bunga. Lelaki tersebut baru saja mengantar gue pulang dari taman. Dan mata gue mengekor kepergiannya dari balik jendela kaca.

Hmm, tampaknya sudah saatnya mandi. Gue nggak betah berlama-lama mengenakan pakaian yang berbau asap rokok. Dari dulu gue selalu suka melihat ia merokok, namun benci dengan baunya yang menempel di rambut dan baju. Apalagi kalau menempel di terusan biru laut favorit gue ini. Urghhh… mana rela?

“Bajunya cantik.” Begitu komentarnya ketika pertama kali melihat gue mengenakan pakaian ini.

“Tapi, cantikan lo sih…” lanjutnya dengan senyum jahil tertahan.

Gue yang tahu dia hanya bercanda, hanya ingin menggoda, mendaratkan sebuah pukulan ringan di bahunya sambil tergelak kencang.

Dan asal tahu saja, hari ini gue sengaja berdandan lebih keras dari biasanya. Itu semua karena gue berniat menyatakan cinta padanya di taman kota. Semua sel tubuh gue kuatkan untuk mengatakan bahwa betapa dia sangat berarti. Pun segenap keberanian gue kumpulkan untuk mengakui kalau ia diinginkan, lebih dari sekedar teman.

Namun sayangnya, gayung tidak bersambut. Alasannya standar saja, ia tidak bisa, katanya. Ia hanya menganggap gue sebagai sahabat baiknya. Tidak kurang, tidak lebih.

Tahukah ia, saat kalimat penolakan itu meluncur dari bibirnya, hati gue terluka? Seperti terkena silet tajam. Lukanya kecil, namun dalam. Meninggalkan perih yang tak tertahan.

Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah penolakan?

Air mata menetes lagi. Gue mengusap paksa, berusaha menghapus bayangannya yang berwujud dalam tangisan. Namun, semakin gue berusaha melupakannya, semakin ingatan tentangnya menancap kuat di kepala.

Dan sungguh, gue ingin melupakannya.  Melepaskannya. Merelakan hatinya yang tidak bisa dipaksa untuk mencinta.

Gue baru bisa memejamkan mata sekitar jam tiga dini hari. Untungnya besok adalah hari Sabtu, akhir pekan, sehingga gue bisa bangun agak siang.

Demi menghilangkan kesedihan, gue memutuskan untuk melakukan me time. Kali ini pilihan jatuh ke salon dan spa di salah satu mall ternama di bilangan Jakarta Selatan. Kayaknya enak nih dipijat. Apalagi plus lulur dan creambath. Ada getar bahagia yang terasa, hanya dengan membayangkan nikmatnya spa seharian.

Sudah tak sabar ingin memanjakan diri, gue pun langsung memacu Cherry si sedan merah di tol dalam kota. Tidak terlalu kencang tentu saja, mengingat Sabtu sore adalah waktu favorit Jakarta untuk menyuruh Si Komo menari-nari di tengah jalan raya.

Untungnya parkir mobil dengan mudah bisa gue temukan. Mendapat parkir di mall ini pada Sabtu sore sudah selayaknya dihitung sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, saking sulitnya.

Begitu turun dari mobil, gue melihat sekelompok remaja putra dan putri sedang tertawa bahagia. Canda riang mereka mengingatkan akan persahabatan gue dan dia yang kandas begitu saja karena ia menolak untuk menaikkan status hubungan kami.

Kaki gue melangkah memasuki ruang perawatan spa yang terdapat di lantai dasar mall. Bunyi pintu kaca yang berderit tertutup di belakang tidak mampu mengalihkan perhatian gue dari pemandangan di depan mata.

Si jaket merah.

Di depan meja kasir.

Digandeng seorang wanita langsing dan manis rupawan.

Ah, gue mengerti apa arti kata “tidak bisa” yang ia maksud. Kenapa kamu tidak berterus terang saja, sayang?

(to be continued..)

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
← Older posts

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d