• Gelaph’s Blog
  • Mia’s Blog
  • Gelaph on Tumblr
  • Mia on Tumblr
  • About Working-Paper

working-paper

~ Documentation of Emotion

working-paper

Tag Archives: cinta

When She Cries

09 Monday Apr 2012

Posted by myaharyono in Estafet Working-Paper

≈ Leave a comment

Tags

@myaharyono, cerbung, cerpen, cinta, Mia Haryono

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

“Ngga bisa. Pokoknya gue ngga bisa.” tegas gue.

“Kenapa ngga mau mencobanya dulu?” ucapnya sambil terisak.

Argh, wanita ini sungguh keras kepala. Pake acara menangis segala. Gue paling ngga bisa lihat wanita menangis sebenarnya. Tapi entah sudah berapa kali dia menitikkan air matanya di depan gue. Dan untuk kesekian kalinya gue ngga juga merasa iba. Gue sendiri heran mengapa hati gue ngga tergerak sedikitpun akan kesungguhan wanita ini. Gue kasihan padanya. Cintanya setengah mati sama gue. Sedangkan gue? Tidak memiliki perasaan apapun padanya.

Sudah setahun lamanya ketika pertama kali gue menolak cintanya. Tapi dia tetap gigih mengejar gue. Tetap setia bertahan menjadi teman gue. Bukan gue yang meminta, dia sendiri yang dengan suka rela melakukannya. Atas dasar ‘ngga enak’ ya gue pun tetap memperlakukannya sebagai teman baik.. Tapi kalau kebaikan gue diartikan terus-menerus olehnya sebagai harapan, lama-lama gue bingung juga.

Jujur, gue menikmati rasa sayangnya itu. Disaat gue susah, dia toh selalu ada buat gue. Bangga lah gue punya fans setia semacam dia. Tapi sebagai pria dewasa normal pada umumnya, gue juga ingin mengejar wanita. Wanita yang ingin gue sayang. Dan sayangnya, itu bukan dia. Dia yang kini menangis tersedu di hadapan gue karena cintanya ditolak untuk ke sekian kalinya.

Gue keluarkan sebatang rokok dari saku kantong lalu membakar ujungnya dengan korek api. Kondisi seperti ini membuat mood gue rusak. Dan hanya selinting tembakau yang dapat menyelamatkan ketegangan gue. Gue tarik satu hisapan panjang lalu mendongakkan wajah ke atas. Gue memainkan asapnya di dalam mulut sebelum menghembuskannya ke udara. Dari sudut mata gue bisa tau kalau wanita itu sedang memperhatikan gue. Gue melirik ke arahnya. Tak ada lagi air mata di wajahnya. Tersisa hanya lengkungan tipis bibirnya. Dia sedang tersenyum.

“Udah nangisnya? Kok sekarang senyum?” tanya gue yang terdengar cukup galak.

“Gue suka lihat gaya lo ngerokok. Makin jantan deh.” ucapnya sambil terkikik.

“Gak usah ngerayu. Kata-kata begitu doang ngga lantas bikin gue nerima cinta lo juga.” kata-kata gue langsung merubah mimiknya dari senyum menjadi semburat kesedihan. Sebelum dia mulai menangis lagi sebaiknya gue segera ajak pulang.

“Udah malam nih, makin sepi juga nih taman. Yuk, gue anter pulang.”

Sepanjang perjalanan mengantarnya pulang kami saling diam. Gue geser spion motor sedikit agar dapat memperhatikannya yang duduk di boncengan motor gue. Astaga, dia menangis lagi. Ah, bagaimana gue bisa berkonsentrasi mengendarai motor kalau begini. Ada ketakutan luar biasa kalau-kalau wanita yang sedang rapuh ini terjatuh dari motor gue.

Diam-diam aku berdoa. Mengapa Engkau membawanya masuk ke kehidupanku, Ya Tuhan? Sungguh aku sulit menentukan sikap menghadapi semua ini. Setiap jiwaku sepertinya ingin mati saja ketika melihatnya menangis. Beban yang kurasa sungguh berat karena tak mampu membalas cinta dan kebaikannya. Sangat ingin aku memantaskan diriku untuknya yang sudah dengan setia menantiku. Sudah kucoba dan tak bisa. Lalu apa yang harus aku lakukan? Mencintanya aku tak sanggup tapi meninggalkannya aku tak mampu.

Tiba di halaman depan rumahnya, tanpa banyak bicara dia menyerahkan helm kepada gue. Dia lalu melangkah pergi menuju pintu pagar dan membukanya. Bunyi decitan kunci dibuka terdengar memecahkan kesunyian malam ini. Dia membalikkan badan ke arah gue lalu berkata, “Thanks ya. Untuk semuanya. Bye.” Sambil mengusap pipi dengan punggung tangannya, dia pun membalikkan badan lagi.

Gerakannya yang beberapa kali membalikkan badan, menghapus air mata, mengunci pagar, lalu berjalan memasuki rumahnya terlihat anggun sekali. Dia layak mendapatkan pria yang tepat. Yang dapat mencintainya. Gue pasang kembali helm dan menstater motor gue. Bunyi raungan mesin pun mengiringi laju kendaraan roda dua yang meninggalkan rumahnya.

Doa sekali lagi kupanjatkan pada Tuhan, menemani perjalanan pulang di malam ini. Ya Tuhan, jangan biarkan dia menangis lagi.

Cukup jelas kan doa gue? Gue ingin dia tidak menangis lagi. Bukan menjauhi gue. Karena gue belum siap ditinggalkan olehnya.

Setelah malam itu, dia memutuskan segala komunikasi dengan gue. Dia benar-benar berusaha untuk melupakan perasaannya. Melupakan gue. Lalu mengapa gue harus kehilangan? Bukankah ini yang sejak awal gue inginkan. Bahkan gue pernah mencoba menjauhinya beberapa kali.

Selang beberapa hari tanpa kehadirannya, ada rasa gamang gue rasakan. Tapi nyali gue sangat ciut untuk menghubunginya. Ngga sanggup untuk menghadapinya. Sudahlah, gue tidak ingin mengganggunya lagi.

Sekarang, biarlah gue jalani kenyataan menjadi seorang stalker yang mengamati timeline-nya. Ya, membaca tweet-nya diam-diam karena dia sudah block account Twitter gue.

Melepaskanmu adalah bukti ketulusanku mencintaimu.

Gue baca berkali-kali kata demi kata.

Melepaskanmu. Adalah. Bukti. Ketulusanku. Mencintaimu.

Lalu air mata membasahi pipi.

Tuhan, apa yang telah aku lakukan?

When she cries at night
And she doesn’t think that I can hear her
She tries to hide
All the fear she feels inside

So I pray this time
I can be the man that she deserves
‘Cos I die a little each time
When she cries

– Restless Heart

(to be continued…)

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
Like Loading...
Newer posts →

Two nice-young-Taurean ladies who are passionate on sharing some fiction stories. Read, and fall for our writings :)

  • gelaph's avatar
  • clients's avatar
  • myaharyono's avatar

Just click follow and receive the email notification when we post a brand new story! :)

Our Filing Cabinet

Working-Paper Preparers

  • gelaph's avatar gelaph
    • Bayangmu Teman
    • Penyesalan Selalu Datang Terlambat
    • Seratus Dua Puluh Detik
    • My Kind of Guy
    • Hati-hati, Hati
    • Matahari, Bumi, dan Bulan
    • Si Jaket Merah
    • Manusia Zaman Batu
    • Sebuah Perjalanan
    • First Thing on My Head
  • clients's avatar clients
    • Cinta Ala Mereka
    • Fix You – Part 2
    • Sepatu untuk Titanium
    • Susan dan Sepatu Barunya
    • My Mysterious Friend
    • Perih
    • Sayang yang (Telanjur) Membeku
    • Menikmati (Bersama) Bintang
    • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
    • Dua Tangis Untuk Kasih
  • myaharyono's avatar myaharyono
    • Kita (Pernah) Tertawa
    • Sang Penari
    • Jangan Jatuh di Bromo
    • Perkara Setelah Putus
    • A Gentle Smile in Amsterdam
    • The Simple Things
    • Sepatu Sol Merah
    • Tell Us Your Shoes Story
    • How To Be Our Clients
    • Hari Yang Ku Tunggu

Ready to be Reviewed

  • Kita (Pernah) Tertawa
  • Bayangmu Teman
  • Cinta Ala Mereka
  • Fix You – Part 2
  • Sang Penari
  • Sepatu untuk Titanium
  • Susan dan Sepatu Barunya
  • Jangan Jatuh di Bromo
  • My Mysterious Friend
  • Perih
  • Sayang yang (Telanjur) Membeku
  • Menikmati (Bersama) Bintang
  • Malam Ke-Tiga-Puluh-Sembilan
  • Dua Tangis Untuk Kasih
  • Fix You

Ledger and Sub-Ledger

  • Cerita Cinta (44)
  • Estafet Working-Paper (5)
  • Fiction & Imagination (12)
  • Writing Project (2)

Mia on Twitter

Tweets by myaharyono

Gelaph on Twitter

Tweets by gelaph

Meet our clients

  • @armeyn
  • @cyncynthiaaa
  • @deardiar
  • @dendiriandi
  • @dheaadyta
  • @evanjanuli
  • @kartikaintan
  • @NH_Ranie
  • @nisfp
  • @romeogadungan
  • @sanny_nielo
  • @saputraroy
  • @sarahpuspita
  • @TiaSetiawati

Blog at WordPress.com.

Privacy & Cookies: This site uses cookies. By continuing to use this website, you agree to their use.
To find out more, including how to control cookies, see here: Cookie Policy
  • Subscribe Subscribed
    • working-paper
    • Join 41 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • working-paper
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d